KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 23, 2008

Dari Boga Menjadi SMK TI


Menyusuri Poros Tengah bersama Kepala Disdik Kaltim

Oleh Achmad Bintoro

TEPAT pukul 21.10 kami memasuki kota Sendawar, Kubar. Kiri kanan jalan ramai oleh toko, kios, kedai dan warung. Sebuah pasar kaget di lorong jalan tampak dijejali warga. Mobil dan motor parkir berhimpit. Di ruas jalan yang lain, sejumlah pekerja masih mengerjakan proyek pelebaran jalan. Dozer bergerak maju mundur mendorong dan meratakan badan jalan yang dikembangkan menjadi dua jalur.


Sendawar sedang berbenah. Kali terakhir saya kesini, lima tahun lalu, Sendawar masih menjadi kota sunyi. Jangan berharap ada toko besar. Mencari kedai kopi yang buka hingga larut malam bukan pekerjaan mudah. Kini, melihat orang hilir mudik di jalanan masih dengan seragam kerja pada malam hari sudah biasa.

Perlahan menyusuri ruas jalan kota, kami akhirnya berhenti di sebuah rumah makan. Restoran ini tidak seberapa besar. Ada sedikitnya lima kelompok meja. Kami memenuhi tiga kelompok meja berisikan sekitar 25 kursi, termasuk Kepala Disdik Kubar Ir Fredrick Ellia G MA. Dua meja lain diisi pengunjung lain, sebagian masih dengan seragam kerja: celana blue jean, kemeja biru muda dilengkapi spotlight, dan sepatu safety. Dua lainnya mengenakan wearpack.

Tidak ada yang istimewa dari rumah makan ini. Menunya biasa dijumpai di kota-kota lain seperti udang, ayam, dan patin. Layanan dan penyajiannya pun sederhana. Tapi ini adalah rumah makan terbesar di Sendawar. Karena itu banyak dikunjungi terutama oleh pendatang atau saat menjamu tamu dari luar kota.

Tidak jauh dari rumah makan itu, di seberang jalan, kami menginap. Hampir sama dengan rumah makan, bangunan dan layanannya juga sangat sederhana, dan terkesan apa adanya. Meski hampir semua kamar dilengkapi mesin penyejuk udara dan televisi multichannel, tetapi layanannya tidak menunjukkan kelas hotel. Kalau toh hotel itu juga relatip penuh, mungkin karena tak ada pilihan lain.

Di kota ini memang sulit mencari tenaga yang mengerti soal tata boga. Tidak mengherankan jika kemudian layanan hotel maupun restoran di Sendawar dan Melak kurang memiliki cita rasa tinggi. Bangunan boleh sederhana, hotel boleh tidak berbintang. Tetapi jika dikemas baik dan disajikan secara berkelas, tentu akan membuat betah pengunjung. Dan sebagai kota yang sedang berkembang Pemkab Kubar semestinya memikirkan persoalan itu.

Syafruddin Pernyata, Kepala Disdik Kaltim, melihat hal itu sebagai peluang. Tiadanya tenaga tata boga, mestinya menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. "Kami di Provinsi sebenarnya bahkan sudah membuat program membuat SMK Tata Boga di Kubar," katanya.

SMK dimaksud adalah SMK Negeri 2 Sendawar. Disdik Provinsi membiayai pembangunan gedungnya. Sedang Disdik Kubar menyiapkan lahannya. Bangunan sudah rampung dikerjakan, dan telah dioperasikan. Namun rencana membuat SMK Tata Boga itu ternyata tidak terwujud. Pengelola SMK2 terpaksa mengubahnya menjadi SMK TI (Teknologi Informasi) karena saat dibuka pendaftaran, yang mendaftar ternyata hanya tiga orang. SMK Tata Boga tidak diminati oleh pelajar di Kubar meski peluang kerja dan usaha lebih besar.

Perubahan itu diketahui saat rombongan Disdik Kaltim meninjau sekolah tersebut Sabtu pekan lalu. Syafruddin menyesalkan perubahan itu. Kurangnya pelajar yang berminat memasuki Tata Boga, mestinya bisa dihindari kalau Disdik dan Kepala Sekolah SMK2 proaktif melakukan sosialisasi. Perubahan menjadi SMK TI juga bukan berarti persoalan selesai. Di Samarinda sudah banyak jebolan SMK TI, sehingga persaingan kerja di jurusan ini cukup tinggi.

Selain itu, di SMK2 itu tidak ada saluran listrik PLN. Jumlah komputer pun amat terbatas. Lalu bagaimana mereka akan praktek. Memang ada genzet, tapi tentu akan memerlukan ongkos lebih besar lagi untuk membeli solar. "Saya hanya khawatir kalau akhirnya menjadi semacam SMK Sastra," jelasnya.

SMK "Sastra" yang dimaksudkan adalah lulusan yang tidak menguasai bidang keahliannya. Ada SMK otomotif tapi tidak tahu soal mesin. SMK TI tapi tidak paham soal komputer. Dunia usaha acapkali mengeluhkan lulusan-lulusan SMK semacam ini, yang oleh Syafruddin disebut sebagai SMK "Sastra". Sekitar 50 persen kondisi SMK di Kaltim dari total 151 SMK, diakui kondisinya masih memprihatinkan, atau masuk dalam kategori SMK "Sastra".
***

SMK2 Sendawar terletak cukup jauh dari jalan raya. Terlebih dulu masuk jalan setapak ke kebun yang kiri kanannya masih dipenuhi belukar dan pohon-pohon hutan. Saat hujan, kondisinya becek. Karena jauh dari jalan raya, jaringan kabel listrik PLN tidak menjangkau sampai ke sana. Dan ternyata tak cuma SMK2 yang dibangun berada di dalam kebun.

Sebuah SMK lain yang dibangun dengan biaya dari Disdik Kaltim, juga dibangun jauh dari jalan raya. Soal jauh mungkin relatif, tapi kalau akses jalan tidak ada, tentu akan jadi persoalan. Saat kami meninjaunya, hanya mobil berpenggerak empat roda saja yang bisa ke sana. Kubangan air menganga besar di tengah ruas jalan tak beraspal. Hampir semua sekolah yang dibangun Disdik Kaltim, letaknya tidak strategis.

Ada yang dibangun tepat di pinggir jalan raya, tetapi ternyata berada jauh dari permukiman penduduk. Jarak dengan permukiman mencapai belasan hingga puluhan kilometer. Kenapa? Itu karena adanya kepentingan tertentu dalam pemilihan tanah. Tanah disediakan atau dibebaskan oleh Pemkab Kubar. Celakanya, Pemkab Kubar terkesan asal saja dalam menyediakan tanah untuk sekolah. Ini menjadi bukti bahwa di era otda, tidak gampang mencapai harmoni program antara kota/kabupaten dengan provinsi.(*)















No comments: