KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 8, 2016

What Do You Do?

Mumpung tahun 2018 belum tiba. Selagi masih ada kesempatan berpikir dan menimbang-timbang. Tak ada salahnya kita berandai-andai. Apa yang akan Anda lakukan kalau diberi kesempatan menjadi Gubernur Kaltim 2018-2023?

Ya, saya tahu banyak impian, harapan, dan ide tentang Kaltim yang lama mengendap di kepala Anda. Mungkin Anda pernah menuliskannya di media sosial. Pernah curhatkan kepada kawan. Anda obrolkan di kedai kopi. Anda jadikan bahan cacian kala berdemo. Atau hanya menjadi catatan kecil di bawah bantal.

Tak apa. Apa pun itu, tunjukkan. Kalau pun Anda tidak terpilih, siapa tahu gubernur baru nanti mau mendengarmu. Lalu menjadikannya bagian dari program prioritasnya. Tentu tak harus Anda keluarkan semua. Cukuplah dua-tiga yang paling Anda inginkan.

Tetapi, sebelum menjawab itu, Anda perlu memahami kondisinya dulu. Provinsi kita ini tidak lagi sekaya dulu.

Memang kita pernah kaya. Kita memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas, dengan keaneragaman hayati yang melimpah ruah. Riapnya menghijaukan lebih dari 14,9 juta hektare daratan Kalimantan. Ademnya turut mengayomi mahluk seisi bumi. Sayangnya itu tak bertahan lama.


Begitu kran ekspor log dibuka, ribuan chainsaw menyerbu. Meraung-raung di mana-mana. Seperti orang kesetanan, membabat semuanya. Tanpa jeda. Kian tahun makin ke pelosok. Hingga suatu saat kita terhenyak sendiri. Tak ada lagi tegakan tersisa.


Rupanya kita telah begitu serakah. Nyaris tidak menyisakan apa pun untuk anak cucu. Sekubik balok ulin dan papan bengkirai, sekedar untuk membangun gubuk kecil, pun tak kita beri. Mereka kini gunakan rangka dan kusen dari alumunium. Impor lagi.

Waktu terus berjalan. Kita melupakan yang sudah-sudah. Mungkin karena masih banyak kekayaan alam yang lain. Hutan habis, kita bor menyembur minyak bumi. Lapisan tanah kita sibak terkuaklah batubara. Wajah bumi yang bopeng kita tutupi hamparan sawit, yang membuat kita harus lakukan tebang habis. Cuci mangkok. Kita gali, gali dan terus menggali.

Kita ambil bahan mentah itu sebanyak mungkin. Kita keruk habis-habisan batubara untuk menerangi listrik di belahan bumi lain. Ke Korea, China, Eropa, Jepang dan lainnya. Tapi kita biarkan daerah sendiri byar pet.

Booming kayu, minyak, batubara sepertinya membuat kita kurang mawas diri. Apalagi APBD besar. Triliunan. Seiring membesarnya nilai ekspor komoditas sumberdaya alam. Kita pun berlagak seperti orang kaya baru. Ke sana kemari dengan setelan perlente. Selalu hadir di setiap event dan undangan. Bak si Ratu Pesta, kata Pinkan Mambo.

Kita bangun apa pun yang kita mau. Tanpa perlu membukanya kepada masyarakat. Bikin kegiatan apa pun yang terlintas di kepala. Asal dana terserap 100 persen. Tak penting bermanfaat atau tidak. Dibutuhkan atau tidak. Kalau pun nanti mangkrak, tak masalah. Buat saja proposal baru penyesuaian bangunan dengan kondisi terkini. Selesai!

Saya jadi teringat cerita kawan mengenai perilaku sebagian masyarakat ketika banjir kap. Mungkin didorong oleh kemudahan dalam mendapatkan uang, mereka mengalami kejutan budaya. Datang ke toko. Beli ini beli itu tanpa menawar. Barang-barang elektronik seperti kulkas, mesin cuci, dan televisi mereka angkut ke desa. Padahal, di rumah belum ada sambungan listrik.


Maka, barang-barang "mewah" itu hanya jadi pajangan. Kulkas berubah fungsi menjadi lemari pakaian. Mesin cuci jadi tempat menyimpan beras. Alamak. Mereka beli barang-barang bukan lagi dilandasi prinsip kebutuhan. Lebih karena keinginan untuk memiliki apa yang juga dipunyai warga perkotaan. Mereka seperti mengejek kemiskinan dan keterbatasan yang lama menyandera.

Tidakkah perilaku kita masih sama? Semoga tidak! Sebab belum tentu akan datang lagi kesempatan keempat, kelima dan seterusnya.

Anda juga perlu tahu provinsi kita tak lagi sesehat dulu. Ekonomi kita sedang meriang. Pertumbuhan minus. Kinerjanya paling buruk se-Kalimantan. Ketika banyak provinsi lainnya tumbuh positip, kita justru minus 1,3 persen. Tiga tahun lalu kita malah paling jeblok se-Indonesia. Berkebalikan dengan Papua yang menjulang ke puncak 14,84 persen.

Harga batubara anjlok. Minyak di titik terendah. Tak cuma ekonomi mikro yang menderita, APBD kita ikut berdarah-darah. Dana bagi hasil migas dan sumberdaya alam tertahan. Defisit anggaran kian membesar. Tahun ini Rp 1,76 triliun. Tahun depan diprediksi akan lebih besar lagi. Beginilah kalau kita selalu mengandalkan ekspor bahan mentah.

Jadi, dengan kondisi seperti itu, apa yang akan Anda lakukan jika menjadi gubernur? Apakah Anda akan menerima tantangan itu, sebagaimana Jack Traven (Keanu Reeves) yang harus menerima tantangan Howard Payne (Dennis Hopper) dalam film trailer Speed (1994).

"Pop quiz, hotshot," kata Payne di seberang telepon.


"There's a bomb on a bus. Once the bus goes 50 miles an hour, the bomb is armed. If it drops below 50, it blows up. What do you do? What do you do?"

Payne menantang Jack, polisi dari Departemen Kepolisian Los Angeles, seusai memasang bom pada sebuah bus, untuk menjinakkan bos tersebut. Payne mengingatkan, kalau ingin penumpang selamat, maka bus tak boleh melambat kurang dari 50 mil/jam. Tapi ia tidak memberi tahu nomor bus dimaksud. Tentu ini bukan kondisi yang mudah dan diinginkan oleh siapa pun.

Sekali lagi apa yang akan Anda lakukan dengan kondisi Kaltim yang begini? Apakah Anda akan kembali jualan bahan mentah untuk menopang struktur APBD Kaltim? (*)

http://kaltim.tribunnews.com/2016/10/03/what-do-you-do

2 comments:

PAK BUDIMAN DI MALANG said...

saya sangat berterima kasih banyak MBAH RAWA GUMPALA atas bantuan pesugihan dana ghaib nya kini kehidupan kami sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,ternyata apa yang tertulis didalam blok MBAH RAWA GUMPALA itu semuanya benar benar terbukti dan saya adalah salah satunya orang yang sudah membuktikannya sendiri,usaha yang dulunya bangkrut kini alhamdulillah sekaran sudah mulai bangkit lagi itu semua berkat bantuan beliau,saya tidak pernah menyangka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan kami sekeluarga tidak akan pernah melupakan kebaikan MBAH,,bagi anda yang ingin dibantu sama MBAH RAWA GUMPALA silahkan hubungi MBAH di 085 316 106 111 insya allah beliau akan membantu anda dengan senang hati,pesugihan ini tanpa resiko apapun dan untuk lebih jelasnya buka saja blok mbah
BUKA PESUGIHAN PUTIH TAMPA TUMBAL

tempat wisata di singapura : tempatwisata.biz.id said...

memang butuh orang yg tidak serakah
yg tidak memanfaatkan posisi hanya untuk kepentingan pribadi