KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 23, 2012

Dua Pesan Jokowi kepada Gubernur Kaltim


Dalam mimpi, saya melihat Jokowi masuk kantor Gubernur Kaltim. Jam di tangan baru menunjuk angka 06.30. Belum banyak pegawai yang ngantor. Beberapa petugas Satpol PP di ruang lobi serta pegawai gubernuran yang sempat melihatnya pun rupanya tidak pernah menduga bahwa yang lewat barusan di depan mereka adalah Jokowi, Gubernur DKI yang baru dilantik.

ACHMAD BINTORO


Turun dari mobil Kijang Innova warna hitam, Jokowi langsung menuju lantai dua. "Bukankah itu Pak Jokowi?" tanya seorang petugas Satpol PP kepada rekannya sesaat setelah tersadar dengan sosok kurus berkemeja batik yang dilihatnya. Mereka pun bergegas menghampiri dan menyalami. Sambil menapaki anak tangga, Jokowi menepuk-nepuk bahu mereka.

Saya yang saat itu sedang menunggu teman di lobi gubernuran, tidak kalah kagetnya. Ada apa dia di sini? Studi bandingkah? Ah, tidak mungkin. Masak Gubernur DKI mau studi banding ke provinsi yang jauh di Kalimantan. Lalu apa dong?

Memangnya Ada Jokowi di Kaltim?

Fenomena Jokowi-Ahok yang menginspirasi banyak orang, tidak membuat Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak risau. Bertahun-tahun menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi juga tidak membuatnya merasa tidak aman. Popularitasnya masih yang paling tinggi. Awang bahkan berani balik menantang wartawan, dan kali ini bukan mimpi: Ada enggak (calon seperti) Jokowi di Kaltim?

ACHMAD BINTORO


Pertanyaan balik itu ia sampaikan sebagai penegasan bahwa Pilgub DKI dan di Kaltim berbeda. Di DKI bisa saja terjadi pasangan yang unggul di semua lembaga survei (Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli) kalah oleh pasangan yang tidak diunggulkan. Tetapi tidak di Kaltim, kecuali ada figur yang sama seperti Jokowi.

Kini popularitas Jokowi kian meroket. Harian berbahasa Inggris The Wall Street Journal yang berbasis di Singapura, pekan lalu bahkan memasukkan Jokowi ke dalam daftar 16 tokoh paling berpengaruh di Indonesia dalam dunia bisnis dan politik. Dia disejajarkan dengan Presiden SBY, Aburizal Bakrie, Dahlan Iskan, Parbowo, James Riady, Megawati, hingga Samin Tan.

Oct 19, 2012

Blok Mahakam, Kemana Suara Aktivis Kaltim?

Sejumlah tokoh dan aktivis nasional yang dimotori Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara kini sibuk menggalang dukungan "Petisi Blok Mahakam untuk Rakyat". Dukungan terus mengalir. Tapi yang membuat saya heran, masyarakat Kaltim kok adem ayem saja. Padahal blok kaya migas itu berada di wilayah Kaltim.

ACHMAD BINTORO

Lalu kemana suara para aktivis yang biasanya cepat bersuara lantang? Beberapa waktu lalu ketika Kaltim tengah melakukan gugatan uji materi pasal mengenai prosentase dana bagi hasil migas pusat dan daerah UU No 33/2004, suara-suara itu masih lantang terdengar. Namun surut kembali begitu Mahkamah Konstitusi mengalahkan Kaltim.


Viko Januardhy, inisiator uji materi tersebut, kemarin berkirim pesan pendek kepada saya tentang akan digelarnya diskusi terbuka dengan tema "JR Ditolak, Otonomi Khusus Jawabannya". Diskusi diprakarsasi KNPI Kaltim dan akan dilaksanakan di kafe Juragan Kopi di Jalan Juanda, malam ini. Ooo... mungkin mereka masih belum bisa melupakan kekalahan itu.

Saya cuma agak penasaran, masak sih isu Blok Mahakam sedikit pun tak membuat mereka tertarik. Blok Mahakam merupakan salah satu ladang gas terbesar di Indonesia. Saat ini rata-rata produksinya sekitar 2.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) atau sekitar 344.000 barel oil equivalen (boe)  per hari.  Cadangan yang terkandung sekitar 27 triliun cubic feet (tcf). Sejak 1970 hingga 2011, sekitar 50% (13,5 tcf) cadangan telah dieksploitasi dan menghasilkan pendapatan kotor sekitar US$ 100 miliar.

Menurut Marwan Batubara, cadangan yang tersisa saat ini sekitar 12,5 tcf. Dengan harga gas yang terus naik, asumsi rata-rata US$ 15/MMBtu, Blok Mahakam berpotensi menghasilkan pendapatan kotor US$ 187 miliar lebih (12,5 x 1012  x 1000 Btu x $15/106 Btu) atau sekitar Rp 1.700 triliun! Banyakkah pendapatan sebesar itu? Kalkulator saya yang sederhana ini mungkin akan jebol kalau dipaksa untuk menghitung angka-angka itu.

Blok yang terletak di muara Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara ini sudah 45 tahun dikelola Total E&P Indonesie (Perancis) dan Inpex Corporation (Jepang). Kontrak Kerja Sama (KKS)-nya diteken pada 31 Maret 1967, beberapa minggu setelah Soeharto dilantik menjadi Presiden RI ke-2. Kontrak berlaku 30 tahun hingga 31 Maret 1997. Namun beberapa bulan sebelum Soeharto lengser, kontrak Mahakam telah diperpanjang selama 20 tahun, sehingga kontrak baru akan berakhir pada 31 Maret 2017.

Kini muncul sinyal dari Menteri ESDM Jero Wacik mengenai kemungkinan pemerintah akan kembali memperpanjang kontrak mereka untuk 20 tahun lagi. Inilah yang kemudian membangkitkan rasa nasionalisme Marwan dan ribuan aktivis nasional lain untuk menolak rencana tersebut. Saya lalu kirimkan pesan kepada Viko, Ketua KNPI Yunus Nusi, dan ekonom Unmul Aji Sofyan Effendi. Saya mempertanyakan kenapa para aktivis dan tokoh Kaltim tidak ikut bersuara. Isu ini mestinya bisa dijadikan batu loncatan untuk mencapai keinginan Kaltim pasca-kekalahan Kaltim di MK.

Yunus tidak merespon. "Saya terus terang lelah lahir batin, kada sanggup lagi mikir isu berat tentang Blok Mahakam," kata Viko. Bambang Prayitno, Direktur PKPS Kaltim mengatakan, Viko agaknya lagi down pascakekalahan Kaltim di MK.

Bambang mengaku sebelumnya sudah meminta Viko dan kawan-kawan aktivis lain di Kaltim untuk turut bersama menggalang petisi itu. Ia mengajak Viktor Juan (Ketua KNPI Kaltim). Tapi ajakan tidak bersambut. Viko bahkan minta jangan dibawa-bawa. Viktor hanya merespon datar: "Ide bagus, Blok Mahakam dikuasai asing lagi." Bambang kemudian berkirim pesan ke Rita Widyasari, Bupati Kukar. Tapi Rita, kata Bambang, cuma bilang, tunggu saja, pasti dapat saham.

"Wah, kok cuma nunggu. Saya sedih. Padahal kalau dikelola Total, (selama ini) sumbangsihnya ke negara kacil, Kalau sikap RW (Rita Widayasari) gitu, berarti ikut berdosa dong Kukar dan Kaltim," keluh Bambang. Praktis hanya dia bersama Rudi Hartono (Hanura) dari Kaltim yang turut dalam 500 penandatangan petisi itu.

Ada beberapa kemungkinan kenapa aktivis Kaltim loyo. Mungkin banyak yang kurang paham, kata Bambang, sebab yang menggerakkan adalah tokoh-tokoh nasional, termasuk Kurtubi, dan stigmasi Blok Mahakam cuma masalah Kaltim saja. Kemungkinan lain, mereka terlalu berpikir kedaerahan sehingga berpikir jika Jakarta yang bergerak, Kaltim tidak usah ikut agar sikap Kaltim tidak dipolitisasi.

"Kalau berpikir hitam putih begitu, sangat menyesatkan. Padahal di Jakarta banyak kaum nasionalis yang berpikir untuk kepentingan daerah. Atau mungkin karena mereka berpikir kepentingan Kaltim cuma merebut 10 persen saham PI," jelasnya.

Para tokoh dan aktivis Kaltim ini agaknya belum paham bahwa ada kepentingan yang lebih besar, selain merebut Participating Interest 10 persen. Yakni soal ketahanan energi, kedaulatan energi dan kemandirian nasional, kesejahteraan rakyat. Sebuah pertanyaan besar dan aneh kalau pemerintah masih mau memberikan perpanjangan kontrak kepada Total yang sudah meraup laba begitu besar selama dua kali kontrak (50 tahun).

Ekonom Unmul Aji Sofyan Effendi mengatakan, agar dapat mengelola Blok Migas diperlukan dana tidak sedikit, Rp 130 triliun. "Apa Pertamina punya uang sebanyak itu?" Kalau benar punya dana sebanyak itu, ia sependapat blok itu harus diberikan pada BUMN. Inilah saatnya untuk jadi tuan rumah di bumi sendiri. "Kalau ini sukses, pola ini bisa menjadi pilot project di wilayah lain di Indonesia."

Marwan mengatakan, Pertamina telah berulang-ulang menyatakan mampu mengelola blok Mahakam seperti dinyatakan Dirut PHE Salis Aprilian, Direktur Ibrahim Husein dan Dirut Karen Agustiawan. Karen menegaskan kembali sikapnya pada 27 Juli 2012. Ia menanggapi pernyataan Menteri ESDM Jero Wacik pekan lalu, yang meragukan kemampuan keuangan Pertamina.

Ini berbeda dengan sikap Menteri BUMN Dahlan Iskan. Dahlan justru mendorong BUMN-BUMN untuk bersatu padu, keroyokan, guna mengincar besarnya potensi bisnis migas. Ia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Ia yakin BUMN juga mampu.
Dulu dunia internasional juga meragukan kemampuan Presiden Venezuela Hugo Chaves melakukan nasionalisasi industri migas. Meski kemudian digugat oleh Exxon Mobil, ia tidak mundur sedikit pun. Dan terbukti upayanya berhasil. Venezuela kini menjadi tuan rumah di negerinya sendiri yang kaya migas dan bahan mineral lainnya.

Stasiun berita CNN, Kamis, 18 Agustus 2011 memberitakan bahwa Venezuela akan mengambil alih tambang di wilayah selatan negara itu. Salah satu perusahaan tambang terbesar di daerah itu, Rusoro, adalah perusahaan Canada yang dikuasai keluarga Agapov dari Rusia. Lengkap sudah nasionalisasi  oleh Chavez. 
Indonesia pun bisa. Meminjam istilah Jokowi, asal mau dan tidak punya kepentingan apa pun kecuali untuk rakyat. Jika Blok Mahakam berhasil, menunggu Freeport dan sederet tambang lainnya untuk "dinasionalisasi". Semoga! (*)

Oct 15, 2012

TMC Tak Cuma Tentang Bayi Tabung

Rudi dan istrinya adalah pasangan muda. Mereka belum tujuh tahun menjalani rumah tangga. Namun kerinduan terhadap kehadiran sang bayi agaknya sudah tak bisa dibendung lagi. Berbagai upaya terapi yang mereka jalani belum juga membuahkan hasil. Mereka kemudian memutuskan menjalani program IVF (In Vitro Fertilisation) alias bayi tabung di TMC, Malaysia. 


Sebenarnya banyak rumah sakit dan klinik yang bisa melayani program IVF. Di kotanya sendiri di Makassar, RS Pendidikan Fakultas Kedokteran Unhas sudah melayani program ini sejak setahun lalu. Di Jakarta dan beberapa RS di kota lain di Tanah Air bahkan sudah lebih lama. Di Singapura -- negara yang selama ini menjadi kiblat orang Indonesia ketika berobat ke luar negeri -- juga ada, seperti di Singapore General Hospital atau di Thomson  Fertility Centre yang merupakan klinik IVF pertama di Singapura.

Marketing TMC Tjandrawati Hartono beri penjelasan.
Tapi atas referensi sejumlah kawan dan kerabatnya, Rudi memutuskan menjalani IVF di Tropicana Medical Centre (TMC) di Kota Damansara, Kuala Lumpur. Rudi mendengar banyak pasangan yang berhasil melakukannya di RS ini. Bahkan bisa diprogram kembar, termasuk  meminta tes kromosom agar bisa memilih jenis kelamin embrionya.

"Tingkat keberhasilan di sini kabarnya yang paling tinggi, mencapai 60 persen. Dan pastinya, biaya lebih murah dibanding ke Singapura, Eropa atau kadang malah di RS di Tanah Air,"  jelas Rudi yang saya temui di TMC, akhir pekan lalu. Dia ditemani istri dan beberapa anggota keluarga dekat untuk melakukan sejumlah tes pemeriksaan.

Dia sudah mendapat gambaran total biaya yang harus ia keluarkan, sekitar RM 20.000 atau Rp 60 juta. Menurutnya, tidak lebih mahal dari Jakarta. Biaya itu antara lain untuk proses IVF RM 10.300, RM 1.600 untuk transfer embrio, dan obat-obatan seperti Gonal F dan Buslerin/Suprefact sekitar RM 3.000. Ini sudah termasuk biaya kamar perawaran untuk OPU dan ET. Biaya per test hanya RM 200- 500.

"Nilai rupiah di sini kan masih lebih tinggi ketimbang di Singapura, jadinya biaya jatuh lebih murah. Ditambah tiket, akomodasi plus jalan-jalan di Malaysia, saya siapkan Rp 100 jutaan," tambah Rudi yang tinggal menunggu hasil dari semua tes yang sudah ia jalani bersama istri.

Menurut Tjandrawati Hartono, Marketing Executive TMC, biaya terendah utk program ini sekitar RM 16.000, tergantung tingkat kerumitannya. Tjandra membenarkan biaya berobat jatuhnya lebih murah ketimbang di Singapura. Kalaupun standar harga relatif sama, tapi faktor nilai tukar memberi pengaruh. Nilai tukar $S (SGD) 1 = Rp 7.910, sedang RM 1 = Rp 3.000.

Salah satu kamar pasien di TMC Malaysia
"Tak heran kalau banyak orang Indonesia kini lebih memilih berobat ke sini. Apalagi  TMC sudah diakui reputasinya, dengan keunggulan program bayi tabung," jelas Tjandra. Pada 7 Juli 2012 lalu TMC merayakan keberhasilan bayi tabung ke-3.000. "Sekarang angkanya tentu saja sudah tambah lagi."

TMC memiliki tenaga spesialis yang andal, dan didukung oleh riset dan pengembangan yang terus- menerus. Ini yang membuat TMC menjadi rumah sakit dengan angka keberhasilan bayi tabung yang tinggi. Pada 2010, angka keberhasilan bayi tabung mencapai 60,7 persen. Pada 2011 mencapai 59,1 persen, sebanding dengan klinik kesuburan kelas dunia lainnya.

Pengunnung Melihat Foto2 Bayi Tabung di TMC
Rumah sakit dengan lingkungan seperti resor dan bersuasana Asian Hospitality ini menggunakan metode hibridasi genomik komparatif atau CGH. Ini bagian dari diagnostik sebelum implantasi (PGD) terhadap embrio. Dengan penapisan kromosom melalui CGH ini, satu per satu kromosom akan diperiksa. Sehingga jika ditemukan ada kromosom yang abnormal bisa segera diketahui. Cara ini bisa memastikan embrio yang ditanam dalam rahim benar-benar sehat.

Tjandra menambahkan, sekitar 30 persen bayi tabung yang dihasilkan di TMC adalah kembar. Saya bersama para travel agent anggota Asita Samarinda melihat sendiri ratusan foto bayi kembar lucu yang dipajang di papan-papan informasi. Ada yang bermata sipit, berkulit coklat, hitam dan banyak pula berwajah bule. Sungguh menggemaskan.

"Kami memang unggul pada program bayi tabung. Tetapi layanan kami bukan cuma itu. TMC juga memiliki fasilitas lengkap dan dokter-dokter handal untuk check up, penyakit jantung, diabetes & ginjal, hati & gastroenterologi, aneka bedah laser THT, kepala dan leher, bedah umum, minimal- invasif dan kanker, bedah mikro & tangan, ortopedi, hingga tulang belakang

ANDA berminat? Anda bisa kontak langsung TMC atau mencari informasi melalui sejumlah travel agent anggota DPC Asita Samarinda. Bagi orang travel agent seperti Irma Diansari, pemilik Borneo Kersik Luway di Samarinda, tak ada perjalanan yang tidak menyenangkan. Apa pun tujuan perjalanan Anda akan bisa dikemas secara mudah, murah dan menghibur.

Jangankan perjalanan dengan tujuan plesir, untuk tujuan yang sifatnya serius pun seperti rapat tim di luar kota, bisa dikemas dengan menyenangkan dalam satu paket wisata. Anda ingin umroh, haji atau berziarah ke makam ulama-ulama besar, bisa dikemas melalui paket wisata religius. Malah saat Anda sakit pun, travel agent punya paket medical tourism yang membuat Anda bisa lebih rileks dan tidak terus-terusan cemas menghadapi penyakit Anda.

Irma sendiri memiliki pengalaman yang mengesankan saat berobat di Malaysia. Bukan karena cuma  peralatan yang cangggih, fasilitas yang lengkap, tapi pelayanannya pun mantap. "Saya saat itu cuma check up, dokternya helpful banget. Mereka dengan sabar menenangkan. Bahkan saat mau operasi, tangan saya dipegangnya karena melihat saya demikian takutnya, ganteng lagi (dokternya)." tutur Irma tersenyum geli.

Kalau harus memilih Singapura atau Malaysia, Irma menyarankan untuk berobat di TMC atau di Malaysia. Mutu dan pelayanan prima adalah kuncinya, sesuatu yang sulit didapat dari rumah sakit di Kaltim, bahkan di Tanah Air. "Lagi pula biaya hidup di Kaltim dan Malaysia kurang lebih sama. Harga makanan, tarif hotel dan lainnya lebih murah ketimbang di Singapura."

Sebagai perbandingan tarif hotel di V'la Garden Hotel di Bukit Bintang -- pusat keramaian di KL (Malaysia) mulai hanya RM 99.90 (sekitar Rp 300.000), sudah termasuk sarapan pagi. Dilengkapi AC, TV, shower air panas, dan internet. Hotel sejenis di Singapura sekitar S$ 225. Satu kamar di homestay saja, dengan kamar mandi luar dan tanpa sarapan pagi, di kawasan Orchad dibandrol S$ 120.(achmad bintoro)

Benahi Dulu Baru Gencarkan Promosi


Melancong ke Eropa sepertinya sudah menjadi agenda rutin bagi puluhan pejabat Pemprov dan pemda di Kaltim. Hampir saban tahun dilakukan dengan dalih promosi pariwisata (dan investasi). Promosi seakan-akan menjadi jawaban pamungkas yang bakal membuat wisatawan berbondong-bondong datang ke Kaltim. Padahal promosi mestinya bukanlah yang pertama dan segala-galanya.

ACHMAD BINTORO

Pelajaran berharga itu diperoleh pengusaha travel agent anggota Asita Samarinda saat melancong  ke Malaysia-Singapura, 5-8 Oktober 2012. Memang benar kedua negara itu amat gencar berpromosi. Hasilnya, puluhan juta orang datang ke dua negara tetangga itu. Pada 2011, Malaysia dikunjungi 24,7 juta turis. Bandingkan tahun 2000 hanya 10,2 juta orang saja. Dalam 11 tahun kenaikan turis mencapai 142 persen.

MAHAKAM RIVER TOUR
Tetapi, bagi Malaysia dan Singapura, promosi hanya satu dari banyak bagian penentu keberhasilan memasarkan pariwisata. Bagian lain harus turut dibenahi seperti ketersediaan infrastruktur yang memadai, produk, harga, sistem distribusi (place),  pengemasan paket wisata (packaging), program kegiatan wisata (programming), kerjasama (partnership), penampilan obyek wisata (performance), hingga soal sumberdaya manusia (people).

Pemerintah Malaysia (termasuk pemerintahan di 14 Negara Bagian) melibatkan seluruh stakeholder. Mereka mengerahkan jawatan pekerjaan umum untuk memperbaiki dan membangun akses jalan menuju obyek wisata. Selama di sana saya sulit sekali menemukan jalan yang berlubang. Mereka melibatkan para travel agent dan pihak terkait lain dalam Malaysia Tourism Promotion Board guna mengembangkan dan mempromosikan kepada dunia agar datang ke Malaysia.

Director Malaysia Tourism Promotion Board, Nor Aznan Sulaiman menuturkan Indonesia adalah pasar terbesar kedua wisatawan yang datang ke Malaysia setelah Singapura. Karena itu mereka gencar promosi langsung ke berbagai kota di Tanah Air, termasuk ke Samarinda. Tahun 2011 lalu, turis Indonesia ke Malaysia mencapai 2,1 juta.

Pariwisata Kaltim Masih Sebatas Baliho


Kaltim selalu menyatakan diri siap menerima kunjungan wisatawan. Tapi apa yang sudah terlihat dari kesiapan itu? Nyaris tak ada! "Ah, jangan ekstrem begitu," timpal seorang pemilik agen travel. "Setidaknya ada baliho...," tambahnya dengan mimik jenaka. Ia menunjuk baliho bergambar Gubernur bertuliskan "Visit Kaltim Year 2012" yang dulu bertengger mentereng di Tepian Mahakam, depan gubernuran.

ACHMAD BINTORO

Mendengar itu, kontan meledaklah tawa para pemilik agen travel lainnya. Seretnya pengembangan pariwisata Kaltim menjadi isu utama dalam obrolan santai di sela sarapan belasan pengusaha agen travel di V'la Park Hotel, Kuala Lumpur, akhir pekan lalu. Hotel ini terletak di Bukit Bintang, pusat keramaian di ibukota Malaysia, tak jauh dari menara kembar Petronas.

BANJIR DI SIMPANG 4 MAL LEMBUS SAMARINDA
"Itulah kenyataanya. Apa yang mereka sebut sebagai program pengembangan pariwisata ternyata masih saja berkutat pada soal membuat spanduk dan baliho bertuliskan Visit Kaltim, yang biasanya ikut dompleng gambar kepala daerah dan kepala dinasnya," kata Ketua Association of the Indonesia Tour & Travel Agencies (Asita) Samarinda Syarifudin.

Kunjungan 15 pengusaha agen travel anggota  DPC Asita Samarinda ke Malaysia dan Singapura, kian membuka mata bahwa mengembangkan pariwisata bukanlah sekedar berucap selamat datang. Tidak cukup hanya dengan membuat brosur, baliho serta spanduk "Ayo Tamasya ke Kaltim" atau retorika yang terdengar manis dalam pidato-pidato kepala daerah dan kepala dinas pariwisata di Kaltim.

Modal cekak tidak menghalangi keinginan mereka untuk bisa menimba pengalaman dari dua negara tetangga yang selama ini gencar membangun pariwisatanya. Mereka pun melobi travel lokal untuk memfasilitasi perjalanan lokal dan akomodasi selama di sana. Berhasil. Tinggal masalah tiket. Ini juga segera terpecahkan setelah Garuda Indonesia memberi diskon besar.

"Banyak hal yang bisa kami pelajari. Mulai dari bagaimana cara travel agent mengemas paket wisata untuk dijual pada wisatawan hingga melihat bagaimana keseriusan otoritas pemerintah di sana dalam mengembangkan pariwisata," ujar Lydia Hendy, pimpinan PT Totogasono Samarinda.

"Dan kami tidak sekedar plesir." Sarifudin menyindir perjalanan dinas rombongan puluhan pejabat ke Belanda guna mengikuti pameran pariwisata dan investasi yang menuai banyak kecaman. Begitu banyak APBD Kaltim terbuang untuk sesuatu yang kurang penting. Promosi memang penting, tetapi mestinya harus mengacu pada pencapaian target-target yang terukur. Selama ini tidak begitu. Tiap tahun berkunjung ke Eropa tapi tidak pernah jelas apa hasilnya. Asita pun tidak dilibatkan.

Biar Sedekat Jakarta tapi Keren ke Malaysia

Melancong ke negara serumpun. Ah, apa asyiknya? Seorang kawan mengatakan itu saat mengetahui saya akan bertolak ke Malaysia (dilanjutkan ke Singapura), Jumat (5/10), mengikuti Family Trip Asita Samarinda. "Namanya saja serumpun, pasti kurang lebih sama. Mending ke Jakarta, Bandung, Jogya atau Bali, lebih murah," sarannya. 


Saya hanya tersenyum. Ya, mungkin lebih murah, namanya juga di negeri sendiri. Saya katakan, kali ini bukan pelancongan pribadi. Saya mengikuti rombongan anggota Asita Samarinda. Lagi pula, jika hanya keserumpunan dan biaya yang kurang lebih sama yang dijadikan alasan, tentu saya akan lebih memilih ke Malaysia dan Singapura.

Pasti kerenlah!  Meski waktu tempuh hanya 2,5 jam -- 20 menit lebih lama dibanding waktu tempuh Balikpapan-Jakarta, tapi ini ke luar negeri. Biar cuma ke negeri tetangga tetap saja kelihatan lebih keren ketimbang kawan yang melancong ke Jakarta. Alasan ini diamini Sugeng Prasetyo dari PT Trans Cakrawala, termasuk Irma Diansari (pemilik Borneo Kersik Luway) yang sudah bolak-balik ke Malaysia bahkan keliling dunia, dan Lydia Hendy (pimpinan Totogasono) yang acapkali membawa wisatawan ke luar negeri.

Selain mereka, dalam rombongan tampak Idham Chalid (Arum Angksa Jaya), Farida Irawan (Akasia Citranusa), Tjiang Fei Hong alias Jimmy (Nirwana), Yan Mahyudin (Bam Wisata), Zainal Mustofa (Gardena), Sri Agustina (Zatina Tour), Anis Herawaty (Nurani Travel), Khusnul Qotimah (Alya Nabila), dan Alex Syarifudin (Wahana Wisata Borneo).

Mendapatkan pengalaman baru, mengunjungi obyek-obyek wisata yang menarik, dengan biaya yang relatif terjangkau, umumnya jadi pertimbangan seseorang untuk melancong. Saya sendiri sudah lama ingin ke Malaysia. Terutama setiap kali membaca slogan mereka "Malaysia Trully Asia". Slogan ini pernah beberapa kali saya baca dalam bentuk iklan pariwisata di harian Kompas. Ini slogan yang cerdas. Saya benar-benar penasaran. Dengan slogan itu, Malaysia seakan-akan ingin bilang kepada warga dunia begini: Jika Anda ingin tahu Asia yang sebenarnya, tak perlu jauh-jauh, datang saja ke Malaysia.

Benarkah? Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak saya selama dalam perjalanan dengan Garuda dari Jakarta ke Kuala Lumpur (lazim disingkat KL, dibaca "Ke El"). Tiba di KL Int'l Airport (KLIA) pukul 20.00, mata kami sudah dibuat terkesan oleh megahnya bandara yang didesain arsitek Jepang, Kisho Kurokawa. Tiang-tiang baja menyilang dengan ribuan cahaya lampu. Interiornya modern dan mewah. Bandara termegah di Indonesia, Soekarno-Hatta, yang baru dua jam lalu saya tinggalkan, mendadak menjadi "kuno" di mata saya.

Oct 3, 2012

Gubernur Bilang Pangkas, Kawan Bilang Beneran???

"Benarkah berita ini, wal?" Seorang kawan lama bertanya di seberang telpon, kemarin pagi. Di tangan kirinya terbuka halaman Tribun Kaltim mengenai pernyataan Gubernur Awang Faroek Ishak yang bakal memangkas 50 persen biaya perjalanan dinas di lingkup Pemprov Kaltim.  Tentu saja iya, jawab saya. Gubernur sendiri yang menyatakan itu.
 
ACHMAD BINTORO

"Beneran neh?!" Saya tahu tidak mudah meyakinkan orang untuk percaya atas kabar semacam ini. Ini memang bukan kali pertama. Tapi kalau saya ditanya apakah pernyataan itu benar-benar akan dilaksanakan atau sekedar mencari simpati publik, untuk pencitraan jelang Pilgub Kaltim 2013, bukan kapasitas media untuk menjawab. Saya teruskan pertanyaan itu kepada gubernur langsung melalui pesan pendek tapi tidak mendapat balasan. Tidak biasanya gubernur tidak menjawab pesan saya.

Kawan itu mengaku sudah muak mendengar dan membaca pernyataan-pernyataan semacam ini yang menurutnya bukan sekali ini dilempar ke publik. Lain di bibir, lain di hati, lain pula pada tingkatan implementasi. Begitu dia menggambarkan.

Baru di tataran pernyataan saja misalnya, masih menurut kawan saya tadi, sudah kontradiksi. Pada satu sisi Awang Faroek menyatakan tekadnya untuk memangkas biaya perjalanan dinas hingga 50 persen sebagai upaya menghemat anggaran pemerintah untuk perjalanan dinas yang dianggap tidak terlalu penting. Terlebih perjalanan ke luar negeri yang tidak terlalu perlu. Namun saat yang sama, kenapa Awang Faroek justru merestui  perjalanan rame-rame rombongan pejabat ke Belanda hanya untuk ikut pameran.

Sep 26, 2012

Menakar Peluang di Legislatif Review

Ini bukan kiamat. Tenanglah, masih ada peluang melalui lobi-lobi intensif ke pemerintah dan legislatif. Demikian sebagian orang menyikapi kekalahan Kaltim di Mahkamah Konstitusi dalam menuntut dana bagi hasil (DBH) migas lebih besar melalui Judicial Review UU No 33/2004. Tapi kalau benar masih ada peluang, seberapa besar sih peluang Kaltim sekarang? Ah, jangan- jangan ini cuma sekedar menghibur diri. Harapan yang sebenarnya kita sudah tahu sangat tipis, kalau tidak mau dibilang hampa.

ACHMAD BINTORO

KEKALAHAN di MK sekaligus menutup rapat perjuangan lewat jalur hukum. Kaltim kini harus mencari jalur lain apabila masih ingin mendapatkan prosentase DBH migas lebih besar dari yang selama ini diterima: 15,5 persen minyak dan 30,5 persen gas. Satu-satunya jalur yang masih terbuka hanyalah lobi. Inilah jalur klasik yang sejatinya sudah pernah dilakoni pejabat dan elite politik Kaltim yang ternyata lebih banyak membikin frustasi saja. 

Kita mungkin lupa bahwa kita pernah berkomitmen untuk tidak lagi menempuh pendekatan macam ini saat kita mulai mencanangkan tekad menggugat pemerintah pusat di MK. Kita sudah kritik habis- habisan cara-cara lobi selama ini yang tidak jelas ujung pangkalnya, yang hanya membuang energi dan dana tak sedikit. Bertahun-tahun kita menjalin dan menjaga hubungan dengan sejumlah pejabat berwenang di Depkeu, Depdagri, Departemen ESDM, Kepresidenan, hingga wakil rakyat di DPR RI dan sejumlah petinggi partai, toh tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Sep 20, 2012

Akhirnya Kandas di Meja Hakim


Selama ini saya memiliki persepsi yang positip terhadap hampir setiap putusan hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Menurut saya, putusan-putusan mereka cukup obyektif dan berani, sehingga kadang terkesan melawan arus. Selaras dengan sosok Mahfud MD, Ketua MK, yang low profile, cerdas dan cenderung apa adanya.


ACHMAD BINTORO

PENDEK kata, hakim MK tidak bisa diintervensi, sekalipun oleh tangan-tangan kekuasaan. Mereka sangat jauh dari kooptasi politik. Karena itu ketika Kaltim akhirnya memutuskan melakukan uji materi terhadap masalah persentase dana bagi hasil (DBH) migas yang diatur dalam Pasal 14 ayat e dan f UU No 33/2004, saya -- dan mungkin banyak pula pemangku kepentingan lain di Kaltim -- termasuk yang berharap besar akan lahirnya keadilan. Sesuatu yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah bisa terwujud melalui jalur-jalur lobi.

Tapi begitu melihat amar putusan hakim MK, Rabu (12/9/2012) kemarin, persepsi itu seketika retak. Saya menjadi ragu dengan kesan tentang hakim-hakim MK yang sudah terlanjur terbangun sangat apik di benak saya. Tragis! Keinginan Kaltim untuk mendapat keadilan atas dana bagi hasil migas yang lebih besar akhirnya kandas.

Sep 19, 2012

Palu, I Love You

Saya benar-benar gandrung pada kota ini. Bahkan itu sudah saya rasakan sejak kali pertama menginjakkan kaki di kota ini tahun 1996 silam. Padahal, Palu -- meski merupakan ibukota provinsi -- hanyalah sebuah kota kecil. Itu pun gersang dan berdebu. 

ACHMAD BINTORO

Foto Bareng Bersama Keluarga
Dari atas -- saat pesawat bersiap landing di Bandara Mutiara, Palu terlihat seperti lembah tandus yang dikelilingi oleh pegunungan yang juga tak lagi hijau. Penilaian ini mungkin terlalu subyektif dan kurang tepat. Karena itu saya sengaja menyelipkan kata "seperti" di depan kata "tandus". 

Kesan tandus saya tangkap sekilas dari warna lahan yang umumnya putih keabu-abuan. Ini warna batu kali dan pasir. Batu kali, kerikil dan pasir sangat mudah ditemukan di sini. Terutama di sepanjang Sungai Palu pada saat kering. Palu memang sudah lama dikenal memiliki sirtukil kualitas satu.

Jul 4, 2012

Bukan Kami tak Mau ...

Menghitung dana bagi hasil (DBH) migas untuk daerah mestinya bukanlah pekerjaan yang sulit. Saya pikir ini tidak membutuhkan cara hitung yang rumit. Asal diketahui jumlah produksi yang terjual (lifting) di setiap blok, sumur atau wilayah, serta berapa besar faktor pengurang dan nilai tukar rupiah terhadap dolar saat itu, akan ketemu hasil yang porsentasinya sudah diatur dalam UU No 33/2004. 

ACHMAD BINTORO

Dengan rumusan yang lebih singkat, PNBP SDA (Penerimaan Negara Bukan Pajak Sumber Daya Alam) Migas mengikuti pola perhitungan = % Bagian Pemerintah x {[( ICP x Lifting x jumlah hari dalam tahun bersangkutan) - Cost Recovery] x Kurs} - [ Faktor Pengurang ].

 Daerah penghasil mendapatkan hasil SDA yang diperoleh dari satu daerah dengan konsep 6:6:3 dari 15. Yakni dari bagian daerah 15% (sesuai UU No 33/2004) dibagi untuk daerah penghasil 6%, bukan daerah penghasil dalam provinsi 6% dan provinsi 3%. Sedangkan 85% menjadi bagian pusat, di mana dalam perkembangannya diberikan lagi 0,5% kepada daerah untuk mendukung program pendidikan dasar dengan alokasi 0,2% untuk daerah penghasil, 0,2% untuk daerah bukan penghasil dalam provinsi, dan 0,1% untuk provinsi.

Jun 20, 2012

Sabar 2013 Pasti Mulus...

Andai pun setiap surat kabar di Kaltim mau memberi separuh halamannya setiap hari, niscaya tetap tidak akan mampu menampung semua keluhan warga. Selama empat tahun kepemimpinan Awang Faroek Ishak-Farid Wadjdy, orang melapor hampir tanpa jeda soal keburukan infrastruktur terutama jalan di ibukota provinsi dan antarkabupaten/kota. Jangan tanya lagi di daerah pinggiran, pedalaman dan terlebih perbatasan.

ACHMAD BINTORO

KADANG mereka seperti kehabisan akal. Tak terbilang kata sudah diungkapkan. Mulai yang santun dan ungkapan eufemisme, hingga kalimat-kalimat vulgar, sarkasme bahkan caci maki.  Aksi unjuk rasa dengan menanam pohon pisang dan berikade  kayu di tengah jalan pun sudah acap dilakukan. Namun rupanya masih belum cukup kuat membetot perhatian kepala daerah.


Jalan yang menjadi urat nadi perekonomian warga tetap saja dibiarkan hancur. Tak lagi hitam karena sudah bertahun-tahun aspalnya terkelupas. Bahkan banyak agregatnya pun kemudian terpental dari badan jalan di banyak titik. Sareh, warga Sempaja Lestari Samarinda, karyawan BUMN, memberi segepok foto kepada saya bahwa apa yang dikeluhkan rakyat selama ini bukanlah isapan jempol. Foto-fotonya mengabadikan kerusakan berpuluh hingga beratus kilometer ruas jalan di sepanjang jalur Trans Kaltim.

Jun 8, 2012

Duh Gelapnya Jalan Ibukotaku

Jam di tangan baru menunjuk angka 21.05. Belum teramat malam. Terlebih ini malam panjang di awal bulan. Tetapi, sebagaimana malam-malam sebelumnya, saya mendapati jalan-jalan protokol yang tetap saja gelap. Miskin penerang. Saya tak habis mengerti, kenapa sekedar membuat jalanan lebih benderang saja tidak mampu. Di sisi lain Walikota mengobral 71 persen wilayahnya dikeruk oleh puluhan perusahaan tambang batu bara, untuk menerangi dunia.

ACHMAD BINTORO


Seorang kawan dari Malang yang malam itu saya ajak keliling kota Samarinda, tak pernah menduga di ibukota provinsi yang kaya energi ini kondisinya segelap ini. Ada banyak lampu induksi terpasang di sepanjang jalan, sayang cuma pemanis.

Ia sudah mendengar banyak hal tentang kota ini. Salah satunya bahwa kota ini memiliki kekayaan tambang batu bara dan walikotanya dikenal royal dan obral memberi izin tambang. Begitu obralnya sampai-sampai kini tidak ada lagi jengkal kosong yang tersisa. Kawasan dekat pemukiman tergali. Kawasan sekolah kebagian lumpur. Lahan pertanian dan kebun apalagi.

May 7, 2012

Belajar dari Universitas Kehidupan

SIKAP skeptisnya menunjukkan darah wartawan tidak pernah hilang dari dirinya meski kini ia meniti karir di jalur birokrasi. Ia pernah 20 tahun menekuni dunia wartawan. Pengalaman itu sedikit banyak telah membentuk hidup dan pandangan-pandangannya, selalu mempertanyakan segala sesuatu, dan tak lelah untuk terus mencari makna di balik setiap peristiwa dalam kehidupan.

ACHMAD BINTORO

Meski begitu, jangan berharap kini dia bersedia diundang berbicara soal jurnalistik. "Tak usah saya. Banyak kok yang lain," kata Syafruddin Pernyata ketika saya memintanya untuk menjadi pembicara tamu di sebuah sesi latihan wartawan di Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) PWI Kaltim. "Tapi kalau anda meminta saya untuk berbicara tentang kewirausahaan, ayo dengan senang hati saya akan layani," tambahnya.

Sebagai Kepala SJI Kaltim saat itu, tentu saja saya kecewa. Saya pikir kalau saja Espe - begitu dia sering menyingkat namanya - bersedia, tentu akan banyak pelajaran yang bisa dipetik para peserta SJI yang umumnya adalah wartawan baru dengan pengalaman kurang dari lima tahun. Posisinya yang kini sebagai pejabat eselon dua dan pernah menjadi Kepala Biro Humas Setprov Kaltim, sudah pasti akan menarik untuk digali.

Apr 29, 2012

Kuli Tinta Masih Malu-malu di Hari Buruh

Di mana sebenarnya posisi wartawan? Pertanyaan ini selalu muncul di benak saya setiap jelang Hari Solidaritas Buruh (May Day) 1 Mei. Masih banyak kuli tinta belum sejahtera, bukanlah cerita baru. Hidup dengan cara gali lubang tutup lubang, juga bukan isapan jempol. Tetapi, anehnya, saya tidak pernah melihat teman-teman mau bergabung dengan para buruh lain untuk bersama menyuarakan aspirasi.

ACHMAD BINTORO

PARA wartawan seperti menjaga jarak dan lebih antusias hanya sebagai peliput. Jepret sana jepret sini. Puas ketika hasil bidikannya termuat dan menjadi foto master di halaman depan koran mereka. Intip pula tulisan mereka esok hari, saya yakin tidak akan satu pun yang mau menyentuh kehidupan mereka sendiri. Narasumber sengaja dipilih dari buruh di pabrik, pekerja di pelabuhan atau para kuli bangunan yang bisa dengan mudah dieksplorasi untuk menguras keharuan pembaca.

"Masak kami harus tulis diri kami sendiri? Jeruk makan jeruk dong," kilah seorang wartawan yang sudah empat tahun bekerja di sebuah harian di Kaltim dalam obrolan di warung kopi Hainan di Citra Niaga Samarinda, Minggu (29/4). 

Dalam kondisi seperti ini, wartawan tiba-tiba menjadi orang yang pemalu. Seakan-akan sebuah aib membuka dapur sendiri. "Akan lebih mudah bagi kami meliput persoalan buruh kalau para buruh itu tidak tahu bahwa gaji kami sebenarnya tidak jauh beda dengan mereka."

Apr 22, 2012

Nak, Berat Nian Tasmu!

ACHMAD BINTORO

Selalu timbul rasa iba setiap pagi saya melihat dua putri saya berangkat sekolah, dengan beban berat di punggungnya. "Nak, tak bisakah buku itu dikurangi? Bawa saja yang perlu dan yang akan diajarkan hari ini saja," kata saya suatu pagi, kepada anak kedua. Dia berjalan nyaris terbongkok menahan tas di punggungnya, menghampiri kami, lalu mencium tangan saya, umi, mbah, ami, kakak dan adiknya. 

"Gak bisa lagi, aba. Semua perlu, isi tas memang hanya buku-buku yang akan diajarkan hari ini," jawabnya. 

Dia bahkan tidak berani meski mengurangi cuma satu buku. Saya pernah iseng meletakkan tas itu di atas alat timbang badan. Astaga! Hampir 6 kilogram. Isinya memang hanya buku (paket, catatan, pekerjaan rumah dan buku lainnya) yang akan diajarkan pada hari itu: enam mata pelajaran! Suatu ketika tas itu tak mampu lagi menampung dua bukunya. Apa boleh buat, dia relakan botol minuman ditinggal meski itu kemudian membuatnya didera rasa haus. 

"Betul kan, aba. Tak ada batu," ucapnya mencoba meyakinkan saya. Terkadang saya meledeknya dengan mengatakan: jangan-jangan tas itu berat karena sebagian berisi batu. 

Dia biasa berjalan kaki menuju sekolah. SDIT Cordova berjarak hanya sekitar 500 meter. Pagi ini, Senin (23/4), setelah satu pekan libur, dia akan kembali melakukan rutinitas itu. Sesekali dia masih berusaha membetulkan posisi tasnya agar bisa lebih nyaman dibawa berjalan. Saya biasa mengantar sampai batas pekarangan rumah dengan pandangan haru dan rasa berkecamuk.  

Sebagai orang awam, kadang saya agak sulit mengerti dengan cara berpikir para elite dan orang- orang pinter yang menangani pendidikan di negeri ini. Zaman sudah modern, tapi sistem pendidikan belum juga memberi ruang dan waktu kepada para guru untuk mendidik tiap anak didiknya agar memiliki rasa percaya diri, spirit yang tinggi, toleran, dan kreatif. Sebuah sistem yang tidak memisahkan mind, body dan soul

 Lihatlah, setiap hari anak didik dijejali dengan begitu banyak mata pelajaran. Para guru pun seperti tidak mau tahu dengan beban berat yang ditanggung anak didik mereka yang harus menghapal ini, menghapal itu, dengan dalih untuk mencapai target kurikulum. Sekolah jadinya lebih mementingkan pengembangan kecerdasan mekanis ketimbang kecerdasan kreatif. 

Atas nama target itu pula, guru kadang tak lagi memiliki waktu sekedar untuk mencari tahu kesulitan apa yang mungkin dialami setiap anak didiknya. Kemampuan menyerap pelajaran disamaratakan. Karakteristik individu, dan kelebihan tertentu yang ada pada setiap anak didik dan mungkin masih tersembunyi, menjadi tidak terlalu penting. Belum lagi anak didik sempat mencerna apa yang baru diajarkan, sudah menunggu sederet pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan dikumpul esok pagi. 

Sistem pendidikan tanpa kita sadari telah menciptakan suasana mekanis, suasana yang menegangkan, ketakutan, tekanan, kecemasan bahkan rasa minder pada anak didik. Beruntung sekolah tempat anak saya belajar tidak seperti itu. Kasih sayang mereka yang tulus pada setiap anak didik tanpa terkecuali, telah menumbuhkan jalinan emosi yang kuat antara murid dan guru. Guru menjadi sosok yang disayangi seluruh murid, bukan yang ditakuti. Boleh jadi ini karena penanaman nilai-nilai moral dan keteladanan yang dilakukan sejak dini. 

Tetapi toh ini tetap tidak akan mampu menjamin semua guru akan mampu berlaku sebagai sosok ideal dan inspiratif bagi para anak didiknya. Barangkali masih banyak guru yang tidak lagi sempat merenungkan apakah metode yang mereka ajarkan sudah tepat dan mampu merangsang minat serta keberanian anak didik. Di mata guru seperti ini, muridlah yang bodoh kalau dapat nilai jeblok. Guru menjadi mahluk istimewa tanpa cacat. Tidak bisa disalahkan meski motode pengajaran bahasa Inggris misalnya yang mereka terapkan selama bertahun-tahun di sekolah dasar hingga menengah, tetap tidak mampu membuat banyak anak didik menjadi cas cis cus berbahasa Inggris. 

Kalau pun ada anak yang menjadi cakap berbahasa Inggris, itu lebih karena mengikuti les privat atau bimbingan belajar di tempat-tempat kursus. Pendek kata, lembaga-lembaga kursus kini menjadi tumpuan harapan para orang tua agar anak-anak mereka bisa menguasai bahasa Inggris, matematika, Fisika, IPA dan IPS. Ingin nilai pelajaran bagus, ayo ke bimbel. Ingin lulus UN dan lolos PTN, ayo ke bimbel. 

Harapan tinggi dan adanya kelemahan dalam sistem pendidikan inilah yang ditangkap dengan cerdik oleh Purdi E Chandra dengan mengembangkan sayap bisnisnya lewat jaringan waralaba Primagama di seluruh Nusantara. Tidak mengherankan kalau lembaga-lembaga bimbel yang menjamur di kota ini pun tidak pernah sepi, dan membuat para pemiliknya semakin kaya. 

Saya bukan ahli pendidikan. Saya juga bukan guru. Tetapi saya pikir selama sistem pendidikan masih seperti ini, mengedepankan hapalan, masih lebih menghargai kecerdasan mekanisme, dan menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai faktor penentu - kendati kini bukan satu-satunya - kelulusan siswa, maka selama itu pula akan ada pergeseran tumpuan harapan dari ruang sekolah ke ruang bimbel. 

Sistem pendidikan mestinya tidak perlu sampai membuat anak menjadi patah arang seperti pernah dialami Melati Murti Pertiwi. Di kelas, siswa SMAN 6 Jakarta ini tergolong anak cerdas. Ia selalu masuk lima besar, dan 10 besar di sekolah yang kelas 3-nya ada 10 ini. Karena prestasinya, dia lantas ditawari beasiswa dari perguruan tinggi di Australia dan Jerman. Hebatnya, dia berhasil lulus di program studi Psikologi di dua universitas ternama di dua negara itu. 

Kebanggaan itu tak berlangsung lama. UN diumumkan. Melati ternyata tidak lulus. Dunia tiba-tiba menjadi gelap ia rasakan. Sekujur tubuhnya lemas. Impian untuk sekolah di Jerman dan Australia mendadak sirna. UN menjadi syarat siswa melanjutkan ke perguruan tinggi. Materi UN saat itu hanya tiga mata pelajaran. Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Bahasa Inggris ia mendapat nilai 8,20. Bahasa Indonesia 7,40. Tetapi, Matematika hanya mendapat 3,33. Standar kelulusan 4,26. 

"Kalau begini jadinya, untuk apa sekolah tiga tahun hanya terganjal tiga mata pelajaran. Rasanya sulit mencari keadilan dengan sistem pendidikan yang berlaku sekarang,'' sergah Melati dengan nada kesal. Melati dan siswa bernasib sama mengunjungi Komnas Perlindungan Anak, Komnas HAM, Lembaga Bantuan Hukum, dan Depdiknas. 

Para guru sendiri sepertinya tidak yakin bahwa jumlah jam belajar mengajar yang dialokasikan di sekolah akan cukup untuk membuat anak didik mereka menjadi paham dan dapat menyelesaikan soal-soal UN. Tidak ingin anak didik mereka pupus harapannya seperti Melati dan murid lain hanya karena UN, maka dibuatlah program bimbel (jam tambahan belajar) di luar jam sekolah layaknya bimbel yang ada di lembaga-lembaga kursus di luar sekolah. 

Sungguh, saya, anak-anak saya, dan mungkin para orang tua yang masih menginginkan anak mereka menjadi anak yang kreatif dan berkarakter, merindukan sebuah sistem pendidikan yang lebih baik. Bukan sistem pendidikan yang coba-coba. Masak untuk anak didik kok coba-coba. Haruskah kita belajar dari Finlandia? (*)

Mar 2, 2012

Ketika Dewan Membeli Sebuah Prestise

Ketua DPRD Kaltim
Gubernur Kaltim
SEORANG Dahlan Iskan tidak jatuh gengsi saat ia memutuskan naik kereta rel listrik ekonomi dari Jakarta, dilanjutkan naik ojek, agar bisa tepat waktu menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor. Joko Widodo, Walikota Solo, juga tidak merosot wibawanya di depan rakyat maupun koleganya di DPRD ketika memutuskan untuk tetap menggunakan mobil Camry lama peninggalan walikota terdahulu, meski beberapa kali mobilnya mogok di tengah jalan. 

ACHMAD BINTORO 

Tapi di sini, sejumlah anggota DPRD Kaltim, menganggap wajar-wajar saja ketika ketua mereka, Mukmin Faisyal HP, mendapat fasilitas lima mobil mewah dinas. Mereka yang berpendapat seperti itu adalah Hadi Mulyadi dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Pdt Yepta Berto dari fraksi Partai Damai Sejahtera, dan Siti Qomariah dari fraksi Partai Amanat Nasional. 
 
Toyota  LC Terbaru, Tipe V8 Sahara. Harga Rp 2 Miliar. Tunggangan Ketua DPRD Kaltim - Harga Sebuah Prestise.
Menurut mereka, ketua DPRD adalah jabatan prestise setingkat gubernur. Demi menjaga prestise itu, maka semua fasilitas yang diberikan kepada ketua dewan pun sepatutnya sama dengan yang dinikamti oleh gubernur. Maka ketika gubernur mendapat fasilitas Land Cruiser (LC), ketua dewan pun merasa harus mendapatkan yang sama. Sebenarnya sudah ada LC lama, peninggalan ketua terdahulu. Tapi dianggap tidak layak, kurang pas untuk ketua dewan yang terhormat. Ada kekhawatiran barangkali, kalau mobil LC lama -- yang itu juga mobil mewah dan secara teknis masih sangat layak pakai -- bisa menjatuhkan kehormatan ketua dewan. 

Salahkah kalau saya selaku rakyat kecil menjadi prihatin dengan cara pandang wakil kita di DPRD terhadap sebuah fasilitas dinas. Sebuah mobil dinas diadakan ternyata tidak didasarkan pada fungsi dan manfaatnya, melainkan lebih untuk menjaga sebuah gengsi dan wibawa. 

Simaklah apa kata Hadi Mulyadi: "Yang memulai gubernur dan wagub juga, mereka pakai LC. Kan jadi tak sesuai kalau gubernur dan wagubnya pakai LC sebagus dan secanggih itu, sementara mobdin ketua DPRD biasa- biasa saja." Simak pula bagaimana reaksi Jokowi ketika mobil Camry yang ia kendarai mogok beberapa kali di tengah jalan. "Kalau mogok ya didorong sedikit saja kan hidup lagi, kanapa harus repot. Mobil dinas itu (Camry seri lama, lungsuran tahun 2002) sebenarnya masih sangat layak, jadi tak perlu harus beli yang baru," kata Jokowi yang kini mengandangkan mobil esemka-nya, dan kembali dengan mobil Camry-nya. 

Ia mengandangkan mobil esemka semata-mata karena taat aturan. "Kalau semua syaratnya (lulus uji kelayakan dan dilengkapi surat-surat kendaraan) sudah ada, saya pasti pakai mobil esemka itu lagi," jelasnya. Sikap yang sama ditunjukkan wakilnya, FX Hadi Rudyatmo. Sementara menunggu surat mobil esemka dilengkapi, ia kembali dengan mobil dinasnya yang lama Nissan X-Trail. 

Seorang Jokowi dan wakilnya dihormati rakyatnya bukan karena keduanya menyandang label "yang terhormat" sebagaimana wakil kita di DPRD Kaltim. Mereka ternyata tetap dihormati dan tak jatuh prestisenya hanya karena mobil dinas yang menurut ukuran wakil rakyat kita tergolong "biasa-biasa saja." Jokowi justru mendapat penghormatan tulus dari rakyat dan koleganya. Bukan penghormatan semu yang bisa dibeli dengan uang. 

Sejak republik ini berdiri, rakyat sebenarnya tidak pernah mengukur kinerja pemimpinnya dan para wakil mereka di dewan berdasar jenis kendaraan yang mereka tunggangi. Kalau pun ada warga yang memuji kendaraan LC Sahara V8-6 AT King yang harganya konon mencapai kisaran Rp 2 miliar itu, yakinlah itu hanya sebuah decakan spontan: "Wow... keren!" Tapi lihatlah sikap mereka setelah kendaraan mewah itu melewati mereka, dan meninggalkan debu jalanan yang menyapu wajah mereka, hanya sinisme yang terucap. Bahwa APBD Kaltim ternyata banyak dipakai untuk memanjakan dan membeli gengsi para wakil mereka. 

Syahdan, saking asyiknya melahap dua mangkok soto campur di sebuah warung soto di area stasiun Bogor, Dahlan Iskan sampai tidak menyadari bila jarum jam hampir menunjuk angka 09.00. Rapat kabinet di Istana Bohor akan dimulai. 

"Mobil mana, mobil mana?" sambil celingukan mencari di mana mobil pribadinya. Dari Jakarta dia terpisah dari mobilnya karena menggunakan kereta rel listrik dari Stasiun Manggarai. Tiba di stasiun Bogor pukul 07.40 dan langsung sarapan di warung soto. Sang ajudan juga tidak tahu persis parkir di mana mobil tersebut. Ia bingung dan ikutan panik. 

Tidak ingin datang terlambat, Dahlan pun langsung berkata: "Ya sudah ojek saja-ojek saja." Maka kurang beberapa menit ia tiba di Istana Bogor. 

Di depan pintu gerbang istana, sejumlah petugas Pasukan Pengaman Presiden menahan. "Bapak mau kemana?" Dahlan menjawab spontan bahwa dia mau mengikuti rapat kabinet bersama-sama teman-temannya di dalam Istana. Agaknya penampilan Dahlan Iskan yang hanya berkemeja putih, tidak dimasukkan, celana hitam dan sepatu kets rupanya tidak mampu meyakinkan petugas bahwa dia seorang Meneteri Negara BUMN. 

"Oh..tidak bisa pak... ini rapat khusus menteri..." Beruntung seorang warga yang melihat kejadian itu langsung berteriak dari kejauhan. "Woiii dia itu menteri.." Dahlan hanya tersenyum saja. Ia tidak lantas menjadi naik darah atau memamerkan jati dirinya. 

Feb 6, 2012

Pendidikan Karakter Ala Bu Ike



JARUM jam dinding di aula SMPN 4 Samarinda menunjuk angka 06.27 ketika saya tiba di ruang pertemuan tersebut. Hampir seluruh kursi telah terisi. Sebagian besar perempuan. Saya bergegas mengambil tempat duduk yang tersisa, di deret belakang. "Syukurlah, rupanya masih pagi," kata saya dalam hati, tersenyum mengibur diri, menutupi rasa bersalah karena datang terlambat.

ACHMAD BINTORO

Seharusnya saya datang pukul 09.00, sesuai undangan. Jam digital di telepon seluler saya menunjuk angka 09.27. Acara sudah dimulai. Kepala Sekolah Ike Padmawatie sedang berbicara mengenai kedisiplinan, dan pentingnya pendidikan karakter. Sekolah yang sudah empat tahun ia pimpin ini adalah satu dari empat sekolah di Samarinda yang terpilih sebagai sekolah Rintisan Berbasis Budaya dan Karakter Bangsa. Ia juga menekankan soal kejujuran.

Ini kali pertama saya dipanggil kepala sekolah. Anak saya dinilai terlambat tiba di sekolah sehingga tidak mengikuti upacara bendera. Saya bersama 88 orang tua siswa lainnya pun dikumpulkan. "Agar bapak ibu lebih memahami visi sekolah," kata Ike.

Sebenarnya saya sangat yakin telah mengantarkan anak saya dan tiba sebelum pukul 07.00. Tapi tak apa. Justru saya harus acungi jempol terhadap respon kepala sekolah yang begitu cepat. Selama ini, kalau pun ada yang terlambat, menurutnya, tak lebih dari 10 orang. Kali ini mencapai 89 orang. Ada apa ini?

Menurut dia, mendidik anak disiplin tidak bisa dilakukan sepihak. Sebagian besar waktu anak justru dihabiskan di rumah, sehingga orang tua harus dilibatkan. Percuma meminta anak untuk selalu tiba sebelum lonceng sekolah berbunyi, kalau faktor keterlambatan ternyata ada pada orang tua yang kurang cakap mengelola waktu.

Ya, bukankah kita acapkali mengabaikan hal-hal kecil seperti ini. Acapkali menganggap biasa jam karet. Teman saya, Ir Bernaulus Saragih MSc PhD, Kepala Pusat Penelitian SDA Unmul, pernah dibuat kesal karena masalah ini. Sudah satu jam lebih ia menunggu, ternyata rapat dengar pendapat di gedung DPRD Kaltim tidak kunjung dimulai.

Ahli ekonomi lingkungan ini tiba lima menit sebelum pukul 10.30 sesuai undangan yang ia terima dari sekretaris Majelis Rakyat Kalimantan Timur Bersatu Rudi Djailani. Ia kesal karena para wakil rakyat tidak menghargai waktu. Lima belas menit berlalu. Tapi wakil rakyat yang ditunggunya belum juga datang. Siang itu, selaku anggota tim ahli, ia diundang dewan untuk membahas kesiapan tim judicial review UU No 33/2004 yang akan memasuki sidang kelima.

Bernaulus pun bergegas meninggalkan ruang. Namun langkahnya dicegah Rudi. Usut punya usut, ternyata pertemuan resmi baru akan digelar pukul 11.00. "Saya sengaja menginformasikan ke teman-teman pukul 10.30 agar kalaupun mereka terlambat setengah jam, masih bisa mengikuti pertemuan pukul 11.00. Habis kebanyakan kita kan tidak on time. Gak nyaman kan kalau kita terlambat dalam rapat dengan anggota dewan," jelas Rudi.

Mendapat alasan demikian, Bernaulus makin kesal. "Bagaimana mau maju bangsa ini kalau sudah tidak menghargai waktunya sendiri." Kekesalan ahli ekonomi lingkungan lulusan universitas di Jerman dan Belanda ini makin menjadi saat waktu menunjuk angka 11.00. Ternyata tetap saja belum satu pun anggota dewan yang datang. Ketua Komisi I Dahri Yasin, Ketua Komisi II Rusman Yaqub serta sejumlah anggota dewan baru masuk ruang jelang pukul 12.00. Alamak!

DISIPLIN hanyalah salah satu alat yang dikembangkan di SMPN 4 untuk menanamkan karakter dan budaya bangsa kepada anak didik. Caranya bisa bermacam-macam. Ike membuat aturan denda Rp 50 ribu bagi siswa yang membuang sampah sembarangan. Dana dari hasil denda itu dikelola oleh guru Bimbingan Konseling dan dilaporkan terbuka setiap tiga bulan.

Ia juga melarang para siswa membawa HP di sekolah. Ini dilakukan untuk menjaga moral anak. Ini bermula saat ia mendapati seorang siswanya yang menonton film-film tidak senonoh di HP-nya. Mau film Jepang ada, kata anak itu. Hongkong dan Barat apalagi. Ike syok. "Kalau gara-gara aturan ini saya kemudian dipecat, saya siap," kata Ike yang setiap kali masuk kelas tidak bosan untuk bertanya pada muridnya yang muslim: siapa yang sudah melaksanakan salat subuh.

Bukan cuma terhadap siswa. Ike memasang mesin absensi sidik jari untuk mengecek kedisiplinan para guru. Guru menurutnya sekarang sudah lebih enak. Mereka menerima tunjangan profesi yang cukup. Itu pun masih ditambah insentif dari pemda Rp 1 juta. Jadi mestinya, waktu guru benar-benar diabdikan untuk mendidik dan membangun karakter siswa, sesuai budaya dan kepribadian bangsa Indonesia.

Ini tentu tidak mudah. Apalagi tidak sedikit yang kini menomorduakan pendidikan karakter. Para orang tua tidak jarang orientasinya hanya satu: bagaimana anaknya jadi pinter. Rame-rame bergerilya agar anak-anak mereka bisa masuk sekolah favorit berbasis RSBI. Jarang kita mendengar ungkapan para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi orang yang berkarakter.

Orang berkarakter kerap lebih mengesankan dan mengundang rasa ingin tahu. Kita pernah mengenal karakter-karakter yang menggugah dunia. Sebutlah Mahatma Gandhi, si anak canggung dan pemalu yang kemudian menjadi tokoh besar karena kebesaran jiwanya. Ia sulit menyakiti siapa pun. Tapi hatinya menolak tunduk pada kekuasaan dan menang melawan kekuasaan besar yang melawannya saat itu.

Kita juga mengenal Thomas More dari Inggris, yang akhirnya dihukum mati untuk kesalahan karena bersikap jujur. Tahun lalu, kita semua dibuat terkesan oleh ibu Siami. Dia mungkin tidak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Ia diusir oleh ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 Surabaya yang memaksa anaknya, Al, memberi contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10-12 Mei 2011 lalu.

Bertindak jujur malah ajur!

Salah satu kalimat yang paling sering dikutip dan menjadi tema banyak pidato kelulusan dan esai pengembangan diri diambil dari Hamlet karya William Shakeaspeare. Penulis besar itu menuliskan pada seorang tokoh bernama Polonius: This above all: to thine ownself be true, and it must follow, as the night the day, thou cannot then be false to any man.

Banyak orang hanya mengingatnya pada bagian pertama kalimat itu - jujurlah pada diri sendiri. Jhon McCain, senator terkemuka AS, mengartikannya bahwa kita harus jujur serta setia pada hati nurani. Dan jika itu dilakukan, "Anda mustahil berbohong pada orang lain." Dengan kata lain kesetiaan pada nurani, kejujuran pada diri sendiri, akan menentukan karakter relasi kita dengan orang lain.

Di dalam negeri kita juga banyak mengenal tokoh seperti Soekarno, M Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Gajah Mada. Sayangnya, pelajaran sejarah kita cenderung cuma hapalan. Menghapal angka dan kejadian. Tidak pernah memberi ruang diskusi untuk menganalisis apa yang sebenarnya terjadi.

Peristiwa sejarah Ken Arok misalnya hanya diajarkan sebagai hapalan nama dan tahun serta peristiwa tentang pembunuhan Ametung dari singgasana Tumapel. Tidak pernah kepada siswa diberikan pemahaman yang menyeluruh bahwa inilah bentuk kudeta pertama di bumi Nusantara. Inilah kudeta ala Jawa. Kudeta yang licik tapi cerdik. Berdarah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapati penghormatan yang tinggi. Ia melibatkan gerakan militer (gerakan Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam, memperhadapkan antarkawan, dan memanasi perkubuan. Bukankah  modus semacam ini yang acapkali terjadi di dunia modern kini.

"Berat memang. Anak dituntut tak cuma hapal Pancasila. Masalahnya, pelajaran sejarah pun kini sudah dikurangi," jelas Ike. Tetapi meski berat, Ike bertekad untuk mewujudkannya. "Saya ingin ada perubahan di sekolah ini. Tapi perubahan sulit tanpa dukungan orang tua." Inilah sedikit pelajaran yang saya timba dari SMPN 4 Samarinda.(*)

Jan 8, 2012

Ulang Tahun Tanpa Rakyat




Gubernur Awang Faroek menari usai apel HUT Pemprov
HARI ini, Senin, 9 Januari 2012, Pemprov Kaltim genap berusia 55 tahun. Pada bulan yang sama, Kota Samarinda juga memperingati ulang tahunnya yang ke-344. Layaknya sebuah ulang tahun, semua pihak mestinya bersuka cita. Apakah publik ikut bersuka cita? Entahlah. Yang pasti saya agak bingung memilih kado apa yang tepat dan patut untuk saya persembahkan kepada pemerintah. Sekedar kado berisi "Ucapan Terimakasih" pun rasanya belum pantas.
ACHMAD BINTORO


Sepanjang Minggu (8/1) kemarin,  dan beberapa hari sebelumnya, saya rajin mengelilingi kota Samarinda. Tujuan saya satu: mencari ada tidaknya penanda atau aksi oleh warga terkait dengan ulang tahun Pemprov Kaltim dan Kota Samarinda. Ya, keduanya merayakan ulang tahun pada bulan yang sama. Mestinya kota ini menjadi lebih meriah oleh suka cita segenap warganya. 

Saya melewati simpang empat Mal Lembuswana. Lalu bergerak menuju Balaikota dan Gubernuran. Saya juga blusukan ke kampus-kampus di Gunung Kelua dan Jalan Juanda. Tapi tidak menemukan sesuatu pun. Semua berjalan datar saja. Tidak ada kemacetan. Tidak ada konsentrasi massa. Jalanan sedikit lengang karena hari libur. Tidak ada demo. 


Tidak terlihat satu pun poster atau spanduk berisi ucapan "Selamat Ulang Tahun." Yang ada hanya poster kecil pada kotak sumbangan untuk Karen. Kota itu dijajakan sejumlah anak muda kepada pengguna jalan. Karen Nafisah, bayi mungil berusia 14 bulan, menderita Atresia Billier alias saluran empedu. Ketiadaan biaya membuatnya gagal menjalani operasi cangkok hati di RSCM Jakarta. 

Kartu Asmara ternyata tidak mampu menuntaskan pengobatan Karen. Saya mengurut dada melihat foto anak itu dengan kondisi perut yang membesar, kulit menghitam dan matanya kekuningan. Tidak adakah lagi yang bisa diperbuat pemprov dan pemkot yang katanya kaya raya ini untuk membantu kesembuhan Karen? 

Simpang empat Mal Lembuswana ini biasa menjadi tempat para aktivis menyuarakan aspirasinya, termasuk ketika memperingati hari jadi. Hari Bumi pada 22 April lalu misalnya, mereka peringati dengan demo. Tak puas cuma berteriak-teriak di simpang empat, massa bergerak menuju  gubernuran. "Jangan jadikan Kaltim sebagai toilet tambang," teriak Azman Aziz dalam orasinya. 


Momen ulang tahun acapkali dijadikan wahana untuk introspeksi dan saling mengingatkan. Koordinator Forum Pelangi ini lantang menyuarakan keprihatinan mereka bersama para aktivis lain seperti Jatam Kaltim, Pokja 30, PMII, Imapa Unmul dan Keuskupan Katolik tentang carut marut pengelolaan tambang batu bara di Kaltim. 

Ribuan izin diberikan. Ribuan lubang digali. Tapi ditinggalkan begitu saja tanpa reklamasi. Banjir sudah terjadi berulang kali dan kondisinya kian parah tapi pejabat Bappeda Samarinda Lutvi Fadli, dalam sebuah diskusi di PPHT Unmul, masih saja bermain kata-kata. Menganggap yang terjadi selama ini bukan banjir, melainkan cuma air yang menggenang.

Tentu, penanda itu tidaklah harus semeriah sambutan warga ibukota tatkala mereka menyambut ulang tahun kotanya, Jakarta. Tapi saya kira bukanlah berlebihan kalau saya berharap di sini sedikitnya ada kemeriahan dengan umbul-umbul, bendera atau kegiatan lain yang bersifat suka cita spontan oleh rakyat. Itu pun tidak terlihat. 

Carolus Tuah, Direktur Pokja 30 Samarinda dan Bambang Prayitno, Direktur Pusat Kajian Kebijakan dan Perencanaan Sosial (PKPS) Kaltim, Minggu (8/1), agak tidak bersemangat ketika saya pancing akan beri kado apa untuk Pemprov Kaltim. 

"Saya akan persembahkan jerit kemarahan rakyat yang menganggur dan butuh pekerjaan. Juga kado tangis warga yang miskin. Teriakan dan makian warga yang bertahun-tahun harus melewati jalan-jalan Trans yang rusak," kata Bambang.

Ia menambahkan dulu, The Three Muskeeters bilang: "Semua untuk Satu, Satu untuk Semua." Atas inspirasi itu, Kaltim yang sekarang berslogan "Membangun Kaltim untuk Semua" harus diubah menjadi "(Semua) Membangun Kaltim untuk Satu."

Maka yang terjadi adalah membangun untuk diri sendiri. Ruang kerja yang sebenarnya masih bagus, masih wah pun tidak merasa sungkan untuk dipoles kembali. Ruang kerja Gubernur dipoles dengan dana miliaran rupiah. Kabarnya mencapai Rp 8 miliar. Setahun berikutnya, giliran ruang kerja Wagub Farid Wadjdy dan Sekprov Irianto Lambrie dengan dana Rp 7,6 miliar. Begitu pula ruang kerja Kepala Bappeda Kaltim Dr Rusmadi, tak luput dipoles.

Tuah saya tanya adakah harapan yang ingin ia sampaikan saat ulang tahun Pemprov? "Ah, capek rasanya berharap terus kepada Pemprov. Sudah tiga tahun warga Kaltim diminta untuk percaya terhadap Pemprov dengan berbagai programnya. Tapi Pemprov gak mau transparan. Nah, ketika diingatkan agar transparan, kok malah marah-marah," jawab Tuah.

Ia lalu mengisahkan harapan menahun warga Kutai Barat, pengalaman pahit ibu dan keluarganya melewati jalan poros tengah Trans Kaltim yang rusak parah. "Butuh perjuangan yang luar biasa untuk bolak-balik dari kampung ibu saya di pedalaman Kubar ke Samarinda. Juga butuh dana yang tidak sedikit. Bayangkan jalan yang rusak begitu parah di hampir semua titik," ucapnya saat menceritakan pengalaman ibunya saat mencoba merayakan Natal di Samarinda.

Apakah keduanya dan warga lain menganggap ulang tahun ini bukan ulang tahun mereka? Mestinya tak perlu muncul perasaan demikian. Kebahagiaan  gubernur, para pegawai dan pejabat --  pengelola Pemprov Kaltim -- yang tengah merayakan ulang tahun Pemprov Kaltim, mestinya juga menjadi kebahagiaan rakyat. Sebaliknya duka Karen, mestinya pula menjadi duka Gubernur Kaltim dan Walikota Samarinda. 

Terlebih tema ulang tahun kali ini adalah "Kebersamaan Membangun Kaltim untuk Semua" dan "Sukses Prestasi PON XVIII Tahun 2012." Saya kira gubernur benar-benar ingin mengajak seluruh rakyatnya, di kota maupun desa, dan mereka yang ada di pedalaman dan perbatasan, untuk ikut merasakan kebahagiaan ini. 

Tetapi soal rasa memang tidak bisa dipaksakan. Bagaimana mungkin mereka kita suruh memberikan kado yang indah untuk ulang tahun pemprov kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja masih kembang kempis. Jalan yang mereka lewati masih hancur. Masyarakat perbatasan masih saja dalam kondisi terisolir. Bahkan, sekedar kado kecil berisi secarik kertas bertuliskan "Terimakasih Pemprov" pun dianggap masih terlalu mahal.(*)