KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 26, 2014

UN Singkirkan Anak Bodoh lagi Miskin

"Saya tidak (lagi) sekolah. Tak ada biaya," kata Jayadi lirih. Sesekali ia lempar pandangannya keluar dari balik pintu rumahnya -- sebuah petak dari kayu berukuran 3 x 5 meter yang dihuni lima anggota keluarga -- yang sedikit terbuka. 

Dua orang kawannya sedang melintas, berseragam putih abu-abu, menuju sekolah. Ia menghela nafas panjang. Sejurus kemudian wajahnya yang tirus dan legam tertunduk.

Matahari makin menyingsing. Sepagi itu, ia mestinya juga sudah di sekolah seperti mereka. Bukan di rumah. Sebagian tubuhnya masih terbalut sarung kumal. Di hari yang lain kadang ia ikut ayahnya, Husaini (56), membantu tukang. Ayahnya seorang tukang bangunan. Tetapi, sudah tiga hari ini tak ada yang menggunakan jasanya.

Apakah Jayadi masih ingin sekolah?

Kepalanya menggeleng cepat. "Malu," ucapnya pelan. "Dulu, mungkin iya (masih ingin sekolah)." Sudah tiga tahun ini ia di rumah.

Selepas dari SMPN 38 di Loa Bakung, Samarinda, ayahnya sempat mencoba mendaftarkan di SMAN 14, tidak jauh dari tempat dia tinggal. Sekolah menolaknya. Konsep Bina Lingkungan tak lagi berlaku di sini. Nilai UN Jayadi rendah, hanya sekitar 18. Mencoba peruntungan di sekolah lain, selain jauh -- juga sama nihilnya. Hingga batas waktu pendaftaran berakhir, tak ada sekolah yang menerimanya.