KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Oct 16, 2008

Mengejar Manusia Kawat Sebelum di Empat Mata

SELASA pagi lalu, saya dikabari wartawan Tribun Kaltim, Joni Kusworo, bahwa Noorsyaidah yang yang selama ini dijuluki "manusia kawat" oleh media, sudah berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda. Dan, 10 menit kemudian saya mengkloning berita dari website-nya Tribun Kaltim serta menayangkannya di Kompas.com.

IGN SAWABI

Dalam berita itu hanya disebutkan, Noorsyaidah berangkat ke Jakarta serta beberapa kesaksian wartawan di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam bayangan saya, demikian juga Joni Kusworo, kepergian Noorsyaidah ke Jakarta adalah akan berobat. Makanya pertanyaan saya yang kemudian muncul saya ajukan ke Joni Kusworo adalah, di rumah sakit mana dia akan berobat.

Joni tidak mendapatkan informasi tentang itu. Dia hanya bisa mengontak Lilis, famili Noorsyaidah dalam beberapa detik dan kemudian sambungan telepon terputus.

Tentu saja sangat sulit menyisir ratusan rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya, yang kemungkinan menjadi tujuan Noorsyaidah. "Wah saya tidak tahu, dimana dia akan dirawat. Saya tidak mendapatkan informasi itu," kata Joni.

Dengan segala upaya, saya mencoba mengontak beberapa rumah sakit yang kebetulan saya kenali. Tetapi tidak satu pun humas RS yang mengabarkan telah menerima pasien bernama Noorsyaidah, umur 40 tahun, dari Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Hingga sore hari, saya masih berkutat dari rumah sakit ke rumah sakit. Tentu saja melalui telepon. Sekira pukul 17.00, saya mengontak Muhammad Khaidir, wartawan Harian Pagi Tribun Kaltim yang pertama kali menulis tentang perempuan berpenyakit aneh itu.

"Lho katanya dia ke Jakarta bukan untuk berobat, tetapi mengisi acara di televisi," kata Khaidir saat saya hubungi.

Saya kembali mengira-ira, acara apa yang akan melibatkan Noorsyaidah. Terbersit dalam benak saya, mungkin Empat Mata. Tetapi saya ragu, apa iya Noorsyaidah bisa tampil di Empat Mata. Bukankah dia akan kesakitan perutnya kalau melihat wajah dan banyolan Tukul?

Pikiran saya mengarah ke Kick Andy. Saya mengontak Makroen Sanjaya, Wapimred Metro TV. "Wah saya juga lagi mengerahkan anak buah ke RS Cipto Mangunkusumo," kata Makroen. Setidaknya kesimpulan saya dan Makroen sama, bahwa Noorsyaidah ke Jakarta akan berobat.

Saya pun balik bertanya, "apa bukan di Kick Andy?" Sontak Makroen terkejut, "Oh ya ya.. coba aku cek.." Dialog kami terputus.

Siane Indriyanie, pejabat di Global TV saya kontak. Tetapi lagi-lagi nihil, saya tidak dapat informasi apapun. Demikian juga Martian Damanik, Korlip baru di RCTI.

Saya cek nomor-nomor di ponebook ponsel saya. Ada nama Teguh pekerjaan manajer Tukul. Lalu saya kontak Mas Teguh. Namun Teguh mengatakan bahwa 4 Mata untuk Selasa, Rabu, dan Kamis tidak mengagendakan bintang tamu bernama Noorsyaidah.

Bahkan untuk meyakinkan saya, Mas Teguh sempat bertanya kepada orang lain. "Iya Mas, ini saya sedang di studio Trans7, nggak ada nama itu," katanya. Dari balik telepon terdengar Mas Teguh bertanya orang lain dan dengan jelas orang yang ditanya Mas Teguh mengatakan tidak ada bintang tamu seperti yang saya maksud.

Sekali lagi saya bertanya kepada Mas Teguh, dan jawabannya sama dengan jawaban semula.

Karena pada saat yang sama saya juga harus memantau berita Rapimnas Partai Gerindra yang sedang berlangsung, tentang Noorsyaidah agak terlupakan. Pukul 20.30 saya ditelepon Muhammad Khaidir dari Samarinda, intinya meyakinkan saya bahwa Noorsyaidah akan mengisi acara di Empat Mata.

"Iya mas, betul Bu Noorsyaidah menginap di hotel M daerah M di Jakarta Selatan. Besok malam Bu Noor akan ngisi di Empat Mata, saya dapat informasi dari kakaknya yang tinggal di Samarinda," kata Khaidir.

Menghargai Eksklusivitas

Saat mendapat informasi yang memastikan bahwa Noorsyaidah akan mengisi acara Empat Mata, saya sedang makan malam di rumah. Namun saya putuskan untuk tidak mengerahkan wartawan ke hotel M di bilangan M, Jakarta selatan.

Saya sangat menghargai upaya Trans7 menghadirkan Bu Noorsyaidah ke studio sebagai sebuah eksklusivitas. Tentu, upaya yang ditempuh kru Empat Mata dan Trans7 tidaklah mudah. Dan saya hormati, jika kemudian mereka menghendaki kedatangan Noorsyaidah sebagai "hak" Empat Mata. Mudah-mudahan Bu Noor cepat sembuh.

(Oleh IGN Sawabi, Sumber: http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/9982)

8 comments:

hiking said...

serem amat ya perutnya ada kawatnya

zetta172 said...

wah, Pak Bintoro sempat ngantar ya?

Anonymous said...

Kenapa bukan untuk berobat ya? Bahkan kalau perlu berobat ke negeri cina atau amerika? aneh..maaf, kesannya kok seperti "hunger for attention"? Apalagi pernah mengalami kelumpuhan tapi sembuh dgn sendirinya..kebutaan juga sembuh dengan sendirinya..mungkin selain medis juga perlu psikiater..sekali lagi maaf..

lowongan kerja said...

waduh ulasanya matabz bro,, memang pertamax salam dari samarinda

koekoeh said...

Astaghfirullah.....

paperbag said...

kalau boleh usul mengapa tak ditelilti secara medis aja. saya rasa perlu diteliti agar tidak muncul irasionalitas. aku yakin ada jawaban yang rasional

Anonymous said...

perlu memeriksa:)

zulkifli said...

Hubungi no ini 081376315052 atau 06168780052 atau ke email ini zulkifli.sinaga@gmail.com , adiwidarma_caep@yahoo.com Dengan izin dan ridho ALLAH tidak ada masalah yang tidak selesai,asal anda mau bertobat(Taubatan Nasuha).