KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 23, 2008

Dari Boga Menjadi SMK TI


Menyusuri Poros Tengah bersama Kepala Disdik Kaltim

Oleh Achmad Bintoro

TEPAT pukul 21.10 kami memasuki kota Sendawar, Kubar. Kiri kanan jalan ramai oleh toko, kios, kedai dan warung. Sebuah pasar kaget di lorong jalan tampak dijejali warga. Mobil dan motor parkir berhimpit. Di ruas jalan yang lain, sejumlah pekerja masih mengerjakan proyek pelebaran jalan. Dozer bergerak maju mundur mendorong dan meratakan badan jalan yang dikembangkan menjadi dua jalur.


Sendawar sedang berbenah. Kali terakhir saya kesini, lima tahun lalu, Sendawar masih menjadi kota sunyi. Jangan berharap ada toko besar. Mencari kedai kopi yang buka hingga larut malam bukan pekerjaan mudah. Kini, melihat orang hilir mudik di jalanan masih dengan seragam kerja pada malam hari sudah biasa.

Perlahan menyusuri ruas jalan kota, kami akhirnya berhenti di sebuah rumah makan. Restoran ini tidak seberapa besar. Ada sedikitnya lima kelompok meja. Kami memenuhi tiga kelompok meja berisikan sekitar 25 kursi, termasuk Kepala Disdik Kubar Ir Fredrick Ellia G MA. Dua meja lain diisi pengunjung lain, sebagian masih dengan seragam kerja: celana blue jean, kemeja biru muda dilengkapi spotlight, dan sepatu safety. Dua lainnya mengenakan wearpack.

Tidak ada yang istimewa dari rumah makan ini. Menunya biasa dijumpai di kota-kota lain seperti udang, ayam, dan patin. Layanan dan penyajiannya pun sederhana. Tapi ini adalah rumah makan terbesar di Sendawar. Karena itu banyak dikunjungi terutama oleh pendatang atau saat menjamu tamu dari luar kota.

Tidak jauh dari rumah makan itu, di seberang jalan, kami menginap. Hampir sama dengan rumah makan, bangunan dan layanannya juga sangat sederhana, dan terkesan apa adanya. Meski hampir semua kamar dilengkapi mesin penyejuk udara dan televisi multichannel, tetapi layanannya tidak menunjukkan kelas hotel. Kalau toh hotel itu juga relatip penuh, mungkin karena tak ada pilihan lain.

Di kota ini memang sulit mencari tenaga yang mengerti soal tata boga. Tidak mengherankan jika kemudian layanan hotel maupun restoran di Sendawar dan Melak kurang memiliki cita rasa tinggi. Bangunan boleh sederhana, hotel boleh tidak berbintang. Tetapi jika dikemas baik dan disajikan secara berkelas, tentu akan membuat betah pengunjung. Dan sebagai kota yang sedang berkembang Pemkab Kubar semestinya memikirkan persoalan itu.

Syafruddin Pernyata, Kepala Disdik Kaltim, melihat hal itu sebagai peluang. Tiadanya tenaga tata boga, mestinya menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. "Kami di Provinsi sebenarnya bahkan sudah membuat program membuat SMK Tata Boga di Kubar," katanya.

SMK dimaksud adalah SMK Negeri 2 Sendawar. Disdik Provinsi membiayai pembangunan gedungnya. Sedang Disdik Kubar menyiapkan lahannya. Bangunan sudah rampung dikerjakan, dan telah dioperasikan. Namun rencana membuat SMK Tata Boga itu ternyata tidak terwujud. Pengelola SMK2 terpaksa mengubahnya menjadi SMK TI (Teknologi Informasi) karena saat dibuka pendaftaran, yang mendaftar ternyata hanya tiga orang. SMK Tata Boga tidak diminati oleh pelajar di Kubar meski peluang kerja dan usaha lebih besar.

Perubahan itu diketahui saat rombongan Disdik Kaltim meninjau sekolah tersebut Sabtu pekan lalu. Syafruddin menyesalkan perubahan itu. Kurangnya pelajar yang berminat memasuki Tata Boga, mestinya bisa dihindari kalau Disdik dan Kepala Sekolah SMK2 proaktif melakukan sosialisasi. Perubahan menjadi SMK TI juga bukan berarti persoalan selesai. Di Samarinda sudah banyak jebolan SMK TI, sehingga persaingan kerja di jurusan ini cukup tinggi.

Selain itu, di SMK2 itu tidak ada saluran listrik PLN. Jumlah komputer pun amat terbatas. Lalu bagaimana mereka akan praktek. Memang ada genzet, tapi tentu akan memerlukan ongkos lebih besar lagi untuk membeli solar. "Saya hanya khawatir kalau akhirnya menjadi semacam SMK Sastra," jelasnya.

SMK "Sastra" yang dimaksudkan adalah lulusan yang tidak menguasai bidang keahliannya. Ada SMK otomotif tapi tidak tahu soal mesin. SMK TI tapi tidak paham soal komputer. Dunia usaha acapkali mengeluhkan lulusan-lulusan SMK semacam ini, yang oleh Syafruddin disebut sebagai SMK "Sastra". Sekitar 50 persen kondisi SMK di Kaltim dari total 151 SMK, diakui kondisinya masih memprihatinkan, atau masuk dalam kategori SMK "Sastra".
***

SMK2 Sendawar terletak cukup jauh dari jalan raya. Terlebih dulu masuk jalan setapak ke kebun yang kiri kanannya masih dipenuhi belukar dan pohon-pohon hutan. Saat hujan, kondisinya becek. Karena jauh dari jalan raya, jaringan kabel listrik PLN tidak menjangkau sampai ke sana. Dan ternyata tak cuma SMK2 yang dibangun berada di dalam kebun.

Sebuah SMK lain yang dibangun dengan biaya dari Disdik Kaltim, juga dibangun jauh dari jalan raya. Soal jauh mungkin relatif, tapi kalau akses jalan tidak ada, tentu akan jadi persoalan. Saat kami meninjaunya, hanya mobil berpenggerak empat roda saja yang bisa ke sana. Kubangan air menganga besar di tengah ruas jalan tak beraspal. Hampir semua sekolah yang dibangun Disdik Kaltim, letaknya tidak strategis.

Ada yang dibangun tepat di pinggir jalan raya, tetapi ternyata berada jauh dari permukiman penduduk. Jarak dengan permukiman mencapai belasan hingga puluhan kilometer. Kenapa? Itu karena adanya kepentingan tertentu dalam pemilihan tanah. Tanah disediakan atau dibebaskan oleh Pemkab Kubar. Celakanya, Pemkab Kubar terkesan asal saja dalam menyediakan tanah untuk sekolah. Ini menjadi bukti bahwa di era otda, tidak gampang mencapai harmoni program antara kota/kabupaten dengan provinsi.(*)















Oct 16, 2008

Mengejar Manusia Kawat Sebelum di Empat Mata

SELASA pagi lalu, saya dikabari wartawan Tribun Kaltim, Joni Kusworo, bahwa Noorsyaidah yang yang selama ini dijuluki "manusia kawat" oleh media, sudah berangkat ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda. Dan, 10 menit kemudian saya mengkloning berita dari website-nya Tribun Kaltim serta menayangkannya di Kompas.com.

IGN SAWABI

Dalam berita itu hanya disebutkan, Noorsyaidah berangkat ke Jakarta serta beberapa kesaksian wartawan di Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam bayangan saya, demikian juga Joni Kusworo, kepergian Noorsyaidah ke Jakarta adalah akan berobat. Makanya pertanyaan saya yang kemudian muncul saya ajukan ke Joni Kusworo adalah, di rumah sakit mana dia akan berobat.

Joni tidak mendapatkan informasi tentang itu. Dia hanya bisa mengontak Lilis, famili Noorsyaidah dalam beberapa detik dan kemudian sambungan telepon terputus.

Tentu saja sangat sulit menyisir ratusan rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya, yang kemungkinan menjadi tujuan Noorsyaidah. "Wah saya tidak tahu, dimana dia akan dirawat. Saya tidak mendapatkan informasi itu," kata Joni.

Dengan segala upaya, saya mencoba mengontak beberapa rumah sakit yang kebetulan saya kenali. Tetapi tidak satu pun humas RS yang mengabarkan telah menerima pasien bernama Noorsyaidah, umur 40 tahun, dari Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Hingga sore hari, saya masih berkutat dari rumah sakit ke rumah sakit. Tentu saja melalui telepon. Sekira pukul 17.00, saya mengontak Muhammad Khaidir, wartawan Harian Pagi Tribun Kaltim yang pertama kali menulis tentang perempuan berpenyakit aneh itu.

"Lho katanya dia ke Jakarta bukan untuk berobat, tetapi mengisi acara di televisi," kata Khaidir saat saya hubungi.

Saya kembali mengira-ira, acara apa yang akan melibatkan Noorsyaidah. Terbersit dalam benak saya, mungkin Empat Mata. Tetapi saya ragu, apa iya Noorsyaidah bisa tampil di Empat Mata. Bukankah dia akan kesakitan perutnya kalau melihat wajah dan banyolan Tukul?

Pikiran saya mengarah ke Kick Andy. Saya mengontak Makroen Sanjaya, Wapimred Metro TV. "Wah saya juga lagi mengerahkan anak buah ke RS Cipto Mangunkusumo," kata Makroen. Setidaknya kesimpulan saya dan Makroen sama, bahwa Noorsyaidah ke Jakarta akan berobat.

Saya pun balik bertanya, "apa bukan di Kick Andy?" Sontak Makroen terkejut, "Oh ya ya.. coba aku cek.." Dialog kami terputus.

Siane Indriyanie, pejabat di Global TV saya kontak. Tetapi lagi-lagi nihil, saya tidak dapat informasi apapun. Demikian juga Martian Damanik, Korlip baru di RCTI.

Saya cek nomor-nomor di ponebook ponsel saya. Ada nama Teguh pekerjaan manajer Tukul. Lalu saya kontak Mas Teguh. Namun Teguh mengatakan bahwa 4 Mata untuk Selasa, Rabu, dan Kamis tidak mengagendakan bintang tamu bernama Noorsyaidah.

Bahkan untuk meyakinkan saya, Mas Teguh sempat bertanya kepada orang lain. "Iya Mas, ini saya sedang di studio Trans7, nggak ada nama itu," katanya. Dari balik telepon terdengar Mas Teguh bertanya orang lain dan dengan jelas orang yang ditanya Mas Teguh mengatakan tidak ada bintang tamu seperti yang saya maksud.

Sekali lagi saya bertanya kepada Mas Teguh, dan jawabannya sama dengan jawaban semula.

Karena pada saat yang sama saya juga harus memantau berita Rapimnas Partai Gerindra yang sedang berlangsung, tentang Noorsyaidah agak terlupakan. Pukul 20.30 saya ditelepon Muhammad Khaidir dari Samarinda, intinya meyakinkan saya bahwa Noorsyaidah akan mengisi acara di Empat Mata.

"Iya mas, betul Bu Noorsyaidah menginap di hotel M daerah M di Jakarta Selatan. Besok malam Bu Noor akan ngisi di Empat Mata, saya dapat informasi dari kakaknya yang tinggal di Samarinda," kata Khaidir.

Menghargai Eksklusivitas

Saat mendapat informasi yang memastikan bahwa Noorsyaidah akan mengisi acara Empat Mata, saya sedang makan malam di rumah. Namun saya putuskan untuk tidak mengerahkan wartawan ke hotel M di bilangan M, Jakarta selatan.

Saya sangat menghargai upaya Trans7 menghadirkan Bu Noorsyaidah ke studio sebagai sebuah eksklusivitas. Tentu, upaya yang ditempuh kru Empat Mata dan Trans7 tidaklah mudah. Dan saya hormati, jika kemudian mereka menghendaki kedatangan Noorsyaidah sebagai "hak" Empat Mata. Mudah-mudahan Bu Noor cepat sembuh.

(Oleh IGN Sawabi, Sumber: http://www.tribunkaltim.co.id/read/artikel/9982)

Sep 7, 2008

Pembesuk (Tidak) Dipungut Bayaran


SETENGAH jam sebelum waktu besuk, saya tiba di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur. Jam di tangan menunjuk angka 09.31. Pintu gerbang utama sudah dibuka."Antre dulu di ruang sana. Jam besuk baru dibuka pukul 10.00," kata seorang petugas di pintu gerbang kepada saya.

ACHMAD BINTORO

Di dalam ruang sebelah kiri, saya lihat sudah berjubel puluhan pembesuk. "Pak, isi dulu dong!" bentak seorang petugas saat mengetahui saya hanya ambil nomor antrean di meja petugas. Saya kira pembesuk cukup mengambil nomor antrean saja. Saya pun minta maaf. Tetapi air mukanya tetap keruh dan tidak bersahabat. Di seberang meja dia, sebuah tulisan merah terpampang jelas di dinding tembok: "Pembesuk Tidak Dipungut Bayaran".

Saya pun mengisi formulir kunjungan. Formulir ini rangkap tiga berisi jati diri singkat pembesuk dan siapa yang akan dikunjungi. Petugas lalu memberi nomor antrean 26. Tapi, begitu tahu yang saya kunjungi adalah Suwarna AF, mantan Gubernur Kaltim, sebuah senyuman langsung tersungging di bibirnya. Saya tak tahu apa arti senyumnya yang tiba-tiba itu. Sedetik kemudian dia meminta saya untuk tidak perlu mengantre, dan segera menunjukkan pintu lain yang harus saya datangi.

Pintu tersebut sedang tertutup rapat. Terbuat dari pelat besi. Dikelilingi tembok kokoh dan pagar menjulang. Tidak jauh dari pintu pembesuk, terdapat pintu lain menghadap timur. Pintu itu juga terbuat dari pelat besi, tingginya sekitar delapan meter, dilengkapi jendela seukuran kepalan tangan orang dewasa. Dengan ketinggian seperti itu ditambah gulungan kawat berduri di atasnya, pintu yang terhubung dengan pagar keliling ini tentu tidak akan mudah ditembus.

Keadaan lengang. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya tembok-tembok kokoh tinggi yang menjadi penyekat antara wilayah luar dan dalam penjara. Mentari hangat menyentuh kulit. Namun keheningan belum pecah. Tidak sekecil pun terdengar canda, jerit maupun obrolan dari balik tembok. Di penjara terbesar di Jakarta ini terdapat tak kurang dari 4.000 orang tahanan dan narapidana. Jauh melebihi daya tampungnya, 1.300 orang.

Saya yang berada di luar jadi penasaran, dan sangat sulit meraba-raba bagaimana suasana hari- hari di balik tembok penjara ini. Terbayang dalam benak saya wajah-wajah sangar layaknya para penjahat yang digambarkan di film-film. Mata tajam menusuk, tubuh berotot dan penuh tato. Di sini kenyataannya ditampung narapidana kelas teri hingga kakap, serta dari bermacam kasus dan latar. Dari yang sebelumnya biasa tidur beralas koran dan beratap langit, hingga mereka yang biasa menggunakan springbed di ruang ber-AC. Ada pencuri, pemerkosa, perampok, bandar narkoba, hingga koruptor. Di sini pula Suwarna AF mendekam.
***

PINTU besi saya ketuk. Jendela kecil di tengah pintu terbuka. "Ada apa? Tunggu saja, jam besuk belum dibuka!" ujar seorang petugas yang melongokkan wajahnya. Belum sempat saya memberi penjelasan, jendela kecil itu sudah dia tutup lagi. Saya terpaksa kembali mengetuk. Begitu wajah itu terlihat di jendela, saya langsung katakan bahwa saya mau membesuk Suwarna.

Mendengar saya menyebut nama Suwarna, pintu besi itu langsung dibuka.

"Oo..silakan Pak. Pak Warna sudah menunggu. Tapi ambil dulu kartu tamu," jelasnya. Dia mengantar ke ruang kecil di samping kanan. Seorang petugas lain sudah menunggu. Setelah basa-basi dan bertanya mengenai hubungan saya dengan Suwarna, petugas menunjukkan jalan ke lantai dua. Saya tidak mengenalkan diri sebagai wartawan. Saya katakan, Suwarna adalah teman saya. Pada kolom pekerjaan di kartu identitas saya, kebetulan hanya menyebut "swasta".


Tiba di lantai dua, saya memasuki sebuah ruang besar, berukuran 25 X 25 meter. Suwarna saya lihat sudah menunggu di meja bagian kanan, membelakangi jendela. "Hai, apa kabar?" tanya dia, seperti biasa selalu ramah dan murah senyum. Dia berdiri menyambut dan memeluk badan saya, cium pipi kiri dan kanan.


Sejenak pandangan saya menyisir ruangan. Di sini pula sehari sebelumnya, 25 Agustus 2008, digelar seremoni penyerahan bonus oleh Suwarna AF selaku Ketua KONI Kaltim kepada 79 atlet peraih medali PON XVII. Seremoni itu cukup meriah untuk ukuran LP. Dihadiri Pj Gubernur Tarmizi A Karim, Walikota Samarinda Achmad Amins, Plh KONI Kaltim Zuhdi Yahya serta seratus lebih atlet, pelatih dan undangan lain.


Ruang ini cukup terang meski lampu tidak dinyalakan. Bias sinar mentari menerobos lewat

jendela-jendela lebar berkaca di kiri kanan ruang. Hawanya sejuk, mengalir dari empat mesin pengatur udara yang terpasang di atasnya. Dan layaknya desain ruang penjara, yang tidak pernah meninggalkan faktor keamanan, jendela-jendela itu dipasangi teralis berupa jeruji-jeruji besi berdiameter 3 cm. Jeruji dipasang vertikal. Ini adalah ruangan yang sama ketika saya membesuk kali pertama, 26 Juli 2008 lalu.

Saat itu terlihat Robian dan Uuh Aliyuddin di meja lain. Keduanya sedang dikunjungi istri, anak dan kerabatnya. Mereka tengah larut dalam kelangenan sambil menikmati santap siang. Robian adalah mantan Kepala Dinas Kehutanan, dan Uuh mantan Kepala Kanwil Kehutanan Kaltim. Di meja lain lagi, terlihat Waskito Suryodibroto, mantan Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi (PHP) Dephut.

Ketiganya, termasuk Suwarna AF divonis oleh hakim Pengadilan Khusus Tipikor terkait kasus pembukaan kebun sawit di wilayah utara Kaltim oleh kelompok usaha Surya Dumai Group.
Di meja dekat pintu masuk ada Widjanarko Puspoyo, Dirut Bulog. Di meja samping, tersekat papan kayu setinggi dada orang dewasa, ada Noeloe, mantan bos Bank Mandiri. Noeloe dibesuk hanya seorang lelaki.

Ruang ini semacam ruang VIP bagi para narapidana kelas kakap. Seorang petugas mengatakan, ruang ini adalah aula LP. "Tapi jarang sekali kita gunakan, kecuali ada arisan atau kegiatan ibu- ibu dharmawanita. Nah, daripada jarang digunakan, kan lebih bagus kita manfaatkan. Lumayan kan dapat uang rokok," jelasnya tanpa mau merinci berapa uang sewa untuk ruangan tersebut.


LP sebenarnya menyediakan ruang besuk resmi di lantai bawah. Namun ruang itu selalu penuh oleh pengunjung. Para pembesuk dan narapidana harus berdesak-desakan di bawah pengawasan sipir maupun tamping (tahanan pendamping). Tidak jarang napi dan pasangannya melampiaskan hasrat seksualnya di tempat tersebut. Mereka tidak sungkan meski banyak pembesuk, napi serta sipir.
Tamping adalah narapidana yang diperbantukan pada petugas atau pemuka dalam melaksanakan pekerjaan tertentu. Tamping ada di hampir semua tempat. Ada yang disebut tamping Kepala LP, tamping pendidikan komputer, dan tamping catur. Tamping biasanya bakal berharap ditugaskan di tempat kunjungan agar bisa mendapatkan uang, sekitar Rp 20 ribu-Rp 120 ribu tiap hari. Uang itu diperoleh dari para pembesuk yang biasanya menyelipkan lembaran Rp 5.000 atau Rp 10.000 saat tangan mereka dicap petugas. Lho, lalu apa arti tulisan "Pembesuk Tidak Dipungut Bayaran" yang terpampang di ruang tunggu? (bersambung)

Catatan: Dimuat di Tribun Kaltim, edisi cetak 3 September 2008

Suwarna Heran Tidak Ada Yang Kirimi Parcel

MENGENAKAN kaos berkerah warna abu-abu, Suwarna terlihat lebih muda. Empat bulan lagi, usianya genap 65 tahun. Rambutnya tersisir rapi, tanpa uban. Dia terkekeh memandangi rambut saya yang makin habis. "Kok kian licin saja," sindirnya. Saya hanya tersenyum, mengangkat bahu dan telapak tangan. Dua tahun empat bulan di penjara ternyata tidak membuat selera humornya hilang.

ACHMAD BINTORO

Suwarna yang apa adanya, sederhana, dan nyaris tak pernah kenal barang bermerek, sudah lama saya tahu. Sederhana pula dia menyikapi persoalan yang mungkin oleh sebagian orang dianggap pelik. Seperti suatu malam jelang lebaran Idul Fitri di Lamin Etam. Ia bertanya pada Aji Sofyan Alex.

"Kok nggak ada yang datang? Kata orang kalau gubernur, mau lebaran pasti banyak yang datang kasih bingkisan. Iya kan, Lex?" Saat itu dia baru saja membagi-bagi hadiah lebaran untuk para stafnya di rumah jabatan.

Keduanya saling pandang, lalu tertawa bersama. Lucu, karena sama-sama bokek. Ya. Menyikapi sesuatu dengan tawa tergelak. Simpel sekali. Menurut Alex, sebagaimana ia kisahkan di halaman 93 buku Pergulatan Seorang Suwarna, kalau pun Suwarna punya uang, itu karena ia cari sendiri. Usaha sendiri tanpa memanfaatkan jabatannya sebagai gubernur.

"Akhirnya ya ia dianggap lupa. Orang jadi sering bilang: Suwarna pelit. Seperti itulah," ungkap Alex. Saat itu Alex menjabat Kepala Dinas Pertnian Tanaman Pangan Kaltim.

Alex berkisah apa adanya tentang Suwarna.Yang minor, kata Alex, ya, itu tadi soal kepelitannya. Karena itu tak sedikit pengusaha, tokoh masyarakat hingga wartawan, yang menganggap sebagai orang yang telah lupa. Lupa pada balas budi dan jasa orang, yang barangkali merasa diri berjasa mengantarkan Suwarna menjadi gubernur. Padahal itu hanya karena ketiadaan uang lebih di kantongnya.

Suwarna tidak suka dilayani secara berlebihan seperti bos-bos lain. "Penilaian ini kudapat dari beberapa Kakanwil yang datang dari daerah lain dan ditugaskan di Kaltim. Mereka bilang, di tempatnya bertugas dulu, begitu datang, langsung lapor dengan memberikan bingkisan sesuatu. Semacam upetilah. Kalau mau lebaran apalagi, kudu setor. Juga pada saat-saat penting lainnya," kata Alex yang kini terjun di dunia politik lewat PDI Perjuangan.
***

SATU jam bersama Suwarna AF, tidak berarti saya bisa bebas berkeliaran melongok jeroan LP Cipinang. Meski saya ingin sekali melihat langsung kamar atau sel mantan orang nomor satu di Provinsi Kaltim ini, aturan LP membatasi saya hanya sampai di tempat besuk. Tempat besuk itu adalah ruang aula di lantai dua seperti yang sudah saya gambarkan kemarin.

Harapan saya, kalau pun saya tidak bisa melihat sendiri kehidupan sehari-hari di dalam LP, saya bisa mendapatkan gambaran keadaan itu melalui Suwarna. Tapi ternyata tidak mudah mengorek keterangan semacam itu darinya. Sensitip, katanya. Saya mencoba lagi melemparkan pertanyaan- pertanyaan khusus agar mendapat jawaban yang saya inginkan, di sela canda tawa kami. Namun selalu pula dia mengelak. Biasanya dia menjawab dengan senyum atau tertawa geli melihat saya yang tidak bosan menanyakan hal-hal yang dianggapnya sensitip itu.

"Sudahlah, ga usah tanya-tanya yang begitu. Yang pasti saya di sini baik-baik saja. Pagi bangun, shalat, olahraga, sarapan dan baca. Tak ada yang istimewa," elaknya. Bahkan di blok apa kini dia tinggal pun tidak dijawabnya. Kalau pun ada jawaban mengenai kehidupan sehari-hari di penjara lebih untuk pengetahuan saya, bukan untuk dikorankan.
***

"BAGAIMANA kabar Kaltim?" tanya Suwarna. Dia selalu menanyakan hal itu kepada setiap orang Kaltim yang membesuknya. Perhatiannya yang besar terhadap masyarakat Kaltim ternyata tidak pernah tercerabut meski kebebasannya sendiri terenggut. Saya lalu gambarkan kepadanya secara singkat kondisi sosial politik, dan ekonomi Kaltim. Saya kisahkan sedikit perkembangan terakhir Pilgub Kaltim. Termasuk perkembangan pembangunan Masjid Islamic Centre di Jalan Slamet Riyadi, Samarinda.

Saya tahu dia sudah acapkali mendapat informasi semacam ini. Namun entah kenapa dia masih mau saja menyimak uraian saya. Ia menghela nafas agak panjang ketika saya sampaikan bahwa pembangunan bandara baru di Sei Siring belum tuntas. Begitu pula relokasi warga dari bantaran Sungai Karang Mumus, serta jembatan Mahkota II yang belum kelar. Namun sedetik kemudian raut mukanya berubah berbinar saat saya gambarkan keindahan dan kemegahan Masjid Islamic Centre.

"Wah jadi pengin neh ke sana," ungkapnya. Masjid itu dibangun atas prakarsa dia sewaktu jadi gubernur. Dia ingin ada sebuah bangunan yang bisa bermanfaat dan menjadi landmark bagi Samarinda serta Kaltim. Bangunan dimaksud adalah sebuah masjid yang megah dan indah yang menjadi pusat dakwah.

Kaltim memiliki kemampuan untuk membangun masjid itu. Tak kurang dari Rp 550 miliar dana APBD Provinsi Kaltim yang dipakai untuk menyelesaikan masjid itu. Kini, hasilnya sudah dapat dilihat dan dinikmati masyarakat Kaltim. Decak kagum akan langsung terlontar dari setiap orang saat mereka melintasi jalan Slamet Riyadi. Bangunan itu begitu kokoh, menjulang, dan memberi image positip terhadap Kaltim.

Letaknya yang strategis, di tepian Mahakam, menjadikan terlihat lebih eksotik. Bila malam tiba, lampu-lampu berpendar mengitari kubah dan empat menara menampakkan bayang bernuansa di permukaan Mahakam. Kini masjid itu tak hanya ramai dikunjungi jamaah tapi sekaligus menjadi tempat wisata baru bagi warga setempat. Setiap sore dan malam, terlebih saat Ramadhan seperti ini, usai atau sebelum sembahyang, mereka sempatkan diri berfoto dengan latar masjid. Suwarna sendiri menyumbangkan sebuah bedug besar dari sebuah kayu waru berkualitas yang dia pesan khusus dari sebuah kota di Jawa.
***

AKHIR penantian itu akan segera tiba. Tak lama lagi, dua-tiga bulan mendatang, Suwarna bakal mengakhiri hari-harinya di LP Cipinang. Ia akan menghirup udara bebas, mendapat pembebasan bersyarat setelah sejumlah remisi ia dapatkan. Apa yang akan dia lakukan setelah bebas? Sudah tentu pertama akan kumpul dengan anak istri. Kedua, katanya, dia ingin menengok Samarinda, melihat langsung masjid Islamic Centre. Mau berpolitik lagi?

"Enggaklah. Saya ogah berpolitik lagi. Capek. Lagi pula saya sudah tua, tahun depan sudah 65 tahun. Jadi apa lagi yang harus saya cari. Saya mau menikmati pensiun, bermain bersama cucu- cucu atau jadi petani ikut Martin," jelasnya.

Martin dimaksud adalah Martin D Safari, putra keduanya, seorang petani. Lebih tepatnya menekuni dunia agribisnis. Anak pertamanya, Febry M Nerwan seorang pedagang. "Bapak tak mau memberi kami secara langsung. Kami anak-anaknya harus berusaha sendiri. Inilah salah satu alasan kenapa saya tidak boleh jadi kontraktor di Kaltim saat bapak jadi gubernur," tutur Febry yang menekuni usaha ikan kerapu. (*)

Sep 4, 2008

Tempe Blewah, Takjil Favorit Puasa


MAKAN tempe dembel dan minum es blewah sebenarnya bukan ritual tahunan. Tempe dembel adalah tempe yang digoreng dengan racikan bumbu empon-empon dan tepung terigu. Ada yang menyebut mendoan.

Di luar bulan puasa pun, istri saya selalu menyisipkan tempe dembel itu sebagai bagian dari menu sehari-hari. Dia tahu betul kegemaran saya. Sedang es blewah jarang sekali bisa saya nikmati. Selain musiman, pedagang buah di Samarinda jarang sekali menjualnya. Kadang-kadang kalau lagi musim, tersedia di Hero Supermarket dan Foodmart. Harganya sudah melonjak hingga Rp 40.000. Di kampung saya di Tuban, blewah seukuran buah melon biasa dijual tak lebih dari Rp 5.000

Meski bukan ritual tahunan, namun saya merasakan makan tempe saat bulan puasa nikmatnya lebih dari biasa. Kebetulan, meski bukan orang Jawa, istri saya pintar sekali membuat tempe dembel. Kerenyahan dan taste-nya benar-benar khas dan pas. Bahkan hadama di rumah pun belum bisa menandinginya. Padahal dia orang Jawa asli. Saat seperti itu, istri saya menggoreng hingga satu baki (sekitar 50 biji).

Tempe itu tersaji di meja makan atau kadang di karpet depan teve sambil kami menunggu beduk adzan Maghrib. Jangan anggap itu terlalu banyak. Tak lama setelah adzan, biasanya sudah ludes. Sebagian besar saya yang makan. Saya biasa memakannya dengan cabe rawit. Begitu pula istri, mak dan ipar-ipar saya. Sedang Tifa dan Salsa lebih senang memakannya dengan campuran caos lombok dan tomat.


Aug 19, 2008

Bah, ke Monas Yuk






BUKAN kali pertama itu aku mendengar ajakan itu dari si bungsu, Salsa. Dalam sepekan ini saja, sudah empat kali dia melontarkan ajakannya. Kadang dia membisikkannya di telingaku seraya menggelayut di punggungku. Saat seperti itu, dia akan berusaha merayu.Seperti yang dia lakukan Sabtu kemarin. Pagi itu dia kesiangan bangun. Bangun kesiangan itu biasa dia lakukan saat libur.

Dalam satu pekan, Salsa libur sekolah dua hari, Sabtu dan Minggu. Ini berbeda dengan kakaknya, Tifa. Sang kakak saat ini duduk di bangku kelas V SD Muhammadiyah I Samarinda. Sedangkan Salsa, di kelas II SDIT Cordova Samarinda. Aku sengaja mencari SD yang lebih dekat dengan rumah untuk si bungsu, agar kelak saat kelas III dia bisa berangkat sendiri ke sekolah dengan jalan kaki atau naik sepeda onthel.

Gedung SDIT Cordova yang baru (kelas III-VI) kebetulan terletak hanya sekitar beberapa ratus meter saja dari rumah di Kompleks PWI Jalan Kadrie Oening. Saat ini di belakang rumah juga tengah dibangun Sekolah Terpadu SMP-SMAN 1 Samarinda.

Aug 17, 2008

Ini Big Bang-nya Korupsi

TAK ada yang berubah pada diri Suwarna AF. Saat saya membezuknya di LP Cipinang, Jakarta 26 Juli lalu, cara dia bicara masih seperti dulu: keras, tegas dan apa adanya. Ketawanya pun lepas, acapkali membuat pembezuk narapidana lainnya menoleh ke kami. 


Tapi raut muka mantan Gubernur Kaltim itu seketika berubah saat saya menyinggung soal KPC dalam obrolan kami. Kedua alisnya terangkat. Volume suaranya merendah. "Ini konspirasi besar. Ini big bang korupsi, begitu Pak SBY bilang saat saya melaporkan soal divestasi KPC," katanya setengah berbisik kepada saya.

Berbicara soal divestasi saham KPC, memang tak bisa dilepaskan dari sosok lelaki kelahiran 1 Januari 1944 ini. Dialah pejabat pertama di Kaltim yang tak kenal lelah berjuang agar Pemprov dan Pemkab Kutim bisa mendapatkan hak membeli saham divestasi KPC. "Saya bisa di sini juga karena korban konspirasi mereka," tuturnya. Ia menghela nafas panjang.

Aug 15, 2008

Dari Bengalon Menuju Washington


LEWAT kacamata minusnya, Isran Noor memicik konsep surat tertanggal 11 Juli 2008 yang disodorkan stafnya. Perhatiannya seketika tercerabut dari setumpuk berkas lain yang berserak di meja kerjanya di Sangatta. Tapi tak perlu waktu lama. Sesaat kemudian, tanpa ragu, jari kanan Wakil Bupati Kutai Timur itu bergerak cepat meneken surat bernomor 180/130/HK/VII/2008 itu. Itulah surat yang kini membuat puyeng

ACHMAD BINTORO

Gara-gara surat itu, kegiatan eksploitasi tambang batubara KPC dan Perkasa Inaka Kerta (PIK) di areal IUPHHK Porodisa Trading & Industries di Bengalon akhirnya dihentikan. Polda Kaltim kini terus melakukan penyidikan, memanggil sejumlah pejabat KPC untuk menjadi saksi. Tidak terkecuali Presdir KPC Ari S Hudaya, yang sudah masuk dalam daftar pemanggilan.

Penghentian sementara tambang KPC oleh Pemkab Kutim makin menegaskan runcingnya perselisihan menahun Pemkab Kutim dengan KPC. Publik melihat ini menjadi lebih dari sekedar persoalan penghentian sebuah perusahaan tambang. Kalau saja yang dihentikan adalah perusahaan tambang lain, bukan KPC, pemberitaan dan reaksi banyak pihak barangkali tidak akan sebesar ini.

Sampai-sampai sejumlah aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang sudah punya nama seperti Jatam, Sarekat Hijau Indonesia (SHI), Walhi, Pokja 30, pegiat tambang serta lingkungan lainnya merasa perlu membahasnya dalam diskusi terbatas di Samarinda, Kamis (14/8) kemarin. Diskusi itu bertajuk Pemkab Kutim Versus KPC.

Di Kaltim, bukan tidak sedikit kasus tumpang tindih lahan semacam itu. Mereka menunjukkan beberapa kasus serupa di wilayah lain di Kaltim. Tapi teriakan para pemilik HPH yang lahannya diserobot oleh perusahaan tambang itu nyaris tidak terdengar. "Sebenarnya banyak HPH yang teriak-teriak karena lahannya dicaplok oleh tambang," tutur Ade Cahyat, Senior Adviser GTZ wilayah Kaltim.

Persoalan KPC menjadi menarik karena KPC adalah salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia dengan kualitas prima. Tahun lalu, angka produksi batubara KPC mencapai 50 juta metrik ton. The Financial Times, sebuah harian pagi bersegmen bisnis internasional dari Inggris yang memiliki reputasi terpuji dan acap dijadikan acuan kalangan pebisnis, menuliskan bahwa kegiatan pengapalan batubara di Pelabuhan Tanjung Bara, Sangatta, ke sejumlah negara pembeli adalah yang terbesar di negeri ini

Namun yang lebih menarik adalah adanya sejarah perselisihan panjang terkait dengam keinginan Pemkab Kutim membeli saham divestasi KPC. Persoalan divestasi, seperti kita tahu telah dibawa Didi Dermawan, pengacara Pemkab Kutim, ke arbitrase internasional. Didi sebelumnya juga pengacara Pemprov Kaltim. Namun Gubernur Kaltim Yurnalis Ngayoh, sehari sebelum lengser, 24 Juni lalu, mencabut kuasa hukum Didi dan memilih damai dengan KPC dengan dalih peluang Kaltim untuk menang tipis. Jadilah kini Pemkab Kutim sendirian berperang melawan KPC.

Sidang pertama di London berjalan lancar, begitu pula sidang fase kedua di Singapura, 27-28 Pebruari 2008 lalu. Saya yang saat itu turut mengikuti jalannya sidang, melihat persoalan jurisdiksi menjadi bahan yang paling alot diperdebatkan. Pihak KPC menyatakan Pemprov dan Pemkab Kutim tidak memiliki kapasitas untuk menggugat KPC. Sebab PKP2B diteken oleh KPC dengan pemerintah Pusat (negara). Simon Sembiring, Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi ESDM, memberi kesaksian yang menguatkan KPC.

Tetapi, Kaltim tidak tinggal diam. Didi katakan bahwa yang dimaksud negara, dalam konteks NKRI, di dalamnya termasuk pemda, dalam hal ini provinsi dan kabupaten/kota. Teman saya, Fauzan Zidni, yang sedang studi di Lee Kuan Yew of Public Policy National University of Singapore membenarkan pendapat Didi.

"Saya diskusi dengan teman-teman. Saya pikir peluang (Kaltim) cukup kuat. Ini terlihat dari reaksi Tribunal di sidang," katanya. Reaksi yang dimaksud Fauzan adalah pertanyaan anggota Tribunal Albert Van den Berg maupun Michael Hwang

Todung Mulya Lubis, pengacara BP/Rio Tinto, saat itu mendesak Tribunal untuk menolak gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim yang diajukan Didi. Terlebih, kata Todung, gugatan Pemprov sebelumnya sudah pernah ditolak oleh PN Jakarta. Sehingga mestinya, gugatan ke ICSID pun harus ditolak karena tiadanya kewenangan dan hak. Permintaan senda disampaikan Michael P Lennon, Ketua Tim Pembela KPC.

Namun Albert Van dem Berg, anggota Tribunal yang dipilih KPC, justru balik mempertanyakan. "Dari tadi Anda selalu mengatakan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim tidak berhak maju di ICSID, sekarang tunjukkan pada kami apa ada aturan yang tegas melarang pemda untuk maju di ICSID," tanya Albert yang kemudian oleh Lennon dijawab, tidak ada.

Selain fakta yang terungkap di persidangan, hal lain yang menguntungkan Kaltim adalah, dalam Pasal 25 ICSID Constituent dinyatakan, bahwa "constituent subdivision" dari suatu negara, oleh ICSID dianggap sebagai bagian yang sama dari negara tersebut.

Kadang-kadang justru ICSID menggunakan istilah state atau government. Tapi kedua istilah itu dalam hukum pertanggungjawaban negara (law on state responsibility - masih berupa draft article tetapi sudah mengikat karena sudah menjadi kebiasaan hukum internasional), departemen atau pemda dianggap sebagai "negara".

Kini, hampir enam bulan usai sidang fase kedua, Tribunal ICSID belum memberikan keputusan soal jurisdiksi itu. Tribunal ICSID yang bermarkas di Washington DC, AS, barangkali merasa masih harus mendengar dan mencari tahu lebih banyak apakah Pemkab Kutim memang memiliki kewenangan untuk berperkara di lembaga arbitrase ini menggugat KPC.

Lalu apa kaitannya dengan penutupan tambang KPC? Pemkab agaknya ingin menunjukkan pada dunia, terutama Tribunal bahwa Pemkab Kutim memiliki kewenangan. Saat ini saya tanyakan ke Isran Noor, dia membenarkan. Penghentian tambang itu, katanya sekaligus menunjukkan harkat, martabat dan kedaulatan pemerintah dalam bingkai NKRI.

"Ya, kita memang ingin tunjukkan Pemkab Kutim juga memiliki kewenangan. Bahwa yang dimaksud pemerintah atau negara, di dalamnya itu termasuk Pemkab, dalam konteks NKRI. Sehingga siapa pun yang menghalangi tugas dan keputusan yang diambil sesuai kewenangan Pemkab Kutim, harus berhadapan dengan UU dan peraturan yang berlaku," tandas Isran.

Tapi KPC menganggap apa yang telah dilakukan selama ini, mulai dari proses divestasi saham hingga penambangan di Bengalon, sudah berjalan sesuai aturan yang berlaku dan PKP2B. Vice President Legal Bumi Resources, Yanti Sinaga minta semua pihak mengacu pada PKP2B yang diteken oleh pusat dan KPC. Karena itu penghentian tambang, kata Yanti, mestinya merupakan kewenangan Departemen ESDM, bukan Pemkab Kutim.

Yang pasti, saat ini perhatian banyak pihak sedang tertuju kepada Bengalon. Isran ingin masalah ini menggelinding hingga ke Washington DC, markas besar ICSID. Karena itu ia juga tak pernah ragu untuk meneken surat penghentian tambang KPC dan PIK yang dinilainya melanggar UU No 41 Tahun 1999. Proses hukum pasca keluarnya surat penghentian itu pun hingga kini terus berjalan.(*)

Sumber Foto: KPC

Aug 12, 2008

Dua Jam Bupati Menanti Arie

KAMIS, 7 Agutus 2008. Di dalam Kafe Victoria di Senayan Plaza, Jakarta udara sejuk menjalar ke seluruh ruang dari tingkap-tingkap berkisi. Arie Saptari Hudaya, Presiden Direktur PT Kaltim Prima Coal (KPC), mengambil tempat duduk di tengah. Tubuhnya yang tinggi tampak menonjol di antara sekitar lima lelaki paruh baya yang mengisi sebagian dari enam kursi dan dua kursi lain yang disusun berhadapan.

Apr 30, 2008

Buruh Terjepit di antara Harga dan Pengusaha

TUGAS Yana (28) seperti tak ada putusnya. Tak cukup ia harus menghidupi suami, anak dan kerabatnya. Di sela waktu istirahat singkat pun ia menyusui anak bungsunya dan menyuapi Dimas, si sulung. Makan siang pun ia tak sempat lagi.

"Jam 12.55, saya harus kembali ke pabrik. Makannya nanti pulang dari pabrik saja," ujar Yana, perempuan buruh yang nama lengkapnya Mulyana. Buru-buru ia membawa piring berisi nasi dan telur mata sapi ke ruang belakang rumah kontrakannya.


"Adik, jangan rewel ya," pesannya kepada Sherin (5 bulan) anak bungsunya, Selasa siang (29/4). Sherin yang digendong suaminya, Suwito (31) hanya diam. Mulyana bergegas kembali ke tempat kerjanya, PT Yuli Eka Pesona Batu Ceper Kota Tangerang, Banten.

Beban Mulyana berat. Sejak suaminya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), tiang kehidupan keluarga berada di pundaknya. Gajinya sekitar Rp 960.000 sebulan harus cukup untuk makan bersama suami, dua anak, dan seorang keponakannya.

Gaji Mulyana ditambah hasil Suwito menjadi tukang ojek di malam hari tak bisa menutup kebutuhan berkeluarga. Suwito yang sejak tahun 2007 di-PHK, menjadi penarik ojek dengan penghasilan Rp 20.000 per hari.

"Saya sudah melamar ke mana-mana, tetapi belum dapat pekerjaan. Pernah nyoba masuk yayasan, disuruh bayar Rp 600.000, tetapi tak jelas bekerja berapa lama. Saya mundur, sayang duitnya," urai Suwito.

Yayasan yang ia maksud adalah penyalur tenaga kerja yang mengutip imbalan tertentu dari pencari kerja. Pengurus yayasan akan mencarikan pekerjaan ke perusahaan tertentu. Sistem ini makin marak karena pengusaha lebih suka cara seperti ini.

Tak ada jaminan kapan pencari kerja bisa bekerja di sana. Jika perusahaan masih perlu, kontrak diperpanjang, jika tidak, pekerja akan "dibuang".

Sembari terus mencari pekerjaan, Suwito menjadi pengasuh dua anaknya. Kadang-kadang ia juga memasak dan mencuci baju. Begitu istrinya pulang kerja, ia bersiap menjadi pengojek. "Jarang ada penumpang," keluh lelaki asal Purworejo, Jawa Tengah itu.

Ketika mengobrol, wajah manis Mulyana mendadak murung, saat ditanya bagaimana ia mencukupkan gaji untuk makan dan lainnya. "Ya seadanya, yang penting ada nasi, dan sayur. Lauknya sering telur atau mi instan," tuturnya di sela waktu istirahat siang selama satu jam.

Saat istirahat ia memilih pulang ke rumah dengan berjalan kaki sejauh sekitar 3.000-an meter. "Biar bisa menyusui dan makan. Lumayan ngirit susu formula," tuturnya.

Namun, sering terjadi, waktu istirahatnya habis untuk menyusui Sherin dan menyuapi Dimas yang menolak disuapi ayahnya.

Perempuan yang sudah delapan tahun menjadi buruh pabrik itu tampak ingin menutup kekecewaan Dimas. "Mestinya dia sudah sekolah, tetapi saya tak kuat membayar biaya sekolah di TK," keluh Mulyana. Uang SPP Dimas di TK Rp 50.000 per bulan, belum biaya lainnya.

Tak jauh dari rumah kontrakan Mulyana di Kelurahan Kebon Besar Kota Tangerang, tinggal pasangan Rahmat-Marni. Kehidupan keluarga dengan seorang anak, Fajar (6) juga kembang kempis.

Rahmat yang sudah delapan tahun bekerja di pabrik plastik PT Panca Budi Idaman Tangerang berpenghasilan tak jauh dari UMR Kota Tangerang, Rp 958.000 per bulan.

Penghasilan sebesar itu tak cukup untuk mengontrak rumah Rp 150.000, membeli susu dan uang sekolah Fajar Rp 50.000, serta makan untuk tiga orang selama sebulan.

"Harga semua barang terus naik. Saya harus gali lubang tutup lubang. Tiap bulan harus ngutang Rp 200.000 ke warung," tutur Rahmat.

Begitu gajian, sebagian uang berpindah ke pemilik warung. Siang kemarin, Marni hanya memasak sayur dari labu siam dengan lauk ikan asin. "Ini masih bagus, akhir bulan bisa makan ikan. Biasanya makan sama kerupuk atau mi instan," lanjut lelaki asal Kuningan Jawa Barat tersebut.

Terbatasnya keuangan membuat Marni hanya mampu membelikan Fajar susu kental manis, bukan susu formula.

Pada peringatan Hari Buruh 1 Mei, para buruh seperti Rahmat dan Mulyana berharap perusahaan meningkatkan kesejahteraan, misalnya menaikkan uang makan atau upah pokok mereka.

Namun perusahaan umumnya tak mengabulkan permintaan itu karena bebannya juga kian berat. Kenaikan bahan bakar industri dan listrik membuat biaya produksi meningkat sehingga keuntungan merosot.

Jadilah buruh terhimpit di antara kenaikan harga yang menggila dan kebijakan penghematan perusahaan.

Sumber:
Oleh Soelastri Soekirno Harian Kompas

Mar 27, 2008

Kuliah Cinta untuk Mahasiswa

GILE bener memang Pemerintah Singapura! Tak cuma perhatian terhadap masalah kebersihan, ketertiban, dan wisata, ia ternyata juga memiliki perhatian tinggi terhadap urusan warganya yang kesulitan mendapat pacar dan pasangan hidup. Sebegitu perhatiannya, sampai-sampai mendukung program Ngee Ann Polytechnic -- sebuah sekolah tinggi politeknik -- untuk mengajari mahasiswa berpacaran dan membina relasi, sebagaimana dilansir harian The Straits Times dan The Daily Telegraph, masing-masing dengan judul Love in Theory dan As Birth Rate Falls, Singapore's Shove to Love. Wow ini kali pertama saya kira ada mata kuliah tentang bagaimana menarik lawan jenis untuk mahasiswa.

Daily Telegraph, juga melaporkan, pelajaran di kursus ini diisi dengan menonton film romantis, bagaimana cara memegang tangan, dan menganalisis lagu cinta.

Selain cinta dan seksualitas, kurikulum dalam pelajaran ini juga mengenai pentingnya membentuk keluarga.
Mata Kuliahnya berjudul "Memahami Hubungan: Cinta dan Seks". Para pengajar di mata kuliah ini disediakan oleh Social Development Unit, semacam Departemen Sosial. Yakni sebuah unit di pemerintahan yang telah menikahkan 33.000 orang sejak dibentuk pada tahun 1984.

"Guru saya mengatakan, jika seorang pria memandang lebih dari lima detik, itu artinya ia agak tertarik dan sekaligus merupakan sebuah kesempatan," kata Isabel Seet (18), mahasiswi Teknik Mesin kepada harian Straits Times.


"Saya kira mahasiswa/mahasiswi akan lebih mudah mendapatkan pacar dengan pelajaran ini," kata Prakash, seorang mahasiswa yang mengatakan belum berniat pacaran, tetap fokus pada kuliah.

Tapi kasihan juga ya untuk hal-hal yang naluriah saja, Singapura agak kerepotan. Mungkin benar kata Kompas, uang ternyata bukan segalanya. Apalagi uang asal Indonesia, yang termasuk memakmurkan Singapura. Kok ya Pemerintah Singapura masih memiliki waktu dan tenaga untuk mengurusi hal-hal sepele gitu. Beda dengan di Indonesia, tenaga dan waktu aparaturnya habis untuk urusan memperkaya diri dan kroninya. Seperti pepatah di sebuah iklan rokok: Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah.

Lihat beritanya di Daily Telegraph
s birth rate falls, Singapore's shove to love  

Tuesday March 25 2008 09:28 IST
 
SINGAPORE: The Singapore government is offering students lessons in seduction in an attempt to boost the city state's flagging birth rates. Students at two polytechnics can earn two credits towards their final degree by choosing the love elective. Activities include watching slushy films, holding hands and "love song analysis".

An 18-year-old mechanical engineering student, Isabel Seet, told the local Straits Times Newspaper: "My teacher said if a guy looks into my eyes for more than five seconds, it could mean that he is attracted to me and I stand a chance. It's very interesting, and if I have a boyfriend in future, I'll know how to cope with any problems we may have."

 
Besides "love and sexuality", the curriculum also deals with the importance of family life. The "trainers" are provided by the Social Development Unit, a government matchmaking agency that has married off 33,000 people since it was established in 1984. Last week government minister Yu-Foo Yee Shoon warned young people not to put their career before establishing a family "because if you wait until then, sometimes it'll be a little too late".

But it is not so easy to put Singaporean youth in the mood for love.
Another student, Kamal Prakash, said that the course had improved his relationship with his parents but he was still single. "I think most people who take the course would find it easier to get a girlfriend," he said. "But I'm not really looking for a girlfriend now as I want to concentrate on my studies." c The Daily Telegraph

Mar 24, 2008

Minyak Menggila BUMI Makin Panas

SEBUAH berita di harian Kontan, edisi Senin. 24 Maret 2008, berjudul "Minyak Menggila, BUMI Makin Panas" sejenak menyedot perhatianku. Analis memperkirakan, pendapatan BUMI pada 2008 bakal melonjak seiring tingginya harga minyak dunia. Kontan menulis, selama harga minyak mentah masih tinggi, energi alternatif seperti batubara tetap menjadi pilihan. BUMI adalah produsen batubara terbesar di Indonesia yang bakal menikmati rezeki tersebut.

Ia memiliki 95 persen saham KPC di Sangata (sebelum 30% sahamnya di KPC dan Arutmin dijual ke Tata Group dari India) dengan produksi sekitar 50 juta metrik ton. Paling lambat tahun 2002 lalu, 51 persen sahamnya di KPC mestinya sudah harus didivestasikan. Namun upaya Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim selama 10 tahun terakhir untuk membeli saham tersebut belum juga membuahkan hasil, hingga akhirnya pemda mengajukan gugatan penyelesaian divestasi saham lewat arbitrase internasional.

Menurut Dileep Srivastava, Senior Vice President Investor Relation BUMI, selama ini, volume produksi BUMI mencapai 55-56 juta ton per tahun. "Tahun ini kami berharap jumlahnya bisa meningkat menjadi 65 juta ton," ujar Dileep. Selain itu, BUMI juga berharap berkah dari lonjakan harga batubara. Tahun 2007 lalu, perusahaan milik keluarga Bakrie ini mencatat harga jual rata-rata hanya US$ 44 per ton. Tahun ini, mereka memperkirakan bisa mencapai US$ 65 atau melonjak 46,73%. Harga ini bisa lebih tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia. Namun Dileep enggan membeberkan arget pendapatan dan laba bersih BUMI.

Sambil nyeruput kopi jahe bikinan istriku, pagi itu, saya bertanya-tanya: lalu apa yang dinikmati rakyat Sangata? Selain menghirup debu tambang batubara, berkendara di ruas-ruas jalan yang berlobang, dan menyaksikan lubang-lubang bekas galian tambang yang menganga lebar, adakah kenikmatan lain yang sepadan dengan nilai kekayaan alam di bumi Sangata?


Mar 13, 2008

Kepala Adat Dayak pun Siap Mati

LIMA menit menyusuri jalan St Andrew's Rd, Laden Mering, Ketua Tim Penyelesaian Divestasi Saham (TPDS) KPC, sejenak menghentikan langkah. Gedung SIAC Singapura tinggal berjarak selemparan batu. Gedung dengan arsitektur Eropa abad 17-an yang menjadi tempat sidang arbitrase KPC itu berdiri kokoh, megah dan berwibawa.

ACHMAD BINTORO

Laden membetulkan letak topung pek-nya yang dirasakan agak miring. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatannya terhadap lembaga peradilan ini. Di sini, dia bersama masyarakat dan Pemprov/Pemkab Kutim berharap kebenaran dan keadilan akan terkuak. Akal-akalan divestasi saham yang terbungkus rapi selama 10 tahun terakhir dia harapkan berakhir di sini.

Topi khas suku Dayak itu terbuat dari semacam daun pandan, berhiaskan bulu Enggang warna hitam putih di belakangnya. Tidak sembarang orang dibenarkan menggunakan bulu Enggang. Dalam tradisi Dayak Kenyah, orang yang memakai topung pek berhias bulu burung Enggang, menandakan bahwa dia berani mati dalam memperjuangkan kebenaran.

Prinsip inilah yang tertanam di benak Laden ketika dipercaya menjadi Ketua TPDS KPC. Wajah boleh keriput. Usia boleh tua. Namun semangat lelaki kelahiran Marong, Apo Kayan, Kabupaten Malinau, 7 Januari 1937 ini tidak kalah dengan yang muda. Tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan.

"Saya tidak main-main. Saya tak pakai topung pek ini untuk hiasan kepala. Ini tanda bahwa saya siap mati demi memperjuangkan divestasi ini," tandas Laden. Dahi dan alisnya yang putih tipis mengernyit. Tak ada senyum di bibirnya.

"Pegang ucapan saya," tambahnya seraya memperlihatkan bulu Enggang berbentuk lancip yang tertanam di bagian belakang topinya.

Itu memberi arti bahwa pemakainya adalah seorang kepala adat dan sudah bercucu. Laden memang Kepala Adat Dayak Besar Kenyah Kaltim. Kepala Adat dalam strata masyarakat Dayak menempati kedudukan tertinggi. setiap kata yang dan apa yang ia ucapkan, karenanya sangat dihormati, disegani dan selalu menjadi panutan warganya.

Menurut Laden, divestasi saham KPC semestinya sudah selesai sejak enam tahun lalu kalau saja tidak ada elit lokal dan elit nasional yang turut bermain. Mereka berkonspirasi menjegal Kaltim. Tujuannya satu: mendapat keuntungan sebesar mungkin. Upaya itu sudah dilakukan sejak awal, ketika pemda berkeinginan untuk membeli saham KPC. Bahkan ini masih terus coba dilakukan saat pemda memutuskan mengajukan gugatan melalui arbitrase internasional.

Masih hangat dalam ingatannya, di mana perjuangan arbitrase yang dilakukan Didi Dermawan, pengacara Pemprov Kaltim, nyaris kandas. Padahal ICSID, setelah hampir setahun mempelajari berkas gugatan, menilai bahwa perkara ini bisa disidangkan. Tak sedikit yang kontra terhadap upaya arbitrase ini, dan menyarankan untuk menempuh jalur negosiasi saja. Terlebih dana yang diperlukan untuk arbitrase mencapai Rp 5-10 miliar.

Namun jalur negosiasi bukanlah pilihan yang menggembirakan. Tawaran yang pernah ada, tapi tak jelas kelanjutannya, hanya sebesar 4,08 persen. Itu pun persentase dari saham Bumi, bukan KPC. Keraguan lain untuk menempuh negosiasi adalah, surat TPDS tidak ditanggapi serius oleh Bumi Resources. Bumi baru menjawab setelah batas waktu yang ditetapkan terlewati dan sidang akan segera digelar.

Iswan Priady, anggota TPDS menyatakan, hal lain yang meragukan adalah Bumi kerap akrobat bisnis. Misalnya dengan menjual saham KPS ke beberapa pihak. Belum lagi kaitan liability aset Bumi dengan Lapindo. Sehingga pilihan hanya arbitrase. Upaya ini sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa Kaltim taat hukum, dan mengedepankan hukum.

Meski demikian toh jalan ternyata tetap tak mudah. Sejumlah elit lokal mempersoalkan sumber dana. Mereka menolak adanya dana dari sumbangan pihak ketiga. Lalu disepakati dana diambil dari APBD. Sehingga pihak penyumbang yang sempat dicurigai macam-macam itu pun terpaksa menarik kembali dananya.

Harapan kemudian tinggal pada dana APBD. Namun di saat deadline pengiriman deposit tinggal beberapa hari, tiba-tiba rapat yang dihadiri eksekutif dan legislatif di Kantor Gubernur Kaltim menyatakan bahwa dana APBD tidak boleh digunakan untuk membiayai perkara. Padahal batas waktu tinggal beberapa hari dan dana dari pihak ketiga sudah terlanjur ditarik. Beruntung pada saat itu muncul Isran Noor, Wabup Kutim. Isran yang waktu itu masih di Hongkong terpaksa mempercepat jadwal kepulangannya.

Lewat sejumlah orang yang bersimpati terhadap perjuangan Kaltim, berhasil digalang dana Rp 5 miliar. Sidang pertama pun bisa dilakukan lewat video teleconference di Jakarta dan Washington DC, berkat bantuan perwakilan World Bank di Jakarta. Tetapi Toh upaya untuk menjegal belum berakhir.

Suara-suara elit lokal dan sejumlah organisasi kemasyarakatan masih lebih suka mempersoalkan sumber dana yang dipakai untuk membiayai arbitrase. Isran Noor sudah menegaskan tidak ada serupiah pun dana APBD maupun dana negara yang dipakai untuk membiayai perkara ini. Dana itu diperoleh dari sumbangan sejumlah tokoh masyarakat yang bersimpati terhadap perjuangan Kaltim melawan multinational corporation (MNC) ini.

Saat sidang kedua akan digelar, Ketua DPRD Kaltim Herlan Agussalim mengeluarkan surat ke Michael P Lennon. Lennon adalah pengacara KPC. Timbul pertanyaan besar, ada epentingan apa seorang Ketua DPRD Kaltim sampai rela berkirim surat kepada lawan masyarakat Kaltim dalam berperkara. Didi mengatakan, surat Herlan dimaksudkan untuk memperlemah posisi Kaltim agar Tribunal menolak gugatan Kaltim.

Didi lalu meminta Tribunal untuk mendesak KPC menghadirkan Herlan sebagai saksi, bersama Sekjen Departemen ESDM dan Dirjen Mineral Batu bara Panas Bumi Simon F Sembiring. Tapi Herlan tidak terlihat di sidang di Singapura. Bahkan bersaksi lewat video teleconference pun tak bisa, meski pihak Tribunal bersedia membiayai dan memfasilitasinya. Pengacara KPC berdalih bahwa Herlan sedang mengikuti proses Pilgub Kaltim.

Namun Laden pantang menyerah. Bersama empat anggota TPDS KPC yang tersisa, setelah dua orang lainnya mengundurkan diri (HR Daeng Naja dan Aji Sofyan Effendi), ia bertekad untuk berjuang sampai tuntas. Daeng Naja kepada saya mengatakan, dirinya mundur bukan berarti tidak mendukung upaya arbitrase.

"Kalau pun dengan cara legal (arbitrase) ini masih tidak berhasil, entahlah apa yang akan terjadi. Barangkali akan berlaku rencana B dan C sampai keadilan berpihak pada kami. Sampai divestasi ke Kaltim dilakukan. Hanya itu cara untuk menyejahterakan masyarakat Kaltim, khususnya Kutim lewat KPC," tandas Laden. Apa itu rencana B dan C? Laden tidak menjawab.

"Inilah yang terjadi. Kita dulu dijajah oleh Belanda berkulit putih. Kini yang jajah ganti Belanda kulit hitam. Sangat memperihatinkan justru orang-orang kita, sejumlah elit lokal dan elit nasional yang mengadang dan menzalimi kita," timpal Marcus Intjau, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim.

Ingan mengatakan, saat itu pihaknya terpaksa menghardik Simon. Tapi hardikan itu, katanya belumlah seberapa dibanding kerugian materil dan moril akibat divestasi saham yang tak terlaksana.Belum lagi kerugian akibat kerusakan lingkungan. Kalau saja bukan karena akal-akalan KPC dibantu pengkhianatan elit lokal dan nasional, divestasi mestinya sudah terjadi dan kekayaan alam hasil divestasi itu sudah bisa untuk menyejahterakan masyarakat Kaltim.

"Sebenarnya kita tidak masalah Todung membela konglomerat asalkan bersengketa pula dengan konglomerat lain. Amat disesalkan dan memalukan, Todung membela kepentingan konglomerat melawan kepentingan Kaltim. Kita kok jadi meragukan nasionalisme dia yang selama ini dikenal sebagai pembela HAM," tambah Iswan.

Bagaimana Todung menanggapi tudingan ini? Saya cegat usai rehat siang di Singapura, Todung enggan berkomentar. Sambil tertawa kecil, usai saya sampaikan sejumlah pertanyaan terkait materi pembelaannya dan posisi dia yang harus berhadapan dengan masyarakat Kaltim, Todung menjawab: "Ah, no comment. Saya tak mau komentari itu." (*)

Mar 7, 2008

Geram Tertahan di Ruang Sidang

Sidang kedua arbitrase International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID) yang mambahas gugatan Pemprov Kaltim/Pemkab Kutim terhadap PT KPC, Rio Tinto dan Beyond Petroleum (BP), digelar di Singapura, 27-28 Pebruari 2008. Jalur arbitrase ditempuh pemda setelah jalur negosiasi, politik hingga gugatan di pengadilan negeri -- dalam upaya mendapatkan hak pembelian 51 persen saham divestasi KPC -- selama 10 tahun terakhir tidak membuahkan hasil. Adakah keadilan kali ini, sebagaimana diharapkan masyarakat dan pemda, akan benar-benar datang? Berikut catatan saya dari Singapura

LANGKAH Simon F Sembiring, Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM, tertahan. Lima tokoh pemuda Kaltim mendadak menghadangnya, tepat di pintu keluar ruang sidang arbitrase di Singapore International Arbitration Centre (SIAC) Prime Court, City Hall, Singapura, Rabu (27/2). Tiga di antara mereka berompi Dayak, satu orang berbaju lurik lengkap dengan blangkon, dan seorang lagi mengenakan setelan jas biasa.

Jan 3, 2008

Malam Panjang di Talise

Yuyun, adik Alman, di Tepian Talise, Palu
MALAM telah larut. Penanda waktu di seluler aku sudah menunjuk pukul 24.10. Namun suasana di pantai Talise, Palu, Sulteng, tidak juga surut. Keramaian masih bertahan. Lampu-lampu merkuri berpendar menerangi jalan, meremang di atas lautan manusia, ribuan motor dan mobil yang parkir di sepanjang pantai, dari Rajamoli hingga Cut Mutia. Para pemilik kedai nyaris tak berhenti melayani.


Aku bersama istri serta belasan anggota keluarga besar bin Hamde, Bachmid, Bajeber, dan Bahaswan termasuk keluarga Alman, menempati semua kursi yang tersedia di kedai jagung bakar. Kedai ini terletak di ujung jalan, tak jauh dari jembatan dan Hotel Palu Goldan. Jarang-jarang kami bisa berkumpul sebanyak ini, menikmati indahnya malam di Talise.

Lolon dan Adik Iparnya
Ini malam kedua sekaligus malam terakhirku di Palu. Karena itu sengaja kami mengisi akhir pekan ini dengan jalan bersama keluarga, sekalian mengajak jalan-jalan keluarga Alman. Alman adalah suami Lolon, adik ipar aku. Alman kerja di sebuah perusahaan Nikel terbesar di Indonesia, di Kolaka, Sulawesi Tenggara. Keduanya, Jumat (28/12/2007) malam kemarin, telah melangsungkan resepsi pernikahan mereka di Gedung Al Khairat, Jalan Sis Al Jufri, Palu. Siang sebelumnnya, keduanya dinikahkan oleh pemimpin Pondok Pesantren Al Khairat, Ust Sayid Saggaf Al Djufrie.
Saya Bersama Pacar di Talise


Sayang sekali, aku tidak bisa mengikuti prosesi itu. Aku baru tiba di rumah pukul 14.20, saat acara nikah sudah selesai akibat pesawat Sriwijaya Air dari Balikpapan yang aku naiki ter-delay. Pesawat yang mestinya berangkat pukul 10.50, ternyata baru berangkat pukul 12.10..........