KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 23, 2009

Seorang 'Rasul' di Priok dan Kiamat 2012

Dia tak punya jemaah. Berdakwah lewat blog, kini diburu polisi Tanjung Priok.

DI Facebook, seorang anak muda nekad menyebut dirinya rasul Tuhan. Siapa membacanya mungkin berpikir dia gila. Tetapi bagi Sakti Alexander Sihite, warga Tanjung Priok itu, nubuatnya sebagai rasul kian kuat, justru karena dia ditolak. Bukankah para nabi awalnya kerap dihujat?

Dia menembus jalur maya, dan ribuan orang menjenguk profilnya di Facebook. Di sana, tak ada pujian kecuali caci maki. Pada mulanya dia muncul di sebuah blog, dengan header hijau cerah tertulis: "Sakti A Sihite, Manusia biasa yang dijadikan Tuhan sebagai utusan-Nya". Ada alamat email, dan nomor telepon genggam. Dia begitu percaya diri.

Mengaku besar dalam tradisi Islam, sang `rasul' menolak tradisi khitan. Dia menegaskan dirinya rasul, bukan nabi. Itu sebabnya dia yakin tak melawan keyakinan Islam bahwa Muhammad adalah nabi terakhir, atau khataman nabiyyin. Selain Qur'an, dia membaca semua kitab suci. Dia menolak sumber lain, termasuk hadith, yang menurutnya "banyak dipalsukan".

Kritiknya atas tradisi agama seperti sebuah gumam. Tampak Sihite kecewa pada angkara umat beragama. Dia, misalnya, menyebut Allah dengan "Tuhan", karena tak ingin sengketa soal kata itu hanya memantik perseteruan berdarah antar umat.

Barangkali dia berangkat dengan kekecewaan. Seperti ditulisnya, dia membenci umat yang terbelah karena mazhab, atau perbedaan pikiran. Baginya, Tuhan itu satu, dan dia ingin Zat Maha Kuasa itu menjadi milik semua.

Atau dia juga gusar karena agama, yang harusnya membawa kebahagiaan, justru memberi banyak soal bagi manusia. Di Malaysia, misalnya, segepok kitab Injil ditolak masuk ke negeri itu karena memakai kata "Allah'. Kata itu, ujar penguasa setempat, sudah lebih dulu milik kaum Muslim. Di Bosnia, umat Muslim diburu dengan kebuasan tak terbayangkan. Tak kurang, di negeri ini kita mengingat kisah sedih Ahmadiyah. Para jamaahnya harus meninggalkan masjid tempat mereka bersujud kepada Tuhan.

Perang atas nama agama meletus sejak berabad-abad silam, tapi amis darahnya terus merambat sampai zaman ini. Semuanya yakin Tuhan "Yang Maha Pengasih" berada di pihak mereka. Tapi Sihite toh bukan `rasul' dengan mukjizat. Dia tak punya apa-apa. Dia tak bisa apa-apa meredam angkara berabad-abad itu. Dia cuma bisa memberi tanda seru: sebaiknya kaum beragama kembali inti ajaran Tuhan, pada kitab masing-masing.

Dia juga tak mengguncang, misalkan, seperti ramalan kiamat pada 2012 itu. Anda yang telah menyaksikan dahsyatnya kehancuran, seperti tergambar pada kehebohan film 2012 di sejumlah bioskop itu, mungkin akan kehilangan nafsu mengejar apa pun di dunia.

Kiamat? Ini kelebihan Sihite. Dia tak risau tentang akhir zaman, yang bagi sebagian orang adalah mimpi buruk. "Waktu persis kiamat adalah rahasia Tuhan," ujar sang `rasul' melalui telepon genggam. Keyakinan akhir zaman segera tiba, juga membakar perang berlarut-larut antara Yahudi, Kristen dan Islam. Semua ingin segera tuntas sebelum bumi digulung, dan langit runtuh, seperti disitir Lawrence E Joseph dalam buku Apocalypse 2012.

Tapi, Sihite serius. Anak muda bermuka tirus dan keras itu, memilih berhenti bekerja demi `berdakwah' di blognya. Dia sarjana hukum, dan sempat menjadi staf bagian legal di satu perusahaan penerbangan. "Saya berhenti, dan kini saatnya saya menyampaikan ajaran Tuhan", ujarnya.

`Kerasulan'nya datang, seperti diakui Sihite, dari mimpi. Dia mengalami hal mistis sejak dua tahun silam. Puncaknya, pada 1 Ramadan dua tahun lalu, Sihite melihat ruh Tuhan. Dia, seperti diakui Sihite, berupa cahaya atau energi hijau, dan datang "memenuhi rongga dada saya," tulisnya di blog, dengan tajuk "Pertanyaan Seputar Kerasulan". Sang `rasul' menulisnya dalam bentuk FAQ (frequenly asked questions).

Induksi energi itu, kata Sihite, seperti membakar jantungnya. Lalu, ada suara, sayup tapi terang dan berulang-ulang, "engkau adalah rasulullah, engkau adalah rasulullah.". Tiga pekan kemudian, Sihite menyatakan dirinya sebagai rasul.

Sihite tak berapi-api, dan mungkin juga harus lebih senyap kelak. Majelis Ulama Indonesia akan menyelidiki kegiatannya, seperti diungkap Ketua MUI Ma'ruf Amin: "Jika meresahkan, Sihite bisa diseret ke pengadilan".

Kita tak tahu bagaimana akhir kisahnya. Tak penting, apakah si `rasul' benar atau salah, karena kepercayaan kepada nabi adalah bagian dari iman.

Sebuah gumaman semestinya tak harus diredam dengan kekuatan. Sihite tak punya jemaah, atau tempat ibadah. Dia juga tak mengajak orang pindah agama. "Saya ingin orang beragama dengan benar. Jadilah Muslim yang benar, atau Nasrani yang benar," ujarnya.

Tapi, "yang-benar" itu tak gampang didiskusikan, di satu wilayah dimana pembicaraan tentang agama masih penuh sangkaan. Sihite mungkin akan dihujat lebih dalam, jika dia dinilai meresahkan. Polisi telah menyatakan akan memburu pemuda penyewa kamar di Jalan Swasembada Timur, Tanjung Priok itu. Mengaku menjadi nabi, kata polisi setempat, bisa dijerat Pasal 156 KUHP, dengan tuduhan penistaan agama.

Sesuatu "yang-benar", sepertinya harus selalu menentramkan. Sihite tak berapi-api. Dia memang tak percaya kiamat tiba tiga tahun lagi. Tapi mungkin dia harus menghadapi satu `kiamat' lain: mereka yang murka atas ucapan si `rasul'.

Sumber:
Oleh Nezar Patria Vivanews 23 November 2009

Dec 22, 2009

Komunikasi Politik Masih Tersendat

SEKITAR 40 kursi di ruang rapat lantai dua Kantor Gubernur, sebelah ruang kerja Sekprov Kaltim, sudah hampir penuh saat saya tiba. Tapi empat kursi di depan kosong. Saya dan rekan-rekan wartawan lain, korespoden, berikut pimpinan berbagai media di Kaltim masih menunggu Gubernur Awang Faroek Ishak.

ACHMAD BINTORO

Gubernur mendadak ingin bertemu para pimpinan media. Pagi itu baru satu bulan lewat tiga hari masa kepemimpinannya. Ia dilantik Mendagri pada 17 Desember 2008, seusai mengalahkan tiga rivalnya dalam dua putaran Pilgub.Tiga rival itu adalah pasangan Achmad Amins-Hadi Mulyadi, Nusyirwan Ismail-Heru Bambang, dan Jusuf SK-Luther Kombong.

Di deret kursi sebelah kiri, tempat saya duduk, Wapemred Kaltim Post Syafril Teha Noer sedang berbincang ringan dengan Kepala Biro LKBN Antara Iskandar Zulkarnaen serta Pemred Majalah Bongkar Charles Siahaan. Maturidi, Kepala Biro Tribun Kaltim di Samarinda, nimbrung bersama mereka. Di deret kursi lain terlihat TVRI Kaltim, RRI Samarinda, pimpinan harian dan tabloid lain, beberapa wartawan senior, serta para koresponden media cetak dan elektronik Jakarta.

Pukul 08.05, Gubernur akhirnya masuk ruang rapat. Satu per satu kami disalami. "Hai, Bin. Apa kabar? Lama tidak kelihatan," sapanya. Ia mengisi tempat duduk di depan, didampingi M Jauhar Effendi, Karo Humas Setprov Kaltim saat itu. Pandangannya sekilas menyapu semua kursi yang sudah terisi. Awang melebarkan lagi senyumnya. Agak mengejutkan memang. Biasanya, rekan- rekan pers paling malas untuk menghadiri undangan pagi.

"Pertemuan semacam ini saya kira sangat penting. Kalau perlu kita buat sebulan sekali agar tidak ada dusta di antara kita," kata Awang. Pertemuan atau Coffe Morning ini diawali santap bersama. Nasi kuning telah terhidang di setiap meja.
*****

AWANG menyatakan tidak ingin ada miskomunikasi, baik dengan pers maupun masyarakat. Karenanya pertemuan semacam itu menjadi penting dan ia berjanji akan menggelarnya sebulan sekali. Namun Awang juga manusia. Ia bisa saja lupa. Ia bisa pula berubah dalam menilai skala prioritas. Sehingga ketika tidak pernah ada lagi pertemuan lanjutan pada bulan-bulan berikutnya, boleh jadi itu karena faktor-faktor itu. Pertemuan tersebut menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir.

Bagi pers sebenarnya tak harus dalam forum semacam itu untuk mendapatkan informasi. Banyak cara dan kesempatan lain. Tapi acapkali keterangan yang disampaikan tidak tuntas. Sehingga tak semua gagasan pembangunan dapat dipahami secara mudah oleh masyarakat. Terlebih beberapa persoalan yang selama ini terus menjadi pertanyaan publik, dijawab hanya sepotong-potong oleh gubernur. Publik pun bingung.

Sebutlah gagasan membangun jalan tol dari Balikpapan ke Samarinda. Beberapa bulan kemudian berganti menjadi freeway. Awang tak mau lagi menggunakan istilah tol. Hingga acara peletakan batu pertama dimulainya pembangunan jalan tersebut, di Km 13 Balikpapan, 24 November 2009, Awang masih menyebut freeway. Tapi, seminggu kemudian, Kepala Dinas PU Kaltim Husinsyah menyatakan sepakat menerima usulan anggota Komisi III DPRD Kaltim untuk mengubah konsep freeway menjadi tol.

Ketua Komisi III H Syahrun mengaku ragu konsep freeway bisa diwujudkan. Kalaupun nantinya terwujud, ia khawatir masyarakat akan menilainya sebagai pembohongan publik. Satu sisi selalu digemborkan sebagai freeway sehingga masyarakat kelak tidak perlu dikenai tarif. Kenyataannya pemprov mengajak pula investor. Kalau investor dilibatkan, dengan sendirinya akan memungut tarif layaknya jalan tol.

"Nah, kalau ini kita setujui, kan kita di DPRD yang kena getahnya. Jadi, kenapa tak sekalian saja dibangun tol, tak usah lagi digemborkan sebagai freeway" kata Syahrun.

Syahrun baru periode ini duduk di DPRD Kaltim. Selama ini ia menjadi pengurus Partai Golkar. Ia juga bos dari perusahaan yang banyak menggarap proyek pemerintah terutama dibidang konstruksi, baik jalan maupun bangunan. Ketua Gapensi Kaltim ini kini sudah mempunyai sebuah mal, Plaza Mulia. Saat peresmian pembangunan freeway di Km 13 Balikpapan, 24 November 2009 lalu, ia tidak diundang oleh Pemprov. Bahkan Ketua DPRD Kaltim Mukmin Faisyal pun tidak diundang. Mukmin membenarkan bahwa dirinya tidak diundang. "Saya hanya ditelpon Pak Awang usai acara itu, intinya minta dukungan dewan. Yah, saya hanya bilang, kita lihat saja nanti," jelasnya.

Sebut pula masalah divestasi saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) pasca-pencabutan gugatan arbitrase. Banyak pertanyaan publik yang belum terjelaskan. Misalnya, kenapa gubernur tidak meneruskan gugatan arbitrase? Padahal banyak analisis meminta Kaltim lebih baik memilih opsi itu. Kalaupun damai yang dipilih, kenapa gubernur tak ngotot untuk menagih kompensasi Rp 285 miliar pada BUMI? Kenapa setelah BUMI dianggap wanprestasi, gubernur tidak kunjung bersikap secara jelas serta tegas?

Publik melihat ada perbedaan sikap yang ditunjukkan Awang Faroek terhadap divestasi PT KPC kali ini dengan ketika dia masih menjadi Bupati Kutim. Saat itu, Awang Faroek terlihat sebagai sosok pejuang yang gigih untuk masyarakat Kaltim.

"Yang saya tahu, Pak Awang itu memiliki komitmen yang kuat untuk memperjuangkan divestasi saham KPC untuk Kutim dan Kaltim. Itu terlihat sejak beliau Bupati. Apalagi jika baca bukunya, kita akan lebih tahu betapa kuatnya komitmen beliau memperjuangkan hak rakyat Kaltim lewat divestasi saham KPC," kata Isran Noor saat saya telpon akhir Pebruari silam.

Buku yang dimaksud Isran adalah sebuah buku setebal 487 halaman berjudul "Divestasi Saham KPC: Memperjuang Hak Rakyat Kalimantan Timur." Buku ini ditulis Awang Faroek ketika dia menjadi Bupati Kutim dan bersiap bertarung melawan Suwarna AF dalam Pilgub Kaltim. Buku itu dicetak kali pertama Mei 2003.

Menurut Awang Faroek, dalam bukunya, adalah pantas di daerah yang kaya sumberdaya alam, masyarakatnya juga harus hidup sejahtera. Itulah mengapa ia berjuang keras agar dalam divestasi saham KPC, Pemkab Kutim mendapat bagian yang memadai. Apalagi karena PT KPC memang beroperasi di wilayah Kutim.

Barangkali tulisan di buku tidak harus dimaknai secara sama saat berhadapan dengan kenyataan? Semestinya tidak.
*****

SEKALI lagi, ini sebuah problem komunikasi. Ada komunikasi politik yang tersendat. Komunikasi tersendat, bisa karena faktor kesibukan Kepala Biro Humas Zairin Zain (sekarang) dan Gubernur. Bisa pula karena ada sesuatu yang disembunyikan. Apa pun itu, penting dibangun sebuah komunikasi yang baik dan terbuka dengan semua pihak untuk membangkitkan interes dan partisipasi publik dalam pembangunan.

Kalau saja komunikasi terjalin baik, barangkali seorang Carolus Tuah tidak perlu bersikap sinis dalam mengapresiasi gagasan Awang Faroek. "Lihatlah Gubernur. Di mana pun dan kapan pun bicara, kalau bukan soal Maloy pasti Freeway," sindir Tuah. Tuah Direktur Pokja 30 Samarinda, sebuah LSM yang memberi perhatian terhadap masalah kebijakan publik. Dengan begitu energi gubernur dan pejabat pemprov bisa lebih fokus untuk benar-benar menyelesaikan 10 persoalan yang sudah diinventarisir di awal pemerintahan, dan tidak terkuras hanya untuk melakukan counter atau menutupi sesuatu.(*)


10 PERSOALAN KALTIM
1. Kemandirian dan kedaulatan pangan
2. Kemiskinan
3. Pengangguran
4. Keterbatasan akses dalam permodalan
5. Pelayanan publik masih buruk
6. Mutu lingkungan merosot
7. Memacu iklim investasi
8. Kualitas pendidikan
9. Layanan kesehatan
10. Pembangunan perbatasan

Dec 17, 2009

Ketika Kuli Tinta Bergaji di Bawah Kuli





Oleh Achmad Bintoro

WARTAWAN acapkali menyebut dirinya sebagai "kuli tinta". Saya tidak tahu persis kenapa ada sebutan semacam itu. Jauh sebelum saya menjadi wartawan, ungkapan itu sudah sering saya dengar. Kini sebutannya memang sedikit lebih keren, menjadi "kuli disket". Lalu bergeser lagi jadi "kuli flashdisk" bahkan ada yang menyebut "kuli laptop". Tapi toh tetap tak beranjak dari kata "kuli".

Padahal, kuli bermakna orang yang bermata pencarian sebagai pekerja kasar. Apakah ini berarti wartawan dengan sengaja mengidentikkan dirinya sebagai pekerja kasar, hanya karena sebagian waktunya mengharuskan di lapangan? Entahlah. Saat diskusi publik "Menakar Kelayakan Upah dan Profesionalisme Wartawan" di Hotel Mesra Internasional Samarinda, Sabtu (5/12) pekan lalu, saya juga tidak bisa memberi jawaban pasti.

Diskusi ini menghadirkan narasumber HR Daeng Naja (pengamat ekonomi dan hukum), Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Kaltim HS Alwy Alaydrus, Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat yang juga bos Harian Suara Merdeka Semarang Sasongko Tedjo, Kabid HI Disnakertrans Kaltim Isran Nafiah, dan saya sendiri selaku Ketua Tim Survei Upah PWI Kaltim.


Yang saya pahami, pekerjaan wartawan jauh dari bayangan seorang kuli. Tanpa bermaksud merendahkan kuli, apalagi saya juga pernah menjalani pekerjaan kuli dalam pengertian yang sebenarnya, kegiatan yang digeluti wartawan berbeda jauh dari yang digeluti para kuli angkut, kuli bangunan, dan kuli-kuli lain.


Kerja otak lebih memegang peran dalam diri seorang wartawan, sebelum ia kemudian menggunakan kaki, tangan, dan peluhnya untuk menerjemahkan hal-hal yang sudah dipikirkannya lebih dulu. Pada banyak kesempatan tatap muka dengan wartawan pemula, saya selalu katakan, Anda tidak cukup hanya dengan menyorongkan alat perekam, kemudian mengetik apa yang terekam. Anda tidak bisa bekerja mechanical begitu.


Wartawan harus bekerja cerdas. Dan itu mesti dimulai sejak melakukan serangkaian wawancara, riset, sampai ia menuliskannya. Ia harus selalu skeptis lalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang berdaya untuk mendapatkan informasi yang eksklusif.

***

Selama dua bulan terakhir ini, saya bersama tim kecil Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim menyebar kuisioner dan mewawancarai sekitar 40 wartawan media cetak, elektronik dan online terkait survei upah wartawan Samarinda. Survei ini untuk mengetahui besaran upah yang diterima wartawan, sekaligus komponen kebutuhan minimal mereka. Target responden adalah lajang, bekerja kurang dari dua tahun, dan sudah menjadi karyawan tetap. Tim juga memantau biaya hidup wartawan berdasar pergerakan indeks harga konsumen (IHK) dan kebiasaan konsumsi mereka.

Hasilnya, 80 persen responden menerima upah pada rentang Rp 401.000-700.000. Bahkan ada yang bergaji hanya Rp 200 ribu. Beberapa responden lain mengaku tidak menerima upah sepeser pun dari media tempatnya bekerja. Institusi medianya hanya memberikan surat tugas atau kartu pers yang menandakan bahwa yang bersangkutan adalah wartawan.


Sekarang kita lihat upah di sektor lain. Upah Minimum Provinsi (UMP) Kaltim 2010 baru saja diumumkan sebesar Rp 1.002.000. Upah kuli bangunan, rata-rata Rp 60.000 per hari. Dikurangi libur setiap pekan, maka seorang kuli bangunan bisa mendapatkan upah Rp 1.560.000 per bulan. Artinya, upah wartawan di Kaltim, khususnya Samarinda, sebagian besar masih jauh di bawah upah kuli bangunan.


Hasil survei ini memang tidak mengejutkan. Hampir semua wartawan mafhum dengan fakta ini. Tapi mereka enjoy saja. Sebanyak 95 persen responden malah mengakui mencintai pekerjaannya. Alasannya beragam. Mulai dari panggilan nurani, minat, bakat, tambah wawasan, hingga karena merasa sesuai latar pendidikan. Alasan-alasan ini pula barangkali yang membuat wartawan terkesan pasrah menerima keadaan, meski upah yang ia terima hanya Rp 200 ribu.

Ketua Umum PWI Pusat Margiono mengatakan, kalau ada wartawan yang diam saja menerima upah Rp 200 ribu, itu berarti wartawan bodoh, tidak profesional. "Kalau dia profesional, tidak mungkin dia mau digaji segitu. Dia pasti akan pindah cari media yang mau berikan gaji tinggi. Itu hanya wartawan yang bodoh dan tidak profesional saja, sehingga dia tidak memiliki posisi tawar tinggi," katanya.@


photo credit by journalist.com


Upah Layak Wartawan Samarinda

"Kenapa bisa sebesar itu?", tanya anggota Dewan Pengupahan Kota Samarinda Ahmad Syaukani saat saya kemukakan hasil survei upah layak wartawan Samarinda. Hasil survei PWI Kaltim itu menyebut upah layak minimal bagi wartawan lajang di Samarinda adalah Rp 3,7 juta. Tepatnya Rp 3.743.497.

ACHMAD BINTORO

Angka itu, tentu saja, sangat jauh di atas angka kebutuhan hidup layak para buruh atau pekerja umum yang dibahasnya. Selama ini Dewan Pengupahan memang rutin pula menggelar survei kebutuhan hidup layak pekerja. Ia mengacu pada Permenaker No 17MEN/VIII//2005. Hasil survei lalu dijadikan bahan untuk menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP), setelah dikawinkan dengan faktor eksternal seperti kemampuan pengusaha dan inflasi.

UMP Kaltim tahun 2010 hanya Rp 1.002.000. Jadi, bisa dipahami kalau Ahmad Syaukani kontan bertanya kenapa upah layak minimum bagi wartawan segedhe itu. Faktor apa yang membuat wartawan perlu mendapat upah hampir empat lipat UMP. Ketua Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Kaltim Taufan Tirkaamiana, dan pengamat hukum perburuhan Abdul Khakim yang di sebelahnya, juga penasaran. Dahi keduanya berkerut.

Acuan tim survei PWI sebenarnya sama dengan yang digunakan oleh Dewan Pengupahan ketika menyurvei pekerja, yakni Permenaker No 17/2005. Hanya saja, untuk wartawan, ada tambahan beberapa komponen. Sehingga kebutuhan dasar wartawan yang dicatat mencapai 57 komponen. Dewan Pengupahan hanya 46 komponen.

Komponen itu terbagi enam bidang kebutuhan. Yakni pangan, sandang, papan (tempat tinggal), alat kerja, tabungan/asuransi, dan kebutuhan lain. Pada kebutuhan sarana transportasi misalnya, ukurannya bukan dengan tarif angkot pulang pergi. Sebab faktanya tidak ada lagi wartawan yang naik angkot dalam menjalankan pekerjaannya. Melainkan menggunakan sepeda motor, sebuah alat transportasi favorit wartawan.

Tim juga memasukkan komponen kebutuhan komunikasi (ponsel berikut pulsanya), kebutuhan alat kerja (laptop, modem, pulsa internet), serta kebutuhan tabungan dan asuransi. Termasuk pula kebutuhan membeli buku/majalah dan membayar angsuran rumah tipe 21. Sedang untuk pangan, kebutuhannya relatif sama antara wartawan dan pekerja lain.

"Kebutuhan dasar wartawan dan pekerja lain seperti buruh pabrik plywood misalnya, jelas tidak sama. Wartawan perlu alat kerja khusus, perlu alat transportasi untuk menunjang mobilitasnya, dan komponen kebutuhan lainnya. Jadi kalau acuannya hanya UMP 2010, responden nyatakan itu belum cukup," kata saya kepada mereka bertiga. Mereka akhirnya memahami dan memaklumi itu terlebih dengan resiko-resiko yang dihadapi wartawan.

Upah Rp 3,7 juta merupakan upah layak wartawan kedua terbesar di Tanah Air. Tertinggi adalah upah layak wartawan Jakarta yang dirilis oleh AJI Jakarta, sebesar Rp 4,5 juta. Ketua Umum SPS (Serikat Penerbit Suratkabar) Dahlan Iskan malah merilis angka lebih tinggi. Menurut CEO Jawa Pos itu, upah layak wartawan minimal lima kali UMP. Artinya, kalau UMP Kaltim 1 juta, maka, wartawan mestinya bergaji minimal Rp 5 juta.

Tetapi masalahnya tidak semua perusahaan pers mampu menggaji wartawannya sebesar itu. Juga tidak banyak wartawan yang pantas mendapatkan upah sebesar itu karena kemampuannya belum baik. Posisi tawar mereka rendah.

"Saya setuju sekali dengan besaran upah layak itu. Tapi karena banyak yang belum profesional ya mari kita tingkatkan dulu kualitas wartawan. Kalau kualitasnya baik, posisi tawarnya pasti tinggi. Saya kira masih banyak tempat bagi wartawan yang profesional di media yang profesional," kata Sasongko Tedjo, Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, yang juga bos harian Suara Merdeka Semarang.

Jadi upah layak minimum bagi wartawan Kaltim sebesar Rp 3,7 juta adalah untuk wartawan yang profesional. Wartawan profesional adalah wartawan yang memiliki kemampuan teknis, etik dan bekerja dengan berpegang pada Kode Etik Jurnalistik. Apakah Anda termasuk dalam kategori ini? Atau jangan-jangan Anda tak pernah membaca Kode Etik Jurnalistik? Hah, hare gini...@
SURVEI KOMPONEN KEBUTUHAN HIDUP LAYAK
UNTUK WARTAWAN SAMARINDA TAHUN 2009
No Komponen Kuantitas (kua) Jumlah Satuan Harga Satuan Nilai Sebulan
Kriteria Kebutuh (Rp) (Rp)
I PANGAN
1. Beras 10.00 Kg 6.500 65.000
2. Sumber Protein: 
    a. Daging Sedang 0.75 Kg 70.000 52.500
    b. ikan Segar Sedang 1.20 Kg 18.000 21.600
    c. Telur Ayam Baik 1.00 Piring 34.000 34.000
3. Kacang2-an: Tempe/Tahu Baik 15.00 Potong 2.000 30.000
4. Susu Bubuk Sedang 0.90 Kg 54.900 49.410
5. Gula Pasir Sedang 3.00 Kg 10.950 32.850
6. Minyak Goreng Kemasan 2.00 Lt 12.500 25.000
7. Sayuran Baik 7.20 Kg 6.000 43.200
8. Buah2-an (setara psg/pepaya) Sedang 7.50 Kg 8.050 60.375
9. Teh atau Celup 1.00 Dus isi 25 4.150 4.150
    Kopi Sachet 4.00 75 Gram 3.750 15.000
10. Karbohidrat lain (setara tep terigu) Sedang 3.00 Kg 11.550 34.650
11. Minuman selama liputan Kemasan 13.00 Kaleng 1.350 37.800
12. Bumbu-bumbuan (nilai 1 s/d 11) 15.00 % 75.830
Jumlah 581.365
II SANDANG
12. Celana panjang/rok Katun sedang 8/12 Potong 89.000 59.333
13. Kemeja lengan pendek/blus Setara katun 8/12 Potong 64.900 43.267
14. Kaos oblong/BH Sedang 8/12 Potong 22.900 15.267
15. Sarung/kain panjang Sedang 1/12 Potong 50.000 4.166
16. Sepatu Kulit sintetis 2/12 Pasang 79.900 13.316
17. Sandal jepit Karet 2/12 Pasang 10.000 1.817
18. Sandal Kulit sintetis 1/12 Pasang 79.950 6.662
19. Handuk mandi Besar 1/12 Helai 69.900 5.825
20. Perlengkapan ibadah Sajdah/Mukena 1/12 Paket 25.000 2.083
21. Kemeja lengan panjang/blus Katun sedang 4/12 Potong 69.900 23.300
22. Sepatu kets Sedang 2/12 Pasang 144.900 24.150
Jumlah 199.186
III PAPAN
23. Sewa Kamar Sedang 1.00 1 bulan 450.000 450.000
24. Dipan/Tempat tidur No 3 polos 1 (48) Buah 475.000 9.895
25. Kasur dan bantal Busa 1 (48) Buah 280.000 5.833
26. Sprei dan Sarung Bantal Katun 2 (12) Set 150.000 25.000
27. Meja dan kursi 1 meja/4 kursi 1 (48) Set 452.900 9.435
28. Lemari Pakaian Kayu sedang 1 (48) Buah 449.000 9.354
29. Sapu ijuk/plastik 1 (12)  Buah 25.000 2.083
30. Perlengkapan makan
     a. Piring Polos 3 (12) Buah 33.800 8.450
     b. Gelas Polos 3 (12) Buah 21.900 5.475
     c. Sendok dan garpu Sedang 3 (12) Pasang 12.900 3.225
31. Ceret alumunium Ukuran 25 cm 1 (24) Buah 121.900 5.079
32. Wajan alumunium Ukuran 32 cm 1 (24) Buah 39.000 1.625
33. Panci Ukuran 32 cm 2 (12) buah 34.900 5.186
34. Sendok masak alumunium 1 (12) buah 24.900 2.075
35. Kompor gas Dua mata 1 (48) buah 250.000 5.208
36. Tabung Gas 12 Kg 1 (96) Buah 750.000 7.813
37. Ember plastik Isi 20 ltr 2 (12) buah 34.900 5.816
38. Setrika listrik Sedang 1 (24) buah 62.950 2.622
39. Listrik 450 Watt 1 buah 60.000 60.000
40. Bola lampu Energy save 6 (12) buah 23.500 11.750
41. Air bersih Standar PDAM 10 M3 1.980 19.800
42. Sabun cuci cream/deterjen 1.5 Kg 12.250 18.375
43. Kipas angin Sedang 1 (36) unit 150.000 4.166
44. Angsuran rumah sederhana  T21 1 (180) unit 45.000.000 250.000
Jumlah 928.265
IV LAINNYA
45. Bacaan
     a. Koran Lokal 30 Eks 2.000 60.000
     b. Majalah Nasional 4 Eks 24.700 98.800
     c. Buku soft cover 1 buah 85.000 85.000
     d. TV 14 Inc 1 (36) buah 475.000 13.194
     e. Radio 4 band 1 (48) buah 350.000 7.292
46. Sarana Kesehatan
     a. Pasta gigi 80 Gram 1 buah 2.950 2.950
     b. Sabun mandi 80 Gram 2 buah 2.350 2.350
     c. Shampo Produk Nas 1 100 ml 11.500 11.500
     d. Pembalut atau Isi 10 1 dus
        alat cukur 1 set 4.000 4.000
47. Obat anti nyamuk Bakar 3 Dus 3.0000 3.000
48. Potong rambut Di tkg/salon 6 (12) kali 10.000 5.000
49. Komunikasi




     a. Telepon seluler Low end 1 (36) unit 550.000 15.278
     b. Pulsa telepon Jaringan 100 Rp 150.000 150.000
50. Transportasi




     a. Sepeda Motor 110 cc 1 (36) unit 14.200.000 394.444
     b. Oli Baik 1 Kaleng 30.000 30.000
     c. BBM Premium 30 Ltr 4.500 125.000

Jumlah 1.007.808
V ALAT KERJA
51. Laptop Sedang 1 (48) unit 6.000.000 125.000
52. Modem Sedang 1 (36) unit 850.000 23.611
53. Pulsa internet Normal 200 unit 200.000 200.000
Jumlah 348.611
VI TABUNGAN DAN ASURANSI
54. Rekreasi Dalam Kota 2 kali 100.000 200.0000
55. Asuransi Jiwa Sedang 1 paket 200.000 200.000
56. Asuransi Kesehatan Sedang 1 paket  100.000 100.000
57. Tabungan
     (5% dari nilai 1 s/d 56) 178.262
Jumlah 678.262
JUMLAH TOTAL 3.743.497