KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 13, 2015

Tepian Mahakam

PENGUSAHA kondang sekaliber Jos Sutomo tentu punya alasan kuat kalau hampir tidak pernah menjejakkan kakinya di taman Tepian Mahakam, sekedar untuk kongko. Meski ia gandrung setengah mati dengan keindahan sungai ini.

Sungai pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang hidupnya -- sejak ia memulai usaha kayu gelondongan dari kampungnya di Senyiur, Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur hingga tumbuh besar seperti sekarang. Sehingga tidak mungkin ia melupakan Tepian. Tepian adalah terminologi yang menunjuk pada kawasan sepanjang empat kilometer di pinggir sungai, dari bekas Pelabuhan Samarinda hingga Jembatan Mahakam.

Begitu pula bagi pengamat kondang seperti Aji Sofyan Effendi. Bukan karena alergi jika ia jarang sekali berplesir ke Tepian. Aji pun ingin seperti masyarakat urban umumnya. Menikmati capucino saat rembang petang. Atau menghabiskan malam, menjamu relasi dengan secangkir ronde (bukan vodka lho), sambil mendengarkan alunan "A Whiter Shade of Pale"-nya Procol Harum. Tapi tidak di lounge hotel.

Ia ingin suasana nyaman di lounge itu juga dapat tercipta di Tepian. Tepian Mahakam terlalu sayang untuk diabaikan. Sudah belasan tahun kita membuang waktu, sejak relokasi besar-besaran ratusan rumah dari bibir Mahakam itu, dengan membiarkan kawasan itu tanpa sentuhan yang berarti. Tanpa gerakan yang masif, nyata dan komprehensif untuk menata dan membangunnya kembali sebagai ikon wisata yang menarik.


Jos berkisah, bagaimana kawan-kawannya dari Jawa sampai berteriak terpukau begitu melihat sungai ini kali pertama. Mereka bilang Mahakam adalah anugerah terindah yang dimiliki Kaltim, terutama Samarinda yang kotanya terbelah dua oleh sungai sepanjang 920 kilometer itu.

Kaltim Wow...!?

SUDAH terlalu lama dahi Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto berkerut. Ia kecewa dengan perilaku sejumlah menterinya yang terlibat berbagai skandal korupsi. Ditambah lagi insiden larinya gembong narkoba yang digdaya sejagad, Joaquin "El Chapo" Guzman, dari penjara berkeamanan maksimum, Juli lalu. The Wall Street Journal mencatat, saat itu popularitasnya menukik tajam, dari 61 persen menjadi 34 persen.

Tetapi, sore itu, di istananya yang megah, Palacio Nacional di Meksiko City, Nieto mendadak dapat dengan mudah tertawa lepas. Suaranya bergema dari balkon tengah hingga terdengar oleh pekerja taman yang sedang merawat agave. Bukan karena candaan istrinya yang cantik, Angelica Rivera. Mantan penyanyi-bintang telenovela "Dulce Desafio" yang dijuluki La Giovita (si Burung Camar), karena perannya sebagai gadis lugu dan rendah hati dalam telenovela itu, sedang berada di kediamannya, Los Pinos.

Bukan pula karena ia telah berketatapan bulat untuk mencopot enam menterinya yang bermasalah itu. Kelompok pelukis jalanan, "Germen Krew" datang memperlihatkannya gambar pemukiman di kawasan bukit batu Las Palmitas, Pachuca, sebuah kota kecil di provinsi Hidalgo, Meksiko. Nieto hampir tak mengenali lagi bahwa rumah-rumah itu sebelumnya adalah pemukiman kumuh.


"Wow... !!! Asombroso! Anda sedang tidak bercanda kan?!" Nieto bergantian menatap foto dan para pemuda di depannya, didampingi sejumlah pejabat daerah. Mereka rupanya telah menyelesaikan proyek "El Makro Mural Barrio de Palmitas" yang diberikan khusus kepada Germen Krew dengan 20 pelukisnya itu.

"Ini...ini!" kata Nieto dengan telunjuk mengarah ke foto-foto mural di lereng bukit Palmitas. "Yang begini ini yang memang saya mau. Saya ingin yang memukau agar orang mau melirik Palmitas. Luar biasa. Ok, saya sendiri nanti yang akan meresmikan proyek itu," tandasnya bersemangat.

Dua minggu kemudian, Presiden Pena Nieto, Senin 31 Agustus waktu setempat, meresmikan proyek mural raksasa tersebut. Beragam warna dioles secara kohesif, abstrak dan garis-garis terang pelangi. Ada lembayung muda, hijau limau, jingga terang, dan sedikit biru yang kalau dari kejauhan terlihat seperti pelangi.