KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


May 1, 2016

Pascaminyak



Usianya baru 30 tahun. Semuda itu ia sudah mengambil banyak peran besar. Ia disebut-sebut berada di balik keputusan berani yang diambil pemerintah Arab Saudi, Senin (25/4). Ia pula yang kemudian tampak lebih banyak meladeni para awak media (termasuk asing) dan menjawabnya dengan tangkas usai sidang dewan kabinet, yang menyetujui Visi Arab Saudi 2030. 

Hari itu, dengan mengapit sang ayah, Raja Salman bin Abdul Aziz (81), bersama saudara sepupunya, Putra Mahkota Mohammed bin Neyef  (56), Mohammed bin Salman mengumumkan visi pemerintah untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada minyak tahun 2020. Ya, empat tahun lagi! 

"Kami bisa hidup tanpa minyak pada tahun 2020," tegas Mohammed Salman, Deputi Putra Mahkota, yang sering dijuluki "Mr Everithing." 

Julukan itu awalnya hanyalah obrolan terbatas para diplomat asing. Bayangkan, masih berusia 30 tahun, tapi perannya nyaris melampaui raja. Ia menduduki berbagai jabatan penting.  Antara lain Wakil Perdana Menteri Kedua, Menteri Pertahanan, Ketua Mahkamah Kerajaan, hingga Penasihat Khusus Pelayan Dua Urusan Tanah Suci. Ia juga memimpin perusahaan minyak terbesar di Saudi, Aramco.

"Kami semua telah meningkatkan kecanduan minyak di Arab Saudi. Ini berbahaya dan menghambat pembangunan dalam beberapa tahun terakhir," tambahnya dalam wawancara dengan televisi pemerintah Al-Arabiya.

Sep 13, 2015

Membangun Mimpi di Tepian Mahakam

PENGUSAHA kondang sekaliber Jos Sutomo tentu punya alasan kuat kalau hampir tidak pernah menjejakkan kakinya di taman Tepian Mahakam, sekedar untuk kongko. Meski ia gandrung setengah mati dengan keindahan sungai ini.

Sungai pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang hidupnya -- sejak ia memulai usaha kayu gelondongan dari kampungnya di Senyiur, Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur hingga tumbuh besar seperti sekarang. Sehingga tidak mungkin ia melupakan Tepian. Tepian adalah terminologi yang menunjuk pada kawasan sepanjang empat kilometer di pinggir sungai, dari bekas Pelabuhan Samarinda hingga Jembatan Mahakam.

Begitu pula bagi pengamat kondang seperti Aji Sofyan Effendi. Bukan karena alergi jika ia jarang sekali berplesir ke Tepian. Aji pun ingin seperti masyarakat urban umumnya. Menikmati capucino saat rembang petang. Atau menghabiskan malam, menjamu relasi dengan secangkir ronde (bukan vodka lho), sambil mendengarkan alunan "A Whiter Shade of Pale"-nya Procol Harum. Tapi tidak di lounge hotel.

Ia ingin suasana nyaman di lounge itu juga dapat tercipta di Tepian. Tepian Mahakam terlalu sayang untuk diabaikan. Sudah belasan tahun kita membuang waktu, sejak relokasi besar-besaran ratusan rumah dari bibir Mahakam itu, dengan membiarkan kawasan itu tanpa sentuhan yang berarti. Tanpa gerakan yang masif, nyata dan komprehensif untuk menata dan membangunnya kembali sebagai ikon wisata yang menarik.


Jos berkisah, bagaimana kawan-kawannya dari Jawa sampai berteriak terpukau begitu melihat sungai ini kali pertama. Mereka bilang Mahakam adalah anugerah terindah yang dimiliki Kaltim, terutama Samarinda yang kotanya terbelah dua oleh sungai sepanjang 920 kilometer itu.

Kaltim Wow...!?

SUDAH terlalu lama dahi Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto berkerut. Ia kecewa dengan perilaku sejumlah menterinya yang terlibat berbagai skandal korupsi. Ditambah lagi insiden larinya gembong narkoba yang digdaya sejagad, Joaquin "El Chapo" Guzman, dari penjara berkeamanan maksimum, Juli lalu. The Wall Street Journal mencatat, saat itu popularitasnya menukik tajam, dari 61 persen menjadi 34 persen.

Tetapi, sore itu, di istananya yang megah, Palacio Nacional di Meksiko City, Nieto mendadak dapat dengan mudah tertawa lepas. Suaranya bergema dari balkon tengah hingga terdengar oleh pekerja taman yang sedang merawat agave. Bukan karena candaan istrinya yang cantik, Angelica Rivera. Mantan penyanyi-bintang telenovela "Dulce Desafio" yang dijuluki La Giovita (si Burung Camar), karena perannya sebagai gadis lugu dan rendah hati dalam telenovela itu, sedang berada di kediamannya, Los Pinos.

Bukan pula karena ia telah berketatapan bulat untuk mencopot enam menterinya yang bermasalah itu. Kelompok pelukis jalanan, "Germen Krew" datang memperlihatkannya gambar pemukiman di kawasan bukit batu Las Palmitas, Pachuca, sebuah kota kecil di provinsi Hidalgo, Meksiko. Nieto hampir tak mengenali lagi bahwa rumah-rumah itu sebelumnya adalah pemukiman kumuh.


"Wow... !!! Asombroso! Anda sedang tidak bercanda kan?!" Nieto bergantian menatap foto dan para pemuda di depannya, didampingi sejumlah pejabat daerah. Mereka rupanya telah menyelesaikan proyek "El Makro Mural Barrio de Palmitas" yang diberikan khusus kepada Germen Krew dengan 20 pelukisnya itu.

"Ini...ini!" kata Nieto dengan telunjuk mengarah ke foto-foto mural di lereng bukit Palmitas. "Yang begini ini yang memang saya mau. Saya ingin yang memukau agar orang mau melirik Palmitas. Luar biasa. Ok, saya sendiri nanti yang akan meresmikan proyek itu," tandasnya bersemangat.

Dua minggu kemudian, Presiden Pena Nieto, Senin 31 Agustus waktu setempat, meresmikan proyek mural raksasa tersebut. Beragam warna dioles secara kohesif, abstrak dan garis-garis terang pelangi. Ada lembayung muda, hijau limau, jingga terang, dan sedikit biru yang kalau dari kejauhan terlihat seperti pelangi.

Oct 22, 2014

Kaltim Siap Kibarkan Bendera Setengah Tiang

"... Jikalau tidak terpilih, (mari kita kibarkan) bendera setengah tiang. Kapan lagi orang Kaltim bisa menjadi menteri." Pesan pendek itu saya terima dari Viko Januardhy, aktivis muda Kaltim, Selasa (21/10) petang. Pesan yang sama ia kirimkan kepada para sahabat dan rekan sesama aktivis yang turut mendorong adanya orang Kaltim menjadi menteri.

ACHMAD  BINTORO

VIKO seharian kemarin tidak pernah lepas dari gadgetnya. Dengan jaringan kawan yang tersebar luas di Jakarta dan Yogyakarta, ia terus berupaya mendapatkan kabar teranyar tentang ada tidaknya
nama orang Kaltim yang masuk dalam jajaran kabinet menteri pemerintahan Jokowi-JK. Ia saling berbalas SMS dan BBM.

"Kabarnya malam ini (kemarin malam, red) akan diumumkan," ujarnya. Namun, belakangan muncul kabar teranyar, Jokowi menundanya. Presiden masih perlu waktu untuk merombak beberapa nama yang mendapat warna merah dari KPK. 

Di tempat terpisah, Artha Mulia turut memantau perkembangan kabar itu. Artha adalah Koordinator Koalisi Gerakan Pemuda Kalimantan.  Koalisi pernah menjaring 53 nama tokoh bakal calon menteri dari Kaltim. Pada akhirnya mengerucut segelintir nama yang paling banyak mendapat dukungan dari kalangan ormas, dan tokoh-tokoh nasional.

Sep 26, 2014

UN Singkirkan Anak Bodoh lagi Miskin

"Saya tidak (lagi) sekolah. Tak ada biaya," kata Jayadi lirih. Sesekali ia lempar pandangannya keluar dari balik pintu rumahnya -- sebuah petak dari kayu berukuran 3 x 5 meter yang dihuni lima anggota keluarga -- yang sedikit terbuka. 

Dua orang kawannya sedang melintas, berseragam putih abu-abu, menuju sekolah. Ia menghela nafas panjang. Sejurus kemudian wajahnya yang tirus dan legam tertunduk.

Matahari makin menyingsing. Sepagi itu, ia mestinya juga sudah di sekolah seperti mereka. Bukan di rumah. Sebagian tubuhnya masih terbalut sarung kumal. Di hari yang lain kadang ia ikut ayahnya, Husaini (56), membantu tukang. Ayahnya seorang tukang bangunan. Tetapi, sudah tiga hari ini tak ada yang menggunakan jasanya.

Apakah Jayadi masih ingin sekolah?

Kepalanya menggeleng cepat. "Malu," ucapnya pelan. "Dulu, mungkin iya (masih ingin sekolah)." Sudah tiga tahun ini ia di rumah.

Selepas dari SMPN 38 di Loa Bakung, Samarinda, ayahnya sempat mencoba mendaftarkan di SMAN 14, tidak jauh dari tempat dia tinggal. Sekolah menolaknya. Konsep Bina Lingkungan tak lagi berlaku di sini. Nilai UN Jayadi rendah, hanya sekitar 18. Mencoba peruntungan di sekolah lain, selain jauh -- juga sama nihilnya. Hingga batas waktu pendaftaran berakhir, tak ada sekolah yang menerimanya.

Jul 31, 2014

UN dan Ketidakadilan Sekolah Pinggiran

Memperkuat sekolah pinggiran. Inilah yang ingin diwujudkan Asli Nuryadin. Sudah lama ia memendam niat luhur itu. Saat itu -- sebagai pejabat esolon III di Disdik Provinsi Kaltim -- ia merasakan jangkauannya masih terbatas. "Saya pikir kinilah saatnya," kata Asli di kantornya.

Asli kini menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda. Baru jalan dua bulan, dan baru pada segelintir orang ia kemukakan niatnya, di antaranya kepada Walikota Syaharie Jaang yang merespon baik rencana tersebut. Beberapa anggota DPRD Samarinda, dalam beberapa kali komunikasi, bahkan menantangnya untuk membuat program-program terbaik guna memajukan pendidikan di ibukota provinsi ini.

Sekolah pinggiran adalah sekolah yang berada di daerah pinggiran (remote area). Kondisi sekolah- sekolah di kawasan itu seperti Teluk Bayur, Palaran, Loa Janan, dan lainnya umumnya masih kalah baik dibanding sekolah di perkotaan. Sekolah pinggiran juga acap berkonotasi kualitas yang belum ideal, yang umumnya dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya guru dan sarana-prasarana yang belum memadai.

Setiap penerimaan siswa baru, sekolah-sekolah pinggiran ini bukan menjadi target utama para siswa. Orang tua umumnya lebih mengincar sekolah-sekolah favorit seperti SMP 1, SMP 2 atau SMA 1, 2 dan 3 bagi anaknya -- meski domisili mereka relatif jauh. Sekolah-sekolah favorit, termasuk yang berbentuk SMK dan MTs, menumpuk di perkotaan. Tak satu pun berada di daerah pinggiran, kecuali SMA 10 di Seberang yang sengaja di-setting Pemprov Kaltim sebagai unggulan di Kaltim.

Jul 20, 2014

Humas PPU dan Pelatihan Jurnalistik

Bagi Iqbal, menulis bukan hal yang mudah. Empat tahun bekerja di Bagian Humas Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) -- bagian diSKPD yang secara teknis dan fungsi lebih dekat dengan kegiatan tulis menulis -- ternyata tak lantas membuatnya dapat menguasai bagaimana membuat feature yang baik. Ia belum penah membuat sebuah pun feature. Bahkan, sekedar menulis berita biasa saja masih kesulitan. 

"(Kesulitan muncul) terutama saat persoalan (tema berita) itu tidak saya tahu. Kalau mudah (temanya), ya gampang juga menuliskannya. Jadi, (menulis) gampang-gampang sulit," aku Iqbal.

Berfoto bersama usai pelatihan jurnalistik di Masjid Islamic Centre Samarinda
Iqbal mengatakan itu saat melakukan simulasi wawancara dalam Pelatihan Jurnalistik Kehumasan Pemkab PPU di Hotel Adi Bahtera Balikpapan, Sabtu (19/7). Simulasi wawancara merupakan bagian dari "Teknik Penulisan Feature," materi yang saya bawakan pada siang itu. Syahrul Karim dari Media Indonesia dengan "Teknik Penulisan Advetorial dan Pers Release," sudah lebih dulu menyampaikan materinya sejak pagi.

Iqbal tidak sendirian. Sebagia besar peserta pelatihan yang totalnya 13 orang ini mengalami kesulitan yang sama. Pretest yang saya lakukan membuktikan itu. Berita biasa yang dibuat Iskandar dan Alpian misalnya, masih jauh dari KISS (k-clear, informatif, sistematis, dan simple).

Tiga hari lalu, pihak MDC Communication -- penggelar acara tersebut -- menginformasikan bahwa para peserta umumnya sudah menguasai teknik-teknik dasar penulisan berita (hardnews). "Mereka umumnya sudah cukup lama bekerja di Bagian Humas, jadi sudah advandced kalau soal berita," kata Maipah, Marketing Director MDC Communication.

Maipah juga seorang jurnalis Tribun Kaltim. Lulusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin Makassar ini pernah beberapa tahun bertugas di Biro Samarinda, sebelum kini di Balikpapan. Karenanya, dengan waktu pelatihan yang terbatas, hanya dua jam, saya kemudian memutuskan untuk akan lebih membahas bagaimana membuat feature, news feature atau narasi. Bentuk tulisan macam itu kini populer disebut sebagai jurnalisme sastra, sebuah genre penulisan jurnalistik yang mengadopsi teknik-teknik penulisan kreatif yang biasa diterapkan dalam karya-karya sastra.

Jun 8, 2014

Bangun Dulu, Mangkrak Kemudian

Empat tahun setelah Stadion Utama Palaran, Samarinda menjadi saksi tempat kemeriahan upacara pembukaan PON XVII-2008,  The Economist menurunkan laporan berjudul: "Power to the people! No, wait ..."

The Economist adalah majalah  -- produk cetaknya dalam bentuk majalah di kertas mengkilap, meski selalu menyebut dirinya sebagai surat kabar -- berpengaruh yang berbasis di Inggris dengan tiras 1,4 juta eksemplar di seluruh dunia. Tak ada perpustakaan besar di Indonesia, dan hampir tidak seorang pun ekonom, para kepala negara, para pengambil kebijakan nasional, atau "think thank" di Jakarta, yang tak melangganinya.

Majalah yang dewan redaksinya disesaki wartawan bergelar doktor itu menyatakan,  desentralisasi mengakibatkan pemborosan dana publik yang luar biasa. Ia menyebut Stadion Palaran sebagai salah satu contoh. Ada kebanggan yang membuncah dari warga Kaltim, juga gubernur, saat ribuan kembang api terlontar di udara dan menerangi langit di atas Palaran yang selama ini gulita. 

Tetapi, mengingat peristiwa olahraga yang jarang sekali terjadi di daerah ini, pembangunan stadion empat tingkat berkapasitas 50 ribu penonton pada lahan seluas 46 hektare, di tengah rakyat yang masih terbelakang dan terbelit kemiskinan itu, menurutnya, merupakan wujud proyek mercusuar yang mubazir.

"The governor himself takes pride in it. But a pitchside inspection tells a sadder story. A weary groundsman is attacking knee-high weeds with a flymo under the hot sun," tulis The Economist.

Pemprov Kaltim, tambahnya, harus merogoh dana Rp 5 triliun lebih untuk membayar kebanggaan tersebut. Sayangnya, kemampuan pemprov membangun stadion megah itu tak diikuti dengan kemampuan untuk memanfaatkannya secara maksimal.  Terakhir kali  pertandingan sepak bola besar dimainkan di sini pada Mei 2010.

May 6, 2014

Kini Saatnya Guru Bahagia

Melihat guru berangkat ke sekolah dengan mengendarai mobil, kini menjadi hal yang lumrah. Beberapa sekolah bahkan merasa perlu membuat parkiran khusus atau memperlebar tempat parkirnya. Di tempat itu ditulis: "Parkir Mobil Guru."

Hal yang jamak pula menyaksikan guru ke sekolah dengan bergonta-ganti mobil. Hari ini dia naik Avanza, besok naik Innova, dan lusa mengendarai CRV. 

"Jadi guru itu sekarang itu memang enak. Gak aneh lagi melihat mereka naik mobil," kata Prof Dr Dwi Nugroho, Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang Kemasyarakatan dan SDM dalam seminar "Strategi Pembangunan Pendidikan di Kaltim" di Hotel Swissbell Borneo Samarinda, Kamis (1/5).

Seminar kemarin boleh dibilang agak istimewa. Terutama karena melihat pesertanya. Mereka adalah para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah berprestasi se-Kaltim. Mereka juara dari kabupaten dan kota masing-masing. Panitia dari Dinas Pendidikan Kaltim sengaja memberi apresiasi dengan menginapkan mereka di hotel berbintang, sekaligus untuk menguji dan memilih siapa yang pantas mewakili Kaltim dalam lomba di tingkat nasional.

Begitu besar perhatian pemerintah terhadap guru, hingga hadiah yang diberikan kepada mereka pun tidak tanggung-tanggung. Juara I Provinsi akan mendapat Rp 25 juta, juara II dan III masing-masing Rp 15 juta dan Rp 10 juta. Itu belum termasuk hadiah dari kabupaten dan kota.

Terminal Samarinda Terbaik, di Mata Siapa?

Haruskah saya bersuka cita? Tidak biasanya, reflek saya kali ini tidak gerak ketika membaca berita gembira: "Terminal Sungai Kunjang Terbaik se-Indonesia." Lazimnya, akan terlontar pujian -- meski hanya dalam hati -- kepada tokoh, instansi maupun korporat yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang mereka raih.


"Ya, dia pantas mendapatkannya." 

Setidaknya itu yang terucap di bibir saya begitu mendengar kabar gembira, sebagai bentuk pengakuan sekaligus turut berbangga. Dan itu pula yang seketika terucap, saat saya menyaksikan laporan CNN, akhir Maret lalu, mengenai hasil survei Skytrax 2014, yang menyatakan Changi International Airport  di Singapura sebagai bandara terbaik di dunia.

Dunia penerbangan mana yang tak mengenal Skytrax. Ini adalah lembaga pemeringkat penerbangan independen yang kredibel. Lembaga ini berbasis di London. Dalam sejarahnya, lembaga ini tak pernah melakukan survei sekedar untuk memenuhi pesanan klien tertentu, atau melakukan survei secara asal-asalan. Terlebih yang ingin dicari adalah  "yang terbaik".

Apr 21, 2014

Ogah Jadi Petani di Kaltim


Masih mau menjadi petani sawah di Kaltim? Cermati dulu kalkulasi berikut ini. Biaya olah tanah Rp 1 juta/ha, biaya tanam Rp 1 juta, pupuk dan obat-obatan Rp 8-9 juta, pascapanen Rp 2-3 juta. Jadi, selain lahan, petani harus memiliki modal kerja sedikitnya Rp 14 juta.

Itu angka yang tidak kecil. Lalu berapa laba/rugi yang akan diperoleh -- istilah kerennya return of investment (RoI)?

Satu hektare sawah bisa menghasilkan Rp 20 juta. Asumsinya harga gabah kering giling Rp 3.750- Rp 4.000/kg, dan produksi 5 ton GKG. Acapkali  produksi di bawah itu. Terutama  saat kering melanda seperti dua tahun terakhir. Iklim tidak menentu. Irigasi teknis terbatas. Banyak sawah tadah hujan akhirnya tirus kehausan. Pada 2011-2012, produktivitas di Kaltim hanya 3,94 ton. Tahun 2013 naik sedikit: 4,06 ton.

Anda pikir masih ada margin lumayan, 25 persen. Eiitt, jangan senang dulu. Hasil sebesar itu baru diterima efektif 5-6 bulan kemudian. Yakni setelah seluruh gabah terjual. Hasil sebenarnya kurang dari Rp 1 juta per bulan. Kalau lahan yang dimiliki hanya setengah hektare, tentu akan lebih kecil  hasilnya. Rata-rata kepemilikan sawah oleh petani secara nasional hanya 0,03 ha. Bandingkan di Thailand yang mencapai 3 ha.

Apr 14, 2014

Cabe dan Caleg

Istri teman saya mengaku lega sudah mencoblos. Keluar dari bilik suara di TPS 20 Kelurahan Air Hitam, Samarinda senyumnya langsung merekah. Ia merasa sudah menyalurkan hak politiknya dan memilih dengan benar. Saya tidak tahu caleg dan parpol yang ia pilih. Saya hanya tahu harapannya terhadap  para caleg dan parpol pemenang Pileg 2014, seperti sering ia sampaikan saat kami mengobrol, yakni terwujudnya kehidupan rakyat yang adil dan makmur.


Ya, dua kata saja. Baginya, adil merupakan persamaan hak dasar manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, pangkat dan kedudukan. Makmur adalah kehidupan sehari-hari dimana rakyat bisa mencukupi kebutuhan pangannya dengan harga murah. Tercukupi pula kebutuhan sandang untuk keluarganya, dan mampu membeli rumah layak huni dengan harga terjangkau.

Harapan ini sebenarnya bukan hal baru. Para pendiri bangsa sudah memikirkannya 69 tahun silam ketika menentukan tujuan pembentukan negara Indonesia.

Namun, baru sehari bayangan masa depan rakyat yang lebih baik itu mampir di benaknya, sepulang dari pasar induk Segiri, muka istri teman saya itu sudah keruh. "Masak sudah naik lagi, Rp 80.000 per kilo," katanya dengan kesal. Ia mengambil bungkusan tas kresek kecil berisi lombok. Kenaikan sebesar itu sangat memberatkan. Ia mengaku ngeri membayangkan kalau harganya akan menanjak lagi. Sembilan bulan lalu harga cabe di Samarinda pernah menembus Rp 150.000/kg atau 500 persen dari harga normal.

Ada kebiasaan jelek, begitu harga melonjak, malas untuk melorot lagi. Kecuali pasokan berlimpah. Tetapi kapan pasokan pernah berlimpah di Kaltim? Daging sapi misalnya, sejak mengalami lonjakan  tajam kali pertama, setahun lalu, hingga kini harganya masih saja bertengger di kisaran Rp 120.000.  Berharap kembali normal, menjadi Rp 60.000/kg agaknya tinggal harapan. Kalau "stabilitas" harga macam ini yang diinginkan pemerintah, agaknya kali ini berhasil.

Lantas kepada siapa orang-orang kecil seperti istri teman saya itu akan mengadu? Kepada siapa dia akan menggantungkan harapannya tentang kehidupan rakyat yang adil dan makmur?
***

Apr 7, 2014

KPK Siapkan Borgol untuk Tambang

SUASANA rapat koordinasi dan supervisi atas pengelolaan pertambangan mineral dan batubara di  ruang serbaguna kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Kamis (13/3) sebenarnya tidak terlalu menegangkan. Meski materi pembahasan banyak menyinggung warning kepada kepala daerah dan pejabat terkait yang berani menerima suap dan gratifikasi, Adnan Pandu Praja, Wakil Ketua KPK, sekali dua menyelipkan humor dalam presentasinya di depan sekitar 150 peserta rapat yang memenuhi ruangan itu.

Namun humor itu tetap terasa hambar terdengar di telinga mereka. Senyum yang tersungging sebatas gerakkan formalitas di bibir. Sedetik kemudian sudah terkatub. Sekedar untuk bertanya atau memberikan tanggapan pun enggan. Tidak jelas apakah karena sudah paham dengan paparan terkait tambang batubara dan persoalan hukum  yang menyertainya itu, atau karena sebab lain.

Rusmadi, Plt Sekprov Kaltim, yang memandu sesi tanya jawab, sampai mengingatkan peserta rapat bahwa kedatangan KPK di Samarinda, kali ini, tidak dalam rangka penindakan. Melainkan masih tahap pencegahan. "Jadi, bapak-ibu tidak perlu takut (untuk memberikan informasi). Tidak bakal diborgol," candanya.

Rusmadi adalah doktor bidang pertanian. Ia pernah menjadi Dekan Fakultas Pertanian Unmul Samarinda. Sempat aktif bersama sejumlah dosen Unmul lainnya di Kalima -- sebuah lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk Awang Faroek Ishak sekitar setahun sebelum Pemilihan Gubernur Kaltim 2008. Saat Awang Faroek mencalonkan diri kembali untuk periode kedua (2013-2018), Kalima berganti nama menjadi Kalima Plus. Kalima atau Kalima Plus banyak disebut sebagai alat yang disiapkan untuk mendukung langkah Awang Faroek menuju kursi KT-1. Kini lembaga ini turut mendapatkan dana bantuan sosial dari Pemprov Kaltim, dan jejaknya antara lain terlihat pada puluhan pot bunga -- bertuliskan "Kalima Plus" -- yang terpajang di jl Basuki Rachmat dan beberapa ruas jalan lainnya di Samarinda.

Apr 4, 2014

Ketika Daerah "Perjualbelikan" PI

"Participating Interest itu seharusnya untuk memperkuat daerah. Jangan diberikan pada swasta," Menteri Koodinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan hal itu dalam sebuah diskusi otonomi daerah di Surabaya pada 2012. Dua tahun sebelumnya, 28 Januari 2010, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak meneken nota kesepahaman (MoU) antara PT Migas Mandiri Pratama dengan PT Yudhistira Bumi Energi  yang kini dipolemikkan.

Kerjasama dilakukan selang dua bulan setelah MMP dibentuk. Yudhistira sendiri dibentuk  sebulan setelah Migas Mandiri Pratama, akhir 2009. Berita Negara Republik Indonesia mencatat pendirian  Yudhistira pada Desember 2009. Tapi siapa sesungguhnya Yudhistira, Pemprov Kaltim tak pernah membukanya terang.

Hazairin Adha, Dirut MMP, setali tiga uang. "Yang pasti dia memiliki dana yang cukup kuat," kata Hazairin. Mantan Kepala Dispenda Kaltim ini tak gamblang menyebut kelompok  perusahaan mana yang menangungi Yudhistira. "Kabarnya di bawah kelompok Alam Sutera," jawabnya.

Ia tidak menjelaskan detil Alam Sutera yang ia maksud. Penelusuran saya terhadap Alam Sutera mentok pada sebuah kelompok usaha Alam Sutera Realty, perusahaan terbuka bidang properti yang mencatatkan sahamnya di bursa tahun 2007 dengan kode ASRI. Perusahaan ini tidak menggeluti bisnis migas.

Induk Yudhistira disebut-sebut melakukan kerjasama dengan Pemprov Jawa Tengah di Blok Cepu lewat PT Usaha Tama Mandiri Nusantara, dan dengan Pemprov Maluku lewat PT Maluku Energi Nusantara di Blok Masela. Kedua pemda itu sama-sama mencoba peruntungannya di bisnis migas setelah ada sinyal yang memungkinkan pemda daerah penghasil bisa mendapatkan saham PI 10 persen. Tapi lagi-lagi tidak pernah dibuka siapa induk dari perusahaan-perusahaan itu.

"Ada morgan Stanley (sumber dana) di belakangnya," kata Hazairin. Morgan adalah perusahaan jasa finansial asal Amerika.

Kegalauan Hatta saat itu mungkin beralasan. PP N0 35 Tahun 2004 yang memungkinkan pemda bisa memiliki saham hak partisipasi di blok migas (baru) tentu dimaksudkan untuk memperkuat finansial daerah. Selama ini, daerah penghasil migas, Kaltim misalnya, masih berteriak kekurangan duit untuk membangun.

Nasionalisasi, akankah Menjawab Kebutuhan Kaltim?

Semangat nasionalisasi mendadak mengerucut di ballroom Hotel Novotel, Balikpapan, Sabtu, pekan ketiga Pebruari lalu. Siang itu, seluruh peserta Debat Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat tumben bersatu suara: mendukung PT Pertamina (Persero) sebagai pengelola baru Blok Mahakam. Mereka menjawab pertanyaan moderator kepada siapa seharusnya  pengelolaan Blok Mahakam diberikan setelah kontrak habis pada 2017.

Jauh sebelum peserta konvensi capres itu bersuara, kelompok masyarakat Kaltim bersama sejumlah tokoh nasional, pegiat kedaulatan nasional, dan pengamat sudah mendesak pemerintah untuk tidak lagi memperpanjang kontrak Total E&P Indonesie (TEPI) di blok tersebut. Dalam perspektif daerah, Total dianggap tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan wilayah dan masyarakat sekitar.

Sudah hampir setengah abad beroperasi, kondisi daerah masih begitu-begitu saja. Mereka menunjuk  infrastruktur dasar dan fasilitas publik di Kaltim, khususnya sekitar Blok Mahakam yang masih jauh dari memadai. Apalagi makmur! Jalanan berdebu bila kemarau dan becek saat hujan. Rumah-rumah beratap seng dan berdinding kayu tanpa cat, mempertegas gambaran ketertinggalan yang nyata. Di depan rumah-rumah itu berselonjor pipa-pipa panjang berdiameter besar yang mengalirkan gas dan minyak bumi dari sumur-sumur di Blok Mahakam.

Sumur-sumur itu telah menghasilkan fulus yang sangat besar. Sejak dioperasikan, menurut catatan TEPI, Blok Mahakam sudah menghasilkan migas senilai US$ 154 miliar atau setara dengan Rp 1.540 triliun jika dirupiahkan dengan kurs Rp 10.000, dimana Rp 950 triliun menjadi hak pemerintah Indonesia (belum dikurangi cost recovery). Dalam setahun terakhir ini saja (2013), nilai produksinya mencapai Rp 107 triliun (US$ 11,23 miliar). Sudah tentu bagian pemerintah pun turut naik.

Tetapi, angka-angka besar itu ternyata malah hanya memperbesar kecemburuan para kepala daerah maupun warga. Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia Isran Noor menandaskan, buat apa diberikan lagi kepada asing kalau tidak memberikan kontribusi pada kemajuan daerah. Hal senada diungkapkan Muhammad Safri, Ketua RT Handil Baru, Senipah, Kutai Kartanegara.

Oct 9, 2013

Gorontalo dengan Jagungnya, Kaltim Apa?

Banyak orang bertanya-tanya komoditas pertanian unggulan apa yang sudah menggaungkan nama Kaltim. Tidak perlu banyak. Sebut satu saja tapi nyata daripada ingin meraih semua  nyatanya tak satu yang jadi. Gorontalo misalnya, berhasil dikenal dengan jagungnya, Kaltim apa dong?

Tanyalah kepada sopir angkot di Gorontalo, terlebih yang biasa membawa wisatawan, komoditas pertanian unggulan apa yang terkenal dari provinsi itu. Mereka akan memberi jawaban yang sama: jagung! Para sopir itu bahkan tak kalah bersemangat dari petani maupun pejabat teknis sekali pun ketika menjelaskan seputar komoditas yang telah mengharumkan nama daerahnya itu.

"Dan tepatlah kalau nomor kendaraan kami DM," kata Ilyas, sopir angkot yang mengantar kami ke Limboto, Kabupaten Gorontalo. Apa hubungannya? "DM itu (singkatan dari) Daerah Milu," tambah Ilyas kepada saya sekitar dua tahun lalu. Mendengar itu kami semua tertawa. Milu adalah kata dalam bahasa Gorontalo yang berarti jagung.

Sekarang, kata Ilyas lagi, siapa yang tidak mengenal Gorontalo. Siapa yang tidak mengenal Fadel Muhammad al Hadar. "Banyak rakyat menyayanginya, sayang beliau kemudian diangkat menjadi Menteri Kelautan."

Fadel -- alumni ITB jurusan Teknis Fisika, politisi cum pengusaha -- adalah Gubernur Gorontalo pertama yang memimpin pengembangan jagung sebagai komoditas pertanian unggulan. Pada Pilgub kedua tahun 2006, dia memperoleh 81 persen suara. Nilai ini merupakan yang tertinggi di Indonesia sehingga tercatat di MURI sebagai rekor pemilihan suara tertinggi di Indonesia untuk pemilihan gubernur.

Sep 15, 2013

Menjadi Priyayi Pangreh Praja

Setiap kali diumumkan lowongan penerimaan calon pegawai negeri sipil, peminatnya selalu membludak. Demi menjadi PNS, mereka rela melakukan apa pun. Demo rame-rame jika perlu. Tak sedikit yang sudah bekerja di kantor dan pabrik swasta pun memilih resign. Kesejahteraan hanyalah satu dari sekian banyak daya tarik bekerja di kantor pemerintahan.


Di Kaltim, dan mungkin pula di banyak daerah lain, menjadi pegawai pemerintah identik dengan jaminan kesejahtaraan yang layak. Masa depan yang lebih pasti, jenjang karir yang terbuka lebar, pengaruh, lingkar kekuasaan (kewenangan), dan penghormatan yang lebih. Prof Umar Kayam PhD, sosiolog UGM, mengatribusi kelompok ini sebagai priyayi.

Dalam novel "Para Priyayi", Umar Kayam menceritakan tokoh bernama Soedarsono, seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan kerabatnya diharapkan dapat menjadi "sang pemula" untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten dia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa.

Dari sini Soedarsono memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya pun melewati zaman Belanda dan zaman Jepang, tumbuh sebagai guru, opsir Peta dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Dengan menjadi pangreh praja (sekarang pamong praja atau pegawai negeri), Soedarsono berhasil menaikkan status kelas sosial keluarganya, dari kelas bawah (buruh tani) ke kelas menengah. Anak-anak, cucu dan beberapa sanak keluarganya pun kemudian  mengikuti jejaknya masuk dalam jajaran birokrasi.

Gubernur Awang Faroek Ishak adalah salah seorang yang lahir dari keluarga pangreh praja. Dalam berbagai kesempatan, dia mengatakan dalam dirinya menetes darah biru -- bergelar Ngabei Setia Negara -- sekaligus darah birokrat. Ia anak ke-11 dari 13 bersaudara pasangan Awang Ishak, seorang punggawa (abdi dalem) Kerajaan Kutai yang pernah menjadi Asisten Wedana (Camat), dan Dayang Johariah. Kakaknya, Awang Faisjal Ishak, pernah menjadi Bupati Kutai.

Masyarakat umumnya memang memberikan tempat atau strata sosial yang lebih tinggi kepada para pamong praja ini. Mereka dihormati dan disegani karena memiliki pengaruh dan kekuasaan, yang itu membuatnya tampil lebih berwibawa dan bisa memerintah rakyat. Bukankah derajat sosial orang yang memberi perintah selalu lebih tinggi ketimbang yang diperintah?

Contoh Haji RW, salah satu tokoh antagonis dalam sinetron "Tukang Bubur Naik Haji" yang tayang tiap malam di sebuah stasiun televisi. Dia "dihormati" karena memiliki kewenangan dan kekuasaan untuk "memerintah" warganya. Bahkan bila perlu bisa mengusir tamu yang tidak melapor. Sesuatu yang tidak dimiliki warga biasa. Ketua RW memang bukan pegawai negeri, tetapi dia kepanjangan tangan dari pemerintah. 

PNS sedang upacara bendera
Sekarang mari bicara soal kesejahteraan. Gaji yang diterima pegawai di lingkup Pemprov Kaltim paling rendah Rp 5 juta. Ditambah dengan berbagai honor kegiatan pelaksanaan proyek dan sisa dari biaya-biaya perjalanan dinas, seorang pegawai bisa membawa pulang Rp 8-10 juta per bulan. Makin tinggi eselon, akan makin besar pula uang yang bisa dibawa pulang. Sangatlah naif kalau kita bilang mereka belum sejahtera dengan pendapatan resmi minimal sebesar itu.

Aug 12, 2013

Logika Terbalik Open House

Dua puluh menit sebelum pintu dibuka, Kamis (8/8), Sutarman, 41, sudah tiba di Lamin Etam. Ia berada di antara belasan orang yang pagi itu juga tengah menunggu pintu dibuka, tanda open house Gubernur Kaltim dimulai.

Tarman tak mengenal mereka. Kalau melihat penampilan mereka: berwibawa, berpakaian rapi dan terbuat dari bahan berkelas, mobil-mobil pengantar yang mewah dan kinclong, yakinlah dia bahwa orang-orang itu adalah para tokoh masyarakat dan pejabat penting di provinsi ini.

Tarman hanya seorang tukang kayu. Karena orderan sepi dia kini lebih banyak menjadi tukang ojek agar dapur di rumah tetap mengebul. Di daerah yang pernah menjadi pengekspor kayu terbesar ini, harga kayu ternyata makin mahal. Karena alasan lebih ekonomis, orang Samarinda kini lebih banyak memilih bahan alumunium untuk rangka atap mereka, sehingga kebutuhan tukang kayu pun berkurang drastis. Pekerjaan terakhir ini sudah ia lakoni sejak dua tahun lalu.

Dia sengaja memacu kendaraan dari rumahnya di Palaran sekedar ingin melihat wajah gubernur dari dekat. Sudah lima tahun gubernur memimpin, namun belum pernah sekali pun dia melihatnya secara langsung. Belakangan dia kerap melihat wajah sang gubernur (bersama Mukmin Faisyal) di banyak baliho dan poster di sudut-sudut jalan dan pusat keramaian kota.

"Saya dengar hari ini Pak Gub gelar open house," katanya memberi alasan maksud kedatangannya. Mau minta maap kepada Gubernur? "Oh tidak!" sergahnya. "Wong saya tidak punya salah apa-apa kok sama beliau. Justru sebenarnya beliaulah yang harus minta maap kepada kami, rakyat kecil, yang sudah bertahun-tahun ini merasakan debu dan becek akibat jalan rusak di Palaran yang tak kunjung selesai (diperbaiki)."

Jul 7, 2013

Puasa, kok Malah Boros...

Besok atau lusa umat muslim akan mulai menjalani ibadah puasa. Inilah saat kita dianjurkan untuk bisa lebih menahan diri, memperbanyak amal dan ibadah. Makan pun akan lebih sedikit. Yang biasa tiga kali menjadi hanya dua kali sehari, yakni saat sahur dan berbuka. Tetapi, kenapa pengeluaran rumah tangga pada bulan puasa malah lebih besar?

Saya merasakan ini sudah bertahun-tahun. Hal yang sama ternyata juga dialami kabanyakan teman, dan tetangga saya.

Pekan lalu saya bertemu seorang kawan lama. Kami bercerita panjang lebar mengenai keadaan diri masing-masing, perjalanan karir hingga kemudian nyerempet soal bulan Ramadan yang segera tiba.  Namun tiba pada bahasan terakhir, raut wajahnya mendadak berubah. Tak terlihat lagi kegairahan dan semangat seperti di menit-menit pertama pertemuan kami.

Padahal banyak umat muslim menyambut bulan ini dengan gembira. Salah satu doa mereka adalah bisa dipertemukan kembali dengan bulan ini. Itu dipanjatkan sejak setahun lalu, dan biasa mereka mantapkan lagi pada malam nisfu sya'ban. Sebuah hadits Rasulullah saw mengatakan, "Seandainya hamba-hamba mengetahui apa yang ada  pada bulan Ramadan, niscaya umatku berangan-angan agar Ramadan bisa terus berlangsung sepanjang tahun."

Jun 2, 2013

Sains dan Spiritualitas, Mestikah Berbenturan

Tatkala buku The Grand Design terbit, sekitar 3 tahun yang silam, sambutan publik tidak semeriah ketika The Brief History of Time dipublikasikan. Kendati begitu, Stephen Hawking, penulisnya, tak kurang piawai dalam menyemarakkan kemunculan The Grand Design di muka umum. Guru Besar Matematika di Cambridge University itu mengeluarkan pernyataan yang memancing kembali diskusi soal relasi di antara sains dan agama. Katanya: “Ada perbedaan fundamental antara agama yang didasarkan atas otoritas dan sains yang didasarkan atas observasi dan nalar.”

Dalam bukunya, Hawking menulis: “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada ‘sesuatu’ dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakkan alam semesta.” Ia bahkan berujar: “Sains akan menang.”

Sebagaimana Hawking, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Dawkins, juga menampik kehadiran Sang Pencipta dengan beranjak dari titik berangkat yang sama: sains didasarkan atas bukti yang dapat diverifikasi, sedangkan keyakinan agama bukan hanya tidak punya bukti, tapi bahkan kemandiriannya dari bukti adalah kebanggaan dan kesenangannya. Biolog-evolusioner ini meyakini bahwa evolusi—yang ia sebut sebagai “sang desainer buta”—menggunakan trial and error secara kumulatif untuk bisa mencari ruang yang luas dari struktur-struktur yang mungkin.

Apr 28, 2013

Pesan dari Sebuah Kematian

Allah sangat menyayangi ustad Jefry "Uje" al Buchori. Kalau bukan karena kasih Allah SWT, dia tak akan dipanggil secepat ini dan di hari yang sebaik ini. Melalui kematiannya yang tidak pernah diduga banyak orang, bahkan oleh istrinya sendiri, Pipik, Tuhan justru mengangkat tinggi derajat Uje.

Tiba-tiba saja saya merasa kehilangan. Saya tidak mengenal Uje secara pribadi. Saya hanya pernah beberapa kali menyaksikan wajahnya di layar kaca saat dia bertausiah. Juga saat dia melantunkan lagu-lagu syiar dengan suaranya yang merdu. Tutur katanya lembut, berisi, dan ngena di hati. Banyak kalangan muda mengidolakannya. Mereka menjulukinya sebagai ustad gaul. 

Dia tidak cuma bicara. Dia tidak cuma berceramah. Dia juga laku. Dia adalah contoh sebuah transformasi kehidupan seorang manusia biasa. Dari penolakan menjadi sebuah penerimaan terhadap seseorang yang berupaya menjadi mukmin secara kafah.

Apr 13, 2013

Hari Jadi

Tadi malam saya sengaja pulang kantor lebih cepat. Pukul 22.15 saya meninggalkan kantor, lalu bergegas jemput istri di Seberang. Tiba di rumah beberapa menit sebelum pukul 24.00. Biasanya, kami selalu tiba di rumah ketika hari sudah berganti alias di atas pukul 24.00.


"SELAMAT ya sayang..." kata sang istri seraya memeluk dan mengecup mesra kening saya, tepat pukul 00.00. Dia mengucapkan selamat atas pertambahan umur saya. Dulu 24 tahun. Sekarang 74 tahun. Sebuah hadiah terindah dia berikan malam itu hingga membuat kami akhirnya terlelap.

Pagi tadi, saat mata saya baru terbuka, istri saya kembali mengecup. Segelas kopi jahe sudah dia siapkan. "Selamat ya...," ucapnya lagi.

Feb 28, 2013

Bedah Provinsi Kalimantan Timur

Enam bulan penuh, Gubernur Kaltim Awang Faroek bersama seluruh kepala dinasnya diungsikan ke Luanda, ibukota negara Angola, negeri kaya minyak di Afrika. Survei terbaru Mercer menempatkan Luanda sebagai kota dengan biaya hidup termahal di dunia, mengalahkan Tokyo dan New York yang selama ini selalu dianggap sebagai dua kota paling mahal.

 Sebagaimana terlihat di layar televisi, mereka menempati sebuah suite room hotel termewah di area Rua da Missao. Hotel ini acap menjadi langganan para peraup bonanza dolar dari kemelimpahruahan minyak seperti bos BP, Exxon, dan bangsawan negara-negara Timur Tengah. Semua aktivitas terkait pekerjaan ditiadakan sampai sepekan jelang pendaftaran Pilgub Kaltim, 22 Mei 2013. Mereka hanya boleh bersenang-senang.

Awang dipersilakan menikmati gaya hidup mewah seperti kelompok jet set pada umumnya dengan menikmati semua fasilitas mewah di dalam hotel, berjemur di pantai Luanda atau berbelanja sepuas mungkin tanpa khawatir bakal tekor. Semuanya tanpa bayar alias gratis.

"Helmi Yahya yang menanggung semua biayanya," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Kaltim S Adiyat. 

Helmi adalah produser reality show "Bedah Rumah" di sebuah stasiun televisi nasional. Acara yang dibawakan Ratna Listy itu banyak membuat haru pemirsa. Biasanya, pemilik rumah yang jadi target bedah akan diungsikan dulu satu malam di sebuah hotel berbintang seraya memberi kesempatan ke mereka untuk menikmati gaya hidup orang kaya.

Haru dan geli beraduk menyaksikan ekspresi orang-orang miskin itu. Mereka akan merasa seperti di alam mimpi. Bayangkan saja, rumah yang semula reyot dan bocor kala hujan yang menjadi tempat berteduh mereka selama berpuluh tahun, tiba-tiba berubah menjadi rumah layak huni, bersih, cantik, berjendela dan lengkap dengan perabotnya. Jauh melampaui ekspektasi mereka.

Kini Helmi mencoba menaikkan misi ke level yang lebih tinggi: "Bedah Provinsi". Tapi saya tidak tahu kenapa Luanda yang dipilih sebagai tempat untuk mengungsikan Awang Faroek. Kenapa bukan New York misalnya, seperti saat mengungsikan Presiden SBY dan para menteri kabinetnya dalam "Bedah Republik".

New York adalah simbol kemewahan kota dunia. Hampir semua yang menjadi impian banyak orang tersedia di sana. Seorang kawan, Farid Gaban yang menonton acara itu hingga tuntas, tujuh tahun lalu,  mengisahkan dengan apik bagaimana berseri-serinya wajah SBY selama di kota itu. Mereka menikmati kemewahan yang jarang mereka nikmati tanpa dituduh bermewah-mewah atau korupsi. Mereka dibolehkan rame-rame naik kapal pesiar mengitari Lady Liberty. Belanja parfum termahal di Macy's atau Nordstrom. Nonton teater di Broadway. Menikmati konser di Carnegie Hall.

Barangkali Helmi menganggap Kaltim memiliki kemiripan dengan Luanda. Sama-sama kaya minyak dan sama-sama mempertotonkan ironi di mana kemiskinan berjalan beriring di sepanjang jalur pipa migas. Kaltim memiliki kota dengan biaya hidup paling mahal di Indonesia: Balikpapan. Kaltim juga memiliki kota dengan pendapatan perkapita tertinggi di Tanah Air. Dan Kaltim adalah propinsi yang memberikan upah terbesar kedua secara nasional kepada karyawan atau buruh.

SEPERTI saat menyaksikan bedah-bedah di episode sebelumnya, kali ini pemirsa juga dibuat geli dan haru menyaksikan ekspresi gubernur yang kaget saat mengetahui harga sepiring makanan siap saji (fast food/quick lunch) yang ia santap mencapai US$ 57.92 (Rp 579 ribu). Ia kembali terbelalak oleh mahalnya harga karcis bioskop di kawasan pusat perbelanjaan di Shinny, Rp 168.000. Sejatinya dia merasa sayang, masak sih sekedar makan siang dan nonton saja kok harus merogoh kocek sebanyak itu. Tapi masa bodoh. Toh Helmi yang menanggung semua.

Awang melihat seorang pekerja konstruksi santai saja mengeluarkan US$ 292 dolar hanya untuk sebuah jeans Pepe. Itu tiga kali lebih mahal dari harga di Sogo Jakarta. Tetapi saat yang sama, di kejauhan, Awang menyaksikan ironi lain: banyak warga Luanda tinggal di gubuk-kota kemelaratan. Berlindung di bawah kardus dan papan kayu. Keluarga masak di atas api terbuka, mengais-ngais sampah di jalanan.

Tentu adegan yang jauh lebih mengharukan adalah saat menyaksikan mimik gubernur dari sebuah provinsi miskin -- tapi kaya -- ini yang malam itu menerima laporan dari anak buahnya. 

"Mana mungkin..." 

Proyek jalan tol Balikpapan-Samarinda yang ia gagas dan sempat macet itu kini telah rampung. Bahkan tembus pula sampai Long Midang. Itu artinya, tinggal selemparan batu saja sampai di jalan arteri Negara Bagian Sabah, Malaysia.

"Mustahil..." 

Awang kembali terbelalak. Ia mencermati foto demi foto kondisi jalan poros selatan, tengah dan utara, serta seluruh jalan dalam kota, antar kecamatan yang sudah terhubung mulus. Tak ada lagi jalan berlubang, apalagi rusak. Kubangan kerbau di sepanjang jalan di Palaran yang sempat membuatnya gundah karena tak kunjung tuntas perbaikannya, padahal Pilgub 2013 sudah kian dekat, ternyata telah berganti menjadi hamparan beton lebar. 

Awang ingin tidak percaya ketika mendapat laporan bahwa anggaran pendidikan sudah naik menjadi 20 persen. Sesuatu yang selama ini sulit ia wujudkan. Gubernur merangkul Kepala Dinas Pendidikan Musyahrim. Matanya berkaca-kaca. Laporan lain menyebut bahwa program yang ia canangkan untuk membebaskan 10 persoalan Kaltim pun sudah berhasil diwujudkan.

Sepuluh persoalan itu adalah 1) kemandirian/kedaulatan pangan, 2) kemiskinan, 3) pengangguran, 4) keterbatasan akses dalam permodalan, 5) pelayanan publik masih buruk, 6) merosotnya mutu lingkungan, 7) memacu iklim investasi, 8) kualitas pendidikan, 9) peningkatan layanan kesehatan, dan 10) pembangunan perbatasan.

Dari hotel di Luanda, gubernur menyaksikan siaran televisi satelit tentang pembangunan di Kaltim.  Jembatan Kembar sudah rampung. Flyover-nya pun telah terbangun bersamaan, sehingga tak sampai menjadi ejekan baru sebagai jembatan abunawas kedua di Kaltim. Jembatan Mahulu tuntas. Malah ada tiga jembatan baru lainnya sehingga total ada enam jembatan di Samarinda. Kemacetan sirna. Kawasan seberang pun berkembang pesat.

Tak ada lagi air menggenang. Gedung convention hall yang dia impikan  sudah terbangun megah di komplek Stadion Madya Sempaja. 16 proyek multiyears tahun 2013 sudah rampung lebih cepat. Bandara Baru Samarinda Sei Siring sudah beroperasi. Di KIPI Maloy di Kutai Timur pun sudah berlabuh kapal-kapal kargo superbesar. Mereka mengangkut bouksit, sawit, batu bara, emas dan semua kekayaan alam Kaltim.  Yang lebih mencengangkan Awang adalah saat menyaksikan pesawat-pesawat berlogo Kaltim Air sudah terbang di udara, melayani rute ke pedalaman dan perbatasan Kaltim.

Kameramen televisi lalu menyorot sepanjang Sungai Karang Mumus. Tidak ada lagi pemukiman di sepanjang bantaran itu. Kiri kanan telah diturap. Kawasan itu berkembang menjadi pusat rekreasi dan kuliner ala sungai di Singapura. Sedang sepanjang Tepian Mahakam berubah layaknya di Clarck Quay. Tak ada lagi pemukiman kumuh. Tak ada lagi warga miskin.

Kendaraan kini bisa melaju nyaman di sepanjang jalan Lintas Kaltim. Warga pedalaman berlibur ke Samarinda dan Balikpapan menggunakan kendaraan sendiri jamak ditemui. Malah warga perbatasan seperti Long Bawan, Apo Kayan yang selama puluhan tahun hidup terisolasi, kini dengan mudahnya terbang ke Samarinda, kapan pun mereka mau.  Mereka tak perlu lagi antre berbulan-bulan.

"Sungguh ini melampaui mimpi-mimpi saya. Terimakasih Helmi, Anda telah mewujudkan semua mimpi dan harapan saya, sesuatu yang sangat sulit dan tak mungkin diwujudkan pemerintahan saya," kata Awang terbata-bata.

Ia merangkul erat Helmi. Tanpa sadar air matanya membahasi baju bagian punggung sang produser.

"Kalau begitu kepulangan kami tolong dipercepat. Tidak perlu lagi menunggu dekat pendaftaran Pilgub. Hari ini juga kami minta bisa dipulangkan, agar persiapan ke Pilgub Kaltim 2013 bisa lebih matang," mohon Awang.

Helmi tersenyum. Ia memaklumi keinginan Awang Faroek yang ingin melanjutkan mimpi-mimpinya pada lima tahun berikutnya.(*)

Feb 20, 2013

Gagal di KPC, Akankah Gagal di Blok Mahakam?


Akankah Kaltim gagal untuk kali ketiga? Gagal di KPC. Gagal mendapat prosentase lebih besar dana bagi hasil migas. Lalu akan gagal di Blok Mahakam. Tiadanya transparansi acapkali jadi bumerang. Di antaranya soal investor. Benarkah Yudhistira grup dari Morgan Stanley? Jika iya, lalu untuk apa Aliansi ikut berteriak menegakkan kedaulatan nasional.

ACHMAD BINTORO

TENTU saja saya tidak berharap gagal. Tapi, gejala yang berkembang -- lewat sikap dan pernyatan- pernyataaan para elit nasional maupun daerah -- membuat saya khawatir. Gejala ini mengingatkan saya saat Pemprov Kaltim berjuang merebut hak pembelian 51 persen saham divestasi PT Kaltim Prima Coal.

Mulanya perjuangan itu mulus-mulus saja. Namun saat keinginan menguasai saham tambang batu bara terbesar kedua di dunia itu semakin kuat, mulailah timbul perpecahan. Timbul pernyataan- pernyataan para elit dengan logika komparador. Para elit daerah yang awalnya kompak, kemudian saling serang. Saling sikat. Polemik panas tak terhindarkan. Pemprov pun kewalahan menghadapi dua "lawan" sekaligus, di daerah dan di pusat.

Feb 13, 2013

Siasat Menghindari Pelepasan Saham


Ini tulisan jadul. Harap maklum. Ditulis 12 tahun lalu saat saya masih menjadi koresponden harian sore Suara Pembaruan Jakarta. Tulisan tentang "Di Balik Divestasi Saham KPC" ini terdiri tiga tulisan. Berikut adalah bagian pertama (http://suarapembaruan.com/News/2001/08/20/Utama/ut00/ut00.htm).

ACHMAD BINTORO

"Kita tidak bisa lagi menunggu proses divestasi ini. Terlalu banyak sudah kita dirugikan, sementara waktu terus berjalan. Oleh karena itu, kita hentikan saja produksi KPC," kata Agus Tamtomo. Agus adalah master bidang bisnis dari sebuah universitas di Belanda. Anggota Fraksi PDIP ini Ketua Pansus KPC DPRD Kaltim.

Perjuangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur  untuk menguasai 51 saham perusahaan pertambangan batu bara PT Kaltim Prima Coal (KPC) diperkirakan takkan selesai dalam tahun 2001 ini. Meskipun Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral Wimpy S Tjetjep menyatakan bahwa divestasi saham KPC akan tuntas Oktober 2001, tapi dia meyakini hal itu mustahil akan terwujud.