KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jul 7, 2013

Puasa, kok Malah Boros...

Besok atau lusa umat muslim akan mulai menjalani ibadah puasa. Inilah saat kita dianjurkan untuk bisa lebih menahan diri, memperbanyak amal dan ibadah. Makan pun akan lebih sedikit. Yang biasa tiga kali menjadi hanya dua kali sehari, yakni saat sahur dan berbuka. Tetapi, kenapa pengeluaran rumah tangga pada bulan puasa malah lebih besar?

Saya merasakan ini sudah bertahun-tahun. Hal yang sama ternyata juga dialami kabanyakan teman, dan tetangga saya.

Pekan lalu saya bertemu seorang kawan lama. Kami bercerita panjang lebar mengenai keadaan diri masing-masing, perjalanan karir hingga kemudian nyerempet soal bulan Ramadan yang segera tiba.  Namun tiba pada bahasan terakhir, raut wajahnya mendadak berubah. Tak terlihat lagi kegairahan dan semangat seperti di menit-menit pertama pertemuan kami.

Padahal banyak umat muslim menyambut bulan ini dengan gembira. Salah satu doa mereka adalah bisa dipertemukan kembali dengan bulan ini. Itu dipanjatkan sejak setahun lalu, dan biasa mereka mantapkan lagi pada malam nisfu sya'ban. Sebuah hadits Rasulullah saw mengatakan, "Seandainya hamba-hamba mengetahui apa yang ada  pada bulan Ramadan, niscaya umatku berangan-angan agar Ramadan bisa terus berlangsung sepanjang tahun."

Sebab pada bulan inilah Allah begitu derma membagi pahalanya berlipat-lipat kepada siapa saja yang berbuat kebaikan. Sekecil apa pun kebaikan itu. Pada bulan inilah pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. Ini merupakan simbolik betapa banyaknya pahala, pengampunan dan rahmat yang akan diberikan Allah. Begitu pemurahnya Allah, tidur orang puasa pun dicatat sebagai ibadah. Para setan seakan-akan tidak bisa lagi menggoda karena umat muslim berlomba-lomba menanamkan kebaikan, memperbanyak sedekah, menjaga puasanya, larut dalam doa dan dzikir.

"Ana tahu sekarang kenapa ente murung begitu," kata saya mencoba menebak. Hingga pertemuan terakhir, lima tahun lalu, kawan saya ini memang selalu berat hati untuk berpuasa. Maag kambuh. Begitu dia selalu beralasan. Maka melihat dia merokok atau minum kopi di sela-sela jam kerja siang hari adalah hal yang biasa.

"Sori wal, saya tidak lagi seperti yang kamu duga. Itu dulu," kata dia.

Alhamdulilah, sudah tobat rupanya kawan saya ini. Tetapi kok masih murung. Sejenak ia menghela nafas panjang. Dari bibirnya menegepul asap panjang bergulung-gulung. Puntung ketiga itu pun ia sentil keluar. Terlempar di jalan depan kedai gorengan, tempat kami bertemu.

Ia mengaku sudah dua ramadan terakhir ini meninggalkan kebiasaan buruknya. Meski menurutnya sangat berat, ia sudah mencoba untuk tak merokok, minum kopi atau makan. Pada Ramadan tahun lalu, ia berhasil menekan jumlah hari batal puasa menjadi hanya lima hari. Sebelumnya mencapai 11 hari. Lumayan.

"Lalu apa sekarang masalahnya?" tanya saya. "Saya belum punya persiapan apa-apa," katanya. Saya bilang perbanyak saja puasa pada bulan ini (sya'ban), salat berjamaah di masjid, menimba ilmu dari ustad lewat taklim atau apa saja yang bermanfaat untuk lebih memantapkan iman. 

"Bukan itu maksud saya. Begini, tahun-tahun lalu saya masih banyak orderan, uang mengalir cukup deras. Kini benar-benar seret. Lalu gimana saya bisa kusyu menjalankan ibadah puasa, kalau setiap hari masih harus memikirkan bagaimana  mau berbuka dan sahur," ujarnya.

"Kamu pasti juga tahu kan pengeluaran pada bulan puasa selalu lebih besar," tambahnya. Ya, kini saya tahu apa yang membuatnya murung.

Saya tidak tahu ada berapa banyak orang yang berpikir dan gundah seperti kawan saya ini. Persiapan  puasa bagi mereka lebih identik dengan ketersediaan uang yang cukup untuk belanja. Lebih bingung lagi sang istri di rumah senantiasa ngomel mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Bawang merah misalnya, kini melonjak 80 persen menjadi Rp 48.000/Kg. Ayam potong Rp 55.000/ekor. Kubis Rp 25.000/Kg.

Belum lagi dia menghapi jam-jam jelang berbuka. Mampir di pasar Ramadan membuatnya menjadi kemaruk. Beragam minuman, makanan dan jajanan rasanya ia ingin beli semua. Es buah yang tersaji di gelas ganal di lapak penjual seketika merangsangnya untuk membeli. Padahal, pada hari-hari di luar Ramadan, es-es itu tidak membuatnya sedikit pun tergoda, kendati saban hari lewat di depan rumah.

Maka setiba di rumah, kedua tangannya penuh menjinjing tas kresek. Ada urap, rendang ayam, sayur lodeh, martabak, ayam panggang banjar, berbagai macam kue talam, tahu isi, es kolak, es buah, es kelapa muda, dan banyak lainnya.

Semua makanan, minuman dan aneka jajanan itu terhidang di meja. Kawan saya sudah tidak sabar lagi untuk menyantap  Adzan yang ditunggu lewat siaran teve lokal akhirnya berkumandang. Kawan saya segera menyeruput es kelapa muda, dilanjutkan es buah. Ia bersama anggota keluarga juga langsung menyantap hidangan berat.

Tetapi, keinginan untuk menyantap semua hidangan yang beberapa jam lalu menggebu, mendadak hilang begitu ia meneguk sedikit es dan jajanan. Piring yang sudah terisi oleh banyak nasi dan lauk itu masih tersisa banyak. Perutnya langsung kenyang. Banyak hidangan belum disentuh. Salat magrib molor. Ia tak mampu lagi membawa badannya ke masjid. Salat tarawih pun lewat. Hal itu menurutnya, berlangsung terus selama hampir sebulan.

Saya teringat ucapan ustad dalam sebuah taklim di masjid. Sifat boros, kemaruk dan sejenisnya itu acapkali melanda umat muslim pada bulan ramadan akibat ketidakmampuan mereka mengendalikan diri. Bulan puasa yang mestinya jadi ajang untuk berlatih menahan diri, justru terbalik menjadi ajang umbar diri. Usai berburu di pasar ramadan, malamnya, mereka beralih ke mal-mal, berburu pakaian untuk persiapan lebaran. Masjid penuh sesak hanya pada awal-awal puasa, seterusnya sepi.

Tentu tak ada yang salah kalau kita membeli makanan dan minuman yang enak-enak untuk berbuka. Tak pula salah membeli pakaian baru untuk merayakan lebaran. Tetapi, menjadi salah dan kurang bermakna ibadah apabila kita melakukannya secara berlebihan.

Di akhir tausiahnya, ustad tadi mengatakan, "Setan memang dibelenggu pada bulan puasa. Tapi kan hanya sebatas setan. Hawa nafsu tidak." Nafsu menurutnya, tidak selalu jahat atau memberi mudarat. Kecuali  yang tidak terkendali oleh tali iman dan keyakinan kepada Allah, yang tidak terjaga oleh kukatan akalnya dan tidak tersucikan oleh ibadah dan ketaatan terhadap-Nya.

Suatu hari, Rasulullah SAW menyambut para sahabat yang baru pulang dari medan perang seraya berkata: "Selamat datang wahai kaum yang telah melaksanakan jihad kecil (peperangan) dan bersiaplah melakukan jihad paling besar." Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud jihad akbar itu?" Rasul menjawab, "Jihad melawan hawa nafsu. Sesungguhnya jihad terbesar dan paling utama adalah memerangi hawa nafsu yang ada dalam dirimu sendiri."

Jadi, sudah seharusnya kita menyambut bulan ini dengan penuh suka cita. Selamat berpuasa. Sayangnya, hingga akhir pertemuan kami, dua jam kemudian, wajah kawan saya masih saja murung. "Entahlah, wal. Saya mendadak seperti terlempar ke dalam kelompok warga miskin.  Bedanya belum tercatat oleh BPS. Orang miskin mungkin masih lebih enak karena mereka mendapat balsem dari pemerintah. Sedang saya dapat apa?"  Alamak!

Selamat menjalankan puasa. Semoga ibadah kita kali ini bermanfaat bagi diri, sesama, dan semata- mata untuk mendapat ridho-Nya. Mohon maaf lahir dan batin. (*)



2 comments:

pak gendoet said...

isinya menarik ya..
kalau ada waktu silahkan berkunjung kesini ya
http://distrobantalsilikon.blogspot.com

IBU WINDA DI GARUT said...

Saya Atas nama IBU WINDA ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di SINGAPURA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di SINGAPURA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg di berikan AKI SOLEH 100% tembus (4D) <<< 3510 >>> saya menang togel (763,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.






KLIK DISINI SITUS ANGKA RAMALAN TOGEL GAIB HARI INI


























Saya Atas nama IBU WINDA ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di SINGAPURA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di SINGAPURA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan AKI SOLEH 100% tembus(4D) <<< 3510 >>> saya menang togel (763,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW
trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.






KLIK DISINI SITUS ANGKA RAMALAN TOGEL GAIB HARI INI