KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Nov 4, 2011

Tol dan Logika Seorang Sopir

PROYEK tol digelindingkan Awang Faroek Ishak beberapa bulan setelah resmi menjadi Gubernur Kaltim. Ia dilantik Mendagri 17 Desember 2008. Siapa sangka setelah dua tahun, bahkan dana Rp 500 miliar dari APBD 2011 -- tahap pertama dari komitmen total Rp 2 triliun selama tiga tahun -- sudah terpakai habis, megaproyek ini masih menuai kecaman. Izin-izin yang diperlukan dan komitmen yang dijanjikan pun belum terwjud.

ACHMAD BINTORO

 Pak Gub rupanya tergoda meniru cara-cara kami, warganya dalam membangun rumah. Bangun dulu, urus IMB belakangan," kata Sugeng terkekeh.

Ia seorang sopir mobil rental langganan saya. Kami ngobrol beragam topik dalam perjalanan dua jam 30 menit Samarinda-Balikpapan, Sabtu (29/10). Proyek tol salah satu isu yang ia rekam. Jebolan sekolah pariwisata yang sudah memiliki tiga mobil rental ini melalap informasi apa pun. Di kantong kursi mobilnya tersimpan dua edisi terbaru koran lokal yang sudah lusuh.

IMB singkatan Izin Mendirikan Bangunan. Tiga tahun lalu, ia membangun rumah di jalan M Said. Pemkot Samarinda mewajibkan warga mengantongi IMB lebih dulu sebelum memulai pembangunan rumah atau bangunan. Banyak warga yang mengabaikan aturan ini, termasuk Sugeng.

"Ada tol ya bagus saja. Tapi kondisi jalan yang ada kan masih lumayan. Kalau bisa diperlebar 2-3 meter, dibuat lebih mulus seperti ruas ini, lalu tikungan-tikungan tajam dibaiki, saya kira cukuplah. Tak perlu harus bangun tol yang katanya akan habiskan duit Rp 6-12 triliun. Kalau ada yang lebih murah dan itu berkualitas, kenapa sih harus pilih jalan yang mahal."

Ia mengacu pada kondisi jalan yang kami lalui di Km 27-24 Balikpapan. Kiri kanan jalan itu sekarang diperlebar dua-tiga meter. Ini memudahkan baginya menyalip dua truk yang sedari tadi menghalangi jalan. Puluhan kendaraan di belakang kami pun turut leluasa melaju kencang.


Sugeng berkisah, sekitar 10 tahun lalu, ia memerlukan waktu hanya dua jam menempuh jarak Samarinda- Balikpapan. Bahkan tak jarang lebih cepat, satu jam 30 menit sepanjang tidak ada truk besar menghalang. Kini jumlah kendaraan semakin banyak. Truk-truk besar, termasuk tronton yang memuat alat-alat berat, selalu berseliweran. Jalan mereka lamban. Mau nyalip bukanlah perkara mudah karena jalan sempit dan tikungan tajam.

Masuk wilayah kota apalagi, kendaraan merayap. Ini sama sulitnya saat harus keluar dari kota Samarinda. Waktu tempuh pun menjadi lebih lama, 2 jam 30 menit hingga 3 jam.

Bagi pengendara seperti dirinya, yang diperlukan saat ini bukan jalan mewah macam tol. Cukuplah kalau jalan yang ada itu diperlebar, menjadi dua jalur. Tikungan-tikungan tajam diperhalus. Itu pun kalau biaya tidak cukup, ya tidak harus memaksakan membangun dua jalur seluruhnya. Bisa saja diselang-seling. Lima kilo pertama satu jalur, lima kilo berikutnya dua jalur, begitu seterusnya. Yang penting dapat memberi kesempatan kepada pengguna jalan yang ingin cepat untuk bisa menyalip truk-truk besar atau bus yang cenderung berjalan lamban.

"Kalau pun ada duit sebanyak itu tidakkah lebih baik untuk baikin jalan di dalam kota Samarinda yang di depan mata, yang tidak kunjung mulus dan tak kunjung lebar. Atau untuk memperbaiki Trans Kaltim ke Melak, ke Grogot dan ke utara yang sudah bertahun-tahun ini dibiarkan rusak parah," tambah dia.
 
Ia mengaku pernah menegur istrinya saat sedang membangun rumah. Gara-garanya, uang Rp 10 juta yang ia berikan dipakai habis untuk membikin teras. Sebagian bahan malah diutang sebab teras dibangun dengan bahan kelas satu. Istrinya berdalih teras perlu dibangun agar rumah terlihat lebih cantik dan megah. Sugeng bukan tidak setuju teras dibangun. Bukan pula tidak senang memiliki teras bagus.
 
Tapi kebutuhan mendesak saat itu adalah membangun toilet. Dalam lima hari ke depan ia harus memboyong keluarganya pindah dari rumah yang ia tinggali karena masa kontrak akan habis. Mencari kontrakan rumah lain bukanlah pilihan yang menyenangkan. Perlu biaya dan waktu. Lagi pula ia merasa sudah terlalu capek boyongan dari rumah satu ke rumah lain.
 
" Tinggal plafon, teras depan dan toilet yang belum selesai kami bangun. Tentu saja kami lebih memerlukan toilet agar rumah bisa ditinggali. Nah begitu pun dalam membangun jalan tol. Menguras begitu banyak uang untuk ruas jalan yang masih cukup baik, tapi jalan di ibukota dan penghubung antardaerah dibiarkan rusak bertahun-tahun. Logika macam apa ini?"
 
Saya menyukai sopir ini. Selain karena cara mengemudinya yang terampil juga kecerewetannya. Ia sanggup ngobrol berjam-jam. Saya pancing satu dua kalimat, responnya berpuluh-puluh kalimat. Ia juga mengetahui banyak hal -- meski kebanyakan cuma kulitnya -- sehingga diajak ngobrol apa pun selalu nyambung. Ini mengimbangi sifat saya yang pendiam.
 
Lima hari sebelumnya ia baru dari Banjarmasin. Kondisinya minta ampun, katanya, rusak parah. Bagian paling parah justru di Kaltim di wilayah Grogot hingga perbatasan. Beberapa tahun lalu, saat kondisi jalan masih baik, ia biasa menempuh jarak sepanjang 615 kilometer itu selama 12 jam. Tapi kini 19 jam baru tembus. Arah ke Melak atau wilayah utara pun sama hancurnya.
 
Bernaulus Saragih, ahli ekonomi lingkungan Unmul termasuk kelompok orang yang memahami jalan pikiran orang-orang awam seperti Sugeng."Ya, apa sih kurangnya jalan yang ada sekarang. Kalau alasannya macet kan sekarang sudah dilebarkan dan bisa dilebarkan lagi. Kalau alasan gubernur adalah untuk peningkatan ekonomi, apakah itu harus tol sehingga harus menguras duit sebanyak itu?"
 
Cara berpikir orang awam itu simpel dan masuk akal. Tidak ada salahnya kita belajar dari mereka. Minimal kata Bernaulus, mencoba memahami apa yang paling dibutuhkan mereka.

Sugeng merupakan representasi dari keinginan para pengguna jalan pada umumnya. Sayangnya acapkali kita tidak mau mendengar pikiran dan keinginan orang awam hanya karena kita merasa lebih pintar, merasa paling benar, paling berkuasa, dan karena adanya kepentingan pribadi.(***)

No comments: