Saturday, February 6, 2021

Dalam Diam Aku Berputar

JUDUL itu bukan kalimat Albert Einstein. Tapi saya menjadi tergelitik setelah tertarik membaca beberapa buku karyanya serta astrofisikawan lain, lalu menuliskan judul itu sebagai tesis tentang apa yang saya pahami.

Dulu, waktu di bangku sekolah, saya beranggapan profesor berambut jabrik dan wajah golliwog itu
hanya sebatas persamaan sederhana E=mc2. Ya, itu saja. 

Sejalan dengan ketertarikan saya terhadap jagad raya secara amatir, saya pun tergoda untuk mencari tahu lewat buku-buku fisika modern. Saya mencoba memahami, meski tergagap. Saya mengalami disleksia. Tapi masa bodoh. Tetap saja saya nekat membacanya. 

Saya pikir Tuhan memang sengaja menggunakan bahasa yang universal -- bahasa matematika -- untuk berkomunikasi dengan mahluk-Nya, agar kita mau berpikir.

Saya lalu mengenal teori relativitasnya, kendati cuma sebatas kulit ari. Yang bersama dengan mekanika kuantum menjadi dasar untuk bisa lebih memahami jalan pikiran sejumlah ilmuwan mengenai semesta. Termasuk jalan pikiran Stephen Hawking yang begitu terobsesi menemukan satu teori tunggal -- theory of everything guna menjelaskan semua fenemona yang terjadi di jaga raya -- yang membuatnya bahkan berpikir lebih radikal: "... dengan begitu kita akan tahu nalar Tuhan."

"If we discover a theory of everything... it would be the ultimate trimph of human reason - for then we would truly know the mind of God," tulisnya dalam buku "The Brief History of Time: From Big Bang to Black Hole".

Saya mencoba ikut memahami awal kelahirannya, proses tumbuh besar hingga bagaimana kematiannya kelak. Saya coba memahami diasporanya. Dari nol waktu (imaginary time, lebih tepatnya) yang dulu hanya sekumpulan partikel seukuran satu atom tunggal (subatomik) tapi dengan tingkat kerapatan, temperatur dan tekanan yang tak terhingga. 

Fenomena singularitas ini yang diyakini memunculkan big bang, yang dengan hentakannya yang sangat kuat membuat jagad raya ini terus berkembang begitu meluas. Dari kejadian itu lalu muncul ruang. Ada ruang, maka konsekwensinya muncul pula waktu. 

Pengukuran terakhir melalui metode Cosmic Microwave Background (CMB) atau mikro gelombang kosmik milik Badan Antariksa Eropa yang dirilis Live Science (17/7/2020) berjudul Oldest Surviving Light Reveals the Universe's True Age menyebut alam semesta ini telah berusia 13,77 miliar tahun plus minus 40 tahun tahun.

Einstein telah banyak menelorkan teori,hukum fisika dan pernyataan filosofis yang dijadikan rujukan banyak orang. Tapi, dari sekian banyak ungkapan filosofis itu, ada satu yang memaksa saya terjeda. Saya merasa perlu berdiam diri dulu sejenak. Merasakan harmoni atom dan molekul oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen dan berbagai molekul organik lainnya yang terus begerak setengah abad lebih dalam tubuh saya. Tanpa henti.

"Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving" Begitu pesan Einstein yang disalin oleh Walter Issacson dari bahasa aslinya. 

Ungkapan itu saya baca di buku "Einstein: His Life and Universe" yang ditulis Walter Isaacson. Dia menulis buku setebal 675 halaman itu dengan sangat memikat. Bahkan lebih memikat menurut saya ketimbang biografi untuk Steve Jobs. 

Risetnya terhadap ribuan sumber arsip yang telah berserak di sejumlah negara, termasuk terhadap arsip yang tidak di-publish, menunjukkan ketekunan dan kedalamannya. Sehingga ia mampu menyajikannya secara utuh, dalam perspektif yang lebih obyektif.

Penting sekali saya kira bahwa buku biografi mestinya memang tak cukup hanya berisi selebrasi atas pencapaian seseorang. Pada sosok yang sudah melegenda seperti Einstein, acapkali penulis mudah terjebak dan lupa bahwa sebesar apa pun sosok itu, dia adalah orang yang sama seperti kita: seseorang yang juga diwarnai dengan kisah tragedi.

Di atas ungkapannya itu, Issacson memasang gambar hitam putih Albert Einstein sedang mengendarai sepeda onthel. Ia tampak agak oleng mengendarainya. Mungkin akan segera jatuh ke kiri kalau saja ia tidak terus berusaha memancal pedal sepedanya.

Kalimat itu terlacak dalam surat yang ditujukan untuk anaknya, Eduard. Surat yang kini tersimpan di Universitas Hebrew (Ibrani), Jerusalem itu dikirim pada 5 Pebruari 1930. Saat itu, anak lelaki keduanya menderita skizofrenia, sejak usia muda. Sejumlah referensi menyebut gejala itu ia alami saat jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua di universitasnya.

Eduard mewarisi kecerdasan ayahnya. Ia mempelajari ilmu kedokteran dan terobsesi menjadi psikiatri seperti Freud. Nilainya cumlaude di semua pelajaran. Namun siapa sangka bukannya mengobati pasien, malah ia sendiri yang perlu bantuan dan harus ditangani tim psikiater di sanatorium Burghozi, Zurich. Ada memang yang beranggapan Eduard hanya mengalami disleksia, seperti pernah dialami ayahnya saat kanak-kanak, toh ia tetap dirawat dan menghabiskan sebagian besar hidupnya hingga matinya di klinik itu.

Einstein menulis surat itu dalam bahasa Jerman. Aslinya berbunyi: "Beim Menschen ist es wie beim Velo, Nur wenn er fachrt, kann er bequem die Balamce halten". Barbara Wolff, petugas arsip di universitas tersebut, membantu menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris yang jika diindonesiakan berarti: "Seperti orang bersepeda. Hanya dengan terus mengayuhlah seseorang dapat mempertahankan keseimbangannya dengan baik."

Tetapi yang kemudian muncul di buku Issacson, entah kenapa berubah menjadi kalimat lebih ringkas seperti yang saya nukil di awal. Ada sedikit perbedaan penerjemahan dari bahasa asli jika dibandingkan dengan versi Roger Highfield, editor sains di London Daily Telegraph. Highfield dalam biografi dengan subyek yang sama berjudul "The Private Lives of Albert Einstein" (1994) juga menggunakan kutipan itu dalam bukunya.

Namun ia lebih mengutamakan kata 'people', bukan 'life' seperti pada buku Issacson. Ungkapan dalam sepucuk surat Einstein itu sejatinya memang berisi nasihat tentang pekerjaan kepada Tete -- panggilan sayang ayahnya untuk Eduard. Ia sebut, obat terbaik bagi perasaan melankolis adalah dengan bekerja keras. Einstein berharap dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan akan membuat anaknya tidak terus-terusan tenggelam dalam dunia lain.

"Betapa bermanfaatnya pekerjaan bagimu. Bahkan seorang jenius seperti Schopenhaeur jadi tidak bermakna tanpa pekerjaan". 

Ia kemudian melanjutkan pesannya bahwa hidup itu seperti sebuah sepeda. Karena seseorang akan dapat menjaga keseimbangan hanya jika dia terus bergerak. Kata 'seseorang' dalam kalimat itu mengarah kepada 'people', sekali lagi bukan 'life' seperti ditulis Issacson. Tapi di buku yang saya nukil di awal, Issacson menerjemahkannya dari bahasa asli ke bahasa Inggris dengan mengubahnya menjadi: "Life islike riing a bicycle, to keep your balance, you must keep moving" - Hidup itu seperti mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, kamu harus tetap bergerak.

Versi Issacson menggunakan kata 'life' atau kehidupan sebagai subyek. Bukan 'people" (seseorang). Adanya dua versi kutipan ini terkadang membingungkan. Tetapi, apa pun itu, pesan Einstein menyentuh ke skala yang lebih luas. Bukan cuma terhadap seseorang. Melainkan pada seluruh atmosfer kehidupan jagad raya.

Tidakkan kita semua memang sejatinya sedang dan terus bergerak? Berputar!!! 

Bumi bersama planet lainnya berputar mengelilingi pusat tata surya, matahari. Tata surya bergerak dan berputar mengelilingi galaksi Bimasakti. Galaksi Bimasakti dan galaksi lainnya berotasi dan berevolusi terhadap black hole.

Dalam skala mikrokosmos pun begitu. Sebuah partikel kecil subatomik. Elektron misalnya sains telah membuktikan ia berputar-putar mengelilingi inti atom. Adanya medan elektromagnetik yang kuat dan berinteraksi sehingga menyebabkan gerakan elektron ditambah oleh tarikan dari inti atom, maka bakal menimbulkan gerakan berputar. 

Dan karena kita mengandung unsur atom dan molekul, maka saya dan Anda semua yang kelihatan diam, sejatinya sedang berputar. Berputar kemana? Mengikuti poros perputaran Bumi. Bumi kita tahu berputar pada poros dengan kecepatan 1600 km/jam. Jadi, meski kelihatan diam, tubuh kita sedang dan terus bergerak berputar dengan kecepatan minimal segitu. 

Sebagai gambaran, pesawat lebar Boeing 747 400 atau jombet jet yang biasa dipakai melayani penerbangan jarak jauh ke Amerika, hanya mampu terbang paling cepat 909 km (0,85 mach). Anda bisa bayangkan, betapa cepatnya tubuh kita selama ini telah bergerak.

Dan tidak satu pun mahluk di jaga raya ini yang bergerak lurus. Kita naik pesawat lurus menuju timur, terus dan terus.Ternyata kemudian kita akan kembali ke tempat yang sama. Kita terbang ke AS, mau lewat barat maupun timur tetap akan sampai tujuan juga. 

Tergantung maskapai apa yang akan kita pilih. Kalau naik maskapai Eropa kita akan diajak lewat barat. Jika kita naik maskapai Jepang, Korea, China, Australia atau China biasanya kita akan diajak lewat timur, menyeberangi samudra Pasifik. Artinya apa? Ini melojikkan bahwa Bumi itu memang bukan datar.   

Begitulah, dalam diam kita, manusia sejatinya terus berputar. Dan itulah keseimbangan. Karena itu penting bagi kita untuk terus bergerak. Sebab saat kita benar-benar "diam", maka itulah awal kejatuhan kita.

Air Hitam, 6 Pebruari 2021

#WeekendStory #StayAtHome #AlbertEinstein #DalamDiamManusiaBerputar #AlamSemesta

Wednesday, February 3, 2021

Menjadi Terhormat


"Ingin menjadi orang terhormat? Jadilah anggota Dewan Perwakilan Rakyat!"

BrE mungkin sembarang klaim ketika menuliskan cuitannya itu di akun Twitter-nya. Sekedar berseloroh. Ia memang senang bercanda. Kami kawan seangkatan di Taman Kanak-kanak di kampung. Lama tak bersua setelah kami berpisah pulau dan berbeda profesi. Terakhir kali bertemu dalam reuni. Tidak ada yang keliru dengan kicauannya. Sudah dua pariode ini ia menyandang label Yang Terhormat itu.

Suka tidak suka, memang inilah satu-satunya lembaga di negeri ini yang memberikan atribut "Yang Terhormat" bagi para anggotanya. Silakan cek, adakah pekerjaan atau bentuk pengabdian lain yang dapat pengakuan lugas setinggi itu? Gak ada! 

Profesi semulia guru saja tidak pernah disebut sebagai Yang Terhormat. Pun presiden. Orang nomor satu. Penguasa negeri ini. Presiden beserta para punggawanya harus berjuang lagi dengan sangat keras jika mau mendapat pengakuan itu. Mungkin akan dapat nanti, saat anumerta. Saat banyak orang merasa kehilangan. 

DPR sangat menghargai kerja keras para anggotanya. Mereka sangat mafhum. Bahwa tak mudah bagi para anggotanya bisa duduk di kursi itu. Mewakili suara rakyat. Vox populi vox dei. Suara rakyat suara tuhan. Suara rakyatlah yang menentukan hitam putihnya panggung politik.

Bisa lolos saja sudah perjuangan besar. Berdarah-darah. Menguras keringat, pikiran, energi. Pun kadang tak sedikit harta yang dikorbankan. Karena itu tidak pernah mempermasalahkan siapa kamu. Apa pun warnamu. Mau putih, kuning, biru,  hijau, merah, bahkan hitam sekalipun akan diterima. Lets welcome. Kamu mendapat kepecayaan langsung dari rakyat. Dan itulah kerhormatan.

Bagi sebagian wakil rakyat, panggilan Yang Terhormat akan sangat penting. Guna menjaga martabat dan marwah sebagai pejabat negara, katanya.

Pernah kolega BrE marah besar. Masalahnya mungkin tedengar sepele bagi rakyat. Tapi tidak bagi para wakilnya. Suatu hari dalam rapat dengar pendapat dengan lembaga antirasuah. Suasana gerah dan kaku. Gegara tak satu pun dari lima pimpinan lembaga antirasuah itu yang memanggil dengan sebutan "Yang Terhormat".

"Saya menunggu dari tadi, tidak pernah terucap 'Anggota Dewan yang Terhormat'. Pak Presiden saja kalau ketemu, dia katakan 'yang terhormat.' Pak Kapolri mengatakan 'yang mulia. Tapi tak satu pun dari saudara-saudari yang mengucapkan itu!."

Apakah BrE orang semacam itu?

BrE mengaku duduk di sana bukan untuk mencari label kehormatan. Tanpa label itu, toh ia sudah serta selalu dihormati oleh keluarga, kolega, dan karyawannya. Kehormatan menurutnya akan melekat pada integritas seseorang. Ketika orang berharap label itu, mungkin ia akan mendapatkannya. Tetapi ingat, di balik setiap kehormatan macam itu mengintip kebinasaan.

Ia maju kembali sebagai anggota dewan, akunya karena dorongan rakyat. 

"Sebelumnya, dengan lima perusahaan yang saya miliki, paling banter aku cuma dapat menghidupi 200 karyawan. Anggaplah mereka punya tiga anaknya, maka hanya kepada 1000 orang itu saja saya mampu berbuat," dalih BrE.

"Akan berbeda kalau kita berada di dalam, bagian dari sistem. Kita tentu akan bisa berbuat lebih besar dan untuk lebih banyak orang dengan memperbaiki sistem," kata BrE lagi bersamaan dengan standing ovation

BrE menyampaikan itu saat didaulat bicara pada temu alumni lima angkatan TK Bunga Bangsa Tuban. Taman kanak-kanak ini terletak di kampung Arab, hanya sekitar 400 meter dari pendopo kabupaten. Sekolah kami memang sangat strategis. Memandang depan akan nampak alun-alun kota yang luas dengan pohon beringin rindang di tengahnya. 

Di seberang jalannya berdiri bangunan klenteng tua dengan pantai boom yang indah. Menoleh ke kiri akan melihat keramaian. Bus-bus pariwisata berjajar parkir di depan masjid jami. Mereka menurunkan rombongan para peziarah wali songo yang berjejal menuju makam Sunan Bonang, samping belakang masjid. Karena itu banyak pejabat, camat, petinggi, kamituwo, hingga modin yang menitipkan anak-anak mereka di sini. 

BrE yang dulu pendiam, kali ini terlihat berbeda. Pandai bertutur kata. Lantang suaranya menegaskan  kesiapannya mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Ingin terus memperjuangkan nasib wong cilik seperti kebanyakan warga kampung kami yang hidup pas-pasan. Pas itu artinya gak kurang gak lebih. Kalau ternyata masih gak pas, ya harus dipas-paskan. Sebab negara kadang terlalu jauh untuk melihat kesulitanmu saat gajimu terkikis inflasi tinggi yang terus membayangi.

Beruntung sebagian besar alumni telah menjadi orang-orang sukses. Setidaknya itu terlihat dari busana yang mereka kenakan dan jenis tunggangan yang dibawa. Meski ada segelintir yang harus puas dengan hanya menjadi sekuriti gudang, seperti Ngadiran. Itulah kehidupan. Di kelas, dulu ia paling jago. Suka bikin onar. Ada saja yang dibuatnya menangis setiap hari, setiap kali ia ikut bergabung main.

Ada kawan lainnya yang memilih nganvas barang, sopir angkot, dan menjadi tukang. Tukang apa saja. Ada tukang batu seperi Suraji. Sudah 30 tahun menekuni pekerjaannya. Namun keinginannya untuk memperbaiki rumah warisan yang berdinding gedhek belum juga kesampaian. Ada pula tukang arloji, tukang kayu, hingga tukang gigi. 

"Dokter gigi Sudarso, masih inget kan?" candanya kepada saya di sela jamuan. 

Ia enggan disebut tukang gigi. Kios kecil di pasar atom miliknya sengaja tidak bertuliskan "tukang gigi" melainkan "Ahli Gigi".

Sekitar 44 tahun tak bertemu selepas wisuda TK, Darso terlihat manglingi. Lebih gemuk. Lebih berlemak, apalagi dengan tinggi cuma 155 cm. Kepalanya nyaris licin. Selicin landasan pacu Bandara Kennedy di timur Amerika saat diselimuti butiran salju. 

Tapi satu yang tak berubah darinya adalah senyumnya: masih lebar dan menghanyutkan. Ia  memang ramah kepada siapa saja. Selalu memamerkan senyum pepsodent-nya. Saat kebanyakan kami dulu bergigi keropos, hitam dan tanggal sana-sini karena doyan ngemut permen, dialah satu-satunya anak yang masih bergigi lengkap. Rapi dan putih lagi. 

Di depan kelas dulu, ia menyatakan cita-citanya ingin menjadi dokter gigi. 

"Aku juga tak tahu pasti. Entah, apa karena salah dalam memilih cita-cita atau salah ambil jurusan. Tak tahulah. Tapi tak apa. Setidaknya saya masih mampu di jalur kegigian, membantu mereka yang perlu gigi palsu. Sebuah kehormatan masih bisa berguna," kata Darso saat kutanya apa yang terjadi dengan cita-citanya dulu.

"Ada diskon besar loh. Buat alumni seperti kamu apa sih yang gak bisa. Kebetulan ini masih ada heat curing acrylic tersisa," ajaknya sungguh-sungguh. "Diskon 60 persen. Bisa diangsur!"

Kami tertawa lepas. Kali pertama dalam hidup saya bisa tertawa selepas ini. Tanpa ragu. Benar-benar lepas. Di depan tukang gigi, saya pikir tak perlu malu-malu bahwa ada dua gigi garaham saya yang copot.***

Air Hitam, 3 Pebruari 2021

#YangTerhormat #ReuniTK #WakilRakyat #Integritas



Sunday, January 31, 2021

Suara dari Talisayan: Gempa Itu...

Sebuah gempa terjadi di wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (29/1/2021) pukul 00.42 WIB. Meski terasa "lembut"-- dengan kekuatan hanya 4,1 skala richter dan berada di kedalaman 10 km -- bagi saya itu cukup mengagetkan.

Siang harinya, khotib menyinggung fenomena itu dalam kotbah jumatnya di Masjid At Taqarrub RT 20 Air Hitam Samarinda. Ia juga menunjukkan keterkejutannya. Ia melihatnya -- seraya menyitir beberapa peristiwa besar lain di Tanah Air yang menyisakan duka -- sebagai teguran cum ujian.

Lain halnya saya. Saya kaget karena itu adalah gempa pertama yang terjadi di Berau.  Sebenarnya, pada 21 Desember 2015 silam pukul 01.47 WIB, BMKG Pusat di Jakarta juga pernah mencatat adanya gempa di bagian utaranya, Tarakan. Magnitudonya bahkan lebih besar, 6,1 SR. Tetapi, lagi-lagi, karena berada jauh di kedalaman laut 10 km, maka masyarakat menganggapnya angin lalu saja.

Dua fenomena itu, terlebih yang terjadi terakhir di Berau, seketika mengingatkan saya pada kebijakan dan berbagai pernyataan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak (2008-2013 dan 2013-2018). Saya kembali teringat dengan tekadnya yang menggebu untuk membangun PLTN Talisayan. Daerah ini terletak di selatan laut, sekitar 5 jam dari Tanjung Redeb, ibukota Berau.

Dulu, saya menulis catatan kecil berjudul "Suara dari Talisayan". Catatan itu memang terprovokasi oleh ambisi Awang Faroek untuk membangun PLTN. Caranya, sesuai rekomendasi ahli BATAN, dengan membangun pusat listrik tenaga nuklir. Awalnya akan dicoba 50 MW. Begitu studi kelayakan selesai, maka akan langsung ground breaking tahun 2017 dengan funding dari luar (China).  

Tahun-tahun berikutnya akan dikembangkan lagi hingga 1000 MW yang pada akhirnya akan diharapkan bisa mengatasi byar pet listrik di seantero provinsi. Niatnya mulia. Awang Faroek yang kini anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Nasdem ingin segera menyudahi kesulitan menahun yang dialami rakyatnya. 

Sampai pada posisi itu, orang masih banyak mengamini. Akan tetapi argumen utama yang disodorokan bahwa Talisayan, Berau dan secara umum Kaltim aman dari gempa sehingga aman untuk jadi lokasi PLTN seketika memicu kontroversi baru. Pegiat ligkungan dan masyarakat sipil lainnya bersatu untuk menolak rencana tersebut.


Berikut catatan kecil saya waktu itu yang dimuat di TribunKaltim.co, Rabu (14/10/2015): 

Suara dari Talisayan

Judul itu saya adopsi dari sebuah buku nonfiksi "Voice from Chernobyl"  karya jurnalis kawakan asal Belarus, Svetlana Alexievich (67). Aslinya ditulis dalam bahasa Rusia: Tchernobylskaia, Molitva.

Terbit kali pertama tahun 1997, berkat perestroika. Namun baru diketahui dunia delapan tahun kemudian, setelah dialihbahasakan oleh Keith Gessen.

Membaca kembali buku itu saya segera teringat Talisayan, sebuah kampung di pesisir timur Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang telah dipilih sebagai tempat pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Gubernur Awang Faroek Ishak merasa haqul yakin PLTN akan aman di sana karena jauh dari jalur gempa.

Loh, kok seakan-akan ancaman itu datang hanya dari bencana alam. Kita mungkin lupa bahwa kecelakaan di Reaktor Chernobyl Unit 4 lebih karena faktor manusia. Bukan bencana alam. Dalam Seminar Nasional Keselamatan Nuklir 2009 di ITB Bandung, terungkap adanya pelanggaran prosedur kerja, keahlian operator yang  kurang memadai, dan rendahnya budaya  keselamatan di lingkungan kerja.

Awang Faroek juga mengklaim masyarakat setempat sudah setuju.

"Mulai kepala desa, warga, sampai Bupati (Berau)-nya datang memberikan persetujuan," ujarnya. "Tinggal Pak Jokowi, jika Presiden setuju maka kita langsung mulai."

Sesimpel itu?

"Suara dari Talisayan" dan "Voice from Chernobyl" memiliki kesamaan. Sama-sama bicara nuklir. Yang satu tentang rencana akan membangun energi nuklir agar menjadi solusi bagi ketersediaan listrik di Kaltim yang selama ini byar-pet.

Sedang buku Alexie bercerita mengenai kengerian dan derita yang dialami warga setempat akibat meledaknya reaktor Chernobyl, 26 April 1986.

Memang sudah banyak tulisan yang mengulas Chernobyl. Yang menarik, Alexie menggunakan genre baru dalam penulisan jurnalisme -- lazim disebut sebagai jurnalisme sastra -- untuk merangkai fakta demi fakta berikut suara-suara para korban ledakan nuklir itu. Kita layaknya sedang menikmati sebuah nobel: ada tokoh, konflik, plot, dialog, dan klimaks.

Simaklah bagaimana piawainya Alexie mengawali bukunya mengenai kengerian bencana nuklir yang disebut-sebut paling parah dalam sejarah itu. Begitu menyentuh. Ia gunakan teknik sudut pandang orang pertama untuk menguras apa yang dirasakan para korban.

Narasinya ia mulai dari kerisauan seorang istri dari pasangan muda yang bingung dan panik mendengar ledakan keras dari mes pekerja pada pukul 01.23. Ia belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia makin cemas suaminya belum juga kembali setelah beberapa jam.

Suaminya seorang anggota regu pemadam, yang dini hari itu langsung meluncur ke sumber ledakan di reaktor 4 Chernobyl.

Satu jam berlalu tanpa kabar. Dua, tiga jam menunggu seperti setahun, hingga akhirnya kabar itu baru ia terima pukul 07.45. Suaminya telah dilarikan dan diisolasi di rumah sakit!

Dalam terjemahan bebas kurang lebih begini:

"Saya tidak tahu harus bicara mengenai apa -- tentang kematian atau sekitar cinta? Atau apakah mereka sama? Mana yang harus saya bicarakan? Kami pengantin baru. Kami masih selalu berjalan dengan berpegangan tangan, bahkan jika sekedar ke toko. Lalu saya akan mengatakan kepadanya: Aku mencintaimu..."

Sayang sekali, saya belum sempat menginjakkan kembali kaki ke Talisayan untuk menggali suara warga. Info nuklir macam apa yang sebenarnya disampaikan kepada warga Talisayan hingga dengan mudah menyetujui pembangunan PLTN di kampung mereka? Apakah warga sudah mendapat informasi yang berimbang?

Boleh jadi pandangan warga akan berbeda saat mereka membaca buku Alexie itu. Atau saat mereka membaca "Hiroshima" karya John Hersey, yang pertama kali terbit di The New Yorker pada Agustus 1946.

Masyarakat Talisayan mungkin juga belum sempat menyaksikan pameran foto bertajuk '25 Tahun Setelah Chernobyl: 'Dampak Berkelanjutan Petaka Nuklir di Rusia, Ukraina, Belarusia, dan Kazakhstan' yang pernah digelar di ITB Bandung, empat tahun lalu.

Sebuah foto menampilkan gambar gadis, Ainagul. Berumur enam tahun namun memiliki tubuh anak usia tiga tahun. Caption foto menyebut pertumbuhannya terhenti akibat zat radioaktif Chernobyl. Kedua orang tuanya malu akan kondisi Ainagul, mereka mengeluarkannya dari sekolah.

Gambar lainnya, dua janin dengan kepala saling menempel dengan kerusakan pada bagian tengah tubuh. 'Di kawasan terkontaminasi ini, radiasi telah mengakibatkan mutasi genetis dan berbagai cacat lahir. Ketakutan terhadap penyakit-penyakit bawaan telah mengakibatkan banyaknya aborsi di wilayah ini.''

Sebagai perbandingan, berulangkali dan bertahun-tahun pemerintah pernah melakukan sosialisasi kepada warga Jepara ketika akan membangun PLTN di semenanjung Muria. Hasilnya nihil. Sampai detik ini sikap mereka tetap sama: menolak!

Karena itu patutlah kita acungi jempol kepada gubernur dan timnya yang telah mampu meyakinkan warganya. Tentu jika klaim itu benar.

Pro-kontra adalah kelaziman dalam demokrasi. Tinggal bagaimana pemerintah memberikan informasi yang terbuka, dan sejujur-jujurnya.

Saya tak bermaksud mengurangi apresiasi terhadap para ilmuwan nuklir yang menjadikan nuklir sebagai pilihan utama untuk mengatasi kebutuhan pasokan listrik.  Tetapi, kecelakaan Chernobyl membuat kita patut bertanya kembali: sudahkah kita benar-benar siap?

Mungkin bukan hanya sekedar soal alih-teknologinya. Bukan cuma mengenai insyinyur-insinyur nuklir yang telah menimba ilmu di mancanegara. Melainkan juga sumberdaya manusia nuklir yang kompeten secara keseluruhan. Disiplinnya, standar dan budaya keselamatannya.

Adanya penolakan dan sikap skeptis sebagian masyarakat terhadap PLTN haruslah dilihat sebagai filter supaya kita benar-benar siap, dengan belajar dari pengalaman dan kegagalan negeri-negeri maju.

Ya, memang ini bikin ribet. Tak apa. Adolf Hitler dengan kemampuan orasinya yang luar biasa pun barangkali tidak akan pernah merasa ribet mewujudkan mimpinya sebagai penguasa dunia. kalau saja tidak direcoki oleh pertanyaan-pertanyaan kritis sebagian warganya sendiri.

Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir. Dan aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah, katanya. []





Saturday, January 23, 2021

Konyol

PERNAH aku berangan-angan konyol. Teramat konyol. Lebih parah derajatnya dari kebodohan.

Tampil keren di panggung pesta perpisahan sekolah. Menyabet stand mic lalu membawakan "Still Loving You". Suaraku merdu, kata teman sebangku. 

Tentu akan mampu menghipnotis seisi gedung. Guru, ratusan kawan, para adik kelas. Wakar hingga Bulek Minten, penjaga kantin yang suka bawel, pun rela berhimpit. Berdesak agar bisa mengintip dari balik lubang kunci yang sempit. Mungkin ia penasaran. Tak pernah mengira bahwa murid pendiam-hitam-dekil dengan tampang morat-marit plus ndeso yang dia bawelin saban hari ini ternyata seorang penyanyi. 

Beratus pasang tangan melambai-lambai. Kiri-kanan berirama.

"To win back your love again. I will be there. I will be there..." 

Wow! Amazing! Lihat, mereka bernyanyi. Kompak terikut arus suaraku. Mereka benar-benar tersihir. Mungkin serasa menyaksikan performance seorang Klaus Meine.  

Seorang gadis cantik tiba-tiba muncul. Perlahan menyibak kerumunan. Tersenyum manis. Spotlight tak berkedip. Terus mengiring setiap langkahnya. Seperti gak mau kehilangan momen langka. Ia tersenyum manis. Meng-close up wajahnya. Hidung mancung dengan alis melengkung tinggi. Matanya besar indah bak almond. 

Riuh rendah tepuk tangan makin bergema. Bersahutan dengan suitan-suitan panjang.

***

MALAM perpisahan pun tiba. Ratusan wajah meriung. Masing-masing tampil dan menebar senyum terbaiknya. Senyum pepsodent. 

Pak Lardi, guru olahraga paling kolot nan galak di sekolah pun seolah sengaja lupa karakter aslinya. Senyumnya mengembang. Ia tampak dandy. Apalagi dengan bu Marta di sampingnya. Entah bagaimana bermula. Bu Marta guru muda tercantik dan favorit di sekolah. Ia fresh graduate dari sebuah kampus besar di Jogja. Menggantikan guru bahasa Inggris lama yang memasuki masa pansiun. 

Aku termasuk yang paling demen melihatnya saat mangajar. Semua yang diucapkan jadi mudah nempel dalam ingatan. Gaya dan suaranya mendorong hormon epinefrin dalam kelenjar otakku. Mungkin ini yang dimaksud Freud sebagai sublimasi dasar. 

Pernah aku nekat berbaur di kelas sebelah, duduk di bangku deret belakang. Hanya agar aku bisa lebih paham belajar bahasa Inggris. Tapi, sejujurnya...ya jujur nih, aku cuma ingin lihat terus gaya bu Marta. Hahahaha (maaf ya Bu).  

Tapi tunggu dulu.

Satu dua jam berlalu. Sambutan telah usai. Beragam tarian hingga pantomim sudah pula tampil. Maka, tampilah band yang ditunggu-tuggu. Kelompok band itu seketika menggebrak panggug. Penonton bersorak histeris. Riuh. Membuncah bersama warna-warni lampu panggung yang berjingkrak-jingkrak tak henti.

Kok tanpa aku. Gak. Gak mungkin! Pasti ada yang salah! Sudah kusiapkan baret hitam kebanggaanku. Baret khas Klaus Meine. Lengkap dengan sunglasses.

Saat itulah baru aku mulai sadar. Itu bukan duniaku. Tidak ada sedikit pun mengalir DNA pemusik dalam keluargaku. Pernah memang muncul kabar burung bahwa salah satu mbah canggahku seorang sinden kondang di kampung. Namanya saja kabar burung, akan sangat tergantung pada mood si burung. Saat happy mungkin ia akan bawa kabar baik. Sebaliknya kalau lagi gundah, bisa saja informasinya ikut terdistorsi. 

Sudahlah. Aku pikir mungkin ini saatnya untuk membunuh angan-angan konyol ini. Menyudahi omong kosong ini. Ketika sebuah angan dituruti, ia bisa menjadi belut liar tidak terkendali. Akan ngawur jadinya. Apa namanya kalau bukan konyol. Nyanyi tak bisa. Tak satu pun alat musik dikuasai. Gitar, misalnya. Lalu mimpi mau jadi penyanyi. Jadi Klaus Meine. 

Lah wong baca do re mi saja fals. Sebut re yang terdengar sol. 

Dulu pamit ke budhe mau belajar gitar. Lalu sudah setahun ngelayap sana-sini. Dari satu guru ke guru lain. Dari gitar tetangga hingga ke gitar kawan di seberang desa, utara stasiun sepur. Lagu pun sudah banyak aku hafal. Lirik-liriknya kumengerti. Kuhayati. Dari "Win of Change" hingga "She's Gone". Dari pop hingga balada. Akan tetapi, mengiring satu lagu saja gak pernah bener. Akor mayor dan minor yang sudah terornamentasi degan harmoni, ambyar seketika.

Ini kan seperti cebol merindukan bulan. Seperti Petruk berharap jadi raja. Tapi aku bahagia pernah jadi konyol. Setidaknya aku tahu kebodohan dan keterbatasanku. Bisa mnenjadi penikmat "Still Loving You" ternyata jauh lebih nikmat dan simpel. 

Air Hitam, 23 Januari 2021

#WeekendStory #Tolol


Saturday, January 16, 2021

Saat Hawking Mencari Tuhan



"If we do discover a theory of everything... it would be the ultimate triumph of human reason - for then we would truly know the mind of God" - Stephen Hawking



SEBENARNYA
 tak mudah memahami buku A Brief History of Time: From the Big Bang to Black Hole. Meski Stephen Hawking telah menghapus hampir semua rumus di dalamnya, kecuali menyisakan secuil persamaan terkondang sejagad, E=mc2 -- itu pun dengan sangat terpaksa, sebagaimana ia akui dalam esainya di The Wall Street Journal (6/9/2013) -- saya tetap gagap membacanya. 

Tapi, anehnya, saya menjadi seperti orang ketagihan kafein. Tergoda dan terus tergoda untuk membuka halaman berikutnya. Begitu melahap paragraf pembuka Our Picture of the Universe, dengan segera saya menjadi tak sabar menginjak bahasan Space and Time, begitu seterusnya. Saya terjebak dalam medan magnet yang begitu kuat. Tersedot. Menikmatinya tidak lagi sebagai buku fisika yang rumit, kering, gersang, dan njlimet. 

Ternyata saya tidak sendirian. Beberapa kawan jurnalis dan dosen juga mengaku merasakan kondisi yang saya alami. Seperti baca novel sains-misteri, kita dibuat penasaran. Dan setidaknya sudah ada 10 juta orang yang kepincut membacanya. Berasumsi buku-buku itu kemudian dipinjamkan ke kawan, mahasiswa dan para koleganya, maka mudah dibayangka belasan bahkan puluhan puluhan juta orang yang sudah melahapnya.

Hawking mampu menyederhanakannya dengan sangat apik. Ia bercerita bak seorang Dan Brown. Ia lontarkan banyak hipotesis dan tesis yang menggugah "ke-manusia-an" kita yang kecil -- tapi dengan hasrat yang sangat besar -- sebagai bagian dari kosmos, layaknya filsuf Aristoteles. Layaknya Kant. 

Tentu bukan semata karena kalimatnya yang memikat hingga buku itu menjadi laris manis. Terjual lebih dari 10 juta copy. Meski ada saja yang berkomentar, ah itu masih belum sberapa dibanding karya JK Rowling. Rowling dengan buku serialnya Harry Potter, hingga pada "Harry Potter and the Deathly Hallows" telah menembus penjualan 500 juta copy. 

Loh keduanya memang bukan untuk diperhadapkan. Tidak apple to apple

Suka tidak suka, Hawking telah membuat publik yang lebih luas tertarik mengenal alam semesta. Dulu, orang banyak alergi dengan dunia astronomi. Mengenalnya pun mungkin hanya setahun sekali. Saat mereka berada di ketinggian menara masjid atau di pantai. Berjam-jam meneropong horison dengan teleskopnya. Menghitung apakah waktu bulan Ramadhan telah tiba. 

Astronomi penuh dengan rumus. Dijejali angka-angka besar yang hanya bikin jebol kalkulator. Orang masih ogah membayangkan ada sebuah jarak mencapai 150 juta km, jarak Bumi-Matahari. Meski telah dikonversi lebih sederhana sebagai SA (Satuan Astronomi), tetap banyak orang bersikap sama. Melirik pun tidak. Jarak Bumi-Matahari dengan pembulatan 150 juta km, kemudian dijadikan pijakan ukuran 1 SA. Angka lebih eksak, sesuai perhitungan terakhir oleh google dengan menggunakan astronomi radio dan perhitungan orbit, 1 AU = 149.597.870.691 km. 
 
Toh Hawking tidak berkecil hati. Bahkan bangga. Selain karena sudah berhasil memecah rekor dunia penjualan terbanyak untuk buku sains, bukunya pun masuk dalam scene "Harry Potter and the Prisoner of Azkaban." Seorang penyihir di Leaky Cauldron (diperankan Ian Brown) terlihat lagi asyik membaca buku "A Brief History of Time" di tangan kirinya. Sementara jari kanannya menari-nari di atas sedotan cangkir coffe latte-nya. 

Penyihir itu mungkin tertarik akan menggunakannya suatu saat, dalam perjalanan menembus lorong waktu? Hahahahha....

Magnet utama dalam buku itu adalah kemampuan Hawking menyodorkan problem penciptaan alam semesta yang sejak ribuan tahun lalu sudah jadi pertanyaan banyak orang. Jadi bahan renungan filsuf dan ilmuwan. Diperdebatkan para penganut ateisme dan naturalis. 

Padahal, bukankah sebuah hal yang biasa kalau orang bertanya "Bagaimana alam terbentuk?","Berapa tahun usianya?", "Kapan kiamat akan terjadi?", "Dari mana jagar raya berasal?", "Bagaimana akan berakhir?", "Kapan mulai ada waktu?", dan seterusnya. Orang tua dan para guru dulu cenderung angkat bahu saat mendapat pertanyaan macam ini. Atau akan mengaitkannya dengan ajaran agama yang samar diingat dalam ayat-ayatnya. 

Beberapa yang lain merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan selesailah diskusi, bahkan sebelum dimulai.

Dan salah satu magnet itu adalah kalimat penutupnya yang ia tulis dalam buku itu yang saya kutip di atas. Kurang lebih artinya begini: "Jika kita mendapatkan jawaban atas teori segala hal (ToE), itulah kemenangan pamungkas pikiran manusia -- karena dengan begitu kita akan tahu nalar Tuhan.

Saya kemudian bertanya-tanya, apa sesunguhnya yang Hawking cari? Mencari ToE? Apakah teori yang ia maskud itu benar-benar ada? Atau sebenarnya ia sedang mencari sang kreator (Tuhan)? Lalu kenapa ia keukeuh tidak percaya Tuhan? Apakah ia telah mencampakkan Tuhan? Mengapa?

[bersambung]

Air Hitam, 16 Januari 2021
#WeekendStory
#StephenHawking
#BingBang
#ABriefHistoryOfTime

Wednesday, January 13, 2021

Membaca



TERUSLAH MEMBACA. KELAK KAMU AKAN MENYADARI BETAPA BODOHNYA KAMU

Air Hitam, 13/1/2021

#GerakanLiterasi #MembawaDanMenulis #ReadingLiteracy

Saturday, January 9, 2021

Ada Kaya Ada Miskin

ADA kaya. Ada miskin. 

"Ben, kamu mau jadi yang mana?" tanyaku begitu saja sambil nyeruput kopi yang baru disajikan barista di Starbuck Amplaz.

Pembicaraan kami terputus sesaat. Kami belum tuntas mengobrol soal data-data terbaru gini ratio World Bank yang ia sodorkan. Gap kaya miskin kian melebar. Kami juga singgung data terbaru Bloomberg Billioners Index yang dirilis pekan ini tentang konglomerat di tengah pandemi. Sebuah buku usang "How Rich Countries Got Rich...and Why Poor Countries Stay Poor" karya Erik S Reinert masih terjepit di genggamannya. 

Ia memintaku utuk menjadikan semua bahan itu sebagai data pembanding dalam seminar di kampus besok.  

Ben tidak langsung menjawab pertanyaanku. Matanya masih menatap lurus pada perempuan cantik di lobi hotel yang baru turun dari Lexus ES300-nya. Mengenakan denim dipadu kaos putih dan sepatu kets ia tersenyum ramah pada dua guest service. Sederhana, namun terlihat misterius dan rahasia. Siapa perempuan anggun itu? Putri Solo? Ah, bukan!

Mungkin Ben sekedar mengagumi kendaraan itu. Atau dua-duanya. Jarang-jarang dia begitu terpesona pada sesuatu.

Aku tahu Ben orangnya bijak. Pertanyaan itu tidak akan membuatnya terjebak untuk memilih satu di antara keduanya. Ia lebih suka berada di tengah-tengah saja. Dalam hal apa pun. Tak di atas. Tidak pula di bawah. 

Kami teman sepermainan sejak kecil. Satu sekolah di kampung. Malah sama-sama aktif di OSIS. Biasa kami memilih juara sekolah sebagai ketua. Mau tidak mau harus mau. Dan ia mau, dengan syarat aku bersedia jadi sekretaris. Duet maut, kata kawan-kawan. Kami baru berpisah ketika ia harus melanjutkan pendidikan di sebuah kampus terbesar di Jogya. 

"Aku pengin seperti Om Dani, jadi wartawan. Enak bisa keluar negeri gratis," kataya saat itu di sebuah stamplat bis antarkota, tempat terakhir aku mengantarnya.

Om Dani adalah wartawan harian besar ibukota. Ia adik dari ayahnya. Sering kali Ben dapat oleh-oleh buku dari negara-negara yang dikunjunginya. Tapi lebih sering kartu pos, bergambar ikon kota-kota di Asia-Eropa. "Lagi di Kinderdijk - Belanda. Terus belajar yang rajin!" Tulisan tangan itu menandai kartu pos yang dikirimnya. Ben mrengut. Mukanya berubah jadi jutek. Ia paling sebel kalau dikirimi hanya kartu pos.

Tentu saja aku gak percaya. Tak pernah menganggapnya serius. Tak pernah melihatnya menulis. Bikin sekedar coretan tangan pun tidak. Satu saja yang masuk akal bagiku. Ia gemar membaca. Tapi overall masih tetap gak nyambung antara kuliah dan cita-citnya. Ingin jadi wartawan kok kuliah di Fisika. Blas, gak nyambung!

Dulu, saat sekolah di kampung, kami memang demen dengan pelajaran Ilmu Bumi dan Antariksa. Kami terprovokasi oleh guru kami yang fun. Tidak pernah memaksa muridnya untuk mencatat. Sudah tentu itu amat menyenangkan bagi beberapa kawan yang malas. Pergi ke sekolah tanpa beban. Datang hanya dengan satu buku tulis untuk semua pelajaran, dilipat pula dalam saku belakang. 

Namun dengan peraga sistem tata surya yang sederhana, guru itu mampu membius dan mengajak kami berimajinasi menunggangi sang cahaya. Bak seorang Einstein naik kuda terbang, buraq yang melesat pesat menembus ruang waktu. Kami berselancar keluar Bumi. Dari planet ke planet. Keluar sistem tata surya. Menembus awan Oort. Berkelit menghindari komet-komet beku. Gelap. Namun kami merasakan keberadaannya, gaya gravitasinya. Lalu melanglang lebih jauh, mengitari Bima Sakti. Menuju galaksi antah berantah yang kami tak tahu di mana.
 
Saat yang lain guru membawa kami bersenang-senang di luar kelas. Ia ajak kami menjadi layaknya seorang Erathosthenes cilik. Mengukur besaran sudut yang dibentuk antara panjang tongkat yang kami tancap di lapangan sekolah dengan garis khayal yang menghubungkan puncak tongkat dengan puncak bayangan. Lalu kami memakainya untuk mengukur diameter dan keliling Bumi. 

Guru kami juga rajin memantik diskusi-diskusi hangat di dalam kelas. Kadang menyisakan pertanyaan-pertanyaan awam seperti di mana posisi kita di dalam spektrum jagad yang begitu luas? Kenapa ketika melihat Venus kita melihatnya seperti bintang terang? 

Mungkin karena itu Ben sempat mendaftar astronomi di Bandung. Tapi gagal. Sethun berikutya ia lari ke Jogja. "Agar aku tak perlu khawatir tak bisa makan. Di sini ada gudeg Bulek Sosro, buka tiap hari," tuturnya beralasan. 

Masih ingin jadi wartawan seperti om kamu itu? "Pastilah!". Tapi, yang diambil Fisika. Ini yang membuatku tak percaya bahwa ia serius.

"Ssst... jangan bilang siapa-siapa. Aku ambil prodi ini karena di sini sithik saingane," katanya, sekitar tiga dekade lalu. "Kalau mau cari saingan sedikit, sepi peminat, ambil Sastra Jawa beres," balasku sengit.

***

ITULAH Ben. Ia mengalir begitu saja. Tak pernah mau peduli apakah jalan yang dilaluinya itu akan selaras atau tidak dengan cita-cita yang akan diraihnya. Sering terasa konyol.   

"Ben?!" Tanyaku lagi, mengingatkan akan pertanyaanku yang belum dijawabnya.

"Ah, cukuplah. Yang penting cukup," akhirnya ia menjawab, bersamaan dengan hilangnya bayangan perempuan itu di balik lobi hotel.

"Cukup gimana?"

"Ya, cukup. Kamu tahu kan, aku gak akan mengumbar nafsu untuk jadi orang kaya. Tidak juga jatuh miskin. Artinya, cukup saat dihadapkan pada kondisi darurat yang kadang menuntutmu memecah celengan."

"Cukup, saat keluarga sakit dan perlu biaya berobat. Cukup untuk membantu tetangga atau orang lain yang kesulitan. Cukup untuk nyangoni keluarga yang datang dari jauh ke rumah. Cukup untuk nonton film apik. Cukup untuk ajak piknik keluarga saat libur tahunan. Cukuplah kalau itu bisa membuat bisa makan sehari-hari. Syukur pula kalau bisa nraktir teman, sekali-kali. Nraktir kamu, ya seperti sekarang ini," sambungnya lagi.

Ia nyerocos seperti sepur sedang langsir yang takut kehabisan solar.

"Cukup ini. Cukup itu. Cukup...cukup...cukup...Loh kok banyak sekali "cukup"nya. Lalu kapan kamu baru akan merasa cukup?" tanyaku.

"Hahahahaha... saat itulah aku cukup. Beda tipis saja dengan berke-CUKUP-an." 

Ben terkekeh lebar dan panjang. Berubah menakutkan. Aku tak melihat lagi Ben yang dulu. Kawan bersama main bentik. Pernah sepenanggungan saat disiram air oleh Mbah Rahmi yang marah gara-gara ketahuan nyolong mangga gadung miliknya.  

Kehidupan kata orang memang sulit ditebak. Kamu ingin kaya, eh tahunya miskin. Ingin biasa-biasa saja, sederhana, tahunya malah tajir melintir. Lalu kamu mulai diundang sana-sini. Semua orang ingin berguru. Ucapanmu yang dulu tak bermakna apa-apa, tiba-tiba dianggap bertuah. Banyak orang ingin tahu prinsip apa yang kamu pegang dan membuatmu sukses. Kamu pun jadi seleb. Pundi-pundi uang mengalir seiring dengan ketenaranmu yang terus menanjak.

Kamu mengalahkan Novanto dan Riza Chalid yang masih bermimpi. Tentu saja kamu telah belajar dari kebodohan keduanya. Bahkan kamu pun masih ingat kata per kata  yang mereka ucapkan. Kamu masih terus putar rekamannya agar kelak tidak terjerumus di lubang yang sama.

"Jadi Freeport jalan,bapak itu bisa terus happy, kita ikut-ikutan bikin apa. Kumpul-kumpul. Gua agak ada bos, nggak usah gedek-gedek. Ngapain gak happy. Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, kita beli private jet yang bagus, representatif. Untuk kumpul-kumpul paling 1 juta dolar," kata Riza dalam rekaman itu kepada Novanto.

"Buat kita tak ada yang rakus. Ini mutual benefit, konsepnya mutual benefit. Barangnya kita semua. Kita semua kerja. Freeport 51 kasih kita lokal, support financing. Ya, Pak?," lanjut Riza. Novanto membalas, kalau Freeport berani menjamin,semua urusan akan berjalan lancar, termasuk soal pinjaman dari Bank.

Dan Riza pun dengan entengnya berkata bahwa ia yakin Freeport akan mendapat dukungan penuh dari Presiden Jokowi. Ia menyebut,"Kalau sampai Jokowi nekat nyetop, jatuh dia."

Itulah kesalahan fatal keduanya. "Mereka tak pernah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, ingin kaya semua." Kata Ben tiba-tiba. Beberapa saat lamanya tadi aku lihat ia tenggelam dalam kebahagiaan dan tawa sebagai orang berke-cukup-an. Syukurlah, rupanya ia masih bersamaku. Ia masih seorang Ben yang kukenal dulu.

***

KEBAYANG gak kalau semua penduduk Bumi ini kaya?

[Bersambung]

Air Hitam, 9 Januari 2021

#TheUntoldStory #BenNamaku #WeekendStory #BabVII


Wednesday, December 30, 2020

Jagad Raya, Selamat Datang 2021

#SelamatDatangTahun2021

DULU. Duluuuu sekali. Jagad raya dengan triliunan galaksi ini sebuah materi yang padu. Berukuran subatomik. Sangat-sangat kecil. Bahkan dalam partikel lebih kecil yang hanya bisa dijelaskan lewat teori mekanika kuantum. Fisikawan modern juga ternyata tak cukup menggunakan relativitas umum untuk memahami hukum-hukum alam yang ditulis Tuhan dengan menggunakan bahasa matematika.

"Mathematics is the language in which God has written the universe," kata Galilleo. Ia ucapkan itu jauh sebelum Issac Newton menerbitkan karyanya yang sangat masyhur: "Philosophiae Naturalis Pincipia Mathematica" tahun 1687.

Energi kuat lalu membuatnya terjadi big bang (dentuman besar). Memisah. Memuai. Berkembang hingga ada ruang. Ada ruang, maka dengan sendirinya ada waktu. Dan tak terasa, sudah 13,8 miliar tahun waktu berlalu. #Selamat datang tahun baru 2021.

RUANG-WAKTU-MATERI-ENERGI, inilah satu kesatuan penyusun tempat yang kita kenal sekarang ini sebagai jagad raya. Begitu besarnya hingga kita merasa diri terlalu kecil. Faktanya memang kecil. Kita tidak lebih dari butiran debu di alam semesta.

"Tidakkah ini sebuah kesia-siaan, guru?" tanyaku.

"Loh, kok!?"

"Coba guru pikir, kalau memang jagad ini hanya untuk kita, buat apa Dia menciptanya begitu besar dan luas?"

"Tidak, tidak anakku!" kata guru itu dengan intonasi perlahan seraya mengelus-elus ujung janggutnya yang beruban.

"Kita memang kecil. Tapi Tuhan tahu, manusia punya hasrat besar. Sangat besar kadang. Melebihi ukuran fisiknya. Bahkan, maunya ingin melebihi semesta. Karena itu sengaja alam ini dibuat luas. Infinite. Higher infinite agar bisa mengakomodir hasratmu, hasrat kalian. Agar kamu berpikir!"

Terdiam saya mendengar  jawaban itu. 

Bukan untuk berpikir... Tapi bersiap untuk tidur. Mungkin ini lebih baik agar aku tak terus bertanya. Juga agar lebih aman menghindari paparan pandemi yang dikabarkan terus bermutasi, dengan varian yan lebih mematikan.😇😊


Air Hitam, 31 Desember 2020

#BigBang

#MetTahunBaru2021

Wednesday, December 16, 2020

Gubernur Isran Noor dan Boris Johnson


BUKAN karena gaya rambutnya yang acak-acakan kalau Gubernur Kaltim Isran Noor begitu gandrung dengan Boris Johnson. Ia akui rambut Johnson memang menarik. Tak lazim bagi politisi. Lebih natural.

Melihat Johnson seperti melihat siluet Donald Trump. Ada kemiripan soal rambut hingga publik Inggris pun tak ragu menjulukinya sebagai "Britain Trump". Kebetulan, keduanya sama-sama lahir di New York City -- kota terpadat di AS -- meski tumbuh dari latar yang berbeda.

Masih ingat saat ia menyampaikan pidato pertamanya di kediaman barunya, Downing Street 10,  London? Tak sedikit pun ia mengubah penampilannya. Tetap saja santai. Rambut pirangnya dibiarkan awut- awutan. Terkesan tidak pernah tersentuh sisir. Pidato singkat di depan awak media itu menandai telah resminya ia memegang pucuk pimpinan pemerintahan di negara dengan koloni terbesar sejagat, Inggris.

"Kita kini punya pria baik yang akan menjadi PM Inggris Boris Johnson. Dia tangguh dan pintar," puji Trump dikutip The Hill saat itu. 

Trump agaknya cukup menikmati disandingkan dengan kolega barunya ini. Ia merasakan sensasi yang lebih "sejajar", setidaknya ketimbang yang dialami Dwight D Eisenhower, generasi pendahulunya, 70 tahun silam, yang harus dihadapkan dengan Winston Churcill. Churchill sudah gaek. Menopang badannya tegak pun harus bersusah payah. Tongkatnya nyaris tak mampu menahan badannya yang bongsor. 

"Mereka menyebutnya Britain Trump, dan orang-orang mengatakan itu hal yang baik. Orang-orang di sana (warga Inggris) menyukai saya. Itulah yang mereka inginkan, itu yang mereka butuhkan," tuturnya lagi.

"He (Johnson) ia a real politician (Dia politisi sejati)," aku Gubernur Isran Noor kepada jurnalis Eric Ellis dari Asia Money yang secara khusus mewawancarai di ruang kerjanya, lantai dua Kantor Gubernr Kaltim. 

Gubernur Isran Noor tak lagi menyembunyikan kekagumannya terhadap sosok pemimpin itu. "He is persistent (Dia gigih), dan perjuangannya untuk Brexit pun bagus." Karenanya, ia berharap, suatu saat, Johnson bisa berkunjung ke Kaltim.

"He is very good to fight, meski rambutnya selalu berantakan," kata Isran diiringi dengan tawa lebar. Suka tidak suka, gaya rambut Johnson memang ikonik.

Pembicaraan keduanya berlangsung akrab, mengalir seperti kawan lama tak bersua. Isran menjawab setiap pertanyaan dengan gayanya yang khas, santai, kadang diselingi joke-joke yang membuat suasana menjadi cair. 

Bahkan, ketika Ellis bertanya serius bagaimana dia akan menyeimbangkan pembangunan (sebagai ibu kota negara baru) dengan lingkungan Kaltim, Isran Noor kontan tertawa. Tak perlu ada kekhawatiran. Dia tegaskan pemerintah pasti akan menjaga ekosistem di bumi jamrud khatulistiwa itu. Satwa-satwa langka dan unik di provinsi ini akan dilindungi seperti orangutan, beruang madu, termasuk "monyet-monyet berhidung mancung" dengan menunjuk hidung Ellis. 

Maksud Isran adalah Bekantan (Nasalis larvatus). Yakni jenis monyet berhidung panjang dengan rambut warna coklat kemerahan. Satwa endemik Kalimantan ini berkembang biak di kawasan hutan bakau, rawa dan hutan pantai. Namun populasinya menurun seiring dengan merangseknya laju pemukiman, industri dan tambang.

Saat janji bertemu Isran, Ellis agak kaget mengetahui banyaknya tamu lain yang tengah antre di ruang tunggu. Ia merupakan satu dari sekitar 60 orang yang sore itu punya janji bertemu. Ellis pikir, pada janji ketemu jam 15.00 Wita, Gubernur juga bersamaan membuat janji dengan puluhan orang itu. Namun Gubernur dilihatnya riang saja melihat fakta itu. Tetap riang menyambut dirinya masuk ke dalam ruang kerja di gubernuran.

"Itu bahkan kadang sering lebih banyak, biasa 100 orang lebih yang ke sini," jelas Isran. "Tidak masalah. Mereka adalah orang-orang saya. Tidak masalah. Mereka akan senang melihat pemimpinnya."

Karisma populis bukan satu-satunya yang dimiliki Isran dan Johson. Masing-masing memiliki banyak penggemar. Isran mendapat banyak dukungan dari masyarakat. Ia telah mencuat menjadi sosok nasional sejak Presiden Jokowi mengumumkan Kaltim sebagai lokasi baru pemindahan ibu kota negara. Sosoknya banyak diburu wartawan dalam dan luar negeri.

Johnson memang tidak umum bagi sebagian besar pemimpin. Gaya rambutnya yang kerap acak-acakan dan cara berpakaiannya yang tidak rapi menjadi tidak lumrah bagi politisi yang umumnya harus selalu tampil jaim (jaga image). Mungkin kebiasaan itu karena faktor latarnya yang lama menekuni dunia jurnalistik. 

Akan tetapi tidak juga. Meski separuh umurnya diabdikan sebagai jurnalis, Johnson dididik di sekolah privat elit-konservatif. Di sini para keluarga kerajaan dan aristokrat Inggris mengenyam pendidikan. Eton selama ini telah melahirkan 19 perdana menteri.

Ia mengawali karirnya sebagai jurnalis di The Times. Pernah dipecat, kemudian hengkang ke The Daily Telegraph. Di sini karirnya melesat. Tulisan-tulisan yang dibuat acap memberi pengaruh bagi politisi Inggris. Ia dikenal sebagai sosok Euroskeptis, yang membuat mantan PM Margareth Thatcher menyukainya. Ya, setali tiga uang dengan Thatcher yang tak pernah bersahabat dengan Uni Eropa.

Karena itu ia kemudian begitu getol menkampanyekan "Leave" pada referendum Brexit. Dengan bus besar merahnya, ia gigih berkampanye ke seluruh negeri bahwa Inggris akan mengalami kerugian besar jika memilih bertahan di Uni Eropa.

Lepas dari kontroversinya, Johnson memang memiliki gaya politik yang aneh. Baik di mata para koleganya dalam partai konservatif maupun kubu lawan. Terkesan tidak serius. Kadang membingungkan, berantakan dan tanpa arah. Tetapi, publik menyukainuya. Ia humoris sekaligus kharismatik, perpaduan yang aneh bukan? 

Pertanyannya, seberapa kuat gaya politik Johnson berpengaruh terhadap seorang Isran Noor? Bagian mana yang akan diadpsinya untuk melicinkankan jalan menujujajaran top nasional di 2024? Silakan, Anda punya hak untuk menebak dan membaca langkah-langkahnya!


Air Hitam, 16 Desember 2020

 

 



Wednesday, November 4, 2020

Pemimpin Edan

BAGI kebanyakan politisi, hidup sederhana adalah ketidaklaziman. Maka, akan menjadi aneh, edan dan merakbal apabila masih ada orang yang menjalani keseharian hidup seperti Hatta.

Salah satu keedanan wakil presiden pertama cum proklamator RI yang dikenang masyarakat adalah kisah mengenai keinginannya memiliki sepatu Bally. Suatu ketika, dalam lawatannya ke luar negeri, Hatta terkesima melihat sepatu di sebuah etalase butik. Tahun 1950-an, Bally dikenal karena kualitasnya yang tinggi. Sudah tentu harganya tak murah.

Hatta lalu berusaha menabung. Sekian lama menabung rupanya uang tak kunjung terkumpul cukup. Ada saja terambil untuk berbagai keperluan mendesak. Kerabat datang butuh bantuan, ia rogoh celengan. Orang rumah kehabisan sesuatu, kurang ini-itu, lagi-lagi harus ambil celengan. Hingga akhir hayatnya, sepatu itu tak bisa terbeli.

Tak terbayang ada seorang wakil presiden tidak mampu membeli sepatu. Ya, cuma sepatu! Padahal kalau ia mau memanfaatkan sedikit saja pengaruhnya, sangat mudah baginya untuk mendapatkan sepasang sepatu itu. Bahkan mungkin bukan cuma sepatu. Butiknya pun jadi.

Cukup telepon kawan pengusaha atau duta besar dengan joke halus dibumbu dehem-dehem kecil, tentu mereka akan mengerti. Akan dengan senang hati mengulurkan tangan. Mereka pun akan menggaransi bahwa itu bukan hadiah. Bukan pula sogokan. Ini hanya oleh-oleh kecil dari seorang kawan lama yang kebetulan baru pulang dari melintas benua, kilah mereka.

Tapi itulah Hatta. Hatta bukan Bung Karno. Ia lebih memilih jalan sulit dan lama. Itu pun gagal. Saat Yuke -- sapaan untuk istri tercintanya yang ia nikahi dengan mas kawin sebuah buku, yang membuat ia mendapat protes keras dari keluarganya  -- tidak mampu membeli mesin jahit idamannya pun, Hatta hanya dapat meyuruhnya bersabar, bersabar dan menabung.

Publik baru terhenyak saat keluarga Hatta menemukan guntingan iklan yang terlipat lecek di dalam dompetnya, tak lama setelah penguburannya di pekuburan rakyat TPU Tanah Kusir Jakarta, 15 Maret 1980. Guntingan itu berisi alamat toko penjual sepatu Bally. Ia menjadi saksi bisu atas hasrat sederhana yang terpendam seorang wakil presiden.

Kisah ini kemudian menyebar luas. Sepertinya tak seorang pun politisi di negeri ini -- mudahan pula termasuk mereka yang lagi berjuang di Pilkada 2020 ini -- yang tak pernah mendengar kisah harunya. Iwan Fals yang turut kehilangan lalu mendedikasikannya dalam lagu "Bung Hatta".

// Terbayang jelas jiwa sederhanamu// Bernisan bangga, berkapal doa// Dari kami yang merindukan orang sepertimu//

Iwan Fals dan semua rakyat mengenangnya. Merindunya. Akan tetapi banyak politisi tak terlalu butuh untuk dikenang dan dirindukan dengan cara itu. 

Mereka memilih untuk waras.

*****

BAGI mereka, materi dan penampilan mapan jauh lebih nyata. Lebih mudah mendatangkan rasa kagum sekaligus hormat. Dan karena itu mereka pikir harus berada pada posisi lebih tinggi dari rakyat yang dipimpin dan yang diwakilinya. Dalam segala hal. Terutama soal penampilan. 

Itulah nikmatnya hidup di republik ini, alam demokrasi abad 20. Demokrasi memungkinkan seseorang dipoles mulus sepesok apa pun bodi di dalamnya. Aroma citranya membius. Bahkan, kalau pun harus berbagi kepada kaum miskin dhuafa, demokrasi menyediakan ruang terbuka lebar untuk sekaligus meningkatkan citra.

Citra adalah segalanya bagi demokrasi. Maka, dengan kendaraan cabriolet mewah miliknya, seorang politisi kota yang cerdik akan mengemasnya sedemikian rupa. Ia berdiri gagah di kap atas yang terbuka dengan bergepok-gepok uang kertas merah dan biru. Berputar-putar di jalanan kota. Melambai-lambai tangan. Uang pun dihambur. 

Rakyat berkejaran. Berebutan. Saling sikut demi menangkap lembaran-lembaran uang yang meliuk-liuk berterbangan tertiup angin, bak layangan putus.

Ia menikmatinya. Girang hatinya melihat semua kelucuan itu. 

Orang-orang berlarian. Lalu begitu saja meninggalkan gerobak pentol rebusnya. Pedagang sayuran sigap meninggalkan lapaknya. Pembeli melongo. Sejenak kaget dengan apa yang terjadi. Yang lebih menarik, mereka kemudian ikut berlarian bersama para tukang becak, penjual kacang rebus, tukang bangunan hingga mahasiswa yang tengah melintas. Dan berebut.

"Senang bisa berbagi dan melihat semua ini," katanya dengan tertawa lebar. 

Puas. Ia seperti mendapat mainan baru. Belasan kamera menjepretnya. Wajah dan aksi sosialnya cepat tersebar luas. Dari mulut ke mulut. Dari kuping ke kuping. Dari hape ke hape. Menembus sekat-sekat ruang rapat parlemen hingga dinding-dinding tebal Istana.

"Ternyata sama dengan kami. Penampilan, merek dan apa yang kita pakai itu penting bagi profesi kami. Bisa ikut mendongkrak daya tawar kami di mata klien, dan ente tahu itu artinya fulus!" Seloroh teman pengacara mengomentari ulah politisi itu. Kawan saya ini suka sekali mengoleksi mobil-mobil mewah Eropa, hingga jam tangan branded Ricahrd Mille. Klien pun jadi segan. Tak mungkin menawar dengan harga kecengan.

 

*****

KUDA Arab memang bukan tandingan kuda Sumbawa. Menunggangi Alpard tentu berbeda sensasi dan impact-nya dibanding mobil angkot. Justru kalau ada politisi yang masih nekat pakai angkot dan motor jangan-jangan ia malah akan dicap edan. Dijauhi kolega di dalam maupun di luar fraksi. Lalu terhunjam dalam kubangan dalam dituding sedang pencitraan.

Oalah...kok ya terbolak-balik toh jadinya zaman ini. Inikah yang disebut zaman edan?

Zaman yang oleh Prabu Jayabaya (konon digubah Sunan Giri Prapen dalam kitab Asrar) digambarkan saat "wong apik ditampik - wong jahat munggah pangkat". Orang baik tersingkir, sebaliknya yang licik jahat, lagi munafik malah mendapat kedudukan. Zaman saat tata nilai buruk mengalahkan tata nilai baik. Terjungkir balik (wolak walik ing jaman) sebagaimana persepsi orang edan terhadap kewarasan. 

Mereka memilih untuk tetap waras. Caranya? 

Nyemplung sekalian. Ikutan edan. Kalau tidak, maka tak akan kebagian. Akan miskin dan pas-pasan. Itulah kewarasan. Itulah penyikapan pragmatis atas situasi sosial masyarakat -- berikut carut marutnya sistem dan praksis kepartaian dewasa ini -- yang penuh intrik dan kecemasan.

160 tahun lalu, fenomena demikian sebenarnya pernah terjadi seperti tersirat dalam serat "Kalatidha" karya Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873). Serat ini bukanlah ramalan seperti Jangka Jayabaya dalam "kalabendhu" (zaman kekaauan) yang ditulis Raja Kediri pada abad 12. 

Juga tidak berarti Ronggowarsito terpengaruh oleh kegelisahan Cicero (106 SM - 48 SM). Ia negarawan plus penutur dan penulis prosa terkenal di akhir kejatuhan republik Romawi yang hidup di zaman edan saat itu. Ia sahabat sekaligus pengkritik terbesar Julius Caesar.

"O tempora! O mores!" kata Cicero keras. Itulah kalimat pembuka saat ia memulai debat melawan politikus Roma di hadapan Senat Romawi tahun 63 SM. Artinya, "Oh, zaman apakah ini! Oh, akhlak macam apakah ini!"

Kalatidha adalah karya sastra bentuk tembang Sinom, sehingga sangat mungkin bait-bait yang ditulisnya merupakan gambaran realitas sosial politik kasunanan saat itu. Membaca judulnya saja banyak orang akan terprovokasi. Kala = waktu, tidha = ragu. 

Dua diksi itu ketika disatukan akan mudah dikonotasikan sebagai zaman keraguan, penuh ketidakpastian. Akan tetapi, banyak orang kemudian mengartikannya sebagai zaman edan. Mungkin karena menangkap pesan dari bait ketujuh yang kondang itu. Zaman edan adalah ketika orang-orang sukses didominasi orang-orang cerdik dan licik. 

Inilah zaman dimana "wong jujur ajur, wong olo mulyo". Orang jujur malah hancur (nasibnya tidak beruntung), ditinggalkan kolega dan orang-orang sekitar yang buruk moralnya. Justru orang-orang tak berintegritas (olo) mendapat kedudukan, pangkat, kekuasaan karena ia mau dan berani menghalalkan segala cara.

Kita yang tidak di hidup di era itu, lantas curiga dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Apakah terkait kolusi, korupsi dan nepotisme? Terkait maraknya praktek pokrol bambu dan hukum kotor yang dianggap kelaziman? 

Ditulis sekitar tahun 1860, masyarakat Jawa biasa membagi serat 12 bait ini ke dalam tiga bagian pupuh sinom ini. Bagian pertama (bait 1-6) berisi kondisi tanpa prinsip. Bagian kedua (bait 7) berisi tekad untuk mawas diri, dan bagian ketiga (8-12) berisi pepeling agar kita untuk selalu taat pada ajaran agama. Tetapi, bait ketujuh inilah yang paling dikenal.

//Amenangi jaman edan/ ewuh aya ing pambudi/ Melu edan nora tahan/ yen tan milu anglakoni/ boya kaduman melik/ kaliren wakasanipun/ Dilalah kersa Allah/ begja-begjaning kang lali/ luwih begja kang eling lan waspada//

Makna syair ini secara garis besar menyebut: Hidup pada zaman edan memag serba repot. Mau ikut edan hati tidak sampai. Kalau tidak ikut edan, tidak akan kebagian apa-apa. Malah akhirnya akan kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Allah. Bagaimana pun beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

Zaman  ketika "wong lugu kebelenggu - wog mulyo dikunjoro". Orang lurus terbelenggu, tidak mendapat tempat. Begitu pula orang mulia yang sehari-harinya menegakkan amar makruf nahi munkar malah banyak masuk penjara.

Seperti Cicero, Ronggowarsito mengungkapkan kegelisahan orang yang hidup di zaman edan. Yakni orang-orang yang ragu, yang tidak ingin terikut gila. Karena itu ia sebut serat ini sebagai serat Kalatidha. Ia sekaligus mengingatkan (pepeling) kita yang tidak satu zaman dengannya untuk selalu eling dan waspodo.


*****

POLITIK adalah jalan menuju kekuasaan. Seorang konglomerat sekali pun akan melihat politiklah jalan untuk bisa berbuat lebih banyak dan bermanfaat bagi masyarakat lebih luas, Bukan sebatas pada ribuan karyawannya saja.

Namun kekuasaan juga membuai. Memabukkan. Menggiurkan dari dulu. Sejak sebelum masehi di zaman Cicero pada Republik Romawi, Jayabaya, Roggowarito hingga era digital ini. Membuat orang sering lupa daratan, menghalalkan segala cara demi mempertahankan kekuasaannya. 

Pengkhianatan pun sangat mungkin dilakukan, sebagaimana kenyataan yang dihadapi dan membuat Cicero merasa masygul. Brutus yang pernah diampuni Caesar justru merunduk dan tega membunuh Julius Caesar.

"Politik bukan (lagi) perjuangan demi keadilan. Politik adalah profesi," kata Cicero dengan kekesalan memuncak.

Maka, manusia bisa berbuat apa demi mempertahankan ambisi politiknya. Istilah "homo homini lupus est" (manusia aalah serigala bagi sasamanya) yang tercetus dalam Asinaria (195 SM) karya Plautus -- yang kemudian dipopulerkan Thomas Hibbes dalam 'De Cive" -- tak berlebihan kalau kemudian diplesetkan menjadi manusia dapat menikam sesama manusia.

Mau edan, ikutan edan atau waras adalah pilihan. Di zaman edan seperti ini maknanya bisa terbolak-balik. Persepektifnya sangat tergantung dari kepentingan politisi. Namun ada satu yang ter pernah mau berubah, kejujuran! Nurani! 

Jika itu pilihanmu, percayalah Anda harus siap untuk dicap edan!

Air Hitam, 4 November 2020

#Pilkada2020

#JanganGolput