KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Feb 28, 2013

Bedah Provinsi Kalimantan Timur

Enam bulan penuh, Gubernur Kaltim Awang Faroek bersama seluruh kepala dinasnya diungsikan ke Luanda, ibukota negara Angola, negeri kaya minyak di Afrika. Survei terbaru Mercer menempatkan Luanda sebagai kota dengan biaya hidup termahal di dunia, mengalahkan Tokyo dan New York yang selama ini selalu dianggap sebagai dua kota paling mahal.

 Sebagaimana terlihat di layar televisi, mereka menempati sebuah suite room hotel termewah di area Rua da Missao. Hotel ini acap menjadi langganan para peraup bonanza dolar dari kemelimpahruahan minyak seperti bos BP, Exxon, dan bangsawan negara-negara Timur Tengah. Semua aktivitas terkait pekerjaan ditiadakan sampai sepekan jelang pendaftaran Pilgub Kaltim, 22 Mei 2013. Mereka hanya boleh bersenang-senang.

Awang dipersilakan menikmati gaya hidup mewah seperti kelompok jet set pada umumnya dengan menikmati semua fasilitas mewah di dalam hotel, berjemur di pantai Luanda atau berbelanja sepuas mungkin tanpa khawatir bakal tekor. Semuanya tanpa bayar alias gratis.

"Helmi Yahya yang menanggung semua biayanya," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Kaltim S Adiyat. 

Helmi adalah produser reality show "Bedah Rumah" di sebuah stasiun televisi nasional. Acara yang dibawakan Ratna Listy itu banyak membuat haru pemirsa. Biasanya, pemilik rumah yang jadi target bedah akan diungsikan dulu satu malam di sebuah hotel berbintang seraya memberi kesempatan ke mereka untuk menikmati gaya hidup orang kaya.

Haru dan geli beraduk menyaksikan ekspresi orang-orang miskin itu. Mereka akan merasa seperti di alam mimpi. Bayangkan saja, rumah yang semula reyot dan bocor kala hujan yang menjadi tempat berteduh mereka selama berpuluh tahun, tiba-tiba berubah menjadi rumah layak huni, bersih, cantik, berjendela dan lengkap dengan perabotnya. Jauh melampaui ekspektasi mereka.

Kini Helmi mencoba menaikkan misi ke level yang lebih tinggi: "Bedah Provinsi". Tapi saya tidak tahu kenapa Luanda yang dipilih sebagai tempat untuk mengungsikan Awang Faroek. Kenapa bukan New York misalnya, seperti saat mengungsikan Presiden SBY dan para menteri kabinetnya dalam "Bedah Republik".

New York adalah simbol kemewahan kota dunia. Hampir semua yang menjadi impian banyak orang tersedia di sana. Seorang kawan, Farid Gaban yang menonton acara itu hingga tuntas, tujuh tahun lalu,  mengisahkan dengan apik bagaimana berseri-serinya wajah SBY selama di kota itu. Mereka menikmati kemewahan yang jarang mereka nikmati tanpa dituduh bermewah-mewah atau korupsi. Mereka dibolehkan rame-rame naik kapal pesiar mengitari Lady Liberty. Belanja parfum termahal di Macy's atau Nordstrom. Nonton teater di Broadway. Menikmati konser di Carnegie Hall.

Barangkali Helmi menganggap Kaltim memiliki kemiripan dengan Luanda. Sama-sama kaya minyak dan sama-sama mempertotonkan ironi di mana kemiskinan berjalan beriring di sepanjang jalur pipa migas. Kaltim memiliki kota dengan biaya hidup paling mahal di Indonesia: Balikpapan. Kaltim juga memiliki kota dengan pendapatan perkapita tertinggi di Tanah Air. Dan Kaltim adalah propinsi yang memberikan upah terbesar kedua secara nasional kepada karyawan atau buruh.

SEPERTI saat menyaksikan bedah-bedah di episode sebelumnya, kali ini pemirsa juga dibuat geli dan haru menyaksikan ekspresi gubernur yang kaget saat mengetahui harga sepiring makanan siap saji (fast food/quick lunch) yang ia santap mencapai US$ 57.92 (Rp 579 ribu). Ia kembali terbelalak oleh mahalnya harga karcis bioskop di kawasan pusat perbelanjaan di Shinny, Rp 168.000. Sejatinya dia merasa sayang, masak sih sekedar makan siang dan nonton saja kok harus merogoh kocek sebanyak itu. Tapi masa bodoh. Toh Helmi yang menanggung semua.

Awang melihat seorang pekerja konstruksi santai saja mengeluarkan US$ 292 dolar hanya untuk sebuah jeans Pepe. Itu tiga kali lebih mahal dari harga di Sogo Jakarta. Tetapi saat yang sama, di kejauhan, Awang menyaksikan ironi lain: banyak warga Luanda tinggal di gubuk-kota kemelaratan. Berlindung di bawah kardus dan papan kayu. Keluarga masak di atas api terbuka, mengais-ngais sampah di jalanan.

Tentu adegan yang jauh lebih mengharukan adalah saat menyaksikan mimik gubernur dari sebuah provinsi miskin -- tapi kaya -- ini yang malam itu menerima laporan dari anak buahnya. 

"Mana mungkin..." 

Proyek jalan tol Balikpapan-Samarinda yang ia gagas dan sempat macet itu kini telah rampung. Bahkan tembus pula sampai Long Midang. Itu artinya, tinggal selemparan batu saja sampai di jalan arteri Negara Bagian Sabah, Malaysia.

"Mustahil..." 

Awang kembali terbelalak. Ia mencermati foto demi foto kondisi jalan poros selatan, tengah dan utara, serta seluruh jalan dalam kota, antar kecamatan yang sudah terhubung mulus. Tak ada lagi jalan berlubang, apalagi rusak. Kubangan kerbau di sepanjang jalan di Palaran yang sempat membuatnya gundah karena tak kunjung tuntas perbaikannya, padahal Pilgub 2013 sudah kian dekat, ternyata telah berganti menjadi hamparan beton lebar. 

Awang ingin tidak percaya ketika mendapat laporan bahwa anggaran pendidikan sudah naik menjadi 20 persen. Sesuatu yang selama ini sulit ia wujudkan. Gubernur merangkul Kepala Dinas Pendidikan Musyahrim. Matanya berkaca-kaca. Laporan lain menyebut bahwa program yang ia canangkan untuk membebaskan 10 persoalan Kaltim pun sudah berhasil diwujudkan.

Sepuluh persoalan itu adalah 1) kemandirian/kedaulatan pangan, 2) kemiskinan, 3) pengangguran, 4) keterbatasan akses dalam permodalan, 5) pelayanan publik masih buruk, 6) merosotnya mutu lingkungan, 7) memacu iklim investasi, 8) kualitas pendidikan, 9) peningkatan layanan kesehatan, dan 10) pembangunan perbatasan.

Dari hotel di Luanda, gubernur menyaksikan siaran televisi satelit tentang pembangunan di Kaltim.  Jembatan Kembar sudah rampung. Flyover-nya pun telah terbangun bersamaan, sehingga tak sampai menjadi ejekan baru sebagai jembatan abunawas kedua di Kaltim. Jembatan Mahulu tuntas. Malah ada tiga jembatan baru lainnya sehingga total ada enam jembatan di Samarinda. Kemacetan sirna. Kawasan seberang pun berkembang pesat.

Tak ada lagi air menggenang. Gedung convention hall yang dia impikan  sudah terbangun megah di komplek Stadion Madya Sempaja. 16 proyek multiyears tahun 2013 sudah rampung lebih cepat. Bandara Baru Samarinda Sei Siring sudah beroperasi. Di KIPI Maloy di Kutai Timur pun sudah berlabuh kapal-kapal kargo superbesar. Mereka mengangkut bouksit, sawit, batu bara, emas dan semua kekayaan alam Kaltim.  Yang lebih mencengangkan Awang adalah saat menyaksikan pesawat-pesawat berlogo Kaltim Air sudah terbang di udara, melayani rute ke pedalaman dan perbatasan Kaltim.

Kameramen televisi lalu menyorot sepanjang Sungai Karang Mumus. Tidak ada lagi pemukiman di sepanjang bantaran itu. Kiri kanan telah diturap. Kawasan itu berkembang menjadi pusat rekreasi dan kuliner ala sungai di Singapura. Sedang sepanjang Tepian Mahakam berubah layaknya di Clarck Quay. Tak ada lagi pemukiman kumuh. Tak ada lagi warga miskin.

Kendaraan kini bisa melaju nyaman di sepanjang jalan Lintas Kaltim. Warga pedalaman berlibur ke Samarinda dan Balikpapan menggunakan kendaraan sendiri jamak ditemui. Malah warga perbatasan seperti Long Bawan, Apo Kayan yang selama puluhan tahun hidup terisolasi, kini dengan mudahnya terbang ke Samarinda, kapan pun mereka mau.  Mereka tak perlu lagi antre berbulan-bulan.

"Sungguh ini melampaui mimpi-mimpi saya. Terimakasih Helmi, Anda telah mewujudkan semua mimpi dan harapan saya, sesuatu yang sangat sulit dan tak mungkin diwujudkan pemerintahan saya," kata Awang terbata-bata.

Ia merangkul erat Helmi. Tanpa sadar air matanya membahasi baju bagian punggung sang produser.

"Kalau begitu kepulangan kami tolong dipercepat. Tidak perlu lagi menunggu dekat pendaftaran Pilgub. Hari ini juga kami minta bisa dipulangkan, agar persiapan ke Pilgub Kaltim 2013 bisa lebih matang," mohon Awang.

Helmi tersenyum. Ia memaklumi keinginan Awang Faroek yang ingin melanjutkan mimpi-mimpinya pada lima tahun berikutnya.(*)

Feb 20, 2013

Gagal di KPC, Akankah Gagal di Blok Mahakam?


Akankah Kaltim gagal untuk kali ketiga? Gagal di KPC. Gagal mendapat prosentase lebih besar dana bagi hasil migas. Lalu akan gagal di Blok Mahakam. Tiadanya transparansi acapkali jadi bumerang. Di antaranya soal investor. Benarkah Yudhistira grup dari Morgan Stanley? Jika iya, lalu untuk apa Aliansi ikut berteriak menegakkan kedaulatan nasional.

ACHMAD BINTORO

TENTU saja saya tidak berharap gagal. Tapi, gejala yang berkembang -- lewat sikap dan pernyatan- pernyataaan para elit nasional maupun daerah -- membuat saya khawatir. Gejala ini mengingatkan saya saat Pemprov Kaltim berjuang merebut hak pembelian 51 persen saham divestasi PT Kaltim Prima Coal.

Mulanya perjuangan itu mulus-mulus saja. Namun saat keinginan menguasai saham tambang batu bara terbesar kedua di dunia itu semakin kuat, mulailah timbul perpecahan. Timbul pernyataan- pernyataan para elit dengan logika komparador. Para elit daerah yang awalnya kompak, kemudian saling serang. Saling sikat. Polemik panas tak terhindarkan. Pemprov pun kewalahan menghadapi dua "lawan" sekaligus, di daerah dan di pusat.

Feb 13, 2013

Siasat Menghindari Pelepasan Saham


Ini tulisan jadul. Harap maklum. Ditulis 12 tahun lalu saat saya masih menjadi koresponden harian sore Suara Pembaruan Jakarta. Tulisan tentang "Di Balik Divestasi Saham KPC" ini terdiri tiga tulisan. Berikut adalah bagian pertama (http://suarapembaruan.com/News/2001/08/20/Utama/ut00/ut00.htm).

ACHMAD BINTORO

"Kita tidak bisa lagi menunggu proses divestasi ini. Terlalu banyak sudah kita dirugikan, sementara waktu terus berjalan. Oleh karena itu, kita hentikan saja produksi KPC," kata Agus Tamtomo. Agus adalah master bidang bisnis dari sebuah universitas di Belanda. Anggota Fraksi PDIP ini Ketua Pansus KPC DPRD Kaltim.

Perjuangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur  untuk menguasai 51 saham perusahaan pertambangan batu bara PT Kaltim Prima Coal (KPC) diperkirakan takkan selesai dalam tahun 2001 ini. Meskipun Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral Wimpy S Tjetjep menyatakan bahwa divestasi saham KPC akan tuntas Oktober 2001, tapi dia meyakini hal itu mustahil akan terwujud.

Dugaan KKN Ganjal Divestasi, Kaltim Gigit Jari


Berikut ini adalah tulisan kedua dari tiga tulisan mengenai "Di Balik Divestasi Saham KPC". Tulisan ini pernah dimuat di harian sore Suara Pembaruan edisi 21 Agustus 2001 (http://suarapembaruan.com/News/2001/08/21/Utama/ut00/ut00.htm).

ACHMAD BINTORO

Sampai tahun 2000, Kaltim kehilangan peluang meraih dividen sebesar Rp 1.229 triliun. Angka ini adalah angka minimal, karena ada informasi yang diperoleh pemda bahwa hasil eksploitasi batu bara di Sangatta jauh lebih besar dari yang dilaporkan.

Meskipun sangat mengagetkan, sebenarnya rekomendasi Pansus KPC DPRD Kaltim hanya gertakan belaka menghadapi siasat KPC. Sumber Pembaruan di DPRD Kaltim mengemukakan, rekomendasi tersebut cuma sekadar pernyataan untuk menggertak KPC dan menciutkan nyali Peter Alexander Vider (BP) dan Lex Graefe (Rio Tinto) yang sebelumnya pernah dilaporkan pengacara Pemda Kaltim ke Mabes Polri terkait kasus korupsi (Mabes Polri menetapkan tak ada bukti).

Buktinya, hingga kini sidang paripurna untuk menelorkan rekomendasi berbau ancaman itu belum digelar. Bahkan, sejauh ini tidak pernah ada agenda paripurna membahas rekomendasi pansus tersebut. Wakil Ketua DPRD Kaltim Kasful Anwar mengatakan, pihaknya belum menerima rekomendasi itu dari pansus.

Kegigihan Pemprov Kaltim Beraroma Kolusi

Ini adalah bagian terakhir dari tiga tulisan tentang "Di Balik Divestasi Saham KPC". Tulisan ini pernah dimuat di harian sore Suara Pembaruan (http://www.suarapembaruan.com/News/2001/08/22/Utama/ut00/ut00.htm) Jakarta.

ACHMAD BINTORO

Wakil Gubernur Kaltim Chaidir Hafiedz heran dengan kalangan dewan yang tak pernah meributkan kerja sama pemprov dengan konglomerat soal divestasi saham KPC.

Terlepas dari berbagai siasat kedua belah pihak dalam divestasi saham KPC, ada yang mempertanyakan, kalau KPC setuju, mampukah Pemprov Kaltim membeli saham sebesar US$ 316 juta. Sebab, untuk itu pemprov harus mengeluarkan uang sebesar Rp 3,4 triliun, sementara APBD Kaltim tahun 2001 hanya Rp 1,3 triliun.

Feb 10, 2013

Uniknya Pilgub Kaltim Kali Ini

Suka tidak suka. Mau tidak mau. Ini adalah tahunnya Awang Faroek Ishak. Dialah cagub paling populer dan tertinggi elektabilitasnya. Saking tingginya sampai ada yang berseloroh: Ibarat kata, kucing dibedaki pun tetap akan menang jika disandingkan Awang dalam Pilgub 2013. Tapi Kaltim memang sarat keunikan, sehingga calon dengan status tersangka pun masih dipuja.

ACHMAD BINTORO

Awang Faroek usai diperiksa penyidik di Kejati Kaltim
KEUNIKAN pertama. Kompetisi politik lima tahunan macam ini biasanya menjadi ajang yang ditunggu banyak tokoh parpol dan eksekutif. Yang terjadi, mereka malah berpikir seribu kali untuk menjadi rival Awang Faroek. Tinggal tiga bulan KPU membuka pendaftaran calon, belum satu pun tampak calon resmi lainnya. Kharisma Awang agaknya mampu bikin keder para lawan. 

Feb 9, 2013

Telepon dari "Sutan" Jelang Rapat Komisi VII DPR


Aliansi Rakyat Kaltim untuk Blok Mahakam (ARKBM) mencoba mendekati Komisi VII DPR RI di Jakarta. Mereka berharap wakil rakyat memainkan perannya secara benar, mendukung kedaulatan bangsa atas energi di Blok Mahakam. Tapi siapa sangka rapat itu justru menjadi ajang penghakiman bagi Aliansi.

ACHMAD BINTORO
SESEORANG mengaku bernama Sutan Bhatoegana, Ketua Komisi VII DPR RI. Beberapa hari sebelum jadwal rapat Aliansi dengan Komisi VII di Senayan, Jakarta, Senin (28/1), Sutan menelpon Wahdiat Al Gazali, Ketua Aliansi. Sutan menyatakan siap membantu memuluskan dukungan anggota komisi terhadap perjuangan Aliansi.

"Tapi tidak gratis. Intinya dia meminta Rp 50 juta," kata Wahdiat. Dia meyakini bahwa suara yang ada di seberang telpon itu adalah suara Sutan, politisi Partai Demokrat yang acap nongol di layar televisi dengan logat Batak yang khas.

Sulitnya Menegakkan Kedaulatan Energi di Blok Mahakam

Menegakkan kedaulatan energi. Itulah yang ingin dikedepankan dalam perjuangan Aliansi. Bukan sekedar perjuangan dengan agenda praktis yang cuma menonjolkan ego daerah. Tapi di lapangan, menegakkan tekad itu ternyata tidak gampang.


ACHMAD BINTORO
Kalau cuma ingin mendapat share saham pengelolaan Blok Mahakam, ada jalan yang sebenarnya mudah ditempuh oleh Kaltim. Tidak perlu berdemo. Tidak perlu repot menggalang dukungan dan beraliansi dengan para tokoh nasional. Tidak perlu merapat kepada Prof Dr Din Syamsuddin, Ketua Gerakan Menegakkan Kedaulatan Negara yang selama ini meneriakkan kedaulatan energi untuk bangsa.

Juga tak perlu membentuk Aliansi. Sehingga tidak perlu bersinergi dengan Direktur IRESS Marwan Batubara yang sudah sejak 2008 gencar menggalang Petisi Blok Mahakam. Atau merapat kepada Dr Kurtubi, pengamat migas yang tak berhenti menelanjangi BP Migas (hingga MK membubarkan lembaga tersebut) dan soal cost recovery.

Cukup duduk manis. Sambil ongkang-ongkang kaki juga boleh. Saham 10 persen pasti di tangan. BUMD Kaltim pasti bakal dapat jatah.