KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 12, 2011

Cara Daeng Naja Kompori Dosen

Daeng Naja menyerahkan buku ke Kepala Perpustakaan Kaltim Syafruddin Pernyata
DIWARNAI tepuk tangan sekitar 40 peserta Rakor Pengembangan Perpustakaan dan Minat Buku se-Kaltim di aula Badan Perpustakaan Kaltim, Samarinda, Senin (30/5), setumpuk buku itu pun berpindah dari tangan HR Daeng Naja kepada Syafruddin Pernyata, Kepala Badan Perpustakaan Kaltim. Syafruddin sengaja membuat seremoni kecil ini di sela rapat koordinasi sebagai penghargaan kepada Daeng yang telah menyumbangkan 110 bukunya. Buku itu terdiri 11 judul. Semua hasil karyanya. 

"Semula saya ingin sumbangkan semua buku yang pernah saya tulis. Totalnya ada 14 judul buku. Tapi saya kehabisan stok untuk tiga judul lainnya," kata Daeng. Daeng kini adalah dosen di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi Unmul. Ia juga seorang notaris dan pengusaha. Namun saat ditanya reporter TVRI Kaltim, Daeng lebih senang menyebut dirinya sebagai WTS. Bukan singkatan dari Wartawan Tanpa Suratkabar, melainkan Writer, Trainer, dan Speaker.

Semua ini berawal dari apa yang disebut Syafruddin sebagai ilmu kompor. "Pak Daeng ini rupanya terkompori oleh acara diskusi buku yang pernah digelar di tempat ini, Kamis lalu. Diskusi digelar bersama dengan Penerbit Pustaka Spirit, membahas tiga buku tentang Kaltim. Salah satu penulisnya adalah Bintoro, wartawan Tribun Kaltim, dengan buku Kaltim Milik Siapa."

Dua penulis lainnya adalah Syafruddin Pernyata dan Djahar Muzakar. Syafruddin menulis kumpulan cerpen berjudul Antologi Cerpenis Kaltim, sedang Djahar, dosen di sejumlah peruguruan tinggi di Bogor dan Jakarta, menulis Jejak Kebesaran Maharaja Mulawarman.

"Kepada saya dia ngaku termotivasi, lalu ia sumbangkan 110 buku karyanya ini. Yang luar biasa, ia bermaksud mengompori koleganya, terutama kalangan dosen, lewat sumbangan buku ini," jelas Syafruddin.

Niat untuk mengompori para dosen di Kaltim, khususnya di Unmul Samarinda, memang sudah lama ada dalam dirinya. Ia risau melihat kenyataan rendahnya minat para koleganya itu dalam membuat buku. Dosen Unmul yang menulis buku, menurutnya masih bisa dihitung jari. Padahal tidak kurang dari 700 dosen di universitas terbesar di Kaltim ini, dan sekitar 300 diantaranya bergelar doktor atau sedang dalam proses ke pendidikan doktor.

Tapi ketika itu ia mengaku belum menemukan cara yang efektif untuk mengompori mereka. Sampai suatu ketika, pekan lalu, ia membaca koran mengenai diskusi buku Kaltim yang digelar Pustaka Spirit dan Badan Perpustakaan Kaltim. "Saya lalu berpikir, kenapa saya sumbnagkan saja buku-buku ini ke Badan Perpustakaan. Sama sekali bukan bermaksud gagah-gagahan. Tapi lebih sekedar ingin merangsang teman- teman lain," kat Daeng.

Dengan ia sumbangkan 11 judul buku hasil karyanya itu, ia ingin menyampaikan pesan kepada para dosen lain bahwa kalian pun sebenarnya mampu juga melakukan hal itu. Bahkan bisa lebih dari dia. "Mestinya mereka bisa. Para dosen ini kan kelompok akademisi. Mereka kalangan terpelajar yang menguasai ilmu dibidangnya masing-masing."

PRAMOEDYA Ananta Toer dalam Khotbah dari Jalan Hidup mengatakan, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Daeng sependapat dengan Pram. Saya juga begitu. Hanya saja diperlukan setidaknya dua syarat bila ingin "bekerja untuk keabadian": harus tahu dan harus peka. Terkait para dosen, tidak mungkin kalau kita bilang mereka adalah kelompok orang yang tidak tahu. Tidak semua orang bisa menjadi dosen. Mereka adalah mahasiswa terpintar. Gelarnya pun bisa lebih dari satu. Master sampai Doktor, malah Profesor.

Lantas kenapa kok mereka masih seret dalam menulis. Lihatlah kolom-kolom opini di surat kabar lokal dan nasional. Jarang sekali kita melihat nama-nama mereka terpahat di sana. Diantara yang jarang itu ada sebuah nama yang cukup sering nongol di kolom opini Kompas. Dia adalah Ade Cahyat, alumni Fahutan Unmul yang kini melanjutkan S2 di The Australian National University, Australia. Meski bukan dosen Unmul, tapi dia adalah orang Kaltim.

Tulisan terakhir dia yang sempat muncul di Kompas dan saya baca adalah 2 Mei lalu saat kontroversi kunjungan anggota DPR RI ke Australia. Ia berpikiran beda dengan kebanyakan mahasiswa yang ada di Australia. Kunjungan antara lain terkait studi banding soal mengatasi kemiskinan itu menurutnya, salah alamat sehingga harusnya tidak perlu dilakukan.

Daeng melihat, hal mendasar yang membuat para dosen di Unmul dan universitas swasta lainnya di Kaltim tidak bisa menulis, adalah karena kurang peka. Faktor kepekaan menjadi sangat penting agar seseorang bisa memulai menulis. Banyak peristiwa atau isu-isu menarik yang hilir mudik di tengah kehidupan kita. Namun karena kurang peka, mereka tak menganggap itu sebagai sebuah isu menarik yang sebenarnya bisa dituangkan dalam bentuk tulisan artikel maupun buku.

"Kalau kita tanyakan kenapa mereka kurang peka? Ya mungkin karena lingkungan. Budaya menulis di universitas ini yang tidak tumbuh baik. Padahal ini bisa dimulai dengan membukukan tesis atau disertasi mereka," katanya. Bagaimana menumbuhkan budaya itu? Dimulai dari yang kecil-kecil. Misalnya, saat kita ngobrol dengan mahasiswa atau sesama dosen, ya bahaslah isu-isu aktual yang kita kuasai. Tumbuhkan debat dan membaca. Menulis hanya bisa dilakukan kalau rajin membaca.(bintoro)

No comments: