KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 19, 2012

Palu, I Love You

Saya benar-benar gandrung pada kota ini. Bahkan itu sudah saya rasakan sejak kali pertama menginjakkan kaki di kota ini tahun 1996 silam. Padahal, Palu -- meski merupakan ibukota provinsi -- hanyalah sebuah kota kecil. Itu pun gersang dan berdebu. 

ACHMAD BINTORO

Foto Bareng Bersama Keluarga
Dari atas -- saat pesawat bersiap landing di Bandara Mutiara, Palu terlihat seperti lembah tandus yang dikelilingi oleh pegunungan yang juga tak lagi hijau. Penilaian ini mungkin terlalu subyektif dan kurang tepat. Karena itu saya sengaja menyelipkan kata "seperti" di depan kata "tandus". 

Kesan tandus saya tangkap sekilas dari warna lahan yang umumnya putih keabu-abuan. Ini warna batu kali dan pasir. Batu kali, kerikil dan pasir sangat mudah ditemukan di sini. Terutama di sepanjang Sungai Palu pada saat kering. Palu memang sudah lama dikenal memiliki sirtukil kualitas satu.






Saya ingat betul bagaimana cemasnya sejumlah kontraktor dan pimpro di Kaltim ketika pasokan sirtukil dari Palu sempat  tersendat beberapa bulan, yang kemudian menghambat target penyelesaian sejumlah proyek besar di Kaltim. Gubernur Kaltim Suwarna AF ketika itu sampai membahasnya secara khusus di dalam Rakorbang Provinsi dan memerintahkan dilakukan pendekatan dengan Pemprov Sulteng serta para pengusaha sirtukil Palu.

Kaltim memang tidak memiliki sirtukil dengan kualitas sebaik Palu. Sirtukil Palu sangat keras. Hampir semua proyek jalan negara Trans Kaltim, proyek pelabuhan dan bandara, termasuk yang kini dikebut penyelesaiannya Bandara Baru Samarinda dan perluasan Bandara Sepinggan Balikpapan, menggunakan sirtukil Palu.
Meski sirtukil kualitas nomor satu di Palu berlimpah, bukan berarti kondisi semua jalan di kota ini dalam keadaan baik. Tidak sedikit saya menyaksikan ruas jalan yang dibiarkan bopeng dan berlubang. Kondisi jalan umumnya kecil dan berdebu dengan belokan yang tajam. Kesan sempit makin terasa karena pemkot setempat selalu membangun tugu kecil di setiap simpangannya (empat atau tiga).

Sudah 16 tahun saya bolak-balik ke Palu, namun kondisi jalan tidak banyak berubah. Penghijauan di sepanjang jalan pun masih minim. Entah apa yang diperbuat gubernur dan walikotanya selama ini. Jalan yang relatip besar dan dua jalur hanya kalau kita keluar dari bandara, di kawasan pusat pemerintahan di depan gubernuran, di ruas menuju Kabupaten Donggala (Jl Ahmad Yani), dan Jl Sis Al Jufrie yang menjadi tempat komunitas warga Arab dan perguruan Al Khairat.
Jangan berharap ada gedung tinggi di Palu. Bangunan tertinggi umumnya hanyalah ruko berlantai tiga. Kecuali kalau  pembangunan hotel Santika nanti rampung, mungkin akan menjadi satu-satunya bangunan tertinggi di kota jnj. Hotel milik jaringan Kelompok Kompas Gramedia ini berlantai lima. Kabarnya hotel ini bahkan akan dibangun hingga delapan lantai tapi entah kenapa urung. Mungkin karena faktor gempa yang acapkali melanda wilayah ini?


Fauzia Hamde
Saya di awal tadi katakan langsung gandrung dengan kota ini sejak kali pertama menginjakkan kaki. Sohib saya bilang: "Ya, tentu saja, istri kamu orang Palu." Mungkin ada benarnya. Itulah saat pertama kali hati saya berdesir hebat ketika bertemu gadis cantik tinggi semampai di sebuah hotel di Palu. 


Saat itu saya bersama dua kawan saya, Maturidi (sekarang Kepala Biro Tribun Kaltim di Samarinda) dan Iskandar Zulkarnaen (sekarang redaktur senior di Biro Antara Samarinda) menghadiri sebuah acara, di mana dia menjadi salah satu panitia. 


Setahun kemudian, Juli tahun 1997, gadis berhidung mancung -- putri seorang warga keturunan Arab yang cukup disegani di Palu -- itu kemudian menjadi pendamping hidup saya. Alhamdulilah kini dia telah memberikan tiga anak yang cantik-cantik seperti uminya. Sebenarnya lima tapi dua meninggal dunia di kandungan, dan keguguran.


Di luar yang bersifat subyektif itu, Palu memang memiliki sejumlah kelebihan sehingga pantas kalau banyak orang lain pun gandrung. Kota ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kota lain, setidaknya di tempat saya tinggal, Samarinda. Itulah barangkali yang membuat saya tidak pernah bisa melupakan kota ini. I love you, Palu.




Apa sesuatu itu? Pertama adalah kulinernya. Palu dikenal memiliki citarasa makanan yang lezat dan pedas. Ini sangat cocok dengan lidah saya sebagai orang yang tumbuh dan besar di kota kecil di jalur pantura, Tuban. Dari kecil saya terbiasa makan ikan segar. Sesuatu yang sulit saya lakukan ketika saya hidup di Samarinda. Saya bahkan lebih sering makan ikan (dan tentu saja plus tempe) ketimbang ayam. 

Saya biasanya baru bisa makan ayam (kampung, karena ayam potong tidak populer di Tuban) kalau ada tetangga sedang punya hajat seperti sunatan, kematian, gotong royong pindah rumah atau manganan.


Zela dan Uminya
Zela di usia 2,5 Tahun
Disadari atau tidak, dalam hati saya kadang berdoa, semoga segera ada tetangga lain lagi yang punya hajat. Hajat kematian pun tak apa (he he he belakangan saya baru menyadari bahwa itu doa yang keliru). Hajat bagi saya, yang saat itu masih sedang memerlukan energi besar untuk tumbuh -- saya kelas 1 SMPN 1 Filial yang kemudian berubah nama menjadi SMPN 3 -- berarti makan gratis enak. Setidaknya saya bisa kembali menikmati lezat dan gurihnya opor ayam kampung.

Sudah menjadi tradisi di kampung saya, setiap hajatan seperti itu, selain disuguhi makan di tempat, tuan rumah juga akan membekali kami makanan untuk dibawa pulang. Kami menyebutnya "berkat". Kadang dibungkus daun pisang atau daun jati. Lebih sering dibungkus rapi dalam tumbu (besek yang terbuat dari daun kelapa/siwalan), tapi belakangan orang lebih suka menaruh dalam bakul terbuat dari plastik agar praktis. Tumbu berisi nasi, yang di atasnya dilengkapi empal daging, ayam opor, telor, urap, gorengan ati ayam bercampur kentang bumbu, rengginang, dan pisang raja.


Mufidah Al Amrie bersama Keluarga di Pesaku



Nisma Bahaswan
Kak Fat dan suaminya, Abd Bachmid


Tifa bersama Temen Sekelasnya
Tiba di rumah, saya pun makan lagi. Harap maklum ya sebab kapan lagi saya bisa makan enak kalau bukan saat-saat seperti itu. Harga ikan jauh lebih murah ketimbang ayam. Daging sapi pun mahal untuk ukuran kantong keluarga saya. Kalau kambing masih bisa dijangkau. Acapkali saya pergi ke warung di Pasar Baru (sekitar 1 kilometer dari rumah) sekedar untuk menikmati nasi becek. Becek adalah makanan khas Tuban, sejenis gulai kambing.



Mufidah Al Amri dan Nisma Bahaswan
Fauzia Hamde
Hamid Hamde bersama ane
Munifah Hamde dan Fauzia Hamde
Tifa dan Sepupu di Rmh Ami Hasan Al Jufrie di Tarakan

Fadlun, Fauzia dan Farida Hamde

No comments: