KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jul 31, 2014

UN dan Ketidakadilan Sekolah Pinggiran

Memperkuat sekolah pinggiran. Inilah yang ingin diwujudkan Asli Nuryadin. Sudah lama ia memendam niat luhur itu. Saat itu -- sebagai pejabat esolon III di Disdik Provinsi Kaltim -- ia merasakan jangkauannya masih terbatas. "Saya pikir kinilah saatnya," kata Asli di kantornya.

Asli kini menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kota Samarinda. Baru jalan dua bulan, dan baru pada segelintir orang ia kemukakan niatnya, di antaranya kepada Walikota Syaharie Jaang yang merespon baik rencana tersebut. Beberapa anggota DPRD Samarinda, dalam beberapa kali komunikasi, bahkan menantangnya untuk membuat program-program terbaik guna memajukan pendidikan di ibukota provinsi ini.

Sekolah pinggiran adalah sekolah yang berada di daerah pinggiran (remote area). Kondisi sekolah- sekolah di kawasan itu seperti Teluk Bayur, Palaran, Loa Janan, dan lainnya umumnya masih kalah baik dibanding sekolah di perkotaan. Sekolah pinggiran juga acap berkonotasi kualitas yang belum ideal, yang umumnya dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya guru dan sarana-prasarana yang belum memadai.

Setiap penerimaan siswa baru, sekolah-sekolah pinggiran ini bukan menjadi target utama para siswa. Orang tua umumnya lebih mengincar sekolah-sekolah favorit seperti SMP 1, SMP 2 atau SMA 1, 2 dan 3 bagi anaknya -- meski domisili mereka relatif jauh. Sekolah-sekolah favorit, termasuk yang berbentuk SMK dan MTs, menumpuk di perkotaan. Tak satu pun berada di daerah pinggiran, kecuali SMA 10 di Seberang yang sengaja di-setting Pemprov Kaltim sebagai unggulan di Kaltim.

Jul 20, 2014

Humas PPU dan Pelatihan Jurnalistik

Bagi Iqbal, menulis bukan hal yang mudah. Empat tahun bekerja di Bagian Humas Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) -- bagian diSKPD yang secara teknis dan fungsi lebih dekat dengan kegiatan tulis menulis -- ternyata tak lantas membuatnya dapat menguasai bagaimana membuat feature yang baik. Ia belum penah membuat sebuah pun feature. Bahkan, sekedar menulis berita biasa saja masih kesulitan. 

"(Kesulitan muncul) terutama saat persoalan (tema berita) itu tidak saya tahu. Kalau mudah (temanya), ya gampang juga menuliskannya. Jadi, (menulis) gampang-gampang sulit," aku Iqbal.

Berfoto bersama usai pelatihan jurnalistik di Masjid Islamic Centre Samarinda
Iqbal mengatakan itu saat melakukan simulasi wawancara dalam Pelatihan Jurnalistik Kehumasan Pemkab PPU di Hotel Adi Bahtera Balikpapan, Sabtu (19/7). Simulasi wawancara merupakan bagian dari "Teknik Penulisan Feature," materi yang saya bawakan pada siang itu. Syahrul Karim dari Media Indonesia dengan "Teknik Penulisan Advetorial dan Pers Release," sudah lebih dulu menyampaikan materinya sejak pagi.

Iqbal tidak sendirian. Sebagia besar peserta pelatihan yang totalnya 13 orang ini mengalami kesulitan yang sama. Pretest yang saya lakukan membuktikan itu. Berita biasa yang dibuat Iskandar dan Alpian misalnya, masih jauh dari KISS (k-clear, informatif, sistematis, dan simple).

Tiga hari lalu, pihak MDC Communication -- penggelar acara tersebut -- menginformasikan bahwa para peserta umumnya sudah menguasai teknik-teknik dasar penulisan berita (hardnews). "Mereka umumnya sudah cukup lama bekerja di Bagian Humas, jadi sudah advandced kalau soal berita," kata Maipah, Marketing Director MDC Communication.

Maipah juga seorang jurnalis Tribun Kaltim. Lulusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin Makassar ini pernah beberapa tahun bertugas di Biro Samarinda, sebelum kini di Balikpapan. Karenanya, dengan waktu pelatihan yang terbatas, hanya dua jam, saya kemudian memutuskan untuk akan lebih membahas bagaimana membuat feature, news feature atau narasi. Bentuk tulisan macam itu kini populer disebut sebagai jurnalisme sastra, sebuah genre penulisan jurnalistik yang mengadopsi teknik-teknik penulisan kreatif yang biasa diterapkan dalam karya-karya sastra.