KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 23, 2007

Redup di Tengah Kemilau Emas


MISRAH, 28 tahun, akhirnya harus meninggalkan kampungnya, Dusun Gah Taha, Desa Kelian Dalam - lebih dikenal dengan sebutan Sungai Babi atau Kampung Emas - Long Iram, Kabupaten Kutai Barat (570 Km barat Samarinda), setelah dia meyakini tak ada lagi emas yang bisa didulang dari kubangan-kubangan lumpur dan tanah di sepanjang bantaran bagian ilir Sungai Kelian.

Sejak terjadi musibah longsor di lubang milik Nawir di Dusun Bilit 27 Juli 1999 silam, Misrah merasa emas yang bisa didulang dari hari ke hari makin sedikit. Pada musibah itu, 32 rekannya terkubur hidup-hidup. Dalam keyakinan sukunya, emas-emas yang terkandung dalam aliran lumpur sungai (aluvial) itu, dalam kurun waktu seribu hari, akan habis tersedot oleh arwah mereka yang menjadi korban sebagai bekal menuju nirwana.

Wanita yang bergelut dalam kegiatan pendulangan sejak umur delapan tahun ini meyakini tradisi turun temurun itu. Dan ternyata benar, menurutnya, belum lagi genap hitungan seribu hari, bijih-bijih emas itu sudah sulit didapat. Ratusan pompa dikerahkan untuk mengaduk-aduk tanah di bantaran itu. Tanah disedot makin lebar dan dalam. Air sungai menjadi makin keruh. Tapi bijih-bijih emas yang diharapkan tak kunjung ditemukan.


Dia bersama ratusan pendulang lain akhirnya hengkang dari Kelian Dalam. Secara bertahap, warga suku Dayak Bekumpai ini lalu menyusuri sungai di bagian ulu. Tempat yang mereka pilih ialah di dalam wilayah Kontrak Karya PT Kelian Equatorial Mining (KEM), di bantaran ulu Sungai Kelian.

KEM sendiri meski memiliki kontrak sampai tahun 2013, namun sejak Februari 2005 lalu sudah menutup pabriknya karena kandungan emas di wilayah Kelian itu sudah habis. KEM sejak mulai produksi tahun 1992, rata-rata produksi emasnya mencapai 12-14 ton atau senilai 168 juta dollar AS per tahun. KEM kini telah dilikuidasi oleh pemiliknya, Rio Tinto Group, dan berganti nama menjadi PT Hutan Lindung Kelian Lestari yang bertugas melakukan konservasi lahan bekas tambang. Bagi Rio Tinto, KEM menjadi pengalaman pertama dalam penutupan tambang.

Awalnya mereka cuma sekitar 200 KK, lalu bertambah lagi jadi 500 KK, dan kini telah mencapai sekitar 740 KK. Ratusan pendulang itu kini menempati gubuk-gubuk kayu beratap daun nipah dan terpal plastik hanya tiga meter dari kompleks pabrik KEM.

Presiden Direktur KEM Charlie Lenegan saat itu mengatakan, sulit bagi KEM untuk mengambil sikap tegas dalam masalah ini. Pihaknya tidak mungkin menggunakan alat keamanan maupun cara lain untuk mengusir mereka, sebab itu akan membuat mereka marah. Sehingga itu, PT KEM bersikap membiarkan saja pendulangan itu, meski disadari itu amat membahayakan keselamatan KEM.

Sebagai langkah pengamanan, KEM terpaksa melakukan pemagaran keliling lebih tinggi dengan kawat berduri di atasnya. "Anda bisa bayangkan kalau tidak dipagar keliling, mungkin mereka akan masuk ke kompleks pabrik. Ini berbahaya sekali," kata Lenegan.

Ia berarap masalah penambang aluvial di wilayah KEM ini bisa segera diselesaikan oleh Pemkab Kutai Barat. Tapi sudah berbulan- bulan tidak juga ada tanggapan dari pemkab setempat. Ini yang KEM sesalkan. Yang lebih berbahaya lagi kalau lokasi yang kini dikuasai penambang juga habis, kemudian mereka nekad masuk dalam kompleks pabrik.


Namun menurut keterangan sejumlah pendulang, mereka terpaksa menyerbu KEM, bukan saja karena habisnya kandungan emas di Sungai Babi tapi juga akibat kekecewaan mereka terhadap perusahaan milik Rio Tinto (90%) dan PT Harita Jaya (10%) ini. Masriyani misalnya, menuntut janji PT KEM yang akan mempekerjakannya sebagai karyawan yang tidak pernah terwujud.

"Mau tidak mau, kalau lokasi di sini habis, ya ramai-ramai kita pindah ke lokasi KEM," kata Masriyani. Masih banyak lagi penambang lain dengan alasan tuntutan ganti rugi tanah, rumah dan pelanggaran HAM sehingga mereka menyerbu areal KK PT KEM.

Bagi mereka, kepindahan mereka ke sini adalah kembali ke lokasi semula setelah pemerintah menghentikan penambangan aluvial di Kelian pada tahun 1998 karena beroperasinya PT KEM yang setiap tahun memproduksi rata-rata 13 ton emas dan 12 ton perak.

Sama dengan lokasi penambangan liar sebelumnya, lokasi yang berada di tikungan Sungai Kelian, di belakang pabrik emas KEM ini juga berkembang menjadi permukiman kumuh. Berdinding kayu beratap daun nipah dan terpal plastik. Di permukiman padat yang dihuni sekitar 740 KK ini dilengkapi karaoke, meja biliar, dan sejumlah warung penjual makanan minuman.

Para pendulang umumnya tetap tidak mampu mengentaskan diri dari belenggu kemiskinan. Misrah misalnya, penampilannya biasa saja. Bahkan terlalu biasa barangkali, gambaran masyarakat awam tentang para pendulang, yang setiap hari diketahui berkubang dalam "lumpur emas", di desa yang mampu memproduksi 10.700 gram emas per bulan senilai sekitar Rp 738 juta. Ia tanpa kalung, gelang, cincin dan bentuk perhiasan lainnya yang lazim dikenakan perempuan.

Kaos dan rok gelap yang dikenakannya masih kusam. Sedangkan jemari tangannya yang terbiasa mendulang butiran pasir emas, juga polos. Yang terlihat hanyalah dua gelang karet yang melingkar di pergelangan tangannya. Gelang karet itu sesekali ia gunakan untuk mengikat rambut panjangnya yang memerah akibat acap terpanggang sinar matahari.

"Kami memang tak punya apa-apa. Jangankan emas, sedang untuk makan sehari-hari saja kadang harus hutang," kata ibu dari tiga orang anak yang terpaksa tidak sekolah saat mendulang di Sungai Babi.

Sebuah rumah miliknya di lokasi lama, hanyalah sebuah gubuk berdinding kayu dan beratapkan daun nipah berukuran 5 X 7 meter. Di dalamnya terdapat sehelai tikar terbuat dari rotan segah yang menghampar pada bidang lantai papan. Seutas tali, juga terbuat dari rotan melintang di bagian atas, tempat bergantung kain kelambu yang warnanya nyaris menghitam.

Kain itu agaknya sekaligus menjadi sekat ruangan. Di situlah tempat Misrah tidur bersama suami, Basrui (33), dan tiga anak lelakinya berusia 10, 8, dan 3 tahun. Di sini pula seluruh kegiatan rumah tangga berjalan: mulai dari memasak, berdandan, bermain anak, hingga menerima tamu.

Tak satu pun terlihat perabotan mewah di rumah yang sudah 7 tahun lebih ditempati keluarga Basrui. Kecuali sebuah radio kecil yang membuat mereka merasa bisa sedikit terhibur lewat berita dan lagu-lagu yang disiarkan. Radio ini juga sekaligus menjadi alat baginya untuk memonitor perkembangan harga emas dunia di Bursa London melalui siaran berbahasa Indonesia stasiun BBC.

Misrah adalah satu dari sekitar 870 KK (2.645 jiwa) penduduk Sungai Babi, bagian dari ratusan warga pendulang yang kondisinya masih sangat memprihatinkan. Ia menjadi bagian dari sekitar 740 KK yang kini pindah ke Sungai Kelian untuk sekedar bertahan hidup dengan mencari satu-dua gram emas.

Menurut Irmansyah, penadah emas asal Martapura yang sudah tiga tahun tinggal di Sungai Babi, setiap pedagang di desa ini rata-rata biasa menampung 10 gram emas/hari dari para pendulang perorangan maupun kelompok. Jumlah penadah dan pedagang emas di sini sekitar 20 orang.

Dengan harga emas sekarang Rp 69.000/gram, maka perputaran uang yang terjadi di desa terpencil ini - hanya bisa dicapai dengan ketinting (perahu bermesin tempel, Red) melalui sejumlah jeram dari PT KEM - mencapai Rp 13,8 juta per hari atau Rp 414 juta per bulan.

Perputaran uang ini sebenarnya masih bisa lebih besar bila harga emas melonjak, seperti ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar anjlog hingga Rp 15.000 per 1 Dolar AS pada tahun lalu, yang membuat harga emas di Kelian diatas Rp 100.000/gram.

Di sepanjang sungai ini tercatat tak kurang 107 lubang aktif yang mampu menghasilkan rata-rata 25 gram/minggu. Dengan demikian total emas yang diperoleh dari sepanjang sungai ini tak kurang dari 2.675 gram/minggu. Tapi seperti dikataka Irmansyah, hanya 60 persennya yang dijual langsung kepada pedagang di Sungai Babi.

Dari perhitungan sederhana ini saja sudah bisa tergambarkan, betapa kayanya potensi alam Sungai Babi. Produksi yang dihasilkan dari pendulang tradisional ini rata-rata 10.700 gram emas per bulan atau senilai Rp 738,3 juta.

Nilai kekayaan Sungai Kelian ini akan jauh lebih besar lagi, jika ditambah dengan kekayaan bukit Kelian yang sudah sejak tahun 1992 lalu telah ditambang oleh PT KEM. Sebagai gambaran, total pendapatan KEM dari hasil penjualan emas sekitar 15 ton per tahun mencapai US$ 130 juta. KEM juga menghasilkan perak sebagai produk ikutan.

Tapi apa yang dialami dan dimiliki warga tidaklah seindah kilauan emas yang mereka peroleh. Hisapan sang rentenir dan perolehan yang tidak menentu telah membuat mereka tidak pernah keluar dari belenggu kemelaratan. Mereka tak lebih dari sekedar buruh lepas yang kadang dapat kerjaan kadang pula tidak sementara gaji (bagi hasil) pas-pasan. Bahkan tidak jarang kurang, karena harus dipotong biaya produksi dan hutang kepada pemilik lubang tambang.

Arifin, Kaur Umum Desa Kelian Dalam, membenarkan kemelaratan yang dialami masyarakat dan desanya. Kendati perputaran uang amat besar, dan jumlah penambang mencapai ratusan bahkan ribuan, namun tidak ada timbal balik sedikit pun untuk perbaikan desa. Desa ini termasuk dalam kelompok desa tertinggal.

Sebaliknya, pendulangan ini malah meninggalkan lubang-lubang besar menganga di sepanjang tepi sungai. Airnya keruh, mendangkal dan tercemari oleh merkuri hasil buangan limbah dari proses pencucian bijih-bijih emas.

Sebelum maraknya perburuan emas oleh para pendulang, termasuk dari berbagai daerah, suku Dayak di sekitar Kelian memang sudah lama dikenal sebagai pendulang emas. Dalam journal of Geochemical Exploration (1990) yang diterbitkan Elsevier Science Publihers BV Amsterdam disebutkan, tahun 1930 para geolog Belanda melaporkan bahwa sekitar enam kilometer dari Muara Sungai Kelian ada tambang batubara oleh masyarakat lokal. Namun tidak dilaporkan adanya tambang emas. Barulah pada tahun 1950-an, suku Dayak yang berdiam di sana melaporkan adanya emas. ***

photo credit gold.com

2 comments:

barb michelen said...

Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

barb michelen said...

Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is