KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 22, 2011

GENJOT PRODUKSI LUPA INDUSTRI

Lima belas tahun lagi kata Ir Bernaulus Saragih MSc PhD, Kaltim akan menjadi provinsi yang miskin sumberdaya alam migas dan tambang. Kekayaan berlimpah yang telah puluhan tahun digali dan disedot dari bumi etam ini pada akhirnya akan mencapai ambang batas. Habis terkuras. 

 ACHMAD BINTORO

15 tahun tidak lama. Itu hanya tiga kali momen suksesi Gubernur. Nah, apakah kita masih akan terus diam saja menunggu tanpa berbuat sesuatu? Jangan-jangan saat kesadaran dan keberanian masyarakat serta kepala daerah di Kaltim mulai pulih dan mencoba berbuat sesuatu, tindakan menguji materi pasal 14 ayat E dan F UU No 33/2004 pun sudah tak cukup lagi untuk mengakomodir semua kerugian dampak eksploitasi dan mengejar ketertinggalan selama ini. 

Jangan-jangan saat sumberdaya alam migas dan tambang itu benar-benar habis Kaltim tetap tidak memiliki modal yang cukup untuk menyiapkan diri secara sosial dan ekonomi. Infrastruktur yang memadai tidak pernah terbangun. Ekspor batu bara, sawit dan bahan mentah terus digenjot. Tapi lupa bangun industri hilir. Tidak terpikir membangun industri manufactur dan jasa sebagaimana di Jawa dan Bali. 

Akibatnya, Kaltim tidak mampu menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja. Jika migas sudah tidak ada, batu bara habis, industri manufactur dan jasa pun tak terbangun, lalu apa yang masih menarik dari daerah yang dulu kaya ini? Tidak ada lagi. Tidak ada alasan bagi orang luar untuk berbondong-bondong ke Kaltim karena tidak ada lagi peluang kerja. Kaltim mungkin akan menjadi ghostown layaknya kota Sanga-sanga, Kelian, dan Belitung.  

Saya tahu, banyak masyarakat dan pejabat awam yang tidak percaya dengan prediksi ini. Mereka anggap cuma bualan. Sekedar menakuti agar kita semua terbangun dari mimpi panjang. Sebagian lagi bersikap masa bodoh. Sekarang ya sekarang. Soal nanti itu urusan nanti. Begitu pikir mereka. Mestinya tak seperti itu. Kalau yang mengatakan prediksi itu adalah orang yang tidak berkompeten seperti saya atau kuli angkut pelabuhan bolehlah orang tidak percaya. 

Kali ini yang mengatakan adalah seorang yang ahli di bidangnya. Ia Kepala Pusat Penelitian Sumberdaya Alam Unmul. Saya mengenalnya kali pertama saat ia berbicara dalam rapat dengar pendapat MRKTB dan Komisi I DPRD Kaltim, sekitar dua bulan lalu. Ia direkrut oleh Ketua MRKTB Abraham Ingan sebagai anggota tim ahli bidang lingkungan untuk rencana gugatan judicial review UU No 33/2004. Sebelumnya, prediksi serupa juga pernah diutarakan sejumlah ahli lainnya. 

Bernaulus seorang sarjana Kehutanan Unmul. Ia lalu mendalami ekonomi lingkungan dan mendapatkan gelar PhD dari sebuah universitas bergensi di Belanda, Universiteit Leiden. Dari beberapa kali kesempatan obrolan dengan dia, saya menangkap kesan bahwa dia adalah orang yang cerdas, menguasai bidangnya, dan ilmuwan yang memiliki integritas. Ia banyak melakukan penelitian ilmiah, termasuk bersama ilmuwan- ilmuwan bule.

Salah satu penelitiannya yang sedang berjalan adalah tentang potensi kandungan coalbed methane di delta Mahakam.Coalbed methane merupakan bahan bakar dari gas alam dengan dominan gas metana yang disertai sedikit hidrokarbon dan gas nonhidrokarbon dalam batu bara yang diperoleh melalui proses kimia dan fisika. "Beliau orang yang potensial. Muda dan berilmu," kata Daeng Naja memperkuat kesan saya.

***** PREDIKSI itu diolah Bernaulus dari data-data Dirjen Pertambangan Umum (2010) bahwa sisa cadangan terbukti migas di Kaltim adalah 1.176,11 MSTB minyak bumi dengan jumlah cadangan terbukti 792,48 MSTB dan 446,63 MSTB cadangan potensial. Gas bumi 47.746,13 BSCF. Terdiri 27.809 BSCF cadangan terbukti dan 20.088 BSCF cadangan potensial.

Dengan rata-rata produksi 20 juta barel (21,249 juta barel tahun 2009) minyak per tahun, 70 juta metrik ton batubara, 2,5 juta M3 kayu, dan 16 juta metrik ton gas alam cair maka 15 tahun kedepan Kaltim akan manjadi provinsi yang miskin sumberdaya alam migas dan tambang. Tetapi dengan sisa potensi itu masih memungkinkan bagi Kaltim u mengejar ketertinggalannya dalam pembangunan, asalkan hasil dari kekayaan alam itu dialokasikan lebih besar kepada Kaltim. 

"Jangan seperti yang berlaku saat ini, dimana Kaltim sebagai daerah penghasil kebagian hanya 5,83% dari total pendapatan sumberdaya yang terjual," ujar Bernaulus. 

Bernaulus juga mengingatkan makin menipisnya cadangan minyak di Kaltim. Cekungan Kutai termasuk Blok Mahakam sudah 75 persen dieksploitasi. Cekungan Tarakan 80 persen. Potensi gas yang menyuplai PT Badak NGL juga turun secara signifikan, dari 21 juta metrik ton produksi tahun 2001 menjadi hanya 16 juta metrik ton tahun 2010. Sumberdaya hutannya apalagi. Tahun 1969 luas hutan Kaltim mencapai 21 juta hektare, kini tersisa tinggal 4,2 juta hektare. 

Akibat eksploitasi masif semacam itu, Kaltim kini dihadapkan pada kerusakan lingkungan yang serius. Dia menghitung akumulasi kerugian ekonomi rakyat kaltim senilai Rp. 9,230 trilliun per-tahun. Pengeluaran ini tidak ada dalam neraca pemerintah maupun perusahaan karena merupakan akumulasi biaya dampak lingkungan yang dibayar oleh ratusan ribu rumah tangga sebagai akibat transformasi kebutuhan pokok barang bebas ke barang ekonomi, terganggunya fungsi ekologi dan ekonomi ekosistim, tata air, udara, dan banjir. 

"Pemerintah Pusat harus memasukkan unsur kerugian ini dalam perhitungan perimbangan keuangan. Revisi UU No 33 tahun 2004 harus memasukkan nilai tersebut kedalam bagi hasil SDA Kaltim," kata Bernaulus Saragih. 

Menurut Hendri Saparini PhD, Kaltim mestinya tidak ngotot atau fokus hanya meminta kenaikan porsentasi dana bagi hasil migas. Jika itu yang dilakukan, Kaltim hanya menerima manfaat secara finansial atas migas dan SDA yang dimiliki. Itu pun kalau gugatan judicial review berhasil dimenangkan. 

"Selagi kekayaan alam itu masih berlimpah, Kaltim harus bisa mendesak dilakukannya koreksi strategi dan kebijakan optimalisasi kekayaan SDA agar tidak cuma mendatangkan manfaat secara finansial tapi juga manfaat ekonomi," kata ekonomi dari Econit ini. 

Kenapa pembangunan banyak di Jawa dan Bali? Karena di sana ada industri jasa dan manudafctur. Akan ada penciptaan dan penyerapan tenaga kerja. Sehingga utang dan hibah pun banyak menggelontor ke sana. Sehingga, kata Hendri, kalau mau mengurangi kesenjaangan pembangunan dan mendapat manfaat ekonomi dari kekayaan SDA yang dimiliki, maka Kaltim harus membangun industri manufactur agar tercita sumber ekonomi baru. 

"Lihat China, ia melarang ekspor batu bara. Batu bara itu mereka pakai untuk memasok pembangkit dalam negeri agar industri manufactur bisa berkembang. Investasi bisa masuk. Ada manfaat ekonominya. Ini tidak seperti kita yang justru menggenjot produksi untuk diekspor mentah dan hanya mendapat manfaat finansial. Timah juga dilarang ekspor di China. Sebab mereka punya strategi bahwa rakyat harus dimakmurkan dari industri manufaktur yang bahannya dari timah," jelasnya. 

Kita tidak memiliki industri supporting yang dalam. Kalau saja di Belitung itu dibangun industri supporting timah yang itu bisa dibiayai dengan utang, mungkin Belitung tidak miskin seperti sekarang. Cina membangun industri itu dari utang. Tapi utang itu dipakai untuk membangun industri manufactur yang bermanfaat secara ekonomi, tidak 

Inilah kesempatan bagi Kaltim untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari kekayaan sumberdaya alamnya. Ini akan akan jauh lebih bermanfaat dibanding sekedar meminta kenaikan porsentase dana bagi hasil SDA yang hanya mendatangkan manfaat finansial yang biasanya akan habis begitu saja.(*)

No comments: