KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Apr 16, 2007

Hare Gene Masih Sulit Cari Sales Supervisor

Oleh Achmad Bintoro

Otonomi Daerah sering diidentikkan dengan membanjirnya uang ke daerah. Tercatat Rp 7-9 triliun dana pembangunan per tahun yang diterima Kaltim sejak otda diberlakukan lima tahun lalu. Tentu itu bukan uang yang kecil. Banyak hal bisa dilakukan dengan uang sebanyak itu, di antaranya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tetapi kenapa untuk mencari seorang sales supervisor saja masih sangat sulit di daerah ini?

SEORANG teman yang kebetulan Manajer PSDM di sebuah perusahaan terkemuka yang memiliki kantor cabang di Kaltim tiba-tiba menumpahkan keheranannya kepada saya ketika berkesempatan ngopi bersama di sebuah warung jenggo di pojok bangunan mal Samarinda Central Plaza (SCP). "Saya heran, hare gene mencari satu tenaga saja yang qualified di Kaltim kok susah bener," katanya sambil nyeruput kopinya panas-panas.

Padahal kualifikasi yang diperlukan, menurut dia tergolong umum saja. Dengan panjang lebar ia pun menjelaskan bahwa perusahaannya yang merupakan distributor tunggal dan rental sejumlah merek terkenal kendaraan berat sedang mencari seorang sales supervisor area. Kualifikasi yang diperlukan adalah sarjana teknik mesin, komunikatif, mampu berbahasa Inggris, berjiwa kepemimpinan, mampu bekerja di bawah tekanan, pengalaman dibidangnya dua tahun, usia maksimal 27 tahun, dan diutamakan warga Kaltim.

Sudah tiga hari ia menginap di sebuah hotel berbintang di Samarinda untuk mewawancarai sejumlah calon yang telah menyampaikan surat lamaran. Dari sekitar 44 berkas lamaran yang masuk, menurutnya hanya sembilan saja yang mendekati kualifikasi secara administratif. Itu pun setelah pihaknya sedikit menurunkan grade terutama untuk tingkat pendidikan dan kemampuan berbahasa Inggris. Tapi begitu giliran tes tertulis dan berlanjut wawancara, tak satu pun yang dianggap layak menempati job tersebut.

Mengikuti saran koleganya, ia kemudian mencari lewat Bursa Tenaga Kerja yang kebetulan diadakan oleh sebuah instansi pemerintah. Ternyata hasilnya sama. Karena itu ia harus segera balik ke Jakarta untuk mengumumkan lowongan di sana, sebagaimana dilakukan selama ini oleh manajemennya jika memerlukan tenaga. "Mungkin lain kali kami datang lagi kalau SDM Kaltim sudah lebih baik," tuturnya.

Teman saya itu mengaku, sebelumnya dia sudah bersusah payah meyakinkan bosnya agar mencari tenaga lokal saja. Dia yakinkan bahwa warga Kaltim sebenarnya bisa sehandal tenaga rekrutan dari Jakarta sepanjang diberi kesempatan yang sama. Tenaga lokal juga memiliki kelebihan yang kadang tidak dimiliki tenaga luar dalam pengenalan medan dan kebetahan bertugas di daerah.

Akhirnya, dengan pertimbangan bahwa Kaltim merupakan daerah yang selama ini memberikan kontribusi terbesar bagi perolehan laba perusahaan, sang bos menyetujui dan membuka lowongan itu khusus untuk masyarakat Kaltim. Tapi kesempatan emas itu terbuang percuma.
***

KESAN sumberdaya manusia Kaltim rendah seperti tertangkap oleh teman saya, bukan kali itu saja terdengar. Bahkan hingga kini, setelah lima tahun otonomi daerah (otda) bergulir, setelah dana pembangunan mengucur tiga hingga enam kali lebih besar. Sebelumnya apalagi, ungkapan serupa sudah acap dilontarkan para manajer dari industri-industri besar yang beroperasi di Kaltim. Dengan dalih tidak ada tenaga lokal yang siap pakai pula, maka banyak job strategis yang tersedia di perusahaan- perusahaan besar itu akhirnya diisi oleh tenaga-tenaga dari luar Kaltim.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Kaltim Syafruddin Pernyata, industri-industri besar di Kaltim mestinya tidak berpangku tangan melihat keadaan demikian. Memang sebagian mereka telah memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan dan SDM Kaltim. Yakni dengan menyisihkan sebagian keuntungan tiap tahun untuk beasiswa pelajar dan mahasiswa. Nilai yang dikucurkan kepada puluhan sampai ratusan mahasiswa itu pun mencapai miliaran rupiah.

Mahasiswa menjadi terbantu hingga bisa menyelesaikan kuliah. Uang yang mereka terima sekitar Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta (setahun) sejenak bisa menjadi solusi instan atas berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Diktat dan buku yang mereka pinjam bisa terfotokopi. Rancangan skripsi dan tesis yang sudah lama tertumpuk di meja belajar bisa dilanjutkan. Bahkan ibu kos pun bisa tersenyum lagi karena tunggakan sudah terbayar.

Lewat beasiswa pula, ratusan sarjana bisa dihasilkan. Tapi kenapa ketika tiba giliran para pemberi beasiswa itu mencari sarjana-sarjana siap pakai untuk perusahaannya, selalu kesulitan akibat jarang di antara lulusan itu yang memenuhi kualifikasi yang diinginkan? Seperti dikeluhkan teman saya, ia terpaksa membuka lowongan untuk umum di Jakarta. Job yang sedianya akan diberikan kepada putra Kaltim akhirnya disambar tenaga dari luar Kaltim.

Diakui ada yang belum nyambung antara kebutuhan dunia kerja dengan tenaga yang dihasilkan dunia pendidikan Kaltim. Unmul misalnya, sebagai satu-satunya perguruan tinggi terbesar di Kaltim sejauh ini ternyata masih belum mampu membuka program-program studi yang dibutuhkan oleh industri. Satu- satunya fakultas teknik yang telah dibuka barulah dilpoma teknik pertambangan. Itu pun baru beberapa tahun lalu, menyusul kemudian Fakultas Kedokteran.

Sebaliknya, Unmul belakangan malah lebih bernafsu membuka program-program ekstensi dan magister yang hampir semuanya masuk kategori ilmu-ilmu sosial. Padahal diketahui kebutuhan dunia kerja lebih pada bidang enginering, teknologi informasi, dan sejenisnya.

Namun menurut Syafruddin, persoalan belum nyambungnya dunia pendidikan dengan dunia kerja sebenarnya bisa diatasi kalau para pelaku usaha dan industri besar di Kaltim mau lebih dalam terlibat dalam persoalan pendidikan Kaltim.

"Artinya jangan cuma menebar beasiswa secara umum seperti selama ini. Tapi cari pelajar berbakat, sekolahkan dan kuliahkan mereka di jurusan tertentu yang dibutuhkan industri itu. Dan setelah lulus, ikat mereka dengan kontrak dinas, tentu secara bertahap job-job itu akan bisa diisi oleh putra-putra Kaltim," kata Syafruddin Pernyata.

Cara itu dipandang lebih efektif ketimbang menyalurkan beasiswa secara massal. PT Pupuk Kaltim Tbk misalnya, bisa mencari anak-anak cerdas dan berbakat di sekitar wilayah operasinya di Bontang yang kelak anak itu diharapkan bisa mengisi job-job yang memerlukan keahlian khusus di PT Pupuk Kaltim. Monitor terus perkembangannya. Biayai sekolahnya serta carikan sekolah hingga perguruan tinggi terbaik di Jawa. Dengan cara itu, sesulit apa pun kualifikasi yang diperlukan industri tersebut akan bisa dengan mudah dipenuhi dan diisi oleh putra-putra daerah.

Begitu pula perusahaan besar lainnya seperti PT Kaltim Prima Coal, PT Badak NGL, Pertamina, Total Indonesie, Unocal, Trakindo, United Tractors, PT Kiani Lestari dan banyak perusahaan tambang lain yang selama ini telah mengeruk perut bumi Kaltim, sebenarnya bisa melakukan pola itu. Kalau setiap tahun dam setiap industri bisa memilih dua orang saja, akan ada puluhan putra daerah yang memiliki kecakapan khusus di bidangnya dalam waktu lima atau sepuluh tahun ke depan yang itu mungkin belum tentu bisa dihasilkan melalui pola beasiswa biasa.

Nah, kenapa tidak dimulai dari sekarang? Perusahaan pertambangan minyak PT Total Indonesie yang beroperasi di Kaltim misalnya, telah menerapkan pola itu meski dengan cara agak berbeda. Secara periodik, Total mengundang sejumlah lulusan SLTA berprestasi dari Kaltim untuk dilatih dan dididik menjadi tenaga-tenaga berkeahlian khusus yang setelah lulus kelak akan ditempatkan di tambang- tambang mereka.

Mendengar itu teman saya mengatakan, "Meski akan lebih merepotkan dan perlu perencanaan matang, tapi boleh juga pola itu. Kenapa tidak terpikir dari dulu ya agar kami tidak perlu repot mencari tenaga asal Kaltim," katanya. Saya bilang kepadanya, tidak ada istilah terlambat untuk kebaikan, terlebih itu kepada warga Kaltim yang telah memberikan kontribusi labar besar kepada perusahaan Anda.

Diknas Kaltim sendiri dalam upaya meningkatkan mutu lulusan SMK, kini tengah giat mengirim para pelajar ke luar negeri untuk melakukan magang kerja atau praktek kerja industri. Dalam lawatan ke dua negara tetangga akhir Desember 2005 lalu, berhasil diteken nota kesepahaman penempatan siswa di Malindo Restoran, Kuala Lumpur, Malaysia dan di FSC Search Ltd Singapura. Sebelumnya telah pula dikirim 13 guru ke Australia, dan akan berlanjut pengiriman serupa ke Sabah.[]

Berapa 9 X 7?

BERAPA 9 X 7? Tanya seorang pejabat provinsi dengan iseng. Matanya menunjuk seorang siswi yang berderet bersama puluhan pelajar lain, guru dan warga di tepi jalan desa di pedalaman Kutai Barat. Mereka tengah menyambut rombongan Gubernur Kaltim Suwarna AF yang ketika itu, dua tahun setelah otda, datang dalam rangkaian peninjauan jalan trans Kaltim Poros Tengah.

ACHMAD BINTORO

Panas siang melanda pedalaman. Siswi berkulit putih itu gerah. Kerling matanya nanar mencari sesuatu. Berbeda dengan para penyambut lain yang umumnya bersuka cita sambil melambai-lambaikan lebo (hiasan menjuntai dari rautan kayu yang biasa digunakan warga Dayak untuk menyambut pesta). Dua menit berlalu. Siswi itu masih terdiam.

"46, Pak!" Sebuah jawaban akhirnya terlontar dari bibirnya. Mendengar jawaban itu, seketika raut muka si pejabat berubah. Senyumnya terpotong. Heran dan kekecewaan menyeruak di dadanya. Dia bukan siswi kelas II SD. Gadis itu adalah siswi kelas II SMU di desa itu! Bagaimana mungkin siswi kelas II SMU tidak bisa menjawab perkalian sederhana itu?

Pejabat itu segera menunjuk siswa lain di sebelahnya. Namun hingga giliran siswa yang ketiga, masih tidak satu pun yang mampu menjawab dengan tepat. Sebagian anggota rombongan yang mendengar tanya jawab spontan mengenai perkalian sederhana itu terheran-heran melihat kenyataan tersebut.

Tetapi sebagian lain lebih banyak menunjukkan sikap pemakluman. "Ini kan sekolah di desa terpencil. Jangan disamakan dengan sekolah kota. Lagi pula ini baru awal otda, tunggulah beberapa tahun lagi," ujar pejabat itu. Kelompok ini mafhum melihat rendahnya kualitas siswa di desa itu, karena mereka bersekolah dan hidup di daerah yang semuanya serba sangat terbatas.

Gedung sekolah terbuat dari kayu yang sebagian dindingnya hilang dan atap berlubang. Seorang guru mengajar rangkap di dua kelas yang berbeda. Perpustakaan tidak tersedia sama sekali. Jangankan perpustakaan, buku pegangan untuk kegiatan belajar mengajar saja merupakan buku-buku lama yang di kota sudah tidak dipakai lagi. Malah sebagian besar siswa mengandalkan hanya dengan beberapa buku tulis untuk mencatat semua bidang pelajaran yang diajarkan.
***

KONDISI demikian jamak terlihat di wilayah pedalaman Kaltim. Tapi itu potret dulu, ketika otda baru satu-dua tahun berjalan. Bagaimana setelah lima tahun otda? Apa iya pendidikan Kaltim masih belum bisa berlari kencang? Apa betul di daerah yang kaya raya-- PDRB Kaltim 2005 mencapai Rp 156 triliun atau naik 18,6 persen dibanding tahun sebelumnya -- ini kualitas pendidikannya masih lebih rendah ketimbang di Jawa?
Saya lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu saat berkesempatan ngobrol dengan Kepala Diknas Kaltim Syafruddin Pernyata bersama Kabid Dikmenjur Harimurti Wisnu Sanyoto, dan Kasubid Kurikulum Musyahrim, pekan lalu.

Ketiganya tidak langsung menjawab pertannyaan saya. Sebelum memangku jabatan Kepala Diknas Kaltim, Syafruddin dikenal sebagai wartawan. Ia pernah menjadi redaktur SKM Sampe dan koresponden Harian Angkatan Bersenjata di Samarinda. Ia juga dosen Linguistik di FKIP Unmul dan pernah dua periode menjabat Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim. Siang itu ia mengajak saya untuk mengenali sejumlah fakta pendidikan. Fakta menunjukkan sejumlah siswa dari Kaltim ternyata mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan mengungguli pelajar-pelajar lain dari sekolah atau daerah yang selama ini sudah diakui kualitasnya dalam olimpiade sains.

Machrozi Rizki Fauzi (SD YPPSB 2 Sangatta) misalnya, menempati urutan ke-27 dari 926 siswa seluruh Indonesia yang berupaya merebut posisi 49 besar pada Olimpiade Sains bidang Matematika Tahun 2005, dengan total nilai 52,5. Restiana Ramdani (SD Vidatra Bontang) menempati urutan 48 dari 916 siswa di bidang IPA.

Kaltim juga pernah dibuat bangga oleh prestasi yang dicapai Dimas Yusuf Danuwerda dari SMA 10 Melati Samarinda. Dimas termasuk satu dari enam pelajar yang menjadi duta Indonesia dalam Internastional Mathematics Olympiad (IMO) ke-46 yang digelar di Merida, Yucatan, Meksiko pada 8-19 Juli 2004 lalu. Dimas bersama dua rekannya (Andre Yohanes Wibisono dari SMAK St Louis Surabaya dan Sander Parawira dari SMAK 1 BPK Penabur Jakarta) berhasil meraih medali perunggu dalam kejuaraan yang diikuti 513 orang dari 91 negara itu.

Secara tim (hasil tidak resmi), Indonesia berada di urutan 43 dengan nilai total 70 (rata-rata 11,67 per peserta). Hasil tersebut lebih baik dibandingkan prestasi siswa Belanda, Yunani, Spanyol, Portugal, dan negara-negara Skandinavia (Denmark, Finlandia, Swedia, dan Norwegia). Bahkan diakui masih lebih baik ketimbang beberapa negara yang selama bertahun-tahun sudah memiliki tradisi olimpiade matematika secara mapan yakni Latvia, Lithuania, Estonia, Macedonia, Argentina, Slovenia.

Dan yang pasti, prestasi Dimas, siswa Kaltim, tidak kalah dengan prestasi siswa dari sekolah-sekolah favorit di Tanah Air. Siapa pun yang pernah sekolah di Jogya, tentu akan mengakui kehebatan SMA 3 Kota Gudeg itu, tapi prestasi Dimas dari SMA 10 Samarinda toh malah bisa lebih baik.

SMA ini juga mencatat banyak prestasi lain. Antara lain juara pertama Olympiade Sains dan Matematika Tahun 2003, peringkat pertama nasional perolehan Nilai Ebtanas Murni Tahun 2001/2002, lulusan dengan 90 persen diterima di perguruan tinggi negeri favorit di Indonesia, dan rata-rata 6 persen menembus perguruan tinggi luar negeri favorit di Singapura, Jepang dan Australia. Sehingga tidak berlebihan kalau pengelola sekolah tersebut dalam beberapa tahun ke depan bertekad menjadikan sekolah itu sebagai yang terbaik di Asia Tenggara.
***

SAYA jadi mengerti kalau pelajar seperti Allan Moris, lewat sebuah milis yang saya baca, merasa beruntung pernah bersekolah di SMU 10 Melati Samarinda. Jebolan SMU 10 Samarinda tahun 2002 ini mengatakan, "Saya termasuk beruntung bisa masuk di sekolah terbaik di Kaltim itu. Karena di situlah saya bisa menyadari akan pentingnya sebuah ilmu."

Dikatakan, sebenarnya mutu pendidikan di Kaltim tidak kalah dengan di jawa. "Ini saya rasakan setelah saya kuliah di ITB Jurusan Teknik Geofisika. Saya merasa dapat bersaing dengan teman-teman lain walaupun mereka berasal dari sekolah-sekolah favorit Indonesia," ungkapnya.

Keberuntungan yang sama juga dirasakan Yusfani Ma'ruf. "Sekolah saya sangat mengensankan. Di sanalah saya ditempa.Alhamdulillah saya bisa masuk salah satu universitas favorit Indonesia di Yogyakarta. Saya kira mutu sekolah disamarinda tidak kalah dengan sekolah dijawa," tutur alumni SMU 10 Samarinda asal Tanjung Redeb itu.
Namun Syafruddin juga tidak segen untuk membeber sejumlah potret buram wajah pendidikan Kaltim melalui data statistik. Dari 15.406 ruang kelas SD di Kaltim misalnya, tercatat 2.589 ruang kondisinya rusak ringan, dan 1.460 rusak berat yang hingga kini belum dilakukan upaya perbaikan. Sekitar 7.500 ribu dari 13.758 guru SD juga masih berpendikan di bawah D2. Persoalannya klasik: dana cekak!

Jadi, kata Harimurti, kalau yang dimaksud adalah kualitas pendidikan secara umum, memang Kaltim tertinggal jauh. Tetapi beberapa sekolah ternyata mampu menunjukkan prestasi yang tidak kalah bahkan kadang lebih baik ketimbang sekolah di Jawa. Sebutlah sekolah-sekolah yang dikelola industri-industri besar seperti YPPSB Sangatta, Vidatra Bontang, Pupuk Kaltim Bontang, Patra Darma Balikpapan, juga SD Muhamiyah 1 dan 2 Samarinda, dan SMU 10 Samarinda.

"SDM Kaltim sebenarnya bagus. Asal difasilitasi secara baik," kata Harimurti turut memperjelas jawaban atas pertanyaan saya tadi. Terbukti SMU 10 Melati Samarinda. Dengan fasilitas yang tersedia lengkap, lingkungan yang mendukung, para guru yang pilihan, dan pola pembelajaran berbasis kurikulum yang terpadu, para pelajar di SMU tersebut mampu menunjukkan prestasinya. SMU ini pernah mencapai prestasi UAN tertinggi di Indonesia.

Artinya, ketersediaan sarana yang memadai, guru yang berkualitas, dan lingkungan yang mendukung akan sangat menentukan keberhasilan atau peningkatan mutu pendidikan. Seperti diungkapkan Allan, ia merasa dirinya beruntung bisa bersekolah di SMU 10 Samarinda yang memenuhi ketiga unsur itu. Sehingga meski ia berasal jauh dari Kaltim, ia bukan cuma berhasil masuk ITB tetapi prestasinya juga tidak kalah dengan kawan-kawannya dari sekolah-sekolah favorit di Jawa, saat mengikuti kuliah di Teknik Geodesi.[]

Sekolah Internasional Balikpapan

Pendidikan Kaltim memerlukan dana besar untuk membenahi diri agar dapat melompat dan berlari kencang. Dengan mensinergikan dana Pemprov, Pemkab, Pemkot, dan Pusat, Kaltim sebenarnya bisa melakukan lompatan itu untuk mengejar ketertinggalan selama ini. Ini saatnya untuk memulai, sebelum Kaltim benar-benar kehabisan energi.

ACHMAD BINTORO

DI Balikpapan ada sebuah sekolah internasional. Sekolah ini cukup menonjol. Berdiri permanen di atas lapang luas dengan pemandangan asri di sekeliling dan biru laut di selatan. Semua sarana, laboratorium hingga  prasarana lain tersedia lengkap, termasuk sarana yang diperlukan anak untuk bermacam kegiatan ekstrakurikuler.

Muridnya kebanyakan anak para ekspatriat yang bekerja di sejumlah industri dan tambang di Kaltim. Ada sebagian anak Kaltim. Sekolah ini memiliki jenjang pendidikan prasekolah, dasar hingga menengah. Dipimpin hanya oleh seorang kepala sekolah. Menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Bahasa Indonesia diajarkan sebagai bahasa pilihan, sama dengan bahasa- bahasa asing lainnya.

Yang menarik adalah gurunya. Seorang guru yang semula mengajar di jenjang setingkat SMU, bisa saja dimutasi ke jenjang SMP. Begitu pula guru SD, lumrah dipindah mengajar TK atau sebaliknya. Mereka tidak merasa mengajar di TK menjadi turun gengsi. Mengajar di SMA juga tidak lantas lebih tinggi ketimbang jenjang di bawahnya.

Semua sama, karena gaji dan tunjangan yang diperoleh guru TK sampai SMU di sekolah internasional itu sama. Sehingga mutasi bukan hal yang sulit dilakukan. Berbeda dengan di sekolah kebanyakan di Kaltim dan Tanah Air ini. Mutasi semacam itu  menjadi sangat sulit dilakukan karena adanya perbedaan renumerasi. Seorang guru SMU dipastikan akan merasa jatuh gengsi jika dipindah ke SMP. Sebaliknya, guru SMP akan merasa lebih terhormat mengajar di SMU apalagi bila menjadi dosen perguruan tinggi.

Tapi, maaf, apa yang saya sebutkan itu  hanya sebatas mimpi! Semua mengenai sekolah internasional Balikpapan hanya ada di angan-angan. Saya membayangkan, kalau saja sekolah-sekolah di Kaltim memiliki gedung dan sarana belajar yang selengkap itu, manajemen pengelolaan yang baik dan diasuh pula oleh para guru yang qualified, wow pastilah mutu pendidikan Kaltim tidak kalah dengan daerah lain yang sudah lebih dulu maju. Bukan hal yang mustahil kita akan menyamai bahkan lebih baik dari Jawa.

Sekarang saja, dengan keterbatasan dan kepedulian yang masih kurang dari pemda, tidak sedikit siswa dan sekolah-sekolah di Kaltim yang meraih prestasi tinggi. Siapa mengira bahwa SMK 4 (Perhotelan) Balikpapan mampu menduduki peringkat tiga terbaik nasional. Jakarta sendiri yang diketahui memiliki segalanya, ternyata hanya di peringkat 10. SMK 1 (Otomotif) Balikpapan, juga mampu menjadi nomor empat terbaik nasional.

Tetapi melihat ruwet dan kompleksnya permasalahan pendidikan di Kaltim, saya tahu bukan hal yang mudah untuk mewujudkan kualitas pendidikan dengan standar yang lebih. Bisa mencapai standar yang minimal saja sudah bagus.
***

SAYA agak ternganga ketika Kepala Diknas Kaltim Syafruddin Pernyata, Kabid Dikmenjur Harimurti Wisnu Sanyoto dan Kasubid Kurikulum Musyahrim membeberkan seabrek permasalahan yang harus dibenahi jika Kaltim benar-benar ingin tinggal landas dari ketertinggalannya selama ini.

Pertama, kita harus merehabilitasi ribuan ruang kelas dan gedung SD yang rusak. Ada sekitar 2.589 ruang kelas yang rusak ringan, dan 1.460 ruang rusak berat. Itu baru di tingkat SD. Tapi bangunan SD bagus juga belum menjamin hasil lebih baik kalau kondisi infrastruktur jalan ke desa itu rusak parah.

Harus pula menyediakan sarana pendidikan yang memadai. Mulai dari alat peraga untuk SD hingga laboratorium. Terlebih bagi SMK. Di Kaltim kini tercatat 119 SMK. Dari jumlah itu hanya tujuh saja yang telah berstandar nasional. Ratusan lainnya sangat menyedihkan: tidak memiliki prasarana gedung yang memadai dan tidak memiliki alat praktek. Kualitas macam apa yang bisa diharapkan dari siswa SMK Otomotif misalnya, kalau di sekolahnya tidak tersedia alat praktek berupa mesin mobil. Kualitas lulusan macam apa pula kalau siswa SMK Las tidak memiliki alat praktek las.

Belum lagi bicara soal guru. Sekitar 17.000 (70%) guru SD di Kaltim ternyata berpendikan di bawah Strata Satu. Kalau kemampuan Pemprov Kaltim dalam menyekolahkan mereka hanya 1.000 orang per tahun, berarti perlu waktu 17 tahun untuk menjadikan mereka sarjana, sesuai kualifikasi minimal yang dituntut UU Guru dan Dosen. Dan saya yakin, kita semua tidak akan sabar menunggu selama itu untuk melihat kemajuan pendidikan Kaltim.

Itu baru masalah tingkat pendidikan. Belum lagi soal penyebaran, mutu dan relevansi, pola rekrutmen, penyediaan calon guru, sertifikasi, dan tingkat kesejahteraannya. Artinya, diperlukan dana amat besar untuk membenahi itu semua. Sebab untuk mengejar ketertinggalan, Kaltim tidak cukup hanya dengan berjalan. Kalau hanya pada tataran jalan, maka daerah lain seperti Jawa sudah lebih maju lagi yang akan seterusnya ketinggalan terus.

Kaltim harus berlari kencang dan melakukan lompatan besar. Dan ini saatnya untuk memulai lompatan. Selagi kaya, selagi sumberdaya alam Kaltim masih berlimpah -- yang dengan sendirinya kucuran bagi hasil SDA masih akan besar -- Kaltim harus berani mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk pendidikan.

"Saya sependapat anggaran pendidikan perlu diperbesar. Sebab banyak yang harus kita perbuat. Saya tidak bicara prosentasi dana, melainkan pada apa yang akan kami buat. Ya, mulai dari membangun dan merehabilitasi prasarana sekolah, menyediakan sarana pendidikan, bahan ajar, sampai pada perbaikan kualitas guru hingga peningkatan kesejahteraannya. Kami memiliki peta itu semua, sehingga bukan hal yang sulit bagi kami untuk melakukan sepanjang dananya ada," kata Syafruddin.

Namun disadari, hal itu sulit ditanggung sendiri oleh Pemprov Kaltim. Perlu ada sinergi dengan pemda Tingkat II lain. Seluruh pemkab/pemkot di Kaltim bersama Pemprov dan bantuan dana pusat secara bersinergi harus menanggung dana untuk tercapainya satu tujuan: lompatan pendidikan. Misalnya kalau Pemprov sudah menyediakan dana untuk menguliahkan para guru ke jenjang S1, mestinya pemkab dan pemkot setempat membantu biaya kos mereka dan sebagainya.

Dan yang tak kalah penting adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru. Bagaimana caranya agar mahasiswa-mahasiswa pintar mau kuliah pendidikan untuk kemudian mengabdikan dirinya jadi guru.
***

BERBICARA kesejahteraan guru, saya jadi teringat seseorang bernama Japarin (32). Dia terpaksa meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya diidamkannya sejak kecil karena kesejahteraan guru rendah. Tapi Japarin mungkin tidak akan pernah bisa berlibur ke Singapura, memiliki mobil kijang baru dan bekerja di ruang ber-AC seperti sekarang ini kalau saja masih bertahan menjadi guru. Tujuh tahun lulusan Program Studi Matematika FKIP Unmul ini mengabdikan diri di sejumlah SMP-SMU swasta di Samarinda, tapi tidak satu pun barang berharga dimiliki.

"Ya, apa sih yang bisa kita buat dengan honor mengajar yang cuma Rp 2.000 per jam waktu itu. Boro- boro pergi berlibur dan beli mobil, buat baiki sepeda motor saja tidak bisa. Pokoknya ngenes lah," jelas pria bertubuh tambun itu.

Padahal dia sudah bekerja seharian. Berangkat pagi pulang sore. Dengan alokasi mengajar sekitar 20 jam per minggu, Japarin membawa pulang ke rumah hanya Rp 160.000 per bulan. Kalaupun ditambah uang transpor totalnya tidak pernah genap Rp 200.000. Karena itu, malam hari ia terpaksa mencari tambahan, keliling dari rumah ke rumah memberi les privat pelajaran Matematika, Fisika, dan Biologi. Sebelum tidur, ia masih harus mengoreksi ujian murid-muridnya dan menyiapkan bahan untuk esok hari dengan membuat Satuan Pelajaran.

Pokoknya, jauh sebelum UU Guru dan Dosen menyatakan guru harus bekerja 24 jam sehari, Japarin sudah melakukannya.Toh hasil pengabdian pagi hingga larut malam itu masih belum mampu mencukupi kebutuhan hidup sebulan bersama istri dan seorang anaknya. Merasa tak ada perbaikan kesejahteraan, Japarin akhirnya memutuskan hengkang dari dunia yang sebenarnya sangat ia senangi. Ia banting stir ke bidang asuransi.

Bagaimana dengan guru negeri? Memang relatif lebih baik penghasilannya ketimbang guru swasta tapi tetap saja belum cukup. Sebagai pegawai negeri sipil, mereka hanya menerima tambahan tunjangan fungsional yang besarannya ditentukan berdasar golongan. Golongan III mendapat Rp 206.300 dan IV Rp 262.500.

Berbeda dengan dosen yang tunjangannya relatif lebih besar dan berdasar golongan dan kepangkatan. Golongan IVA pangkat Lektor Kepala menerima Rp 625.000 di luar gaji PNS. Wajar kalau kemudian seorang dosen tidak mau dimutasi menjadi guru. Wajar kalau guru SMU ogah pindah menjadi guru SMP. Mudah-mudahan dengan komitmen semua para pengambil keputusan di level provinsi dan semua Dati II, dunia pendidikan Kaltim di era otda ini bisa mendapat perhatian lebih besar.[]