KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jan 5, 2010

Mereka Terasing di Negeri Sendiri





PEMERINTAH Pusat perlu turut bersikap dan memberikan solusi atas permasalahan isolasi, keterbelakangan dan kemiskinan yang dihadapi masyarakat perbatasan di wilayah utara Provinsi Kaltim. Sudah 64 tahun Indonesia merdeka, namun hingga kini mereka masih saja kesulitan mendapatkan barang dan bahan kebutuhan pokok dari dalam negeri.

ACHMAD BINTORO

Selain angkutan pesawat terbatas, harganya pun melambung tinggi. Warga Long Nawang, Malinau misalnya, terpaksa mendatangkan secara ilegal dari Tapak Mega, Malaysia dengan terlebih dulu memberikan uang sogokan kepada oknum-oknum Askar Malaysia. Begitu pula warga Long Midang dan Krayan di Nunukan.

Untuk mempercepat pembangunan di perbatasan, pemerintah pernah membentuk Badan Pengendali Pelaksana Pembangunan Wilayah Perbatasan Kalimantan. Tetapi, badan yang dibentuk lewat
Keppres 44 Tahun 1994 dan diketuai Menhankam itu tak kunjung bergerak. Warga setempat kemudian berkeinginan membentuk Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) sejak enam tahun lalu, sebagai salah satu upaya mempercepat pembangunan di wilayah itu, tapi lagi-lagi mengalami kendala. Pusat belum kunjung memberinya izin.
Lalu sampai kapan keadaan ini berakhir?


PATUTKAH menyebut warga Desa Long Bawan, Kabupaten Nunukan, Kaltim sebagai orang kaya? Bayangkan saja, setiap kali mereka membeli barang kebutuhan pokok selalu dengan harga jauh lebih tinggi dibanding masyarakat dari daerah lain di Indonesia. Garam dapur, mereka beli seharga Rp 35.000 per kilo gram, gula pasir Rp 13.500 per bungkus (8 ons), dan bensin premium Rp 15.000 per liter.



Patut pulakah menyebut masyarakat Desa Long Nawang di Malinau sebagai orang kaya ketika mereka harus mengeluarkan duit hingga Rp 1,4 juta untuk 1 sak semen ukuran 50 kg yang dibelinya dari Malinau atauTarakan? Karena keterbatasan angkutan pesawat, harganya memang jadi melambung. Jika barang yang sama itu dibeli dari Malaysia, harganya bisa lebih "murah" (meski tetap saja tidak bisa disebut murah), hanya Rp 700 ribu.

Barang-barang ini harus melewati get-get (semacam pintu-pintu pemeriksaan tidak resmi) yang sengaja dipasang oleh Askar Malaysia agar mereka mendapatkan upeti dari barang tersebut. Ingkong Ala, tokoh masyarakat Desa Long Nawang mengatakan, harga diri bangsa memang dipermainkan di sini. Namun kita tidak punya pilihan lain sebab bila menunggu bantuan pemerintah pusat dan provinsi, kenyataannya tidak pernah ada. Ada memang subsidi ongkos angkutan barang, tetapi tetap volumenya tidak bisa memenuhi kebutuhan warga perbatasan selama satu tahun, sehingga harganya masih saja tinggi.

"Semenjak dahulu kita sudah ambil barang di Malayisa secara ilegal karena hanya Tapak Mega saja yang menjadi harapan kita untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tiga kecamatan perbatasan. Sebab bila menunggu bantuan pusat dan provinsi, kapan lagi," ucapnya.

Ketika bepergian ke luar daerah, mereka pun selalu naik pesawat, kendati itu hanya menuju ibukota kabupaten. Bahkan, sekedar membeli rokok saja, kadang harus terbang ke Tarakan. Tapi patutkah kita menyebut warga di dua desa ini sebagai orang terkaya? Jawabnya: tidak!

Kalau toh mereka rela mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk membayar barang-barang pokok kebutuhan sehari-hari, bukan berarti mereka termasuk dalam kelompok orang berkelebihan duit. Keadaanlah yang memaksa mereka harus membeli dengan harga yang mencekik leher. Long Midang adalah sebuah desa kecil yang terletak di garis perbatasan Indonesia-Malaysia, berada di punggung bukit di pinggir kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).

Di kawasan hutan lebat di desa inilah, diduga, heli Bell 206 milik Malaysia yang ditumpangi sejumlah pejabat tinggi Malaysia -- di antaranya Menteri Muda di Pejabat Ketua Menteri Dr Judson Tagal -- jatuh hari pada 12 Juli 2004 silam. Ratusan warga setempat dikerahkan untuk membantu pencarian korban. Ini merupakan pengulangan misi pencarian yang sama yang pernah dilakukan dua tahun sebelumnya, saat pesawat berpenumpang delapan orang BN-2A dari Tarakan menuju Long Bawan menabrak Gunung Tudal di Dusun Binuang, sekitar lima mil dari Bandara Yuvai Semaring Long Bawan atau 16 kilometer dari garis perbatasan Malasyia, 16 Juli 2002.

Tempat ini merupakan daerah perbukitan yang ditutupi kawasan hutan hujan pegunungan tingi dan rendah. Hutannya tergolong bagian dari TNKM yang dikenal amat perawan dengan ketinggian pohon rata rata mencapai 50 meter. Dua hari kemudian, setelah melalaui perjalanan kaki yang melelahkan, seluruh korban tewas BN-2A akhirnya berhasil dievakuasi. Sedang Bangau Yuni Samuel (20) yang semula dikabarkan turut tewas bersama pilot dan penumpang lain dan "jasadnya" telah terlanjur dikubur, belakangan baru diketahui ternyata masih hidup. Pemuda itu ditemukan keluar dari hutan Dusun Pa' Padi dengan hanya mengalami luka lecet di beberapa bagian tubuhnya, seminggu kemudian.

Long Midang tidak bisa dijangkau dengan angkutan darat, sungai maupun laut. Dari Tarakan maupun Nunukan, desa ini hanya bisa dijangkau dengan angkutan udara. Setidaknya tiga kali seminggu, pesawat kecil jenis BN-2A, Cessna maupun Twin Otter yang dioperasikan DAS dan MAF rutin mengunjungi Bandara Yuvai Semaring Long Bawan (ibukota Kecamatan Krayan). Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan ojek sepeda motor di jalanan tanah berpasir sejauh 11 kilometer dengan ongkos 35 Ringgit Malaysia (sekitar Rp 91.000).

Meski sudah 64 tahun Indonesia merdeka, daerah ini, juga daerah-daerah lain di sepanjang perbatasan ternyata masih belum dapat dijangkau dengan angkutan darat. Satu-satunya jalan beraspal hanyalah jalan desa yang menghubungkan ke Long Bawan, itu pun baru dikerjakan setelah otonomi daerah bergulir dan perlu waktu bertahun-tahun untuk membangunnya karena hampir semua peralatan berat (termasuk mesin penggerus badan jalan) harus diangkut dengan pesawat helikopter.

Selama berpuluh-puluh tahun, kondisi desa ini tidak berubah. Sejak era kepemimpinan Soekarno yang kemudian beralih ke Soeharto hingga penguasa orde baru itu tumbang, lantas berganti ke Habibie serta Gus Dur, dan kembali ke anak Soekarno: Megawati, lalu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Long Midang tetap saja terisolir dan nyaris tidak tersentuh oleh geliat pembangunan. Kontras sekali dengan Ba' Kelalan, sebuah distrik (semacam kecamatan) di Sabah yang terletak di depan mereka yang bisa dijangkau hanya dengan satu-dua jam naik motor. ***

RUPIAH hampir tak diminati masyarakat di daerah perbatasan ini. Kalau pun terpaksa ada warga yang membayar sesuatu dengan uang Rupiah, acuan nilai tukarnya selalu kepada Ringgit. Sebutlah misalnya ketika sejumlah pegawai negeri sipil (PNS) di Long Bawan menerima gaji rupiah, biasanya akan lebih dulu menukarkannya dengan uang Ringgit agar dapat lebih mudah dibelanjakan. Kenapa? Sebab hampir semua barang kebutuhan pokok warga diperoleh dari Ba' Kelalan, Malaysia.

Kondisi dan tingkat sosial ekonomi masyarakat di dua daerah perbatasan itu memang sangat berbeda. Bolehlah diibaratkan seperti bumi dengan langit. Perbedaan mencolok ini juga terjadi di semua daerah perbatasan lain di garis perbatasan Kaltim-Sabah, seperti Nunukan dengan Tawao.

Di Tawao maupun di Ba' Kelalan, sekalipun hanya menjadi petani, masyarakat umumnya hidup cukup makmur. Di setiap rumah terparkir setidaknya satu mobil dan sebuah sepeda motor, dengan perabotan rumah tangga yang modern. Jalan-jalan yang menghubungkan Ba' Kelalan, Tawao dan kota-kota besar maupun kecil lain di Negara Bagian Sabah menyerupai jalan tol yang bisa dilalui sekaligus oleh empat kendaraan.

Sepanjang mata memandang, perkebunan kelapa sawit dan kako plus industrinya menghampar luas. Kendaraan yang lalu lalang pun merupakan kendaraan mewah seperti Toyota Land Cruiser Turbo, Mitsubishi Pejero, Ford, Mercedes keluaran terakhir, di samping tentu saja mobil nasional, Proton Saga. Bandingkan dengan Long Midang, Long Bawan atau Kota Nunukan sekali pun.

Di ibukota kabupaten paling utara Kaltim ini, kendaraan termewah hanyalah Nissan Teranno yang menjadi kendaraan dinas Bupati. Kondisi yang jomplang inilah yang membuat warga Long Midang dan Nunukan umumnya amat tergantung pada daerah-daerah di negeri seberang. Di Ba' Kelalan tidak hanya tersedia sarana umum yang sangat memadai, melainkan juga menyediakan hampir semua barang primer dan sekunder mulai dari bahan makanan sehari-hari, bahan bangunan, perabot rumah tangga, barang elektronik, restoran, tempat wisata hingga kendaraan bermotor.

Di sanalah masyarakat membeli hampir semua kebutuhan sehari-hari setelah menjual hasil pertanian, terutama beras dan ternak. Sebab itu tidak mengherankan kalau harga barang barang kebutuhan pokok di desa ini sangat mahal. Yang masih tergolong murah barangkali hanya beras, sekitar 7 Ringgit (Rp 18.200/) per gantang (= 14 muk atau 4 Kg), sebab merupakan produk setempat.

Beras Krayan sangat digemari masyarakat Malaysia. Baunya wangi dan pulen. Di Miri, sebuah kota penting di Serawak/Sabah, Malaysia, beras Krayan (biasa disebut beras Adan) banyak dijual dan disajikan di restoran restoran. Apalagi di kota distrik seperti Ba' Kelalan.

Ketergantungan warga tidak berhenti hanya pada masalah pemenuhan barang-barang kebutuhan pokok saja. Dibidang informasi dan hiburan pun mereka sangat tergantung pada negeri tetangga. Ini karena tidak ada siaran radio dan televisi dari Indonesia yang menjangkau sampai ke sana. Penduduk setempat menonton siaran yang dipancarkan oleh televisi Malaysia.

Radio yang jelas terdengar hanyalah siaran yang dipancarkan radio swasta dan pemerintah Malaysia baik dalam bahasa Melayu, Inggris, maupun Cina. Sehingga bisalah dipahami kalau hal hal yang diperbincangkan masyarakat Kaltim di perbatasan cuma seputar perkembangan masalah yang terjadi di Malaysia.

Mereka juga lebih mengenal tokoh tokoh dan pejabat di Tawao, Kuching, Kinabalu, Sampoerna dan Kuala Lumpur. Sedangkan nama nama pejabat dalam negeri termasuk nama Gubernur Kaltim, Bupati Nunukan hingga perkembangan perpolitikan sedikit sekali yang mengetahuinya. Untuk mencapai Ba' Kelalan, warga Long Midang hanya memerlukan waktu sekitar dua jam dengan ojek sepedamotor (umumnya jenis trail rakitan Malaysia). Tapi jika cuma mencapai Desa Buduk Nur, desa terdekat di perbatasan Malaysia, cukup jalan kaki saja selama dua menembus jalan setapak di lembah perbukitan. Hubungan dagang antardua bangsa ini sudah terjalin lama.

Apa lagi, menurut Kepala District Office Ba' Kelalan Jackson Labao, banyak di antara warga Malaysia yang mempunyai pertalian darah dengan warga Long Midang yang umumnya suku Dayak Lundayeh. Hal senada juga diakui Kades Long Midang S Samuel Bangau.

"Keadaanlah yang memaksa kami menjadi lebih suka berhubungan dengan warga asing di Malaysia. Tapi mereka, bagi kami bukan orang asing. Justru kamilah yang merasa asing di negeri sendiri," kata Samuel Bangau.

Sebagai sebuah etalase Indonesia di utara Kaltim, kondisi Long Midang dan Kota Nunukan mestinya tidak boleh tertinggal terlalu jauh dibanding daerah di negeri seberang. Tapi fakta yang terjadi selama 63 tahun Indonesia merdeka ternyata sudah seperti itu. Entah sampai kapan keadaan jomplang seperti ini bisa diseimbangkan. Sementara dari hari ke hari, sumberdaya hutan di daerah perbatasan tersebut terus terkikis oleh aksi penebangan ilegal. Aksi penyelundupan pun juga bertambah marak. Begitulah, persoalan-persoalan perbatasan agaknya menjadi makin ruwet saja. ***

TERSEDIANYA jalan darat yang memadai menuju Ba' Kelalan (Wilayah Negara Bagian Serawak, Malaysia) sangat didambakan warga Long Midang dan Kecamatan Krayan. Jalan tradisional berupa jalan setapak yang ada selama puluhan tahun menjadi jalur perdagangan penting antarwarga di kedua negara tersebut, terutama masyarakat Krayan yang selama ini memiliki ketergantungan amat tinggi terhadap negeri tetangga.

Tapi kondisinya kerap berlumpur bahkan tidak bisa dilalui bila hujan turun. Kalau saja janji pemerintah untuk meningkatkan ruas jalan itu dapat direalisasikan, setidaknya mereka tidak akan lagi terisolasi ke luar negeri. Dalam jangka pendek, membuka isolasi ke luar negeri ini agaknya yang harus lebih dulu dipecahkan ketimbang membuka isolasi ke dalam negeri (Malinau).

Beras merupakan produk andalan warga Long Midang dan warga desa lainnya di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan. Sekitar 90 persen dari 9.286 jiwa penduduk Krayan yang menghuni areal seluas 3.114 Km2, dengan kepadatan hanya 2,98 jiwa per Km2, adalah petani. Beras Krayan sudah dikenal luas hingga Ba' Kelalan, Miri dan sejumlah daerah lain di Negara Bagian Serawak, Malaysia.

Warga setempat menyebutnya sebagai beras adan yang memiliki rasa khas, pulen dan beraroma wangi. Selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri, mereka juga menjual atau menukarkannya dengan barang-barang kebutuhan lain di Ba' Kelalan. Di Negara Bagian Serawak itu, beras dijual seharga 7 Ringgit Malaysia per gantang (sekitar 4 Kg). Demikian pentingnya beras bagi masyarakat Krayan, sehingga mereka memiliki kebiasaan menyimpan di tiga tempat. Yakni di lumbung sawah, lumbung rumah, dan lumbung desa (gereja).

Di setiap lumbung rumah, rata-rata memiliki persediaan tidak kurang dari 100-200 kaleng beras (1 kaleng = 15 Kg atau setara dengan 1,5-3 ton). Melalui jalan tradisional itu, mereka bisa setiap saat bepergian ke Malaysia. Jalan tersebut terbentang dari Long Bawan menuju Long Api, Buduk Tumu, Long Midang, hingga Ba' Kelalan setelah melalui kaki bukit di garis perbatasan. Beberapa ruas di antaranya bahkan sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda empat, meski alat tranpsortasi menuju ke sana umumnya adalah sepeda motor trail rakitan pabrik di Malaysia.

Jalan sepanjang 16 kilometer ke garis perbatasan itu menjadi jalur perdagangan yang sangat penting antarmasyarakat kedua negara. Tapi sayang, kondisinya masih sangat memprihatinkan. Menjadi becek dan berlumpur jika hujan turun sehingga sulit dilalui bahkan dengan jalan kaki sekali pun. Sejauh ini kurang ada perawatan. Padahal Pemerintah Indonesia-Malaysia melalui forum Sosek Malindo telah menyepakati jalur tersebut sebagai salah satu poros ekonomi antarkedua negara di masa mendatang.

Jalur itu juga telah ditetapkan oleh Pemprov Kaltim sebagai jalan yang akan dibangun bagian dari jalan Trans Kaltim Poros Utara melalui Malinau-Pa' Padi-Long Bawan-Long Midang. Kapan realisasinya? Sejauh ini belum ada target waktu yang pasti. Sebab memang akan diperlukan dana sangat besar untuk mewujudkan rencana pembukaan isolasi tersebut. Sempat muncul rencana untuk membangun jalan baru yang membelah Taman Nasional (TN) Kayan Mentarang dari Pa' Betung (Krayan-Indonesia) ke Long Pasia (Sabah-Malaysia).

Tersedianya jalan yang memadai di perbatasan memang menjadi target terpenting yang harus dicapai. Bukan saja karena terkait gengsi mengingat sarana jalan di perbatasan di wilayah negeri tetangga sudah tersedia mulus dan lebar mirip jalan tol, lebih dari itu adalah demi kepentingan yang lebih luas yakni membuka isolasi geografis yang selama berpuluh tahun ini menutupi bumi Krayan.

Tetapi rencana itu kandas setelah ditentang pegiat lingkungan. Ya kalau pada akhirnya dilakukan dengan cara menebangi kayu di kanan kiri di sepanjang jalan yang akan dibangun sehingga merusak ekosistem TN Kayan Mentarang, buat apa? Menurut catatan WWF Indonesia Kayan Mentarang Project, celakanya, karena -- dengan alasan -- dana minim, rencana pembangunan jalan sepanjang sekitar 100 Km itu akan dilakukan dengan jalan model kompensasi. Artinya, pihak investor yang bersedia (Yayasan Pembangunan dan Pendidikan Perbatasan Kaltim=YP3KT bekerja sama dengan Sabah Forest Industrty=SBI) akan diberi kompensasi berupa hasil hutan kayu sepanjang jalan selebar 3 Km.

Dengan cara ini, maka kerusakan keanekaragaman hayati yang akan terjadi sebanding dengan dua kali lipat dari nilai kayu yang diambil dan dampak kerusakan ekologinya akan menjadi empat kali lipat. Mengerikan untuk dibayangkan kerusakan lingkungan seperti apa yang akan terjadi, apabila ada land clearing dalam area seluas 60.000 hektare di TN Kayan Mentarang.

Arif Data Kusuma, Awareness & Education Officer WWF Indonesia Kayan Mentarang Project di Tarakan, mengatakan, saat ini investor tersebut memang sudah mundur sehingga Pemkab Nunukan juga tidak bisa melanjutkan rencana tersebut. Namun bukan berarti rencana itu tidak akan dihidupkan lagi. Soal investor bisa siapa saja. "Karena itu penting untuk membuat komitmen kuat secara multipihak agar rencana itu dikubur dalam-dalam dan tidak pernah akan direalisasikan," kata Data.

Banyak jalan menuju roma. Banyak pula jalan menuju Malaysia. Tergantung kita, mau memilih jalan yang mana agar isolasi bisa terbuka dan tingkat sosial ekonomi masyarakat Krayan dan perbatasan Kaltim bisa tertingkatkan. Kalau rencana investor (Pa' Betung-Long Pasia) yang diterapkan, dampaknya akan sangat merugikan lingkungan. Terlalu besar pertaruhannya. Lagi pula, bukannya masyarakat yang akan diuntungkan -- karena kenyataannya di sepanjang ruas itu tidak melalui pemukiman kecuali pemukiman di ujung-ujung jalan -- justru aktivitas illegal logging ke Malaysia akan kian marak.

Sedang kalau jalur Long Bawan-Ba' Kelalan yang ditingkatkan, setidaknya empat masyarakat kampung di sepanjang ruas jalan itu akan merasakan manfaat besar. Terlebih topografinya lebih memungkinkan, di dataran rendah dengan kemiringan di bawah 40 persen. Ke depan, jalur ini juga bisa mejadi cikal perluasan pasar tidak hanya ke Serawak, melainkan bisa dikembangkan ke Brunei dan Singapura lewat Lawas. Artinya, isolasi ke luar negeri bisa terbuka, isolasi ke dalam negeri pun juga terbuka dengan membuat jalan lanjutan menuju Malinau. ***

NIAT untuk membangun kawasan perbatasan Kaltim Malaysia sudah berulangkali diungkapkan oleh pejabat. Mantan Gubernur Kaltim Suwarna misalnya setidaknya sudah empat kali mengunjungi Long Midang, juga pernah mengemukakan keinginannya melihat masyarakat perbatasan maju, dan bisa membangun ruas jalan menuju ke sana.

Gubernur Kaltim sekarang, Awang Faroek Ishak ketika kampanye juga memberikan perhatiannya yang besar untuk membangun perbatasan. Ia pun telah membentuk badan khusus yang menangani perbatasan dan menunjuk seorang putera dayak sebagai pemimpin lembaga itu. Tetapi, masalahnya tidaklah sederhana. Diperlukan dukungan dana yang besar serta dukungan politis yang kuat dari pemerintah pusat dan kalangan legislatif.

Pemerintah RI sendiri sebenarnya sudah sejak 15 tahun lalu memiliki rencana membangun kawasan perbatasan. Tidak cuma membangun Desa Long Midang, Simenggaris dan Sei Pancang sebagai tiga bording area di Kaltim, tapi rencana itu mencakup keseluruhan wilayah perbatasan Kalimantan-Sabah dan Serawak (Malaysia) yang terbentang sejauh 3.000 Km.

Pemikiran itu sempat dituangkan dalam bentuk Keppres No 44 Tahun 1994 dengan membentuk Badan Pengendali Pelaksana Pembangunan Wilayah Perbatasan Kalimantan (BP3WPK). Sayang, badan yang diketuai Menhankam bersama 13 anggota, termasuk Pangdam VI/TPR, Gubernur Kaltim dan Gubernur Kalbar itu tidak segera membuat gebrakan nyata di lapangan.

Kalau pun ada yang disebut gebrakan hanyalah skala kecil-kecilan yakni berupa program ABRI Manunggal Desa (AMD) dengan membangun ruas jalan-jalan desa di kawasan perbatasan. Tapi umumnya tak lebih sebagai simbolis sebab ruas-ruas jalan itu tidak ditindaklanjuti dengan peningkatan, sehingga kurang bisa lama bermanfaat bagi masyarakat. Sementara hak monopoli pengelolaan hutan di sepanjang perbatasan yang dulu pernah diberikan pada PT Yamaker -- perusahaan HPH milik yayasan ABRI -- di sisi lain malah menimbulkan konflik konflik terpendam dengan warga setempat.

Niat pemerintah memberikan hak pengelolaan hutan kepada pihak Yamaker sebenarnya baik, agar kawasan itu terjaga dari aksi pencurian oleh pengusaha dari Malaysia. Tapi maksud niat saja rupanya tidak cukup. Kendati hak monopoli PT Yamaker bersama Keppres 44 tahun 1994 sudah dicabut, tak berarti masalah selesai. Penunjukan Perum Perhutani, BUMN di bawah Departemen Kehutanan, adalah model lain dari suatu monopoli dan tidak memberikan solusi apapun dalam membangun masyarakat dan kawasan perbatasan.

Dan kini, masyarakat di wilayah utara berkeinginan membentuk sendiri menjadi provinsi baru, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Provinsi ini terdiri lima daerah yakni Tarakan, Bulungan, Nunukan, Laminau, dan Tana Tidung. Kaltara diharapkan bisa menjawab kesulitan yang dihadapi masyarakat di wilayah utara selama ini, termasuk perbatasan. Mereka ingin Kaltara bisa terbentuk sebelum Pemilu 2009. Tapi pemerintah pusat sudah memberikan sinyal bahwa tidak ada pemecahan daerah baru hingga Pemilu 2009.

Pemerintah RI agaknya tak pernah mau belajar dari kesalahan, tidak mau memahami akar persoalan yang timbul. Kesenjangan sosial ekonomi yang berpuluh puluh tahun diderita masyarakat, akibat hak monopoli dalam pengelolaan SDA setempat, ternyata masih belum membuat pemerintah bersedia meninjau ulang kebijakannya terhadap perbatasan. Haruskah kesenjangan ekonomi, sosial dan buadaya di wilayah etalase Indonesia itu akan terus terjadi? Haruskah mereka terus terasing di negeri sendiri? (@)

Tidak Tahu Siapa Preside
Tak Tahu Nama Presiden RI

Tanyalah kepada warga Desa Long Betaoh, Kabupaten Malinau siapa Presiden RI sekarang. Hampir dipastikan mereka akan celingukan, tidak tahu harus menjawab apa. Bukan malu. Tapi memang tidak tahu nama dan wajah Presiden kita. Desa itu berjarak hanya tiga kilo meter dari pos perbatasan.

Selama ini mereka jarang melakukan kontak sosial maupun dagang dengan daerah lain di dalam negeri. Kebutuhan sehari-hari mereka datangkan dari negeri tetangga, Malaysia. "Mereka tidak pernah tahu siapa presiden kita, tapi bila ditanya perkembangan politik dan hiburan di Malaysia mulai dari Perdana Menteri hingga artis Malaysia, mereka tahu. Sebab siaran TV yang bisa ditangkap di daerah ini hanya siaran TV dari Malaysia," jelas Ingkong, tokoh warga setempat.

Semenjak Indonesia merdeka tidak pernah satu pejabat pemerintah atau kepala daerah yang datang mengunjungi mereka, kecuali Bupati Malinau Dr Drs Marthin Billa, pada bulan Noveber tahun lalu. Kedatangan orang nomor satu di Malinau itu tidak lain untuk melihat perkembangan dan kemajuan yang telah dicapai oleh masyarakat Long Betaoh melalui program pemerintah daerah yakni Gerbang Dema serta melalukan peninjauan jalan menuju pos perbatasan.

Pembangunan jalan inipun dikerjakan oleh warga setempat tanpa sedikitpun bantuan dari pusat dan provinsi. Terbukanya jalan ini mempermudah masyarakat mencari kebutuhan sembako, karena jika sebelumnya masyarakat berjalan kaki selama lebih kurang 2 hari menuju Panggung, sekarang setelah jalan dibuka, warga sudah bisa menggunakan kendaraan roda empat yang nota bene milik negara Malaysia hanya dalam waktu 1,5 jam saja sudah sampai di pos perbatasan.

"Bantuan dari Pemkab Malinau memang ada dan cukup meringankan kami tapi untuk membuat jembatan saja sementara perawatan jalan maupun agregatnya belum pernah diberikan dan kita sebenarnya mengharapkan adanya kepedulian pemerintah pusat dan provinsi namun hingga kini hanya dimulut saja dan apabila jalan sudah rusak maka bukan tidak mungkin masyarakat kembali ke pola awal yakni memikul barang selama 2 hari perjalanan", kesalnya.(@)

photo credit by humas prov/malinau

6 comments:

Back Door Listings said...

Wah sungguh ironisnya, pemerintah Pusat harus bersikap dan memberikan solusi atas permasalahan isolasi, keterbelakangan dan kemiskinan yang dihadapi masyarakat perbatasan di wilayah utara Provinsi Kaltim ini.

indonesiatop said...

Kaltim provinsi yang kaya seharusnya lebih makmur dari Brunei. Sangat disayangkan..

villa in Canggu Bali said...

apa penyebab Badan Pengendali Pelaksana Pembangunan Wilayah Perbatasan Kalimantan tdk bergerak?

Nanang said...

benar-benar sungguh ironis... miris... apakah para penguasa pemerintahan tidak punya mata, telinga dan rasa?

ataukah tau tp tertutupi dengan sesuatu?

Heri Santo said...

Saya ingin berbagi cerita kepada anda bahwa saya ini HERI SANTOSO seorang TKI dari malaysia dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar IBU DARNA yg dari singapur tentan AKI SALEH yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya juga saya mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor toto 6D dr hasil ritual/ghaib dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.230.000 Ringgit ,kini saya kembali indon membeli rumah dan kereta walaupun sy Cuma pekerja kilang di selangor malaysia , sy sangat berterimakasih banyak kepada AKI SALEH dan jika anda ingin seperti saya silahkan Telefon AKI SALEH di 0853-95881177 Untuk yg di luar indon telefon di +6285395881177, Atau KLIK DISINI 2D 3D 4D 5D 6D saya juga tidak lupa mengucap syukur kepada ALLAH karna melalui AKI SALEH saya juga sudah bisa sesukses ini. Jadi kawan2 yg dalam kesusahan jg pernah putus asah, kalau sudah waktunya tuhan pasti kasi jalan asal anda mau berusaha, ini adalah kisah nyata dari seorang TKI, Untuk yg punya mustika bisa juga di kerjakan narik uang karna AKI adalah guru spiritual terkenal di indonesia. Untuk yg punya rum terimakasih atas tumpangannya

master togel said...

SALAM KENAL SEMUA,…!!! SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!

Saya Sangat BerTerima kasih Atas Bantuan Angka Ritual AKI…Angka AKI KANJENG Tembus 100%…Saya udah kemana-mana mencari angka yang mantap selalu gak ada hasilnya…sampai- sampai hutang malah menumpuk…tanpa sengaja seorang teman lagi cari nomer jitu di internet…Kok ketemu alamat KI KANJENG..Saya coba beli Paket 2D ternyata Tembus…dan akhirnya saya pun membeli Paket 4D…Bagai di sambar Petir..Ternyata Angka Ritual Ghoib KI KANJENG…Tembus 4D…Baru kali ini saya mendapat angka ritual yang benar-benar Mantap…Bagi saudara yang ingin merubah Nasib anda seperti saya…Anda Bisa CALL/SMS Di Nomer KI KANJENG DI 085-320-279-333.(((Buktikan Aja Sendiri Saudara-Saudari)))

…TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

**** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
3.JUAL TUYUL MEMEK
4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

…=>AKI KANJENG<=…
>>>085-320-279-333<<<





SALAM KENAL SEMUA,…!!! SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!

Saya Sangat BerTerima kasih Atas Bantuan Angka Ritual AKI…Angka AKI KANJENG Tembus 100%…Saya udah kemana-mana mencari angka yang mantap selalu gak ada hasilnya…sampai- sampai hutang malah menumpuk…tanpa sengaja seorang teman lagi cari nomer jitu di internet…Kok ketemu alamat KI KANJENG..Saya coba beli Paket 2D ternyata Tembus…dan akhirnya saya pun membeli Paket 4D…Bagai di sambar Petir..Ternyata Angka Ritual Ghoib KI KANJENG…Tembus 4D…Baru kali ini saya mendapat angka ritual yang benar-benar Mantap…Bagi saudara yang ingin merubah Nasib anda seperti saya…Anda Bisa CALL/SMS Di Nomer KI KANJENG DI 085-320-279-333.(((Buktikan Aja Sendiri Saudara-Saudari)))

…TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

**** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
3.JUAL TUYUL MEMEK
4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

…=>AKI KANJENG<=…
>>>085-320-279-333<<<




SALAM KENAL SEMUA,…!!! SAYA MAS JOKO WIDODO DI SURABAYA.
DEMI ALLAH INI CERITA YANG BENAR BENAR TERJADI(ASLI)BUKAN REKAYASA!!!

Saya Sangat BerTerima kasih Atas Bantuan Angka Ritual AKI…Angka AKI KANJENG Tembus 100%…Saya udah kemana-mana mencari angka yang mantap selalu gak ada hasilnya…sampai- sampai hutang malah menumpuk…tanpa sengaja seorang teman lagi cari nomer jitu di internet…Kok ketemu alamat KI KANJENG..Saya coba beli Paket 2D ternyata Tembus…dan akhirnya saya pun membeli Paket 4D…Bagai di sambar Petir..Ternyata Angka Ritual Ghoib KI KANJENG…Tembus 4D…Baru kali ini saya mendapat angka ritual yang benar-benar Mantap…Bagi saudara yang ingin merubah Nasib anda seperti saya…Anda Bisa CALL/SMS Di Nomer KI KANJENG DI 085-320-279-333.(((Buktikan Aja Sendiri Saudara-Saudari)))

…TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA AKI KANJENG…

**** BELIAU MELAYANI SEPERTI: ***
1.PESUGIHAN INSTANT 10 MILYAR
2.UANG KEMBALI PECAHAN 100rb DAN 50rb
3.JUAL TUYUL MEMEK
4.ANGKA TOGEL GHOIB.DLL..

…=>AKI KANJENG<=…
>>>085-320-279-333<<<