KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 15, 2012

Benahi Dulu Baru Gencarkan Promosi


Melancong ke Eropa sepertinya sudah menjadi agenda rutin bagi puluhan pejabat Pemprov dan pemda di Kaltim. Hampir saban tahun dilakukan dengan dalih promosi pariwisata (dan investasi). Promosi seakan-akan menjadi jawaban pamungkas yang bakal membuat wisatawan berbondong-bondong datang ke Kaltim. Padahal promosi mestinya bukanlah yang pertama dan segala-galanya.

ACHMAD BINTORO

Pelajaran berharga itu diperoleh pengusaha travel agent anggota Asita Samarinda saat melancong  ke Malaysia-Singapura, 5-8 Oktober 2012. Memang benar kedua negara itu amat gencar berpromosi. Hasilnya, puluhan juta orang datang ke dua negara tetangga itu. Pada 2011, Malaysia dikunjungi 24,7 juta turis. Bandingkan tahun 2000 hanya 10,2 juta orang saja. Dalam 11 tahun kenaikan turis mencapai 142 persen.

MAHAKAM RIVER TOUR
Tetapi, bagi Malaysia dan Singapura, promosi hanya satu dari banyak bagian penentu keberhasilan memasarkan pariwisata. Bagian lain harus turut dibenahi seperti ketersediaan infrastruktur yang memadai, produk, harga, sistem distribusi (place),  pengemasan paket wisata (packaging), program kegiatan wisata (programming), kerjasama (partnership), penampilan obyek wisata (performance), hingga soal sumberdaya manusia (people).

Pemerintah Malaysia (termasuk pemerintahan di 14 Negara Bagian) melibatkan seluruh stakeholder. Mereka mengerahkan jawatan pekerjaan umum untuk memperbaiki dan membangun akses jalan menuju obyek wisata. Selama di sana saya sulit sekali menemukan jalan yang berlubang. Mereka melibatkan para travel agent dan pihak terkait lain dalam Malaysia Tourism Promotion Board guna mengembangkan dan mempromosikan kepada dunia agar datang ke Malaysia.

Director Malaysia Tourism Promotion Board, Nor Aznan Sulaiman menuturkan Indonesia adalah pasar terbesar kedua wisatawan yang datang ke Malaysia setelah Singapura. Karena itu mereka gencar promosi langsung ke berbagai kota di Tanah Air, termasuk ke Samarinda. Tahun 2011 lalu, turis Indonesia ke Malaysia mencapai 2,1 juta.



Warga Kaltim juga banyak yang melancong ke sana. Seperti kebanyakan wisatawan yang datang dari negara-negara berkembang, mereka tertarik dengan program wisata belanja dan  hiburan. Ini berbeda dengan turis dari negara-negara maju seperti Jepang, Eropa, dan AS yang umumnya berminat pada ecotourism, bahari, dan adventure.

"Simpel aja alasannya. Buat apa mengunjungi hutan dan masuk hutan lagi, sedang di negara sendiri sudah banyak hutan," kata Wan Shairi Wan Ahmad, Managing Director WSF Travel & Tours Sdn Bhd.

Karena itu, turis asal Indonesia dan Asia berminat sekali mengunjungi KL yang menjadi surganya belanja dan kuliner, selain karena pesona menara kembar Petronas. Mereka berminat pula ke wisata sejarah di Melaka -- sebuah kota tua yang menyisakan jejak kedekatan histori dengan Indonesia -- dan ke Genting Highlands (pusat rekreasi modern di dataran tinggi).  Yang terbaru adalah Legoland di Johor, sebuah kawasan rekreasi semacam waterpark yang hampir semua bangunannya didesain dari susunan Lego bricks.

LEGOLAND DI JOHOR, OBYEK WISATA BARU
Menurut Hasbullah Rosli, Manager Sales & Marketing, pihaknya menginvestasikan 700 juta RM atau sekitar Rp 2,1 triliun untuk membangun semua fasilitas ini. Sama dengan KLIA yang dibangun di kawasan kebun sawit, Legoland Malaysia juga dibangun di area kebun sawit, di tepi jalan by pass KL-Singapura.

Kini setelah semua obyek wisata itu siap mereka amat gencar mempromosikan obyek-obyek wisata tersebut. "Ini berbeda dengan di Kaltim, pejabat lebih antusias melakukan promo ke Eropa padahal obyek wisatanya banyak yang belum disiapkan secara memadai," kata Alex Syafrudin, Ketua Asita Samarinda.

KATA kuncinya adalah mengoptimalkan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD). Tapi apa yang mau dioptimalkan kalau BPPD Kaltim belum dibentuk. Syafrudin menangkap kesan pemda enggan membentuk BPPD. Padahal BPPD memiliki peran strategis dalam menyatukan seluruh stakeholder untuk memetakan dan memajukan pariwisata di daerah.

Selama ini masih jalan sendiri-sendiri. Gubernur jalan sendiri dengan retorikanya. Dinas Pariwisata, BPPMD dan Dinas PU pun tak fokus. Muncul kesan yang penting proyek jalan, masa bodoh yang lain. Menggelar Festival Mahakam misalnya lebih dilihat sebagai proyek ketimbang keinginan untuk menjual event pariwisata. Asita tak dilibatkan. "Padahal travel agent bisa menjadi seller yang lebih handal," tutur Irma Diansari, pemilik Borneo Kersik Luway.

"Festival Mahakam selama ini ya begitu, jalan sendiri gitu aja, tahu-tahu kami malah ditodong untuk menyumbang. Sedang BPPD dari dulu hanya jadi wacana, tidak jelas kapan akan terbentuk karena kami tak pernah dilibatkan," tambahnya.

Mestinya ada komunikasi awal, apa yang bisa diharapkan dari Asita Samarinda dalam menjual event tersebut. Peran pemerintah juga harus jelas. Jika kepala daerah benar-benar berkomitmen, alokasi APBD untuk sektor ini harus diperbesar. Apa harus menunggu migas dan batu bara habis? Jangan- jangan ketika semua kekayaan itu sudah habis nanti kita sudah tak punya lagi dana untuk membangun pariwisata.
APBD mestinya juga digunakan untuk memperbaiki infrastruktur dan akses jalan menuju daerah- daerah tujuan wisata, membina masyarakat lokal dan pemandu wisata, baru kemudian bersama-sama melakukan promo.

Tapi pertanyaannya apa peran itu sudah dijalankan. Pampang adalah contoh terdekat di Samarinda tentang bagaimana absurdnya komitmen kepala daerah dalam membangun dan mengembangkan pariwisata. Sudah ditetapkan sebagai Desa Cagar Budaya -- yang diharapkan bisa mendatangkan banyak wisatawan -- tapi kok tidak diurus kelanjutannya. Lamin sudah dibuat, tapi akses jalan masuk dibiarkan rusak.

"Bagaimana kita akan menjual paket wisata dengan kondisi seperti itu. Belum lagi acapkali mereka tidak ada di desa saat wisatawan datang, karena mereka harus memenuhi kebutuhan hidup dengan berladang," kata Syarifudin.

Saat ini yang sudah relatip siap barangkali baru Pulau Derawan. Derawan Sail 2013 diharapkan menjadi momen kebangkitan dan berkembangnya pariwisata Kaltim. Tapi selama komitmen nyata kepala daerah belum terwujud, tata kelola masih buruk, dan program pengembangan masih berjalan sendiri-sendiri, agaknya kesiapan kita sebenarnya tidak lebih dari membuat baliho pariwisata:Visit Kaltim 2012.(***)







No comments: