KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 10, 2009

Mirip Parade Sirkus Saja!!!

Bukan Achmad Amins namanya kalau tidak melontarkan kata-kata pedas yang seringkali membuat panas telinga dan memerahkan muka pejabat. Hampir seluruh pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemkot Samarinda, termasuk almarhum Sekkot M Saili, hapal betul "kegarangan" bosnya ini.

ACHMAD BINTORO

Karena itu, kalau saja masih boleh memilih, banyak diantara mereka mungkin akan lebih memilih untuk tidak hadir dalam rapat, acara pelantikan maupun forum-forum bahasan resmi yang dipimpin Walikota Samarinda. Mereka rela dicap sebagai "pembolos" asalkan bisa terhindar dari semprotan sang bos yang bisa terlontar kapan pun dan dalam kondisi apa pun itu.

Menurut mereka, acapkali semprotan itu melewati batas kepatutan. Ini karena, saat memberi teguran, Amins dianggap tidak mengemasnya dengan kalimat-kalimat yang lebih bijak dan manis. Setidaknya, masih menurut klaim mereka, kalaupun harus menggunakan kata-kata yang pedas, janganlah disampaikan di depan anak buah mereka atau di depan umum, terlebih di depan watawan.

"Kami tahu teguran itu tujuannya baik. Tapi ya jangan kalimat pedas macam itu, diucapkan di muka umum dan di depan anak buah kan malu kita," kata seorang pejabat eselon IIIb yang enggan disebut namanya.

Dalam suatu rapat yang dihadiri pimpinan badan, dinas dan berbagai kalangan di Balai Kota, ia mengaku pernah tiba-tiba ditegur dengan kata-kata yang menurutnya sangat tidak etis, hanya karena ia tidak bisa datang tepat waktu. Amins mengucapkan kata-kata itu dengan menggunakan bahasa Banjar.

Seorang camat, yang memimpin daerah terluas di Samarinda, juga mengakui "kebiasaan" bosnya itu. Tetapi lepas dari penilaian minus para pejabat itu, Amins memang dikenal tegas dalam mengkritisi kinerja para pegawainya. Satu di antara yang ia kritisi adalah soal kebiasaan para pejabat dan pegawainya yang suka beramai-ramai menghadiri undangan ke luar kota.

Amins mengetahui banyak pegawainya yang suka bolak-balik ke Jakarta dan ke kota-kota lain di luar Kaltim. Dengan dalih menghadiri sebuah undangan seminar, pelatihan atau lokakarya, mereka acapkali pergi berbondong-bondong. Malah tak jarang, pegawai itu mengontak panitia di Jakarta meminta undangan, meski sebenarnya tidak termasuk dalam daftar yang turut diundang, hanya agar ada alasan untuk berangkat.

"Lho, yang diundang satu dua orang. Tapi yang berangkat kok sampai 12 orang, apa-apaan ini. Mirip parade sirkus saja," sindir Amins, dengan bahasa yang masih halus.

Teguran ini ia ungkapkan di depan para pejabat, pimpinan DPRD dan sejumlah undangan yang memenuhi ruang pendopo Rumah Jabatan Walikota Samarinda di Jalan S Parman pada acara pelantikan pejabat eselon.

Walikota kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, yang kadang suka keluyuran sendiri di Pantai Talise Palu ini mengakui masih banyak pegawainya yang belum disiplin. Etos kerja mereka amat rendah. Ia berpesan kepada Sekkot Samarinda untuk lebih ketat menyeleksi tiap undangan. Jika tidak perlu dan bermanfaat bagi kemajuan kota tidak usah dihadiri daripada buang uang rakyat saja.

"Bila Anda (Sekkot Samarinda) pun tidak becus bekerja, minggu depan pun Anda bisa dilengserkan," tambahnya tegas di depan Sekkot.

Masih terkait dengan kedisiplinan, Amins juga menyindir pegawainya yang bertugas menangani proyek pembongkaran rumah di sepanjang tepian Sungai Karangmumus. Suatu ketika, pernah Amins bertanya kepada anak buahnya, kapan relokasi rumah itu bisa dirampungkan.

"Dijawab, 12 bulan pak ai, Tapi kenyataannya sekarang ini sudah 13 bulan jalan dan proyek itu belum juga tuntas. Jadi memang ada eselon II yang ibarat pahat, bila kada digatuk kada bagawi (bila tidak ditegur, tidak bekerja)," kata Amins.

*****
Begitulah Amins. Tegas dan apa adanya. Sayang sekali, Amins kini jarang menyemprotkan kata-kata pedas kepada pejabat atau stafnya. Apakah itu pertanda bahwa kinerja pejabat dan stafnya sudah lebih baik dan banyak permasalahan kota sudah bisa diatasi?

Tapi rasanya kok tidak juga bila diasumsikan macam itu. Freekwensi kebakaran rumah toh masih tinggi. Belakangan malah kian sering. Pernah dalam tiga hari berturut-turut kebakaran terjadi bergantian di tempat terpisah. Terakhir, si jago merah menghanguskan 49 ruko dan puluhan petak pedagang di Blok A Pasar Segiri hingga menimbulkan kerugian sekitar Rp 200 miliar. Sejak Januari hingga tulisan ini diposting, tercatat sudah 63 kali terjadi peristiwa kebakaran di kota berpenduduk 700 ribu jiwa ini.

Tapi toh sejauh ini tidak terdengar dan tak terlihat aksi yang lebih greget dari pemkot untuk mengingatkan warganya untuk lebih waspada. Tak ada pula komentar dari Amins. Kondisi fasilitas umum juga tidak menjadi lebih baik. Beberapa ruas jalan kota masih berlubang. Acapkali sekedar untuk mengaspal kembali bekas galian yang cuma beberapa meter saja saja dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan menahun. Kerusakan ruas jalan di depan Pelabuhan, yang berada di tengah kota, sudah terjadi berbulan-bulan. Kondisinya parah dan kotor karena berbaur dengan tumpukan sampah. Ah, masih terlalu banyak untuk ditulis kalau harus menjelaskan satu per satu keadaan kota yang masih jauh dari Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman (Tepian).

Kalau begitu kenapa Walikota meninggalkan kebiasaan lamanya itu, yang dalam batas tertentu sebenarnya bisa memberikan efek jera kepada para pejabat untuk tidak lagi lalai dalam mengurus kota ini.

Warga melihat greget Amins sudah mulai berkurang dalam mengurus kota. Intensitasnya mulai menurun setelah ia gagal memenangkan Pilgub Kaltim 2008 lalu. Padahal masa bhaktinya sebagai Walikota masih setahun lagi, sampai 2010. Pak Wali, warga merindukan "kegaranganmu" yang dulu. Meski mungkin terdengar pedas, tapi kalau itu bisa mencambuk para pejabat untuk lebih memperhatikan layanan kota dan menjadikan kota ini bisa lebih maju, ya kenapa tidak. Jangan biarkan kota yang dibelah oleh Sungai Mahakam yang mempesona, dengan potensi yang tak terbilang besarnya itu, menjadi kotor, semrawut dan membuat kenyamanan warga menjadi berkurang.

Tapi garang saja ternyata tidak cukup. Diperlukan terobosan, keberanian berpikir out of the box  dan niat yang baik untuk membangun kota ini tanpa direcoki oleh konflik kepentingan.(*)

3 comments:

Anonymous said...

oke jg

Budi Mulyono said...

Assalamualaikum Mas Bintoro...
Apa Kabar??? Salam, berkunjung saja...

lovlycious rain said...

nice info...
terima kasih....