KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jun 20, 2012

Sabar 2013 Pasti Mulus...

Andai pun setiap surat kabar di Kaltim mau memberi separuh halamannya setiap hari, niscaya tetap tidak akan mampu menampung semua keluhan warga. Selama empat tahun kepemimpinan Awang Faroek Ishak-Farid Wadjdy, orang melapor hampir tanpa jeda soal keburukan infrastruktur terutama jalan di ibukota provinsi dan antarkabupaten/kota. Jangan tanya lagi di daerah pinggiran, pedalaman dan terlebih perbatasan.

ACHMAD BINTORO

KADANG mereka seperti kehabisan akal. Tak terbilang kata sudah diungkapkan. Mulai yang santun dan ungkapan eufemisme, hingga kalimat-kalimat vulgar, sarkasme bahkan caci maki.  Aksi unjuk rasa dengan menanam pohon pisang dan berikade  kayu di tengah jalan pun sudah acap dilakukan. Namun rupanya masih belum cukup kuat membetot perhatian kepala daerah.


Jalan yang menjadi urat nadi perekonomian warga tetap saja dibiarkan hancur. Tak lagi hitam karena sudah bertahun-tahun aspalnya terkelupas. Bahkan banyak agregatnya pun kemudian terpental dari badan jalan di banyak titik. Sareh, warga Sempaja Lestari Samarinda, karyawan BUMN, memberi segepok foto kepada saya bahwa apa yang dikeluhkan rakyat selama ini bukanlah isapan jempol. Foto-fotonya mengabadikan kerusakan berpuluh hingga beratus kilometer ruas jalan di sepanjang jalur Trans Kaltim.


Ia menyaksikan truk sembako yang terguling saat berusaha menerobos titik ruas jalan yang licin dan berlumpur di Batu Ampar, Kabupaten Kutai Timur. Ratusan kendaraan terjebak dalam kemacetan yang panjang di sebuah titik sepanjang puluhan meter yang berubah menjadi bak kubangan kerbau. Ia sendiri terpaksa semalaman menginap di hutan. Beruntung esok harinya datang alat berat menarik kendaraannya yang terperosok.

Sebaliknya saat cuaca panas, bukan berarti ketidaknyamanan lantas terhenti. Memang tidak ada lagi kubangan kerbau maupun kekhawatiran kendaraan bakal tergelincir. Tetapi, gilasan roda kendaraan meninggalkan gulungan debu tebal yang menutup apa pun. Atap rumah, bodi mobil dan dedaunan di sepanjang berubah warna coffeelate.

"Parah banget deh kondisinya," kata Sareh yang mengaku sulit mengungkapkan dengan kata-kata yang pas untuk menggambarkan kesulitan yang dialami warga akibat kerusakan jalan. "Bayangkan,  sudah bertahun-tahun mereka alami." Sareh mengetahui itu karena rutin melakukan perjalanan ke wilayah tengah dan utara terkait dengan pekerjaannya di bidang konstruksi.

Hal senada dikatakan Firminus Kunum, Sekretaris Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT). "Kayaknya tambah parah saja," ujar. "Jujur saja di era gubernur sebelumnya, kondisi jalan di jalur Trans Kaltim malah lebih baik." Gubernrur yang ia maksud adalah Suwarna AF. Suwarna dikenal sebagai gubernur yang rajin turun lapangan dan mengecek langsung kondisi jalan di poros selatan, tengah dan utara hingga ke tapal perbatasan di Simenggaris.

Selain itu, "Ini karena dulu ada orang kita (Yurnalis Ngayoh) di sana, sebagai Wagub. (Sehingga) ada yang mengerti tentang Kaltim," katanya. Sekarang? "Orang bilang 'janjimu taroe'. Kita sudah bosan dengan janji-janji politik. Mulai 2013 harus ada orang kita (Dayak)," tambah Kunum.
*****

CAPEK dan bosan. Itulah kata yang belakangan acapkali disampaikan warga setelah mengetahui  keluhan-keluhan yang mereka sampaikan tidak segera mendapat respon dari kepala daerah. Mereka mengeluhkan hancurnya jalan dari Simpang Perdau hingga simpang tiga Bengalon, Batu Ampar di Kutim hingga Berau, dan di poros tengah menuju Kutai Barat, serta poros selatan jelang perbatasan  Kaltim-Kalsel. Tapi gubernur menjawabnya dengan membangun jalan tol Balikpapan-Samarinda dengan dana total Rp 6,2 triliun.

Mereka mengeluhkan banyaknya ruas jalan di dalam kota Samarinda yang hancur seperti jl Sentosa, jl HM Ardans, jl Padat Karya, dan jl KH Mas Mansyur (Loa Bakung). Tapi pemerintah menjawab dengan (kembali) meng-hotmix jalan Slamet Riyadi dan jalan Juanda yang kondisinya masih cukup baik.

Carolus Tuah, Direktur Pokja 30 Samarinda mengatakan, ibarat dokter, Awang Faroek dinilai telah keliru dalam memberikan obat yang dibutuhkan pasiennya. "Pasien  lagi sakit gigi  kok diberi obat panu, mana bisa sembuh?"

Uang triliunan rupiah digerojok untuk tol. Triliunan rupiah pula diguyurkan membiayai 15 proyek tahun jamak lainnya.  Gubernur menyatakan 10 program prioritas dalam masa kepemimpinannya, tapi ia wujudkan dengan membangun 16 proyek tahun jamak. Salah satunya adalah menggelontor dana APBD Kaltim sebesar Rp 256 miliar hanya untuk sebuah gedung serbaguna (convention hall) yang belum terlalu mendesak bagi publik.

"Ini kan logika yang salah," kata Tuah. Sudah tak terbilang ia melontarkan kritik terhadap berbagai kebijakan gubernur. Saking seringnya barangkali sampai kemudian muncul komitmen tidak tertulis di semua pejabat di lingkup pemprov untuk tidak menggubris apa pun kritikan Tuah.

Bertahun-tahun pula warga mengeluhkan kondisi jalan poros Palaran yang hancur. Sempat lama tak ada yang merespon, pekan lalu Gubernur Awang Faroek Ishak muncul di tengah warga dalam acara nonton bareng wayang kulit di Palaran dan menyatakan: "Jangan khawatir, (tahun) 2013 jalan di Palaran pasti mulus."

Tidak ada yang tahu pasti kenapa gubernur harus menunggu 2013. Tahun 2013 adalah tahun gelaran Pemilihan Gubernur Kaltim. Awang Faroek Ishak sudah menyatakan kesediannya dicalonkan lagi setelah hasil rapat umum lembawa swadaya masyarakat bentukannya, Kalima Plus, dan hasil survei empat lembaga survei ternama menempatkan dirinya di posisi teratas sebagai calon gubernur dengan popularitas dan elektabilitas tertinggi.

Dia bahkan sudah resmi menggandeng Mukmin Faisyal, Ketua DPD Partai Golkar Kaltim yang juga Ketua DPRD Kaltim. Siapa pun akan mafhum tahun 2013 akan menjadi tahun pertaruhan bagi para calon gubernur. Mendengar jawaban gubernur terakhir, saya jadi teringat saat Pilkada Walikota Samarinda beberapa tahun silam. Banyak ruas jalan di kota Samarinda yang sebelumnya dibiarkan rusak dan dikeluhkan warga, mendadak mulus hanya dalam beberapa pekan jelang pencoblosan. Walikota tiba-tiba punya  energi lebih untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak.

Warga pun balik memuji walikota, sang incumbent. Dan seperti kita tahu, sang incumbent jadi pemenang lagi. Warga seperti lupa dengan keluhan, cibiran serta caci maki yang pernah mereka lontarkan kepadanya. Mungkin benar orang bilang, bangsa kita adalah bangsa pemaaf dan para calon pemimpin bukan tidak tahu bagaimana memanfaatkan "kelebihan" warganya itu. (***)

No comments: