KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Apr 29, 2012

Kuli Tinta Masih Malu-malu di Hari Buruh

Di mana sebenarnya posisi wartawan? Pertanyaan ini selalu muncul di benak saya setiap jelang Hari Solidaritas Buruh (May Day) 1 Mei. Masih banyak kuli tinta belum sejahtera, bukanlah cerita baru. Hidup dengan cara gali lubang tutup lubang, juga bukan isapan jempol. Tetapi, anehnya, saya tidak pernah melihat teman-teman mau bergabung dengan para buruh lain untuk bersama menyuarakan aspirasi.

ACHMAD BINTORO

PARA wartawan seperti menjaga jarak dan lebih antusias hanya sebagai peliput. Jepret sana jepret sini. Puas ketika hasil bidikannya termuat dan menjadi foto master di halaman depan koran mereka. Intip pula tulisan mereka esok hari, saya yakin tidak akan satu pun yang mau menyentuh kehidupan mereka sendiri. Narasumber sengaja dipilih dari buruh di pabrik, pekerja di pelabuhan atau para kuli bangunan yang bisa dengan mudah dieksplorasi untuk menguras keharuan pembaca.

"Masak kami harus tulis diri kami sendiri? Jeruk makan jeruk dong," kilah seorang wartawan yang sudah empat tahun bekerja di sebuah harian di Kaltim dalam obrolan di warung kopi Hainan di Citra Niaga Samarinda, Minggu (29/4). 

Dalam kondisi seperti ini, wartawan tiba-tiba menjadi orang yang pemalu. Seakan-akan sebuah aib membuka dapur sendiri. "Akan lebih mudah bagi kami meliput persoalan buruh kalau para buruh itu tidak tahu bahwa gaji kami sebenarnya tidak jauh beda dengan mereka."

Apr 22, 2012

Nak, Berat Nian Tasmu!

ACHMAD BINTORO

Selalu timbul rasa iba setiap pagi saya melihat dua putri saya berangkat sekolah, dengan beban berat di punggungnya. "Nak, tak bisakah buku itu dikurangi? Bawa saja yang perlu dan yang akan diajarkan hari ini saja," kata saya suatu pagi, kepada anak kedua. Dia berjalan nyaris terbongkok menahan tas di punggungnya, menghampiri kami, lalu mencium tangan saya, umi, mbah, ami, kakak dan adiknya. 

"Gak bisa lagi, aba. Semua perlu, isi tas memang hanya buku-buku yang akan diajarkan hari ini," jawabnya. 

Dia bahkan tidak berani meski mengurangi cuma satu buku. Saya pernah iseng meletakkan tas itu di atas alat timbang badan. Astaga! Hampir 6 kilogram. Isinya memang hanya buku (paket, catatan, pekerjaan rumah dan buku lainnya) yang akan diajarkan pada hari itu: enam mata pelajaran! Suatu ketika tas itu tak mampu lagi menampung dua bukunya. Apa boleh buat, dia relakan botol minuman ditinggal meski itu kemudian membuatnya didera rasa haus. 

"Betul kan, aba. Tak ada batu," ucapnya mencoba meyakinkan saya. Terkadang saya meledeknya dengan mengatakan: jangan-jangan tas itu berat karena sebagian berisi batu. 

Dia biasa berjalan kaki menuju sekolah. SDIT Cordova berjarak hanya sekitar 500 meter. Pagi ini, Senin (23/4), setelah satu pekan libur, dia akan kembali melakukan rutinitas itu. Sesekali dia masih berusaha membetulkan posisi tasnya agar bisa lebih nyaman dibawa berjalan. Saya biasa mengantar sampai batas pekarangan rumah dengan pandangan haru dan rasa berkecamuk.  

Sebagai orang awam, kadang saya agak sulit mengerti dengan cara berpikir para elite dan orang- orang pinter yang menangani pendidikan di negeri ini. Zaman sudah modern, tapi sistem pendidikan belum juga memberi ruang dan waktu kepada para guru untuk mendidik tiap anak didiknya agar memiliki rasa percaya diri, spirit yang tinggi, toleran, dan kreatif. Sebuah sistem yang tidak memisahkan mind, body dan soul

 Lihatlah, setiap hari anak didik dijejali dengan begitu banyak mata pelajaran. Para guru pun seperti tidak mau tahu dengan beban berat yang ditanggung anak didik mereka yang harus menghapal ini, menghapal itu, dengan dalih untuk mencapai target kurikulum. Sekolah jadinya lebih mementingkan pengembangan kecerdasan mekanis ketimbang kecerdasan kreatif. 

Atas nama target itu pula, guru kadang tak lagi memiliki waktu sekedar untuk mencari tahu kesulitan apa yang mungkin dialami setiap anak didiknya. Kemampuan menyerap pelajaran disamaratakan. Karakteristik individu, dan kelebihan tertentu yang ada pada setiap anak didik dan mungkin masih tersembunyi, menjadi tidak terlalu penting. Belum lagi anak didik sempat mencerna apa yang baru diajarkan, sudah menunggu sederet pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan dikumpul esok pagi. 

Sistem pendidikan tanpa kita sadari telah menciptakan suasana mekanis, suasana yang menegangkan, ketakutan, tekanan, kecemasan bahkan rasa minder pada anak didik. Beruntung sekolah tempat anak saya belajar tidak seperti itu. Kasih sayang mereka yang tulus pada setiap anak didik tanpa terkecuali, telah menumbuhkan jalinan emosi yang kuat antara murid dan guru. Guru menjadi sosok yang disayangi seluruh murid, bukan yang ditakuti. Boleh jadi ini karena penanaman nilai-nilai moral dan keteladanan yang dilakukan sejak dini. 

Tetapi toh ini tetap tidak akan mampu menjamin semua guru akan mampu berlaku sebagai sosok ideal dan inspiratif bagi para anak didiknya. Barangkali masih banyak guru yang tidak lagi sempat merenungkan apakah metode yang mereka ajarkan sudah tepat dan mampu merangsang minat serta keberanian anak didik. Di mata guru seperti ini, muridlah yang bodoh kalau dapat nilai jeblok. Guru menjadi mahluk istimewa tanpa cacat. Tidak bisa disalahkan meski motode pengajaran bahasa Inggris misalnya yang mereka terapkan selama bertahun-tahun di sekolah dasar hingga menengah, tetap tidak mampu membuat banyak anak didik menjadi cas cis cus berbahasa Inggris. 

Kalau pun ada anak yang menjadi cakap berbahasa Inggris, itu lebih karena mengikuti les privat atau bimbingan belajar di tempat-tempat kursus. Pendek kata, lembaga-lembaga kursus kini menjadi tumpuan harapan para orang tua agar anak-anak mereka bisa menguasai bahasa Inggris, matematika, Fisika, IPA dan IPS. Ingin nilai pelajaran bagus, ayo ke bimbel. Ingin lulus UN dan lolos PTN, ayo ke bimbel. 

Harapan tinggi dan adanya kelemahan dalam sistem pendidikan inilah yang ditangkap dengan cerdik oleh Purdi E Chandra dengan mengembangkan sayap bisnisnya lewat jaringan waralaba Primagama di seluruh Nusantara. Tidak mengherankan kalau lembaga-lembaga bimbel yang menjamur di kota ini pun tidak pernah sepi, dan membuat para pemiliknya semakin kaya. 

Saya bukan ahli pendidikan. Saya juga bukan guru. Tetapi saya pikir selama sistem pendidikan masih seperti ini, mengedepankan hapalan, masih lebih menghargai kecerdasan mekanisme, dan menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai faktor penentu - kendati kini bukan satu-satunya - kelulusan siswa, maka selama itu pula akan ada pergeseran tumpuan harapan dari ruang sekolah ke ruang bimbel. 

Sistem pendidikan mestinya tidak perlu sampai membuat anak menjadi patah arang seperti pernah dialami Melati Murti Pertiwi. Di kelas, siswa SMAN 6 Jakarta ini tergolong anak cerdas. Ia selalu masuk lima besar, dan 10 besar di sekolah yang kelas 3-nya ada 10 ini. Karena prestasinya, dia lantas ditawari beasiswa dari perguruan tinggi di Australia dan Jerman. Hebatnya, dia berhasil lulus di program studi Psikologi di dua universitas ternama di dua negara itu. 

Kebanggaan itu tak berlangsung lama. UN diumumkan. Melati ternyata tidak lulus. Dunia tiba-tiba menjadi gelap ia rasakan. Sekujur tubuhnya lemas. Impian untuk sekolah di Jerman dan Australia mendadak sirna. UN menjadi syarat siswa melanjutkan ke perguruan tinggi. Materi UN saat itu hanya tiga mata pelajaran. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Bahasa Inggris ia mendapat nilai 8,20. Bahasa Indonesia 7,40. Tetapi, Matematika hanya mendapat 3,33. Standar kelulusan 4,26. 

"Kalau begini jadinya, untuk apa sekolah tiga tahun hanya terganjal tiga mata pelajaran. Rasanya sulit mencari keadilan dengan sistem pendidikan yang berlaku sekarang,'' sergah Melati dengan nada kesal. Melati dan siswa bernasib sama mengunjungi Komnas Perlindungan Anak, Komnas HAM, Lembaga Bantuan Hukum, dan Depdiknas. 

Para guru sendiri sepertinya tidak yakin bahwa jumlah jam belajar mengajar yang dialokasikan di sekolah akan cukup untuk membuat anak didik mereka menjadi paham dan dapat menyelesaikan soal-soal UN. Tidak ingin anak didik mereka pupus harapannya seperti Melati dan murid lain hanya karena UN, maka dibuatlah program bimbel (jam tambahan belajar) di luar jam sekolah layaknya bimbel yang ada di lembaga-lembaga kursus di luar sekolah. 

Sungguh, saya, anak-anak saya, dan mungkin para orang tua yang masih menginginkan anak mereka menjadi anak yang kreatif dan berkarakter, merindukan sebuah sistem pendidikan yang lebih baik. Bukan sistem pendidikan yang coba-coba. Masak untuk anak didik kok coba-coba. Haruskah kita belajar dari Finlandia? (*)