KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 8, 2016

What Do You Do?

Mumpung tahun 2018 belum tiba. Selagi masih ada kesempatan berpikir dan menimbang-timbang. Tak ada salahnya kita berandai-andai. Apa yang akan Anda lakukan kalau diberi kesempatan menjadi Gubernur Kaltim 2018-2023?

Ya, saya tahu banyak impian, harapan, dan ide tentang Kaltim yang lama mengendap di kepala Anda. Mungkin Anda pernah menuliskannya di media sosial. Pernah curhatkan kepada kawan. Anda obrolkan di kedai kopi. Anda jadikan bahan cacian kala berdemo. Atau hanya menjadi catatan kecil di bawah bantal.

Tak apa. Apa pun itu, tunjukkan. Kalau pun Anda tidak terpilih, siapa tahu gubernur baru nanti mau mendengarmu. Lalu menjadikannya bagian dari program prioritasnya. Tentu tak harus Anda keluarkan semua. Cukuplah dua-tiga yang paling Anda inginkan.

Tetapi, sebelum menjawab itu, Anda perlu memahami kondisinya dulu. Provinsi kita ini tidak lagi sekaya dulu.

Memang kita pernah kaya. Kita memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas, dengan keaneragaman hayati yang melimpah ruah. Riapnya menghijaukan lebih dari 14,9 juta hektare daratan Kalimantan. Ademnya turut mengayomi mahluk seisi bumi. Sayangnya itu tak bertahan lama.


Begitu kran ekspor log dibuka, ribuan chainsaw menyerbu. Meraung-raung di mana-mana. Seperti orang kesetanan, membabat semuanya. Tanpa jeda. Kian tahun makin ke pelosok. Hingga suatu saat kita terhenyak sendiri. Tak ada lagi tegakan tersisa.

Oct 7, 2016

Sungai Cheongyecheon

 
Di tengah kota Seoul, Korea Selatan, mengalir sebuah sungai kecil, Cheonggyecheon. Sama seperti sungai Karang Mumus yang mengalir di kota Samarinda dan bermuara di Mahakam. Cheongyecheon mengalir sejauh 8,14 kilometer, dan bermuara di sungai Hanggang.

Pekan lalu saya berkesempatan ke sana. Sungainya bersih. Satu jam menyusuri sungai itu, saya tak menemukan seonggok pun sampah. Airnya jernih. Saya dapat melihat bebatuan dan pasir di dasar sungai. Ikan-ikan berenang dengan gesitnya. Awalnya, saya mengira ini adalah kolam atau sungai buatan. Dugaan saya ternyata keliru.

Dulu, Cheonggyecheon tak ubahnya Karang Mumus. Bahkan jauh lebih parah. Sungai itu, setelah perang saudara (1950-1953), menjadi lokasi pemukiman kumuh kaum migran yang ingin mengadu nasib di ibukota. Foto-foto lama yang terpampang di Museum Seoul menunjukkan betapa kumuh dan kotornya sungai itu. Nyaris sama keadaannya kalau kita melihat SKM di belakang pasar induk Segiri.

Ribuan gubuk warga berdinding kayu, triplek, dan beratap plastik atau seng berhimpit di sepanjang bantaran. Lengkap dengan tajak-tajak kayu jamban yang kakinya menancap di dasar sungai. Selama berpuluh-puluh tahun, sungai itu dipaksa menjadi tong sampah raksasa bagi segala macam sampah penduduk yang tinggal di tepiannya.

Pada 1978, seiring dengan modernisasi yang melanda Korsel, kekumuhan Cheonggyecheon tak lagi terlihat. Bukan digusur. Rupanya, pemerintah sengaja membangun jembatan layang (Chenggye overpass) tepat di atas sungai. Mengurai kemacetan lalu lintas, sekaligus untuk menutupi kekumuhan di dalamnya.


Trik ini, dalam skala kecil, juga dilakukan Pemkot Samarinda. Baliho besar dipasang di sebelah jembatan gang Nibung, jalan Dr Sutomo untuk menutupi sisi kumuh bantaran SKM. Kadang terpampang wajah-wajah kandidat walikota atau gubernrur. Entah apa yang terpikirkan di benak para kandidat itu saat mereka memasang baliho-baliho itu.

Selama 25 tahun, sungai Cheongyecheon seolah menghilang dari kehidupan warga Seoul. Tertutup rapi oleh dua lapis jalan beton yang kokoh membentang di atasnya. Kenyataannya, air hitam masih mengalir di sepanjang Cheongyecheon menuju sungai Han.

Barulah pada 2003, walikota Seoul saat itu, Lee Myung-bak melakukan perubahan revolusioner. Lee lahir dari keluarga urban yang miskin. Seperti ia tulis dalam buku biografinya, untuk membiayai kuliahnya di Universitas Korsel, ia harus menjadi penyapu jalanan paruh waktu. Setahun setelah dilantik, Lee melakukan restorasi pada sungai Cheonggyecheon. Ia ingin mengembalikan Cheonggyecheon kembali pada statusnya semula, sebagai anak sungai kecil yang mengalir jernih di jantung ibukota.

Sejumlah jalan layang di atasnya ia singkirkan. Begitu pun tiang-tiang pancang, lapisan beton yang menutupnya. Lee tak perlu waktu lama. Ia tak harus lebih dulu menjadi wakil walikota untuk belajar cara birokrasi berencana dan mengesekusi keputusannya. Lee sebelumnya adalah CEO perusahaan besar, Hyundai Engineering and Construction.

Ia juga merasa tak perlu harus menjadi gubernur terlebih dulu untuk bisa mewujudkan semua impiannya membangun kota yang indah dan ramah lingkungan. Bahwa lima tahun kemudian ia terpilih menjadi Prsiden Korsel (2007-2012), itu semata karena rakyat Korsel melihat dab merasakan terobosannya. Ia wujudkan impiannya di Cheonggyecheon sebelum terpilih menjadi presiden.

Proyek restorasi sungai itu bahkan ia rampungkan hanya dalam dua tahun tiga bulan, Juli 2003 hingga Oktober 2005. Kini Cheonggyecheon telah berubah menjadi kali sungguhan yang eksotik. Yang mampu menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Ia bangun sebuah air terjun mini, yang jika malam menjadi lebih romantis oleh lampu-lampu yang semburat.

Di kanan kiri sungai, Lee bangun jalan setapak agar pengunjung bisa berjalan-jalan melihat ornamen dan karya-karya seni yang dipajang di sepanjang dinding sungai. Instansi terkait menyemarakkannya dengan festival lampion, dan berbagai atraksi untuk menarik wisatawan.


Tak kurang dari 20 jembatan melintasi sungai yang berlokasi di Taepyeong-ro 1-ga, Jung-gu, Seoul ini. Dua yang terkenal adalah Narae Bridge, di sebelahnya ada ratusan payung yang menggambarkan kupu-kupu terbang. Dan Gwanggyo Bridge yang di bawahnya terdapat galeri foto melambangkan harmonisasi masa lalu dan masa depan. Juga ada The Rhythmic Wall Stream, yakni dinding yang dilapisi marmer halus dan patung yang menghiasi jembatan ini.

Semua yang tersaji di sungai itu membikin saya tak henti berdecak kagum. Wow!!! Saya kagum bukan karena kehebatan arsitek di belakangnya, dan komitmen tinggi Lee untuk menyelesaikan proyek itu dalam waktu sangat cepat. Dua tahun tiga bulan, seperti kisah di negeri dongeng, bro. Juga karena kota dan negara yang dikenal dengan kemajuan teknologi industrinya ini ternyata masih amat menyadari pentingnya membangun dan menarik sebanyak mungkin wisatawan.

Ia manfaatkan potensi sungai, kedalaman histori, dan kekayaan budayanya untuk dinikmati pelancong. Sejak 10 tahun lalu, bus-bus pariwisata yang nyaman, sering hilir mudik di jalanan kota. Keluar masuk bandara mengangkut ribuan wisatawan, setiap hari.

Bagaimana dengan Samarinda? Kita memiliki sungai Karang Mumus, Mahakam. Juga ratusan lubang bekas tambang. Di wilayah tetangga, Kutai Kartanegara, terdapat titik-titik histori yang bisa menjadi pintu lorong waktu menuju masa silam, ke kerajaan yang paling tua di Tanah Air, Kutai. Ke simpul perjalanan diaspora nenek moyang bangsa Indonesia, pada zaman prasejarah, 10.000 tahun silam yang oleh para arkeolog diyakini melahirkan dan membuat kita ada sekarang ini.

Akankah semua potensi itu kita biarkan saja, tercampakkan oleh waktu dan ketidakpedulian para elite kita? (*)

http://kaltim.tribunnews.com/2016/08/29/sungai-cheongyecheon