Saturday, July 4, 2020

Aku Rela Menjadi Gelap

Ketika semua punya lampu dan merasa berlampu, mestinya tak ada lagi ruas gelap. Tapi entah kenapa di lorong yang dikilati banyak cahaya itu justru aku tersesat. Semua terlihat sama di mataku!

Kadang benderang menyilaukan. Sakit! Cahaya dengan spektrum warnanya yang dulu biasa menari2 lincah indah di depanku, kali ini kasat. Kemanakah ia sembunyi. Panjang pendek gelombangnya pun tak mampu lagi kutangkap dengan mata batinku.

Andaikan aku bisa menjadi gelap, sungguh aku rela. Segelap dark matter yang terkucil, menyendiri di alam semesta. Aku rela.

Setidaknya itu membuatku mampu kembali melihat diriku sendiri. Kamu pun bisa jelas mengenaliku. Aku rela. Meski kau sebut dengan sumpah serapah dan "kasihan" karena telah terjerumus dalam kegelapan maha dalam.

Air Hitam, 3 Juli 2020

Tuesday, June 9, 2020

Sulitnya Memahami Aturan, Baiknya Kutidur Aja


ATURAN dibuat dengan deskripsi yang kadang  menjauhkan dari akal sehat.

"Ah, kamu aja kali lagi gak sehat. Selalu saja salah dalam melihat sesuatu. Lakas benerin tuh kacamata," sanggah seorang kawan.

Boleh jadi akalku yang kurang sehat. Maka, tak mampu lagi memahami beberapa aturan canggih yang ada.

Entahlah!!!! Mungkin saja. Aku khawatir, silogisme macam itu, hanaya akan membuatku makin terpuruk dalam kekacauan berpikir.

Kadang memang aku merasakan otakku yang tuha ini mulai hang. Prosesor yang tertanam di dalam kepalaku keluaran generasi X. Itu pun di sepertiga periode awal. Diperlukan up grade yang terus menerus untuk bisa mengikuti perkembangan high-end. Orang sudah bicara dengan generasi Intel Core i9-9980 XE yang melaju cepat, eh aku masih berkutat di prosesor generasi II.

Bagi kalian orang hukum, aturan-aturan itu (yang nanti aku berikan contoh kasusnya di bawah) boleh jadi sudah familiar. Tidak bagiku. Aku termasuk kelompok kebanyakan di negeri ini. Awam. Pun bukan orang yang beruntung bisa duduk di kelas hukum.

Repotnya, hukum tidak memandang orang berdasar tingkat pemahamannya. Aku paham atau tidak, gak urus. Masa bodoh. Semua sama derajatnya di mata hukum. Equalty before the law. Barangkali ini yang dimaksud hukum sebagai panglima.

Baik, aku akan mulai dengan cerita pertama. Rizky Prasetya mengeluhkan aturan IndiHome yang dinilainya tidak masuk akal. Gara-garanya, pengguna internet diwajibkan bayar biaya sewa modem. Sepintas sepele banget persoalan ini. Begitu sewa dibayar, akan beres bukan?

Tetapi, bukan itu masalah pokoknya. Sekali lagi ini mengenai aturan yang dibuat. Yakni aturan yang membuat konsumen suka tidak suka -- mau tak mau -- harus menerima. Kecuali ia memutuskan tidak jadi menggunakan jasa provider tersebut.

"Kalau kita pasang IndiHome, kita bakal diberi modem sama router dari pihak Telkom. Keliatannya sih gratis, tapi sebenarnya kita nyewa modem dan router tersebut. Biaya sewa modem tersebut paling murah adalah 80 ribu rupiah per bulan dan biayanya jadi satu dengan biaya sewa. Katakanlah kita bayar 300 ribu rupiah per bulan, ya itu udah sama biaya sewa modem."

Ini serius, tulisnya di mojok.co, 8 Juni 2020.

Harga router tersebut menurutnya, nggak mahal. Empat kali bayar sewa aja udah dapet itu modem, Bosku. Dan kita harus bayar biaya sewa tersebut selama memakai jasa IndiHome.

"Kalau kamu pake jasa provider plat merah tersebut selama setahun, berarti kamu udah keluar 960 ribu rupiah hanya untuk sewa modem. Berlangganan selama bertahun-tahun? Ya itung sendiri."

Bedanya lanjut dia, mungkin adalah perangkat bawaan waktu pasang IndiHome itu isinya aplikasi-aplikasi dari IndiHome.

"Tapi kalau cuma itu, ya sama aja. Aplikasi kan tinggal diunduh apa dipasang. Di- setting sebentar ya kelar itu. Macam yang paham dunia gituan cuma orang-orang plat merah aja apa."

Bagaimana kalau pengguna sudah punya router sendiri? Bisa enggak pakai modem sendiri alias hanya minta jaringan IndiHome saja?

 Tidak bisa!!! IndiHome menegaskan, semuanya sudah jadi satu. Namanya bundling.

"Kalau pun kita memaksa untuk pakai modem sendiri, ujungnya tetap kena sewa. Saya nggak terima penjelasannya, kalau memang kita punya modem sendiri, terus biaya sewa buat apaan coba? Mbaknya tetep kekeh menjelaskan kalau peraturannya kita tetap bayar sewa."

Penjelasan mbaknya membuat kita tidak punya opsi lain untuk membebaskan diri dari biaya sewa. Nggak ada opsi buyout modem, nggak ada opsi pakai modem sendiri. Selama pakai jasa Indihome, ya bakal kena sewa.

Panjang lebar Rizki melanjutkan kedongkolannya itu.

Menurutnya, kita baru bisa bebas biaya sewa kalau nggak pakai Indihome, ya iyalah. Tapi ndladuk-nya lagi, perangkat yang kita sewa hingga habis uang nggak sedikit itu ujungnya kudu dibalikin.

"Kurang mangkelin apa coba? Modem harga 200-400 ribu dipaksa nyewa sampe abis jutaan, kalau kelar kudu balikin."

IndiHome, pikir dia, mestinya kudu ngasih opsi beli modem ke mereka, selain ngasih opsi sewa. Setidaknya itu bisa mengurangi beban biaya yang harus ditanggung pelanggan.

"Maksud saya, apa ya nggak cukup status mereka sebagai penguasa jaringan di Indonesia sampe kudu bebanin biaya sewa semahal itu.

***

Add caption
CERITA lain datang dari seorang kawan. Rumahnya kebobolan pada sore yang cerah, pekan lalu. Warga sekitar heboh dan cemas mengingat ini bukan kasus pencurian pertama di komplek ini. Dan tak pernah bisa tertangkap pelakunya.

Sore itu wajah pelaku terekam kamera CCTV warga. Mereka berempat dengan dua sepeda motor. Tak cuma wajah. Plat nomor kendaraan dan jenis motornya pun jelas. Setelah nomor itu di-tracking dengan data base pembayar pajak kendaraan bermotor, muncullah nama dan alamat.

Korban bersama pengurus warga kemudian melaporkan kejadian itu kepada kantor pihak berwenang. Respon mereka cepat.  Malam itu juga dilakukan olah TKP.

Semua bukti rekaman CCTV diserahkan. Ibarat kata, tinggal ciduk saja.

Sehari berlalu. Dua tiga hari masih tanpa kabar penangkapan. Bahkan, lima hari kemudian juga disampaikan kepada petugas rekaman CCTV terbaru hasil tracing warga. Guna memperkuat. Pelaku dengan jumlah, topi dan bodi yang mirip dengan pelaku sebelumnya, kembali beraksi. Kali ini menggasak sepeda lipat di rumah komplek tetangga.

Seminggu kemudian, akhirnya ada kabar. Petugas mengaku tidak bisa melakukan upaya paksa terduga pelaku tanpa melalui prosedur penyidikan yang benar. Artinya, bukti-bukti rekaman CCTV itu tidak serta merta bisa dijadikan alat untuk menciduk dan menginterogasi terduga pelaku.

Apa maksudnya?

Usut punya usut, kawan saya bercerita, terlebih dulu ia harus menyertakan bukti kepemilikan barang yang hilang. Misalnya, kwitansi pembelian. Kalau tak ada, cukuplah kotak barangnya. Apesnya, laptop yang digondol pencuri itu adalah barang lama. Ia tak tahu lagi harus mencari di mana. Seisi rumah sudah diubek-ubek masih gak ketemu.

"Tak ada (kwitansi mauoun kotak). Tercecer entah di mana. Saya rela saja kalau pun barang itu gak kembali. Yang penting, pelakunya kali ini bisa dibekuk. Setidaknya ada efek jera, agar kapok masuk ke rumah-rumah warga," katanya.

Harapan korban dan juga warga perumahan di awal kejadian, bahwa pelaku kali ini akan lebih gampang dicari dan ditangkap, seketika sirna. Rasa cemas kawanan pencuri akan beraksi lagi masih terus membayangi. Sumpah serapah terhadap pelaku menggema.

Suka tidak suka, kami harus paham dengan kesulitan yang dialami petugas. Meski itu membuat kami makin tak paham.

***

INGATANKU melayang pada kisah Sarimin. Kakek berusia 68 tahun itu pernah ditahan di Lapas Kelas IIA Pematangsiantar selama dua bulan empat hari karena memungut getah karet seberat 1,9 kg seharga Rp 17.000. Getah itu milik perusahaan perkebunan..

Hasil penjualan getah itu ia gunakan untuk membeli rokok. Hakim kemudian menjatuhkan hukuman penjara dua bulan empat hari -- hingga membuatnya langsung menghirup udara bebas -- dengan UU No 39/2014 tentang perkebunan. Sumiati, istri Samirin, langsung menangis begitu mendengar vonis itu. Nenek 12 cucu itu menyeka air matanya dengan kerudung yang ia kenakan.

Kisah itu mestinya hanya terjadi di dunia sinetron. Saat seperti ini, satu-satunya pemahaman yang lebih mudah untuk kupahami adalah kebenaran saran seorang kawan mengenai nikmatnya tidur.

"Buat saja tidur, nanti kamu akan paham dengan sendirinya," sarannya.

Baikkah. Aku akan tidur. Setidaknya itu bisa membuatku berhenti berpikir. 🥱🥱🥱

Air Hitam, 9 Juni 2020

Sumber: 
Gambar 1: https://mojok.co/rzp/ulasan/pojokan/kita-kudu-bayar-biaya-sewa-modem-indihome-dan-itu-nggak-masuk-akal/
Gambar 2: WhatsApp Group
Gambar 3:  https://twitter.com/GiseliSamarinda/status/1269548940082307072?s=20


Sunday, May 31, 2020

Bedah Provinsi Kalzam

by eltoro ben

ENAM bulan penuh, Gubernur Provinsi Kalzam Dino Besuo bersama seluruh kepala dinasnya diungsikan ke Luanda. Luanda adalah ibukota Angola, negeri kaya minyak di Afrika. 

Survei terbaru Mercer menempatkan Luanda sebagai kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Mengalahkan Tokyo dan New York yang selama ini selalu dianggap sebagai dua kota paling mahal.


Sebagaimana terlihat di layar televisi, mereka menempati sebuah royal penthouse suite hotel termewah di area Rua da Missao. Hotel ini acap menjadi langganan para peraup bonanza dolar dari kemelimpahruahan minyak seperti bos BP, Exxon, dan bangsawan-bangsawan Timur Tengah. 


Semua aktivitas terkait pekerjaan ditiadakan. Sampai sepekan jelang pendaftaran Pilgub Kalzam. Mereka hanya boleh bersenang-senang.

Dino dipersilakan menikmati gaya hidup mewah layaknya kelompok jet set dengan menikmati semua fasilitas yang ada di hotel tersebut. Bebas pula berjemur di pantai. Atau berbelanja sepuas mungkin tanpa khawatir bakal tekor. Semuanya tanpa bayar alias gratis.

"Helmi Yahbara yang menanggung semua biayanya," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Kalzam Samaro. 

Helmi adalah produser reality show "Bedah Gubuk" di sebuah stasiun televisi nasional. Acara yang dibawakan Ratna Lamaro itu banyak membuat haru pemirsa. Biasanya, pemilik gubuk yang jadi target bedah akan diungsikan dulu satu malam di sebuah hotel bintang lima seraya memberi kesempatan ke mereka untuk menikmati gaya hidup orang kaya.

Haru dan geli beraduk menyaksikan ekspresi orang-orang miskin itu. Mereka akan merasa seperti di alam mimpi. Bayangkan saja, gubuk yang semula reyot. Bocor kala hujan. Yang menjadi tempat berteduh selama berpuluh tahun, tiba-tiba berubah jadi rumah layak huni. Bersih. Cantik. Berjendela. Lengkap dengan perabotnya. Tentu itu jauh melampaui ekspektasi mereka.

Kini Helmi mencoba menaikkan misi ke level yang lebih tinggi: "Bedah Provinsi". Dan karena itu diungsikannya pun lebih lama, dua minggu.


Tapi saya tidak tahu kenapa Luanda yang dipilih sebagai tempat untuk mengungsikan Dino Besuo. Kenapa bukan New York misalnya, seperti saat mengungsikan Presiden SBK dan para menteri kabinetnya dalam "Bedah Republik".

New York adalah simbol kemewahan kota dunia. Hampir semua yang menjadi impian banyak orang tersedia di sana. Ben, seorang kawan, yang menonton acara itu hingga tuntas, mengisahkan dengan apik bagaimana berseri-serinya wajah SBK selama di kota itu. 


Mereka menikmati kemewahan yang jarang mereka nikmati tanpa harus dituduh bermewah-mewah atau korupsi. Mereka dibolehkan rame-rame naik kapal pesiar mengitari Lady Liberty. Belanja parfum termahal di Macy's atau Nordstrom. Nonton teater di Broadway. Menikmati konser di Carnegie Hall.



"Gile,man. Mereka sampai masuk teater Broadway," kata Ben menceritakan kepada saya. 



Ben wajar terperanjat begitu. Ia pernah hampir mati berdiri gegara mengetahui harga tiket masuk yang selangit. Sekali masuk US$ 115. Itu pun duduk masih agak jauh dari panggung di tribun atas. Mau lebih dekat, ya harus merogoh saku lebih dalam lagi. Bisa mencapai USS 190. Alamak!!!



Tapi kapan lagi ada kesempatan?



Sudah di New York, rugi tak nonton opera di Broadway. Didorong oleh rasa penasaran yang berlebih, Ben dengan sangat terpaksa menyisihkan uang sakunya untuk masuk di Majestic Theatre. Rasa penasaran yang bergolak itu nyaris sama ketika ia tiba di Washington DC. Sudah di Wasington DC, kenapa tak sekalian ke New York. 



Maka, usai membereskan liputan dan melakukan serangkaian wawancara dengan sejumlah tribunal ICSID seperti Prof Gabrielle di komplek besar gedung World Bank, Ben pun segera kabur menuju tempat mangkalnya Amtrak di Union Station. 



Barangkali Helmi menganggap Kalzam memiliki kemiripan dengan Luanda. Sama-sama kaya minyak. Sama-sama mempertontonkan ironi. Kemiskinan berjalan beriring di sepanjang jalur pipa gas. 



Kalzam memiliki biaya hdup paling mahal di Republik Bananasia. Provinsi ini juga memiliki kota dengan pendapatan perkapita tertinggi di Republik. Dan Kalzam adalah adalah provinsi yang memberikan upah terbesar kedua secara nasional kepada buruh.


***

SEPERTI saat menyaksikan bedah-bedah di episode sebelumnya. Kali ini pemirsa juga dibuat geli dan haru menyaksikan ekspresi gubernur yang kaget saat mengetahui harga sepiring quick lunch yang ia santap mencapai US$ 57.92. 


Ia kembali terbelalak oleh mahalnya harga karcis bioskop di kawasan pusat perbelanjaan di Shinny,US$ 33. Sejatinya Dino merasa sayang. masak sih sekedar makan siang dan nonton saja kok harus merogoh kocek sebanyak itu. Tapi masa bodoh. Toh Helmi yang menanggung semua. Ia membatin.

Dino melihat seorang pekerja konstruksi santai saja mengeluarkan US$ 292 dolar hanya untuk sebuah jeans Pepe. Itu tiga kali lebih mahal dari harga di Sogo Kalzam. Saat yang sama, di kejauhan, pandangannya sekilas membentur gubuk-gubuk kota. Inilah wajah kemelaratan kota Luanda. Orang-orang berlindung di bawah kardus dan papan kayu. Keluarga masak di atas api terbuka, mengais-ngais sampah di jalanan.


Ingatannya melayang pada buku "Escaping The Resource Curse". Berulangkali ia membaca buku yang disunting Joseph E Stiglitz, pemenang nobel Ekonomi, itu bahwa anggapan adanya kutukan sumberdaya alam tersebut salah besar!

Tentu adegan yang jauh lebih mengharukan adalah saat menyaksikan mimik gubernur dari sebuah provinsi miskin -- tapi kaya -- yang malam itu menerima laporan dari anak buahnya. 

"Mana mungkin..." 

Proyek jalan tol Balikmar-Samamar yang ia gagas dan sempat macet itu kini telah rampung. Bahkan tembus pula sampai Long Mimar. Itu artinya, tinggal selemparan batu sampai di jalan arteri Negara Bagian Sabah, Malaysia.

"Mustahil...!!!" Ia mencoba membantah sendiri keraguannya.


Dino kembali terbelalak. Ia mencermati foto demi foto kondisi jalan poros selatan, tengah dan utara. Serta seluruh jalan dalam kota. Antarkecamatan, dan antarlorong yang sudah terhubung mulus.



Tak ada lagi jalan berlubang. Apalagi rusak. Kubangan kerbau di sepanjang jalan Palarang yang sempat membuatnya gundah karena tak kunjung tuntas perbaikannya, padahal Pilgub sudah kian dekat, ternyata telah berganti menjadi hamparan beton lebar.

Sekali lagi, ia ingin tidak percaya ketika mendapat laporan bahwa anggaran pendidikan sudah naik menjadi 20 persen. Sesuatu yang selama ini sulit ia wujudkan. Gubernur merangkul Kepala Dinas Pendidikan. Matanya berkaca-kaca. Laporan lain menyebut bahwa program yang ia canangkan untuk membebaskan 10 persoalan Kalzam pun sudah berhasil diwujudkan.


Dari hotel di Luanda, gubernur menyaksikan siaran televisi satelit tentang pembangunan di Kalzam. Jembatan Kembar sudah rampung. Flyover pun terbangun bersamaan di beberapa tempat. Ia amat bersyukur. "Alhamdulilah, tak sampai jadi bahan ejekan sebagai jembatan abunawas kedua," batinnya lagi.



Kemacetan sirna. Kawasan seberang telah berkembang pesat. Tepian sungai di depan gubernuran telah disulap menjadi sangat apik. Lengkap dengan jetty futuristik tempat kapal-kapal pesiar naik turunkan wisatawan. Pedestrian lebar 15 meter dengan spot-spot yang yang membuat sejumlah band indie hingga musisi underground nyaman berekspresi.


Tak ada lagi banjir. Gedung convention hall yang ia impikan  sudah terbangun megah. Jauh melebihi harapannya, belasan proyek multiyears sudah rampung lebih cepat. Bandara baru. Di sisi timurwilayah sudah berlabuh kapal-kapal kargo superbesar. Mereka mengangkut bouksit, sawit, batu bara, emas dan semua kekayaan alam Kaltim.  Yang lebih mencengangkan Dino adalah saat menyaksikan pesawat-pesawat berlogo Kalzam Air sudah terbang di udara. Melayani rute ke pedalaman-perbatasan bahkan ke sejumlah kota besar di Tanah Air.

Kameramen televisi lalu menyorot sepanjang SKM. Tidak ada lagi pemukiman di sepanjang bantaran sungau itu. Kiri kanan diturap. Kawasan itu berkembang menjadi pusat rekreasi dan kuliner ala sungai di Singapura. Inilah Clarck Quay ala Kalzam. 


"Let's meet at the lobby to go to lunch," ajak seseorang kepada temannya dalam tayangan itu. Orang lainnya nyeletuk: Basi, tau! Tempat favorit untuk rendezvous sekarang ya di SKM. Keduanya setuju, dan bersama menuju SKM.


Kendaraan kini bisa melaju nyaman di sepanjang jalan Lintas Kalzam. Warga pedalaman berlibur ke Samamar dan Balikmar menggunakan kendaraan sendiri jamak ditemui. Malah warga perbatasan seperti Long Bamar, Apo Kayang yang selama puluhan tahun hidup terisolasi, kini dengan mudahnya terbang ke Samama. Kapan pun mereka mau.  Tanpa harus anre berminggu-minggu atau khawatir terserobot kursinya oleh pengusaha sarang walet.

"Sungguh ini melampaui mimpi-mimpi saya. Terimakasih Helmi, Anda telah mewujudkan semua mimpi dan harapan saya. Sesuatu yang sangat sulit dan tak mungkin diwujudkan pemerintahan saya," kata Dino terbata-bata.

Ia merangkul erat Helmi. Tanpa sadar air matanya membahasi baju bagian punggung sang produser.

"Kalau begitu kepulangan kami tolong dipercepat. Tidak perlu lagi menunggu dekat pendaftaran Pilgub. Hari ini juga kami minta bisa dipulangkan, agar persiapan ke Pilgub Kalzam bisa lebih matang," mohon Dino.


Mengutip kata-kata George Soros, Dino menegaskan kutukan sumberdaya alam memang jadi momok paling utama di negara dan daerah-daerah "kaya" sepertiKalzam. Tetapi, kutukan itu bukan tak bisa disembuhkan. 



"Dengan apa? Obatnya, pilih saya lagi!" tandas Dino, tanpa ragu.



"Transparansi pak. Pertanggungjawaban yang lebih besar, itulah obatnya," celetuk Helmi. Entah, mungkin Dino tak mendengarnya. Ia sudah keburu berlari masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya menuju Gulfstrem GE650, milik Helmi, yang sudah menunggu di bandara. Siap mengantarnya untuk pulang.

Helmi tersenyum. Ia memaklumi keinginan Dino yang ingin melanjutkan mimpi-mimpinya untuk lima tahun berikutnya.(*)


Air Hitam, 31 Mei 2020

Wednesday, May 27, 2020

Menjadi Orang Jawa


Ingin juga aku menjadi orang Jawa. Sekali saja. Setahun sekali. Terbenam di dlm riuh mudik.

"Tahulah ikam, Presiden tuh pusing ngurusi ikam2 ini. Tiap tahun minta  pulang. Pulang. Mudik saja yg ada di otak kalian. Bukankah lebih baik kalau pitis yg tak sedikit itu ikam tabung saja biar lakas nanti beisi rumah sendiri, iya kalo," kata acil Nain, tetangga petak sebelah menasihatiku.

Acil memang begitu. Bukan acil Nain namanya kalau tidak bermamai. Setiap pagi. Di kedai La Joni. Sambil nyeruput kopi. Tapi tekadku sudah bulat. Tak bisa lagi dibuat kotak.

Aku rela.
Tak apa harus bermandi peluh. Berjejal di lautan tubuh. Jangan kau tanya gimana bau yang terhirup.

Tak apa mendaki2 tangga Tidar. Terus merangsek. Pantang mundur. Sesekali sikut kanan. Sikut kiri.
Tidur pun kudu belipat kaki di depan kamar mandi.

Tak apa berhimpit di lorong-lorong tirus para calo. Mengular di antara roda gila truk hingga pick up. Dari satu setamplat ke setamplat lain.

Aku mencoba duduk tenang dalam oplet. Tapi ayam-ayam kampung di sekelilingku tak mau tenang. Mereka pasang muka garang. Masam. Mungkin marah karena tak rela berbagi tempat denganku. Jengkel karena kian terjepit.
Berkokok kini kian menjadi. Seakan tak mau henti memakiku. Mengolokku!

"Peduli amat," batinku.

Yang penting pak sopir membolehkanku nebeng ke kampung. Tersisa cuma seperak di kantong celana. Tak apa. Tas kecilku telah berpindah tangan.

"Copet! Copeeet. Tolonggg!"

Tapi teriakan keras -- terkeras dalam hidupku -- seperti tertelan oleh angin segara. Memantul di antara gendang kupingku sendiri. Tak satu pun orang bergerak mengejar.

Aku rela...
Akhirnya kubisa pulang. Kebahagiaan ini tiada tara. Sulit kulukiskan dengan kata2.

Air Hitam, 25 Juni 2018


Monday, May 11, 2020

Menyuap Tuhan


by eltoro ben

Maafkan aku
Yang selalu berharap pahalaMu
Bertransaksi
Berhitung
Berapa banyak sudah amalku
Berapa dalam sujudku
Berapa sering puasaku
Berapa kali hajiku

Dalam sedekah pun kadang aku memberikanMu uang palsu
Dalam Dhuha pun kumerasa menjadi hamba yang shaleh
Agar engkau mau guyurkanku rezeki dari segala penjuru
Dari langit
Dari dalam perut bumi
Dari tempat jauh
Dari yang halal

Maafkan aku
Yang selalu malas untuk berkaca
Cerminku kian kabur
Terlalu berkabut
Entah di mana wajah asliku bersembunyi
Tak nampak lagi kilatan rasa syukurku

Ya, aku mengaku
Memang pernah aku berupaya menyogokMu
Dengan sujudku
Dengan recehanku
Dengan gamisku
Dengan kebodohanku
Dengan kesombonganku

Yang terlambat menyadari kebesaranMu yang melebihi kosmos
Tak mampu aku menyogokMu!


Air Hitam, 18 Ramadhan 1441 Hijriah

Tuesday, May 5, 2020

Pagebluk


by eltoro ben


KABAR terbaru kematian pagi ini benar-benar membuat gempar. Menyebar cepat seantero kota. Menggedor pintu-pintu rumah dan menyusup kelambu bak tamu tak diundang.

Orang-orang terbangun. Resah mereka tentang maut yang terus merenggut kian mengaduk. Bahkan telah menyalip news update virus Corona yang sudah merampas beratus nyawa.

"Siapa lagi yang mati, kang?"

Geragapan sang istri bertanya sambil mengucek-ucek mata. Bathil Sudiro tak menjawab. Ia sudah keburu keluar meninggalkan rumah. Blak! Bunyi pintu papan yang terbanting angin menggetarkan dinding rumahnya.

Sudah berbulan Bathil membenam diri di dalam rumah. Menghindar dari ancaman serangan Corona. Ia tinggal berhimpit di sebuah petakan papan kontrakan sempit di pemukiman padat bersama istri dan tiga anaknya. Pengap. Sesak. Rumah lama yang lebih besar tak secuil pun tersisa. Disita negara. Rumah itu dulu dipinjamkan oeh Juragan Jabir, bukan hadiah, ketika ia masih mengajari anak-anaknya mengaji.

Tak pernah kabar kematian membuatnya begitu gelisah. Sekali pun itu akibat Corona yang ia dengar setiap hari. Bukan karena ia berani menghadapi kematian. Semua mahluk pasti mati. Tapi kematian yang bagaimana.

Kabar kematian kali ini beda. Rasa ingin tahunya terbetot. Memaksanya keluar dari rumah -- yang sekaligus jadi bunker pertahanan bagi seluruh anggota keluarganya, seperti rumah-rumah lainnya saat pagebluk ini.

Hanya saja, bunker miliknya tidak bertumpuk sembako. Ia tahu tak akan mungkin mampu menyetok bahan pangan dan aneka buah di kulkas seperti dilakukan Abah Haji Sawer, pemilik puluhan rumah sewaan termasuk petakan yang kini ia tempati. Abah Haji tinggal di rumah magrongnya di muara lorong.

Baginya, bisa mendapat sekantong beras saja sudah sangat alhamdulilah. Tak sampai hati ia melihat istrinya yang kadang menitikkan air mata diam-diam, sendirian di pawon, sambil mengais-ngais sejumput beras yang masih tersisa di dalam gentong.

Beras itu pemberian Abah Haji setelah ia bantu mengangkatkan berkarung beras, tepung, minyak goreng, telur, susu, vitamin serta lainnya ke dalam rumah besarnya. Ia memborongnya di sebuah toko grosir yang malam itu karyawannya terpaksa buka hingga tengah malam. Melayani pengunjung yang membludak, sehari sebelum pemerintah memberlakukan karantina wilayah.

Buat persediaan selama #dirumahaja, katanya.

***


BATHIL ngebut dengan motornya. Kencangnya angin pantai utara dingin menembus jaket tebal yang dipakainya. Terasa menusuk-tusuk tulang, Bau ikan pindang menyengat hidungnya saat ia berbelok melewati boom di pasar atom. Sudah separuh jalan.

Beberapa menit kemudian indra penciumannya menangkap aroma lain yang lebih menenangkan. Harum hio dan dupa menebar dari kelenteng tua Kwan Sing Bio yang ia lintasi. Melintasi tempat patung Dewa Kwan setinggi 31 meter yang berdiri gagah dengan golok besar, bermuka merah, siap menghalau setiap musuh dari segara lor. Itulah patung dewa masyarakat Tionghoa tertinggi se-Asia Tenggara.

Bathil tak bisa melihat wujudnya lagi. Patung yang sempat diresmikan, dirobohkan dengan pelintiran kebencian orang. Yang tersisa tinggal kelenteg tua. Klenteng ini dibangun tahun 1773. Lurus lagi sekitar dua kilometer arah setamplat sampailah ia ke tempat yang dituju.

Banyak orang sudah berkerumun. Lalu lalang truk gandeng dan pick up pembawa ikan ikut melambat, ingin tahu apa yang terjadi. Dengan tubuh kerempengnya dan sedikit ndusel, Bathil berhasil menjejalkan diri di dalam kerumunan tersebut.

Bau amis lagi busuk dari kontainer sampah di tengah kerumunan melayang-layang laksana aroma sirep. Bebas terbawa angin. Pekat menyengat. Memabokkan siapa pun di sekitarnya. Kantong-kantong kresek berisi makanan bekas campur bangkai tikus berceceran di jalan. Tak termuat lagi oleh kontainer yang sudah menggunung oleh tumpukan sampah warga. Tapi orang tak peduli.

Semakin berduyun orang datang. Seiring menyingsingnya fajar yang cahayanya memerah. Menerang melintang di horizon timur.

Ah, masa bodoh dengan masker. Peduli setan jaga jarak, physical distancing atau apa pun namanya. Mereka pikir, inilah saatnya untuk melepas penat dan kebosanan. Dua bulan orang-orang berdiam di rumah, dan sejauh itu tak seorang pun yang berani memastikan kapan pagebluk akan berakhir. Kematian demi kematian tetap saja terjadi. Tak kunjung melandai.

Entah mengapa kematian akibat Corona yang jumlahnya jauh lebih banyak itu tak lagi dirasakan sebagai tragedi. Tak lagi menggetarkan. Juru bicara mengumumkan kabar kematian pun layaknya merilis deret angka statistik. Tanpa air mata. Tanpa duka. Tanpa sahabat dan tetangga mendekat untuk takziah. Manusia-manusia mati tak lebih bilangan biner.

Bathil merasakan itu.

“Tak salah. Ini memang Juragan Jabir," gumamnya.

Meski sudah sekuat hati menerima kabar yang sudah berhembus kencang sejak dinihari di grup-grup WA, tak urung tubuhnya terjengkang begitu mendapati kebenaran kabar itu. Jasad juragan Jabir ia llihat bersimbah darah. Kepalanya terkeluar dari dalam karung goni yang membungkusnya. Tergolek persis di samping bak sampah.

Tak sulit orang mengenalinya. Wajah Juragan Jabir terpampang di mana-mana. Di hampir semua baliho, poster dan spanduk di kota ini. Mudah pula bagi Bathil memastikan jasad tersebut. Juragan Jabir memiliki dua gigi seri bagian atas bersepuh emas.

"Ini mayat ketujuhbelas yang didor dalam tiga pekan terakhir di kota ini. Entah siapa lagi yang akan jadi korban besok," celetuk seseorang.

Perut Bathil mendadak mulas. Serasa mual. Buru-buru ia menyibak keluar dari kerumunan, dan huekkk...! Tumpah seluruh nasi dan ikan kering yang ia santap tadi malam.

Riuh rendah orang bergunjing atas apa yang terjadi.

“Calon Walikota didor!” Teriak seseorang kepada sejumlah sopir yang melongok-longok dari balik setirnya. Jalan pos daendels itu macet. Orang-orang tergencat.

“Jabir mampus! Wis modarrr! Ben kapok.” Teriak lagi yang lain.

Bathil merasakan tubuhnya lunglai. Tak mampu lagi ia mencatat di benaknya ekspresi orang per orang atas kematian itu.

***

SEPERTI mayat-mayat sebelumnya, mayat Juragan Jabir juga ditemukan teronggok persis di samping kontainer sampah di pinggir jalan. Ia terbuang layaknya barang yang tak lagi terpakai. Seperti sampah. Dan memang benar-benar tercampak di antara tumpukan kantong sampah warga yang berserak.

Terbungkus dalam glangsing hitam dengan sejumlah luka tembak di sekujur tubuh. Beberapa mayat, – termasuk yang satu ini, terbungkus dalam kadut berbahan tali rami. Mereka yang terbungkus glangsing dikenali sebagai tukang bikin onar. Sampah masyarakat.

Ada brandalan pasar tua. Kemana pun selalu membawa golok kesayangannya. Dililitkan ke dalam sabuk hitam lebar bak pendekar. Ia ditakuti. Makan di mana pun tak pernah bayar. Pemilik warung biasanya malah menambahkan sebungkus rokok sukun. Tentu dengan terbungkuk-bungkuk. Sebab bisa sewaktu-waktu mukanya melayang. Menampar orang.

Kojek, jawara dan preman di terminal ini yang bertubuh gempal penuh tato saja enggan berselisih. Begitu pula centeng andalannya Singkek Liem, segan menghadapinya. Ia disebut-sebut punya ilmu kebal. Tapi, pekan lalu, jasadnya teringkuk kaku dalam glangsing di samping bak sampah. Enam kilometer tenggara pusat kota. Lima peluru tajam menghujani dadanya yang bidang. Ia korban keempat belas.

Korban umumnya memang para tukang begal, bajing loncat, dan tukang menyatroni rumah yang tak jarang membunuh keji para korbannya. Mereka kerap bolak-balik masuk menjara. Sudah dibebaskan  malah mengulang. Baru saja sepekan pembebasan mereka -- bersamaan dengan pembebasan 36.000 napi lain seantero negeri, banyak warga yang lapor kehilangan motor. Korban jambret, kerampokan toko dan rumah mereka. Bahkan ada yang jadi korban pemerkosaan.

Para napi itu dikeluarkan dari penjara agar pemerintah tak perlu lagi memberi makan. Itu artinya, kata pejabat, bisa menghemat uang negara triliunan rupiah. Dalih agar tak terpapar virus Corona bukanlah yang utama.

Beberapa orang itu ketangkap lagi. Tapi lebih banyak kabur. Menghilang jauh di luar kota. Mungkin di hutan.

Meski dikritik habis oleh para aktivis HAM, banyak orang lega dengan aksi dar-der-dor ini. Angka kejahatan langsung anjlok.

Akan tetapi, penemuan jasad kali ini beda.

Banyak orang mengenalnya. Banyak pula yang tak pernah menduga kematian tragis itu. Sebagian orang menganggap ia bukan bandit. Ia adalah orang yang memiliki pengaruh kuat terhadap kekuasaan. Tajir melintir. Jadi ketua partai. Sebagian lainnya berpendapat Juragan Jabir sebenarnya adalah bandit. Pernah dijebloskan ke penjara saat masih aktif menjadi anggota dewan. Saat itu ia terlibat kasus korupsi ratusan miliar proyek jalan, dan makelari beberapa izin tambang.

Divonis tiga tahun. Pernah pula bikin heboh di penjara. Televisi menayangkan sel kamarnya yang telah disulap jadi kamar mewah. Dua sel dijadikan satu dengan wallpaper, springbed, kamar mandi shower, toilet duduk, televise, dan seperangkat laptop. Tiga orang sipir berikut kepala penjara terkena getahnya. Mereka dihukum dan dicopot dari jabatannya.

Tapi itu peristiwa lama. Beberapa tahun silam. Jabir sudah bebas. Orang-orang sudah melupakan kasusnya. Ia disebut-sebut telah jadi sinterklas. Royal kepada siapa saja. Terlebih kepada orang-orang yang dianggap sejalan dengan visi-misinya. Ia akhirnya terpilih kembali menjadi anggota dewan pusat pada pemilihan legislatif setahun lalu.

Inilah demokrasi. Dan atas nama demokrasi pula, tahun ini Juragan Jabir mendaftar sebagai balon Walikota. Jabir disebut-sebut sebagai kandidat terkuat mengingat kuatnya fulus, jaringan, dan tentu saja dukungan rakyat.

Dua hari kemarin, berturut-turut, aksi dar-der-dor juga menimpa dua orang mantan koruptor. Seorang diantaranya bahkan baru tiga bulan lalu menghirup udara bebas menyusul dimenangkannya kasasinya. Ia sempat divonis bersalah atas pengurusan jual beli perkaradi tingkat kasasi. Sedang satunya lagi terlibat korupsi sejumlah proyek bebas, dan menjaani bebeas bersyarat.

Warga tak tahu siapa yang melakukannya. Tak pernah ada jawaban tuntas dari aparat keamanan, karena selalu dibilang masih dalam penyelidikan. Dandim dan Kapolres kompak menjawab bahwa tak ada perintah tembak di tempat.

Apakah itu berarti penembak misterius beraksi kembali? Tetapi, dugaan ini pun dibantah. Boleh jadi, yang membunuh para bandit itu adalah kalangan mereka sendiri.

“Orang seperti mereka kan tidak hidup sendiri. Mereka umumnya punya komplotan, ada saingan. Bisa jadi yang mati-mati itu gara-gara masalah pembagian rezeki antarkomplotan. Saling balas antargeng,” jelas seorang pejabat kepolisian dalam siaran di televisi.

Sejak kematian Juragan Jabir, orang mempergunjingkannya terus tiada putus. Tak lagi tentang Corona. Ini lebih dari pagebluk, kata mereka. Siapa lagi setelah Jabir?

***

“MALAM ini juga kita harus ambil sikap. Kita harus minta Pak Bathil mundur!” Tegas Haji Amang. Matanya menyorot tajam wajah Bathil.

“Tenang, tenang Pak Haji. Saya minta kita berpikir jernih, tidak emosi. Bagaimana pun Pak Bathil ini sudah berjasa terhadap anak-anak kita. Dialah yang turut mengajari ngaji di masjid ini,” kata Haji Rozak, ketua pengurus masjid.

“Justru karena itulah Pak Haji kita harus keluarkan dia. Apa jadinya masa depan anak-anak kita nanti, kalau pikirannya sampai teracuni oleh orang macam dia. Hancur! Kita bisa kok mencarikan guru ngaji yang kebih baik, bacaannya jauh lebih bagus, dan lebih soleh tentunya.” Timpal yang lain.

“Malu kita pak. Kita kan wajib menjaga nama baik pengurus. Menjaga marwah masjid. Apa nanti kata orang kalau ini kita biarkan.”

Sembilan pengurus Masjid Al Maruf Kampung Tegal Rejo duduk bersila dalam sebuah lingkaran di teras samping masjid. Malam, sehabis Isya, mereka menggelar rapat mendadak. Bathil, salah satu pengurus, diam tertunduk. Ia tak tahu harus berkata apa. Hampir semua pengurus mendesaknya untuk mundur.

Rapat ini berawal dari penemuan jasad Juragan Jabir. Tersebar desas-desus yang menguak masa lalu Jabir. Kuat dugaan kematiannya akibat kasus korupsi yang pernah dilakukannya. Terkuak pula riwayat, Bathil pernah bekerja di rumah Juragan Jabir. Lebih dari itu, dan ini yang bikin pengurus merasa perlu rapat mendadak -- ia pernah dibui 1,8 tahun karena terlibat korupsi bersama sang juragan.

Dua jam berlalu. Sebagaian besar pengurus tetap pada sikapnya. Meminta Bathil mundur. Ketua Masjid bertanya,”Bagaimana Pak? Setidaknya kami ingin dengar langsung dari Pak Bathil.”

Bathil masih terdiam. Tak juga memberikan jawaban apapun. Pengurus akhirnya beranjak berdiri untuk membubarkan diri.

“Sebentar bapak-bapak," Terucap akhirnya dari bibir Bathil.

"Ya, mau jelaskan?"

"Besok pagi, pak. InsyaAllah besok pagi saya akan menyampaikan surat pengunduran diri. Mohon dimaafkan salah dan khilaf kami, Pak Haji,” kata Bathil.

Mendengar itu orang-orang melanjutkan berdiri. Namun merasa lebih lega telah menyampaikan maksud untuk meminta Bathil mundur. Kembali ke rumah masing-masing dengan senyum lebar.

Bathil mendekati marbot. Ia tahu marbot sejak awal rapat tidak berkomentar apa pun terhadap masalah ini. Ia meminta izin dibukakan pintu masjid untuk itikaf.

Usai menjalankan salat, Bathil duduk iftisory. Wajahnya tertunduk dalam menghadap sajadah. Diam. Berjam-jam. Pikirannya melintas ruang dan waktu. Pada wajah anak-anak dan istrinya di rumah. Pada wajah Juragan Jabir yang bersimbah darah. Dan pada rapat barusan. Terdengar kembali desakan-desakan nyaring yang memintanya mundur dari kepengurusan.

“Sungguh hamba berserah diri kepadaMu. Engkau maha besar, maha pengampun, ampuni dosa-dosa hamba, ya Allah,” Bathil manangis dalam doa. Air matanya deras membasahi sarung.

Seperti baru kemarin, terlintas jelas dalam ingatannya fragmen-fragmen yang membuatnya digelandang KPK beberapa tahun lalu. Sesuatu yang sebenarnya ingin ia lupakan. Ia didakwa terlibat dalam konspirasi menampung hasil korupsi Juragan Jabir. Di rekeningnya, menurut dakwaan jaksa, tercatat aliran dana senilai total Rp 32 miliar.

Meski sudah ia jelaskan bahwa dirinya tak pernah memegang buku tabungan dan ATM itu, hakim tetap tidak percaya. Serupiah pun tak pernah ia nikmati. Seberapa banyak uang segitu, juga tak pernah ia mampu membayangkan. Hakim menilai dirinya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan maksud menguntungkan diri sendiri.

Bathil teringat pernah diberi uang Rp 500 ribu oleh juragannya untuk membuat rekening bank atas nama dirinya. Ia menurut saja. Begitu jadi, buku rekening berikut ATM itu kemudian diminta oleh Juragan. Selanjutnya untuk apa, ia tak pernah tahu. Ia tak mau tahu atau bertanya. Untuk apa, toh uang itu bukan milik saya, begitu ia berpikir saat itu.

Seminggu kemudian, Juragan Jabir meminjamkannya sebuah rumah besar yang baru ia beli. Dengan alasan rumah itu akan rusak kalau dibiarkan kosong, ia akhirnya menerima tawaran itu. Ia bersyukur tidak lagi diribetkan dengan urusan tagihan uang kontrakan rumah.

Waktu terus berjalan. Ia masih mengajari anak-anak juragan ngaji. Belakangan baru ia tahu, rumah dan rekening itu terkait dengan hasil korupsi yang dilakukan juragan. Teringat itu semua makin deras air matanya keluar.

“Ampuni, ampuni hamba ya Allah yang selama ini masih bodoh menerjemahkan petunjukMu.”

Malam kian larut. Selarut-larutnya. Suara adzan subuh berkumandang. Jamaah masjid Al Maruf bergegas. Di antaranya para pengurus masjid yang semalam menyidangkannya. Sekilas mereka melihat Bathil masih duduk tasyahud awal. Seorang jamaah mengumandangkan iqamah. Namun Bathil masih dalam posisinya.

Beberapa orang yang satu shaf dengannya mencoba memanggil. “Pak Bathil, pak. Bangun, pak.”

Mereka pikir Bathil tertidur. Begitu pula pikir marbot yang menoleh ke belakang sebelum memimpin salat subuh. Kasihan, ia pasti kecapekan memikirkan rapat tadi malam. Ditambah lagi semalaman itikaf, tentu menguras energinya. Tangan kanannya lalu menjawil pundak Bathil

Subhahanallah! Jamaah seketika beteriak. Tertegun melihat apa yang terjadi. Tubuh yang dikira tertidur itu mendadak ambruk ke depan. Tersujud! Sejurus kemudian jamaah di sekitarnya bergegas memegangnya. Tubuh Bathil lalu terguling ke samping.(*)

Air Hitam, 6 Mei 2020

Thursday, April 16, 2020

Siapkah Aku

by eltoro ben



Selalu kamu tanya itu
Di sini
Di antara gundukan tanah kuburan
Di antara goresan nama di kayu nisan
Di antara duka karib dan tetangga
Di antara komat-kamit tahlil dan doa

Selalu kamu tanya itu
Sudah siapkah aku
Ya, selalu kamu tanya itu
Entah kali ini yang keberapa
Kamu tahu aku tak mampu
menjawabnya
Terlalu sulit itu bagiku
Dengan kebodohanku
Dengan amarahku
Dengan kesombonganku
Dengan kedengkianku
Dengan ketamakanku
Dengan kekikiranku

Selalu kamu tanya itu
Ya, mungkin ini yang terakhir
kamu bertanya kesiapanku
Kamu tahu aku tak pernah siap
menjawabnya
Andaikan ketidaksiapanku ini bisa membuatmu ridha
memahami ayat-ayatmu
mengendalikan nafsuku
Sungguh aku tak peduli
mau masuk neraka
atau surga

Air Hitam, 15 April 2020

Image credit: Snapwire

Thursday, October 10, 2019

Hai Wakilku, Belajarlah Mendengar


SEORANG POLITIKUS yang baru dilantik menjadi anggota sebuah lembaga perwakilan rakyat duduk santai bersama istrinya. "Sayang, kamu harus menyampaikan ucapan selamat kepadaku, karena aku kini telah resmi menjadi anggota legislatif."

"Kamu sekarang tidak berbohong lagi kan?" Respon sang istri. Ia hafal betul tabiat sang suami selama ini.

"Hehehe...Aku kan sekarang sudah dilantik, jadi tak perlu membohongi orang lagi, sayang," katanya dengan senyum melebar, dagunya terangkat, seakan telah memenangkan sesuatu.

Satire itu beredar luas. Dari mulut ke mulut. Entah siapa yang memulai. Mungkin sekedar omong klobot di warung jenggo. Pun sambil nonton breaking news soal revisi UU KPK. Tapi, narasi itu punya konteks yang valid mengenai persepsi orang terhadap politikus di Senayan.

Seperti tadi malam, ya tadi malam, Rabu (9/10/2019), dua jam mata saya hampir tak berkedip dari layar televisi menyimak perdebatan di Mata Najwa. Masih soal revisi UU KPK. Kali ini bertajuk "Ragu-ragu Perppu KPK".


Tiga orang anggota DPR RI sengaja didudukkan di kanan Nana -- begitu tuan rumah Mata Najwa, Najwa Quraish Shihab, biasa disapa. Mereka adalah Johnny G Plate dari Nasdem, Arteria Dahlan dari PDI Perjuangan, dan Supratman Andi Agtas (Gerindra). 


Di sebelah kirinya juga duduk tiga orang. Hanya saja berbeda kapasitas. Ada Guru Besar UI Emil Salim, Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Padang Feri Amsari. Dua akademisi ini diundang Mata Najwa karena sebelumnya, Kamis (26/9/2019), bersama sejumlah tokoh lainnya, dimintai pendapat oleh Presiden Jokowi untuk cari solusi atas polemik revisi tersebut. Satunya lagi adalah Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan.

Saya tidak mengenal mereka secara pribadi. Kalau pun tahu sedikit lebih karena pemberitaan selama ini. Tetapi, tempat mereka duduk, entah kebetulan atau tidak, memang menunjukkan pro dan kontra terhadap revisi UU KPK, yang lalu berlanjut pada sikap mendorong dan tidak mendorong perlunya presiden mengeluarkan Perppu. 

Sehingga tampak sekali bahwa tiga orang yang duduk di sebelah kanan Nana seperti menggambarkan para anggota dewan yang pro revisi. Dan karena itu mereka selalu mengingatkan presiden untuk tidak mengeluarkan Perppu UU KPK. Saya sebut para anggota dewan karena kali ini kenyataannya seluruh fraksi sangat kompak. Malah partai yang diidentikan dalam koalisi partai pendukung pemerintah pun justru tampak garang dan bernafsu untuk melemahkan KPK.


Saya rakyat biasa. Seperti kebanyakan orang. Awam hukum. Tetapi, bukan berarti saya tidak tertarik pada KPK. Dan saya menangkap kesan revisi yang mereka lakukan itu bukannya untuk memperkuat, melainkan justru melemahkan KPK.


Kesan itu saya tangkap pada media mainstream yang ramai memberitakan kontroversi revisi UU No 30 Tahun 2002. Saya terus mengikuti isu itu, termasuk talkshow di televisi yang menghadirkan sejumlah pakar dan orang-orang yang berkompeten. Sedikit banyak akhirnya saya jadi tahu apa saja draft pasal yang dinilai melemahkan.


Mulai proses pembahasan yang ngebut lalu mengesahkannya di last minute, tanda tangan penolakan oleh ribuan dosen (termasuk guru besar) lintas universitas, hingga gelombang unjukrasa mahasiswa di depan gedung Senayan dan berbagai kota besar terhadap revisi itu.  Tentu saja termasuk  talkshow  tadi malam.


Bukan saja menjadi tahu materi kontroversi, saya juga bisa melihat bagaimana cara wakil rakyat kita itu bersikap terhadap masalah itu. Arteria Dahlan misalnya, agak menyita perhatian saya. Muda (44), energik, dan berpendidikan. Berwawasan luas. Selain menyelesaikan S1 dan S2 Fakultas Hukum UI, ia juga menamatkan S1 Teknik Elektro Universitas Trisakti.


Tetapi, bukan soal itu yang menyita perhatian saya. Melainkan cara dia berdebat dan mendebat Emil Salim, Feri Amsari, dan Djayadi Hanan. Saya cuma bisa mengelus dada. Usai nonton acara itu, saya kemudian mencoba memahami keadaan. 


Menjadi Wakil Rakyat memang tak mudah. Sehingga mungkin ada yang merasa telah mendapatkan kehormatan yang luar biasa saat berhasil memenangkan diri sebagai wakil rakyat di dapilnya. Duduk di kursi kehormatan itu. Namun lebih tak mudah lagi menjadi rendah hati. 


Saat awal reformasi, saya pernah berharap memiliki sosok wakil rakyat yang benar-benar terhormat. Ia bersahaja. Kapabel. Tak mudah ikut arus. Dalam bahasa agama kita menyebutnya sidik, amanah, fathanah, dan tablik. 


Hingga kini pun saya masih berharap. Pintar bagus. Namun jika merasa paling pintar, paling jago dan merasa paling benar? Orang tua bahari berkata, kalau pun kamu pintar, tak usahlah kamu perlihatkan sama orang. Kalau pun kamu ahli tahajud, tak perlu kamu tunjukkan kepada orang lain. Cukup orang paham dari perbuatan dan lakumu.

Pandai berdebat, bersilat lidah, it's ok. Itulah memang modal seorang wakil rakyat. Tetapi, alangkah baiknya kalau juga mau mendengar. Mendengar suara hati. Mendengar suara rakyat. Ya, belajarlah mendengar, wakilku. Itu saja!



ACHMAD BINTORO


Credit photo:
Instagram/NajwaShihab


Monday, October 7, 2019

Beralih Profesi di Ibu Kota Negara


MUNGKIN SAYA perlu beralih profesi. Bertangan dingin seperti taipan Eka Tipta Widjaja yang mengelola Hotel Grand Hyatt di MH Thamrin Jakarta lewat Sinar Mas Group miliknya. Atau sehangat jabat tangan Sukamdani Sahid Gitosardjono, yang hijrah dari seorang pamong praja kecamatan di Sukoharjo menjadi pendiri Hotel Grand Sahid di Jl Sudirman Jakarta dan 13 hotel lainnya di Indonesia.

Ya, menjadi pengusaha hotel. Bukan hotel melati. Bukan pula hotel kebanyakan. Tapi, hotel besar.

Tentu tidak harus semegah dan semewah hotel-hotel luxury di Dubai, Hongkong atau Amerika seperti The Venetian Resort di Las Vegas Strip, Nevada -- tempat saya pernah enam hari menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke arah tenggara menyusuri highway sepanjang 500 km menuju Arizona. Tak pula harus segede First World Hotel di Dataran Tinggi Genting, Malaysia dengan 7.351 kamarnya. Cukuplah kalau itu menjadi salah satu yang temegah dan terbesar di Indonesia, syukur bisa se-Asia, lengkap dengan fasilitas meeting incentive converence exhibition berkelas dunia.

Mimpi kamu! Tegur seorang kawan dengan ketawa saat saya sampaikan hal ini. Tiap hari ia melihat saya masih harus memancal motor butut antar anak ke SD Negeri. Jadi, aneh saja ketika tiba-tiba mendengar lompatan rencana saya itu. Dia tidak keliru. Kali ini saya memang bermimpi.

Ceritanya begini. Saya melihat bagaimana kerepotan yang dialami penyelenggara setiap kali harus menggelar event besar di Balikpapan. Sebenarnya tak besar-besar amat. Hanya sebuah talkshow  Kesiapan Kaltim sebagai Ibu Kota Negara. Peserta sebagian besar dari Jakarta. Esoknya berkunjung ke calon ibu kota negara baru di Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara. Sekembali dari sana, berlanjut Dialog Nasional Membahas Rancang Bangun Ibu Kota Negara, Rabu (2/9/2019).

Seperti biasa, acara ini diinsiasi Bappenas RI. Seorang wartawan senior nyeletuk, kalau ada menteri paling disenangi Presiden Jokowi saat ini, guna membahas rencana pemindahan ibu kota negara, salah satunya adalah Bambang Brodjonegoro. Ia Menteri PPN/Kepala Bappenas RI yang smart. Guru besar yang pernah studi di University of Illinois AS ini sebelumnya menjabat Menteri Keuangan (2014-2016). Dialah sang konduktor pemindahan ini, yang secara intensif kajiannya sudah dimulai sejak dua tahun lalu.


Bambang memboyong sejumlah koleganya ke Balikpapan. Kepala BPN/Menteri Agraria Tata Ruang Sofyan Djalil, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, hingga pihak Kementerian LH. Sudah tentu hadir tuan rumah Gubernur Kaltim Isran Noor, dan Bupati PPU Abdul Gafur Mas'ud. Walikota Balikpapan Rizal Effendi turut hadir. Meski mengeluh tidak pernah dilibatkan membahas pemindahan ibu kota negara ini, Rizal menyatakan siap menjadikan kotanya sebagai penyangga.

Saya tak melihat Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah hadir di ballroom Novotel. Kemana dia?
Bappenas kabarnya sudah melayangkan undangan. Rupanya Edi tidak bisa datang. Ia sudah memiliki jadwal untuk membuka MTQ di Kecamatan Tabang,  dan kemudian mewakilkannya kepada Kepala Bappeda Kukar.

Dialog kali ini melibatkan beberapa kementerian dan pemda. Ratusan tamu dari ibu kota hadir. Bisa dimengerti kalau hotel-hotel berbintang di Balikpapan umumnya kebanjiran pengunjung. Novotel dan Grand Senyiur misalnya fully booked sejak Senin. Saya beruntung masih dapat kamar bagus di Blue Sky. Ini semata karena kebaikan seorang kawan di gubernuran.

Saya sehotel bersama Sayid Alwy Alaydrus. Ia sesepuh jurnalis Kaltim, pendiri SKM Mimbar Masyarakat Samarinda -- tempat Dahlan Iskan pertama kali melabuhkan diri menjadi wartawan. Selebihnya merupakan tamu dari Jakarta. Tak sedikit yang terpaksa berpencar di hotel-hotel sekitarnya. Hanya beberapa jam sebelumnya, di hotel ini juga, Gubernur Isran dan Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK menyambut rombongan para menteri negara tetangga sebelah, Sabah, yang dipimpin Ketua Menteri Sabah Yang Amat Berhormat Datuk Seri Panglima Haji Mohammad Shefie Bin Haji Apdal.

Bisa dibayangkan bagaimana akan lebih repotnya mereka saat ibu kota negara sudah harus dipindah ke Kaltim. Presiden menargetkan tahun depan pembangunannya bakal dimulai, dan paling lambat tahun 2024 sudah harus pindah. Itu artinya, Istana Presiden berikut gedung-gedung lembaga tinggi negara dan kementerian yang dibangun di ibu kota negara baru, termasuk gedung DPR/MPR/DPD RI sudah harus diisi.

Di Samboja atau di Sepaku? Sejauh ini pemerintah belum mengumumkan pilihan titik koordinatnya. Isran pun mengunci rapat saat beberapa kali ditanya wartawan asing yang sengaja mewawancarai di ruang kerjanya.

"I will not inform you about that for the real coordinate. That is my agreement with my president," tegas Isran ketika dibujuk Raheela Mahumed, wartawan Al Jazeera. Ia sengaja terbang dari Doha, Qatar untuk melihat kondisi calon ibu kota negara.

Pada konferensi pers beberapa waktu lalu, Jokowi hanya bilang pindah ke Kaltim, calonnya berada di dua kabupaten, Kukar dan PPU.

Tetapi saya akhirnya menjadi mafhum, ketika panitia mengarahkan kunjungan lapangan hanya pada satu titik yakni di Sepaku. Tidak berlanjut ke Samboja di Kukar. Agaknya, pilihan sudah ditetapkan, meski belum diumumkan resmi. Puluhan longboat disiapkan di Pelabuhan Semayang Balikpapan untuk mengangkut rombongan yang ingin melihat langsung kondisi titik calon ibu kota negara itu ke arah barat laut.

Mungkin ini sinyal bahwa titik pembangunan Istana Presiden berikut kementerian, lembaga-lembaga negara akan berada di Sepaku. Boleh jadi.

Yang pasti, saat perpindahan itu terjadi, akan ada sekitar 800.000 ASN (termasuk personil TNI/Polri) yang harus ikut boyongan. Ditambah dengan keluarganya, setidaknya ada 1,5 juta jiwa. Balikpapan  akan menjadi daerah penyangga utama. Keluar masuk ibu kota negara akan melalui kota ini karena di sini terletak bandara internasional.

Itulah kemudian kenapa saya ingin menjadi pengusaha hotel. Pasar jelas. Peluang terbuka. Akan ada banyak kementerian dan lembaga tinggi negara di ibu kota negara.

Istana Presiden dan kantor-kantor mereka boleh saja di Sepaku, di IKN baru. Tetapi, Bagaimana pun mereka tetap akan perlu hotel-hotel berkelas untuk mewadahi seabrek kegiatan seperti seminar, rapat koordinasi, eksibisi, focus group discussion, sosialisasi, bimtek, dan semacamnya. Kadang pula harus menggelar even nasional, bahkan internasional.

Jadi, terlebih dulu saya akan mencari lahan strategis di Balikpapan. Lalu saya bangun hotel besar dan mewah. Sekelas Four Season, Borobudur, Mulia atau Ritz Cartlon bolehlah. Namun saya ingin lebih besar dari hotel-hotel itu. Ada penthouse di rooftop dan president suite-nya tentu, yang bisa menjadi tempat rehat nyaman bagi orang-orang kaya baru, atau bagi pemimpin negeri lain yang datang mempererat hubungan bilateral, multilateral.

Saya akan hire orang-orang profesional di bidangnya. Ambil manajer andal dengan list pengalaman segudang. Para pelanggan hotel akan saya manjakan lidah mereka dengan masakan dari chef-chef terkenal. Kalau pun Jean Goerges enggan saya bajak dari hotelnya, The Mark Hotel New York -- 15 menit timur laut dari markas besar harian New York Time, saya pikir masih ada chef lain peraih bintang Michelin seperti Giuseppe Lanotti, yang mungkin mau saya ajak.

Jangan harap bisa menjadi excetive chef di hotel berbintang papan atas jika Anda bukan orang Swiss, Perancis, Italia, Belgia atau Jerman. Begitu ungkapan yang sering saya dengar. Tidak dipungkiri sejauh ini mostly executive pastry chef adalah orang bule. Masih ada sedikit racism sehingga orang Asia, apalagi Indonesia, umumnya sulit menembus jajaran itu. Perlu saya tegaskan bahwa itu tidak akan berlaku dalam kebijakan hotel saya. Sepanjang jago, dari mana pun Anda, akan kami terima dengan senang hati.

Bahkan, saya akan bujuk chef Budi Setiyono untuk pulang ke Tanah Air dan berkarir di hotel mewah yang saya bangun di Balikpapan. Ia tak kalah kesohor dengan mereka. Sudah melanglang benua dari satu hotel ke hotel mewah lainnya di Texas, Kanada hingga Karibia. Saat ini ia menjadi Executive Pastry Chef di Waldorf Astoria Hotel & Resort, salah satu hotel mewah di kawasan Palm Jumeirah, Dubai. Ini merupakan hotel papan atas di bawah jaringan kelompok Hilton.

Dengan menjadi pengusaha, saya akan memberikan kontribusi kepada pemerintah untuk mengurangi pengangguran. Saya juga akan turut mempercepat pertumbuhan ekonomi Kaltim. Saat ini ekonomi Kaltim nyaris stagnan, hanya sekitar 2,7 persen. Paling rendah dibanding daerah lain di Indonesia.

Bambang Brodjonegoro mengatakan, pertumbuhan rendah itu terjadi karena Kaltim selama ini selalu menumpukan diri pada eksploitasi kekayaan sumberdaya alam. Mengekspor semua barang mentah itu ke luar. Tapi begitu ekonomi global limbung, harga anjlok, efeknya seketika menimpa Kaltim. Ia berharap provinsi ini bisa belajar dari pengalaman tersebut dan segera melakukan diversifikasi.

Hadirnya IKN sudah pasti akan membantu percepatan peningkatan ekonominya. Dalam kalkulasinya, kata Bambang, pertumbuhan ekonomi Kaltim akan melonjak menjadi 8-9 persen. Itu akan terjadi selama masa konstruksi dan operasi. Akan ada uang bergulir sangat besar, Rp 466 triliun selama masa pembangunan dan pemindahan IKN. Sebuah angka yang tidak kecil yang tentu bakal memberikan damak ekonomi positif bagi berkembangnya sektor jasa.

Sebagian dana itu sudah akan mulai bergulir pada semester dua tahun 2020. Jokowi minta bergerak cepat, bisa rampung dalam lima tahun.

Sudah ada contohnya. Brazil misalnya, hanya perlu waktu lima tahun untuk memindahkan ibu kota negaranya dari Rio de Janeiro ke Brazilia. Hampir mirip bahkan kondisinya. Brazil memindahkannya dari kawasan pantai jauh ke dalam belantara Amazon. Indonesia memindahkannya dari Jakarta, ke Kalimantan. Sebuah pulau terbesar ketiga dunia yang selama ini diidentikkan sebagai paru-paru dunia, sehingga mendapat julukan Jamrud Khatulistiwa.

"Yang pasti akan ada kontraktor, sub kontraktor dan pekerjanya. Nah, hendaknya oppurtinity ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Apakah Kaltim akan menjadi kontraktornya, sub kontraktor atau hanya pekerjanya?" tutur Bambang.

Itu semua, menurutnya, sangat tergantung bagaimana kesiapan Kaltim. Penyiapan itu harus dimulai dari sekarang. Jangan nanti mengeluh dan merasa Kaltim hanya menjadi penonton. Mene=geluhkan pekerjanya kebanyakan dari Jawa. Kok Jawa lagi yang datang padahal mayoritas penduduk Kaltim suku Jawa.

"Janga ada kesan itu. Ini harus dinetralkan. Harus benar-benar disiapkan dan dipastikan bahwa tenaga kerja yang dilibatkan adalah mereka yang memiliki ketrampilan, pun pengusahanya," kata Menteri PPN.

Dengan peluang besar seperti itu, tidak ada salahnya kalau saya perlu pindah jalur. Pindah profesi jadi pengusaha. Biarlah kawan-kawan lain yang berebut kue jasa untuk membangun infrastruktur di lokasi IKN. Bagi saya, cukuplah kalau bisa bergelut di bidang ini, menangkap peluang yang ada, tanam duit di bisnis perhotelan ini.

"Hei, bangun! Bangun! Sudah selesai nih."

Teriakan seseorang seketika membangunkan saya dari mimpi. Astaga, rupanya saya tertidur selama dialog. Ballroom tinggal beberapa orang. Narasumber sudah bubar. Para peserta pun sudah kembali ke hotel masing-masing.

Berjalan perlahan, saya meninggalkan Novotel sambil mencoba mengingat-ingat kembali apa yang telah saya mimpikan tadi. Alamak ternyata... Saya tersenyum pahit mengingatnya. Balik menuju Blue Sky, saya pun melanjutkan mimpi.

ACHMAD BINTORO

Credit photos
1. Bapenas RU
2. Fachmi Rachman/TribunKaltim.co

Thursday, September 12, 2019

Assalamualaikum Pak Erte




KUNCINYA SEDERHANA saja. Saya tidak pernah membawa masalah pekerjaan ke rumah. Sehingga saya tidak terbebani oleh hal-hal yang tidak perlu. Saya menjadi bisa tidur lebih cepat  dan pulas,  lalu nanti bangun lagi  jam tiga untuk tahajud.

Saya masih mengingat pesan di atas. Pesan itu disampaikan Pak Haji Santo – begitu Susanto Asmoro Dewo biasa disapa – saat menjawab pertanyaan saya tentang tips kebugarannya, Minggu (7/7/2019). Pagi itu saya duduk bersebelahan dengannya. Bersila, sambil kami menyantap sarapan yang tersaji.

Dua bulan kemudian, Rabu (11/9/2019) malam, saya kembali melihatnya.  Kali ini ia jadi pusat perhatian. Berpuluh pasang mata yang merapat di Warung Ayam Geprek Pojokan, menatapnya. Dari ujung rambut (gak terlihat karena bersongkok) hingga mata kaki.

Warung ini sejatinya sebuah bangunan berlantai dua, berupa rumah yang cukup besar dan megah. Oleh pemiliknya, Pak Agung Sukaca, rumah itu dijadikan sekaligus tempat usaha. Bermacam menu makanan dan minuman tersedia. Menu andalannya adalah Ayam Geprek. Banyak anak sekolah melangganinya, mampir terutama saat rehat siang.  

Bisa dibayangkan penuh sesaknya. Hanya sekitar 100 meter berdiri sekolah favorit, SDIT-SMPIT Cordova. Di depan sekolah itu ada SMPN1 dan SMAN 1 Samarinda. Mungkin karena lokasinya di pojokan jalan blok perumahan, ia lalu menamakan warungnya dengan sebutan “Warung Pojokan”.

“Inilah calon Ketua RT 20,” kata Haji Musadi membuka pertemuan dengan memperkenalkan Pak Santo kepada kami. Ia mengaku didaulat menjadi ketua tim sukses.

Tentu saja tidak sulit bagi Pak Musadi untuk mempromosikan calonnya. Ia sudah terbiasa menggalang massa dalam jumlah yang lebih besar, dari pileg hingga pilkada. Lagi pula, calon yang diusungnya kali ini memang sudah dikenal oleh hampir seluruh warga RT 20.

Namun karena pertemuan ini dimaksudkan untuk meminta dukungan warga, ia merasa perlu untuk tetap memperkenalkan kiprah Pak Santo selama ini. Termasuk visi misinya. Panjang lebar ia membeber calonnya.

Pak Santo tergolong penghuni pertama Perumahan Kehutanan.

“Awalnya, banyak yang tak mau tinggal di sini.  Jalan akses masih setapak. Sulit. Saya masuk tahun 1986, hanya tiga rumah, dan langsung didaulat jadi Ketua RT. Padahal, warganya cuma tiga orang. Masak jadi RT kok ngurusin hanya tiga orang warga,” tutur Santo geli mengenang masa itu.

Sekarang RT yang dihuninya sudah jauh lebih ramai.  Akses jalan mulus dua jalur tersedia dari selatan, di Flyover Kadrie Oening. Begitu pun dari utara, bisa dijangkau melalui ringroad Jl HM Ardans. Di dalamnya, berjubel sekolah-sekolah favorit-unggulan. PAUD, TK, SD, SMP, SMA hingga Akademi ada. Sebuah SMK Kesehatan nongol di seberang mulut perumahan, berjejer dengan deret ruko, hotel, dan pusat grosir asal Korea. Jumlah warga sudah bertambah. Meliputi dua perumahan, Kehutanan dan Wartawan.  Totalnya 887 jiwa (237 KK).

“Pak Haji Santo baru berumur 27 tahun,” kelakar Pak Musadi.

Yang ia maksud dan ingin ia tunjukkan bahwa dalam usianya yang sudah kepala tujuh dan buntut dua tahun, Pak Santo masih terlihat fresh. Bugar.  Langkah kakinya masih mantap. Ia menyalami kami yang duduk bersila, satu per satu. Tanpa kesulitan ia lipatkan lutut untuk peluk cium pipi saya, dan kemudian berdiri lagi menghampiri yang lain.

Bicaranya runtut dan tegas. Intonasi jelas. Menandakan tak ada saraf wicara dan motorik yang pernah terganggu.

Pak Santo mengaku ingin membuat pemukiman ini menjadi lebih baik. Secara lahiriah maupun batiniah, dan terjalinya silaturahmi yang guyub antarwarga. Meski sebagai pendatang, termasuk hampir semua di antara kami, ia merasakan kecintaan yang sama dengan yang warga setempat terhadap tanah yang kini dipijaknya.

“Karena itu akan kubangun, kubela, dan kujaga selalu,” serunya bertekad.

Panjang lebar ia membeber jargonnya itu. Anggota timses lainnya, seperti Pak Haji Rusdianto dan Pak Haji Yusuf Mulyana, ikut memperkuatnya.  Warga lainnya menyampaikan secuil harapannya. Intinya, bagaimana menjadikan RT 20 sebuah kawasan yang green, friendly, pro-tourism, dan smart. Menjadi sebuah RT yang dikenal luas, mempermudah pelayanan warganya, membuat warganya merasa betah, ramah, aman, dan nyaman.

Kampanye tidak terbatas dengan menggelar pertemuan langsung. Seruan, ajakan dan imbauan gencar pula disuarakan melalui percakapan di Whatsapp Group.

“Mari sukseskan pemilihan Ketua RT 29 TGL 15 September 2019, dengan memilih sesepuh kita H Susanto Asmoro Dewo,” tulis Pak Rusdi esoknya di percakapan WAG Perum PWI. “Bersama H. Susanto Asmoro Dewo, menuju Smart RT 20,” tambahnya.

Saya baru sekali dan tadi malam itu pertama mengikuti proses Pemilihan Ketua RT.  Tak menduga bahwa prosesnya akan berjalan seperti pilkada. Ada yang bertindak sebagai panitia pemilih layaknya KPU. Mereka ini yang beriniasi dengan memasang pengumuman , termasuk melakukan verifikasi syarat calon dan warga yang punya hak pilih.

Ada timses. Mereka yang mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lain.  Mereka pula yang membuat dan membagikan leaflet calon yang diusung. Layaknya pilkada atau pileg, leaflet itu tertulis jargon, visi, dengan kalimat “Mohon Doa Dan Dukungannya”. Tentu saja lengkap dengan foto terbaik sang calon.

Pendek kata, seru!

Pak Santo kenyang di dunia pemerintahan. Pengalamannya segudang. Berkarir lama di Dinas Kehutanan, Provinsi dan Pemkab Kutai Timur, menjadikannya sosok yang dikenal luas. Pensiunan Pejabat Eselon II (terakhir sebagai Kepala Dinas Kehutanan Kutim ) ini, bahkan pernah bertarung di Pilkada Kutai Timur periode 2011-2016.

Saat itu ia belum beruntung.  Dalam pencoblosan suara pada 27 November 2010, ia bersama wakilnya, Abia Kamba dikalahkan Isran Noor-Ardiansyah Sulaiman. Sekarang, Isran Noor bersama pasangannya, Hadi Mulyadi memimpin Provinsi Kaltim untuk periode 2018-2023.

Bagaimana kali ini?

Seluruh anggota timses meyakini Pak Santo akan terpilih.  Menurut mereka, Pak Santolah satu-satunya tokoh erte yang memiliki waktu, dan kemauan untuk mengabdi. Dia juga punya keinginan dan kapasitas untuk menjadikannya sebagai Smart RT.

Impian sebagai Smart RT, menjadi harapan yang mengemuka. Ini bisa dimengerti. Sebagian dari kami -- bahkan mungkin sebagian besar penghuni RT 20 -- adalah Generasi X. Generasi ini meski lahir sebelum era digital, tetapi mereka mengalami langsung transformasi dari era manual. Sehingga mau tidak mau harus melek teknologi, melalui anak-anak mereka yang lebih adaptif. Bukankah sekarang ini hampr tak ada lagi di antara kita yang tidak terhubung lewat smartphone, terhubung ke jagad yang lebih luas?

Maka, cara kita berinteraksi pun akan mengalami pergeseran. Tak bisa kita paksakan harus seklasik dulu. Era kini menuntut serba cepat dan memudahkan. Apalagi bagi yang bermukim di perumahan kota atau kluster.  Itu hanya mungkin jika semuanya sudah berbasis digital. Banyak aplikasi open source yang bisa dimanfaatkan. Mulai DPT, data kependudukan, program kerja, hingga soal yasinan.

Pemilihan akan digelar pada hari Minggu (15/9/2019).  Lurah Air Hitam, Pak Suyanto, kabarnya akan turun langsung mengawasi prosesi pemilihan ini.  

Entah kenapa tidak banyak yang berminat menjadi Ketua RT.  Sejak rampungnya pengabdian Pak Soleh beberapa waktu lalu,  praktis kami tanpa pemimpin. Warga terpaksa langsung ke Kantor Desa Air Hitam untuk meminta surat pengantar terkait urusan mereka. Sejauh ini hanya dua orang yang menyatakan minatnya. Selain Pak Santo, satunya lagi adalah Pak Sutapa.

Mungkin yang lain tak punya banyak waktu. Dan kita beruntung masih ada warga yang peduli, ikhlas, dan bersedia mengabdikan diri. Meskipun cuma dua.

“Ini bentuk pengabdian di sisa umur saya,” aku Pak Santo.

Sejenak saya tercenung untuk memahami kata-kata itu. Kalau kalimat semacam ini dikemukakan oleh calon kepala daerah atau legislatif, saya mungkin masih akan mendebatkannya.  Tetapi,kali ini,  kalimat ini diucapkan langsung oleh calon Ketua RT. Bukan oleh calon Bupati!      

Jadi, bentuk pengabdian apa lagi yang lebih berharga dan tulus, kalau bukan untuk mengabdi kepada warga sebagai erte. Mereka bersedia untuk mencurahkan pikiran, tenaga, bahkan finansial barangkali untukmemperlancar keperluan warga, dan membenahi lingkungan menjadi lebih baik. 

Mereka tidak digaji. Hanya sebuah panggilan kesayangan dan kehormatan yang mereka dapat dari warganya: “Assalamualaikum Pak Erte. Terimakasih Pak Erte.”(achmad bintoro}