KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Apr 7, 2009

Kaltim dan Kutukan SDA

Di Kutai Timur ada KPC, salah satu tambang batu bara terbesar dunia. Tapi kemiskinan di sana ternyata begitu tinggi, 48 persen dari total penduduk yang cuma 203.156 jiwa (2005). Kukar lebih ironi. Daerah ini kaya minyak, gas dan batu bara. Disebut-sebut sebagai kabupaten terkaya di Indonesia, dengan APBD Rp 5,5 triliun. Tapi penduduk miskin malah melonjak 145,25 persen dari 73.250 jiwa (2005) menjadi 179.648 jiwa (2006) atau 33 persen dari total penduduk.

ACHMAD BINTORO

Seminar di Hotel Grans Victoria.
Dari waktu ke waktu, jumlah penduduk miskin di Kaltim memang terus bertambah.Tahun 2005 tercatat 299.100 jiwa kemudian naik menjadi 324.800 jiwa (2007) atau 11,04 persen dari jumlah penduduk. Provinsi kaya sumberdaya alam ini juga miskin infrastruktur. Jalan lubang, berlumpur bak kubangan kerbau, dan berdebu saat terik, tidak terhitung lagi sebaran serta panjangnya. Listrik byar pet menjadi hal yang lumrah di seluruh kota. Padahal Kaltim adalah lumbung energi nasional.

Produksi batubaranya saja mencapai 120,5 juta ton tahun 2008. Kaltim memasok 65 persen produksi nasional. Dengan harga US$ 44 per ton saja, berarti nilai produksi batu bara dari Kaltim sebesar US$ 5.280 juta (Rp 52,8 triliun dengan nilai tukar Rp 10.000). Harga itu mengacu pada harga rata-rata yang berlaku di Pelabuhan Newcastle. Di daerah pesisir Negara Bagian New South Wales, Australia yang menjadi pintu keluar masuk lebih 1.500 kapal pengangkut itu, indeks harga bahkan pernah menyentuh US$ 172,10 per ton.

Sedang produksi gas dan minyak buminya, masing-masing 1.072,8 ribu MMBTU dan 52,81 juta barel (2007). Gas Kaltim memberikan kontribusi 37 persen produksi nasional, dan 6,1 persen untuk minyak. Dari lifting produksi migas serta batu bara saja, Kaltim mendapat Rp 40,89 triliun selama 2005-2008. Lalu kemana saja hasil dari pengelolaan kekayaan SDA sebanyak itu?

Kondisi mengenaskan macam ini bukan monopoli Kaltim. Penduduk miskin di Papua malah lebih tinggi, 80 persen. Padahal Papua memiliki Gresberg, sebuah pegunungan tinggi menjilat langit berisi kandungan emas, tembaga dan perak terbesar di dunia. Gresberg mendulang berkah bagi Freeport, melejitkannya dari sebuah perusahaan penambangan sulfur kelas menengah menjadi raksasa tambang kelas dunia. Ini tentu saja membuat McMoran beserta pemegang saham lainnya tak pernah kehilangan senyum.

Kutai Barat dulu juga pernah memiliki tambang emas. Kandungan emas di bukit Kelian itu digali sejak 1992 dan ditutup tahun 2005. Setiap tahun menghasilkan 14 ton emas. Namun toh penduduk miskin di Kubar masih tinggi. Dan setelah perusahaan milik Rio Tinto itu hengkang, Kelian kini tak ubahnya jadi ghost town, nyaris sama dengan Sanga-sanga.

Keadaan ini yang oleh Joseph E Stiglitz, pakar ekonomi peraih nobel, disebut sebagai "resource curse" (kutukan sumberdaya alam). Kutukan sumberdaya alam adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kegagalan negara-negara kaya sumber alam, termasuk daerah, dalam mengambil manfaat dari berkah kekayaan yang mereka miliki.

Rakyat Kaltim mestinya bisa lebih sejahtera dengan kekayaan alam yang berlimpah itu. Tapi, ironinya, kata Direktur Pokja 30 Samarinda Carolus Tuah, cerita-cerita yang muncul justru soal kemiskinan yang tak kunjung terentaskan, infrastruktur minim, layanan kesehatan dan pendidikan yang rendah, serta layanan publik yang jauh dari memadai. Dan belakangan kasus-kasus korupsi mulai terkuak di mana-mana.

"Di Kabupaten Kukar misalnya, satu per satu pejabatnya ditangkap dan dijebloskan ke bui," katanya, Tuah menambahkan, kutukan sumber daya alam muncul dalam ketidakmampuan untuk menerima dan mengelola kenaikan pendapatan dan orientasi belanja yang buruk. Ini terjadi karena rendahnya partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas.[@]

13 comments:

eko said...

salam kenal, mas Bin.
tagline-nya unik sekali :)
btw. blog dan ceritanya sangat menarik. sering keliling kaltim ya mas...

achmadbintoro said...

Lam kenal balik mas Eko. Nice too

Anonymous said...

salam kenal pak bintoro,

boleh minta informasi ga ya? kalau mau ke long bawan, apakah bisa dicapai via sungai memakai perahu/kapal?

matur nuwun,

Yofri - Cibinong

achmadbintoro said...

Kalau mau ke Long Bawan, tak bisa lewat sungai. Dari Samarinda atau Balikpapan, anda naik pesawat Boeing 737 ke Tarakan (1 jam seperempat). Dari Tarakan pindah dgn pesawat kecil menuju Long Bawan (1 jam). Ok good. kapan mau ke sana?

Anonymous said...

Terimakasih pak,

Rencananya akhir Mei Pak. Kalau ke Long Apung gimana pak? Apakah juga harus pakai pesawat?


matur nuwun,

Yofri - Cibinong

achmadbintoro said...

Mas Yofri asyik sekali kalau ente bisa ke Long Apung. Begitu Anda tiba di Balikpapan, teruskan perjalanan ke Samarinda naik taksi/bis (2,5 jam). Dari Samarinda ke Long Apung hanya bisa dilalui dgn pesawat kecil, spt jenis Twin Otter atau BN 2A. Mungkin ga mudah cari seat krn kapasitas kecil, sudah begitu bersaing dgn sembako atau dgn pengusaha2 lain. LOng Apung merupakan dataran tinggi di Kaltim, konon sejuk, dan tempat asal warga Dayak Kenyah. Met datang n berpetualang ya...n melakukan penelitian kali.

Candidasa Bali said...

Pak Achmad Bintoro,

Artikelnya menarik sekali u/ mengundang investor agar bisa memanfaatkan kekayaan yg ada disana, tapi kenapa ya penduduknya disana begitu tinggi?

Salam kenal dari Bali.
Ayoe.

Bali Villas Holiday said...

salam kenal mas Bin,

Ya Tuhan...kasihan sekali masyarakat miskin di sekitar tambang batubara yang juga kaya minyak dan gas namun tak ikut menikmati kue pembangunan


saya oka dr Bali
salam damai, artikelnya sangat menarik

Bali Villas Holiday said...

sayang sekali masyarakat miskin disekitar daerah tambang tsb tak ikut menikmati kue pembangunan


salam mas Bin,
oka dr Bali

Bali Villas Holiday said...

sayang sekali masyarakat miskin di sekitar daerah tambang tak dapat menikmati kue pembangunan

achmadbintoro said...

Lam kenal juga Mas Oka. Blog sampeyan ok too, segmented.

Bali wedding planner said...

koc bisa d kutuk c,,,mang da pa nh...???

Anonymous said...

Mengutip tulisan anda:
"........Dengan harga US$ 44 per ton saja, berarti nilai produksi batu bara dari Kaltim sebesar US$ 5.280 juta (Rp 52,8 triliun dengan nilai tukar Rp 10.000).
..............
Dari lifting produksi migas serta batu bara saja, Kaltim mendapat Rp 40,89 triliun selama 2005-2008. Lalu kemana saja hasil dari pengelolaan kekayaan SDA sebanyak itu?"
pertanyaannya:
Pakah itu Revenue? Net Income atau net profit atau bagian bagi hasil migas dan royalty batu bara?
Kalau orang tidak mengerti seolah2 nilai tersebut adalah penghasilan bersih yang tidak memerlukan pengeluaran atau biaya untuk mengeksplorasi dan eksploitasi. Emang nya mengambil batubara dan minya seperti menimba air dari sungai?