KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jul 21, 2009

Batubara Habis, Migas Habis, Lalu Apa Lagi?

Sebuah Tugboat Menarik Ponton Batubara di Mahakam

Mendapat kemelimpah-ruahan sumberdaya alam, ternyata tidak lantas membuat Kaltim menjadi sejahtera. Yang terjadi malah sebaliknya, Kaltim dalam "paradox of plenty", meminjam istilah Terry Lynn Karl, profesor Ilmu Politik pada Stanford University. Begitu banyak paradoksal di bumi kaya sumber alam ini, dan entah kapan akan sirna. Kalau minyak bumi, gas alam, batu bara dan bahan esktraktif lainnya pun habis, entah pendapatan dari sektor apa lagi yang bisa dibanggakan dan dimanfaatkan untuk menyejahterakan masyarakat.

ACHMAD BINTORO

Kaltim mungkin tak bisa lagi berbangga diri dengan julukan "Si Jamrud Katulistiwa". Kenyataannya tak ada lagi rimbun hutan di banyak kawasan di bumi Kaltim. Jengkal lahan yang dulu riap lebat oleh pohon Ulin dan Meranti kini telah berubah menjadi lahan-lahan gersang penuh ilalang. Tak ada lagi yang dapat dibanggakan, selain secuil kisah bahwa Kaltim pernah menjadi pemasok kayu terbesar di Indonesia dan dunia.

Dulu para pemuda bisa membusungkan dada dapat bekerja di Kalimanis Group atau perusahaan HPH lainnya di Kaltim. Tapi setelah ribuan chainsaw membabat habis hutan Kaltim, perusahaan-perusahaan itu pun seperti kehilangan sumber kekuatannya. Mereka bangkrut satu demi satu.

Pernah tercatat ada 105 HPH dan 26 industri kayu lapis, kini yang bertahan tidak lebih dari jumlah jari di tangan. Itu pun dengan nafas tersengal. Puluhan ribu pekerja ter-PHK. Bekerja di sektor kehutanan bukan lagi menjadi mimpi anak-anak kita. Fakultas Kehutanan Unmul yang dulu menjadi incaran ribuan calon mahasiswa, kini nyaris tak diminati. Punahnya hutan juga membawa bencana. Banjir meluas di segala tempat, dari hulu hingga hilir. Selama puluhan tahun Kaltim mendapat dari hasil eksploitasi hutan itu berupa bagian Iuran Hasil Hutan (IHH), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan pajak lainnya.

Tapi, apakah pendapatan itu telah membuat masyarakat Kaltim menjadi sejahtera? Apakah pendapatan itu telah membuat infrastruktur di Kaltim menjadi lebih baik dan angka kemiskinan terkikis? Jawabanya adalah tidak! Kalau hutan gundul mungkin tidak terlalu membuat kita risau. Sebab suatu saat masih bisa tumbuh lagi. Tetapi bagaimana kalau yang habis itu berupa cadangan minyak bumi, gas alam, batu bara, emas, dan bahan tambang lainnya?


Kalau bahan-bahan mineral itu habis, maka akan habis selamanya. Jika habis berarti Kaltim tidak akan terima lagi pendapatan dari hasil sektor ekstraktif. Tak ada lagi pendapatan lifting migas dan batubara yang selama empat tahun terakhir saja mencapai Rp 49,89 triliun.

Jadi, ungkap Direktur Pokja 30 Samarinda Carolus Tuah, mumpung masih memiliki sumberdaya alam, Kaltim harus dapat memanfaatkan pendapatan dari sektor ekstraktif itu untuk menyejahterakan rakyat. Celakanya para pejabat publik penyelenggara pemerintahan cenderung berpikir pendek, mementingkan untuk memperkaya diri. Sehingga berkah besar dari bagi hasil migas dan tambang yang diperoleh sejak era otda, hanya melahirkan "kutukan" dan ajang korupsi.

Acapkali proses penganggaran bersifat elitis dan tidak transparan. Akses publik ke dokumen anggaran amat kurang. "Kalau saya bisa dapatkan itu karena saya punya dua jurus. Pertama, mencuri, dan kedua mencuri lagi. Padahal sudah banyak peraturan yang menjamin keterbukaan informasi. Musrenbang juga tidak optimal dan hanya formalitas," katanya.

Karena tak ada transparansi dan akuntabilitas, praktis roda pemerintahan bersifat oligarki, yakni pola pemerintahan yang dijalankan beberapa orang yang berkuasa dari kelompok tertentu. APBD/APBN akhirnya dibedah dan dimanfaatkan berdasar kepentingan mereka. Lobi atau bisik- bisik di parlemen dan di pemerintah oleh kroni bisnis akhirnya menjadi yang didengar dan mereka perjuangkan daripada teriakan keras rakyat.

"Transparansi adalah pangkal akuntabilitas. Kekayaan sumberdaya alam ini mestinya bisa menciptakan ekonomi negara/daerah yang kuat bila dikelola secara akuntabel dan transparan. Botswana, Cili, serta Norwegia contohnya," tambah Ridaya Laodengkowe, Koordinator PWYP Indonesia.

Bahkan, negara kaya minyak seperti Bahrain ternyata menyadari bahwa minyak bumi suatu saat pasti habis. Mereka lalu menggunakan petrodolar dari penjualan minyak itu untuk meningkatkan infrastruktur, layanan pendidikan, kesehatan dan membangun wisata dan citra baru sebagai surga belanja dunia. Tak akan lagi andalkan minyak setelah dua dekade ke depan. Bangunan hotel dan pusat perbelanjaan modern pun mereka bangun.(*)

5 comments:

Bali Transports said...

Wah... kasian ya! nasibnya kaltim padahal kaya akan semberdaya alamnya.

Salam kenal Thanks,
Ayu

achmadbintoro said...

thanks mbak ayu. Dibandingkan Bali wow... jauh.

Salam kenal n salam buat teman2 di Bali Transports

Candidasa Bali said...

SEBAIK NYA KALTIM BERBENAH DIRI DARI EVENT TERSEBUT.

Bali Wedding organizer said...

wah ni ni yg sya cri dri dlu...

bali adventure tours said...

Kaltim mesti menjaga sumber daya alamnya dengan baik krn tidak semua kota punya kekayaan alam seperti di Kaltim contohnya Bali..