KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 7, 2008

Suwarna Heran Tidak Ada Yang Kirimi Parcel

MENGENAKAN kaos berkerah warna abu-abu, Suwarna terlihat lebih muda. Empat bulan lagi, usianya genap 65 tahun. Rambutnya tersisir rapi, tanpa uban. Dia terkekeh memandangi rambut saya yang makin habis. "Kok kian licin saja," sindirnya. Saya hanya tersenyum, mengangkat bahu dan telapak tangan. Dua tahun empat bulan di penjara ternyata tidak membuat selera humornya hilang.

ACHMAD BINTORO

Suwarna yang apa adanya, sederhana, dan nyaris tak pernah kenal barang bermerek, sudah lama saya tahu. Sederhana pula dia menyikapi persoalan yang mungkin oleh sebagian orang dianggap pelik. Seperti suatu malam jelang lebaran Idul Fitri di Lamin Etam. Ia bertanya pada Aji Sofyan Alex.

"Kok nggak ada yang datang? Kata orang kalau gubernur, mau lebaran pasti banyak yang datang kasih bingkisan. Iya kan, Lex?" Saat itu dia baru saja membagi-bagi hadiah lebaran untuk para stafnya di rumah jabatan.

Keduanya saling pandang, lalu tertawa bersama. Lucu, karena sama-sama bokek. Ya. Menyikapi sesuatu dengan tawa tergelak. Simpel sekali. Menurut Alex, sebagaimana ia kisahkan di halaman 93 buku Pergulatan Seorang Suwarna, kalau pun Suwarna punya uang, itu karena ia cari sendiri. Usaha sendiri tanpa memanfaatkan jabatannya sebagai gubernur.

"Akhirnya ya ia dianggap lupa. Orang jadi sering bilang: Suwarna pelit. Seperti itulah," ungkap Alex. Saat itu Alex menjabat Kepala Dinas Pertnian Tanaman Pangan Kaltim.

Alex berkisah apa adanya tentang Suwarna.Yang minor, kata Alex, ya, itu tadi soal kepelitannya. Karena itu tak sedikit pengusaha, tokoh masyarakat hingga wartawan, yang menganggap sebagai orang yang telah lupa. Lupa pada balas budi dan jasa orang, yang barangkali merasa diri berjasa mengantarkan Suwarna menjadi gubernur. Padahal itu hanya karena ketiadaan uang lebih di kantongnya.

Suwarna tidak suka dilayani secara berlebihan seperti bos-bos lain. "Penilaian ini kudapat dari beberapa Kakanwil yang datang dari daerah lain dan ditugaskan di Kaltim. Mereka bilang, di tempatnya bertugas dulu, begitu datang, langsung lapor dengan memberikan bingkisan sesuatu. Semacam upetilah. Kalau mau lebaran apalagi, kudu setor. Juga pada saat-saat penting lainnya," kata Alex yang kini terjun di dunia politik lewat PDI Perjuangan.
***

SATU jam bersama Suwarna AF, tidak berarti saya bisa bebas berkeliaran melongok jeroan LP Cipinang. Meski saya ingin sekali melihat langsung kamar atau sel mantan orang nomor satu di Provinsi Kaltim ini, aturan LP membatasi saya hanya sampai di tempat besuk. Tempat besuk itu adalah ruang aula di lantai dua seperti yang sudah saya gambarkan kemarin.

Harapan saya, kalau pun saya tidak bisa melihat sendiri kehidupan sehari-hari di dalam LP, saya bisa mendapatkan gambaran keadaan itu melalui Suwarna. Tapi ternyata tidak mudah mengorek keterangan semacam itu darinya. Sensitip, katanya. Saya mencoba lagi melemparkan pertanyaan- pertanyaan khusus agar mendapat jawaban yang saya inginkan, di sela canda tawa kami. Namun selalu pula dia mengelak. Biasanya dia menjawab dengan senyum atau tertawa geli melihat saya yang tidak bosan menanyakan hal-hal yang dianggapnya sensitip itu.

"Sudahlah, ga usah tanya-tanya yang begitu. Yang pasti saya di sini baik-baik saja. Pagi bangun, shalat, olahraga, sarapan dan baca. Tak ada yang istimewa," elaknya. Bahkan di blok apa kini dia tinggal pun tidak dijawabnya. Kalau pun ada jawaban mengenai kehidupan sehari-hari di penjara lebih untuk pengetahuan saya, bukan untuk dikorankan.
***

"BAGAIMANA kabar Kaltim?" tanya Suwarna. Dia selalu menanyakan hal itu kepada setiap orang Kaltim yang membesuknya. Perhatiannya yang besar terhadap masyarakat Kaltim ternyata tidak pernah tercerabut meski kebebasannya sendiri terenggut. Saya lalu gambarkan kepadanya secara singkat kondisi sosial politik, dan ekonomi Kaltim. Saya kisahkan sedikit perkembangan terakhir Pilgub Kaltim. Termasuk perkembangan pembangunan Masjid Islamic Centre di Jalan Slamet Riyadi, Samarinda.

Saya tahu dia sudah acapkali mendapat informasi semacam ini. Namun entah kenapa dia masih mau saja menyimak uraian saya. Ia menghela nafas agak panjang ketika saya sampaikan bahwa pembangunan bandara baru di Sei Siring belum tuntas. Begitu pula relokasi warga dari bantaran Sungai Karang Mumus, serta jembatan Mahkota II yang belum kelar. Namun sedetik kemudian raut mukanya berubah berbinar saat saya gambarkan keindahan dan kemegahan Masjid Islamic Centre.

"Wah jadi pengin neh ke sana," ungkapnya. Masjid itu dibangun atas prakarsa dia sewaktu jadi gubernur. Dia ingin ada sebuah bangunan yang bisa bermanfaat dan menjadi landmark bagi Samarinda serta Kaltim. Bangunan dimaksud adalah sebuah masjid yang megah dan indah yang menjadi pusat dakwah.

Kaltim memiliki kemampuan untuk membangun masjid itu. Tak kurang dari Rp 550 miliar dana APBD Provinsi Kaltim yang dipakai untuk menyelesaikan masjid itu. Kini, hasilnya sudah dapat dilihat dan dinikmati masyarakat Kaltim. Decak kagum akan langsung terlontar dari setiap orang saat mereka melintasi jalan Slamet Riyadi. Bangunan itu begitu kokoh, menjulang, dan memberi image positip terhadap Kaltim.

Letaknya yang strategis, di tepian Mahakam, menjadikan terlihat lebih eksotik. Bila malam tiba, lampu-lampu berpendar mengitari kubah dan empat menara menampakkan bayang bernuansa di permukaan Mahakam. Kini masjid itu tak hanya ramai dikunjungi jamaah tapi sekaligus menjadi tempat wisata baru bagi warga setempat. Setiap sore dan malam, terlebih saat Ramadhan seperti ini, usai atau sebelum sembahyang, mereka sempatkan diri berfoto dengan latar masjid. Suwarna sendiri menyumbangkan sebuah bedug besar dari sebuah kayu waru berkualitas yang dia pesan khusus dari sebuah kota di Jawa.
***

AKHIR penantian itu akan segera tiba. Tak lama lagi, dua-tiga bulan mendatang, Suwarna bakal mengakhiri hari-harinya di LP Cipinang. Ia akan menghirup udara bebas, mendapat pembebasan bersyarat setelah sejumlah remisi ia dapatkan. Apa yang akan dia lakukan setelah bebas? Sudah tentu pertama akan kumpul dengan anak istri. Kedua, katanya, dia ingin menengok Samarinda, melihat langsung masjid Islamic Centre. Mau berpolitik lagi?

"Enggaklah. Saya ogah berpolitik lagi. Capek. Lagi pula saya sudah tua, tahun depan sudah 65 tahun. Jadi apa lagi yang harus saya cari. Saya mau menikmati pensiun, bermain bersama cucu- cucu atau jadi petani ikut Martin," jelasnya.

Martin dimaksud adalah Martin D Safari, putra keduanya, seorang petani. Lebih tepatnya menekuni dunia agribisnis. Anak pertamanya, Febry M Nerwan seorang pedagang. "Bapak tak mau memberi kami secara langsung. Kami anak-anaknya harus berusaha sendiri. Inilah salah satu alasan kenapa saya tidak boleh jadi kontraktor di Kaltim saat bapak jadi gubernur," tutur Febry yang menekuni usaha ikan kerapu. (*)

No comments: