KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jun 8, 2012

Duh Gelapnya Jalan Ibukotaku

Jam di tangan baru menunjuk angka 21.05. Belum teramat malam. Terlebih ini malam panjang di awal bulan. Tetapi, sebagaimana malam-malam sebelumnya, saya mendapati jalan-jalan protokol yang tetap saja gelap. Miskin penerang. Saya tak habis mengerti, kenapa sekedar membuat jalanan lebih benderang saja tidak mampu. Di sisi lain Walikota mengobral 71 persen wilayahnya dikeruk oleh puluhan perusahaan tambang batu bara, untuk menerangi dunia.

ACHMAD BINTORO


Seorang kawan dari Malang yang malam itu saya ajak keliling kota Samarinda, tak pernah menduga di ibukota provinsi yang kaya energi ini kondisinya segelap ini. Ada banyak lampu induksi terpasang di sepanjang jalan, sayang cuma pemanis.

Ia sudah mendengar banyak hal tentang kota ini. Salah satunya bahwa kota ini memiliki kekayaan tambang batu bara dan walikotanya dikenal royal dan obral memberi izin tambang. Begitu obralnya sampai-sampai kini tidak ada lagi jengkal kosong yang tersisa. Kawasan dekat pemukiman tergali. Kawasan sekolah kebagian lumpur. Lahan pertanian dan kebun apalagi.

Dari 71.800 hektar luas kota Samarinda, tercatat 50.742,76 ha dikuasai tambang. Samarinda menjadi satu-satunya kota tambang di Indonesia.  Padahal tidak tertulis satu pun kata "tambang" di dalam visi kota Samarinda. Visi kota ini adalah mewujudkan kota Samarinda sebagai ibukota metropolitan berbasis industri, perdagangan dan jasa, berwawasan lingkungan dan hijau. Di kota ini, barangkali tinggal Balaikota -- tempat Walikota berkantor -- saja yang masih aman dari jamahan eskavator tambang.


Di simpang empat Voorvo, beruntung traffic light masih menyala. Setidaknya mengingatkan bahwa saya memang tidak sedang berada di Palaran, daerah pinggiran yang kondisinya jauh lebih parah. Lampu sorot dipasang di pucuk tiang. Seperti di simpang-simpang jalan lain, lampu-lampu ini juga dibiarkan tidak hidup.

Menyusuri Tepian Mahakam sama redupnya. Di depan masjid Islamic Center di jalan Slamet Riyadi bahkan berdiri tiga tiang untuk lampu sorot. Namun berharap menyala semalam saja dalam sepekan, agaknya sebuah harapan yang terlalu muluk. Pernah sih menyala bersamaan, saat menyambut malam tahun baru. Setelah itu kembali padam. Saya kurang yakin bahwa kondisi remang macam ini yang disukai petugas Satpol PP supaya lebih mudah mengendap lalu menggrebek pasangan remaja yang mungkin terlena di kegalapan taman tepian.

Kalau saja ketiga lampu sorot itu dinyalakan, bukan saja keindahan tepian yang akan terlihat lebih sempurna, tugas Satpol PP pun tentu akan menjadi lebih ringan. Orang akan berpikir dua kali untuk melakukan hal-hal yang kurang pantas di tempat umum, apalagi di depan berdiri bangunan masjid megah dengan lampu-lampunya yang berpendar menghiasi menaranya.

Melintasi jalan Sentosa, ternyata lebih berat. Bukan cuma gelap, kondisi jalan pun hancur. Bebatuan tajam dan kubangan-kubangan mengaga mengocok isi perut. "Ini masih dalam kota, kan?" tanya kawan saya seperti kurang yakin. Saya hanya mengangguk. Beruntung saya lagi tak berminat untuk mengajaknya berjalan lebih jauh menyusuri daerah pinggiran.

Saya sebenarnya sedang bergairah menyambut akhir pekan. Saya ingin pamer kepada kawan bahwa Samarinda tak kalah eksotis dibanding Malang atau kota-kota lain di Jawa. Samarinda mempunyai sungai besar yang membelah kota ini menjadi dua. Tak satu pun kota di Jawa yang memiliki sungai sebesar dan sepanjang ini. Ia jauh lebih cantik ketimbang Palembang dengan sungai Musi-nya. Juga lebih mempesona dibanding Sungai Serawak di Kuching, Malaysia dan Clark Quay Singapura. "Iya sih," ujar teman saya mengakui. "Masalahnya bagaimana saya dapat menyaksikan keindahannya kalau kondisinya cuma begini, gelap lagi," tambahnya.

Kalimat terakhir itu seketika menohok saya. Gairah saya untuk membanggakan diri berangsur surut bersamaan kendaraan merapat di tepian. Jembatan Mahakam terlihat samar di kejauhan. Beberapa lampu jembatan yang menyala terlalu lemah untuk memendarkan cahaya keluar. Tak ubahnya lampu teplok. Sama sekali tidak mambuat kawan saya kagum. Barangkali akan lebih indah kalau pemda menghiasi jembatan itu dengan aneka lampu hias di sepanjang kerangkanya.

Sulit untuk percaya bahwa Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim tak memiliki uang sekedar untuk mempercantik jembatan itu dengan lampu hias. Bisa membangun gedung Convention Hall senilai Rp 256 miliar dan membangun jalan tol hingga Rp 6,2 triliun, masak tak bisa membuat benderang jembatan, tepian dan jalanan dalam kota. Sayang sekali walikota dan gubernur membiarkan kota ini menemani warganya dengan tanpa gairah.

Kami akhirnya duduk di depan Islamic Center, setelah puas menyusuri jalan-jalan kota yang gelap, rusak, berlubang dan menembus beberapa ruas jalan yang tergenang oleh banjir. Perut mendadak keroncongan. Tengok sana tengok sini, tak ada tempat bersantap di tepian ini. Lapak jagung bakar sudah lama diberangus. Beruntung lewat seorang penjual kacang rebus keliling. Lumayanlah untuk menemani akhir pekan di tepian. 

Tapi saya harus mengurungkan rencana untuk memamerkan keindahan kota ini kepada teman saya.  Saya harus menunda membual tentang eksotisnya tepian ini. Saya juga menunda mengajak kawan untuk bersantap malam di sebuah warung yang menyediakan masakan khas di atas pinggir sungai di daerah seberang -- sambil  menikmati indahnya pendaran cahaya di kejauhan yang berkilat-kilat menerpa permukaan sungai. Sebab memang belum ada terbangun warung semacam itu. Ini baru sebatas mimpi. 

Saya sadar, Tepian Mahakam Samarinda memang bukan Clark Quay, yang di sepanjang tepiannya menyajikan aneka resto sebagai tempat santap yang sangat romantis. Dari resto-resto itu kita dapat menyaksikan pendaran cahaya dari seberang sungai dan lalu lalang perahu-perahu wisata. Tapi saya  tetap meyakini potensi Mahakam jauh lebih besar. Seandainya saja pemimpin di daerah ini memiliki mimpi yang sama dengan warganya dan mampu mewujudkan mimpi itu. Tentu akan membanggakan sekali kota ini bagi warganya.(***)

No comments: