KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 20, 2011

Mencari Pemimpin Ideal


Isran Noor, Bupati Kutim, Bakal Jadi Pesaing Berat AFI
"Mencari Pemimpin Ideal Jelang Suksesi Kaltim 2013." Begitu tema diskusi publik di Hotel Grand Victoria Samarinda, Minggu (18/12). Diskusi publik dipandu pegiat lembaga swadaya masyarakat Carolus Tuah, dan presenter TVRI Kaltim Dana Iswari. Digelar harian Koran Kaltim dalam rangka memperingati hari jadinya yang kelima.

ACHMAD BINTORO

Diskusi sebenarnya tidak dimaksudkan untuk menggiring opini ke tokoh-tokoh tertentu. Suwarno, Ketua Panitia Pelaksana, sudah memastikan itu di awal. Dengan tetap menyampaikan terimakasihnya kepada para sponsor yang telah membantu terselenggarannya diskusi ini, Suwarno menegaskan: "Kami tidak menerima pesan (apa pun dari) sponsor."

Tak juga dimaksudkan untuk mengevaluasi gubernur. Namun dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu, Dana berulangkali harus memotong Tuah yang acapkali bertanya nakal. Baginya, diskusi macam ini agaknya kurang seru tanpa sekaligus menilai kinerja Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang akan mengakhiri masa jabatannya pada 17 Desember 2013. Tiga tahun sudah pemerintahan di bawah Awang Faroek Ishak - saat kampanye mempopulerkan diri dengan sebutan AFI - dan Farid Wadjdy.

AFI - Masih Kuat
"Bagaimana menurut Anda (kinerja) gubernur sekarang," pancing Tuah kepada sejumlah peserta diskusi. Rusman Ya'qub, anggota Fraksi PPP DPRD Kaltim, yang hadir dan dimintai pendapatnya, balik bertanya apakah diskusi ini untuk mengevaluasi kinerja gubernur atau sekedar mencari sosok dan kriteria pemimpin Kaltim yang ideal. 

"Saya pikir tema yang disodorkan bukanlah mengevaluasi. Jadi maap saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saya akan berbicara secara umum saja," kata Ketua DPW PPP Kaltim ini.

Panitia terkesan malu-malu. Meski mencoba menghindari untuk tidak mengevaluasi kepemimpinan gubernur yang ada, namun tema ini sebenarnya telah memberikan penilaian secara tidak langsung atas kinerja gubernur. Penggunaan frasa "Mencari Pemimpin yang Ideal", menyiratkan bahwa pemimpin yang ada selama ini belumlah dianggap ideal. Kalau sudah ideal, tentu buat apa dicari lagi. Cukuplah akan mempertahankan yang ada misalnya atau dengan ungkapan lain yang lebih pas.

Meski panitia juga tidak menggunakan satu pun kata "gubernur" di dalam temanya, tetapi penggunaan frasa "Jelang Suksesi 2013" jelas mengacu pada Pilgub Kaltim 2013. Sehingga bisa dipahami kalau Tuah bolak-balik kecebur atau mungkin sengaja mencerburkan diri dalam ranah yang disepakati untuk dihindari: menilai kinerja gubernur.

SOSOK pemimpin seperti apa yang dianggap ideal? Akan banyak kriteria yang muncul. Setiap kepala bisa jadi memiliki kriteria yang berbeda, tergantung pada kepentingannya. Bagi Sudarno, politisi PDIP Kaltim, pemimpin ideal adalah yang membumi. Yang mau blusukan ke kampung-kampung, mendengar langsung keluhan rakyatnya.

"Ada gubernur di Bangkok, setiap pagi keliling, menyamar jadi orang biasa. Dia naik sepeda onthel, lalu diskusi dengan tukang sapu dan sebagainya," kata Sudarno. 

Anggota DPRD Kaltim ini mengacu pada sosok Chamlong Srimuang. Srimuang adalah Gubernur Bangkok, ibukota Kerajaan Thailand. Seluruh gajinya dia berikan untuk panti asuhan, suka turun ke jalan, mengontrol tukang sapu. Tutur katanya lembut. Hidupnya bersahaja.Tiap hari hanya makan sepuluh sendok nasi dan sayur. 

Srimuang tidak suka membentak, kecuali pada para pelacur, koruptor atau mereka yang melalaikan kerja.
Ia sosok pemimpin yang dicintai rakyatnya. Sosok yang nyata dan hidup di abad modern, bukan di sebuah cerita ketoprak mengenai Joko Tingkir.

Di Solo kita mengenal Joko Widodo, Walikota cakap dan sederhana yang akrab dipanggil Jokowi. Jujur, bayangan saya mengenai fisik pemimpin yang ideal adalah yang bertubuh tinggi besar, ganteng, bersuara bariton, dan pandai menyanyi seperti Presiden SBY dan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, seketika buyar ketika saya menyaksikan pertama kali penampilannya di program "Mata Najwa" Metro TV, 18 Mei 2011 silam. 

Perawakannya kurus. Pakaiannya pun sangat sederhana. Sungguh sangat tidak meyakinkan. Kalau saja saya tidak pernah membaca review sebelumnya mengenai dirinya, mungkin saya tidak tahu bahwa malam itu yang sedang saya saksikan adalah seorang walikota. Saya baru terbelalak dan kagum begitu melihatnya bicara. Ia memang bukan seorang orator. Tapi setiap kata yang keluar tampak meyakinkan, muncul dari kejujuran dan ketulusan seorang pengabdi. Ia tidak bicara di awang-awang. Ia tidak berkelok- kelok, tidak ngeles. Ia bicara apa adanya.

Ia dikagumi dan dicintai rakyatnya. Bayangkan, ia memenagi 91 persen suara. Padahal kampanyenya nyaris tanpa modal. Baliho dan spanduk yang dipasang bisa dihitung dengan jari. Tidak seperti di Kaltim. Bahkan tiga tahun setelah Pilgub Kaltim berlalu pun, baliho dan spanduk besar bergambar wajah-wajah pemimpin masih berserak di pojok-pojok strategis jalanan kota Samarinda. Sebuah upaya menjaga pencitraan, kata Tuah.

Jokowi dikenal sosok yang sangat tegas tapi berpihak pada rakyat kecil. Gubernur Kaltim pun dilawannya ketika terjadi polemik pembangunan mal. Ia tidak tersandera oleh apa pun. Sehingga suaranya pun lantang terdengar. Ia bukan seorang pemimpin yang merasa sebagai "gubernur" yang harus pandai menempatkan dirinya sebagai kepanjangan tangan pemerintah Pusat. 

Ia seorang yang inovatif dan egaliter. Seorang visioner tapi tetap membumi. Seorang yang sangat bersih, lurus dan berintegritas, seorang yang merakyat sampai hampir tiap malam bisa ditemui di lorong-lorong pasar dan jalan-jalan kota Solo sedang berdialog dengan warganya. Inilah the true leader, sosok pemimpin yang berkarakter.

Saat kuliah dulu, saya harus berulangkali membaca baru bisa memahami karya William Shakespeare. Hamlet adalah salah satu karyanya yang saya sukai. Salah satu kalimat yang mempesona saya berbunyi: "This above all: to thine ownself be true, and it must follow, as the night the day, thou cannot then be false to any man." Kalimat itu diucapkan tokoh bernama Polonius saat berkata kepada putranya, Laertes. Kalimat itu menekankan "jujurlah pada diri sendiri." Kita harus jujur dan setia pada hati nurani, dengan begitu Anda "mustahil berbohong pada orang lain."

Di sini, kita memiliki pemimpin yang abai terhadap rakyatnya. Sebuah jembatan yang mestinya mendapat perawatan rutin, ternyata dibiarkan begitu saja. Jembatan Kukar pun runtuh. Pemimpin telah gagal memberi perlindungan terhadap rakyatnya. Padahal setiap tahun dana APBD yang dikelola mencapai Rp 5 triliun. Tapi karena salah urus, dana sebanyak itu tidak pula berimbas ke rakyat. 

Ini menjadi semacam kutukan sumberdaya alam. Berkah besar dari bagi hasil migas dan tambang hanya melahirkan "kutukan"-"kutukan". Gubernur Suwarna sempat dibui karena persoalan kebun sawit PT Surya Dumai Group. Bupati Kukar Syaukani HR pernah dijebloskan ke penjara karena kasus bansos. Wakilnya yang sempat menggantikan dirinya pun ikut terseret.

Kita memiliki pemimpin yang tersandera oleh kasusnya. Menjadi tersangka sejak 6 Juli 2010. Awang jadi serba salah. Ia tidak berani bersikap galak terhadap Pusat. Terlebih posisinya yang menurut PP adalah kepanjangan tangan Pusat di daerah. Mestinya, kita tidak perlu mencari-cari pemimpin yang ideal, kalau saja yang ada sudah dianggap ideal. Tetapi persoalan menang dan kalah dalam pilkada, dalam praktiknya, acapkali tidak terkait dengan ideal atau tidak, melainkan lebih pada tingkat popularitas dan citra.(*)

No comments: