KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Feb 6, 2012

Pendidikan Karakter Ala Bu Ike



JARUM jam dinding di aula SMPN 4 Samarinda menunjuk angka 06.27 ketika saya tiba di ruang pertemuan tersebut. Hampir seluruh kursi telah terisi. Sebagian besar perempuan. Saya bergegas mengambil tempat duduk yang tersisa, di deret belakang. "Syukurlah, rupanya masih pagi," kata saya dalam hati, tersenyum mengibur diri, menutupi rasa bersalah karena datang terlambat.

ACHMAD BINTORO

Seharusnya saya datang pukul 09.00, sesuai undangan. Jam digital di telepon seluler saya menunjuk angka 09.27. Acara sudah dimulai. Kepala Sekolah Ike Padmawatie sedang berbicara mengenai kedisiplinan, dan pentingnya pendidikan karakter. Sekolah yang sudah empat tahun ia pimpin ini adalah satu dari empat sekolah di Samarinda yang terpilih sebagai sekolah Rintisan Berbasis Budaya dan Karakter Bangsa. Ia juga menekankan soal kejujuran.

Ini kali pertama saya dipanggil kepala sekolah. Anak saya dinilai terlambat tiba di sekolah sehingga tidak mengikuti upacara bendera. Saya bersama 88 orang tua siswa lainnya pun dikumpulkan. "Agar bapak ibu lebih memahami visi sekolah," kata Ike.

Sebenarnya saya sangat yakin telah mengantarkan anak saya dan tiba sebelum pukul 07.00. Tapi tak apa. Justru saya harus acungi jempol terhadap respon kepala sekolah yang begitu cepat. Selama ini, kalau pun ada yang terlambat, menurutnya, tak lebih dari 10 orang. Kali ini mencapai 89 orang. Ada apa ini?

Menurut dia, mendidik anak disiplin tidak bisa dilakukan sepihak. Sebagian besar waktu anak justru dihabiskan di rumah, sehingga orang tua harus dilibatkan. Percuma meminta anak untuk selalu tiba sebelum lonceng sekolah berbunyi, kalau faktor keterlambatan ternyata ada pada orang tua yang kurang cakap mengelola waktu.

Ya, bukankah kita acapkali mengabaikan hal-hal kecil seperti ini. Acapkali menganggap biasa jam karet. Teman saya, Ir Bernaulus Saragih MSc PhD, Kepala Pusat Penelitian SDA Unmul, pernah dibuat kesal karena masalah ini. Sudah satu jam lebih ia menunggu, ternyata rapat dengar pendapat di gedung DPRD Kaltim tidak kunjung dimulai.

Ahli ekonomi lingkungan ini tiba lima menit sebelum pukul 10.30 sesuai undangan yang ia terima dari sekretaris Majelis Rakyat Kalimantan Timur Bersatu Rudi Djailani. Ia kesal karena para wakil rakyat tidak menghargai waktu. Lima belas menit berlalu. Tapi wakil rakyat yang ditunggunya belum juga datang. Siang itu, selaku anggota tim ahli, ia diundang dewan untuk membahas kesiapan tim judicial review UU No 33/2004 yang akan memasuki sidang kelima.

Bernaulus pun bergegas meninggalkan ruang. Namun langkahnya dicegah Rudi. Usut punya usut, ternyata pertemuan resmi baru akan digelar pukul 11.00. "Saya sengaja menginformasikan ke teman-teman pukul 10.30 agar kalaupun mereka terlambat setengah jam, masih bisa mengikuti pertemuan pukul 11.00. Habis kebanyakan kita kan tidak on time. Gak nyaman kan kalau kita terlambat dalam rapat dengan anggota dewan," jelas Rudi.

Mendapat alasan demikian, Bernaulus makin kesal. "Bagaimana mau maju bangsa ini kalau sudah tidak menghargai waktunya sendiri." Kekesalan ahli ekonomi lingkungan lulusan universitas di Jerman dan Belanda ini makin menjadi saat waktu menunjuk angka 11.00. Ternyata tetap saja belum satu pun anggota dewan yang datang. Ketua Komisi I Dahri Yasin, Ketua Komisi II Rusman Yaqub serta sejumlah anggota dewan baru masuk ruang jelang pukul 12.00. Alamak!

DISIPLIN hanyalah salah satu alat yang dikembangkan di SMPN 4 untuk menanamkan karakter dan budaya bangsa kepada anak didik. Caranya bisa bermacam-macam. Ike membuat aturan denda Rp 50 ribu bagi siswa yang membuang sampah sembarangan. Dana dari hasil denda itu dikelola oleh guru Bimbingan Konseling dan dilaporkan terbuka setiap tiga bulan.

Ia juga melarang para siswa membawa HP di sekolah. Ini dilakukan untuk menjaga moral anak. Ini bermula saat ia mendapati seorang siswanya yang menonton film-film tidak senonoh di HP-nya. Mau film Jepang ada, kata anak itu. Hongkong dan Barat apalagi. Ike syok. "Kalau gara-gara aturan ini saya kemudian dipecat, saya siap," kata Ike yang setiap kali masuk kelas tidak bosan untuk bertanya pada muridnya yang muslim: siapa yang sudah melaksanakan salat subuh.

Bukan cuma terhadap siswa. Ike memasang mesin absensi sidik jari untuk mengecek kedisiplinan para guru. Guru menurutnya sekarang sudah lebih enak. Mereka menerima tunjangan profesi yang cukup. Itu pun masih ditambah insentif dari pemda Rp 1 juta. Jadi mestinya, waktu guru benar-benar diabdikan untuk mendidik dan membangun karakter siswa, sesuai budaya dan kepribadian bangsa Indonesia.

Ini tentu tidak mudah. Apalagi tidak sedikit yang kini menomorduakan pendidikan karakter. Para orang tua tidak jarang orientasinya hanya satu: bagaimana anaknya jadi pinter. Rame-rame bergerilya agar anak-anak mereka bisa masuk sekolah favorit berbasis RSBI. Jarang kita mendengar ungkapan para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi orang yang berkarakter.

Orang berkarakter kerap lebih mengesankan dan mengundang rasa ingin tahu. Kita pernah mengenal karakter-karakter yang menggugah dunia. Sebutlah Mahatma Gandhi, si anak canggung dan pemalu yang kemudian menjadi tokoh besar karena kebesaran jiwanya. Ia sulit menyakiti siapa pun. Tapi hatinya menolak tunduk pada kekuasaan dan menang melawan kekuasaan besar yang melawannya saat itu.

Kita juga mengenal Thomas More dari Inggris, yang akhirnya dihukum mati untuk kesalahan karena bersikap jujur. Tahun lalu, kita semua dibuat terkesan oleh ibu Siami. Dia mungkin tidak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Ia diusir oleh ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 Surabaya yang memaksa anaknya, Al, memberi contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011 lalu.

Bertindak jujur malah ajur!

Salah satu kalimat yang paling sering dikutip dan menjadi tema banyak pidato kelulusan dan esai pengembangan diri diambil dari Hamlet karya William Shakeaspeare. Penulis besar itu menuliskan pada seorang tokoh bernama Polonius: This above all: to thine ownself be true, and it must follow, as the night the day, thou cannot then be false to any man.

Banyak orang hanya mengingatnya pada bagian pertama kalimat itu - jujurlah pada diri sendiri. Jhon McCain, senator terkemuka AS, mengartikannya bahwa kita harus jujur serta setia pada hati nurani. Dan jika itu dilakukan, "Anda mustahil berbohong pada orang lain." Dengan kata lain kesetiaan pada nurani, kejujuran pada diri sendiri, akan menentukan karakter relasi kita dengan orang lain.

Di dalam negeri kita juga banyak mengenal tokoh seperti Soekarno, M Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Gajah Mada. Sayangnya, pelajaran sejarah kita cenderung cuma hapalan. Menghapal angka dan kejadian. Tidak pernah memberi ruang diskusi untuk menganalisis apa yang sebenarnya terjadi.

Peristiwa sejarah Ken Arok misalnya hanya diajarkan sebagai hapalan nama dan tahun serta peristiwa tentang pembunuhan Ametung dari singgasana Tumapel. Tidak pernah kepada siswa diberikan pemahaman yang menyeluruh bahwa inilah bentuk kudeta pertama di bumi Nusantara. Inilah kudeta ala Jawa. Kudeta yang licik tapi cerdik. Berdarah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapati penghormatan yang tinggi. Ia melibatkan gerakan militer (gerakan Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam, memperhadapkan antarkawan, dan memanasi perkubuan. Bukankah  modus semacam ini yang acapkali terjadi di dunia modern kini.

"Berat memang. Anak dituntut tak cuma hapal Pancasila. Masalahnya, pelajaran sejarah pun kini sudah dikurangi," jelas Ike. Tetapi meski berat, Ike bertekad untuk mewujudkannya. "Saya ingin ada perubahan di sekolah ini. Tapi perubahan sulit tanpa dukungan orang tua." Inilah sedikit pelajaran yang saya timba dari SMPN 4 Samarinda.(*)

No comments: