KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Mar 9, 2009

Bad News is Good News?

Oleh Achmad Bintoro

GURU besar Fisipol Unmul, Sarosa Hamongpranoto, memberikan nilai pas-pasan alias C pada profesionalisme wartawan di Kaltim. Nilai itu diberikan dalam dialog "Pers di Mata Anda: Kritik-Otokritik Menuju Pers Pofesional". Dialog digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim dalam rangkaian memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2009 dan HUT PWI ke-63 di Ruang Serbaguna Kantor Gubernur Kaltim, Sabtu (28/2). Selain Sarosa, empat pembicara lain (Ketua Kadin Kaltim Fauzi A Bahtar, Ketua Komisi I DPRD Kaltim Dahri Yasin, Asisten I Setprov Kaltim Abdussamad, dan Ketua PWI Kaltim Maturidi) dan sejumlah peserta turut memberikan kritik. Saya bertindak sebagai pemandu dialog itu. Berikut catatannya.

NILAI C bukanlah nilai yang bisa membuat kita menjadi sangat happy. Tapi tentu masih lebih baik daripada mendapatkan D. Artinya, profesionalisme wartawan Kaltim tak jelek- jelek amat, tapi juga tidak bisa dibilang teramat bagus. Not bad!

Suka atau tidak suka inilah potret diri sebenarnya wartawan Kaltim. Di luar sisi baik pers Kaltim yang turut membangun dan menjadi alat bagi publik untuk mengontrol kekuasaan, hampir semua pembicara dan peserta yang memberikan pandangan dan pertanyaan dalam dialog itu memberikan penilaian yang seragam bahwa profesionalisme pers Kaltim masih jauh dari harapan.

Keluhan muncul misalnya ketika melihat penampilan sejumlah wartawan yang cenderung semau gue. Berkaos oblong, rambut gondrong, bau lagi. Maklum, jam kerja wartawan yang tidak normal membuat dia tidak sempat mencuci. Tapi narasumber tidak bisa memaklumi penampilan macam ini. Sudah begitu hanya bersandal pula. Padahal dia sedang meliput acara resmi di kantor Gubernur Kaltim yang hampir semua bersepatu mengkilap, berbaju rapi bahkan berdasi dan jas.

"Ya, tidak perlu harus berdasi dan berjas. Tetapi berpakaianlah yang rapi dan bersepatu itu sudah cukup. Contohlah penampilan wartawan dari daerah dan negara-negara lain, rapi dan malah tidak mengesankan kalau dia wartawan. Mirip eksekutif yang dia wawancarai," tutur Zairin Zain, Karo Humas Pemprov Kaltim. Pernah pula dia menjumpai wartawan yang saat wawancara masih dengan helm di kepala.

Ketua Kadin Kaltim Fauzi A Bahtar juga mengeluhkan penampilan wartawan yang demikian itu. "Saya sangat kecewa bila ada rekan wartawan datang ke kantor saya bersandal jepit," tandasnya. Mestinya, kalaupun tidak berseragam, wartawan itu berpakaian rapi dan melengkapi diri dengan kartu tanda pengenal.

Celakanya, sudah penampilannya acak-acakan sehingga terkesan kurang menghargai diri sendiri dan narasumber, karyanya pun dibawah standar. Acapkali berita yang ditulis lepas dari substansi bahasan, malah bias. Kualitas tulisan rendah. Selain karena cara penulisan yang urang enak dibaca, logikanya pun terbalik-balik, dan tidak memberikan informasi yang lengkap serta berimbang.

"Pembaca sering kali tidak mendapat nilai tambah apa pun, nyaris tak ada informasi berharga yang bisa mencerdaskan dari berita-berita macam ini," kata Fauzi. Sarosa menambahkan, sudah waktunya media di Kaltim dituntut untuk mampu menyajikan berita yang lengkap dan bisa memberi pengetahuan kepada pembaca.

Wartawan dan pers bisa disebut profesional, kata Sarosa, kalau setidaknya sudah memiliki kesadaran dan pemahaman akan tugasnya (terkait kode etik), dan terampil (kemampuan menulis atau menyiarkan). Abdussamad, Asisten I Setprov Kaltim, mewakili Gubernur, menyebut empat syarat yang harus dimiliki, yakni attitude, behavior, ketrampilan dan pengetahuan. "Dengan melihat semua faktor itu, saya hanya bisa memberikan nilai C pada profesionalisme wartawan Kaltim. Kalaupun sedikit naik, ya C plus-lah," tutur Sarosa.
***

MENDAPAT kesempatan untuk mengkritik pers, rupanya dianggap momen langka. Begitu moderator membuka kesempatan pertama untuk tanya jawab, puluhan peserta dialog "Pers di Mata Anda: Kritik-Otokritik Menuju Pers Profesional", kontan serentak mengacungkan tangan. Mereka agaknya tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Ya, kapan lagi bisa mendapat kesempatan mengkritik pers kalau bukan sekarang," tutur Kepala Bagian Humas Pemkab Kutai Kartanegara Sri Wahyuni. Tapi karena mengalah dengan penanya lain, perempuan berparas ayu ini kehilangan kesempatan menyampaikan uneg-unegnya. Waktu sudah menunjuk angka 12.00, sehingga moderator harus menyudahi dialog ini.

"Ini jadi pelajaran bagi saya, lain kali jangan pernah sia-siakan kesempatan pertama," tutur Sri, masih dengan senyum manis.

Beragam kritikan dilontarkan mereka, sebagian disampaikan oleh orang-orang yang lembaganya acap disorot pers. Mulyadi, Kepala Humas Unmul mengeluhkan pers yang selama ini cenderung melihat berita hanya dari sisi negatipnya saja. Kritik terhadap Unmul di koran bukan sekali dua. Tapi bertubi- tubi hingga seakan-akan berita menarik itu cuma yang jelek-jelek saja.

"Tidak selalu berita itu harus menggunakan konsep lama seperti ketika 'manusia menggit anjing'. Di Unmul pun banyak berita positip, tapi entah kenapa jarang dilirik media," ungkap Mulyadi. Ia mengutip konsep berita yang dilontarkan John Bogart, redaktur The Sun, New York berbunyi "When a dog bites a man, that's not news. But when a man bites a dog, that is news".

Tapi apa harus demikian selalu, apa harus selalu bad news is good news? Kritik lain menyebut bahwa pers di Kaltim belum dewasa. Daeng Naja mengemukakan panjang lebar bagaimana dia merasa dicekal oleh sebuah harian di Kaltim, tanpa alasan yang jelas. Nama dirinya tiba- tiba menjadi sesuatu yang haram untuk disebut. Lucunya, saat namanya coba ditulis dengan sebutan yang tidak akrab, menjadi "Hasanudin Rahman", ternyata bisa muncul di harian itu.

Pernah pula dia mengaku diwawancarai wartawan bersama sejumlah narasumber lain. Ternyata, namanya tidak muncul. Padahal, semua pendapat yang dimuat di koran itu adalah pendapat yang dia lontarkan kepada wartawan. Namun entah kenapa, namanya dicomot begitu saja lalu diganti dengan nama orang lain. Seolah-olah yang berkomentar adalah narasumber lain.

"Dengan iluastrasi itu saya ingin mengatakan bahwa pers di Kaltim itu belum dewasa. Lihat saja misalnya, saat Tribun membuat acara, Kaltim Post tidak mau memuat. Sebaliknya begitu. Ini kan menunjukkan ketidakdewasaan pers," tutur jebolan sekolah hukum yang kini sedang menikmati profesi baru sebagai "WTS". WTS di sini bukanlah singkatan dari Wartawan Tanpa Surat kabar, tetapi Writer, Trainer, dan Speaker.

Penilaian serupa diungkapkan Miftah dari BEM Unmul. "Cekal merupakan bentuk pers yang tak profesional. Pers harus bisa melepaskan persoalan-persoalan pribadi, obyektif dan jujur," timpal Dahri Yasin, Ketua Komisi I DPRD Kaltim. Pers yang belum dewasa, menurutnya bukanlah pers yang profesional.

Bagaimana bisa disebut dewasa kalau hak jawab saja misalnya, ungkap Asisten I Setprov Kaltim Abdussamad tak diakomodir oleh media. Alasannya pun dianggap mengada-ada bahwa tidak ada space. Hak jawab itu lalu disiasati menjadi sebuah berita lanjutan. Ada kesan pers belum berani mengakui kesalahan. Pers merasa dirinya yang paling benar. Daeng menyebut, "pers bukan tidak sekedar menjadi manusia super, tapi sakti."

Pers yang profesional dan dewasa, mestinya bukanlah pers yang tidak pernah salah, namun pers yang mau jujur mengakui kesalahan. Keberanian mengakui kesalahan ini merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu ditumbuhkembangkan guna mendorong pers tampil lebih profesional. [@]


3 comments:

Kedewatan said...

saya byk mendengar dimana2 sebutan untuk wartawan, bhwa wartawan itu adalah wartawan amplop. jadi klo ada amplop baru di liput :))
apa benar begitu pak bintoro ?

Trims,
Lisa

Bali Transports said...

Yuph saya setuju dengan mbak lisa, wartawan amplop; peace :)

Bali wedding planner said...

Bad News is Good News hingga Cekal mgpa tuh,,,???