KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jan 8, 2012

Ulang Tahun Tanpa Rakyat




Gubernur Awang Faroek menari usai apel HUT Pemprov
HARI ini, Senin, 9 Januari 2012, Pemprov Kaltim genap berusia 55 tahun. Pada bulan yang sama, Kota Samarinda juga memperingati ulang tahunnya yang ke-344. Layaknya sebuah ulang tahun, semua pihak mestinya bersuka cita. Apakah publik ikut bersuka cita? Entahlah. Yang pasti saya agak bingung memilih kado apa yang tepat dan patut untuk saya persembahkan kepada pemerintah. Sekedar kado berisi "Ucapan Terimakasih" pun rasanya belum pantas.
ACHMAD BINTORO


Sepanjang Minggu (8/1) kemarin,  dan beberapa hari sebelumnya, saya rajin mengelilingi kota Samarinda. Tujuan saya satu: mencari ada tidaknya penanda atau aksi oleh warga terkait dengan ulang tahun Pemprov Kaltim dan Kota Samarinda. Ya, keduanya merayakan ulang tahun pada bulan yang sama. Mestinya kota ini menjadi lebih meriah oleh suka cita segenap warganya. 

Saya melewati simpang empat Mal Lembuswana. Lalu bergerak menuju Balaikota dan Gubernuran. Saya juga blusukan ke kampus-kampus di Gunung Kelua dan Jalan Juanda. Tapi tidak menemukan sesuatu pun. Semua berjalan datar saja. Tidak ada kemacetan. Tidak ada konsentrasi massa. Jalanan sedikit lengang karena hari libur. Tidak ada demo. 


Tidak terlihat satu pun poster atau spanduk berisi ucapan "Selamat Ulang Tahun." Yang ada hanya poster kecil pada kotak sumbangan untuk Karen. Kota itu dijajakan sejumlah anak muda kepada pengguna jalan. Karen Nafisah, bayi mungil berusia 14 bulan, menderita Atresia Billier alias saluran empedu. Ketiadaan biaya membuatnya gagal menjalani operasi cangkok hati di RSCM Jakarta. 

Kartu Asmara ternyata tidak mampu menuntaskan pengobatan Karen. Saya mengurut dada melihat foto anak itu dengan kondisi perut yang membesar, kulit menghitam dan matanya kekuningan. Tidak adakah lagi yang bisa diperbuat pemprov dan pemkot yang katanya kaya raya ini untuk membantu kesembuhan Karen? 

Simpang empat Mal Lembuswana ini biasa menjadi tempat para aktivis menyuarakan aspirasinya, termasuk ketika memperingati hari jadi. Hari Bumi pada 22 April lalu misalnya, mereka peringati dengan demo. Tak puas cuma berteriak-teriak di simpang empat, massa bergerak menuju  gubernuran. "Jangan jadikan Kaltim sebagai toilet tambang," teriak Azman Aziz dalam orasinya. 


Momen ulang tahun acapkali dijadikan wahana untuk introspeksi dan saling mengingatkan. Koordinator Forum Pelangi ini lantang menyuarakan keprihatinan mereka bersama para aktivis lain seperti Jatam Kaltim, Pokja 30, PMII, Imapa Unmul dan Keuskupan Katolik tentang carut marut pengelolaan tambang batu bara di Kaltim. 

Ribuan izin diberikan. Ribuan lubang digali. Tapi ditinggalkan begitu saja tanpa reklamasi. Banjir sudah terjadi berulang kali dan kondisinya kian parah tapi pejabat Bappeda Samarinda Lutvi Fadli, dalam sebuah diskusi di PPHT Unmul, masih saja bermain kata-kata. Menganggap yang terjadi selama ini bukan banjir, melainkan cuma air yang menggenang.

Tentu, penanda itu tidaklah harus semeriah sambutan warga ibukota tatkala mereka menyambut ulang tahun kotanya, Jakarta. Tapi saya kira bukanlah berlebihan kalau saya berharap di sini sedikitnya ada kemeriahan dengan umbul-umbul, bendera atau kegiatan lain yang bersifat suka cita spontan oleh rakyat. Itu pun tidak terlihat. 

Carolus Tuah, Direktur Pokja 30 Samarinda dan Bambang Prayitno, Direktur Pusat Kajian Kebijakan dan Perencanaan Sosial (PKPS) Kaltim, Minggu (8/1), agak tidak bersemangat ketika saya pancing akan beri kado apa untuk Pemprov Kaltim. 

"Saya akan persembahkan jerit kemarahan rakyat yang menganggur dan butuh pekerjaan. Juga kado tangis warga yang miskin. Teriakan dan makian warga yang bertahun-tahun harus melewati jalan-jalan Trans yang rusak," kata Bambang.

Ia menambahkan dulu, The Three Muskeeters bilang: "Semua untuk Satu, Satu untuk Semua." Atas inspirasi itu, Kaltim yang sekarang berslogan "Membangun Kaltim untuk Semua" harus diubah menjadi "(Semua) Membangun Kaltim untuk Satu."

Maka yang terjadi adalah membangun untuk diri sendiri. Ruang kerja yang sebenarnya masih bagus, masih wah pun tidak merasa sungkan untuk dipoles kembali. Ruang kerja Gubernur dipoles dengan dana miliaran rupiah. Kabarnya mencapai Rp 8 miliar. Setahun berikutnya, giliran ruang kerja Wagub Farid Wadjdy dan Sekprov Irianto Lambrie dengan dana Rp 7,6 miliar. Begitu pula ruang kerja Kepala Bappeda Kaltim Dr Rusmadi, tak luput dipoles.

Tuah saya tanya adakah harapan yang ingin ia sampaikan saat ulang tahun Pemprov? "Ah, capek rasanya berharap terus kepada Pemprov. Sudah tiga tahun warga Kaltim diminta untuk percaya terhadap Pemprov dengan berbagai programnya. Tapi Pemprov gak mau transparan. Nah, ketika diingatkan agar transparan, kok malah marah-marah," jawab Tuah.

Ia lalu mengisahkan harapan menahun warga Kutai Barat, pengalaman pahit ibu dan keluarganya melewati jalan poros tengah Trans Kaltim yang rusak parah. "Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bolak-balik dari kampung ibu saya di pedalaman Kubar ke Samarinda. Juga butuh dana yang tidak sedikit. Bayangkan jalan yang rusak begitu parah di hampir semua titik," ucapnya saat menceritakan pengalaman ibunya saat mencoba merayakan Natal di Samarinda.

Apakah keduanya dan warga lain menganggap ulang tahun ini bukan ulang tahun mereka? Mestinya tak perlu muncul perasaan demikian. Kebahagiaan  gubernur, para pegawai dan pejabat --  pengelola Pemprov Kaltim -- yang tengah merayakan ulang tahun Pemprov Kaltim, mestinya juga menjadi kebahagiaan rakyat. Sebaliknya duka Karen, mestinya pula menjadi duka Gubernur Kaltim dan Walikota Samarinda. 

Terlebih tema ulang tahun kali ini adalah "Kebersamaan Membangun Kaltim untuk Semua" dan "Sukses Prestasi PON XVIII Tahun 2012." Saya kira gubernur benar-benar ingin mengajak seluruh rakyatnya, di kota maupun desa, dan mereka yang ada di pedalaman dan perbatasan, untuk ikut merasakan kebahagiaan ini. 

Tetapi soal rasa memang tidak bisa dipaksakan. Bagaimana mungkin mereka kita suruh memberikan kado yang indah untuk ulang tahun pemprov kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja masih kembang kempis. Jalan yang mereka lewati masih hancur. Masyarakat perbatasan masih saja dalam kondisi terisolir. Bahkan, sekedar kado kecil berisi secarik kertas bertuliskan "Terimakasih Pemprov" pun dianggap masih terlalu mahal.(*)