KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 15, 2012

Pariwisata Kaltim Masih Sebatas Baliho


Kaltim selalu menyatakan diri siap menerima kunjungan wisatawan. Tapi apa yang sudah terlihat dari kesiapan itu? Nyaris tak ada! "Ah, jangan ekstrem begitu," timpal seorang pemilik agen travel. "Setidaknya ada baliho...," tambahnya dengan mimik jenaka. Ia menunjuk baliho bergambar Gubernur bertuliskan "Visit Kaltim Year 2012" yang dulu bertengger mentereng di Tepian Mahakam, depan gubernuran.

ACHMAD BINTORO

Mendengar itu, kontan meledaklah tawa para pemilik agen travel lainnya. Seretnya pengembangan pariwisata Kaltim menjadi isu utama dalam obrolan santai di sela sarapan belasan pengusaha agen travel di V'la Park Hotel, Kuala Lumpur, akhir pekan lalu. Hotel ini terletak di Bukit Bintang, pusat keramaian di ibukota Malaysia, tak jauh dari menara kembar Petronas.

BANJIR DI SIMPANG 4 MAL LEMBUS SAMARINDA
"Itulah kenyataanya. Apa yang mereka sebut sebagai program pengembangan pariwisata ternyata masih saja berkutat pada soal membuat spanduk dan baliho bertuliskan Visit Kaltim, yang biasanya ikut dompleng gambar kepala daerah dan kepala dinasnya," kata Ketua Association of the Indonesia Tour & Travel Agencies (Asita) Samarinda Syarifudin.

Kunjungan 15 pengusaha agen travel anggota  DPC Asita Samarinda ke Malaysia dan Singapura, kian membuka mata bahwa mengembangkan pariwisata bukanlah sekedar berucap selamat datang. Tidak cukup hanya dengan membuat brosur, baliho serta spanduk "Ayo Tamasya ke Kaltim" atau retorika yang terdengar manis dalam pidato-pidato kepala daerah dan kepala dinas pariwisata di Kaltim.

Modal cekak tidak menghalangi keinginan mereka untuk bisa menimba pengalaman dari dua negara tetangga yang selama ini gencar membangun pariwisatanya. Mereka pun melobi travel lokal untuk memfasilitasi perjalanan lokal dan akomodasi selama di sana. Berhasil. Tinggal masalah tiket. Ini juga segera terpecahkan setelah Garuda Indonesia memberi diskon besar.

"Banyak hal yang bisa kami pelajari. Mulai dari bagaimana cara travel agent mengemas paket wisata untuk dijual pada wisatawan hingga melihat bagaimana keseriusan otoritas pemerintah di sana dalam mengembangkan pariwisata," ujar Lydia Hendy, pimpinan PT Totogasono Samarinda.

"Dan kami tidak sekedar plesir." Sarifudin menyindir perjalanan dinas rombongan puluhan pejabat ke Belanda guna mengikuti pameran pariwisata dan investasi yang menuai banyak kecaman. Begitu banyak APBD Kaltim terbuang untuk sesuatu yang kurang penting. Promosi memang penting, tetapi mestinya harus mengacu pada pencapaian target-target yang terukur. Selama ini tidak begitu. Tiap tahun berkunjung ke Eropa tapi tidak pernah jelas apa hasilnya. Asita pun tidak dilibatkan.



Kritik terhadap kinerja pemda, khususnya Dinas Pariwisata, bukan terjadi kali ini saja. Salah satu kritikan bisa kita lihat pada website DPD Asita Kaltim. Seseorang yang menamakan diri "Pengamat Pariwisata Kaltim" menulis surel terbuka pada 12 Juni 2008. Ia mempertanyakan apa kerja Dinas Pariwisata Kaltim.
"Apakah pemerintah sudah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk bidang pariwisata Kaltim? Atau (dana) hanya digunakan untuk plesiran oleh pegawai Dinas Pariwisata Kaltim. Karena mereka tidak mengerti bagaimana sesungguhnya membangun pariwisata Kaltim," tulisnya.

Dana pembinaan untuk pemandu wisata misalnya, tidak pernah ada.  Padahal pemandu wisata adalah pilar utama dalam membangun citra pariwisata di Kaltim. Merekalah yang selama ini gencar dalam memperkenalkan kepada para wisatawan melalui sejumlah paket wisata seperti Mahakam River Trip, Kutai National Park, dan Canopy Bridge.

BANDINGKAN dengan Malaysia. Pengembangan pariwisata tidak dikerjakan sendiri oleh pemerintah. Mereka melakukan promo bersama stakeholder terkait lainnya dalam sebuah badan Malaysia Tourism Promotion Board. Agen-agen travel dilibatkan. "Ya, benar kami selalu dilibatkan dalam setiap promo. Ke Indonesia kami turut," jelas Kuna Seelan Velayutham, Managing Director Hibiscus Travel & Tours Sdn Bhd.
Kuna bahkan memfasilitasi kedatangan anggota Asita Samarinda ke Malaysia. Ia menyambut sangat ramah dan mempersiapkan dua kendaraan VIP untuk mengantar kami mengunjungi sejumlah obyek wisata di Malaysia.

Di Kaltim, selama ini masih jalan sendiri-sendiri. Gubernur jalan sendiri dengan retorikanya. Dinas Pariwisata pun demikian. Yang penting proyek jalan, masa bodoh yang lain. Menggelar Festival Mahakam pun lebih terkesan menjadikan sebagai proyek ketimbang keinginan untuk menjual event pariwisata. Asita lagi-lagi tak dilibatkan. Dibiarkan sendiri pontang-panting menggaet wisatawan. Para pemandu wisata jalan tanpa bekal dan informasi yang cukup yang semestinya itu bisa dilakukan melalui anggaran pemerintah.

"Festival Mahakam selama ini ya begitu, jalan sendiri gitu aja, tahu-tahu kami malah ditodong untuk menyumbang," kata Irma Dian Sari, pemilik Borneo Kersik Luway. Mestinya ada komunikasi awal, apa yang bisa diharapkan dari Asita Samarinda dalam menjual event tersebut. Peran pemerintah juga seharusnya jelas. Yakni bagaimana menggunakan APBD untuk memperbaiki infrastruktur menuju daerah tujuan wisata, melakukan pembinaan masyarakat lokal, dan bersama melakukan promo. Tak harus ke Eropa. Di Bali pun bisa.

Tapi pertanyaannya apa peran itu sudah dijalankan. Pampang adalah contoh terdekat di Samarinda tentang bagaimana absurdnya komitmen kepala daerah dalam membangun dan mengembangkan pariwisata. Sudah ditetapkan sebagai Desa Cagar Budaya -- yang diharapkan bisa mendatangkan banyak wisatawan -- tapi tidak diurus bagaimana kelanjutannya. Lamin sudah dibuat, tapi akses jalan masuk dibiarkan rusak.

Warga Pampang berasal dari dataran tinggi Apo Kayan, Malinau yang secara bertahap, sejak 1967, eksodus ke Samarinda. Mereka mengarungi sungai dan hutan selama belasan tahun untuk mencari garam dan kehidupan yang lebih baik. Mereka masih mempertahankan tradisi leluhur berupa cuping panjang, tato pada tangan dan kaki, dan ritual melalui musik dan tari.

"Bagaimana kita akan menjual paket wisata dengan kondisi seperti itu. Belum lagi acapkali mereka tidak ada di desa saat wisatawan datang, karena mereka harus memenuhi kebutuhan hidup dengan berladang. Hal-hal seperti ini kan mestinya harus diatasi bersama," kata Syarifudin.(***)

No comments: