KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 23, 2012

Dua Pesan Jokowi kepada Gubernur Kaltim


Dalam mimpi, saya melihat Jokowi masuk kantor Gubernur Kaltim. Jam di tangan baru menunjuk angka 06.30. Belum banyak pegawai yang ngantor. Beberapa petugas Satpol PP di ruang lobi serta pegawai gubernuran yang sempat melihatnya pun rupanya tidak pernah menduga bahwa yang lewat barusan di depan mereka adalah Jokowi, Gubernur DKI yang baru dilantik.

ACHMAD BINTORO


Turun dari mobil Kijang Innova warna hitam, Jokowi langsung menuju lantai dua. "Bukankah itu Pak Jokowi?" tanya seorang petugas Satpol PP kepada rekannya sesaat setelah tersadar dengan sosok kurus berkemeja batik yang dilihatnya. Mereka pun bergegas menghampiri dan menyalami. Sambil menapaki anak tangga, Jokowi menepuk-nepuk bahu mereka.

Saya yang saat itu sedang menunggu teman di lobi gubernuran, tidak kalah kagetnya. Ada apa dia di sini? Studi bandingkah? Ah, tidak mungkin. Masak Gubernur DKI mau studi banding ke provinsi yang jauh di Kalimantan. Lalu apa dong?

Memangnya Ada Jokowi di Kaltim?

Fenomena Jokowi-Ahok yang menginspirasi banyak orang, tidak membuat Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak risau. Bertahun-tahun menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi juga tidak membuatnya merasa tidak aman. Popularitasnya masih yang paling tinggi. Awang bahkan berani balik menantang wartawan, dan kali ini bukan mimpi: Ada enggak (calon seperti) Jokowi di Kaltim?

ACHMAD BINTORO


Pertanyaan balik itu ia sampaikan sebagai penegasan bahwa Pilgub DKI dan di Kaltim berbeda. Di DKI bisa saja terjadi pasangan yang unggul di semua lembaga survei (Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli) kalah oleh pasangan yang tidak diunggulkan. Tetapi tidak di Kaltim, kecuali ada figur yang sama seperti Jokowi.

Kini popularitas Jokowi kian meroket. Harian berbahasa Inggris The Wall Street Journal yang berbasis di Singapura, pekan lalu bahkan memasukkan Jokowi ke dalam daftar 16 tokoh paling berpengaruh di Indonesia dalam dunia bisnis dan politik. Dia disejajarkan dengan Presiden SBY, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, Parbowo, James Riady, Megawati, hingga Samin Tan.

Oct 19, 2012

Blok Mahakam, Kemana Suara Aktivis Kaltim?

Sejumlah tokoh dan aktivis nasional yang dimotori Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara kini sibuk menggalang dukungan "Petisi Blok Mahakam untuk Rakyat". Dukungan terus mengalir. Tapi yang membuat saya heran, masyarakat Kaltim kok adem ayem saja. Padahal blok kaya migas itu berada di wilayah Kaltim.

ACHMAD BINTORO

Lalu kemana suara para aktivis yang biasanya cepat bersuara lantang? Beberapa waktu lalu ketika Kaltim tengah melakukan gugatan uji materi pasal mengenai prosentase dana bagi hasil migas pusat dan daerah UU No 33/2004, suara-suara itu masih lantang terdengar. Namun surut kembali begitu Mahkamah Konstitusi mengalahkan Kaltim.


Viko Januardhy, inisiator uji materi tersebut, kemarin berkirim pesan pendek kepada saya tentang akan digelarnya diskusi terbuka dengan tema "JR Ditolak, Otonomi Khusus Jawabannya". Diskusi diprakarsasi KNPI Kaltim dan akan dilaksanakan di kafe Juragan Kopi di Jalan Juanda, malam ini. Ooo... mungkin mereka masih belum bisa melupakan kekalahan itu.

Saya cuma agak penasaran, masak sih isu Blok Mahakam sedikit pun tak membuat mereka tertarik. Blok Mahakam merupakan salah satu ladang gas terbesar di Indonesia. Saat ini rata-rata produksinya sekitar 2.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau sekitar 344.000 barel oil equivalen (boe)  per hari.  Cadangan yang terkandung sekitar 27 triliun cubic feet (tcf). Sejak 1970 hingga 2011, sekitar 50% (13,5 tcf) cadangan telah dieksploitasi dan menghasilkan pendapatan kotor sekitar US$ 100 miliar.

Menurut Marwan Batubara, cadangan yang tersisa saat ini sekitar 12,5 tcf. Dengan harga gas yang terus naik, asumsi rata-rata US$ 15/MMBtu, Blok Mahakam berpotensi menghasilkan pendapatan kotor US$ 187 miliar lebih (12,5 x 1012  x 1000 Btu x $15/106 Btu) atau sekitar Rp 1.700 triliun! Banyakkah pendapatan sebesar itu? Kalkulator saya yang sederhana ini mungkin akan jebol kalau dipaksa untuk menghitung angka-angka itu.

Blok yang terletak di muara Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara ini sudah 45 tahun dikelola Total E&P Indonesie (Perancis) dan Inpex Corporation (Jepang). Kontrak Kerja Sama (KKS)-nya diteken pada 31 Maret 1967, beberapa minggu setelah Soeharto dilantik menjadi Presiden RI ke-2. Kontrak berlaku 30 tahun hingga 31 Maret 1997. Namun beberapa bulan sebelum Soeharto lengser, kontrak Mahakam telah diperpanjang selama 20 tahun, sehingga kontrak baru akan berakhir pada 31 Maret 2017.

Kini muncul sinyal dari Menteri ESDM Jero Wacik mengenai kemungkinan pemerintah akan kembali memperpanjang kontrak mereka untuk 20 tahun lagi. Inilah yang kemudian membangkitkan rasa nasionalisme Marwan dan ribuan aktivis nasional lain untuk menolak rencana tersebut. Saya lalu kirimkan pesan kepada Viko, Ketua KNPI Yunus Nusi, dan ekonom Unmul Aji Sofyan Effendi. Saya mempertanyakan kenapa para aktivis dan tokoh Kaltim tidak ikut bersuara. Isu ini mestinya bisa dijadikan batu loncatan untuk mencapai keinginan Kaltim pasca-kekalahan Kaltim di MK.

Yunus tidak merespon. "Saya terus terang lelah lahir batin, kada sanggup lagi mikir isu berat tentang Blok Mahakam," kata Viko. Bambang Prayitno, Direktur PKPS Kaltim mengatakan, Viko agaknya lagi down pascakekalahan Kaltim di MK.

Bambang mengaku sebelumnya sudah meminta Viko dan kawan-kawan aktivis lain di Kaltim untuk turut bersama menggalang petisi itu. Ia mengajak Viktor Juan (Ketua KNPI Kaltim). Tapi ajakan tidak bersambut. Viko bahkan minta jangan dibawa-bawa. Viktor hanya merespon datar: "Ide bagus, Blok Mahakam dikuasai asing lagi." Bambang kemudian berkirim pesan ke Rita Widyasari, Bupati Kukar. Tapi Rita, kata Bambang, cuma bilang, tunggu saja, pasti dapat saham.

"Wah, kok cuma nunggu. Saya sedih. Padahal kalau dikelola Total, (selama ini) sumbangsihnya ke negara kacil, Kalau sikap RW (Rita Widayasari) gitu, berarti ikut berdosa dong Kukar dan Kaltim," keluh Bambang. Praktis hanya dia bersama Rudi Hartono (Hanura) dari Kaltim yang turut dalam 500 penandatangan petisi itu.

Ada beberapa kemungkinan kenapa aktivis Kaltim loyo. Mungkin banyak yang kurang paham, kata Bambang, sebab yang menggerakkan adalah tokoh-tokoh nasional, termasuk Kurtubi, dan stigmasi Blok Mahakam cuma masalah Kaltim saja. Kemungkinan lain, mereka terlalu berpikir kedaerahan sehingga berpikir jika Jakarta yang bergerak, Kaltim tidak usah ikut agar sikap Kaltim tidak dipolitisasi.

"Kalau berpikir hitam putih begitu, sangat menyesatkan. Padahal di Jakarta banyak kaum nasionalis yang berpikir untuk kepentingan daerah. Atau mungkin karena mereka berpikir kepentingan Kaltim cuma merebut 10 persen saham PI," jelasnya.

Para tokoh dan aktivis Kaltim ini agaknya belum paham bahwa ada kepentingan yang lebih besar, selain merebut Participating Interest 10 persen. Yakni soal ketahanan energi, kedaulatan energi dan kemandirian nasional, kesejahteraan rakyat. Sebuah pertanyaan besar dan aneh kalau pemerintah masih mau memberikan perpanjangan kontrak kepada Total yang sudah meraup laba begitu besar selama dua kali kontrak (50 tahun).

Ekonom Unmul Aji Sofyan Effendi mengatakan, agar dapat mengelola Blok Migas diperlukan dana tidak sedikit, Rp 130 triliun. "Apa Pertamina punya uang sebanyak itu?" Kalau benar punya dana sebanyak itu, ia sependapat blok itu harus diberikan pada BUMN. Inilah saatnya untuk jadi tuan rumah di bumi sendiri. "Kalau ini sukses, pola ini bisa menjadi pilot project di wilayah lain di Indonesia."

Marwan mengatakan, Pertamina telah berulang-ulang menyatakan mampu mengelola blok Mahakam seperti dinyatakan Dirut PHE Salis Aprilian, Direktur Ibrahim Husein dan Dirut Karen Agustiawan. Karen menegaskan kembali sikapnya pada 27 Juli 2012. Ia menanggapi pernyataan Menteri ESDM Jero Wacik pekan lalu, yang meragukan kemampuan keuangan Pertamina.

Ini berbeda dengan sikap Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dahlan justru mendorong BUMN-BUMN untuk bersatu padu, keroyokan, guna mengincar besarnya potensi bisnis migas. Ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Ia yakin BUMN juga mampu.
Dulu dunia internasional juga meragukan kemampuan Presiden Venezuela Hugo Chaves melakukan nasionalisasi industri migas. Meski kemudian digugat oleh Exxon Mobil, ia tidak mundur sedikit pun. Dan terbukti upayanya berhasil. Venezuela kini menjadi tuan rumah di negerinya sendiri yang kaya migas dan bahan mineral lainnya.

Stasiun berita CNN, Kamis, 18 Agustus 2011 memberitakan bahwa Venezuela akan mengambil alih tambang di wilayah selatan negara itu. Salah satu perusahaan tambang terbesar di daerah itu, Rusoro, adalah perusahaan Canada yang dikuasai keluarga Agapov dari Rusia. Lengkap sudah nasionalisasi  oleh Chavez. 
Indonesia pun bisa. Meminjam istilah Jokowi, asal mau dan tidak punya kepentingan apa pun kecuali untuk rakyat. Jika Blok Mahakam berhasil, menunggu Freeport dan sederet tambang lainnya untuk "dinasionalisasi". Semoga! (*)

Oct 15, 2012

TMC Tak Cuma Tentang Bayi Tabung

Rudi dan istrinya adalah pasangan muda. Mereka belum tujuh tahun menjalani rumah tangga. Namun kerinduan terhadap kehadiran sang bayi agaknya sudah tak bisa dibendung lagi. Berbagai upaya terapi yang mereka jalani belum juga membuahkan hasil. Mereka kemudian memutuskan menjalani program IVF (In Vitro Fertilisation) alias bayi tabung di TMC, Malaysia. 


Sebenarnya banyak rumah sakit dan klinik yang bisa melayani program IVF. Di kotanya sendiri di Makassar, RS Pendidikan Fakultas Kedokteran Unhas sudah melayani program ini sejak setahun lalu. Di Jakarta dan beberapa RS di kota lain di Tanah Air bahkan sudah lebih lama. Di Singapura -- negara yang selama ini menjadi kiblat orang Indonesia ketika berobat ke luar negeri -- juga ada, seperti di Singapore General Hospital atau di Thomson  Fertility Centre yang merupakan klinik IVF pertama di Singapura.

Marketing TMC Tjandrawati Hartono beri penjelasan.
Tapi atas referensi sejumlah kawan dan kerabatnya, Rudi memutuskan menjalani IVF di Tropicana Medical Centre (TMC) di Kota Damansara, Kuala Lumpur. Rudi mendengar banyak pasangan yang berhasil melakukannya di RS ini. Bahkan bisa diprogram kembar, termasuk  meminta tes kromosom agar bisa memilih jenis kelamin embrionya.

"Tingkat keberhasilan di sini kabarnya yang paling tinggi, mencapai 60 persen. Dan pastinya, biaya lebih murah dibanding ke Singapura, Eropa atau kadang malah di RS di Tanah Air,"  jelas Rudi yang saya temui di TMC, akhir pekan lalu. Dia ditemani istri dan beberapa anggota keluarga dekat untuk melakukan sejumlah tes pemeriksaan.

Dia sudah mendapat gambaran total biaya yang harus ia keluarkan, sekitar RM 20.000 atau Rp 60 juta. Menurutnya, tidak lebih mahal dari Jakarta. Biaya itu antara lain untuk proses IVF RM 10.300, RM 1.600 untuk transfer embrio, dan obat-obatan seperti Gonal F dan Buslerin/Suprefact sekitar RM 3.000. Ini sudah termasuk biaya kamar perawaran untuk OPU dan ET. Biaya per test hanya RM 200- 500.

"Nilai rupiah di sini kan masih lebih tinggi ketimbang di Singapura, jadinya biaya jatuh lebih murah. Ditambah tiket, akomodasi plus jalan-jalan di Malaysia, saya siapkan Rp 100 jutaan," tambah Rudi yang tinggal menunggu hasil dari semua tes yang sudah ia jalani bersama istri.

Menurut Tjandrawati Hartono, Marketing Executive TMC, biaya terendah utk program ini sekitar RM 16.000, tergantung tingkat kerumitannya. Tjandra membenarkan biaya berobat jatuhnya lebih murah ketimbang di Singapura. Kalaupun standar harga relatif sama, tapi faktor nilai tukar memberi pengaruh. Nilai tukar $S (SGD) 1 = Rp 7.910, sedang RM 1 = Rp 3.000.

Salah satu kamar pasien di TMC Malaysia
"Tak heran kalau banyak orang Indonesia kini lebih memilih berobat ke sini. Apalagi  TMC sudah diakui reputasinya, dengan keunggulan program bayi tabung," jelas Tjandra. Pada 7 Juli 2012 lalu TMC merayakan keberhasilan bayi tabung ke-3.000. "Sekarang angkanya tentu saja sudah tambah lagi."

TMC memiliki tenaga spesialis yang andal, dan didukung oleh riset dan pengembangan yang terus- menerus. Ini yang membuat TMC menjadi rumah sakit dengan angka keberhasilan bayi tabung yang tinggi. Pada 2010, angka keberhasilan bayi tabung mencapai 60,7 persen. Pada 2011 mencapai 59,1 persen, sebanding dengan klinik kesuburan kelas dunia lainnya.

Pengunnung Melihat Foto2 Bayi Tabung di TMC
Rumah sakit dengan lingkungan seperti resor dan bersuasana Asian Hospitality ini menggunakan metode hibridasi genomik komparatif atau CGH. Ini bagian dari diagnostik sebelum implantasi (PGD) terhadap embrio. Dengan penapisan kromosom melalui CGH ini, satu per satu kromosom akan diperiksa. Sehingga jika ditemukan ada kromosom yang abnormal bisa segera diketahui. Cara ini bisa memastikan embrio yang ditanam dalam rahim benar-benar sehat.

Tjandra menambahkan, sekitar 30 persen bayi tabung yang dihasilkan di TMC adalah kembar. Saya bersama para travel agent anggota Asita Samarinda melihat sendiri ratusan foto bayi kembar lucu yang dipajang di papan-papan informasi. Ada yang bermata sipit, berkulit coklat, hitam dan banyak pula berwajah bule. Sungguh menggemaskan.

"Kami memang unggul pada program bayi tabung. Tetapi layanan kami bukan cuma itu. TMC juga memiliki fasilitas lengkap dan dokter-dokter handal untuk check up, penyakit jantung, diabetes & ginjal, hati & gastroenterologi, aneka bedah laser THT, kepala dan leher, bedah umum, minimal- invasif dan kanker, bedah mikro & tangan, ortopedi, hingga tulang belakang

ANDA berminat? Anda bisa kontak langsung TMC atau mencari informasi melalui sejumlah travel agent anggota DPC Asita Samarinda. Bagi orang travel agent seperti Irma Diansari, pemilik Borneo Kersik Luway di Samarinda, tak ada perjalanan yang tidak menyenangkan. Apa pun tujuan perjalanan Anda akan bisa dikemas secara mudah, murah dan menghibur.

Jangankan perjalanan dengan tujuan plesir, untuk tujuan yang sifatnya serius pun seperti rapat tim di luar kota, bisa dikemas dengan menyenangkan dalam satu paket wisata. Anda ingin umroh, haji atau berziarah ke makam ulama-ulama besar, bisa dikemas melalui paket wisata religius. Malah saat Anda sakit pun, travel agent punya paket medical tourism yang membuat Anda bisa lebih rileks dan tidak terus-terusan cemas menghadapi penyakit Anda.

Irma sendiri memiliki pengalaman yang mengesankan saat berobat di Malaysia. Bukan karena cuma  peralatan yang cangggih, fasilitas yang lengkap, tapi pelayanannya pun mantap. "Saya saat itu cuma check up, dokternya helpful banget. Mereka dengan sabar menenangkan. Bahkan saat mau operasi, tangan saya dipegangnya karena melihat saya demikian takutnya, ganteng lagi (dokternya)." tutur Irma tersenyum geli.

Kalau harus memilih Singapura atau Malaysia, Irma menyarankan untuk berobat di TMC atau di Malaysia. Mutu dan pelayanan prima adalah kuncinya, sesuatu yang sulit didapat dari rumah sakit di Kaltim, bahkan di Tanah Air. "Lagi pula biaya hidup di Kaltim dan Malaysia kurang lebih sama. Harga makanan, tarif hotel dan lainnya lebih murah ketimbang di Singapura."

Sebagai perbandingan tarif hotel di V'la Garden Hotel di Bukit Bintang -- pusat keramaian di KL (Malaysia) mulai hanya RM 99.90 (sekitar Rp 300.000), sudah termasuk sarapan pagi. Dilengkapi AC, TV, shower air panas, dan internet. Hotel sejenis di Singapura sekitar S$ 225. Satu kamar di homestay saja, dengan kamar mandi luar dan tanpa sarapan pagi, di kawasan Orchad dibandrol S$ 120.(achmad bintoro)

Benahi Dulu Baru Gencarkan Promosi


Melancong ke Eropa sepertinya sudah menjadi agenda rutin bagi puluhan pejabat Pemprov dan pemda di Kaltim. Hampir saban tahun dilakukan dengan dalih promosi pariwisata (dan investasi). Promosi seakan-akan menjadi jawaban pamungkas yang bakal membuat wisatawan berbondong-bondong datang ke Kaltim. Padahal promosi mestinya bukanlah yang pertama dan segala-galanya.

ACHMAD BINTORO

Pelajaran berharga itu diperoleh pengusaha travel agent anggota Asita Samarinda saat melancong  ke Malaysia-Singapura, 5-8 Oktober 2012. Memang benar kedua negara itu amat gencar berpromosi. Hasilnya, puluhan juta orang datang ke dua negara tetangga itu. Pada 2011, Malaysia dikunjungi 24,7 juta turis. Bandingkan tahun 2000 hanya 10,2 juta orang saja. Dalam 11 tahun kenaikan turis mencapai 142 persen.

MAHAKAM RIVER TOUR
Tetapi, bagi Malaysia dan Singapura, promosi hanya satu dari banyak bagian penentu keberhasilan memasarkan pariwisata. Bagian lain harus turut dibenahi seperti ketersediaan infrastruktur yang memadai, produk, harga, sistem distribusi (place),  pengemasan paket wisata (packaging), program kegiatan wisata (programming), kerjasama (partnership), penampilan obyek wisata (performance), hingga soal sumberdaya manusia (people).

Pemerintah Malaysia (termasuk pemerintahan di 14 Negara Bagian) melibatkan seluruh stakeholder. Mereka mengerahkan jawatan pekerjaan umum untuk memperbaiki dan membangun akses jalan menuju obyek wisata. Selama di sana saya sulit sekali menemukan jalan yang berlubang. Mereka melibatkan para travel agent dan pihak terkait lain dalam Malaysia Tourism Promotion Board guna mengembangkan dan mempromosikan kepada dunia agar datang ke Malaysia.

Director Malaysia Tourism Promotion Board, Nor Aznan Sulaiman menuturkan Indonesia adalah pasar terbesar kedua wisatawan yang datang ke Malaysia setelah Singapura. Karena itu mereka gencar promosi langsung ke berbagai kota di Tanah Air, termasuk ke Samarinda. Tahun 2011 lalu, turis Indonesia ke Malaysia mencapai 2,1 juta.

Pariwisata Kaltim Masih Sebatas Baliho


Kaltim selalu menyatakan diri siap menerima kunjungan wisatawan. Tapi apa yang sudah terlihat dari kesiapan itu? Nyaris tak ada! "Ah, jangan ekstrem begitu," timpal seorang pemilik agen travel. "Setidaknya ada baliho...," tambahnya dengan mimik jenaka. Ia menunjuk baliho bergambar Gubernur bertuliskan "Visit Kaltim Year 2012" yang dulu bertengger mentereng di Tepian Mahakam, depan gubernuran.

ACHMAD BINTORO

Mendengar itu, kontan meledaklah tawa para pemilik agen travel lainnya. Seretnya pengembangan pariwisata Kaltim menjadi isu utama dalam obrolan santai di sela sarapan belasan pengusaha agen travel di V'la Park Hotel, Kuala Lumpur, akhir pekan lalu. Hotel ini terletak di Bukit Bintang, pusat keramaian di ibukota Malaysia, tak jauh dari menara kembar Petronas.

BANJIR DI SIMPANG 4 MAL LEMBUS SAMARINDA
"Itulah kenyataanya. Apa yang mereka sebut sebagai program pengembangan pariwisata ternyata masih saja berkutat pada soal membuat spanduk dan baliho bertuliskan Visit Kaltim, yang biasanya ikut dompleng gambar kepala daerah dan kepala dinasnya," kata Ketua Association of the Indonesia Tour & Travel Agencies (Asita) Samarinda Syarifudin.

Kunjungan 15 pengusaha agen travel anggota  DPC Asita Samarinda ke Malaysia dan Singapura, kian membuka mata bahwa mengembangkan pariwisata bukanlah sekedar berucap selamat datang. Tidak cukup hanya dengan membuat brosur, baliho serta spanduk "Ayo Tamasya ke Kaltim" atau retorika yang terdengar manis dalam pidato-pidato kepala daerah dan kepala dinas pariwisata di Kaltim.

Modal cekak tidak menghalangi keinginan mereka untuk bisa menimba pengalaman dari dua negara tetangga yang selama ini gencar membangun pariwisatanya. Mereka pun melobi travel lokal untuk memfasilitasi perjalanan lokal dan akomodasi selama di sana. Berhasil. Tinggal masalah tiket. Ini juga segera terpecahkan setelah Garuda Indonesia memberi diskon besar.

"Banyak hal yang bisa kami pelajari. Mulai dari bagaimana cara travel agent mengemas paket wisata untuk dijual pada wisatawan hingga melihat bagaimana keseriusan otoritas pemerintah di sana dalam mengembangkan pariwisata," ujar Lydia Hendy, pimpinan PT Totogasono Samarinda.

"Dan kami tidak sekedar plesir." Sarifudin menyindir perjalanan dinas rombongan puluhan pejabat ke Belanda guna mengikuti pameran pariwisata dan investasi yang menuai banyak kecaman. Begitu banyak APBD Kaltim terbuang untuk sesuatu yang kurang penting. Promosi memang penting, tetapi mestinya harus mengacu pada pencapaian target-target yang terukur. Selama ini tidak begitu. Tiap tahun berkunjung ke Eropa tapi tidak pernah jelas apa hasilnya. Asita pun tidak dilibatkan.

Biar Sedekat Jakarta tapi Keren ke Malaysia

Melancong ke negara serumpun. Ah, apa asyiknya? Seorang kawan mengatakan itu saat mengetahui saya akan bertolak ke Malaysia (dilanjutkan ke Singapura), Jumat (5/10), mengikuti Family Trip Asita Samarinda. "Namanya saja serumpun, pasti kurang lebih sama. Mending ke Jakarta, Bandung, Jogya atau Bali, lebih murah," sarannya. 


Saya hanya tersenyum. Ya, mungkin lebih murah, namanya juga di negeri sendiri. Saya katakan, kali ini bukan pelancongan pribadi. Saya mengikuti rombongan anggota Asita Samarinda. Lagi pula, jika hanya keserumpunan dan biaya yang kurang lebih sama yang dijadikan alasan, tentu saya akan lebih memilih ke Malaysia dan Singapura.

Pasti kerenlah!  Meski waktu tempuh hanya 2,5 jam -- 20 menit lebih lama dibanding waktu tempuh Balikpapan-Jakarta, tapi ini ke luar negeri. Biar cuma ke negeri tetangga tetap saja kelihatan lebih keren ketimbang kawan yang melancong ke Jakarta. Alasan ini diamini Sugeng Prasetyo dari PT Trans Cakrawala, termasuk Irma Diansari (pemilik Borneo Kersik Luway) yang sudah bolak-balik ke Malaysia bahkan keliling dunia, dan Lydia Hendy (pimpinan Totogasono) yang acapkali membawa wisatawan ke luar negeri.

Selain mereka, dalam rombongan tampak Idham Chalid (Arum Angksa Jaya), Farida Irawan (Akasia Citranusa), Tjiang Fei Hong alias Jimmy (Nirwana), Yan Mahyudin (Bam Wisata), Zainal Mustofa (Gardena), Sri Agustina (Zatina Tour), Anis Herawaty (Nurani Travel), Khusnul Qotimah (Alya Nabila), dan Alex Syarifudin (Wahana Wisata Borneo).

Mendapatkan pengalaman baru, mengunjungi obyek-obyek wisata yang menarik, dengan biaya yang relatif terjangkau, umumnya jadi pertimbangan seseorang untuk melancong. Saya sendiri sudah lama ingin ke Malaysia. Terutama setiap kali membaca slogan mereka "Malaysia Trully Asia". Slogan ini pernah beberapa kali saya baca dalam bentuk iklan pariwisata di harian Kompas. Ini slogan yang cerdas. Saya benar-benar penasaran. Dengan slogan itu, Malaysia seakan-akan ingin bilang kepada warga dunia begini: Jika Anda ingin tahu Asia yang sebenarnya, tak perlu jauh-jauh, datang saja ke Malaysia.

Benarkah? Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak saya selama dalam perjalanan dengan Garuda dari Jakarta ke Kuala Lumpur (lazim disingkat KL, dibaca "Ke El"). Tiba di KL Int'l Airport (KLIA) pukul 20.00, mata kami sudah dibuat terkesan oleh megahnya bandara yang didesain arsitek Jepang, Kisho Kurokawa. Tiang-tiang baja menyilang dengan ribuan cahaya lampu. Interiornya modern dan mewah. Bandara termegah di Indonesia, Soekarno-Hatta, yang baru dua jam lalu saya tinggalkan, mendadak menjadi "kuno" di mata saya.

Oct 3, 2012

Gubernur Bilang Pangkas, Kawan Bilang Beneran???

"Benarkah berita ini, wal?" Seorang kawan lama bertanya di seberang telpon, kemarin pagi. Di tangan kirinya terbuka halaman Tribun Kaltim mengenai pernyataan Gubernur Awang Faroek Ishak yang bakal memangkas 50 persen biaya perjalanan dinas di lingkup Pemprov Kaltim.  Tentu saja iya, jawab saya. Gubernur sendiri yang menyatakan itu.
 
ACHMAD BINTORO

"Beneran neh?!" Saya tahu tidak mudah meyakinkan orang untuk percaya atas kabar semacam ini. Ini memang bukan kali pertama. Tapi kalau saya ditanya apakah pernyataan itu benar-benar akan dilaksanakan atau sekedar mencari simpati publik, untuk pencitraan jelang Pilgub Kaltim 2013, bukan kapasitas media untuk menjawab. Saya teruskan pertanyaan itu kepada gubernur langsung melalui pesan pendek tapi tidak mendapat balasan. Tidak biasanya gubernur tidak menjawab pesan saya.

Kawan itu mengaku sudah muak mendengar dan membaca pernyataan-pernyataan semacam ini yang menurutnya bukan sekali ini dilempar ke publik. Lain di bibir, lain di hati, lain pula pada tingkatan implementasi. Begitu dia menggambarkan.

Baru di tataran pernyataan saja misalnya, masih menurut kawan saya tadi, sudah kontradiksi. Pada satu sisi Awang Faroek menyatakan tekadnya untuk memangkas biaya perjalanan dinas hingga 50 persen sebagai upaya menghemat anggaran pemerintah untuk perjalanan dinas yang dianggap tidak terlalu penting. Terlebih perjalanan ke luar negeri yang tidak terlalu perlu. Namun saat yang sama, kenapa Awang Faroek justru merestui  perjalanan rame-rame rombongan pejabat ke Belanda hanya untuk ikut pameran.