Showing posts with label EKONOMI. Show all posts
Showing posts with label EKONOMI. Show all posts

Sunday, May 31, 2020

Bedah Provinsi Kalzam

by eltoro ben

ENAM bulan penuh, Gubernur Provinsi Kalzam Dino Besuo bersama seluruh kepala dinasnya diungsikan ke Luanda. Luanda adalah ibukota Angola, negeri kaya minyak di Afrika. 

Survei terbaru Mercer menempatkan Luanda sebagai kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Mengalahkan Tokyo dan New York yang selama ini selalu dianggap sebagai dua kota paling mahal.


Sebagaimana terlihat di layar televisi, mereka menempati sebuah royal penthouse suite hotel termewah di area Rua da Missao. Hotel ini acap menjadi langganan para peraup bonanza dolar dari kemelimpahruahan minyak seperti bos BP, Exxon, dan bangsawan-bangsawan Timur Tengah. 


Semua aktivitas terkait pekerjaan ditiadakan. Sampai sepekan jelang pendaftaran Pilgub Kalzam. Mereka hanya boleh bersenang-senang.

Dino dipersilakan menikmati gaya hidup mewah layaknya kelompok jet set dengan menikmati semua fasilitas yang ada di hotel tersebut. Bebas pula berjemur di pantai. Atau berbelanja sepuas mungkin tanpa khawatir bakal tekor. Semuanya tanpa bayar alias gratis.

"Helmi Yahbara yang menanggung semua biayanya," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Kalzam Samaro. 

Helmi adalah produser reality show "Bedah Gubuk" di sebuah stasiun televisi nasional. Acara yang dibawakan Ratna Lamaro itu banyak membuat haru pemirsa. Biasanya, pemilik gubuk yang jadi target bedah akan diungsikan dulu satu malam di sebuah hotel bintang lima seraya memberi kesempatan ke mereka untuk menikmati gaya hidup orang kaya.

Haru dan geli beraduk menyaksikan ekspresi orang-orang miskin itu. Mereka akan merasa seperti di alam mimpi. Bayangkan saja, gubuk yang semula reyot. Bocor kala hujan. Yang menjadi tempat berteduh selama berpuluh tahun, tiba-tiba berubah jadi rumah layak huni. Bersih. Cantik. Berjendela. Lengkap dengan perabotnya. Tentu itu jauh melampaui ekspektasi mereka.

Kini Helmi mencoba menaikkan misi ke level yang lebih tinggi: "Bedah Provinsi". Dan karena itu diungsikannya pun lebih lama, dua minggu.


Tapi saya tidak tahu kenapa Luanda yang dipilih sebagai tempat untuk mengungsikan Dino Besuo. Kenapa bukan New York misalnya, seperti saat mengungsikan Presiden SBK dan para menteri kabinetnya dalam "Bedah Republik".

New York adalah simbol kemewahan kota dunia. Hampir semua yang menjadi impian banyak orang tersedia di sana. Ben, seorang kawan, yang menonton acara itu hingga tuntas, mengisahkan dengan apik bagaimana berseri-serinya wajah SBK selama di kota itu. 


Mereka menikmati kemewahan yang jarang mereka nikmati tanpa harus dituduh bermewah-mewah atau korupsi. Mereka dibolehkan rame-rame naik kapal pesiar mengitari Lady Liberty. Belanja parfum termahal di Macy's atau Nordstrom. Nonton teater di Broadway. Menikmati konser di Carnegie Hall.



"Gile,man. Mereka sampai masuk teater Broadway," kata Ben menceritakan kepada saya. 



Ben wajar terperanjat begitu. Ia pernah hampir mati berdiri gegara mengetahui harga tiket masuk yang selangit. Sekali masuk US$ 115. Itu pun duduk masih agak jauh dari panggung di tribun atas. Mau lebih dekat, ya harus merogoh saku lebih dalam lagi. Bisa mencapai USS 190. Alamak!!!



Tapi kapan lagi ada kesempatan?



Sudah di New York, rugi tak nonton opera di Broadway. Didorong oleh rasa penasaran yang berlebih, Ben dengan sangat terpaksa menyisihkan uang sakunya untuk masuk di Majestic Theatre. Rasa penasaran yang bergolak itu nyaris sama ketika ia tiba di Washington DC. Sudah di Wasington DC, kenapa tak sekalian ke New York. 



Maka, usai membereskan liputan dan melakukan serangkaian wawancara dengan sejumlah tribunal ICSID seperti Prof Gabrielle di komplek besar gedung World Bank, Ben pun segera kabur menuju tempat mangkalnya Amtrak di Union Station. 



Barangkali Helmi menganggap Kalzam memiliki kemiripan dengan Luanda. Sama-sama kaya minyak. Sama-sama mempertontonkan ironi. Kemiskinan berjalan beriring di sepanjang jalur pipa gas. 



Kalzam memiliki biaya hdup paling mahal di Republik Bananasia. Provinsi ini juga memiliki kota dengan pendapatan perkapita tertinggi di Republik. Dan Kalzam adalah adalah provinsi yang memberikan upah terbesar kedua secara nasional kepada buruh.


***

SEPERTI saat menyaksikan bedah-bedah di episode sebelumnya. Kali ini pemirsa juga dibuat geli dan haru menyaksikan ekspresi gubernur yang kaget saat mengetahui harga sepiring quick lunch yang ia santap mencapai US$ 57.92. 


Ia kembali terbelalak oleh mahalnya harga karcis bioskop di kawasan pusat perbelanjaan di Shinny,US$ 33. Sejatinya Dino merasa sayang. masak sih sekedar makan siang dan nonton saja kok harus merogoh kocek sebanyak itu. Tapi masa bodoh. Toh Helmi yang menanggung semua. Ia membatin.

Dino melihat seorang pekerja konstruksi santai saja mengeluarkan US$ 292 dolar hanya untuk sebuah jeans Pepe. Itu tiga kali lebih mahal dari harga di Sogo Kalzam. Saat yang sama, di kejauhan, pandangannya sekilas membentur gubuk-gubuk kota. Inilah wajah kemelaratan kota Luanda. Orang-orang berlindung di bawah kardus dan papan kayu. Keluarga masak di atas api terbuka, mengais-ngais sampah di jalanan.


Ingatannya melayang pada buku "Escaping The Resource Curse". Berulangkali ia membaca buku yang disunting Joseph E Stiglitz, pemenang nobel Ekonomi, itu bahwa anggapan adanya kutukan sumberdaya alam tersebut salah besar!

Tentu adegan yang jauh lebih mengharukan adalah saat menyaksikan mimik gubernur dari sebuah provinsi miskin -- tapi kaya -- yang malam itu menerima laporan dari anak buahnya. 

"Mana mungkin..." 

Proyek jalan tol Balikmar-Samamar yang ia gagas dan sempat macet itu kini telah rampung. Bahkan tembus pula sampai Long Mimar. Itu artinya, tinggal selemparan batu sampai di jalan arteri Negara Bagian Sabah, Malaysia.

"Mustahil...!!!" Ia mencoba membantah sendiri keraguannya.


Dino kembali terbelalak. Ia mencermati foto demi foto kondisi jalan poros selatan, tengah dan utara. Serta seluruh jalan dalam kota. Antarkecamatan, dan antarlorong yang sudah terhubung mulus.



Tak ada lagi jalan berlubang. Apalagi rusak. Kubangan kerbau di sepanjang jalan Palarang yang sempat membuatnya gundah karena tak kunjung tuntas perbaikannya, padahal Pilgub sudah kian dekat, ternyata telah berganti menjadi hamparan beton lebar.

Sekali lagi, ia ingin tidak percaya ketika mendapat laporan bahwa anggaran pendidikan sudah naik menjadi 20 persen. Sesuatu yang selama ini sulit ia wujudkan. Gubernur merangkul Kepala Dinas Pendidikan. Matanya berkaca-kaca. Laporan lain menyebut bahwa program yang ia canangkan untuk membebaskan 10 persoalan Kalzam pun sudah berhasil diwujudkan.


Dari hotel di Luanda, gubernur menyaksikan siaran televisi satelit tentang pembangunan di Kalzam. Jembatan Kembar sudah rampung. Flyover pun terbangun bersamaan di beberapa tempat. Ia amat bersyukur. "Alhamdulilah, tak sampai jadi bahan ejekan sebagai jembatan abunawas kedua," batinnya lagi.



Kemacetan sirna. Kawasan seberang telah berkembang pesat. Tepian sungai di depan gubernuran telah disulap menjadi sangat apik. Lengkap dengan jetty futuristik tempat kapal-kapal pesiar naik turunkan wisatawan. Pedestrian lebar 15 meter dengan spot-spot yang yang membuat sejumlah band indie hingga musisi underground nyaman berekspresi.


Tak ada lagi banjir. Gedung convention hall yang ia impikan  sudah terbangun megah. Jauh melebihi harapannya, belasan proyek multiyears sudah rampung lebih cepat. Bandara baru. Di sisi timurwilayah sudah berlabuh kapal-kapal kargo superbesar. Mereka mengangkut bouksit, sawit, batu bara, emas dan semua kekayaan alam Kaltim.  Yang lebih mencengangkan Dino adalah saat menyaksikan pesawat-pesawat berlogo Kalzam Air sudah terbang di udara. Melayani rute ke pedalaman-perbatasan bahkan ke sejumlah kota besar di Tanah Air.

Kameramen televisi lalu menyorot sepanjang SKM. Tidak ada lagi pemukiman di sepanjang bantaran sungau itu. Kiri kanan diturap. Kawasan itu berkembang menjadi pusat rekreasi dan kuliner ala sungai di Singapura. Inilah Clarck Quay ala Kalzam. 


"Let's meet at the lobby to go to lunch," ajak seseorang kepada temannya dalam tayangan itu. Orang lainnya nyeletuk: Basi, tau! Tempat favorit untuk rendezvous sekarang ya di SKM. Keduanya setuju, dan bersama menuju SKM.


Kendaraan kini bisa melaju nyaman di sepanjang jalan Lintas Kalzam. Warga pedalaman berlibur ke Samamar dan Balikmar menggunakan kendaraan sendiri jamak ditemui. Malah warga perbatasan seperti Long Bamar, Apo Kayang yang selama puluhan tahun hidup terisolasi, kini dengan mudahnya terbang ke Samama. Kapan pun mereka mau.  Tanpa harus anre berminggu-minggu atau khawatir terserobot kursinya oleh pengusaha sarang walet.

"Sungguh ini melampaui mimpi-mimpi saya. Terimakasih Helmi, Anda telah mewujudkan semua mimpi dan harapan saya. Sesuatu yang sangat sulit dan tak mungkin diwujudkan pemerintahan saya," kata Dino terbata-bata.

Ia merangkul erat Helmi. Tanpa sadar air matanya membahasi baju bagian punggung sang produser.

"Kalau begitu kepulangan kami tolong dipercepat. Tidak perlu lagi menunggu dekat pendaftaran Pilgub. Hari ini juga kami minta bisa dipulangkan, agar persiapan ke Pilgub Kalzam bisa lebih matang," mohon Dino.


Mengutip kata-kata George Soros, Dino menegaskan kutukan sumberdaya alam memang jadi momok paling utama di negara dan daerah-daerah "kaya" sepertiKalzam. Tetapi, kutukan itu bukan tak bisa disembuhkan. 



"Dengan apa? Obatnya, pilih saya lagi!" tandas Dino, tanpa ragu.



"Transparansi pak. Pertanggungjawaban yang lebih besar, itulah obatnya," celetuk Helmi. Entah, mungkin Dino tak mendengarnya. Ia sudah keburu berlari masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya menuju Gulfstrem GE650, milik Helmi, yang sudah menunggu di bandara. Siap mengantarnya untuk pulang.

Helmi tersenyum. Ia memaklumi keinginan Dino yang ingin melanjutkan mimpi-mimpinya untuk lima tahun berikutnya.(*)


Air Hitam, 31 Mei 2020

Saturday, May 11, 2019

Kacamata Seorang Pewarta

WARNING? Nasihat? Ah, bergurau kamu. Tentu saja sudah. Sering kali malah.

Ben menatapku tajam dari balik kaca mata minusnya yg tebal, seperti hendak menebak arah pertanyaanku. Ia longgarkan dasinya warna icy blue. Dipadu kemeja biru navy, ia tampak lebih mirip profesional keuangan ketimbang seorang pewarta.

"Yang menyampaikannya pun bukan sembarang orang. Lewat artikel, kolom2, konsultasi keuangan, hingga surat protes resmi. Sudah semua. Surat terakhir itu bahkan diteken 1.140 ekonom, termasuk 14 peraih Nobel. Tapi, mental!!!"

Kami duduk berhadapan di sebuah kedai sarapan di Newhampshire Avenue, ditemani kopi ginseng. Kedai ini tak jauh dari Capitol Hill. Satu dua senator dari Republik sering suka nyasar ke sini. Sekedar ganti suasana. Kadang nguping gosip-gosip teranyar. Sekalian nyicip carpaccio kuda.

Aku menolak dengan halus saat Ben merekomendasikan menu itu, termasuk mengganti daging dengan pilihan Salmon.

"It taste absolutely fantastic!" bujuknya. Ben mencoba meyakinkanku lagi bahwa carpaccio di resto ini yg paling sedap di seputaran Capitol Hill.

Seorang maitre d' yg berdiri di ujung kupanggil: Is carpaccio raw meat?

Ia tersenyum geli. Mungkin merasa aneh dgn pertanyaanku. "Of course. It is a dish of raw meat or fish."

Tenderloin -- kadang ikan -- itu akan disajikan dalam irisan-irisan tipis. Sebenarnya mirip Sashimi atau Sushi dari Jepang. Ceviche dari Amerika Selatan
. 
Tapi itulah masalahnya. Lidahku jarang bisa kompromi dengan makanan-makaan asing. Apalagi mentah. Dalam bentuk setengah matang saja, seperti saat dijamu oleh pengusaha Jos Sutomo di resto Jepang miliknya, perutku langsung bereaksi.

Karena itu aku memilih grilled salmon saja, dan quiche. Ben menambahkan sarapannya dengan flatbreads.

"Kamu ingat Dick? Ia sampai tiga kali menulis kolom khusus di USA Today," sambung Ben lagi, melanjutkan tema pembicaraan kami yg terputus.

Tentu saja aku masih ingat Dicky Stanley. Ia profesional muda di sebuah agen keuangan ternama. Kantornya menjulang di gedung pencakar langit di Madison Ave, NY. Kami tak sengaja bertemu di konferensi internasional "Stable and Just Global Monetary System" di KL, 2002 silam.

Aku tertarik untuk mengenalnya lebih dalam setelah dia bicara keras di forum itu. Dia satu-satunya orang barat yang teran-terangan meragukan efektivitas gold dinar yang ditawarkan Prof Ahmed Kameell sebagai satu instrumen dalam sistem moneter global.

Dua tahun kemudian, Kameell mencoba menegaskan kembali kebenaran tesisnya bahwa sistem uang fiat itu tidak stabil dan tidak adil dalam sebuah buku yg meledak: "The Theft of Nations: Returning to Gold."

Dick ekonom muda. Cerdas dan pernah jadi sampul muka di sebuah majalah ekonomi yg kerap menjadi rujukan bagi para pelaku pasar hingga pejabat-pejabat keuangan dunia. Awak redaksinya penuh sesak oleh para jebolan sekolah-sekolah bisnis ternama, bergelar PhD.

Ben adalah satu di antaranya. Aku sering berdiskusi dalam jarak jauh, terutama saat muncul isu-isu menarik dunia Barat, baik melalui skype maupun surel.

Beberapa kritik Dick terhadap IMF dan World Bank menghiasi halaman-halama utama surat kabar dan review ekonomi di AS.


Aku sempat membaca ulasanya di USA Today. Salah satu kritiknya yang menyentak para peminpin dunia menyebut IMF dan World Bank tak memberikan nilai tambah apa pun bagi masyarakat dunia. Yang miskin, katanya tetap miskin. Malah sebaliknya menggerogoti kedaulatan suatu negara.

Sayangnya USA Today bukan The Washington Post. Tak bisa pula dipadankan dgn The New York Time, maupun The Economic. Diperlukan media lebih kuat untuk bisa menembus sekat-sekat dan filter di Gedung Putih agar kritik semacam itu bisa tiba di meja Resolute, tempat Donald Trump bekerja di Ruang Oval-nya.

USA Today tak cukup kuat untuk menghadapi sunset. Meski dimiliki oleh kelompok media papan atas, Newsquest, yg terbit di London, tetap saja ia harus lakukan perubahan besar-besaran utk bertahan. Ukurannya pun sekarang menyusut dari broadsheet ke barliner harian.

Ben bercerita bagaimana Robert Shiller ikut turun tangan. Peraih Nobel dari Yale University ini melihat aksi Trump menabuh genderang perang dagang dgn China sangatlah membahayakan dunia. Krisis ekonomi bisa terjadi. Sebab tentu saja RRC tidak akan tinggal diam.

Bahkan, koleganya, Joseph Stiglitz, kepala ekonom untuk World Bank pun tak sungkan lagi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap cara-cara Trump. AS adalah contoh buruk, yg seharusnya tidak diikuti oleh negara-negara lain.

"Ini surprise. Seorang Stiglitz berani nyatakan itu. Kamu tahu, dia bukan cuma ekonom besar yg disegani. Tapi juga memiliki pengaruh besar di World Bank," katanya.

Lalu apa hasilnya?

"Mental juga. Semua. Semuanya buntu!!!"

Ben menggurutu. Kadang ia lupa bahwa dirinya adalah pewarta. Tapi kupikir masih wajar. Emosional pribadi semacam itu diungkapkan hanya kepada kawan diskusi, seperti saya. Narasinya di media tetap berimbang dan clear.

"WILL you resign?" Tanyaku.

Sepekan sebelum aku mampir bertemu di sebuah kedai di Washington DC, Ben sempat curhat kepadaku melalui Skype. Salah satunya mengenai keinginannya untuk menyudahi karir di jurnalistik. Saya kaget saat itu, dan sempat mencegahnya.

Berat memang, kata Ben. Bagaimana pun inilah dunia yang sempat melambungkan namanya. Mungkin ia tak akan kenal banyak tokoh politik dan ekonom dunia, tanpa melalui jalur ini. Banyak relasi dan kini pun masih terjalin hubungan baik, ia akui perkenalannya berawal dari wawancara untuk berita-beritanya.

Adelle misalnya, asisten salah satu direktur di IMF, adalah wanita cantik dan gesit yang sering kasih bocoran informasi penting kepadanya. Seperti bosnya, Adelle selalu tampil modis meski dalam event yang dihadiri kebanyakan lelaki itu. Berdarah Perancis, namun lahir dan kuliah di Amerika.

Aku pernah melihatnya beberapa kali. Pertama, saat diperkenalkan dengannya di sebuah event di Brussel. Ia tampil dengan setelan formal yang effortlessy chic. Adelle memesannya khusus dari rumah mode ternama. Tentu sekalian untuk sang bos.

Wanita yang dulu dikenal sebagai aktivis penggerak perempuan ini -- sekarang pun masih, meski dengan cara berbeda -- tak jarang memadukan gaya formalnya dengan scarf terang. Hermes adalah salah satu brand ternama favoritnya untuk scarf.

Dalam kondisi tidak resmi pun ia masih tampil anggun dan stylish. Tampak ia menyesuaikan dengan penampilan bosnya, berkemeja dan celana dengan tambahan blazer lansiran Chanel.




(ahmad bintoro/bersambung...]

Credit photo: impactboom.org/axios.com

Sunday, September 13, 2015

Las Palmitas

Angelica Rivera dan Enrique Pena Nieto/The Guardian
SUDAH terlalu lama dahi Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto berkerut.

Ia kecewa dengan perilaku sejumlah menterinya yang terlibat berbagai skandal korupsi. Ditambah lagi insiden larinya gembong narkoba yang digdaya sejagad, Joaquin "El Chapo" Guzman, dari penjara berkeamanan maksimum, Juli lalu.

The Wall Street Journal mencatat, saat itu popularitasnya menukik tajam, dari 61 persen menjadi 34 persen.

Tetapi, sore itu, di istananya yang megah, Palacio Nacional di Meksiko City, Nieto mendadak dapat dengan mudah tertawa lepas.

Suaranya bergema dari balkon tengah hingga terdengar oleh pekerja taman yang sedang merawat agave. Bukan karena candaan istrinya yang cantik, Angelica Rivera.

Mantan penyanyi-bintang telenovela "Dulce Desafio" yang dijuluki La Giovita (si Burung Camar), karena perannya sebagai gadis lugu dan rendah hati dalam telenovela itu, sedang berada di kediamannya, Los Pinos.

Bukan pula karena ia telah berketatapan bulat untuk mencopot enam menterinya yang bermasalah itu.

Kelompok pelukis jalanan, "Germen Krew" datang memperlihatkannya gambar pemukiman di kawasan bukit batu Las Palmitas, Pachuca, sebuah kota kecil di provinsi Hidalgo, Meksiko.

Nieto hampir tak mengenali lagi bahwa rumah-rumah itu sebelumnya adalah pemukiman kumuh.

"Wow... !!! Asombroso! Anda sedang tidak bercanda kan?!"

Las Palmitas, Mexico/GETTY IMAGES


Nieto bergantian menatap foto dan para pemuda di depannya, didampingi sejumlah pejabat daerah. Mereka telah menyelesaikan proyek "El Makro Mural Barrio de Palmitas" yang diberikan khusus kepada Germen Krew dengan 20 pelukisnya itu.

"Ini...ini!" kata Nieto dengan telunjuk mengarah ke foto-foto mural di lereng bukit Palmitas.

"Yang begini ini yang memang saya mau. Saya ingin yang memukau agar orang mau melirik Palmitas. Luar biasa. Ok, saya sendiri nanti yang akan meresmikan proyek itu," tandasnya bersemangat.

Dua minggu kemudian, Presiden Pena Nieto, Senin 31 Agustus waktu setempat, meresmikan proyek mural raksasa tersebut.

Beragam warna dioles secara kohesif, abstrak dan garis-garis terang pelangi. Ada lembayung muda, hijau limau, jingga terang, dan sedikit biru yang kalau dari kejauhan terlihat seperti pelangi.

Mural ini dilukis pada area dinding seluas 20.000 m2 atau sekitar 25 kali lapangan sepakbola di 209 rumah warga. Rumah yang menjadi hunian bagi 452 keluarga (1.808 jiwa). Ini menjadikannya mural terbesar di Meksiko, bahkan dunia.

Kawasan yang dulu kumuh, miskin dan identik sarang kejahatan itu kini bukan saja dilirik, melainkan seketika menyedot perhatian dunia. Banyak wisatawan yang penasaran dan berbondong datang hanya untuk berselfie.

Inagurasi di depan mural raksasa Las Palmitas/Presidencia de la Republica Mexicana


Padahal, tiga tahun sebelumnya, Nieto pernah menerima desakan untuk merelokasi pemukiman itu. Ia tak mengiyakan.

Suatu hari ia tertarik sebuah lukisan mural pada sebuah dinding tembok. Warna- warninya menginsipirasi. Ia juga teringat mural anak tangga karya seniman besar Diego Rivera di istananya yang dikagumi wisatawan.

"Kenapa tidak bikin yang begini saja? Pasti akan wow."

Lalu muncullah ide melibatkan pelukis-pelukis jalanan dalam proyek massal yang sekaligus memberikan kerja bagi warga di pemukiman itu. Dan hasilnya memang wow. Pachuca paints itself.

Bagaimana dengan Kaltim?

Sudahkah kita membikin sesuatu yang bisa memukau orang? Kita punya Tepian Mahakam yang keindahannya tak kalah dengan Clarck Quay di Singapura, tak kalah dengan Sungai Serawak di Kuching.

Kita punya polder Air Hitam. Kita punya kota dengan ratusan kolam "eksotis" bekas galian tambang batubara. Mungkin ini satu-satunya di Indonesia.

Kita juga pernah dikenal sebagai provinsi berhutan terlebat sejagad. Fosil ulin yang ditemukan di Loa Janan lebih dari cukup untuk membuktikan hal itu.

Dengan panjang 25,8 meter, diameter 0,95 meter dan usianya 12 juta tahun, fosil ulin ini konon menjadi yang terbesar dan tertua di dunia.

Masalahnya, apakah kita sudah memoles semua potensi itu menjadi sesuatu yang membikin "wow" banyak orang?

Jika belum, maka jangan berharap event-event pariwisata dengan berbagai festivalnya yang rutin kita gelar tiap tahun itu akan dapat mendatangkan wisatawan sungguhan. Pariwisata itu pada dasarnya bisnis tentang wow.

Sepanjang wow obyek wisatanya, wow alat-sarana transportasinya, wow kulinernya, wow keramahan penduduknya, wow akomodasinya, wow budayanya, wow event dan kemasannya, wow cinderamatanya, maka selesai itu barang.

Dan yang bisa bikin wow di Kaltim mestinya bukan cuma Derawan.(*)

Dimuat di harian Tribun Kaltim, edisi Rabu, 9 September 2015, halaman 10.

Saturday, February 9, 2013

Telepon dari "Sutan" Jelang Rapat Komisi



ALIANSI Rakyat Kaltim untuk Blok Mahakam (ARKBM) mencoba mendekati Komisi VII DPR RI di Jakarta. Mereka berharap wakil rakyat memainkan perannya secara benar, mendukung kedaulatan bangsa atas energi di Blok Mahakam. 
Tapi siapa sangka rapat itu justru menjadi ajang penghakiman bagi Aliansi.

Seseorang mengaku bernama Sutan Bhatoegana, Ketua Komisi VII DPR RI. Beberapa hari sebelum jadwal rapat Aliansi dengan Komisi VII di Senayan, Jakarta, Senin (28/1/2013), Sutan menelpon Wahdiat Al Gazali, Ketua Aliansi. Sutan menyatakan siap membantu memuluskan dukungan anggota komisi terhadap perjuangan Aliansi.

"Tapi tidak gratis. Intinya dia meminta Rp 50 juta," kata Wahdiat 

Dia meyakini bahwa suara yang ada di seberang telpon itu adalah suara Sutan, politisi Partai Demokrat yang acap nongol di layar televisi. Logat bataknya, menurut Wahdiat, khas sekali dengan ungkapan-ungkapan lagaknya seorang Sutan.

Karena terus didesak, Wahdiat lantas meneruskan permintaan itu kepada Sekretaris Aliansi, Abdul Rivai dan beberapa anggota Aliansi. Keputusan belum juga diambil, meski penelpon itu kemudian setuju saja jika diberi Rp 20 juta dulu.

Wahdiat galau. Ia sempat berpikir untuk memberikan saja uang itu kalau memang demikian tradisi yang berlaku di DPR. 

Kabar mengenai perlunya "pelicin" dalam lobi-lobi di DPR dan setiap rapat dengar pendapat, sudah sering muncul di media. Namun beberapa anggota Aliansi mengingatkan, jangan-jangan orang itu bukan Sutan yang sebenarnya. 

Namun, beberapa anggota Aliansi yang malam itu meriung di sebuah hotel di Jakarta, menyatakan keheranannya terhadap orang yang mengaku Sutan itu. Masak sih seorang Sutan yang dikenal cukup tajir dengan sejumlah perusahaan miliknya mau bermain "uang kecil". 

Sebaliknya, untuk tidak percaya juga sulit sebab nomor telepon selular yang digunakan orang itu diyakini nomor Sutan asli. Logatnya pun mirip seperti yang sering terlihat di layar kaca.

Pagi hari di restoran Hotel Marcopolo Jakarta. 

Sejumlah anggota Aliansi sedang sarapan. Pertemuan baru akan digelar empat jam lagi. Penelpon itu kembali menghubungi Wahdiat. 

Basa-basi sebentar, orang tersebut akhirnya menanyakan apakah "barang" sudah disiapkan. "Barang" adalah istilah yang dipakai penelpon untuk menyebut uang yang dia minta. Wahdiat tidak menolak permintaan itu, tapi dia berkilah masih menunggu bendahara.

"Sudahlah, talangi saja dulu, nanti kita bertemu di DPR," bujuk penelpon itu.

Menurut Bernaulus Saragih PhD, Dewan Pakar Aliansi, Sutan yang ia kenal punya beberapa nomor. Tetapi telepon Sutan tidak selalu dalam genggamannya. Acapkali dipegang orang terdekat atau stafnya. 

Bernaulus memiliki kedekatan sebagai sesama orang berdarah Batak. Ia pernah berbicara melalui telepon. Bahkan saat mendengar kabar permintaan uang itu, dia segera menelpon Sutan. 

"Ah, ada-ada saja. Tidaklah lai," kata Bernaulus menirukan bantahan politisi bermarga Siregar itu.


WAHDIAT tidak segera mengambil hidangan prasmanan yang tersaji di meja sebelah ruang rapat Komisi VII. Mukanya keruh.

"Saya gak ada hati (keinginan untuk makan)," tandasnya seraya duduk di sebelah saya. 

Suasana rapat Aliansi dengan Komisi VII di Gedung DPR RI yang baru usai siang itu masih membekas dalam benaknya.

Rapat berlangsung singkat. Dimulai pukul 12.00 dan ditutup pimpinan sidang, Wakil Ketua Komisi VII Ahmad Ferial, sekitar pukul 13.10 WIB. Sutan Batoegana tidak terlihat batang hidungnya dalam rapat.

Tapi bukan karena kesan terburu-buru itu yang mengganggu pikirannya.

Dia merasa anggota komisi tak bertindak dan berlaku selayaknya wakil rakyat yang seharusnya lebih bijak dan mengakomodasi aspirasi Aliansi sebagai bagian dari elemen masyarakat.

Wahdiat didampingi Abdul Rivai, dua anggota Dewan Pakar Aliansi, Bernaulus Saragih dan Aji Sofyan Effendi, serta sejumlah anggota Aliansi lain sebenarnya sudah menyiapkan tiga topik paparan slide guna memberi pemahaman lebih utuh kepada para wakil rakyat yang terhormat itu agar mau mendukung perjuangan Aliansi. 

Dukungan apa yang diharapkan? 

Pertama, mendesak pemerintah untuk tidak lagi memperpanjang kontrak PT Total E&P Indonesie (TEPI) di Blok Mahakam pasca-berakhirnya kontrak kedua tahun 2017. Kedua, memberikan hak pengelolaan blok itu kepada Pertamina dan BUMD Kaltim.

Diluar perkiraan Aliansi, tanggapan anggota komisi terhadap mereka ternyata sangat sinis. 

Isu Blok Mahakam yang mestinya bisa menjadi pembuka untuk memulai kedaulatan energi, di mata anggota komisi tampak tak lagi seksi. Pimpinan sidang terkesan ingin menuntaskan rapat sesegera mungkin. 

Beberapa kali dia mengingatkan Aliansi bahwa waktu sudah siang (saat istirahat). Padahal jam di dinding baru menunjuk angka 12.17 WIB.

Paparan Bernaulus, ahli ekonomi lingkungan, akhirnya dihentikan di tengah jalan. Data Bernaulus dianggap kedaluarsa. 

Upaya Wahdiat mengkonter balik tanggapan anggota komisi yang meragukan kebenaran data cadangan gas tersisa sebesar 13,5 TCF malah dianggap sebagai pendebat kusir. 

Mereka hanya meyakini kebenaran data 2 TCF yang pernah dirilis Total dan pemerintah. Raut muka Wahdiat memerah. Hampir saja dia menggebrak meja.

"Angka 12,5 TCF itu menyesatkan. Kami punya angka yang terbaru. Bukan dari pengamat," tandas seorang anggota komisi dari Kalteng. 

"Mestinya angka yang diacu hanya dari pemerintah sebesar 2 TCF," timpal anggota yang lain.

Aji Sofyan pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk memapar dari sudut pandang ekonomi. Dia memilih menyimpan rapat-rapat sekitar 36 slide yang ia kerjakan semalaman di kamar hotel.

"Janganlah menggurui. Kami tahu data-data itu. Itu makanan kami sehari-hari," ungkap S Milton Pakpahan, anggota Komisi VII dari daerah pemilihan Papua, kepada Bernaulus sehari setelah rapat bubar. Ia menjelaskan munculnya reaksi sinis para koleganya.

Jadilah rapat siang itu menjadi ajang penghakiman oleh anggota komisi terhadap Aliansi. Alimin yang mendapat kesempatan pertama untuk memberi tanggapan langsung menyerang Aliansi sebagai pihak yang tidak taat tata krama. 

Sebagai pihak yang memerlukan bantuan wakil rakyat, mestinya Aliansi terlebih dulu melakukan pendekatan terhadap anggota dewan.

Ia mengatakan tidak satu pun anggota komisi yang diajak bicara sebelum rapat. Bahkan, wakil dari Kalimantan pun tak tahu rencana ini.

"Kenapa (kami) tidak didekati? Padahal Aliansi ke sini kan untuk minta dukungan. Kecuali kalian tidak perlu kami, terserah," tandas Alimin.

Pendekatan seperti apa yang ia maksudkan, tidak pernah terungkap jelas. Beberapa anggota Aliansi yang belum pernah berurusan langsung dengan DPR RI, agak sulit memahami atau menerjemahkan ungkapan tersebut.

Apakah ini berarti uang atau sesuatu yang lain? 

Jangan-jangan reaksi sinis para anggota komisi itu akibat tidak diluluskannya permintaan seseorang yang mengaku bernama Sutan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menggelantung di benak para anggota Aliansi usai rapat komisi tersebut.

Mungkin ini cuma kebetulan.

Yang pasti, pada saat- saat seperti ini, Aliansi makin menyadari dan merasakan sulitnya berhadapan dengan anggota dewan tanpa seorang pun wakil dari Kaltim. Kenapa provinsi yang kaya migas ini tidak memiliki satu pun wakilnya yang duduk di Komisi VII?

Tapi Rivai memaklumi reaksi para anggota komisi itu. Rivai sehari-hari adalah dosen di Fakultas Ekonomi Unmul. 

Dia didaulat sebagai sekretaris Aliansi. Dikenal memiliki jaringan luas di Jakarta, termasuk dengan kalangan DPR RI. Ahmad Ferial misalnya, mengaku sudah mengenal Rivai lebih dulu. 

Pengalaman sebagai konsultan pemerintah kabupaten di Kaltim beberapa tahun lalu mengajarkannya banyak hal. Di antaranya bagaimana cara mendekati para politisi Senayan.

"Yang kita hadapi kemarin itu para politisi. Dalam politik yang berlaku adalah kompromi. Bukan soal benar dan salah," ujarnya.

Ia tambahkan, Gus Dur bisa menjadi Presiden RI, meski kursinya sangat kecil, tidak lain karena kompromi. Tidak mungkin dia mampu menghadapi partai-partai besar kalau menghitung secara matematis.

Agaknya Aliansi masih harus lebih banyak untuk berkompromi?! [achmad bintoro]