KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Feb 10, 2013

Uniknya Pilgub Kaltim Kali Ini

Suka tidak suka. Mau tidak mau. Ini adalah tahunnya Awang Faroek Ishak. Dialah cagub paling populer dan tertinggi elektabilitasnya. Saking tingginya sampai ada yang berseloroh: Ibarat kata, kucing dibedaki pun tetap akan menang jika disandingkan Awang dalam Pilgub 2013. Tapi Kaltim memang sarat keunikan, sehingga calon dengan status tersangka pun masih dipuja.

ACHMAD BINTORO

Awang Faroek usai diperiksa penyidik di Kejati Kaltim
KEUNIKAN pertama. Kompetisi politik lima tahunan macam ini biasanya menjadi ajang yang ditunggu banyak tokoh parpol dan eksekutif. Yang terjadi, mereka malah berpikir seribu kali untuk menjadi rival Awang Faroek. Tinggal tiga bulan KPU membuka pendaftaran calon, belum satu pun tampak calon resmi lainnya. Kharisma Awang agaknya mampu bikin keder para lawan. 



Para politisi yang sebagian bercokol di Karang Paci itu kemudian lebih memilih berdamai ketimbang  mengkritisi kinerja gubernur. Dengan menunjukkan dukungan kepada program-program Pemprov, siapa tahu Awang bakal tertarik dan meminta untuk mendampinginya di Pilgub 2013. Siapa tahu masuk pesan pendek atau sekedar sinyal baik.

Sementara menanti, mereka gunakan waktu untuk mematut diri. Memajang baliho ucapan selamat atas berbagai even dan hari besar. Tentu saja sekalian memasang besar-besar potret diri mereka yang paling menawan. Mereka juga menjadi lebih sering tampil di beragam acara sosial hingga sebagai cover story.
Tujuannya satu, menaikkan citra dan popularitas sekaligus menunggu dipinang. Tapi yang diharap tak kunjung tiba.

Sang petahana ternyata memilih Mukmin. Dia Ketua DPRD Kaltim cum Ketua DPD I Partai Golkar Kaltim. Golkar adalah partai terbesar di Kaltim. Dengan sebelas kursi yang dimilikinya, partai ini dapat mengusung pasangan calon tanpa harus berkongsi dengan partai mana pun. Tetapi bagi Awang yang terpenting adalah tidak perlu mengeluarkan ongkos. Awang dapat perahu besar tanpa harus mengeluarkan mahar politik.

Pilgub Kaltim 2008 memberinya banyak sekali pelajaran. Melamar partai-partai kecil ternyata tidak cuma menuntut ongkos politik yang besar, melainkan juga membuat alot dalam menentukan siapa yang patut menjadi pendampingnya. Semua mau! Ketimbang ribut terus, akhirnya dia memilih orang di luar partai: Farid Wadjdy.

Dan karena pertimbangan ekonomis praktis itu pula Awang kini tidak lagi menggandeng Farid pada Pilgub 2013. Farid memang memiliki histori kuat di Nahdlatul Ulama. Almarhum ayahnya seorang ulama besar  di Kaltim. Tapi dalam kondisi seperti sekarang ini, Awang lebih membutuhkan perahu ketimbang ketokohan seseorang, sekuat apa pun tokoh itu. Toh Awang sudah merasa dirinya paling kuat.

Menjadi wakil adalah batu loncatan paling dekat untuk mewujudkan impian menjadi gubernur pada even lima tahun berikutnya. Setidaknya modal sudah lebih bertambah. Sudah lebih pede. Popularitas apalagi. Biasanya akan berjalan linier seiring kerapnya kemunculan sebagai pejabat publik. Dapat dimengerti kenapa seorang Mustaqim MZ, misalnya, jadi galau saat semua kegiatan pemerintahan kini dihandel hanya berdua oleh Bupati PPU Andi Harahap bersama Sekkab-nya.

Ia tidak lagi mendapat jatah untuk tampil di depan publik. Mungkin ini cara Andi untuk menurunkan popularitas rivalnya dalam Pilkada Kabupaten PPU 2013. Mustaqim adalah Wakil Bupati PPU yang kini maju sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Yusran Aspar, anggota DPR RI, mantan Bupati PPU.
***

KEUNIKAN kedua. Kali pertama dalam sejarah Kaltim, Pilgub diikuti seorang berstatus tersangka kasus korupsi. Saya kira penyidik tidak sedang bermain-main ketika berani menetapkan seseorang yang sedang berkuasa -- terlebih dia seorang gubernur -- sebagai tersangka. Meski ada prinsip yang mesti dijunjung bahwa semua sama di depan hukum, tetapi praktik di lapangan sering bisa berbeda.  Dua tahun lebih Awang baru diperiksa.

Apa pun alasan penyidik Kejagung RI, perlakuan ini terasa janggal. Tidak berlebihan kalau publik kemudian menjadi skeptis: ada apa sebenarnya ini?  Bahkan saat akhirnya tim Kejagung memeriksa Awang Faroek di Kejati Kaltim Oktober 2012 lalu, publik masih saja mencurigai: jangan-jangan itu hanya dijadikan alat bagi penyidik untuk mengeluarkan SP3.

Tetapi kemungkinan mengeluarkan SP3 menjadi kecil saat keputusan kasasi MA, sebulan kemudian,  menghukum lebih berat dua pimpinan Perusda PT Kutai Timur Energi. Dirut Anung Nugroho divonis 15 tahun penjara, dan Direktur Apidian Tri Wahyudi divonis 12 tahun penjara. Sebelumnya, di PN Sangatta, Anung divonis hanya lima tahun, sedang Apidian, anak keponakan Awang Faroek, divonis bebas.

Kejagung sempat bingung menindaklanjuti keterlibatan Awang dengan dua vonis yang berbeda jauh itu. Ketiganya tersangkut kasus korupsi penggunaan dana Rp 585 miliar hasil penjualan lima persen saham PT Kaltim Prima Coal (KPC)  milik Pemkab Kutai Timur.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Andhi Nirwanto, mengatakan pihaknya masih menunggu salinan putusan MA. Salinan itu digunakan untuk menentukan langkah selanjutnya dalam proses penyidikan terhadap Awang Faroek, yang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini.

"Nanti kalau sudah ada (salinan putusan), akan dikaji. Nanti akan diekspos. Baru akan ada penjelasannya," kata Andhi, Selasa (20/11). Sebelum diangkat menjadi Jampidsus Kejagung RI, Andhi sempat dua tahun menjadi Kepala Kejati Kaltim.

Banyak orang bilang, bisa menjadi pendamping Awang adalah rezeki bagi si wakil. Selain diyakini akan lebih mudah untuk meraih kemenangan, status Awang juga bisa membuat sang wakil ketiban rezeki yang kedua kali. Jika Awang jatuh di tengah jalan karena belitan kasus dugaan korupsi hasil penjualan lima persen saham KPC itu, maka sang wakil sudah tentu akan naik posisi.

Modal dan popularitasnya dengan sendirinya bertambah dan bertambah. Soal elektabilitas memang tak selalu tegak lurus dengan popularitas. Tetapi itu urusan nanti. Gampang diatur. Apa sih yang tidak bisa dikondisikan di negeri yang unik ini. Seorang tersangka saja ternyata tetap laku dijual dan elektablitasnya malah yang paling tinggi. Apakah ini menandakan warga Kaltim adalah warga yang toleran terhadap masalah korupsi? Atau memang sudah tak ada lagi calon pemimpin di Kaltim yang berani, amanah dan punya terobosan?
***

KEUNIKAN ketiga. Empat lembaga survei menyatakan dari 20 lebih tokoh yang disurvei, Awang memperoleh elektabilitas tertinggi saat survei dilakukan April 2012. Prosentasenya mencapai 37,7- 48,9 persen, jauh di atas urutan kedua yaitu Rita Widyasari yang hanya 6-7,3 persen. Tokoh lainnya seperti Imdaad Hamid (kini dipinang Partai Gerindra), Yusuf SK, Mukmin Faisjal dan Isran Noor hanya di bawah 5 persen.

Pertanyaannya, apakah elektabilitas dapat menggambarkan tingkat kepuasan responden (terutama ketika pertanyaan itu dikaitkan dengan kinerja sang petahana)? Bagaimana misalnya menjelaskan  parahnya kondisi infrastruktur jalan? Bagaimana menjelaskan banyaknya keluhan warga atas jalan Samarinda-Bontang, Samarinda-Melak, juga di sepanjang jalan Lintas Kaltim lainnya?

Pemprov bukan tak punya uang. APBD Provinsi setiap tahun meningkat. Dalam lima tahun terakhir total APBD Provinsi mencapai Rp 58,64 triliun. Belum lagi APBD Kabupaten-Kota. Sedang jumlah penduduk hanya 3,5 juta jiwa. Tapi masalahnya keinginan berbelanja rutin juga terus membengkak. Fiskal daerah menjadi terlalu sempit untuk mendanai pembangunan karena tak mengacu pada angka ideal 70:30 persen.

Itu pun kebanyakan sudah terkunci untuk proyek-proyek tahun jamak. APBD Provinsi Kaltim 2013 yang mencapai Rp 13 triliun itu misalnya, kelihatannya saja besar. Masalahnya lagi warga mengeluh A dijawab B. Warga mengeluhkan jalan Lintas Kaltim di Poros Tengah, Selatan dan Utara, dijawab dengan membangun jalan tol ruas Balikpapan-Samarinda senilai Rp 6,2 triliun. Itu pun minim sekali progresnya. Coba hitung berapa triliun uang rakyat yang akhirnya mandeg di sana.

Warga mengeluhkan soal kesejahteraan, dijawab dengan membangun gedung Convention Hall yang fisiknya saja menelan Rp 256 miliar. Belum semua lahannya dibebaskan, proyek sudah dijalankan. Bangunan Convention Hall pun terlihat lucu. Mencuat separuh. Beruntung akhirnya si pemilik lahan bersedia menjual dengan harga Rp 40 miliar. Dan banyak lagi proyek besar lainnya. Proyek-proyek itu benar-benar menguras anggaran sementara kebutuhannya belum mendesak dan kini pun belum dapat dirasakan manfaatnya.

Lihat pula wilayah perbatasan. Warga di sana memiliki sahabat sejati bernama ironi. Terjalin sejak Indonesia merdeka dan masih bergandeng tangan setia hingga Pemprov Kaltim memperingati ulang tahunnya yang ke-56 pada 9 Januari 2013 lalu.

Saya pernah baca kisah Profesor Herwasono Soedjito, peneliti LIPI. Rabu, 31 Oktober 1979, dia di Bandara Temindung. Kala itu bukan hal yang gampang untuk bisa terbang ke Apo Kayan. Angkutan penerbangan sangat terbatas. Kendati akhirnya dapat terbang, dengan Cessna 206 milik MAF, tapi ia harus merelakan sebagian barangnya tertinggal akibat terbatasnya daya angkut.

"Kami terlalu berambisi untuk dapat membawa semua alat penelitian kami dan mengorbankan gula, garam, kopi dan makanan lainnya. Kami terlalu yakin bahwa barang yang tertinggal akan datang beberapa hari lagi, ikut penerbangan pesawat berikutnya. Ternyata persediaan kami hanya bertahan empat hari dan pesawat MAF tak kunjung tiba," ungkapnya.

"Terpaksa kami harus ikut merasakan seperti penduduk Apo Kayan, betapa tidak enaknya makan tanpa garam. Badan jadi lemas tanpa tenaga dan kepala pusing karena telah beberapa hari tak minum kopi," jelasnya lagi.

Herwasono mungkin tidak pernah menyangka bahwa 33 tahun setelah ia menginjakkan kakinya di dataran tinggi tersebut, kondisinya masih sama. Warga Apo Kayan masih terisolasi. Penerbangan bersubsidi sudah terhenti sejak akhir Desember 2012. Dan selama itu para pemimpin di Kaltim tidak mampu berbuat banyak.

Berharap pada angkutan darat? Mungkin sebuah utopia! Unik memang... (***)


No comments: