KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Aug 12, 2013

Logika Terbalik Open House

Dua puluh menit sebelum pintu dibuka, Kamis (8/8), Sutarman, 41, sudah tiba di Lamin Etam. Ia berada di antara belasan orang yang pagi itu juga tengah menunggu pintu dibuka, tanda open house Gubernur Kaltim dimulai.

Tarman tak mengenal mereka. Kalau melihat penampilan mereka: berwibawa, berpakaian rapi dan terbuat dari bahan berkelas, mobil-mobil pengantar yang mewah dan kinclong, yakinlah dia bahwa orang-orang itu adalah para tokoh masyarakat dan pejabat penting di provinsi ini.

Tarman hanya seorang tukang kayu. Karena orderan sepi dia kini lebih banyak menjadi tukang ojek agar dapur di rumah tetap mengebul. Di daerah yang pernah menjadi pengekspor kayu terbesar ini, harga kayu ternyata makin mahal. Karena alasan lebih ekonomis, orang Samarinda kini lebih banyak memilih bahan alumunium untuk rangka atap mereka, sehingga kebutuhan tukang kayu pun berkurang drastis. Pekerjaan terakhir ini sudah ia lakoni sejak dua tahun lalu.

Dia sengaja memacu kendaraan dari rumahnya di Palaran sekedar ingin melihat wajah gubernur dari dekat. Sudah lima tahun gubernur memimpin, namun belum pernah sekali pun dia melihatnya secara langsung. Belakangan dia kerap melihat wajah sang gubernur (bersama Mukmin Faisyal) di banyak baliho dan poster di sudut-sudut jalan dan pusat keramaian kota.

"Saya dengar hari ini Pak Gub gelar open house," katanya memberi alasan maksud kedatangannya. Mau minta maap kepada Gubernur? "Oh tidak!" sergahnya. "Wong saya tidak punya salah apa-apa kok sama beliau. Justru sebenarnya beliaulah yang harus minta maap kepada kami, rakyat kecil, yang sudah bertahun-tahun ini merasakan debu dan becek akibat jalan rusak di Palaran yang tak kunjung selesai (diperbaiki)."