KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 26, 2012

Menakar Peluang di Legislatif Review

Ini bukan kiamat. Tenanglah, masih ada peluang melalui lobi-lobi intensif ke pemerintah dan legislatif. Demikian sebagian orang menyikapi kekalahan Kaltim di Mahkamah Konstitusi dalam menuntut dana bagi hasil (DBH) migas lebih besar melalui Judicial Review UU No 33/2004. Tapi kalau benar masih ada peluang, seberapa besar sih peluang Kaltim sekarang? Ah, jangan- jangan ini cuma sekedar menghibur diri. Harapan yang sebenarnya kita sudah tahu sangat tipis, kalau tidak mau dibilang hampa.

ACHMAD BINTORO

KEKALAHAN di MK sekaligus menutup rapat perjuangan lewat jalur hukum. Kaltim kini harus mencari jalur lain apabila masih ingin mendapatkan prosentase DBH migas lebih besar dari yang selama ini diterima: 15,5 persen minyak dan 30,5 persen gas. Satu-satunya jalur yang masih terbuka hanyalah lobi. Inilah jalur klasik yang sejatinya sudah pernah dilakoni pejabat dan elite politik Kaltim yang ternyata lebih banyak membikin frustasi saja. 

Kita mungkin lupa bahwa kita pernah berkomitmen untuk tidak lagi menempuh pendekatan macam ini saat kita mulai mencanangkan tekad menggugat pemerintah pusat di MK. Kita sudah kritik habis- habisan cara-cara lobi selama ini yang tidak jelas ujung pangkalnya, yang hanya membuang energi dan dana tak sedikit. Bertahun-tahun kita menjalin dan menjaga hubungan dengan sejumlah pejabat berwenang di Depkeu, Depdagri, Departemen ESDM, Kepresidenan, hingga wakil rakyat di DPR RI dan sejumlah petinggi partai, toh tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Sep 20, 2012

Akhirnya Kandas di Meja Hakim


Selama ini saya memiliki persepsi yang positip terhadap hampir setiap putusan hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut saya, putusan-putusan mereka cukup obyektif dan berani, sehingga kadang terkesan melawan arus. Selaras dengan sosok Mahfud MD, Ketua MK, yang low profile, cerdas dan cenderung apa adanya.


ACHMAD BINTORO

PENDEK kata, hakim MK tidak bisa diintervensi, sekalipun oleh tangan-tangan kekuasaan. Mereka sangat jauh dari kooptasi politik. Karena itu ketika Kaltim akhirnya memutuskan melakukan uji materi terhadap masalah persentase dana bagi hasil (DBH) migas yang diatur dalam Pasal 14 ayat e dan f UU No 33/2004, saya -- dan mungkin banyak pula pemangku kepentingan lain di Kaltim -- termasuk yang berharap besar akan lahirnya keadilan. Sesuatu yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah bisa terwujud melalui jalur-jalur lobi.

Tapi begitu melihat amar putusan hakim MK, Rabu (12/9/2012) kemarin, persepsi itu seketika retak. Saya menjadi ragu dengan kesan tentang hakim-hakim MK yang sudah terlanjur terbangun sangat apik di benak saya. Tragis! Keinginan Kaltim untuk mendapat keadilan atas dana bagi hasil migas yang lebih besar akhirnya kandas.

Sep 19, 2012

Palu, I Love You

Saya benar-benar gandrung pada kota ini. Bahkan itu sudah saya rasakan sejak kali pertama menginjakkan kaki di kota ini tahun 1996 silam. Padahal, Palu -- meski merupakan ibukota provinsi -- hanyalah sebuah kota kecil. Itu pun gersang dan berdebu. 

ACHMAD BINTORO

Foto Bareng Bersama Keluarga
Dari atas -- saat pesawat bersiap landing di Bandara Mutiara, Palu terlihat seperti lembah tandus yang dikelilingi oleh pegunungan yang juga tak lagi hijau. Penilaian ini mungkin terlalu subyektif dan kurang tepat. Karena itu saya sengaja menyelipkan kata "seperti" di depan kata "tandus". 

Kesan tandus saya tangkap sekilas dari warna lahan yang umumnya putih keabu-abuan. Ini warna batu kali dan pasir. Batu kali, kerikil dan pasir sangat mudah ditemukan di sini. Terutama di sepanjang Sungai Palu pada saat kering. Palu memang sudah lama dikenal memiliki sirtukil kualitas satu.