KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Sep 7, 2008

Pembesuk (Tidak) Dipungut Bayaran


SETENGAH jam sebelum waktu besuk, saya tiba di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Jam di tangan menunjuk angka 09.31. Pintu gerbang utama sudah dibuka."Antre dulu di ruang sana. Jam besuk baru dibuka pukul 10.00," kata seorang petugas di pintu gerbang kepada saya.

ACHMAD BINTORO

Di dalam ruang sebelah kiri, saya lihat sudah berjubel puluhan pembesuk. "Pak, isi dulu dong!" bentak seorang petugas saat mengetahui saya hanya ambil nomor antrean di meja petugas. Saya kira pembesuk cukup mengambil nomor antrean saja. Saya pun minta maaf. Tetapi air mukanya tetap keruh dan tidak bersahabat. Di seberang meja dia, sebuah tulisan merah terpampang jelas di dinding tembok: "Pembesuk Tidak Dipungut Bayaran".

Saya pun mengisi formulir kunjungan. Formulir ini rangkap tiga berisi jati diri singkat pembesuk dan siapa yang akan dikunjungi. Petugas lalu memberi nomor antrean 26. Tapi, begitu tahu yang saya kunjungi adalah Suwarna AF, mantan Gubernur Kaltim, sebuah senyuman langsung tersungging di bibirnya. Saya tak tahu apa arti senyumnya yang tiba-tiba itu. Sedetik kemudian dia meminta saya untuk tidak perlu mengantre, dan segera menunjukkan pintu lain yang harus saya datangi.

Pintu tersebut sedang tertutup rapat. Terbuat dari pelat besi. Dikelilingi tembok kokoh dan pagar menjulang. Tidak jauh dari pintu pembesuk, terdapat pintu lain menghadap timur. Pintu itu juga terbuat dari pelat besi, tingginya sekitar delapan meter, dilengkapi jendela seukuran kepalan tangan orang dewasa. Dengan ketinggian seperti itu ditambah gulungan kawat berduri di atasnya, pintu yang terhubung dengan pagar keliling ini tentu tidak akan mudah ditembus.

Keadaan lengang. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya tembok-tembok kokoh tinggi yang menjadi penyekat antara wilayah luar dan dalam penjara. Mentari hangat menyentuh kulit. Namun keheningan belum pecah. Tidak sekecil pun terdengar canda, jerit maupun obrolan dari balik tembok. Di penjara terbesar di Jakarta ini terdapat tak kurang dari 4.000 orang tahanan dan narapidana. Jauh melebihi daya tampungnya, 1.300 orang.

Saya yang berada di luar jadi penasaran, dan sangat sulit meraba-raba bagaimana suasana hari- hari di balik tembok penjara ini. Terbayang dalam benak saya wajah-wajah sangar layaknya para penjahat yang digambarkan di film-film. Mata tajam menusuk, tubuh berotot dan penuh tato. Di sini kenyataannya ditampung narapidana kelas teri hingga kakap, serta dari bermacam kasus dan latar. Dari yang sebelumnya biasa tidur beralas koran dan beratap langit, hingga mereka yang biasa menggunakan springbed di ruang ber-AC. Ada pencuri, pemerkosa, perampok, bandar narkoba, hingga koruptor. Di sini pula Suwarna AF mendekam.
***

PINTU besi saya ketuk. Jendela kecil di tengah pintu terbuka. "Ada apa? Tunggu saja, jam besuk belum dibuka!" ujar seorang petugas yang melongokkan wajahnya. Belum sempat saya memberi penjelasan, jendela kecil itu sudah dia tutup lagi. Saya terpaksa kembali mengetuk. Begitu wajah itu terlihat di jendela, saya langsung katakan bahwa saya mau membesuk Suwarna.

Mendengar saya menyebut nama Suwarna, pintu besi itu langsung dibuka.

"Oo..silakan Pak. Pak Warna sudah menunggu. Tapi ambil dulu kartu tamu," jelasnya. Dia mengantar ke ruang kecil di samping kanan. Seorang petugas lain sudah menunggu. Setelah basa-basi dan bertanya mengenai hubungan saya dengan Suwarna, petugas menunjukkan jalan ke lantai dua. Saya tidak mengenalkan diri sebagai wartawan. Saya katakan, Suwarna adalah teman saya. Pada kolom pekerjaan di kartu identitas saya, kebetulan hanya menyebut "swasta".


Tiba di lantai dua, saya memasuki sebuah ruang besar, berukuran 25 X 25 meter. Suwarna saya lihat sudah menunggu di meja bagian kanan, membelakangi jendela. "Hai, apa kabar?" tanya dia, seperti biasa selalu ramah dan murah senyum. Dia berdiri menyambut dan memeluk badan saya, cium pipi kiri dan kanan.


Sejenak pandangan saya menyisir ruangan. Di sini pula sehari sebelumnya, 25 Agustus 2008, digelar seremoni penyerahan bonus oleh Suwarna AF selaku Ketua KONI Kaltim kepada 79 atlet peraih medali PON XVII. Seremoni itu cukup meriah untuk ukuran LP. Dihadiri Pj Gubernur Tarmizi A Karim, Walikota Samarinda Achmad Amins, Plh KONI Kaltim Zuhdi Yahya serta seratus lebih atlet, pelatih dan undangan lain.


Ruang ini cukup terang meski lampu tidak dinyalakan. Bias sinar mentari menerobos lewat

jendela-jendela lebar berkaca di kiri kanan ruang. Hawanya sejuk, mengalir dari empat mesin pengatur udara yang terpasang di atasnya. Dan layaknya desain ruang penjara, yang tidak pernah meninggalkan faktor keamanan, jendela-jendela itu dipasangi teralis berupa jeruji-jeruji besi berdiameter 3 cm. Jeruji dipasang vertikal. Ini adalah ruangan yang sama ketika saya membesuk kali pertama, 26 Juli 2008 lalu.

Saat itu terlihat Robian dan Uuh Aliyuddin di meja lain. Keduanya sedang dikunjungi istri, anak dan kerabatnya. Mereka tengah larut dalam kelangenan sambil menikmati santap siang. Robian adalah mantan Kepala Dinas Kehutanan, dan Uuh mantan Kepala Kanwil Kehutanan Kaltim. Di meja lain lagi, terlihat Waskito Suryodibroto, mantan Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi (PHP) Dephut.

Ketiganya, termasuk Suwarna AF divonis oleh hakim Pengadilan Khusus Tipikor terkait kasus pembukaan kebun sawit di wilayah utara Kaltim oleh kelompok usaha Surya Dumai Group.
Di meja dekat pintu masuk ada Widjanarko Puspoyo, Dirut Bulog. Di meja samping, tersekat papan kayu setinggi dada orang dewasa, ada Noeloe, mantan bos Bank Mandiri. Noeloe dibesuk hanya seorang lelaki.

Ruang ini semacam ruang VIP bagi para narapidana kelas kakap. Seorang petugas mengatakan, ruang ini adalah aula LP. "Tapi jarang sekali kita gunakan, kecuali ada arisan atau kegiatan ibu- ibu dharmawanita. Nah, daripada jarang digunakan, kan lebih bagus kita manfaatkan. Lumayan kan dapat uang rokok," jelasnya tanpa mau merinci berapa uang sewa untuk ruangan tersebut.


LP sebenarnya menyediakan ruang besuk resmi di lantai bawah. Namun ruang itu selalu penuh oleh pengunjung. Para pembesuk dan narapidana harus berdesak-desakan di bawah pengawasan sipir maupun tamping (tahanan pendamping). Tidak jarang napi dan pasangannya melampiaskan hasrat seksualnya di tempat tersebut. Mereka tidak sungkan meski banyak pembesuk, napi serta sipir.
Tamping adalah narapidana yang diperbantukan pada petugas atau pemuka dalam melaksanakan pekerjaan tertentu. Tamping ada di hampir semua tempat. Ada yang disebut tamping Kepala LP, tamping pendidikan komputer, dan tamping catur. Tamping biasanya bakal berharap ditugaskan di tempat kunjungan agar bisa mendapatkan uang, sekitar Rp 20 ribu-Rp 120 ribu tiap hari. Uang itu diperoleh dari para pembesuk yang biasanya menyelipkan lembaran Rp 5.000 atau Rp 10.000 saat tangan mereka dicap petugas. Lho, lalu apa arti tulisan "Pembesuk Tidak Dipungut Bayaran" yang terpampang di ruang tunggu? (bersambung)

Catatan: Dimuat di Tribun Kaltim, edisi cetak 3 September 2008

1 comment:

M Imron Rosyadi said...

Mantap tulisannya, Bin. Banyak yang ingin tahu, bagaimana kabar Bapak Pembangunan Kaltim ini. Bravo!

cakimron.blogspot.com