KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Mar 2, 2012

Ketika Dewan Membeli Sebuah Prestise

Ketua DPRD Kaltim
Gubernur Kaltim
SEORANG Dahlan Iskan tidak jatuh gengsi saat ia memutuskan naik kereta rel listrik ekonomi dari Jakarta, dilanjutkan naik ojek, agar bisa tepat waktu menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor. Joko Widodo, Walikota Solo, juga tidak merosot wibawanya di depan rakyat maupun koleganya di DPRD ketika memutuskan untuk tetap menggunakan mobil Camry lama peninggalan walikota terdahulu, meski beberapa kali mobilnya mogok di tengah jalan. 

ACHMAD BINTORO 

Tapi di sini, sejumlah anggota DPRD Kaltim, menganggap wajar-wajar saja ketika ketua mereka, Mukmin Faisyal HP, mendapat fasilitas lima mobil mewah dinas. Mereka yang berpendapat seperti itu adalah Hadi Mulyadi dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Pdt Yepta Berto dari fraksi Partai Damai Sejahtera, dan Siti Qomariah dari fraksi Partai Amanat Nasional. 
 
Toyota  LC Terbaru, Tipe V8 Sahara. Harga Rp 2 Miliar. Tunggangan Ketua DPRD Kaltim - Harga Sebuah Prestise.
Menurut mereka, ketua DPRD adalah jabatan prestise setingkat gubernur. Demi menjaga prestise itu, maka semua fasilitas yang diberikan kepada ketua dewan pun sepatutnya sama dengan yang dinikamti oleh gubernur. Maka ketika gubernur mendapat fasilitas Land Cruiser (LC), ketua dewan pun merasa harus mendapatkan yang sama. Sebenarnya sudah ada LC lama, peninggalan ketua terdahulu. Tapi dianggap tidak layak, kurang pas untuk ketua dewan yang terhormat. Ada kekhawatiran barangkali, kalau mobil LC lama -- yang itu juga mobil mewah dan secara teknis masih sangat layak pakai -- bisa menjatuhkan kehormatan ketua dewan. 

Salahkah kalau saya selaku rakyat kecil menjadi prihatin dengan cara pandang wakil kita di DPRD terhadap sebuah fasilitas dinas. Sebuah mobil dinas diadakan ternyata tidak didasarkan pada fungsi dan manfaatnya, melainkan lebih untuk menjaga sebuah gengsi dan wibawa. 

Simaklah apa kata Hadi Mulyadi: "Yang memulai gubernur dan wagub juga, mereka pakai LC. Kan jadi tak sesuai kalau gubernur dan wagubnya pakai LC sebagus dan secanggih itu, sementara mobdin ketua DPRD biasa- biasa saja." Simak pula bagaimana reaksi Jokowi ketika mobil Camry yang ia kendarai mogok beberapa kali di tengah jalan. "Kalau mogok ya didorong sedikit saja kan hidup lagi, kanapa harus repot. Mobil dinas itu (Camry seri lama, lungsuran tahun 2002) sebenarnya masih sangat layak, jadi tak perlu harus beli yang baru," kata Jokowi yang kini mengandangkan mobil esemka-nya, dan kembali dengan mobil Camry-nya. 

Ia mengandangkan mobil esemka semata-mata karena taat aturan. "Kalau semua syaratnya (lulus uji kelayakan dan dilengkapi surat-surat kendaraan) sudah ada, saya pasti pakai mobil esemka itu lagi," jelasnya. Sikap yang sama ditunjukkan wakilnya, FX Hadi Rudyatmo. Sementara menunggu surat mobil esemka dilengkapi, ia kembali dengan mobil dinasnya yang lama Nissan X-Trail. 

Seorang Jokowi dan wakilnya dihormati rakyatnya bukan karena keduanya menyandang label "yang terhormat" sebagaimana wakil kita di DPRD Kaltim. Mereka ternyata tetap dihormati dan tak jatuh prestisenya hanya karena mobil dinas yang menurut ukuran wakil rakyat kita tergolong "biasa-biasa saja." Jokowi justru mendapat penghormatan tulus dari rakyat dan koleganya. Bukan penghormatan semu yang bisa dibeli dengan uang. 

Sejak republik ini berdiri, rakyat sebenarnya tidak pernah mengukur kinerja pemimpinnya dan para wakil mereka di dewan berdasar jenis kendaraan yang mereka tunggangi. Kalau pun ada warga yang memuji kendaraan LC Sahara V8-6 AT King yang harganya konon mencapai kisaran Rp 2 miliar itu, yakinlah itu hanya sebuah decakan spontan: "Wow... keren!" Tapi lihatlah sikap mereka setelah kendaraan mewah itu melewati mereka, dan meninggalkan debu jalanan yang menyapu wajah mereka, hanya sinisme yang terucap. Bahwa APBD Kaltim ternyata banyak dipakai untuk memanjakan dan membeli gengsi para wakil mereka. 

Syahdan, saking asyiknya melahap dua mangkok soto campur di sebuah warung soto di area stasiun Bogor, Dahlan Iskan sampai tidak menyadari bila jarum jam hampir menunjuk angka 09.00. Rapat kabinet di Istana Bohor akan dimulai. 

"Mobil mana, mobil mana?" sambil celingukan mencari di mana mobil pribadinya. Dari Jakarta dia terpisah dari mobilnya karena menggunakan kereta rel listrik dari Stasiun Manggarai. Tiba di stasiun Bogor pukul 07.40 dan langsung sarapan di warung soto. Sang ajudan juga tidak tahu persis parkir di mana mobil tersebut. Ia bingung dan ikutan panik. 

Tidak ingin datang terlambat, Dahlan pun langsung berkata: "Ya sudah ojek saja-ojek saja." Maka kurang beberapa menit ia tiba di Istana Bogor. 

Di depan pintu gerbang istana, sejumlah petugas Pasukan Pengaman Presiden menahan. "Bapak mau kemana?" Dahlan menjawab spontan bahwa dia mau mengikuti rapat kabinet bersama-sama teman-temannya di dalam Istana. Agaknya penampilan Dahlan Iskan yang hanya berkemeja putih, tidak dimasukkan, celana hitam dan sepatu kets rupanya tidak mampu meyakinkan petugas bahwa dia seorang Meneteri Negara BUMN. 

"Oh..tidak bisa pak... ini rapat khusus menteri..." Beruntung seorang warga yang melihat kejadian itu langsung berteriak dari kejauhan. "Woiii dia itu menteri.." Dahlan hanya tersenyum saja. Ia tidak lantas menjadi naik darah atau memamerkan jati dirinya. 

No comments: