KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Jan 3, 2008

Malam Panjang di Talise

Yuyun, adik Alman, di Tepian Talise, Palu
MALAM telah larut. Penanda waktu di seluler aku sudah menunjuk pukul 24.10. Namun suasana di pantai Talise, Palu, Sulteng, tidak juga surut. Keramaian masih bertahan. Lampu-lampu merkuri berpendar menerangi jalan, meremang di atas lautan manusia, ribuan motor dan mobil yang parkir di sepanjang pantai, dari Rajamoli hingga Cut Mutia. Para pemilik kedai nyaris tak berhenti melayani.


Aku bersama istri serta belasan anggota keluarga besar bin Hamde, Bachmid, Bajeber, dan Bahaswan termasuk keluarga Alman, menempati semua kursi yang tersedia di kedai jagung bakar. Kedai ini terletak di ujung jalan, tak jauh dari jembatan dan Hotel Palu Goldan. Jarang-jarang kami bisa berkumpul sebanyak ini, menikmati indahnya malam di Talise.

Lolon dan Adik Iparnya
Ini malam kedua sekaligus malam terakhirku di Palu. Karena itu sengaja kami mengisi akhir pekan ini dengan jalan bersama keluarga, sekalian mengajak jalan-jalan keluarga Alman. Alman adalah suami Lolon, adik ipar aku. Alman kerja di sebuah perusahaan Nikel terbesar di Indonesia, di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Keduanya, Jumat (28/12/2007) malam kemarin, telah melangsungkan resepsi pernikahan mereka di Gedung Al Khairat, Jalan Sis Al Jufri, Palu. Siang sebelumnnya, keduanya dinikahkan oleh pemimpin Pondok Pesantren Al Khairat, Ust Sayid Saggaf Al Djufrie.
Saya Bersama Pacar di Talise


Sayang sekali, aku tidak bisa mengikuti prosesi itu. Aku baru tiba di rumah pukul 14.20, saat acara nikah sudah selesai akibat pesawat Sriwijaya Air dari Balikpapan yang aku naiki ter-delay. Pesawat yang mestinya berangkat pukul 10.50, ternyata baru berangkat pukul 12.10..........

1 comment:

Hamid said...

Asalamu Alaikum Wr.Wb

Wah kisah yang menyenangkan nih dan semoga bisa terulang kembali.

Dimana keluarga bisa berkumpul, bersantai bersama setelah melalui peran dalam pesta kemarin.