KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jun 14, 2011

Berharap Muncul "Laskar Pelangi" di Kaltim

SELAMAT Datang di Negeri Laskar Pelangi". Saya membaca tulisan besar itu setahun silam, saat kaki menginjak Bandara AS Hanandjoeddin di Tanjung Pandan, Provinsi Bangka Belitung. Sebuah gambar yang sangat saya kenal, sampul novel tretalogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, menjadi latar tulisan itu.

Tanjung Pandan adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota kabupaten Belitung. Andrea Hirata bercerita banyak mengenai Belitung, lebih khusus Desa Linggang. Sebuah desa yang semula nyaris tidak dikenal orang dan turis. Namun sejak booming novel Laskar Pelangi, keadaannya berbalik 180 derajat. Wisatawan berbondong-bondong mendatangi desa tersebut.

Syafruddin Pernyata, Kepala Badan Perpustakaan Kaltim, termasuk satu dari sekian juta orang yang sangat terkesan dengan novel itu. "Kapan ya bisa muncul penulis-penulis dari Kaltim, berbicara soal Kaltim, lalu meledak seperti Laskar Pelangi hingga membuat Kaltim lebih dikenal di penjuru tanah air bahkan dunia?"

Dalam sebuah diskusi Buku Kaltim yang digelar Pustaka Spirit dan Badan Perpustakaan Kaltim di Samarinda, Kamis (19/5), ia menyampaikan harapannya akan muncul penulis-penulis semacam itu. Diskusi menghadirkan tiga pembicara/penulis buku. Syafruddin Pernyata dengan "Antologi Cerpenis Kaltim" (bersama Mira Nurhayati dan alm Riatri Lestari Soemariyono). Djahar Muzakar, dosen di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta dan Bogor, dengan "Jejak Kebesaran Maharaja Mulawarwan - Sebuah Perspektif Baru", dan saya dengan buku "Kaltim Milik Siapa?".

Harapan itu pula yang menghinggapi Sudarsono, pimpinan Pustaka Spirit yang menerbitkan ketiga buku itu, dan kami semua yang hadir dalam diskusi. Kami percaya dengan kekuatan tulisan. Dan kami memimpikan suatu ketika akan muncul tulisan inspiratif yang berkisah mengenai sebuah desa kecil di pedalaman Kaltim. Penulisnya bisa siapa saja. Tidak harus oleh seseorang yang menjadikan tulisan sebagai pekerjaannya.
 
Bisa saja ditulis oleh seorang guru macam Indahpuri. Indahpuri toh sudah mampu membuat novel "Antara Dua Cinta" yang berkisah tentang pengalaman hidupnya saat menjadi guru di sebuah desa kecil bernama Rikong di pedalaman Kutai Barat. Bisa pula oleh Anastasia, dan semua yang memiliki keinginan untuk menulis. Andrea Hirata sebelumnya bukan seorang novelis. Ia sehari-hari pegawai PT Telkom di Jakarta. Tapi ia mampu membuat novel best seller yang kini sudah dialihbahasakan dalam 15 bahasa dunia.
 
Siapa tahu, entah kapan, kita bisa dengan bangga pula memasang papan tulisan besar-besar "Selamat Datang di Bumi Rikong" misalnya, di area kedatangan Bandara Sepinggan Balikpapan. Hingga orang berbondong-bondong mengunjungi desa tersebut. Sudarsono, menyatakan kesiapannya menerbitkan tulisan dari siapa pun yang bercerita tentang Kaltim.
Acapkali buku-buku best seller justru ditulis oleh seseorang yang bukan berprofesi sebagai penulis. Djahar Muzakar dan Store Manager Gramedia Samarinda Antonius Eko Nugroho membenarkan hal itu. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah buku yang meledak ternyata sebelumnya tidak pernah memiliki pengalaman panjang sebagai penulis. Ia bisa seorang guru, dokter, entreprenuer, peneliti, dan profesi lainnya.
 
Diskusi yang mengalir santai dan hidup kemarin dihadiri sekitar 100 orang yang semuanya pecinta buku. Bahkan beberapa adalah penulis-penulis yang sudah punya nama seperti Korrie Layun Rumpun. Koriie sudah menulis lebih dari 300 buku. Ia juga mengoleksi 25.000 buku. Buku-buku itu masih ia simpan di empat rumahnya di Jakarta. Di rumahnya yang lain, di Sendawar, ia menyimpan 10.000 buku.
 
Hadir pula seniman seperti Syafril Teha Noer (Wapemred Kaltim Post), Abdul Rachim Hasibuan, Habolhasan Asyari, Misman, Ansyarulloh (Lurah Karang Anyar Samarinda), Herman Salam (Kepala Sekolah SMP), Jayadi (penulis, penerbit, staf Humas Pemprov), dan para pecinta buku dari sejumlah komunitas Taman Baca Masyarakat di Kaltim.(bintoro)