Tuesday, August 13, 2019

Sang Wakil Rakyat


WAJAH GANTENG dan bodi atletis tidak selalu jadi pilihan. Kalau pun masih memberi pengaruh, yakinlah itu bukan variabel utama.

Sani Bin Husain satu contoh. Wajahnya biasa-biasa saja. Hidung tidak tinggi. Kulit coklat tua, agak legam. Khas wajah ndeso, seperti saya. Pun sedikit tambun.

Tapi, banyak orang terpikat kepadanya. 

Padahal gambarnya tidak berhambur di daerah pemilihan, Samarinda Ulu. Para tetangga saja baru tahu ia nyaleg saat seorang kawan share posternya di WhatsApp Group.

"Saya malu," akunya.

Setelah dapat sedikit dorongan dari beberapa pendukung, barulah kemudian ia tergerak memasang poster. Itu pun jumlahnya sangat sedikit. Tak lebih dari 10 jari di tangan, dan relatif kecil. Hanya seukuran televisi 32 inch.

Dua gambar dipasang di tepi kiri jalan Anang Hasyim, menghadap perumahan. Barangkali orang akan melihat posternya saat keluar dari perumahan atau ketika putar balik mengantar anak ke sekolah. Satu menghadap keluar.

Malam itu Sani sedang menyiapkan sejumlah poster yang akan dipasangnya. Sendirian. Tanpa tim sukses.

"Maaf bapak2 ibu kalau dengar ribut suara," ujarnya kepada seorang tetangga yang melewati depan rumahnya.

Tangan kanannya mengayunkan palu pada paku di ujung poster di atas sebuah kayu reng. Saat itu pukul 22.40.




BANYAK ORANG  memanggilnya ustadz. Lengkapnya Ustadz Sani bin Husain. 

Ia memang seorang mubaligh muda. Pernah mengajar di SDIT Cordova Samarinda. Ia kini mengajar di beberapa perguruan tinggi.

Sani dikenal ramah dan baik sama tetangga. Berpapasan dengannya, ia akan menyapa. Tersenyum. Menganggukan kepala dari balik kaca helm yang menutupinya.

Ia juga setia kepada sepeda motornya. Kemana pun pergi di kota ini. Ke kampus, masjid, maupun acara tausiah. Saat berceramah, ia akan bersarung. Lengkap dengan kopiah, jubah putih dan sorban. Dengan motor itu pula sekedar membeli gula dan keperluan dapur lainnya. Saat begini, Ustadz Sani cukup berkaos oblong.

Murah senyum. Mudah bergaul. Sederhana. Apa yang diucapkan selalu memberi manfaat. Bahkan, dalam canda pun tak harat. Ditambah cakrawala keislaman yang kaffah itulah yang barangkali membuat banyak orang memilihnya.

Kebetulan saya pernah satu tim ronda dengannya di kampung.

Ia nyaris tak pernah absen. Kalau pun pernah telat 1 jam, misalnya karena sudah terlanjur janji berceramah, biasanya ia akan berulang-ulang meminta maaf kepada kami. Lalu menambah satu jam jaga hingga pukul 24.00.

Kami bilang tak perlulah sampai begitu. 

Tapi, ia keukeuh. Sedetik kemudian ia bungkus rapat kepalanya dengan kupluk. Melanjutkan jaga. Sendiri. Benar-benar sendiri. Seember jagung rebus panas yang ia bawa dari rumah sudah ludes kami santap. 

"Kebetulan tadi di L2 ada yang bawain jagung," kata Ustadz Sani.

Ia kerap membawakan jagung rebus ke pos ronda. L2 adalah daerah transmigran bedol desa di Kutai Kartanegara, sekitar 30 Km dari kota Samarinda.

Rumah saya berjarak hanya tiga blok dari Ustadz Sani.

Salah satu ceramah bakda subuh yang masih saya ingat adalah irisan. Islam itu menurut Ustad Sani, merupakan irisan dari tiga unsur. Yakni keindahan, kebenaran, dan kebaikan.

Indah saja tak cukup. Kebaikan juga tak cukup jika tanpa proses yang benar. Menyumbang masjid misalnya, itu baik. Tapi jika didapat dari hasil korupsi? 

Tak boleh kita membawa bendera Islam jika tidak mencerminkan ketiga unsur tersebut. Kurang satu saja tak boleh.

“Keindahan itu menghasilkan kelapangan. Kebenaran akan membuat kita bersabar. Kebaikan akan menjadikan kita mudah bersyukur. Muara dari ketiga irisan itu adalah bahagia,” katanya.

Jadi, jika ada orang Islam hingga kini masih merasa belum bahagia, berarti ada yang salah dengan tiga proses itu. Mungkin satu, dua, atau tiga unsur tadi yang dilewati. Saatnya me-review.




PROSES PENGHITUNGAN suara di TPS 20, 44, dan 54 RT 20 masih berjalan sore itu. 

Ustadz Sani sempat mengintip sekilas dari depan pintu. Ketiga TPS yang terletak berdampingan itu merupakan ruang kelas di SDIT Cordova. 

Ketua RT 20 Muhammad Soleh sengaja meminjamnya agar tidak perlu lagi mendirikan tenda jika itu dilakukan di ruang terbuka seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya.

"Terimakasih untuk dukungannya," ucapnya dengan menyalami erat sejumlah tetangga yang masih meriung di luar menunggu hasil.

Kebanyakan orang menunggu hasil pilpres. Jokowi atau Prabowo.

Mereka tidak terlalu peduli dengan hasil perolehan suara caleg. Bahkan, sebenarnya banyak caleg tidak mereka kenal meski ada yang perolehan suaranya terus bertambah.

Seorang caleg DPR RI dapil Kaltim misalnya, sempat membuat penasaran sejumlah warga siapa dia ketika namannya sering disebut petugas dalam penghitungan suara. 

Nama itu, belakangan memang unggul. Ia termasuk satu dari delapan orang caleg yang mewakili Kaltim di Senayan.

Akan halnya Ustadz Sani – yang dikenal sebagai seorang ulama -- ternyata benar-benar unggul.

Rapat pleno rekapitulasi suara oleh KPU Samarinda, Selasa (7/5/2019), menunjukkan suaranya paling tinggi di dapil itu di lingkup PKS, sebanyak 2.104 suara.

Selisih dua digit saja dari Mursyid, caleg petahana separtai di daerah pemilihan yang sama. Mursyid sudah dua kali menjadi anggota DPRD dari Dapil 4. 

Penghitungan kursi suara caleg 2019 kali ini berbeda. Tidak seperti pemilu lima tahun lalu, Bilangan Pembagi Pemilih. (BPP). Melainkan menggunakan metode Sainte Lague. Dengan sistem baru ini, total suara tiap partai akan dihitung lebih dulu untuk menentukan berapa jumlah kursi yang didapat. 

Kita tahu, metode penghitungan ini sempat menjadi perdebatan utama dalam pembahasan RUU Pemilu oleh para wakil rakyat di dewan karena terkait dengan kursi mereka di DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Saat itu, para wakil rakyat dihadapkan pada dua pilihan utama berdasar opsi yang disebutkan dalam naskah akademis. Yakni metode Kuota Hare dan metode Sainte Lague.

Kuota Hare, lazim diistilahkan dengan metode BPP, menitikberatkan pembagian kursi berdasarkan jumlah total suara sah (v atau vote) dibagi jumlah kursi (s atau seat) yang disediakan dalam suatu distrik. Menentukan dulu harga satu kursi di dapil dengan rumus v/s. 

Lalu, menghitung jumlah perolehan kursi masing-masing parpol dalam satu dapil dengan cara jumlah perolehan suara partai di dapil dibagi dengan hasil hitung harga satu kursi. Misalnya, ada sembilan parpol di satu dapil memperebutkan enam kursi. Maka, dihitung dulu total suara di dapil tersebut, katakanlah 9.000 suara. Hasilnya, 9.000/6 = 1.500, itulah BPP-nya. 

Jika diketahui, partai yang mendapatkan suara melebihi BPP hanya dua parpol, yakni Partai C = 1.640 suara, dan Partai F = 1.590 suara. Tujuh partai lainnya tidak mencapai BPP. Sebut saja, Partai A dapat 1.320 suara, Partai B dapat 1.100 suara, Partai D meraih 1.010 suara, Partrai E dapat 815 suara, Partai G dapat 714 suara, partai H mendapat 612, dan Partai I meraih.499 suara..

Cara mengkonversi suara tersebut menjadi kursi di parlemen akan dilakukan melalui dua tahap. Pertama, yang mendapatkan kursi di dapil tersebut sudah pasti adalah dua partai yang perolehan suaranya di atas BPP, yakni Partai C dan Partai F. Artinya, masih ada empat kursi lain yang bisa diperebutkan.

Keempat kursi itu akan menjadi hak partai yang memperoleh suara tertinggi berikutnya, yaitu Partai A, Partai B, Partai D, dan Partai E. Partai H dan Partai I dengan sendirinya tidak mendapatkan jatah kursi.

Sedangkan Sainte Lague lebih menekankan bilangan pembagi dimulai dengan bilangan ganjil 1,3, 5 dan seterusnya. Kedua opsi ini disukai para partai kecil karena dianggap lebih menguntungka mereka, namun akhirnya mereka memilih Sainte Lague.

Metode Sainte Lagfue diadopsi dari nama pencetusnya, Andre Sainte. Ia seorang metematikawan asal Perancis. Di Amerika, metode serupa dikenalkan oleh Daniel Webster, negarawan cum senator. Maka, di sana lazim disebut metede Webster saat diterapkan kali pertama tahun 1842 untuk membagi kursi parlemen di kongres AS.

Di sejumlah negara di Eropa metode Sainte Lague sudah jamak dilakukan. Sejak dipakai di Perancis tahun 1910, beberapa negara seperti Swedia, Norwegia, Kosovo, Latvia, Herzegovina, Bosnia, dan Jerman juga memakainya. Bahkan, di belahan dunia bagian selatan, New Zeland,pun ikut memakainya.

Indonesia menggunakannya pada Pileg 2019 setelah DPR RI mengesahkan UU Pemilu No 7/2017. Ini merupakan perbaikan dari tiga undang-undang yang pernah berlaku, yakni UU No 42/2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, UU No 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu, dan UU No 8/2012 tentang Pemilu Legislatif.

Dalam UU No 7/2017, Pasal 414 ayat 1, itu ditegaskan partai politik harus memenuhi ambang batas parlemen  (parliamentary threshold) 4 persen dari total suara. Setelah lolos ambang batas, barulah metode Sainte Lague dipakai untuk mengkonversi suara menjadi jumlah kursi d DPR RI.

Bagaimana caranya? Pasal 415 ayat 2 mengaturnya. Setiap partai yang memenuhi ambang batas akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bialngan ganjil 3,5,7 dan seterusnya.

Begini simulasinya:

Apabila di suatu daerah pemilihan tersedia 6 kursi, dimana Partai A mendapat total 24.000 suara. Dikuti Partai B sebanyak 15.000 suara, Partai C mendapat 9.000 suara, dan Partai D meraih 5.000 suara.

Untuk menenukan kursi pertama, maka masing-masing partai akan dibagi angka 1. Hasilnya adalah Partai A 24.000/1 = 24.000, Partai B 15.000/1 = 15.000, Parati C 9.000/1 = 9000, dan Partai D 5000/1 = 5.000.

Terlihat bahwa yang mendapat kursi pertama adalah Partai A. Dan nama caleg di Partai A yang boleh menduduki kursi tersebut adalah yang mendapatkan suara individu paling tinggi di partai tersebut. Lalu, bagaimana menentukan kursi kedua?

Berhubung Partai A sudah mendapat kursi pada pola pembagian 1, maka untuk menentukan kursi kedua, Partai A pembagiannya angka 3. Partai A 24.000/3 = 8.000. Sedangkan Partai B, C, dan D dibagi angka 1. Jadi, Partai B 15.000/1 = 15.000, Partai C 9.000/1 - 9.000, dan Partai D 5.000/1 - 5.000. Sehingga, kursi kedua diraih oleh Partai B dengan perolehan suara minimal 15.000 suara.

Bagaimana menentukan kursi ketiga?

Mengacu pada pola pembagian itu, maka Partai A dan Partai B akan dibagi dengan angka 3. Partai A 24.000/3 = 8.000. Partai B 15.000/3 = 5.000. Sedang Partai C dan D dibagi angka 1, yakni Partai C 9.000/1 =.9.000, dan Partau D 5.000/1 = 5.000.

Maka, jelas yang mendapatkan kursi ketiga adalah Partai C, dengan perolehan 9.000 suara. Begitu pula dalam penentuan kursi keempat, kelima, dan keenam akan mengikuti pola pembagian ganjil berikutnya.

Sehingga meski memiliki dua caleg yang mendapat perolehan suara cukup besar, total suara PKS hanya mampu raih satu kursi saja di Dapil Samarinda Ulu itu. Dan kursi itu hanya dapat diberikan kepada suara tertinggi di partai tersebut.

Samarinda membagi dirinya dalam lima dapil, dengan total 45 kursi. Khusus Dapil 4 ada 7 kursi tersedia. 

Mereka yang berhak antara lain Celni Pita Sari (Nasdem) 3.541 suara, Sani Bin Husain (PKS), dan dr Sri Puji Asturi (Demokrat) 4.781 suara. 

Kursi lainnya diraih Damayanti (PKB), Muhammad Rudi (Gerindra), Sugiono (PDIP) 2.969 suara, Muhammad Novan  Syahronny Pasie (Golkar) 1.823 suara.

Mohon do'anya Bapak dan Ibu semua. Semoga saya istiqomah dalam kebenaran, dan diberikan Allah kekuatan untuk memperjuangankan kepentingan rakyat banyak. Aamiin ya Rabb,” tulis Sani usai penetapan rekapitulasi suara.

Menjadi Yang Terhormat mungkin mimpi banyak orang. Tapi, berapa banyak yang mampu terpilih? Berapa banyak yang sudah mencoba setiap lima tahun, dan setiap itu pula gagal?




BEBERAPA PEKAN sebelum pencoblosan. Datang orang terhormat ke rumah saya. Tokoh muda. 

Ia mantan aktivis kampus. Pernah lima tahun duduk di kursi kehormatan Karang Paci, DPRD Kaltim.

Sudarno namanya. Saya menyebutnya Kang Darno.

Wajahnya lebih mudah ditemui. Ada di spanduk. Di poster besar. Ada di banyak tempat.

Berkemeja putih ia tersenyum, menatap warga dari balik kacamatanya di ketinggian baliho Tepian Mahakam, pertigaan Jl Pangeran Antasari.

Kemarin ia terlihat meriung di angkringan di kawasan kampus di Jl M Yamin Samarinda. Esoknya sudah jagongan di teras rumah seorang warga di Jonggon, Kukar. Ditemani pisang rebus, singkong bakar, dan kopi hitam. Entah besok akan ada di mana lagi.

Pun sore itu, ia datang dengan sebungkus besar tas kresek hitam. Isinya kacang kulit. 

"Oleh-oleh dari kampung, kang," katanya.

Entah dari mana ia tahu kacang kulit yang digoreng pasir itu camilan favoritku. Terlebih kacang Tuban. 

Kacang itu bercap Blora, meski tanamnya di wilayah Tuban. Kang Darno berasal dari Jatirogo, Tuban. Tapi kalau pulang kampng ia jarang melewati kota.

Dari Surabaya, ia lebih suka memilih jalur Bojonegoro lalu lurus menuju desanya di Jatirogo. Jatirogo terletak di barat-selatan, sekitar 54 kilometer dari kota Tuban. Ia harus memutar lebih jauh jika melewati Kota Tuban.

Jatirogo lebih dekat dengan Blora, berbatasan langsung. Tiga kabupaten secara geografis maupun kandungan alam juga sama: berupa tegalan, sawah, bukit kapur, banyak gua, dan minyak bumi.

Bedanya, Tuban (bagian utara dan kota) terletak di pinggir pantai. Pantura (Pantai Utara), begitu orang sering bilang. Ia merupakan kota wali. Memiliki Masjid Agung (dulu bernama masjid Jami) yang dibangun abad 15, saat bupatinya mememluk Islam.

Landmark Kota Tuban
Masjid itu pada zaman Majapahit menjadi pusat syiar oleh Sunan Bonang, satu dari sembilan orang penyebar Islam di Pulau Jawa.

Di samping masjid, di kampung Arab Kutorejo, terdapat situs makam Sunan Bonang. Hingga kini masjid itu tak pernah sepi dari para peziarah.

Kacang Tuban memiliki bentuk fisik kecil dan panjang. Ditanam di lahan kering tegalan merah. Dikenal kualitasnya. Disukai oleh industri-industri besar di Tangerang hingga para penjual nasi pecel.

Boeyatin adalah salah seorang penggunanya. Saya pernah mampir di warungnya. Warung Nasi Pecel Ponorogo Boeyatin terletak di pinggir Kali Mas Surabaya.

”Dari dulu kami pakai kacang Tuban untuk buat pecel karena rasanya renyah dan gurih,” kata Boeyatin membuka sedikit resep rahasia pecelnya.

Jarak Surabaya-Tuban hanya dua jam, melewati Gresik dan Lamongan. Biasanya seminggu sekali Boeyatin belanja bahan pecel di Kota Wali itu.

Kadang tak perlu harus sampai ke Pasar Baru. Pasar induk itu dibangun di atas Goa Akbar, sebuah goa terbesar di tengah kota yang di dalamnya terdapat masjid. Dalam perjalanan, sering kali Boeyatin mendapati petani menjajakan langsung kacang hasil panen dari ladangnya.

Pecel Boeyatin digemari karena rasanya yang khas. Cita rasa ini dihasilkan oleh racikan kacang Tuban yang disangrai (bukan digoreng) dengan aneka bumbu, seperti gula, garam, cabai, kencur, dan jeruk purut.

Layaknya ketemu kawan lama, kami pun akrab bercerita. Tentang banyak hal. Ia mulai dengan mengisahkan perjalanannya pulang kampung.

"Saya ini termasuk orang yang manut dengan opo ngendikane ibu. Kalau ibu bilang "Le, nang mulih". Ya, sudah saya akan segera pulang, meski ga punya duit ya saya usahakan. Apalagi ibu wis sepuh," tutur dia.
  
Maka, baginya, pulang kampung bukanlah ritual setahun sekali seperti saat jelang lebaran. Kapan pun ia mau dan ibunya kangen, ia akan mudik.

Tentu saja kami juga bercerita soal politik. 

Ia singgung konsep Trias Politica-nya John Locke dalam bukunya Two Treatises on Civil Government yang ditulisnya sebagai kritik atas kekuasaan absolut.

Menurut kawan saya ini akan sia-sialah pemilahan, pemisahan, dan pembagian kekuasaan itu ketika dalam prakteknya pengawas dan aparat hukum justru ikut bermain menyalahgunakan kekuasaan.

Saya lebih banyak mendengar. Ia seorang praktisi pada bidang ini.

Aku ingin menimba ilmu darinya. Kalau pun ada satu dua pertanyaan saya lontarkan, lebih utk menjaga bahwa ini bukan monolog. Sekedar memberikan perimbangan.

Kekuasaan memang cenderung korup, sudah lama saya dengar ungkapan itu. 

Sejarawan Inggris Lord Acton tentu sudah melihat bagaimana bobroknya praktik panjang penyalahgunaan kekuasaan kala itu, 300-200 tahun silam, sebelum menyatakan tesisnya: Power tends to corrupt.” 

Begitu yakinnya Acton pada tesisnya sampai ia tegaskan lagi dalam frasa berikutnya: "and absolute power corrupts absolutely."

Tapi bukan ini yang membuat saya tertarik ngobrol lebih jauh dengannya. Kawan saya ini enak diajak diskusi. Apa pun tema nyambung. Ia juga tidak pelit informasi.

He's struggling to tell the story behind drama panjang perebutan 51 persen divestasi saham sebuah perusahaan tambang PKP2B, khususnya terkait janji kompensasi kepada Pemprov Kaltim.

Kang Darno bercerita soal janji yang tak pernah terwujud. Yakni janji perusahaan itu untuk memberikan kompensasi Rp 285 miliar ke Pemprov Kaltim, hingga seseorang yang terus menekannya dengan berbagai cara untuk menggagalkan upayanya membentuk Pansus KPC.

Orang itu menelikungnya dari dalam, lewat tangan-tangan kekuasaan di partai. Ia pun terlempar.

Lima tahun tak dipakai. Dicopot dari seluruh jabatan di partai. Toh begitu ia tetap setia. Tetap enggan loncat partai. Militansi ini mungkin terwarisi dari keluarga. Ayahnya seorang nasionalis di zamannya.




SORE. USAI PENCOBLOSAN.

“Alhamdulilah kita “kalah”, “tulis Kang Darno dalam status akunnya di Facebook , 11 Mei 2019.

Kabar ini sebenarnya sudah menggelinding beberapa hari usai pencoblosan. Ini menguatkan anggapan umum bahwa popularitas caleg memang berpengaruh besar terhadap tingkat keterpilihan. Tetapi, tidak selalu linear. Ada faktor-faktor lain yang berpengaruh. 

Ada seorang caleg lain yang cukup populer. Sering diminta jadi narasmber di layar televisi. Memiliki sudut pandang relatif obyektif terhadap suatu soal. Pemikiran yang mencerahkan. Namun, dia kalah dari caleg lain yang tidak bersuara.

Ada pula caleg lainnya. Petahana. Memiliki basis suara. Memperoleh suara lumayan tinggi. Bahkan lebih tinggi jika dihadapkan antarmuka dari suara yang diraih rekannya terpilih dari pertai lain. Tetap saja, tidak membuat caleg itu terpilih. Ini karena total suara partainya tidak mampu meraih kursi.

Tak semua orang mampu menerima kekalahan. Hingga membuat seseorang berubah sikap. Tidak lagi ramah menyapa warga. Tak lagi aktif dalam kegiatan bersama. Sebagian lain malah harus ditangani ahli khusus karena tak kuat menanggung kenyataan yang dihadapi.

Beruntunglah bagi yang masih kuat hati menerima kekalahan. Dia akan belajar dari kekalahan itu untuk berlaga di pemilu berikutnya.
“Alhamdulillah dan terima kasih buat seluruh pemilih Sudarno, SE DPD RI no 44 se Kalimantan Timur.Hasil Pleno KPU Kaltim smalam, no 44 belum memenuhi syarat suara tuk melangkah ke DPD RI mewakili rakyat Kaltim.”
Menurutnya, yang masih membuat ia bangga adalah ia bisa meraih suara 33.000-an suara di Samarinda. Tanpa politik uang (money politics). Itu berarti kedua setelah perolehan yang diraih nomor urut 24, Awang Ferdian Hidayat.
Awang Ferdian pernah menjadi anggota DPD RI (2009-2014). Meski sama-sama memiliki kantor di Gedung Senayan, senator yang kita adopsi dalam sistem perpolitikan di Indonesia tidak diberikan wewenang untuk pengesahan anggara (fungsi budgeting) seperti DPR. Ia lalu memutuskan pindah haluan. Berlaga menjadi anggota DPR RI melalui PDI Perjuangan.

Ferdi -- begitu ia disapa -- terpilih kembali (2014-2018). Ia bersama tujuh orang lain dipercaya jadi wakil rakyat Kaltim di DPR RI. Perubahan lembaga dari DPD ke DPR RI ini juga dilakukan Luther Kombang, melalui Partai Gerindra.

Dalam perjalanan, tahun 2018 lalu, putra sulung Awang Faroek Ishak (tahun terakhir di periode kedua Gubernur Kaltim) itu maju menjadi Cawagub Kaltim mendampingi Syaharie Jaang. PDIP menilai pencalonan cawagub itu tidak berdasar perintah partai.


Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, Rabu (28/2/2018) mengungkapkan, partai telah mengambil sikap atas masalah ini. Melalui rapat yang dipimpin Ketua Umum Megawati, PDIP akhirnya memecat Ferdi dari partai.

"Siapa yang tidak taat pada perintah partai, lebih baik keluar dari partai, oleh sebab itu DPP memutuskan memecat Awang Ferdian," tegas Hasto di Balikpapan.

Ferdi menghindari untuk disandingkan dengan Safaruddin. Safaruddin orang baru. Keberadaanya di Kaltim karena menjadi Kapolda Kaltim. Sehingga masyarakat luas belum mengenalnya. Upaya tokoh PDIP untuk mengontak Ferdi tidak membuahkan hasil. Pada last minute Ferdi mendadak tidak bisa dihubungi. 

Ia lebih memilih Syaharie Jaang. Jaang hampir 20 tahun berkuasa memimpin Samarinda. 10 tahun sebagai wakil walikota mendampingi Achmad Amins (2000-2005 dan 2005-2010). Selanjutnya jadi Walikota bersama Nusyirwan Ismail (2010-2015 dan 2015-2018). Ferdi tahu akan risiko pilihannya dengan tidak mau disandingkan dengan Safaruddin. Ia harus menanggalkan baju kebesaran warna merah yang dipakainya.

Sementara maju di Pilgub Kaltim 2018-2023, Ferdi juga mendaftar menjadi anggota DPD RI 2019-2024.
Itu sekedar jaga-jaga kalau kalah. Ternyata ia kalah. Yang terpilih dan dilantik menjadi Gubernur-Wakil Gubernur Kaltim adalah pasangan Isran Noor-Hadi Mulyadi.
Kalah di Pilgub Kaltim, Ferdi beruntung masih ada cantolan di jalur politik lainnya. Ia kembali terpilih menjadi anggota DPD RI dapil Kaltim 2019-2024. 

Bahkan, total suaranya paling tinggi. Tercatat 345.628 suara. Ia bakal mewakili Kaltim bersama tiga tokoh lainnya di DPD RI, yakni Mahyuddin 147.483 suara, Aji Mirni Mawarni 120.338 suara, dan Zainal Arifin 78.725 suara.
“Ke 2 stelah no.24. Bravo tuk warga Samarinda pemilih no.44 yg sudah mengikhlaskan suaranya tanpa di bayar dengan janji2 dan money politics,” tulis Sudarno.
Tentu saja yang dimaksud Sudarno soal angka perolehan suaranya itu adalah khusus wilayah kota Samarinda. Dan semua paham suara yang diraih oleh keempat senator di atas adalah total suara dari  seluruh kabupaten/kota di Kaltim

Kalah tapi bangga. Bangga karena puluhan ribu suara yang ia peroleh, meski tidak membuatnya  menjadi caleg terpilih, akunya tidak perlu didapatkan dengan cara kotor, money politics.

Itulah yang kini dirasakan Kang Darno. Bangga mungkin karena tidak pakai politik uang. Juga karena memperoleh dua suara terbesar di kota Samarinda, di bawah putra gubernur.



Syarifuddin latihan pelantikan anggota DPRD
Kutai Kartanegara 2019-2024 - FB
SUKA TIDAK SUKA, politik uang masih ada di Pemilu 2019.

Politik uang merupakan bentuk pemberian atau janji menyuap. Baik supaya seseorang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu saat pemilihan umum.

Pemberian tentu bisa berupa uang atau barang.

Yakin, masih ada?

Sangat naif kalau saya bilang tidak ada. Syarifuddin, biasa disapa Udin, seorang caleg di Dapil Kukar 6 (Muara Badak, Marangkayu, dan Anggana) bercerita soal ini.

"Berat persaingan kali ini. Ini seperti menafikan apa yang sudah kami lakukan selama ini langsung ke masyarakat," jelasnya.

Bersama kawan separpol berlambang matahari terbit yang menjadi caleg petahana di Karang Paci, ia memang sering keluar masuk desa-desa di dapilnya. Ia kerap menyambangi warga. Empat tahun!

Beruntung Udin terpilih di tengah persaingan yang ketat itu. Dan tanpa politik uang! Meski jumlah suara yang ia peroleh menurutnya jauh dari ekspektasi pribadi, namun ia mengantongi suara paling tinggi di partainya. Itu artinya, 1 kursi untuk parpolnya tetap menjadi haknya.

Dengan upaya yang sungguh-sungguh dalam mendekati masyarakat seperti itu, maka wajar kalau ia turut geram jika ada yang bermain tidak fair dalam pileg kali ini. Begitu pun Baharuddin Demmu, caleg petahana tersebut.

Udin pernah aktif sebagai wartawan sebuah harian di Kaltim. Cukup lama ngepos di lembaga DPRD Kaltim. Kemudian berubah haluan menjadi penyiar Swara Samarinda, mengasuh rubrik komunitas berbahasa Bugis. Daeng Syarif, nama udaranya.

Ia nyambi berpolitik, sebuah dunia yang memang tidak asing baginya saat sebagai reporter. Banyak pejabat, anggota legislatif, dan relasi yang ia kenal. Menjadi kader dan pengurus DPW Partai Amanat Nasional Kaltim di bawah kepengurusan Darlis Patalongi, caleg untuk DPR RI.

Saat Bahar duduk menjadi anggota legislatif provinsi, Udin berkawan dekat dengannya. Ia lalu ditunjuk menjadi Staf Ahli Fraksi PAN DPRD Kaltim. Empat tahun terakhir Udin sering menemani Bahar menemui warga di daerah pemilihannya. Daerah pemilihan Udin di Dapil Kukar 6 kebetulan beririsan dengan daerah pemilihan Bahar.

Ini terlihat dari akrabnya hubungan sosialnya dengan warga setempat. Saya menyaksikan bagaimana orang-orang yang hilir mudik menjawab sapaan Udin dengan ramah sekali ketika ia mampir rehat di teras rumah seorang warga di desa Kutai Lama. Kutai Lama termasuk desa yang yang menjadi dapil-nya bersama Bahar. Sering ia kunjungi dan menjadi salah satu basis perolehan suaranya.

"Baji-baji ji," jawab orang tersebut dengan perlahan mengendarai motornya. Ia tersenyum ramah. Menganggukkan kepala. Begitu pula seorang ibu yang diboncengnya.

Ia mengenal hampir semua orang di desa itu. Begitu sebaliknya.

Warga Kutai Lama umumnya bermata pencaharian nelayan. Desa itu memang berada di muara anak sungai, Sungai Mahakam. Hanya beberapa menit, dengan kapal dongfeng, mereka sudah bisa menjangkau laut lepas di Selat Makassar. Saat tidak musim ikan, warga biasanya akan mengurus kebunnya.

Beberapa orang yang mampu, akan berbudidaya sarang burung walet. Membangun rumah sarang walet di sekitar kediaman maupun dataran tinggi lainnya. Menarik hasilnya. Satu kilogram bisa terjual Rp 15 juta sampai Rp 17 juta. Untuk rumah walet yang sudah dipenuhi sarang, bisa menghasilkan 2-5 kg sarang per bulan. Pengepul komoditi ekspor itu biasanya akan datang ke desa.

"Kalau mau cari ikan segar, tidak berformalin, di sinilah tempatnya. Murah pula," kata Udin tentang desa itu kepada saya.

Seorang anggota BPD (Badan Perwakilan Desa) Kutai Lama bercerita, politik uang masih marak di Kutai Lama dan desa-desa sekitar. Sulit dibuktikan. Orang yang terlibat tidak mau bicara per kasus. Tapi mereka bisa merasakannya.

Lucunya, kata dia, tak jarang antar-tim itu bertemu di jalan atau lorog desa justru saat pemberian "serangan fajar". Artinya, yang main politik uang sebenarnya tidak satu-dua caleg. Karenanya bukan tidak mungkin, beberapa rumah yang sudah dimasuki tim dari caleg tertentu, lalu dimasuki lagi oleh tim dari caleg lainnya.

Dobel yang mereka terima. "Kalau sudah mereka terima, ya saya hanya bisa bilang terserah kalian (siapa yang akan dipilih)," jelasnya.

Tapi, sejauh ini tidak pernah ada laporan soal itu ke Bawaslu.

Bahar tegas terhadap masalah politik uang. Bahkan, dalam video kampanyenya, ia sengaja mewanti-wanti masalah ini.

"Kalau ada yang bagi uang tangkap, lalu viralkan. Karena kalau tidak diviralkan dia akan duduk di Karang Paci (DPRD Kaltim) pasti dia akan menjadi politisi yang tidak baik," tegas Bahar dalam video.

Video kampanye berdurasi 60 detik itu saya tonton di akun Facebook Syarifuddin Habiburahman. Video berisi visi dan aktivitasnya selama menjadi anggota DPRD Kaltim 2009-2014 itu berjudul "Menyempurnakan Pengabdian".

"Izinkan saya menyempurnakan pengabdian di periode akan datang. Untuk DPRD Kaltim, Dapil Kutai Kartanegara," ucapnya dalam video tersebut.

Memang banyak cara untuk bisa dipilih menjadi sang wakil rakyat. Salah satu cara yang selalu ia lakukan bersama Bahar adalah dengan bertemu warga. Keduanya berkomunikasi langsung agar bisa menangkap aspirasi dan memberikan jalan keluar yang dihadapi warga.

"Kurang dari Rp 10 juta, kami habiskan Rp 600 juta untuk membantu mereka, misalnya membeli kapal dongfeng, membuat keramba, pelatihan dan sejenisnya. Barang-barang itu akan bermanfaat untuk peningkatan kesejahteraan warga," kata Syarifuddin.

Uang sebanyak itu tidak semua milik pribadi. Sebagai anggota DPRD Kaltim, Baharuddin memiliki akses terhadap sumber-sumber dana APBD Kaltim yang bisa digunakan untuk membantu warga di daerah pemilihannya.

Tetapi, ada pula caleg yang menggunakan cara-cara pintas mendekati warga.

"Bertemu warga saja tidak pernah, eh dapat suara banyak," kata Syarifuddin tanpa menunjuk siapa nama caleg yang ia maksud.

Bahar pernah menjadi Kepala Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kukar (2006). Suami Haris Retno, pengajar di Fakultas Hukum Unmul, ini dikenal sebagai aktivis lingkungan. Pernah menjadi Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim 2002-2004.

Kemudian beralih menjadi politikus dan memulai sebagai Anggota DPRD Kutai Kartenaga (2004-2009).  Lima tahun berikutnya di DPRD Kaltim, dan saat ini ia kembali terpilih di Karang Paci (2019-2024). Cara terakhir ini ia sebut untuk 'menyempurnakan pengabdiannya'.

Sepak terjang tentangnya banyak ditulis. Tegas, bersih dan peduli pada rakyat.

Dalam wawancara dengan Iqra Anugerah, Research Associate di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi, dan Sosial (LP3ES) Jakarta, Bahar mengaku menghabiskan sejumlah uang buat kampanye untuk mendapatkan kursi di DPRD Kukar. Sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta.


Sedikit lebih besar untuk kursi parlemen Karang Paci, sekitar Rp 100 juta sampai Rp 200 juta.

Jika benar, tentu angka ini sangat kecil dibandingkan angka yang biasanya dihabiskan caleg lain.

Saya dengar pengakuan seorang caleg kepada kerabat dekatnya, menghabiskan sekitar Rp 2,6 miliar untuk DPRD Kaltim. Sedikit lebih besar ketimbang angka yang harus ia keluarkan lima tahun lalu untuk mendapatkan satu kursi di DPRD Samarinda.

Iqra menulis masalah politik lingkungan dan sumberdaya alam sepanjang pemilu 2019 di Indonesia. Selama seminggu ia menempel kegiatan Bahar dan menuliskannya dalam newmandala.org dengan judul "Standing for Parliement, and Againts Mining in Kalimantan". 

Peneliti ini meraih PhD dalam Ilmu Politik dan Studi Asia Tenggara dari Northen Illinois University (NIU). NIU terletak di pusat kota DeKalb yang selama beberapa bulan lalu ikut terpapar poral vortex. Udara sempat drop hingga minus 25 derajat Celcius, lebih dingin dari biasa. Sekarang sudah lebih hangat, di kisaran 19 derajat Celcius.

DeKalb sejatinya merupakan kota kecil di negara bagian Illinois, AS. Tapi karena ada NIU dengan jumlah mahasiswa sekitar 30.000 orang, di antaranya merupakan mahasiswa internasional termasuk belasan orang dari Indonesia, menjadikan DeKalb cukup ramai. Mirip di Yogyakarta sebagai college town, sepi saat musim liburan.

Ada kota besar terdekat, Chicago. Ia ibu kota Illinois. Sekitar 115 km jaraknya. Saya pernah menginjakkan kaki di kota The Windy City itu. Julukan ini mungkin karena kuatnya angin yang bertiup dari Danau Michigan. Saya menjangkaunya dari Detroit. Cukup jauh memang ditempuh dengan darat. Tapi sangat mengasyikkan sebagai orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki seperti saya. Apa lagi kondisi jalan jauh dari kamacetan, lurus dan mulus (highway), gratis lagi.

Saya sudah merasakan tiupan angin itu saat menyusurinya dari Setevenville. Sangat ideal untuk tempat tinggal pada musim panas karena anginnya yang sejuk. Namun, siapa pun yang pernah tinggal di kota ini akan merasakan betapa angin itu sangatlah menusuk pada musim dingin. Angin mengalir di antara gedung-gedung tinggi.

Dari DeKalb ke Chicago, kita menikmati pemandangan yang menyejukkan mata. Sepanjang jalan kiri kanan terdapat hamparan luas perkebunan jagung, dan kedelai sehingga perjalanan menjadi tidak bikin bete.

Kondisi Chichago melesat jauh. Tumbuh subur gedung-gedung pencakar langit seperti John Hancock Center yang ikonik. John Hancock merupakan bangunan 100 lantai dengan tinggi 442 meter di North Michigan Ave. Dari lantai 94 gedung itu, saya bisa melihat bebas keindahan kota dan panorama Danau Michigan yang hanya beberapa blok.



Abrianto Amin - Koran Kaltim
IQRA JUGA ngobrol dengan Udin. Menurutnya, penting bagi konstituennya untuk memiliki kolompok tani dan nelayan sendiri. Jika tidak, akan sulit bagi mereka mengajukan proposal untuk mendapatkan fasilitas dan sejenisnya.

"Bahar and my interlocutors claimed that by using tactics like this Bahar does not have to buy votes," tulis Iqra.

Bahar dan para pendukungnya cukup optimistis akan memenangkan pileg untuk jabatan kedua di Karang Paci.

Tetapi, pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang akan ia lakukan untuk melawan kepentingan-kepentingan oligarkis. Oligarkis itu diuntungkan oleh pertambangan di Kaltim, sementara saat bersamaan Bahar juga harus memperjuangkan kepentingan konstituennya.

Sebagai aktivis lingkungan yang kini beralih menjadi politisi, pertanyaan demikian menjadi sangat wajar untuk disodorkan kepadanya. Publik akan menunggu aksi apa yang bisa diperjuangkan setelah ia duduk menjadi wakil rakyat yang terhormat.

Bahar sebenarnya tidak sendiri sebagai politikus yang berangkat dari aktivis. Ada nama lain seperti Abrianto Amin. Ia seorang caleg DPRD Kaltim dari dapil Kutai Kartanegara.

Awalnya, Abrianto masuk sebagai bacaleg dariPartai Golkar. Hal yang wajar. Ia memiliki jabatan tinggi di partai, Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Kaltim. Ia pula masuk di Tim 9 yang menggodok daftar nama para caleg yang akan diusulkan mewakiliGolkar untuk kursi Karang Paci.

Tetapi, dalam perkembangan, arah angin di tubuh partai pohon beringin itu berubah. Namanya pun ikut tersingkir dari kursi bacaleg.

"Ada proses yang saya tidak mengerti di Golkar dalam kaitandengan mekanisme, terutama pada pencalegan. Saya tidak mengerti, kenapa saya sebagai Wakil Ketua Kaltim dan sebagai anggota Tim 9 yang menyusun caleg provinsi, tiba-tiba dalam rapat tim terakhir pengiriman nama ke Jakarta, nama saya tidak ada," kata Abrianto dikutip dari Koran Kaltim, 20 Juli 2018.

Sebagai kader Golkar yang berkarir sejak 1985, Abrianto Amin merasa terzalimi. Karena itu ia pun memutuskan loncat pagar. Belakangan namanya masuk di daftar caleg DPRD Kaltim dapil Kukar dari Partai Nasdem.

Abrianto berangkat dari aktivis aktivis lingkungan. Pernah menjadi Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim, dua dekade lalu. Namanya sering muncul di media mainstream. Dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah, terutama yang berdampak pada perusakan lingkungan dan nasib rakyat kecil.

Ia kemudian menjadi Staf Ahli DPRD Kaltim. Di sini, ia makin punya jaringan yang lebih luas. Banyak politikus menjadi kawannya. Bahkan, meski sudah tidak memegang jabatan resmi di LSM lingkungan, wartawan masih sering meminta pendapatnya soal carut marut pengelolaan lingkungan di wilayah ini.

Ia bicara mengenai banyak hal dari persoalan Teluk Balikpapan, Dana Reboisasi, reklamasi, hingga tambang batubara. Wartawan mungkin melihat masih ada gairah pejuang lingkungan dalam darahnya.

Namun suara kritis itu mulai kurang terdengar setelah ia masuk ke dalam lingkaran pemerintahan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. Abrianto menjadi disibukkan oleh urusan bupati di kabupaten terkaya di Indonesia itu.

Belakangan namanya muncul dalam buku "Rezim Lokal di Indonesia: Memaknai Ulang Demokrasi Kita". Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerjasama dengan PolGov Fisipol UGM dan University of Oslo (2018).

Buku itu antara lain menggambarkan kekhawatiran warga tani Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu di Kutai Kartanegara terhadap rencana penambangan batubara yang mencakup lahan seluas 172 hektare. Kegiatan penambangan itu akan merusak kondisi bukit. Selama ini bukit tersebut menjadi lokasi sumber air warga.

Para petani dan warga desa takut akan kehilangan sumber air yang akan mengurangi produktivitas pertanian. Sukirno, Kepala Desa Sumber Sari, lantas memimpin warganya menolak rencana yang bakal merusak lingkungan di wilayahnya itu. Sejumlah lembaga pegiat lingkungan seperti Walhi, Jatam, Pokja 30 turut melawan.

"Akan tetapi, usaha-usaha perlawanan itu berhasil dijinakkan dengan merekrut Abrianto Amin, bekas Direktur Walhi Kaltim dan KAHMI Samarinda," tulis buku dengan editor Longgina Novadona Bayo, Purwo Santoso, dan Willy Purna Samadhi itu.

Taktik ini ternyata berhasil. Masih menurut buku itu, suara-suara kritis mengenai kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh industri keruk batubara perlahan-lahan mulai hilang dari pemberitaan media massa.

"Atas 'prestasi' ini, Abrianto Amin diberikan posisi dan peranan penting seperti ketua tim pemenangan pada perode kedua pencalonan Rita. Selain itu, ia juga diposisikan sebagai staf khusus Bupati Rita."




RITA ADALAH putri bupati sebelumnya, Syaukani Hasan Rais. Populer dengan sebutan Pak Kaning,  bupati pertama yang dipilih langsung tahun 2005. Ia terpilih bersama wakilnya, Syamsuri Aspar. Lima tahun sebelumnya, 1999-2004, Kaning sudah menjadi bupati.

Tapi belum genap lima tahun di periode keduanya, Kaning harus berhadapan dengan KPK terkait kasus korupsi seperti pembebasan lahan Bandara Loa Kulu. Ia dianggap merugikan keuangan negara sebesar Rp 93,204 miliar.

Pengadilan Tipikor Jakarta memvonisnya dua tahun enam bulan. Pengadilan Tinggi DKI menguatkan putusan Pengadilan Tipikor. Nasib naas justru dialami Kaning di MA. Lembaga peradilan tertinggi itu menambah hukumannya menjadi enam tahun.

Tapi Presiden SBY belakangan memberinya grasi kepadanya, 17 Agustus 2010. Bebas. Kaning yang sakit parah ketika itu sedang dirawat di RSP Pertamina Jakarta. Sejak menjalani persidangan, kesehatannya memang terus merosot.

Hasil pemeriksaan oleh dokter rumah sakit menunjukkan, Kaning mengidap komplikasi berbagai penyakit berat mulai hipertensi, bronkitis, polemenia, trestomi dengan ventilator, dan keterbatasan mental maupun fisik. Pun tak dapat melihat jelas dan bicara. Stroke berat.

"Dalam kondisi akut, infeksi akut organ vital bersangkutan. Drop yang luar biasa," kata Harin Tumpa, Ketua MA, dalam juma pers, Jumat (20/8/2010).

Tak cuma itu. Masih menurut Tumpa, Kaning mengalami pembengkakan  kepala karena kekurangan oksigen. Syaraf kepala rusak optical blinges atau rusak permanen.

Dianggap tak ada perubahan berarti saat dirawat di RSP Pertamina keluarga lantas memindahkan Kaning pulang ke Tenggarong. Melalui pro kontra. Apalagi ketika sempat dikabarkan membaik kondisinya.

KPK kecewa atas pemberian grasi itu. Apalagi grasi tersebut membuat koruptor yang merugikan uang negara hampir seratus miliar itu langsung menghirup udara bebas.

Surat grasi itu menyatakan vonis hukuman enam tahun dipotong menjadi tiga tahun. Yang bersangkutan diketahui sudah menjalani hukuman lebih dari tiga tahun. Ia juga sudah mengembalikan uang kerugian negara Rp 49,6 miliar.

Sebelumnya, Majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta memutuskan Syaukani terbukti bersalah menyalahgunakan dana perangsang pungutan sumberdaya alam (migas), dana studi kelayakan Bandara Loa Kulu, dana pembangunan Bandara Loa Kulu, dan penyalahgunaan dana pos anggaran kesejahteraan masyarakat.

Sepanjang 2001-2005, Syaukani disebut berhasil meraup dana Rp 93,204 miliar.

Pada akhirnya, bupati yang dikenal luas masyarakat dan dicintai para pendukungnya itu meninggal dunia di RSUD AW Sjahranie Samarinda, 27 Juli 2016.

Mengikuti jejak ayahnya di panggung politik, Rita Widyasari lantas mencalonkan diri jadi Bupati Kukar 2010-2015. Ia memenangi pilkada dan dilantik jadi Bupati Kukar pada 30 Juni 2010. Lima tahun kemudian, untuk periode kedua, ia kembali memenangi Pilkada Kukar.

Tapi, lagi-lagi ia seperti mengikuti jejak ayahnya, Rita harus berurusan dengan KPK. Lembaga anti rasuah itu menetapkannya menjadi tersangka pada 28 September 2017. Ia menjadi terdakwa atas kasus suap dan gratifikasi. Tak hanya itu. KPK menersangkakannya atas tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Kembali ke Abrianto, tokoh pergerakan lingkungan itu juga disebut-sebut bagian dari tim 11.

KPK terus mengorek keberadaan tim ini, termasuk dalam persidangan. Beberapa kali nama tim 11 disebut dalam sidang Tipikor Jakarta.

Junaedi misalnya, anggota DPRD Kabupaten Kukar, dalam kesaksiannya di Pengadiloan Tipikor Jakarta, Rabu (4/4/2018) mengatakan, Bupati Kukar Rita Widyasari memiliki tim pemenang saat Pilkada Kukar. Nama tim dimaksud adalah tim Gerbang Raja. Namun masyatakat lebih familiar dengan sebutan tim 11. Junaedi satu di antaranya.

"Di tim inti namanya tim Gerbang Raja. Ada pak Khairudin juga tim pemenang itu pak. Saat berjalan saja masyarakat sering sebut Tim 11 karena tim ini berjumlah 11 orang. Sebenarnya tidak ada pemberian nama. Karena jumlahnya saja 11, termasuk saya," kata Junaedi yang juga Ketua KNPI Kukar.

Meski tim sudah dibubarkan seiring dengan selesainya pilkada, Junaedi mengakui sesama anggota tim masih sering komunikasi. Saling support, dan menjaga  konstituen pilkada. Pihak terkait juga masih mengakui keberadaannya dalam bentuk lain.

Abrianto disebu-sebut sebagai satu dari 11 anggota tim tersebut.

Tim ini diseret KPK karena diduga terlibat dalam dugaan korupsi yang dilakukan Rita. Rita dan Khairuddin, pentolan Tim 11, diduga melakukan tindak pidana korupsi dan gratifikasi dalam sejumlah proyek dan perizinan di lingkup Pemkab Kukar senilai Rp 436 miliar.

Keduanya telah ditetapkan lebih dulu sebagai tersanga atas dugaan penerimaan gratifikasi. Rita tersangka lantaran menerima suap dari bos PT Sawit Golden, Heri Susanto alias Abun. Pengusaha dari Samarinda itu juga dijebloskan ke bui.

Bos PT Citra Gading Asritama, Ichsan S menyebut tim 11 antara ada dan tiada.

"Tim 11 itu antara ada dan tiada pak Jaksa," katanya saat dicecar keberadaan tim. Jawaban ini kontan membuat hakim, terdakwa Rita dan pengunjung sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta tertawa riuh.

"Dari luar tim 11 itu ada. Kalau masuk sebenarnya, tim 11 yang mana, bingung juga. Menurut saya tidak ada tapi orang lain menyebut itu ada. Tim 11 tidak pernah dibentuk dan dibubarkan. Opini yang berkembang, kalau masuk ke Kutai Kartanegara, harus izin tim 11," jelasnya.

Ia mengaku kenal dengan Junaedi. Kenal pula dengan Abrianto Amin. "Saya kenal Junaedi dan Abrianto. Abrianto itu tenaga ahli bu Rita."

Saat menjawab pertanyaan apakah Khairudin merupakan ketua tim 11, Ichsan mengaku tidak tahu. Isu yang beredar di masyarakat, Khairuidin adalah ketua tim 11.

Keberadaan tim sudah lama menjadi pergunjingan negatif masyarakat. Lebih santer lagi dibicarakan setelah KPK terjun langsung ke Tenggarong. Kemudian menjadikan Rita dan Komisaris PT Media Bangun Bersama (MBB) Khairudin sebagai tersangka.


Struktur Tim 11 - Jurnas.com
JURNAS.COM MELAPORKAN, terbentuknya tim 11 disinyalir sebagai "pagar" dilingkaran kekuasaan Bupati Kukar. Tim ini datang dari beragam latar mulai anggota legislatif DPRD Kaltim, DPRD Kukar, mantan wartawan, pimpinan organisasi kepemudaan, mantan anggota KPU Kukar, dan mantan Direktur Walhi Kaltim.

Identifikasi latar belakang tim 11, dianggap memiliki pengaruh untuk kepentingan koneksi-koneksinya. Antara lain, kebijakan mutasi pejabat di lingkungan Pemkab Kukar, pembagian proyek-proyek pekerjaan fisik maupun pengadaan, serta penetapan anggaran di DPRD Kukar.

Rita dan Khairudin dijerat dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) oleh KPK atas pidana korupsi dan gratifikasi sejumlah proyek dan perizinan di lingkup Pemkab Kukar senilai Rp 436 miliar. Khairudin mundur dari anggota DPRD Kukar saat ditarik Bupati Rita sebagai staf khusus.

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, 23 Oktober 2018, telah memperberat hukuman terhadap Khairudin menjadi 9 tahun penjara. Vonis sebelumnya, 8 tahun dianggap terlalu ringan. Pertimbangannya, hakim meyakini Khairudin bersama Rita menerima gratifikasi Rp 180 miliar berkaitan dengan proyek pembangunan, penerbitan SKKL dan izin lingkungan.

Sedangkan Rita, setelah divonis 10 tahun penjara, 6 Juli 2018, kemudian dieksekusi ke Lapas Perempuan Pondok, Jakarta Timur. Ia terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp 110 miliar, termasuk uang suap 6 miliar dari Abun.

Meski sudah dieksekusi, Juru Bicara KPK Febri Diansyah memastikan penyidikan kasus TPPU Rita masih terus dilanjutkan. Rita dijerat dengan TPPU senilai Rp 436 miliar.

Cerita ini memperjelas persoalan bahwa oligarki memang terus mendominasi arena pemilu di Indonesia. Cerita tentang Kutai Kartanegara adalah kisah kekayaan alam dan anggaran daerah yang begitu besar yang oleh elitnya dinilai tidak berhasil membangun kapasitas teknokratis yang bermanfaat bagi pelayanan publik.

Bahar dan kawan-kawan aktivisnya sangat menyadari itu. Melawan semua itu tidaklah mudah. Sebab orang seperti Bahar berhadapan tidak saja dengan orang luar tapi juga dari dalam (partainya).

Suatu ketika Bahar mendapatkan 'saran' dari beberapa orang untuk mengurangi kritiknya terhadap institusi pertambangan batubara. Ia menerima panggilan telepon dari orang yang tidak dikenal. Saat itu ia sedang di Jakarta.

"Beberapa orang juga datang ke saya dan mengatakan untuk menghentikan penyelidikan (tambang ilegal) di parlemen," akunya kepada Iqra.

"Walaupun demikian saya tetap melanjutkannya," tegasnya.




PUSAT PELAPORAN dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mensinyalir adanya modus baru politik uang dalam Pemilu 2019.

Bukan lagi dengan membagi-bagikan uang tunai kepada para pemilih seperti cara konvensional selama ini, melainkan dengan pemberian asuransi kecelakaan.

Deputi Pemberantasan PPATK Firman Shantyabudi menemukan satu caleg yang diduga melakukan politik uang dengan cara membagikan asuransi kecelakaan atau kesehatan.

"Ya ini metode baru, karena tidak bisa hanya melihat uangnya yang beredar tapi fasilitas yang diberikan, jaminan yang diberikan kepada masing-masing orang untuk dijaminkan asuransi kesehatannya, sama aja deh misalnya saya kasih teman-teman asuransi tapi kalian pilih saya ya," ujar Firman di Jakarta (5/4/2019) seperti dikutip Voice of America (VoA).

Politik uang antara ada dan tiada. Sebab tidak gampang mencari buktinya. Yang memberi maupun yang menerima tentu bakal tutup mulut. Karena itu sedikit sekali la[oran politik uang yang berhasil diungkap oleh Bawaslu.

Namun kenyataannya, satu-dua hari jelang pencoblosan, praktik ini masih berlaku. Apalagi dengan banyaknya partai yang ikut, persaingan antarcaleg menjadi makin ketat.

Syarat ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen membuat tantangan para caleg dalam mendapatkan kursi di parlemen menjadi lebih berat. Implikasinya, politik uang makin rawan dan menjadi pilihan pintas.

Masyarakat sendiri terlihat lebih pragmatis. Mereka memang tidak terang-terangan meminta uang atau barang. "Tapi, kalau ada yang memberi imbalan, kenapa tidak?! Simpel kan?" kata seorang warga.

Sekali lagi, tak mudah membuktikannya kendati beberapa caleg kalah maupun menang mengaku habis sekian ratus juta di dapil ini-itu. Mereka menggunakan sebuah tim yang solid dan tidak mau bercerita.

Lain dengan kasus Bowo Sidiq Prabowo.

KPK sejatinya menangkap anggota DPR RI itu dengan sangkaan menerima gratifikasi kasus penyewaan kapal induk distribusi pupuk. Saat itu KPK lebih dulu menangkap seorang direktur BUMN dan pihak swasta di bawah bendera Humpuss.

Dari penyelidikan terungkap Bowo sudah tujuh kali menerima gratifikasi. Dari Bowo pulalah, KPK menyita uang tunai Rp 89,4 juta serta uang Rp 8 miliar yang disimpan dalam 84 kardus. Uang itu ditemukan dalam sekitar 400.000 amplop dengan pecahan Rp 20.000 dan Rp 50.000.

Untuk apa uang sebanyak itu?

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers mengatakan, Bowo akan menggunakan uang tersebut untuk kepentingan kampanye pileg 2019. Bowo adalah caleg dari dapil Jawa Tengah.

"Diduga yang bersangkutan mengumoulkan uang yang sejumlah penerimaan uang tersebut, sudah barang tentu terkait jabatannya sebagai penyelenggara negara dan dipersiapkan untuk serangan fajar pada pemilu 2019," nkatanya.

BBC menyebut politik uang lahir karena ketidakpercayaan kandidat dan tim sukses bahwa mereka bisa menang dengan cara-cara jujur. Apalagi kalau yang dihadapi adalah caleg-caleg po[uler baik dari partai lain maupun separtai di dapil yang sama.

Maka tidak sedikit caleg yang populer pun harus tumbang. Sering nongol di TV ternyata masih belum cukup kuat untuk bersaing dengan caleg populer lainnya.

Dengan keserentakan pemilu kali ini, mereka harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan perhatian dari publik. Sebab perhatian publik akan lebih tertarik terhadap isu-isu atau kebijakan yang disuarakan capres-cawapres.

Selain itu, masalah tersebut muncul lantaran persoalan dari partai politik. Khususnya dalam konteks rekrutmen peja at publik.

Tak sedikit pemilih yang tidak 'tahu' siapa caleg yang dipasang di dapilnya. Calon-calon instan semacam ini biasanya membanjiri wilayah dapil dengan memasang banyak baliho agar terasa dekat dengan pemilih.

Dalam disertasi PhD di Australia National University berjudul "Money Politics Anda Electoral Dynamics In Indonesia A Preliminary Study of The Interaction Bteween Party-ID And Patron-Client" Burhanuddin Muhtadi menunjukkan satu dari tiga pemilih pada pemilu 2014 terpapar oleh praktek uang.

Ini menempatkan Indonesia ke dalam peringkat ketiga negara di dunia yang paling banyak melakukan politik uang ketika pemilu.





[achmad bintoro]

 Credit Photos

1. Mural Politik "Wakil Rakyat Pilihan Rakyat, Bukan Pejabat "Tolak RUU Pilkada" menghiasi dinding selatan Kanal Banjir Barat, Kawasan Dukuh Bawah, Jakarta Pusat, Senin (6/10/2014). Mural ini merupakan bentuk penolakan terhadap putusan DPR yang menolak UU Pilkada karena dianggap 
merampas hak konsitusi rakyat. WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA

2. Ustadz Sani Bin Husain. Screenhoot YouTube

3. Kacang goreng pasir. BIN

4. Di latar depan foto adalah bangunan yang menaungi makam Sunan Bonang dan kerabat dekatnya dengan latar belakang Masjid Agung Tuban. Dua Landmark Tuban yang sangat penting bagi sejarah kota tersebut. (bujangmasjid.blogspot.com)

4. imgrumweb.com

5. Terdakwa kasus suap pemberian izin lokasi perkebunan di Kutai Kartanegara Rita Widyasari mendengarkan keterangan saksi pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (3/4/2019). Sidang Bupati Kutai Kartanegara nonaktif itu beragendakan mendengarkan keterangan saksi. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

6. ANTARA FOTO/RENO ESNIAnggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3/2019).

7.  ANTARA FOTO/Teresia MayAktris yang juga pemain teater Sha Ine Febriyanti mementaskan monolog Wakil Rakyat Yang Terhormat dalam pementasan Dua Monolog di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Sabtu (19/7) malam. Monolog yang diangkat dari buku monolog politik karya Putu Fajar Arcana, berkisah tentang pledoi seorang wakil rakyat yang terus menerus dituding mengkorupsi uang rakyat.

7.  ANTARA FOTO/Syaiful Arif/ama - Pemilih memasukkan surat suara saat Pemungutan Suara Ulang (PSU) di TPS O7, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (24/4/2019). Rekomendasi PSU dikeluarkan pengawas Pemilu di TPS setempat karena pada pemungutan suara 17 April lalu terdapat 1 pemilih pemegang form A5 yang mencoblos 5 surat suara. 

8. ANTARA FOTO/Indrianto Eko SuwarsoPetugas Brimob berjaga dengan kendaraan taktis Barrracuda saat melakukan pengamanan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5/2019). Pengamanan di sejumlah objek vital diperketat pasca pengumuman penetapan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019.

9. Baharuddin Demmu - Instagram/baharuddin_demmu

10. Sebuah ponton bermuatan penuh batubara ditarik tugboat menyusuri Sungai Mahakam. Latar belakang adalah Masjid Islamic Center Samarinda - RAY YEN

11. Mural Menolak Lupa - Line Today












































Image captionAnggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/03)




Wednesday, July 10, 2019

No Problem



MASALAH yang kami hadapi sebenarnya tergolong kecil. Gampang untuk diurai dan diselesaikan. Malah sebagian orang mungkin akan beranggapan bahwa itu bukanlah masalah.  Saya pun berpikir demikian. Saya tentu tidak akan mau memelihara rasa nyut-nyut, yang sudah mulai terasa sejak kemarin, terus berdenyut dan makin menjadi.

Soal smartphone yang hilang, it’s not problem.

Bukan karena ingin sok milenial atau agar disebut Gen-X sejati, kalau saya menggunakan ungkapan ini. Lebih karena saya rasa pas saja ketimbang kalau saya pakai ungkapan-ungkapan tradisional yang populer pada abad pertengahan seperti "it's nothing," forget it," "think nothing of it," "no worres" atau apalah sebagai adab kesopanan waktu itu. Toh kita tidak harus mempermasalahkan ungkapan itu di sini.

Hehehe... what's the problem with 'no problem'?

Sungguh, saya dan putri tertua, sudah legowo . Kami berpikir, inilah bagian dari proses kehidupan yang harus kami jalani. Hakikatnya bagaimana kami belajar ikhlas, menyukuri dan menghargai suatu keberadaan. Sehingga ketika sesuatu itu menjadi tiada, saya sudah siap menghadapinya.

Saya kira tujuh tahun lebih dari cukup bagi sebuah gadget itu bersama saya. Ada beberapa kebutuhan aplikasi yang tak bisa dijalankan karena masih low end. Bukan jadul. Hanya, kurang selaras dengan perkembangan teknologi kekinian. Saya pernah merasakan sulitnya berburu back door karena tidak diproduksi lagi.

Jadi, ya sudahlah.

Kaget memang diawal. Sebab itulah hape satu-satunya. Tak sempat untuk back up data, dan entah kapan ada rezeki untuk mengganti keduanya. Mungkin ini sinyal agar saya harus lebih keras untuk menabung dengan menyisihkan sebagian gaji. Hehehe... Maklum hanya buruh gajian. Mungkin saya harus ambil kerja lembur atau part time di bidang lain, kalau ada.

Lagi pula, kalau pun ada uang, tidak lantas akan menyelesaikan masalah dampak dari kehilangan itu sendiri. Apakah itu akan bisa mengembalikan draft lima buku berikut notes yang selalu saya bikin day to day di aplikasi Notepad? Enggaklah. Hilang ya hilang. 

Pun putri saya, ia sempat panik. Saat tersadar hapenya tidak berada di saku celananya, kami harus putar balik untuk memastikan barang itu tidak tercecer di jalan. Belum jauh. Baru sekitar 300 meter kami meninggalkan rumah papan yang disewa sebagai posko KKN di Kutai Lama.

Perlahan kami menyusurinya. Kawan satu tim sampai ikut repot. Mereka dengan baik hati mau turut membantu mencari. Juga berulang membongkar tumpukan baju dan lipatan kasur di kamar yang mungkin menghalangi pandangan. Tak ketemu.

Sadar akan hape hilang itu hampir bersamaan. Sekitar lima menit setelah terucap pengakuan saya, sesaat akan menelpon untuk memberitahu bahwa saya sudah du depan pintu rumah. Saya baru tersadar saat tangan merogoh box di bawah dashboard motor. Astaga ternyata kosong. Tercecer di jalan? Terpental saat saya mengerem mendadak di lubang jalan? Mungkin saja! 

Sungguh apes. Apa boleh buat. Sudah terjadi, dan benar-benar tak ada kabar beritanya hingga kini. Tak bisa dihubungi lagi  "Telepon yang anda tuju sedang dialihkan," begitu setiap saya coba untuk menghubungi nomor saya itu. Ya, sudah. Untung cuma hape.

Kisahnya dimulai Jumat (6/7/2019) subuh. Sepagi buta itu, saya sengaja ke Kutai Lama mengejar waktu. Naik motor. Istri saya sudah wanti-wanti pakai mobil saja agar lebih aman. Dia tahu, saya belum hafal kondisi jalan. Kondisi kesehatan saya  juga belum terlalu stabil. Tapi saya abaikan saran itu. Membungkus diri dengan sewater agak tebal, saya pun menembus dingin pagi buta itu.

Kutai Lama. Dua dekade tinggal di Samarinda, baru kali kedua ini saya ke desa itu. Padahal tidak jauh. Dari Samarinda bisa ditempuh dalam 1 jam dengan kendaraan, selambat-lambatnya 1 jam 30 menit. Kali pertama kesana sepekan lalu, saat harus mengantarkan putri tertua mengikuti KKN di desa itu.

Artinya, dengan kedekatan geografis seperti itu, Kutai Lama memang bukan nama asing bagi telinga saya.

Saya sering mendengar namanya disebut-sebut dalam forum resmi setiap perhelatan budaya Erau Kutai. Setiap kali Pemkab Kutai Kartanegara menggelar Erau, Kutai Lama akan selalu dijadikan titik awal untuk menapak tilas ritual dan sejarah kebesaran kerajaan bahari, Kutai Kartanegara.

Dulu, 600 tahun silam. Kutai Lama konon pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Kutai Kartanegara. Jejaknya bisa dilihat dari keberadaan makam dua raja dan Datuk Tunggang Parangan di desa ini. Raja-raja lain atau para sultan peneruisnya, dimakamkan di Tenggarong. Sampai sekarang. Ini mengisyaratkan pemerintahan di Kutai Lama tidaklah lama.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1605, Raja Kutai Kartanegara ke-8, Aji Pangeran Adipati Sinum Panji Mendapa, menaklukkan Martadipura. Nama kerajaan menjadi Kutai Kartanegara Ing Martadipura sampai sekarang.

Penerusnya, Sultan Aji Muhammad Idris memindahkan Kota Raja Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke Pemarangan. Sekarang merupakan Desa Jembayan, sekitar 20 km dari Tenggarong. Itu terjadi tahunn 1732. Bersamaan itu diubahlah kerajaan Kutai Kartanegara menjadi kesultanan. Perubahan nama itu pengisyaratkan bahwa pemerintahan sudah berubah pada pola keislaman, meski ibu kotanya sempat dipindah lagi ke Tepian Pandan.

Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung. Artinya, "rumah raja". Lambat laun orang melafalkannya Tenggarong. Di bangunan berarsitektur Indische Empire yang dibangun oleh Balanda tahun 1932 itulah raja beristana. Sultan Aji Muhammad Parikesit menerima istana itu tiga tahun kemudian. Saat ini bekas istana itu difungsikan menjadi Museum Mulawarman.

Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri di Negeri Jahitan Layar, sebuah dusun kecil di Desa Kutai Lama yang terletak di mara Sungai Mahakam.Dibangun oleh seorang raja bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti sekitar tahun 1300.

Dalam buku Ekspedisi Kudungga (201&) disebut, nama Kutai pertama kali ditulis resmi dalam kitab Nagarakretagama. Kitab karagan Mpu Prapanca itu menyebut bahwa Tunyung Kute (Tanjung Kutai) berada di bawah perlindungan Majapahit.

Kini, Kabupaten Kutai Kartanegara disebut-sebut sebagai kabupaten dengan APBD terbesar di Tanah Air, sejak diberlakukan sistem pemerintahan desentralisasi. Seperti saat masih menjadi kerajaan dan kesultanan, Kutai Kartanegara memang dianugerahi kekayaan sumberdaya alam besar, mulai emas, minyak, gas bumi, hingga batubara.

Tajir, itu pasti. APBD-nya saja mencapai Rp 7,6 triliun (2014). Lebih besar bahkan dengan APBD untuk satu provinsi. Bandingkan misalnya dengan Provinsi Sulawesi Tengah, pada periode yang sama hanya Rp 2,5 triliun. Angka ini juga besar karena jumlah penduduk di Kukar hanya 645.817 jiwa. Karenany, bagi bupati saat itu, Syaukani HR -- bupati pertama yang dipilih langsung rakyat -- sangat mudah membangun dan menyelesaikan highway dari Tenggarong ke Samarinda.

Sejumlah kajian akademis menyebut Tunggang Parangan adalah penyebar agama Islam. Catatan  Alawiyin bahkan menyebutnya sebagai habib. Lengkapnya Habib Hasyim bin Musyayahkh bin Abdullah bin Yahya. Ia seoang keturunan Arab. Darah daging Rasul Muhammad Saw.

Habib Hasyim lahir di Tarim, Hadramaut, Yaman. Hadramaut sangat populer di kalangan keturunan Arab di Indonesia. Bahkan lebih dikenal ketimbang nama ibukota negaranya, Sana'a maupun Aden (Yaman Selatan). Sebab dari sanalah diaspora sebagian besar nenek moyang mereka berasal. Bukan dari Saudi Arabia.

Memang popularitasnya masih jauh di bawah kota-kota seperti Madinah, Turki atau Ankara. Tetapi, inilah kota provinsi yang di salah satu kotanya bernama Tarim. Kota kecil ini pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash Siddiq.

Tarim dalam perkembangannya mendapat berbagai julukan. Tarim sebagai Kota Para Wali. Tarim Kota Seribu Masjid. Tarim Kota Paling Diberkati di Muka Bumi (di luar Mekkah dan Madinah di Saudi). Dan berbagai julukan lain.

Nabi Muhammad mendoakan Hadramaut dan penduduknya setelah menerima laporan Ali bin Abi Thalib dan sahabat Muazh bin Jabal bahwa mereka ternyata diterima dengan baik dan ramah sekali oleh masyarakat di sana."Ya Allah, limpahkan keberkahan untuk wilayah Syam. Limpahkan juga keberkahan untuk Yaman."

Doa senada dipanjatkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Bahkan dengan tiga permintaan untuk Tarim. Yakni agar dibanyakilah orang-orang yang sholeh di Tarim. Agar Tarim selalu diberkahi Allah, dan tidak dipadamkan api agama Allah di Tarim sampai hari kiamat.

Ahmad Al Muhajir, salah satu keturunan Nabi Saw, memahami betul keberkahan doa itu. Ia pun turut berhijrah kesana dari Basrah, Irak. Penduduk Yaman menerima mereka dengan baik. Hingga sekarang, Hadramaut masih sebagai pusat pendidikan Islam dunia.

Salah satu keturunan Ahmad Al Muhajir kemudian hijrah ke India. Ia bernama Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Keluarga Abdul Malik ini lantas menyebar berdakwah ke sejumlah wilayah di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. 

Sekarang, kita mengenal keturunannya sebagai wali-wali penyebar Islam di Pulau Jawa. Dikenal dengan sebutan Wali Songo. Jumlahnya sembilan orang, di sepanjang pantai utara Pulau Jawa dari Ampel (Surabaya) hingga Cirebon di Jawa Barat. Keluarga Abdul Malik Azmatkhan itu ke Indonesia sejak tahun 1.400 ketika kerajaan hindu Majapahit mulai melemah kekuasannya. 

Tentu benar pula kalau ada yang berargumen bahwa di antara para wali itu ada yang berasal dari Champa, Samarkand, bahkan China. Tetapi, asal mereka tetaplah sama yakni dari Gujarat, India dan merupakan keturunan dari keluarga Abdul Malik Azmatkhan.

Dalam nasab Alawiyyin, silsilah itu tercatat rapi. Di India ada yang menulisnya dengan Al-khan. Tapi dalam catatan nasab, bukan itu yang tertulis. Melainkan Azmatkhan. Ini akan lebih memudahkan dalam pelacakan di buku nasab.

Tarim, tempat lahir Tunggang Parangan, merupakan sebuah desa ketika itu. Sekarang telah menjadi kota. Banyak orang, terutama kalangan santri ke Tarim hanya untuk mencari ilmu, berziarah atau sekedar bersilaturahmi dengan para ulama. Bukan yang lain. Tidak untuk berdagang atau berbisnis. Di antara sejumlah pusat studi keislaman dunia, Tarim mahkotanya.

Ahlan wa Sahlan fi Madinat Tarim.

Kota ini memang sangat terkenal. Bahkan sebelum peradaban Islam. Tetapi, janganlah bayangkan kota ini seperti Kairo. Jangan samakan dengan Dhoha maupun Sana'a. Ia bukanlah metropolitan yang penuh sesak dengan mall, gedung pencakar langit, kemacetan lalu lintas dan hingar bingar musik pop.

Sederhana. Mungkin itulah satu kata yang paling tepat untuk mendeskruipsikan Tarim. Begitu ungkap Dzul Fahmi, mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Al-Ahgaff, Tarim.

Di kota yang menjadi jejak tempat habib penyebar Islam di Kutai Lama dan daerah lain di Indonesia  itu menurut dia, rumah-rumah warga masih didominasi oleh rumah yang terbuat dari tanah liat. Tak sedikit yang dari luar konstruksinya seperti tembok lapuh, hampir roboh. Klasik sekali.

Bahkan, beberapa bangunan rumah itu ada yang sudah berdiri sejak 300 tahun silam. Rumah-rumah itu berdiri di antara bangunan madrasah atau pusat-pusat studi keislaman dunia. Banyak santri dari berbagai dunia yang belajar di sini. Mereka memperdalam ilmu fikih, tasawuf, tauhid, nahwu, luhgah, juga terekat. Secara teori dan praktik.

"Di Tahrim, saya selalu mengingat akhirat," ungkap Dzul menirukan uapan rekannya, Michels. Ia santri mualaf dari Argentina. Mengucapkannya itu saat mmberikan sambutan perpisahan Daurah Ramadhan di Ma'bud Darul Mushtafa tahun 2014, dengan mata berkaca-kaca.

Tahrim memang oase hati, katanya. Terutama bagi para penempuh lorong takziyah, pensucian jiwa. Warga Tarim ditempa dengan tradisi keberagaman yang sangat mengakar. Di tempat ini, tapakan- tapakan konsep sufistik seperti nilai zuhud (asketisme), ikhlas, mahabbah (cinta), dan nilai-nilai tasawuf yang lain tak hanya menggelinding sebagai teori. Namun juga menjelma dalam keseharian.

Mungkin itulah sebabnya, Direktorat Nasional Pariwisata Yaman, menjuluki Tarim sebagai Ashimah Ruhiyyah. Ibukota Spriritual. Sudah tentu sekaligus sebagai kota bersejarah.

Dengan tradisi keislaman yang bertahan sejak ratusan tahunn lalu itu, tepat kiranya kalau Tarim diganjar penghargaan sebagai Ibukota Kebudayaan Islam (Capital of Islamic Culture) tahun 2010.  Penghargaan ini didapat dari sebuah organisasi internasional ISESCO  -- Islamic Education Scientific and Cultural Organization. Tradisi keilmuan, keadaban, kebudayaan dengan suasana dan karakter yang saling berdesakan itu masih terjaga oleh penduduknya -- sering disebut Hadhorim, hingga kini, 2019.

Kota ini bagian dari provinsi Hadramaut. Cukup jauh dari Al Mukalla, ibukota Provinsi Hadramaut. Sekitar 350 kilometer. Lebih jauh lagi dari Sana'a, ibukota negara Yaman. Mencapai 1.250 km. Itu sama dengan jarak Merak-Banyuwangi. Tapi, dekat loh dengan bentangan kebun kurma, Sayun. Berjarak 15 kilometer saja.

Beberapa literatur menyebut Tarim mulanya sebagai kota perdagangan, abad keempat sebelum masehi. Sebelum peradaban Islam. Sebuah buku berjudul Tarim Baina al Madli wal Hadhr misalnya, ditulis Ahmad Abdullah bin Syihab mengungkapkan Saba ketika itu runtuh dan digantikan oleh peradaban Himyariah. Tarim sendiri diambil dari nama penguasanya, Tarim bin Hadramaut bin Saba al-Ashghar.

Islam datang ketika Nabi Saw masih hidup.  Di luar Hijaz (Makkah dan Madinah), masyarakat Tarimlah yang pertama menerima Islam. Saai itu mereka datang menghadap Nabi, dan Nai Saw mengutus Ziyad bin Labid al-Biyadui al-Ansari untuk membina dan mengajari warga. Abu Bakar ra juga tak mau ketinggalan, turut mendoakan masyarakat Tarim karena ketaatan dan kesalehannya itu.

Nama lain dari kota ini adalah al Ghanna. Mungkin ini merujuk pada pohon-pohon dengan beberapa sungai yang mengalir di sana. Sebuah oase di tengah tandusnya sebagian besar tanah Yaman.

Kota kecil ini memang istimewa. Beberapa mahasiswa menyebut, meski hanya kota kecil, di sini terdapat lebih dari 360 masjid. Sering kali bertemu masjid hanya beberapa kaki melangkah. Mungkin inilah kota di dunia dengan jumlah masjid terbanyak, lebih dari 1000 menara berdiri. Akibatnya, suara azan selalui terdengar bersahut-sahutan karena letak masjid yang berdekatan. Salah satu masjid tertua adalah Masjoid Wa'el. Dibangun oleh Tabiin, Ahmad bin Abbad bin Bisyir tahun 43 Hijriah.

Sudah sejak dulu, Tarim menjadi pusat mazhab Syafii. Kita tahu sangat banyak penganut Islam bermahzab Syafii di Indinesia. Sekali lagi, ini menjadi salah satu bukti betapa kuatnya ikatan tradisi keilmuan Nusantara dan Tarim.

Eh, kok menjadi ngelantur. Maaf, begitulah kalau sudah cerita sering kali ngalor-ngidul tidak jelas arah. Saya kadang nge-hang di masalah alur beginian.

Sampai di mana tadi? Oh, iya, kembali ke Tunggang Parangan.

Dijuluki Tunggang Parangan oleh masyarakat sekitar karena konon ketika datang ke Kutai, ia menunggang jukut (ikan) Parangan. Versi lain menyebut ia menggunakan ikan itu saat adu kesaktian dengan sang raja.

Saat itu raja dan masyarakat Kutai masih memeluk Hindu dan Kaharingan. Rajanya bernama Aji Raja Mahkota Mulia Alam (1545-1610). Alasan ingin menyebarkan Islam itulah yang membuat Habib Hasyim berlayar menyeberangi lautan dari Makassar datang ke wilayah Kutai. Ia datang bersama seorang ulama Makassar, Khotib Tunggal Abdi Makmur bergelar Datuk Ribandang.

Selama ratusan tahun sebelumnya, Kutai memang sudah dikenal. Kutai sudah menjalin hubungan diplomatik dengan Majapahit di Jawa Timur. Sejak era Raja Aji Batara Dewa Agung Sakti (1300-1325) hingga empat raja sesudahnya, Aji Pengeran Tumenggung Bayabaya (1475-1545). Maka, kita masih bisa melihat pengaruh kerajaan besar di Nusantara itu, mulai dari perkakas kerajaan berupa gamelan hingga gelar para abdi kerajaan.

Barulah ketika Datuk Ribandang berhasil mengislamkan Aji Mahkota, pengaruh itu mulai memudar. Saat yang sama pemerintahan Majapahit mulai melemah. Datuk Ribandang lalu kembali ke seberang selat di Makassar. Akan halnya Tunggang Parangan, rupanya memilih menetap di Kutai Lama hingga akhir hayatnya (1736).  

Tentu para keturunannya juga masih ada sampai sekarang. Para anak cucu dan kerabatnya tersebar di beragam profesi. Sebutlah Asisten I Setprov Kaltim di era Gubernur Awang Faroek Ishak, Aji Sayyid Fatur Rahman. Ia jarang menggunakan nama fam dalam faorum resmi kedinasan. Tetapi dalam acara-acara informal dan kekeluargaan ia adalah bin Yahya.

Beberapa tulisan akademis menyebut Datuk Tunggang Parangan berperan besar dalam menyebarkan Islam di Kutai Kaartanegara. Ia aktif berdakwah bersama Sultan Aji Dilanggar Gendung bergelar Meruhum Aji Mandaraya, yang memerintah menggantikan ayahnya, Aji Mahkota sejak tahun 1610-1635. Berkat mereka sebagian besar rakyat di pelosok negeri memeluk Islam (Lihat A. Daliman, Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2012).

Warga di dusun-dusun hilir sungai seperti Jahitan Layar, Hulu Dusun, Sembaran, Binalu, Sambuyutan, dan Dondang berhasil diislamkan. Pun begitu di daerah hulu hingga Loa Bakung. Ke wilayah pantai hingga Kaniungan, Manubar, Sangkulirang dan Balikpapan. Negeri-negeri lain kemudian menjadi daerah taklukan Kerajaan Kutai. Dakwah terus berkembang  saat kerajaan dipegang Aji Panngeran Sinum Panji Mandepa. Masuk lagi ke pedalaman Sungai Mahakam, menaklukkan kerajaan hindu Martapura, hingga Muara Pahu.




MENUJU Desa Kutai Lama kini lebih mudah. Tak lagi harus menyeberangi sungai atau naik kapal. Sebuah jembatan besar telah dibangun untuk menghubungkan ke desa yang kini beroperasi sejumlah tambang batu bara.

Siapa sangka saya menginjakkan kaki di desa ini. Inilah desa yang pernah menjadi pusat pemerintahan sebuah kerajaan besar, Kutai Kartanegara.

Di sini berlimpah artefak tak ternilai -- mulai tembikar, uang kuno Tiongkok, keramik, dan jejak pemukiman masa lalu.

Nama Kutai disebut dalam kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca pada zaman Majapahit. Dalam kitab yang ditulis tahun 1365 itu disebut Tunyung Kute (Tanjung Kutai). Sejarawan CA Mees mengidentikkan Tunyung Kute dengan Kutai. Sejauh ini identifikasi itu diamini oleh banyak ahli sejarah.

Kutai Lama berada di tepi muara, anak Sungai Mahakam. Di sekelilingnya kini beroperasi tambang-tambang batubara dan jaringan pipa gas Pertamina EP itu. Dari atas jembatan, dengan mudah kita akan melihat ponton atau tongkang berlabuh diisi pasiran batu bata. Menggunung. Hitam pekat. Lalu sekitar 100 meter arii ujung jembatan akan terlihat tulisan“I Love KL – Kutai Lama”.

Ini menandakan bahwa kita sudah tiba di Kutai Lama.

Selepas penanda tulisan yang terletak di ketinggian bukit itu -- dibikin Pertamina EP -- kita akan masuk ruas jalan Aji Batara Dewa Agung Sakti.  Itu merupakan jalan menuju perkampungan desa, yang juga ke makam sang habib.

Menuju pemukiman ada pertigaan ke kanan menuju makam yang dikeramatkan warga. Itulah situs Kutai Lama.

Di astana ini, terdapat tiga makam. Yakni raja ke-6, Aji Raja Mahkota Mulia Alam. Ia berjuluk Si Janggut Kawat, dan merupakan raja pertama yang beragama islam. Di ketinggian bukit ini pula, pada bangunan lain, dimakamkan pula penerusnya, raja ke-7, Aji Dilanggar. Dan pada lahan lebih rendah terdapat makam Habib Hasyim alias Tunggang Parangan.

Timbul pertanyaan, di mana makam raja-raja sebelumnya? Saya tidak menemukan keberadaannya. Konon, raja-raja sebelumnya belum masuk Islam. Tidak mengenal pekuburan. Sehingga jasad mereka tidak dikuburkan.

Pertanyaan lain, nama Kutai disebut dalam kitab Negarakertagama berupa Tunyung Kutai, lantas dari mana penambahan nama Kertanegara?

Kepala Pusat Arkeologi Nasional Bambang Sulistyanto memastikan Kertanegara bukankah nama Sansekerta. Malainkan nama Jawa. Namun para ahli belum sepakat dengan argumen ini. Sebab tak ada catatan historis bahwa Majapahit pernah menaklukan kerajaan Kutai.

"Memang (tidak pernah menaklukkan). Tetapi, interpretasi kita Nagarakretagama tahun 1365 adalah Kutai minta perlindungan Majapahit, bukan jajahan," kata Bambang dalam buku Ekspedisi Kudungga (2017) hal 123.

Selain ketiga makam itu, saya tidak menemukan jejak lain yang menandakan bahwa Kutai Lama selama empat abad pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Kutai Kartanegara. Masyarakat setempat menunjuk sebuah lahan kosong di pinggir jalan Aji Batara Dewa Agung Sakti yang sekarang berdiri pos beratribut sebuah organisasi masyarakat, Pemuda Pancasila.

"Di sini dulunya dapur istana," kata seorang tokoh warga.

Tak ada bangunan apa pun. Pun jejak peninggalan lainnya. Merupakan lahan kosong, sebagian berisi ilalang.

Habib merupakan sebutan hormat dan sayang kepada seseorang. Karena itu tak semua yang dipanggil habib adalah keturunan Nabi Muhammad.  Keturunan nabi lazim disebut Sayyid/Sayyidah. Ini untuk jalur Husein. Untuk jalur Hasan, kita menyebutnya Syarif/Syarifah.

Silsilah keturunan Nabi Muhammad tercatat rapi di Rabithah Alawiyah. Organisasi ini mencatat 151 fam segaris nabi yang masih ada di dunia, termasuk di Indonesia. Dari yang nama famnya biasa dikenal sampai yang kurang terdengar di telinga awam, seperti Al Sumaithon (Al Quthan) dan Al Tuwainah.

Masyarakat Indonesia lebih familiar dengan sejumlah nama yang kebetulan menjadi tokoh atau pernah jadi pejabat terkenal seperti Quraish Shihab, penulis buku, pernah menjadi Menteri Agama. Najwa Shihab adala salah satu putrinya. Seorang jurnalis dan pembaca acara Mata Najwa. Ia kini tampil setiap Rabu malam di Trans7. Habib Rizieq Shihab, KetuaFront Pembela Islam (FPIU) juga terkenal dan memiliki banyak sekali pengikut.

Ada diplomat handal cum Menteri Luar Negeri Ali Alatas.  Ada pula Habib Hasan Jafar Assegaf, pengasuh Majelis Taklim Nurul Musthofa. Habib Lutfhi bin Yahya di Pekalongan. Ada Habib Saggaf bin Muhammad Al Jufrie, nahkoda pusat pendidikan Al Khairaat di Palu. Ia lahir di Pekalongan dan kini memimpin perguruan yang berpusat di Jln SIS Al Jafrie Palu itu.

Habib Saggaf merupakan cucu dari pendiri Al Khairaat di Palu, Sayyid Idrus bin Salam Al Jufrie atau dikenal sebagai Guru Tua. Cucu lain bernama Dr Salim Segaf Al Jufrie. Kita mengenalnya sebagai  Menteri Sosial ke-26. Pernah menjadi Dura Besar untuk Arab Saudi dan Oman, dan kini merupakan petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Kalau ke Jakarta, saya kadang singgah di Condet. Ada sepupu istri di sana. Biasanya sekalian santap gule kambing dan nasi kebsah di kedai Sate Tegal Abu Salim, lalu pulang membawa pesanan berupa samboza dan roti maryam. Yang menarik, dari masuk hingga ujung jalan, sudah tercium aroma Arab – dari wanginya semerbak dari toko-toko parfum – hingga banyaknya keturunan Alawiyin yang  bermukim.

Ini seperti perkampungan Arab. Warga keturunan Arab memang gemar bermukim dalam satu kampung mereka tinggal. Seperti di Tuban, ada kampung Arab di Kutorejo. Ada masjid jami di dalamnya – dan di sisinya terdapat makam Sunan Bonang yang tidak pernah sepi didatangi para peziarah dengan bus-bus carteran dari luar kota. Di jalan SIS Al Jufrie Palu juga ada pusat pendidikan Al Khairaat, yang sekaligus menjadi warga Arab bermukim.

Saya tidak akan bercerita lebih jauh tentang Kutai Lama. Saya juga tidak bicara mendalam nasab Allawiyin. Saya hanya akan bilang bahwa tidak masalah kehilangan hape meski kehilangan kami nyaris bersamaan, dan di tempat yang sama pula. Mungkin sedikit lebih aneh karena setengah jam sebelumnya putri saya sempat kirim pesan melalui aplikasi WhatsApp ke saya dan terterima. Artinya saat itu hape hadiah omnya itu masih dalam genggamannya.

Ok no problem.

Hanya saja memang tak mudah. Masak sih hare gini hidup tanpa smartphone. Apa kata dunia? Untungnya saya tidak tahu apa kata dunia? Biasanya, kami mengetahui dunia berikut pendapat dan segala isinya melalui smartphone tersebut.

Menjadi lebih tak mudah karena saat ini adalah musim paceklik. Sementara kebutuhan anak-anak sedang meningkat. Yang tengah akan masuk kuliah. Yang kecil masuk tahun ajaran baru. Ba, bayar ini bayar itu. Ba, beli ini beli itu. Ba, makanan habis. Ba, listrik habis. Bah, bensin habis. Ba, seragam tidak muat lagi. Ba, datang orang nagih cicilan. Bah....

Sabar, sabar, ya, pintaku sama anak-anak. Nanti pasti ditunaikan.

Nanti? Alamak. Bagaimana bisa menunggu lagi? Ini kebutuhan primer, ba!

Saya bilang, no problem! 

Saya tersenyum getir. Bola-balik memicik kepala bagaimana cara membagi upah bulanan untuk ini-itu. Mengandalkan rumus Aljabar saja agaknya tidak akan pernah cukup untuk membaginya secara tepat. Mungkin saya perlu kalkulator super canggih. 

No problem. Saya percaya kalkulator super canggih itu adalah Al Razzaq. Bukankah selama ini juga begitu? Alhamdulilah, untung cuma hape yang hilang. ***

[achmad bintoro]

Photos credit:

1. Man in black shirt and gray denim pants sitting on gray paddid bench by Inzmam Khan - Pexel.com

2. Papan Situs Kutai Lama by situsbudaya.id









Saturday, May 11, 2019

Kacamata Seorang Pewarta

WARNING? Nasihat? Ah, bergurau kamu. Tentu saja sudah. Sering kali malah.

Ben menatapku tajam dari balik kaca mata minusnya yg tebal, seperti hendak menebak arah pertanyaanku. Ia longgarkan dasinya warna icy blue. Dipadu kemeja biru navy, ia tampak lebih mirip profesional keuangan ketimbang seorang pewarta.

"Yang menyampaikannya pun bukan sembarang orang. Lewat artikel, kolom2, konsultasi keuangan, hingga surat protes resmi. Sudah semua. Surat terakhir itu bahkan diteken 1.140 ekonom, termasuk 14 peraih Nobel. Tapi, mental!!!"

Kami duduk berhadapan di sebuah kedai sarapan di Newhampshire Avenue, ditemani kopi ginseng. Kedai ini tak jauh dari Capitol Hill. Satu dua senator dari Republik sering suka nyasar ke sini. Sekedar ganti suasana. Kadang nguping gosip-gosip teranyar. Sekalian nyicip carpaccio kuda.

Aku menolak dengan halus saat Ben merekomendasikan menu itu, termasuk mengganti daging dengan pilihan Salmon.

"It taste absolutely fantastic!" bujuknya. Ben mencoba meyakinkanku lagi bahwa carpaccio di resto ini yg paling sedap di seputaran Capitol Hill.

Seorang maitre d' yg berdiri di ujung kupanggil: Is carpaccio raw meat?

Ia tersenyum geli. Mungkin merasa aneh dgn pertanyaanku. "Of course. It is a dish of raw meat or fish."

Tenderloin -- kadang ikan -- itu akan disajikan dalam irisan-irisan tipis. Sebenarnya mirip Sashimi atau Sushi dari Jepang. Ceviche dari Amerika Selatan
Tapi itulah masalahnya. Lidahku jarang bisa kompromi dengan makanan-makaan asing. Apalagi mentah. Dalam bentuk setengah matang saja, seperti saat dijamu oleh pengusaha Jos Sutomo di resto Jepang miliknya, perutku langsung bereaksi.

Karena itu aku memilih grilled salmon saja, dan quiche. Ben menambahkan sarapannya dengan flatbreads.

"Kamu ingat Dick? Ia sampai tiga kali menulis kolom khusus di USA Today," sambung Ben lagi, melanjutkan tema pembicaraan kami yg terputus.

Tentu saja aku masih ingat Dicky Stanley. Ia profesional muda di sebuah agen keuangan ternama. Kantornya menjulang di gedung pencakar langit di Madison Ave, NY. Kami tak sengaja bertemu di konferensi internasional "Stable and Just Global Monetary System" di KL, 2002 silam.

Aku tertarik untuk mengenalnya lebih dalam setelah dia bicara keras di forum itu. Dia satu-satunya orang barat yang teran-terangan meragukan efektivitas gold dinar yang ditawarkan Prof Ahmed Kameell sebagai satu instrumen dalam sistem moneter global.

Dua tahun kemudian, Kameell mencoba menegaskan kembali kebenaran tesisnya bahwa sistem uang fiat itu tidak stabil dan tidak adil dalam sebuah buku yg meledak: "The Theft of Nations: Returning to Gold."

Dick ekonom muda. Cerdas dan pernah jadi sampul muka di sebuah majalah ekonomi yg kerap menjadi rujukan bagi para pelaku pasar hingga pejabat-pejabat keuangan dunia. Awak redaksinya penuh sesak oleh para jebolan sekolah-sekolah bisnis ternama, bergelar PhD.

Ben adalah satu di antaranya. Aku sering berdiskusi dalam jarak jauh, terutama saat muncul isu-isu menarik dunia Barat, baik melalui skype maupun surel.

Beberapa kritik Dick terhadap IMF dan World Bank menghiasi halaman-halama utama surat kabar dan review ekonomi di AS.


Aku sempat membaca ulasanya di USA Today. Salah satu kritiknya yang menyentak para peminpin dunia menyebut IMF dan World Bank tak memberikan nilai tambah apa pun bagi masyarakat dunia. Yang miskin, katanya tetap miskin. Malah sebaliknya menggerogoti kedaulatan suatu negara.

Sayangnya USA Today bukan The Washington Post. Tak bisa pula dipadankan dgn The New York Time, maupun The Economic. Diperlukan media lebih kuat untuk bisa menembus sekat-sekat dan filter di Gedung Putih agar kritik semacam itu bisa tiba di meja Resolute, tempat Donald Trump bekerja di Ruang Oval-nya.

USA Today tak cukup kuat untuk menghadapi sunset. Meski dimiliki oleh kelompok media papan atas, Newsquest, yg terbit di London, tetap saja ia harus lakukan perubahan besar-besaran utk bertahan. Ukurannya pun sekarang menyusut dari broadsheet ke barliner harian.

Ben bercerita bagaimana Robert Shiller ikut turun tangan. Peraih Nobel dari Yale University ini melihat aksi Trump menabuh genderang perang dagang dgn China sangatlah membahayakan dunia. Krisis ekonomi bisa terjadi. Sebab tentu saja RRC tidak akan tinggal diam.

Bahkan, koleganya, Joseph Stiglitz, kepala ekonom untuk World Bank pun tak sungkan lagi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap cara-cara Trump. AS adalah contoh buruk, yg seharusnya tidak diikuti oleh negara-negara lain.

"Ini surprise. Seorang Stiglitz berani nyatakan itu. Kamu tahu, dia bukan cuma ekonom besar yg disegani. Tapi juga memiliki pengaruh besar di World Bank," katanya.

Lalu apa hasilnya?

"Mental juga. Semua. Semuanya buntu!!!"

Ben menggurutu. Kadang ia lupa bahwa dirinya adalah pewarta. Tapi kupikir masih wajar. Emosional pribadi semacam itu diungkapkan hanya kepada kawan diskusi, seperti saya. Narasinya di media tetap berimbang dan clear.

"WILL you resign?" Tanyaku.

Sepekan sebelum aku mampir bertemu di sebuah kedai di Washington DC, Ben sempat curhat kepadaku melalui Skype. Salah satunya mengenai keinginannya untuk menyudahi karir di jurnalistik. Saya kaget saat itu, dan sempat mencegahnya.

Berat memang, kata Ben. Bagaimana pun inilah dunia yang sempat melambungkan namanya. Mungkin ia tak akan kenal banyak tokoh politik dan ekonom dunia, tanpa melalui jalur ini. Banyak relasi dan kini pun masih terjalin hubungan baik, ia akui perkenalannya berawal dari wawancara untuk berita-beritanya.

Adelle misalnya, asisten salah satu direktur di IMF, adalah wanita cantik dan gesit yang sering kasih bocoran informasi penting kepadanya. Seperti bosnya, Adelle selalu tampil modis meski dalam event yang dihadiri kebanyakan lelaki itu. Berdarah Perancis, namun lahir dan kuliah di Amerika.

Aku pernah melihatnya beberapa kali. Pertama, saat diperkenalkan dengannya di sebuah event di Brussel. Ia tampil dengan setelan formal yang effortlessy chic. Adelle memesannya khusus dari rumah mode ternama. Tentu sekalian untuk sang bos.

Wanita yang dulu dikenal sebagai aktivis penggerak perempuan ini -- sekarang pun masih, meski dengan cara berbeda -- tak jarang memadukan gaya formalnya dengan scarf terang. Hermes adalah salah satu brand ternama favoritnya untuk scarf.

Dalam kondisi tidak resmi pun ia masih tampil anggun dan stylish. Tampak ia menyesuaikan dengan penampilan bosnya, berkemeja dan celana dengan tambahan blazer lansiran Chanel.




(ahmad bintoro/bersambung...]

Credit photo: impactboom.org/axios.com