KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jun 8, 2014

Bangun Dulu, Mangkrak Kemudian

Empat tahun setelah Stadion Utama Palaran, Samarinda menjadi saksi tempat kemeriahan upacara pembukaan PON XVII-2008,  The Economist menurunkan laporan berjudul: "Power to the people! No, wait ..."

The Economist adalah majalah  -- produk cetaknya dalam bentuk majalah di kertas mengkilap, meski selalu menyebut dirinya sebagai surat kabar -- berpengaruh yang berbasis di Inggris dengan tiras 1,4 juta eksemplar di seluruh dunia. Tak ada perpustakaan besar di Indonesia, dan hampir tidak seorang pun ekonom, para kepala negara, para pengambil kebijakan nasional, atau "think thank" di Jakarta, yang tak melangganinya.

Majalah yang dewan redaksinya disesaki wartawan bergelar doktor itu menyatakan,  desentralisasi mengakibatkan pemborosan dana publik yang luar biasa. Ia menyebut Stadion Palaran sebagai salah satu contoh. Ada kebanggan yang membuncah dari warga Kaltim, juga gubernur, saat ribuan kembang api terlontar di udara dan menerangi langit di atas Palaran yang selama ini gulita. 

Tetapi, mengingat peristiwa olahraga yang jarang sekali terjadi di daerah ini, pembangunan stadion empat tingkat berkapasitas 50 ribu penonton pada lahan seluas 46 hektare, di tengah rakyat yang masih terbelakang dan terbelit kemiskinan itu, menurutnya, merupakan wujud proyek mercusuar yang mubazir.

"The governor himself takes pride in it. But a pitchside inspection tells a sadder story. A weary groundsman is attacking knee-high weeds with a flymo under the hot sun," tulis The Economist.

Pemprov Kaltim, tambahnya, harus merogoh dana Rp 5 triliun lebih untuk membayar kebanggaan tersebut. Sayangnya, kemampuan pemprov membangun stadion megah itu tak diikuti dengan kemampuan untuk memanfaatkannya secara maksimal.  Terakhir kali  pertandingan sepak bola besar dimainkan di sini pada Mei 2010.