KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 20, 2011

Kaltim Airku (Sayang) Malang




Pesawat Superjet BAE 146-100 Tidak Jadi Datang
Hari ini, 17 Desember 2011, genap empat bulan Kaltim Air resmi diluncurkan. Meski sejak awal sudah  menyangsikan kemampuan Kaltim Air, tapi saya tidak pernah menyangka kondisinya akan lebih parah dari maskapai-maskapai daerah lain yang sudah lebih dulu mencoba. Saya kira direksi Kaltim Air sudah belajar dari pengalaman mereka.

ACHMAD BINTORO


Dalam sebuah dialog interaktif di TVRI Kaltim, sekitar dua bulan sebelum acara peluncuran 17 Agustus, selaku pemandu, saya sempat sampaikan review mengenai kondisi maskapai-maskapai daerah lain. Narasumber yang hadir Wakil Ketua Kadin Kaltim HR Daeng Naja, Kepala Badan Perbatasan Kaltim Adri Patton, Ketua Komisi II DPRD Kaltim Rusman Ya'qub, dan Sekjen Kampper (alm) Rahmadi A Rachim.
 
Saya katakan saat itu bahwa Kaltim bukanlah pemda pertama yang menerjuni bisnis dirgantara. Pada 2002 silam, Pemprov Nanggroe Aceh Darussalam memiliki Seulawah NAD Air yang diresmikian Presiden Megawati. Tak sampai setahun sudah terseok. Tidak mampu terbang lagi dan meninggalkan utang besar.
Enam tahun kemudian, Pemkab Aceh Utara membangun North Aceh Utara dengan menyewa Fokker 28. Nasibnya lebih tragis. Hanya sekali terbang lalu padam. Pemprov Sumatra Selatan pernah memiliki airlines Serunting Sakti. Sepuluh tahun terseok-seok. Hidup segan mati enggan. Puncaknya, tahun 2006, DPRD setempat merekomendasikan pesawat Cassa yang dimilikinya untuk dijual guna menutupi utang operasional.

Masih di Sumatra, Pemprov Riau membangun maskapai bernama Riau Airlines (RAL) pada 2002. RAL didesain Samudra Sukardi, konsultan yang disewa gubernur untuk membidani Kaltim Air. Tapi selama perjalannya tidak pernah berhenti dihembus badai. Hidupnya megap-megap, hingga sempat ditutup oleh ororitas penerbangan.

Bermimpi tidak dilarang. Bahkan sangat dianjurkan bermimpi setinggi mungkin. Kaltim Air berawal dari mimpi. Mimpi seorang Awang Faroek Ishak, Gubernur Kaltim, yang ingin mengatasi bottle neck isolasi wilayah pedalaman dan perbatasan.

 
Menunggu jalur darat entah kapan akan terhubung.  Menunggu jalan Trans Kaltim juga entah kapan bakal terbebas dari lubang-lubang menganga dan kubangan kerbau. Duit puluhan triliun rupiah di APBD katanya tidak cukup untuk mengkaver itu semua. Lagi pula pemda beralasan, jalur itu merupakan tanggung jawab dan domainnya pemerintah Pusat. Semua itu, bagi rakyat pedalaman dan perbatasan, juga masih sebatas mimpi-mimpi yang menghiasi selama 66 tahun Indonesia merdeka.

Entah karena mimpi yang terlalu di awang-awang -- sehingga enggan turun ke bumi, atau karena faktor lain, Kaltim Air justru cuma sekali terbang. Sebuah pesawat Cessna Grand Caravan B208 mengantar pulang Gubernur Awang Faroek Ishak yang sedang kecewa karena pesawat lain yang ditunggu-tunggu - Superjet Bae 146-100 tak kunjung datang di Bandara Sepinggan Balikpapan.

Esoknya tak pernah ada lagi kabar. Bahkan setelah empat bulan. Komisaris Utama KAH Sabri Ramdhani  tidak mau berkomentar. Keinginan saya untuk mengorek keterangan darinya tak bersambut. Dirut Marthin Billa pun sama pelitnya bicara kepada pers. Loket penjualan tiket Kaltim Air tak pernah buka. Kemana Kaltim Airku? Satu-satunya penanda bahwa Kaltim Air masih "hidup" hanyalah sebuah minibus berstiker  Kaltim Air milik sebuah perusahaan travel Prima, agen tiket yang sesekali keluyuran di jalanan kota Samarinda. Entah apa maksudnya. Perusahaan itu tidak pernah jadi menjual tiket tersebut.
 
Inilah Cessna Grand Caravan yang dicarter Kaltim Air
Belakangan saya mendengar kabar Kaltim Air ternyata tidak memiliki izin terbang. "Kenapa tidak diizinkan? Karena memang tidak ada maskapai penerbangan bernama Kaltim Air," kata Dirjen Perhubungan Udara, Kemenhub RI, Herry Bakti Singayudha Gumay.
 
Lho, jadi perusahaan yang salama ini digaungkan dan menjadi mimpi Gubernur Kaltim -- agar suatu saat nama "Kaltim" bisa terbang di seantero wilayah Nusantara, itu ternyata bukan sebuah maskapai? Bagi Kemenhub, launching Kaltim Air di Bandara Sepinggan 17 Agustus lalu, dianggap hanya sebagai peluncuran perusahaan travel biasa, bukan perusahaan penerbangan. Alamak!
 
"Hanya sebagai penjual tiket. Sebab itu, mereka mencarter Penas (Penerbangan Nasional, Red)," kata dia lagi.
 
Di sebuah kafe di jalan Juanda Samarinda, saya bertemu kembali Ade Cahyat. Ini pertemuan kami yang pertama sekembali dia menyelesaikan masternya di sebuah universitas di Australia. Dari Australia, Ade pernah beberapa kali mengkritisi dan mengingatkan Gubernur Kaltim untuk lebih baik fokus membenahi bandara-bandara di pedalaman dan perbatasan, ketimbang bernafsu ingin mendirikan sebuah maskapai penerbangan Kaltim Air.

"Kalau bandara-bandara yang ada itu sudah lebih bagus, lebih panjang, tak usah mereka dipaksa- paksa. Tentu akan ada operator penerbangan yang mau terbang ke sana," kata Ade. Ya, saya setuju itu. Seorang Fauzi Bachtar tentu sudah lama ekspansi ke sana tanpa harus dipaksa kalau kondisi bandara sudah lebih memadai. Ketua Kadin Kaltim ini kabarnya memiliki saham di sebuah maskapai PT Kalstar yang kini sudah merambah Malaysia.

Kemarin, dia bertanya kepada saya: Adakah dana APBD di Kaltim Air? Saya katakan, tidak. "Untunglah," kata Ade. "Jadi kalau pun sekarang mandeg, uang rakyat tidak sampai terbuang percuma." 

Dalam hati saya juga mengucap syukur bahwa sejumlah anggota DPRD Kaltim getol menentang keinginan gubernur untuk menginvestasikan duit APBD di Kaltim Air. Saya pikir cukuplah kita mendapat pelajaran dari pembelian lima pesawat GA8 Airvan yang sekarang terseok-seok.

Duit siapa yang terlanjur dipakai di Kaltim Air? Ini juga tak pernah jelas. Sabri maupun Marthin tidak pernah mau terbuka. Yang saya tahu, bos Cahaya Tiara Group, Bachtiar, sudah mundur. Investor yang berafiliasi dengan investor Singapura pun menyusul langkah serupa. Terakhir, Haji Alung, Ketua Komisi III DPRD Kaltim cum pengusaha yang mendapatkan proyek jalan tol Balikpapan_Samarinda di segmen II, dan Fauzi Bahtar dikabarkan ikut mundur.

Oh, Kaltim Airku sayang. Kaltim Airku malang.(*)

No comments: