KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 23, 2007

Redup di Tengah Kemilau Emas


MISRAH, 28 tahun, akhirnya harus meninggalkan kampungnya, Dusun Gah Taha, Desa Kelian Dalam - lebih dikenal dengan sebutan Sungai Babi atau Kampung Emas - Long Iram, Kabupaten Kutai Barat (570 Km barat Samarinda), setelah dia meyakini tak ada lagi emas yang bisa didulang dari kubangan-kubangan lumpur dan tanah di sepanjang bantaran bagian ilir Sungai Kelian.

Sejak terjadi musibah longsor di lubang milik Nawir di Dusun Bilit 27 Juli 1999 silam, Misrah merasa emas yang bisa didulang dari hari ke hari makin sedikit. Pada musibah itu, 32 rekannya terkubur hidup-hidup. Dalam keyakinan sukunya, emas-emas yang terkandung dalam aliran lumpur sungai (aluvial) itu, dalam kurun waktu seribu hari, akan habis tersedot oleh arwah mereka yang menjadi korban sebagai bekal menuju nirwana.

Wanita yang bergelut dalam kegiatan pendulangan sejak umur delapan tahun ini meyakini tradisi turun temurun itu. Dan ternyata benar, menurutnya, belum lagi genap hitungan seribu hari, bijih-bijih emas itu sudah sulit didapat. Ratusan pompa dikerahkan untuk mengaduk-aduk tanah di bantaran itu. Tanah disedot makin lebar dan dalam. Air sungai menjadi makin keruh. Tapi bijih-bijih emas yang diharapkan tak kunjung ditemukan.

Dec 22, 2007

Salip Menyalip Menuju Bandara Baru


oleh achmad bintoro

TELEPON di kantor, Rabu sore, 1 Mei 2005, berdering hampir tiada henti. Kesibukan pun jadi bertambah. Belum usai menjawab panggilan yang satu, sudah menunggu panggilan di saluran lain. "Pak, bagaimana hasil pilkada Kukar?" kata seseorang di seberang telepon. "Syaukani atau Sofyan Alex yang unggul?" sambung suara lain yang mengaku bekerja di Balaikota Samarinda.

Seorang sahabat yang bekerja di Bappeda Samarinda juga dengan antusias menanyakan hal yang sama. "Benarkah Syaukani yang menang?" tanya sarjana Teknik Industri lulusan Universitas Islam Indonesia (UII)Yogyakarta itu seolah ingin memastikan.

Telepon masuk kebanyakan memang menanyakan hasil pilkada Kukar.
Yang menarik, mereka mengaku berasal dari Samarinda dan beberapa di antaranya adalah pejabat di lingkungan Pemkot Samarinda. Kami tak pernah menduga bahwa pejabat di kota ini memiliki perhatian dan kepedulian yang begitu tinggi terhadap pilkada di Kutai Kartanegara (Kukar).

Awalnya saya mencoba memaklumi, barangkali itu lebih karena Kukar merupakan kabupaten pertama yang menggelar pilkada di Indonesia.
Tapi apa iya cuma karena soal kepedulian? Sahabat itu akhirnya buka mulut. Dia mengakui, terpilihnya kembali Syaukani HR menjadi Bupati Kukar telah menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi Pemkot Samarinda. Lho kok? M

Mereka khawatir Syaukani HR bakal kembali ngotot merealisasikan rencana awal membangun bandara baru -- pengganti peran Bandara Temindung Samarinda -- di Loa Kulu, Kukar.
Karena itu mereka berharap Aji Sofyan Alex yang memenangi pertarungan itu. Aji Sofyan Alex adalah pensiunan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim di Samarinda. Ia masih kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara.

Tetapi hasil perhitungan final yang diumumkan KPUD Kukar di Hotel Singgasana, Tenggarong, 15 Juni 2005, menetapkan pasangan Syaukani HR-Syamsuri Aspar sebagai pemenang pilkada. Syaukani mengantongi 59,96 persen suara.


Seperti diketahui, rencana Pemkab Kukar untuk membangun bandara baru di Loa Kulu itu sempat terbengkelai saat Syaukani HR harus mempersiapkan diri bertarung dalam Pilkada Kukar. Saat itu ia juga harus meninggalkan kursi jabatannya sebagai orang nomor satu di kabupaten terkaya itu karena digantikan oleh pejabat Awang Dharma Bakti. Namun Awang akhirnya tersingkir juga karena digoyang oleh aksi
unjukrasa yang hampir tiada henti oleh pendukung Syaukani HR.

Kekhawatiran itu ternyata beralasan. Belum lagi hasil resmi pilkada diumumkan, Syaukani HR sudah koar-koar ke publik bahwa ia akan kembali meneruskan rencana membangun bandara baru di Loa Kulu. Sebuah megaproyek yang nyaris berhasil diwujudkan oleh Syaukani dan hampir membuat Samarinda -- yang sudah merintisnya pembangunan bandara di Sei Siring yang sudah dirintis sekitar tujuh tahun lalu -- gigit jari. Proyek itu sempat "terbengkelai" karena Syaukani harus lengser sementara waktu dari kursi Bupati.


Sang bupati terpilih itu menyatakan Bandara Loa Kulu akan menjadi salah satu satu prioritas program kerja 365 harinya ke depan. Sebab saat itu belum ada keputusan tertulis dari Menhub tentang lokasi mana yang akan dipilih, Sei Siring atau Loa Kulu. Pemkab Kukar juga merasa masih mendapat dukungan tertulis Gubernur Kaltim Suwarna AF yang pernah memberikan rekomendasi untuk Loa Kulu. Meski belakangan gubernur terlihat lebih condong memihak Samarinda, namun sejauh ini rekomendasi itu toh belum dicabutnya.

Itulah yang membuat pejabat Pemkot Samarinda khawatir. Terlebih setelah mereka melihat langkah-langkah Syaukani HR yang oleh publik dianggap sebagai figur yang hampir selalu menang di segala "pertempuran".

Namun Walikota Samarinda Achmad Amins mengaku sedikit pun tidak risau terhadap perkembangan politik di Kukar. Ia tetap optimis Menhub akan memilih Sei Siring sebagai bandara baru, pengganti Bandara Temindung Samarinda. Ia bersama jajarannya didukung legislatif dan pemprov kompak dan gigig saat itu terus berjuang agar bandara itu dibangun di Sei Siring. Salip menyalip pun terjadi. Hingga setahun sebelumnya, Kukar memang terlihat di atas angin.

Tetapi angin mulai bertiup ke Samarinda. Pemkot Samarinda merasa yakin pusat akan memilih Sei Siring. Hasil lobi-lobi intensif yang dilakukan Walikota dan DPRD Samarinda ke Departemen Perhubungan makin menguatkan keyakinan mereka bahwa pusat memilih Sei Siring. Menariknya, lobi-lobi intensif itu dilakukan justru ketika Syaukani HR sedang tidak bisa fokus mengurus proyek bandara itu karena ia lengser dari jabatannnya sebagai Bupati Kukar.

Di sinilah kejelian Samarinda dan Pemprov. Entah disengaja atau tidak mereka seperti kompak untuk mematikan langkah Kukar dengan berupaya untuk terlebih dulu mendapat legalitas dari pusat. Agaknya, siapa yang berhasil lebih dulu bisa mendatangkan Menhub untuk peletakan batu pertama, itulah yang barangkali mendapat legitimasi dari pusat untuk membangun bandara baru. Dulu Kukar juga mengklaim Menhub akan segera melakukan peletakan batu pertama di Loa Kulu, tetapi tidak jadi.

Perubahan gerbong politik di Kukar memang memberikan peluang baru bagi Samarinda. Dimulai ketika Bupati Kukar Syaukani HR harus lengser dari jabatannya karena masa tugas berakhir, menyusul SK penunjukan Pejabat Bupati Sementara oleh Gubernur Suwarna AF. Masa 'kosong' di Kukar membuahkan kesempatan baru di Samarinda yang dimulai pada Januari 2005 lalu saat Amins bolak-balik ke Jakarta menghadap Menhub, yang memberi persetujuan pembangunan bandara baru di Sei Siring.

Bulan Februari 2005, Menhub Hatta Radjasa menyatakan kesiapannya menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Bandara Sei Siring. Namun batal. Bulan berikutnya, Suwarna AF menerbitkan surat penegasan bahwa bandara baru pengganti Temindung, ditempatkan di Sei Siring. Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda bahu membahu mengupayakan dana pembangunan bandara ini.

Pemprov Kaltim mengusulkan kepada pemerintah pusat melalui Menko Ekuin, Aburizal Bakrie untuk pembangunan infrastruktur di Kaltim sebesar Rp 14,4 miliar, termasuk pembangunan Bandara Sungai Siring sebesar Rp 400 miliar. "Usulan tersebut telah disampaikan Gubernur Kaltim Suwarna AF, bersamaan dengan usulan pembangunan infrastruktur kabupaten dan kota lainnya di Kaltim," ujar Kepala Bappeda Kaltim Sulaiman Gafur saat itu.

Pemkot Samarinda pun telah menyatakan keyakinannya bahwa bandara akan dibangun pada lokasi Sei Siring, karena lahannya sudah dibebaskan dan dimatangkan oleh Pemprov Kaltim dengan menghabiskan dana sebesar Rp 8 miliar. Dua pekan kemudian, Suwarna AF menyatakan bahwa peletakan batu pertama akan segera dilakukan di Sei Siring. Tidak tanggung-tanggung. Yang meletakkan konon Wapres Jusuf Kalla. Jika itu benar- benar terjadi, maka perebutan bandara antar kedua daerah bertetangga itu mungkin akan berakhir.

Kini, saat tulisan ini diposting, ambisi Kukar untuk membangun bandara baru agaknya sudah terkubur dalam-dalam, seiring dengan melemahnya posisi Syaukani HR. Bupati yang dikenal royal dan tak pernah mempersulit warganya, dari kelas mana pun mereka datang, itu akhirnya meringkuk di tahanan Polda DKI Jakarta. Ia menjadi tahanan KPK karena empat kasus dugaan korupsi yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 120 miliar. Satu di antaranya adalah kasus pembebasan lahan bandara dan penunjukkan langsung terhadap sebuah perusahaan konsultan. Perusahaan itu dimilik oleh Vonny, sekarang Bupati Minahasa Utara, yang kini juga turut meringkuk di tahanan.

***
LAHAN seluas 300 hektar (ha) di Kelurahan Sei Siring, sekitar 35 kilo meter timur Samarinda, itu kini tidak terurus. Sejak diratakan dengan puluhan alat berat dan dikerjakan secara lembur empat tahun lalu, hamparan yang sedianya akan dijadikan bandar udara (bandara) baru itu dibiarkan kosong. Tak terlihat satu pun kegiatan laiknya sebuah proyek besar. Bertahun-tahun lamanya masyarakat menunggu kapan bandara yang akan mengganti bandara lama, Temindung, direalisasikan.

Tapi tiba-tiba terbetik kabar bahwa pemerintah tidak jadi meneruskan rencananya membangun bandara baru di Sei Siring. Pemerintah tidak memiliki dana cukup besar - Rp 800 milyar sampai Rp 1,2 trilyun - untuk membangun bandara itu. Sebagai gantinya, Wali Kota Samarinda Achmad Amins menerima tawaran Bupati Kutai Kartanegara Syaukani HR untuk membangun bandara baru, di luar Sei Siring. Kebetulan kabupaten dengan APBD terbesar di Indonesia itu berniat membangun bandara di kotanya. Kebetulan pula jarak Samarinda-Tenggarong tidak terlalu jauh, hanya 35 kilometer.

beragam tanggapan muncul dari masyarakat. Ada yang pro. Ada pula yang kontra. Kalangan yang pro atas rencana itu umumnya melihat atas dasar efisiensi dan efektivitas. Jarak Samarinda dan tenggarong sangat dekat, sehingga tidak perlu harus membangun bandara sendiri-sendiri. Sedang yang kontra, di antaranya para eks pemilik lahan di Sei Siring, mengatakan, pemerintah tidak bersikap konsisten atas rencana yang telah dibuat.

Menurut Yayan Aliansyah, mantan anggota Komisi A DPRD Samarinda, dulu, warga mau lahannya dibebaskan dengan harapan mendapat manfaat dari keberadaan bandara itu. Sekarang kalau ternyata pembangunan bandara di Sei Siring ditunda, maka warga tidak akan mendapat manfaat apa pun. Jika begitu untuk apa waktu itu mereka bersedia melepaskan lahannya dengan harga murah.

Begitulah problem yang muncul. Satu sisi pemkot ingin segera mewujudkan impiannya mempunyai sebuah bandara yang layak sesuai perkembangan kota. Pada sisi lain ketiadaan dana dan investor jadi penghalang. Padahal adanya bandara yang representatif sangat ditunggu untuk menunjang Samarinda sebagai kota jasa.
***

KALAU saja Bandara Temindung Samarinda ini merupakan bandara yang mampu memfasilitasi penerbangan secara langsung ke luar Kaltim. Atau kalau saja rencana membangun bandara baru di Sei Siring jadi terwujudkan, tentu kesan "isolasi" yang selama ini melekat erat pada ibu kota Provinsi Kaltim ini bisa terhapuskan.

Samarinda barangkali termasuk sedikit ibu kota provinsi di Indonesia yang hingga kini belum bisa dijangkau secara langsung oleh penerbangan dari luar Kaltim. Tidak heran kalau banyak kalangan, terutama usahawan, menjuluki kota yang terbelah oleh Sungai Mahakam ini sebagai ibu kota provinsi terpencil. Untuk mencapai kota berpenduduk 509.330 jiwa ini, lebih dulu harus singgah Balikpapan. Dari kota minyak ini perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil, sejenis Cassa 212 berpenumpang 25 orang.

Tetapi, selama ini orang lebih memilih jalan darat. "Bukan apa-apa. Kami hanya merasa kurang nyaman saja naik pesawat sekecil itu," kata Ketua Kadinda Kaltim Popo Parulian. Setiap kali ia harus bepergian untuk suatu urusan bisnis di luar Kaltim, ia lebih memilih diantar sopirnya ke Balikpapan, untuk selanjutnya dengan pesawat menuju kota yang ia tuju.

Bandara yang ada, dengan panjang landasan pacu cuma 900 X 24 meter, belum memungkinkan didarati pesawat bermesin jet. Bandara ini hanya mampu menampung pesawat (reguler) kecil seperti Cassa 212 atau Cessna. Kalaupun dipaksakan, paling banter hanya sejenis Dash Seven. Itulah kenapa bagi sebagian orang, Samarinda dianggap cuma kota kecil. Sebuah kota di pinggiran sungai yang tak mudah dicapai dalam satu jangkauan.

Dalam suatu kesempatan menerima rombongan anggota DPR RI, Waris Husain, mantan Wali Kota Samarinda yang kini anggota DPRD Kaltim, bahkan menyebut bandara ini seperti bandara perintis. Hal itu ia katakan saat dilihatnya sejumlah anggota dewan itu kecapekan melakukan perjalanan darat selama 2,5 jam - dari Balikpapan ke Samarinda - dengan kondisi jalan yang meliuk-liuk menembus Tahura Bukit Soeharto.

Bandara Temindung yang terletak di padatnya pemukiman penduduk ini, awalnya dibangun secara patungan oleh Pemda Kaltim dan Pelita Air Service (Pertamina). Saat diresmikan oleh Dirjen Perhubungan Udara (Kardono, ketika itu) tanggal 24 Juli 1974, jenis pesawat yang bisa mendarat hanyalah Sky Van dan Cessna.

Saya sendiri pernah punya pengalaman menggelikan terkait dengan bandara Temindung ini. Saat itu di dalam pesawat. "Dari Samarinda? Saya sering dengar itu. Apa masih jauh dari Balikpapan?" tanya seorang kawan baru dalam perjalanan satu pesawat jenis Boeing 737 dari Bandara Mutiara Palu menuju Jakarta, via Bandara Sepinggan Balikpapan, beberapa waktu lalu.

Kawan baru itu seorang pengusaha kayu eboni (hitam) yang mengaku pernah singgah beberapa kali di Balikpapan. Ia senang dengan suasana kota minyak itu, yang dia katakan bersih, rapi dan relatif aman. Dia pernah menginap semalam karena tertinggal pesawat terusan ke jakarta. Dia menikmati lesehan di pinggir pantai Klandasan, depan Kodam VI/Tanjungpura. Dia susuri jalan sepanjang pantai dari bandara hingga Pelabuhan Laut Semayang, melewati sejumlah hotel berbintang, pusat perbelanjaan, dan kawasan rumah dinas Pertamina. Sempat belok sebentar menyambangi teman lama di kompleks Balikpapan Baru. Selama ini ia mengira bahwa itulah ibukota Provinsi Kaltim.

Ia terlihat agak kaget saat saya katakan bahwa Balikpapan hanyalah kota kedua di Kaltim. Sedangkan ibukotanya adalah Samarinda. Kawan baru itu lantas berkomentar lagi,"Wah kalau demikian, pastilah Samarinda lebih bagus ya." Saya hanya tersenyum mendengar kesimpulan itu.

Pertanyaan senada seperti terlontar di atas, tidak dilontarkan oleh satu dua orang. Banyak orang yang baru kali pertama menginjakkan kakinya di Balikpapan beranggapan bahwa Balikpapan adalah ibukota Provinsi Kaltim. Terlebih diketahui sejumlah kantor penting seperti Kodam VI/TPR, Kejati Kaltim (sudah sekitar empat tahun lalu pindah ke Samarinda), Bea Cukai Kaltim, Polda Kaltim, dan Divisi Regional VI/Telkom Kalimantan berkantor di sana.

Popo Parulian, mantan Ketua Kadin Kaltim mengatakan, kesan ini muncul selain karena perkembangan Samarinda yang relatif lebih lamban juga karena kecilnya Bandara Temindung Samarinda. Jika saja bandara yang diresmikan Dirjen Perhubungan Udara Kardono 21 Juli 1974 itu merupakan bandara yang mampu memfasilitasi penerbangan langsung keluar Kaltim, tentulah kesan "isolasi" yang selama ini melekat erat pada ibukota dari sebuah provinsi dengan angka PDRB Rp 164,7 triliun (tahun 1996) ini akan bisa terhapuskan.

Jadinya, Samarinda termasuk sedikit ibukota provinsi di Indonesia yang hingga kini belum bisa dijangkau secara langsung oleh penerbangan dari luar Kaltim. Tidak heran kalau banyak kalangan, terutama usahawan, menjuluki kota yang terbelah oleh Sungai Mahakam ini sebagai ibu kota provinsi terpencil.

Untuk mencapai kota berpenduduk 559.330 jiwa ini, lebih dulu harus singgah Bandara Sepinggan Balikpapan. Dari kota minyak ini perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan darat yang berkelok-kelok selama 2-3 jam atau dengan pesawat kecil sejenis Cassa 212 berpenumpang 24 orang atau Dash Seven berpenumpang 36 orang yang dioperatori Kalstar.

Bandara yang ada, dengan panjang run away 900 X 24 meter, belum memungkinkan didarati pesawat bermesin jet. Kini setelah 29 tahun, kondisinya tidak jauh berbeda. Meski sudah pernah direhabilitasi, tapi perubahan itu tidak secepat mobilitas masyarakatnya. Rehabilitasi mendasar hanya mengubah landasan pacu dari steel plat menjadi kontruksi penetrasi dan kemudian beraspal. Padahal kebutuhan akan bandara besar sangat ditunggu. Tapi mau dikembangkan juga tidak mungkin karena berada di tengah padatnya pemukiman penduduk.

Dec 16, 2007

Antre Minyak di Daerah Kaya Minyak

ANTRE BELI BBM - PHOTO BY NEVRI/TRIBUN

"DUA belas ribu?" tanya saya sekali lagi kepada penjual premium eceran di Jalan MT Haryono, Samarinda, sore ini. Saya berharap telinga saya yang salah dengar. Tetapi, bapak penjual bensin eceran yang sebagian rambutnya sudah beruban itu menyebut dengan jelas dan mantap saat mengucapkan lagi angka yang harus saya bayar untuk satu liter premium yang saya beli. "Iya. Rp 12 ribu!"


Sempat terpikir untuk tak jadi membelinya. Tetapi, membayangkan harus berjam-jam duduk di motor mengantre di ruas jalan menuju SPBU, bukanlah pilihan yang enak. Terlebih sisa bensin di tangki motor saya sepertinya tidak akan cukup untuk mencapai SPBU terdekat. Di SPBU Jalan Juanda, berjarak sekitar satu kilometer dari kios eceran itu, panjang antrean motor dan mobil mencapai satu kilometeran.

Antrean sudah terlihat sejak pagi, sebelum SPBU itu dibuka. Sampai sore, antrean tetap terjadi, malah makin panjang. Sekitar pukul 12.00, hujan lebat sempat mengguyur kawasan itu. Namun mereka bergeming. Mereka relakan baju, celana dan tas mereka basah oleh air hujan. Hanya sebagian kecil yang kebetulan membawa mantel hujan, langsung menutupi tubuh mereka dengan mantel. Lima belas menit kemudian hujan reda. Matahari kembali menyengat. Lebih panas. Mereka terpaksa dalam hujan serta panas karena tidak ada pilihan lain.

Membeli di kios-kios eceran belum tentu ada. Sudah banyak kios eceran yang tutup. Kalau pun ada harganya sudah melonjak. Premium yang biasa cuma Rp 5.000, mereka jual Rp 12.000. Di sejumlah kawasan pinggiran seperti Loa Bakung dan Sempaja, bahkan mencapai Rp 15 ribu. Sehari sebelumnya masih Rp 10.000.

Kemarin ketika mengisi solar untuk mobil di SPBU Jalan Kadrie Oening, beruntung saya tidak harus mengantre. Berbeda dengan premium dan pertamax, solar tidak mengalami kekurangan stok. Sehingga saya bisa leluasa menerobos antrean ratusan motor dan mobil lainnya, setelah dipandu petugas Satpam setempat, menuju pompa pengisian.

Namun ketika balik pulang melewat Jalan P Suryanata, saya terjebak dalam kemacetan yang luar biasa panjang. Kali ini bukan untuk antre beli solar lagi, melainkan terjebak dalam antrean ratusan mobil lain di depan SPBU Jalan P Suryanata. Anteran itu mengular sekitar dua kilometer dari arah Samarinda maupun arah Tenggarong. Celakanya, pengantre tidak mau memberikan celah sedikit pun, meski di lintasan pertigaan.

Setengah jam mobil tak juga beranjak dari tempatnya, tepat di depan Perumahan Erlisa, saya akhirnya memutuskan balik haluan begitu ada celah untuk putar. Dalam kondisi antrean yang sangat panjang seperti ini, di mana para pengendara secara fisik dan psikis juga sudah sangat lelah, rasanya sulit berharap mereka mau berbaik hati memberi sedikit celah agar mobil lain yang tak antre bisa melewati pertigaan itu.

Selama dalam perjalanan pulang saya menyaksikan antrean terjadi di mana-mana, di setiap SPBU di ibukota provinsi ini. Beberapa motor tampak didorong. Ada pula sejumlah mobil yang sudah kehabisan bensin sebelum mencapai antrean. Andre, misalnya, pengendara mobil L 300 pick up terpaksa harus mendorong mobilnya mulai dari Jalan Awang Long menuju SPBU Jalan RE Martadinata.

"Apaan seh pemerintah ini. Masak BBM sampai langka begini," sungut Andre yang terengah- engah mendorong mobilnya seorang diri. Ia membuka pintu kemudia, terus mendorongnya dari samping. Hal ini bukan saja melelahkan, tapi juga membuat macet jalan.

Berhenti sejenak mengatur nafas, sopir di sebuah toko bangunan di kawasan Pasar Segiri itu melontarkan sumpah serapah. "Orang bilang Kaltim kaya minyak, tapi kenapa minyak kini susah carinya," ungkapnya. Ia merasa hari ini ketiban apes. Tiga jam lalu bannya meletus dan harus ia ganti di tengah jalan, kini ia harus mendorong mobil seorang diri.

Sumpah serapah juga dilontarkan para pengendara lain. Mereka umumnya merasa aneh saja bahwa antrean panjang semacam ini ternyata bisa terjadi di daerah yang selama ini dikenal kaya minyak. Mereka pernah menyaksikan antrean yang sama di televisi, tetapi terjadi di kota- kota di Jawa, dan belakangan di Kalsel serta Kalteng. Di Samarinda, antrean terjadi biasanya hanya saat isu kenaikan BBM.

"Hal semacam ini jangan dianggap sebagai kewajaran. Kerusakan di dalam sistem produksi memang bisa terjadi, tetapi mestinya bisa dihindari dan harus dihindari, kecuali yang sifatnya force major, mengingat fungsi Pertamina yang sangat strategis," kata Usman Hadi yang mengaku berbisnis distribusi minyak tanah untuk disalurkan ke daerah pesisir Kutai Timur dan Bontang.

"Tak masalah sih Pertamina mau rusak atau apa asal konsumen sudah diberikan alternatif lain berupa SPBU yang dikelola perusahaan lain. Saat ini kan masih Pertamina semua, ya akhirnya kita semua yang ketiban getahnya kalau terjadi kerusakan begini," tambah Usman sambil antre premium untuk Kijang Innova miliknya.

Antrean panjang di depan SPBU memang tidak cuma terjadi Samarinda. Di Balikpapan sendiri, yang merupakan kota tempat Pertamina mengolah BBM-nya, juga mengalami hal yang serupa. Sejumlah SPBU sempat tutup karena kehabisan stok. Sama dengan yang terjadi di Samarinda dan kota lain di Kalimantan, stok habis bukan karena aksi borong melainkan karena Pertamina mengurangi pasokan.

Manajer Hupmas Unit Pengolahan (UP) V Chusnul Busro mengakui memang sedang terjadi proses perbaikan menyusul adanya gangguan di unit produksi premium di kilang Balikpapan, sehingga pasokan ke depo-depo terpaksa dikurangi. Kota Samarinda misalnya, dipasok hanya 400 ton per hari. Saat normal, dipasok hingga 600 ton.

Sebenarnya, jauh sebelum ada perbaikan, Pertamina sudah mencoba mengalokasikan sejumlah premium di kilang guna menekan pengaruh gangguan produksi itu terhadap konsumen. Tapi, cara itu agaknya belum mampu menekan pengaruh dimaksud. Antrean panjang masih terjadi di mana-mana.

"Kami berharap masyarakat tak panik hingga melakukan aksi borong," pinta Busro. Pertamina menjamin pasokan sudah kembali normal pada Selasa (18/12). Di beberapa SPBU, pembelian dibatasi maksimal 10 liter per mobil untuk menghindari aksi borong. Sebagian pengendara tak puas dengan kebijakan ini, terutama mereka yang akan melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, sejauh 107 kilometer. Tapi apa boleh, harus dilakukan, ketimbang nanti terjadi aksi borong yang pada akhirnya dipasok berapa pun akan amblas juga.

Setiba di rumah, sambil nyeruput teh hangat di teras, saya tersenyum geli membaca berita di koran Tribun Kaltim mengenai ulah Hugo Chaves. Presiden Venezuela itu lagi-lagi membuat kejutan. Ia mengirimkan satu truk tangki berisi minyak gratis bagi para penduduk miskin di New York City, AS. Pengiriman ke daerah Bronx itu disebutkan, merupakan kelanjutan dari yang dikirimkannya ke Boston awal minggu ini. Program yang dijalankan oleh Cutgo Petroleum milik pemerintah Venezuela itu sudah menginjak tahun ketiga walaupun ketegangan terus meningkat antara Caracas dan Washington. Ah, ada saja...

Dec 12, 2007

Mas, Bawang Merah Naik

DI KOLAM RENANG

"MASSS...," panggil istriku dari dapur. "Labaik," jawabku pelan. Aku tidak peduli, dia mendengar atau tidak. Headline berita pagi ini berjudul KPK Kerahkan 100 Polisi, untuk amankan sidang pembacaan vonis Syaukani HR, lebih menyedot perhatianku. Lamat-lamat aku masih dengar suara istriku kembali memanggil. Aku tetap bergeming. "Ada apa seh, pakai panggil-panggil segala," batinku sambil meneruskan baca dan nyeruput kopi panas.

"Mas, bawang merah naik," kata istriku. Kali ini tidak dengan suara keras. Ia sudah duduk di kursi teras, sebelah aku. Walah,walah...bolak-balik panggil suami kok ternyata hanya mau bilang bahwa harga bawang merah naik. Kalau itu sih aku juga sudah tahu. "Iya, sayang, lalu kenapa?" kataku, masih dengan mata tertuju pada koran.

"Naiknya tinggi sekali Mas. Tiga hari lalu waktu Atik beli, sudah naik menjadi Rp 19.000, eh tadi kok naik lagi jadi Rp 23.000," terang istriku dengan nada cemas.

Atik adalah hadama di rumah kami. Ia berasal dari sebuah desa di pinggiran kota Palu, Sulawesi Tengah. Ini adalah tahun kedua dia bersama kami. Kami semua sangat terbantu dengan keberadaannya. Meski agak pendiam, Atik sangat rajin, jujur dan tidak suka keluar rumah. Beberapa kali kami pernah ajak jalan-jalan ke mal atau makan malam di luar sekedar mengisi malam Minggu, ia selalu menolaknya. Dia lebih suka di depan TV, bersama ibu aku, nonton sinetron kesukannya. Ia keluar rumah hanya saat membeli sayur pada Bulek sayur keliling yang tiap pagi selalu menyapa para penghuni rumah di komplek Rawa Sari, Air Putih, tempat kami tinggal.

Bagiku, kecemasan ini agak berlebihan. Naik cuma Rp 4.000 saja kok ribut. "Ya, sudah. Biarin saja kalau memang naik," kataku lagi.

"Ini gawat. Mas, kita harus ke pasar sekarang juga," ajak istriku bergegas menggandeng tanganku. Rupanya dia sudah siap dengan helm. Aku pun mengantarnya. Istri aku tidak pernah lagi membawa motor sendiri, setelah pernah jatuh, mesti tidak mengakibatkan lecet, sekitar dua tahun lalu.

Dia memang bisa mendapatkan harga Rp 2.000 lebih murah di Pasar Induk Segiri. Malah dia pun memborong hingga tiga kilogram. Kenapa? "Pedagangnya bilang harganya kembali akan naik hingga Rp 30 ribu pekan depan," jawabnya.

Ia juga membeli ikan kakap merah besar 1 ekor, biji nangka 1 kg, ikan sotong (cumi) 2 kg. Dia tahu, aku paling doyan dengan cumi terutama dimasak dengan tinta. Dia juga tahu aku demen dengan garang asam ikan. Tak lupa beli ikan 2 potong ayam. Ikan dan ayam itu biasanya untuk kebutuhan seminggu. Dan yang tak pernah ketinggalan adalah tempe.

Aku juga sangat doyan dengan tempe dembel (tepung). Meski bukan orang Jawa dan dalam tradisi keluarganya hampir tak pernah makan tempe, istriku akhirnya bisa membuat tempe dembel. Tempe dembel buatannya sangat enak. Biasa, setiap buka puasa, ia membuat tempe dembel sampai satu loyang (berisi sekitar 30 potong tempe) khusus untuk aku. Alhamdulillah, aku selalu bisa habiskan. Hal itu terus sejak hari pertama hingga hari terakhir puasa Ramadhan. Tak lengkap rasanya buka puasa tanpa tempe dembelnya. Karena itu tidak jarang aku tidak menghadiri undangan buka puasa di tempat lain karena alasan yang satu ini.

Pagi itu dia tidak membeli daging rawon. "Sudah ada cumi dan kakap," katanya. Rawon juga termasuk makanan favoritku. Di Samarinda memang banyak warung yang menjual rawon. Tapi umumnya terlalu cair dan rasanya kurang lebih dengan sop, bukan rasa rawon. Lidahku paling cocok dengan rawon buatan istriku. Rasa kluweknya bikin aku benar-benar tak bisa beranjak dari meja makan.

Sungguh, aku sangat respek dengan tekadnya yang kuat untuk belajar masakan-masakan Jawa. Ini pula yang membuat aku makin hari makin sayang dengan dia.

Sesekali ia membuat masakan tradisi leluhurnya, nasi kebuli dicampur dengan kepala kambing, kadang pula dengan ayam kampung. Kadang membikin roti maryam. Tapi yang terakhir itu, membuatnya sangat repot, sehingga jarang dilakukan. Pernah ia coba membuat Sambosa dan roti kebab. Dan kalau akhir pekan, sebulan sekali, ia membeli tulang kaki sapi untuk dibuat Kaledo.

Aku sangat menggemari kaledo. Tak jarang aku begitu rindu dengan Palu hanya agar bisa makan kaledo. Kaledo adalah masakan khas Palu, terbuat dari tulang kaki sapi(lengkap dengan sumsum). Sebagai pelengkap, warga Palu biasa memakannya dengan singkong rebus, pengganti nasi. Tapi aku lebih suka memakannya dengan nasi. Perasaanku, belum benar-benar makan kalau tidak dengan nasi.

Di Palu, kami biasa makan Kaledo di sebuah warung di luar kota, ke arah Donggala. Tempatnya sederhana, tapi rasanya sangat enak. Banyak orang China yang ke sana. Biasanya, di mana ada orang China makan, berarti masakan di warung itu memang enak.

Begitulah, yang rencana ke pasar hanya beli bawang merah, istriku aku jadi memborong barang belanjaan lain. Sekitar Rp 300 ribu lebih kami habiskan untuk membeli keperluan dapur itu. Beruntung istri aku masih ada uang, hasil keuntungan jual HP. Uang gaji aku sendiri sudah lama habis untuk membayar macam-macam, mulai dari keperluan anak-anak sekolah, les privat, les Bahasa Inggris, listrik, air, bayar kreditan, hingga kirim ke orang tua.