KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Mar 27, 2008

Kuliah Cinta untuk Mahasiswa

GILE bener memang Pemerintah Singapura! Tak cuma perhatian terhadap masalah kebersihan, ketertiban, dan wisata, ia ternyata juga memiliki perhatian tinggi terhadap urusan warganya yang kesulitan mendapat pacar dan pasangan hidup. Sebegitu perhatiannya, sampai-sampai mendukung program Ngee Ann Polytechnic -- sebuah sekolah tinggi politeknik -- untuk mengajari mahasiswa berpacaran dan membina relasi, sebagaimana dilansir harian The Straits Times dan The Daily Telegraph, masing-masing dengan judul Love in Theory dan As Birth Rate Falls, Singapore's Shove to Love. Wow ini kali pertama saya kira ada mata kuliah tentang bagaimana menarik lawan jenis untuk mahasiswa.

Daily Telegraph, juga melaporkan, pelajaran di kursus ini diisi dengan menonton film romantis, bagaimana cara memegang tangan, dan menganalisis lagu cinta.

Selain cinta dan seksualitas, kurikulum dalam pelajaran ini juga mengenai pentingnya membentuk keluarga.
Mata Kuliahnya berjudul "Memahami Hubungan: Cinta dan Seks". Para pengajar di mata kuliah ini disediakan oleh Social Development Unit, semacam Departemen Sosial. Yakni sebuah unit di pemerintahan yang telah menikahkan 33.000 orang sejak dibentuk pada tahun 1984.

"Guru saya mengatakan, jika seorang pria memandang lebih dari lima detik, itu artinya ia agak tertarik dan sekaligus merupakan sebuah kesempatan," kata Isabel Seet (18), mahasiswi Teknik Mesin kepada harian Straits Times.


"Saya kira mahasiswa/mahasiswi akan lebih mudah mendapatkan pacar dengan pelajaran ini," kata Prakash, seorang mahasiswa yang mengatakan belum berniat pacaran, tetap fokus pada kuliah.

Tapi kasihan juga ya untuk hal-hal yang naluriah saja, Singapura agak kerepotan. Mungkin benar kata Kompas, uang ternyata bukan segalanya. Apalagi uang asal Indonesia, yang termasuk memakmurkan Singapura. Kok ya Pemerintah Singapura masih memiliki waktu dan tenaga untuk mengurusi hal-hal sepele gitu. Beda dengan di Indonesia, tenaga dan waktu aparaturnya habis untuk urusan memperkaya diri dan kroninya. Seperti pepatah di sebuah iklan rokok: Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.

Lihat beritanya di Daily Telegraph
s birth rate falls, Singapore's shove to love  

Tuesday March 25 2008 09:28 IST
 
SINGAPORE: The Singapore government is offering students lessons in seduction in an attempt to boost the city state's flagging birth rates. Students at two polytechnics can earn two credits towards their final degree by choosing the love elective. Activities include watching slushy films, holding hands and "love song analysis".

An 18-year-old mechanical engineering student, Isabel Seet, told the local Straits Times Newspaper: "My teacher said if a guy looks into my eyes for more than five seconds, it could mean that he is attracted to me and I stand a chance. It's very interesting, and if I have a boyfriend in future, I'll know how to cope with any problems we may have."

 
Besides "love and sexuality", the curriculum also deals with the importance of family life. The "trainers" are provided by the Social Development Unit, a government matchmaking agency that has married off 33,000 people since it was established in 1984. Last week government minister Yu-Foo Yee Shoon warned young people not to put their career before establishing a family "because if you wait until then, sometimes it'll be a little too late".

But it is not so easy to put Singaporean youth in the mood for love.
Another student, Kamal Prakash, said that the course had improved his relationship with his parents but he was still single. "I think most people who take the course would find it easier to get a girlfriend," he said. "But I'm not really looking for a girlfriend now as I want to concentrate on my studies." c The Daily Telegraph

Mar 24, 2008

Minyak Menggila BUMI Makin Panas

SEBUAH berita di harian Kontan, edisi Senin. 24 Maret 2008, berjudul "Minyak Menggila, BUMI Makin Panas" sejenak menyedot perhatianku. Analis memperkirakan, pendapatan BUMI pada 2008 bakal melonjak seiring tingginya harga minyak dunia. Kontan menulis, selama harga minyak mentah masih tinggi, energi alternatif seperti batubara tetap menjadi pilihan. BUMI adalah produsen batubara terbesar di Indonesia yang bakal menikmati rezeki tersebut.

Ia memiliki 95 persen saham KPC di Sangata (sebelum 30% sahamnya di KPC dan Arutmin dijual ke Tata Group dari India) dengan produksi sekitar 50 juta metrik ton. Paling lambat tahun 2002 lalu, 51 persen sahamnya di KPC mestinya sudah harus didivestasikan. Namun upaya Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim selama 10 tahun terakhir untuk membeli saham tersebut belum juga membuahkan hasil, hingga akhirnya pemda mengajukan gugatan penyelesaian divestasi saham lewat arbitrase internasional.

Menurut Dileep Srivastava, Senior Vice President Investor Relation BUMI, selama ini, volume produksi BUMI mencapai 55-56 juta ton per tahun. "Tahun ini kami berharap jumlahnya bisa meningkat menjadi 65 juta ton," ujar Dileep. Selain itu, BUMI juga berharap berkah dari lonjakan harga batubara. Tahun 2007 lalu, perusahaan milik keluarga Bakrie ini mencatat harga jual rata-rata hanya US$ 44 per ton. Tahun ini, mereka memperkirakan bisa mencapai US$ 65 atau melonjak 46,73%. Harga ini bisa lebih tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Namun Dileep enggan membeberkan arget pendapatan dan laba bersih BUMI.

Sambil nyeruput kopi jahe bikinan istriku, pagi itu, saya bertanya-tanya: lalu apa yang dinikmati rakyat Sangata? Selain menghirup debu tambang batubara, berkendara di ruas-ruas jalan yang berlobang, dan menyaksikan lubang-lubang bekas galian tambang yang menganga lebar, adakah kenikmatan lain yang sepadan dengan nilai kekayaan alam di bumi Sangata?


Mar 13, 2008

Kepala Adat Dayak pun Siap Mati

LIMA menit menyusuri jalan St Andrew's Rd, Laden Mering, Ketua Tim Penyelesaian Divestasi Saham (TPDS) KPC, sejenak menghentikan langkah. Gedung SIAC Singapura tinggal berjarak selemparan batu. Gedung dengan arsitektur Eropa abad 17-an yang menjadi tempat sidang arbitrase KPC itu berdiri kokoh, megah dan berwibawa.

ACHMAD BINTORO

Laden membetulkan letak topung pek-nya yang dirasakan agak miring. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatannya terhadap lembaga peradilan ini. Di sini, dia bersama masyarakat dan Pemprov/Pemkab Kutim berharap kebenaran dan keadilan akan terkuak. Akal-akalan divestasi saham yang terbungkus rapi selama 10 tahun terakhir dia harapkan berakhir di sini.

Topi khas suku Dayak itu terbuat dari semacam daun pandan, berhiaskan bulu Enggang warna hitam putih di belakangnya. Tidak sembarang orang dibenarkan menggunakan bulu Enggang. Dalam tradisi Dayak Kenyah, orang yang memakai topung pek berhias bulu burung Enggang, menandakan bahwa dia berani mati dalam memperjuangkan kebenaran.

Prinsip inilah yang tertanam di benak Laden ketika dipercaya menjadi Ketua TPDS KPC. Wajah boleh keriput. Usia boleh tua. Namun semangat lelaki kelahiran Marong, Apo Kayan, Kabupaten Malinau, 7 Januari 1937 ini tidak kalah dengan yang muda. Tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan.

"Saya tidak main-main. Saya tak pakai topung pek ini untuk hiasan kepala. Ini tanda bahwa saya siap mati demi memperjuangkan divestasi ini," tandas Laden. Dahi dan alisnya yang putih tipis mengernyit. Tak ada senyum di bibirnya.

"Pegang ucapan saya," tambahnya seraya memperlihatkan bulu Enggang berbentuk lancip yang tertanam di bagian belakang topinya.

Itu memberi arti bahwa pemakainya adalah seorang kepala adat dan sudah bercucu. Laden memang Kepala Adat Dayak Besar Kenyah Kaltim. Kepala Adat dalam strata masyarakat Dayak menempati kedudukan tertinggi. setiap kata yang dan apa yang ia ucapkan, karenanya sangat dihormati, disegani dan selalu menjadi panutan warganya.

Menurut Laden, divestasi saham KPC semestinya sudah selesai sejak enam tahun lalu kalau saja tidak ada elit lokal dan elit nasional yang turut bermain. Mereka berkonspirasi menjegal Kaltim. Tujuannya satu: mendapat keuntungan sebesar mungkin. Upaya itu sudah dilakukan sejak awal, ketika pemda berkeinginan untuk membeli saham KPC. Bahkan ini masih terus coba dilakukan saat pemda memutuskan mengajukan gugatan melalui arbitrase internasional.

Masih hangat dalam ingatannya, di mana perjuangan arbitrase yang dilakukan Didi Dermawan, pengacara Pemprov Kaltim, nyaris kandas. Padahal ICSID, setelah hampir setahun mempelajari berkas gugatan, menilai bahwa perkara ini bisa disidangkan. Tak sedikit yang kontra terhadap upaya arbitrase ini, dan menyarankan untuk menempuh jalur negosiasi saja. Terlebih dana yang diperlukan untuk arbitrase mencapai Rp 5-10 miliar.

Namun jalur negosiasi bukanlah pilihan yang menggembirakan. Tawaran yang pernah ada, tapi tak jelas kelanjutannya, hanya sebesar 4,08 persen. Itu pun persentase dari saham Bumi, bukan KPC. Keraguan lain untuk menempuh negosiasi adalah, surat TPDS tidak ditanggapi serius oleh Bumi Resources. Bumi baru menjawab setelah batas waktu yang ditetapkan terlewati dan sidang akan segera digelar.

Iswan Priady, anggota TPDS menyatakan, hal lain yang meragukan adalah Bumi kerap akrobat bisnis. Misalnya dengan menjual saham KPS ke beberapa pihak. Belum lagi kaitan liability aset Bumi dengan Lapindo. Sehingga pilihan hanya arbitrase. Upaya ini sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa Kaltim taat hukum, dan mengedepankan hukum.

Meski demikian toh jalan ternyata tetap tak mudah. Sejumlah elit lokal mempersoalkan sumber dana. Mereka menolak adanya dana dari sumbangan pihak ketiga. Lalu disepakati dana diambil dari APBD. Sehingga pihak penyumbang yang sempat dicurigai macam-macam itu pun terpaksa menarik kembali dananya.

Harapan kemudian tinggal pada dana APBD. Namun di saat deadline pengiriman deposit tinggal beberapa hari, tiba-tiba rapat yang dihadiri eksekutif dan legislatif di Kantor Gubernur Kaltim menyatakan bahwa dana APBD tidak boleh digunakan untuk membiayai perkara. Padahal batas waktu tinggal beberapa hari dan dana dari pihak ketiga sudah terlanjur ditarik. Beruntung pada saat itu muncul Isran Noor, Wabup Kutim. Isran yang waktu itu masih di Hongkong terpaksa mempercepat jadwal kepulangannya.

Lewat sejumlah orang yang bersimpati terhadap perjuangan Kaltim, berhasil digalang dana Rp 5 miliar. Sidang pertama pun bisa dilakukan lewat video teleconference di Jakarta dan Washington DC, berkat bantuan perwakilan World Bank di Jakarta. Tetapi Toh upaya untuk menjegal belum berakhir.

Suara-suara elit lokal dan sejumlah organisasi kemasyarakatan masih lebih suka mempersoalkan sumber dana yang dipakai untuk membiayai arbitrase. Isran Noor sudah menegaskan tidak ada serupiah pun dana APBD maupun dana negara yang dipakai untuk membiayai perkara ini. Dana itu diperoleh dari sumbangan sejumlah tokoh masyarakat yang bersimpati terhadap perjuangan Kaltim melawan multinational corporation (MNC) ini.

Saat sidang kedua akan digelar, Ketua DPRD Kaltim Herlan Agussalim mengeluarkan surat ke Michael P Lennon. Lennon adalah pengacara KPC. Timbul pertanyaan besar, ada epentingan apa seorang Ketua DPRD Kaltim sampai rela berkirim surat kepada lawan masyarakat Kaltim dalam berperkara. Didi mengatakan, surat Herlan dimaksudkan untuk memperlemah posisi Kaltim agar Tribunal menolak gugatan Kaltim.

Didi lalu meminta Tribunal untuk mendesak KPC menghadirkan Herlan sebagai saksi, bersama Sekjen Departemen ESDM dan Dirjen Mineral Batu bara Panas Bumi Simon F Sembiring. Tapi Herlan tidak terlihat di sidang di Singapura. Bahkan bersaksi lewat video teleconference pun tak bisa, meski pihak Tribunal bersedia membiayai dan memfasilitasinya. Pengacara KPC berdalih bahwa Herlan sedang mengikuti proses Pilgub Kaltim.

Namun Laden pantang menyerah. Bersama empat anggota TPDS KPC yang tersisa, setelah dua orang lainnya mengundurkan diri (HR Daeng Naja dan Aji Sofyan Effendi), ia bertekad untuk berjuang sampai tuntas. Daeng Naja kepada saya mengatakan, dirinya mundur bukan berarti tidak mendukung upaya arbitrase.

"Kalau pun dengan cara legal (arbitrase) ini masih tidak berhasil, entahlah apa yang akan terjadi. Barangkali akan berlaku rencana B dan C sampai keadilan berpihak pada kami. Sampai divestasi ke Kaltim dilakukan. Hanya itu cara untuk menyejahterakan masyarakat Kaltim, khususnya Kutim lewat KPC," tandas Laden. Apa itu rencana B dan C? Laden tidak menjawab.

"Inilah yang terjadi. Kita dulu dijajah oleh Belanda berkulit putih. Kini yang jajah ganti Belanda kulit hitam. Sangat memperihatinkan justru orang-orang kita, sejumlah elit lokal dan elit nasional yang mengadang dan menzalimi kita," timpal Marcus Intjau, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim.

Ingan mengatakan, saat itu pihaknya terpaksa menghardik Simon. Tapi hardikan itu, katanya belumlah seberapa dibanding kerugian materil dan moril akibat divestasi saham yang tak terlaksana.Belum lagi kerugian akibat kerusakan lingkungan. Kalau saja bukan karena akal-akalan KPC dibantu pengkhianatan elit lokal dan nasional, divestasi mestinya sudah terjadi dan kekayaan alam hasil divestasi itu sudah bisa untuk menyejahterakan masyarakat Kaltim.

"Sebenarnya kita tidak masalah Todung membela konglomerat asalkan bersengketa pula dengan konglomerat lain. Amat disesalkan dan memalukan, Todung membela kepentingan konglomerat melawan kepentingan Kaltim. Kita kok jadi meragukan nasionalisme dia yang selama ini dikenal sebagai pembela HAM," tambah Iswan.

Bagaimana Todung menanggapi tudingan ini? Saya cegat usai rehat siang di Singapura, Todung enggan berkomentar. Sambil tertawa kecil, usai saya sampaikan sejumlah pertanyaan terkait materi pembelaannya dan posisi dia yang harus berhadapan dengan masyarakat Kaltim, Todung menjawab: "Ah, no comment. Saya tak mau komentari itu." (*)

Mar 7, 2008

Geram Tertahan di Ruang Sidang

Sidang kedua arbitrase International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID) yang mambahas gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim terhadap PT KPC, Rio Tinto dan Beyond Petroleum (BP), digelar di Singapura, 27-28 Pebruari 2008. Jalur arbitrase ditempuh pemda setelah jalur negosiasi, politik hingga gugatan di pengadilan negeri -- dalam upaya mendapatkan hak pembelian 51 persen saham divestasi KPC -- selama 10 tahun terakhir tidak membuahkan hasil. Adakah keadilan kali ini, sebagaimana diharapkan masyarakat dan pemda, akan benar-benar datang? Berikut catatan saya dari Singapura

LANGKAH Simon F Sembiring, Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM, tertahan. Lima tokoh pemuda Kaltim mendadak menghadangnya, tepat di pintu keluar ruang sidang arbitrase di Singapore International Arbitration Centre (SIAC) Prime Court, City Hall, Singapura, Rabu (27/2). Tiga di antara mereka berompi Dayak, satu orang berbaju lurik lengkap dengan blangkon, dan seorang lagi mengenakan setelan jas biasa.