KATA layaknya DNA. Ia JEJAK yang mampu menembus batas ruang dan waktu


Dec 12, 2007

Mas, Bawang Merah Naik

DI KOLAM RENANG

"MASSS...," panggil istriku dari dapur. "Labaik," jawabku pelan. Aku tidak peduli, dia mendengar atau tidak. Headline berita pagi ini berjudul KPK Kerahkan 100 Polisi, untuk amankan sidang pembacaan vonis Syaukani HR, lebih menyedot perhatianku. Lamat-lamat aku masih dengar suara istriku kembali memanggil. Aku tetap bergeming. "Ada apa seh, pakai panggil-panggil segala," batinku sambil meneruskan baca dan nyeruput kopi panas.

"Mas, bawang merah naik," kata istriku. Kali ini tidak dengan suara keras. Ia sudah duduk di kursi teras, sebelah aku. Walah,walah...bolak-balik panggil suami kok ternyata hanya mau bilang bahwa harga bawang merah naik. Kalau itu sih aku juga sudah tahu. "Iya, sayang, lalu kenapa?" kataku, masih dengan mata tertuju pada koran.

"Naiknya tinggi sekali Mas. Tiga hari lalu waktu Atik beli, sudah naik menjadi Rp 19.000, eh tadi kok naik lagi jadi Rp 23.000," terang istriku dengan nada cemas.

Atik adalah hadama di rumah kami. Ia berasal dari sebuah desa di pinggiran kota Palu, Sulawesi Tengah. Ini adalah tahun kedua dia bersama kami. Kami semua sangat terbantu dengan keberadaannya. Meski agak pendiam, Atik sangat rajin, jujur dan tidak suka keluar rumah. Beberapa kali kami pernah ajak jalan-jalan ke mal atau makan malam di luar sekedar mengisi malam Minggu, ia selalu menolaknya. Dia lebih suka di depan TV, bersama ibu aku, nonton sinetron kesukannya. Ia keluar rumah hanya saat membeli sayur pada Bulek sayur keliling yang tiap pagi selalu menyapa para penghuni rumah di komplek Rawa Sari, Air Putih, tempat kami tinggal.

Bagiku, kecemasan ini agak berlebihan. Naik cuma Rp 4.000 saja kok ribut. "Ya, sudah. Biarin saja kalau memang naik," kataku lagi.

"Ini gawat. Mas, kita harus ke pasar sekarang juga," ajak istriku bergegas menggandeng tanganku. Rupanya dia sudah siap dengan helm. Aku pun mengantarnya. Istri aku tidak pernah lagi membawa motor sendiri, setelah pernah jatuh, mesti tidak mengakibatkan lecet, sekitar dua tahun lalu.

Dia memang bisa mendapatkan harga Rp 2.000 lebih murah di Pasar Induk Segiri. Malah dia pun memborong hingga tiga kilogram. Kenapa? "Pedagangnya bilang harganya kembali akan naik hingga Rp 30 ribu pekan depan," jawabnya.

Ia juga membeli ikan kakap merah besar 1 ekor, biji nangka 1 kg, ikan sotong (cumi) 2 kg. Dia tahu, aku paling doyan dengan cumi terutama dimasak dengan tinta. Dia juga tahu aku demen dengan garang asam ikan. Tak lupa beli ikan 2 potong ayam. Ikan dan ayam itu biasanya untuk kebutuhan seminggu. Dan yang tak pernah ketinggalan adalah tempe.

Aku juga sangat doyan dengan tempe dembel (tepung). Meski bukan orang Jawa dan dalam tradisi keluarganya hampir tak pernah makan tempe, istriku akhirnya bisa membuat tempe dembel. Tempe dembel buatannya sangat enak. Biasa, setiap buka puasa, ia membuat tempe dembel sampai satu loyang (berisi sekitar 30 potong tempe) khusus untuk aku. Alhamdulillah, aku selalu bisa habiskan. Hal itu terus sejak hari pertama hingga hari terakhir puasa Ramadhan. Tak lengkap rasanya buka puasa tanpa tempe dembelnya. Karena itu tidak jarang aku tidak menghadiri undangan buka puasa di tempat lain karena alasan yang satu ini.

Pagi itu dia tidak membeli daging rawon. "Sudah ada cumi dan kakap," katanya. Rawon juga termasuk makanan favoritku. Di Samarinda memang banyak warung yang menjual rawon. Tapi umumnya terlalu cair dan rasanya kurang lebih dengan sop, bukan rasa rawon. Lidahku paling cocok dengan rawon buatan istriku. Rasa kluweknya bikin aku benar-benar tak bisa beranjak dari meja makan.

Sungguh, aku sangat respek dengan tekadnya yang kuat untuk belajar masakan-masakan Jawa. Ini pula yang membuat aku makin hari makin sayang dengan dia.

Sesekali ia membuat masakan tradisi leluhurnya, nasi kebuli dicampur dengan kepala kambing, kadang pula dengan ayam kampung. Kadang membikin roti maryam. Tapi yang terakhir itu, membuatnya sangat repot, sehingga jarang dilakukan. Pernah ia coba membuat Sambosa dan roti kebab. Dan kalau akhir pekan, sebulan sekali, ia membeli tulang kaki sapi untuk dibuat Kaledo.

Aku sangat menggemari kaledo. Tak jarang aku begitu rindu dengan Palu hanya agar bisa makan kaledo. Kaledo adalah masakan khas Palu, terbuat dari tulang kaki sapi(lengkap dengan sumsum). Sebagai pelengkap, warga Palu biasa memakannya dengan singkong rebus, pengganti nasi. Tapi aku lebih suka memakannya dengan nasi. Perasaanku, belum benar-benar makan kalau tidak dengan nasi.

Di Palu, kami biasa makan Kaledo di sebuah warung di luar kota, ke arah Donggala. Tempatnya sederhana, tapi rasanya sangat enak. Banyak orang China yang ke sana. Biasanya, di mana ada orang China makan, berarti masakan di warung itu memang enak.

Begitulah, yang rencana ke pasar hanya beli bawang merah, istriku aku jadi memborong barang belanjaan lain. Sekitar Rp 300 ribu lebih kami habiskan untuk membeli keperluan dapur itu. Beruntung istri aku masih ada uang, hasil keuntungan jual HP. Uang gaji aku sendiri sudah lama habis untuk membayar macam-macam, mulai dari keperluan anak-anak sekolah, les privat, les Bahasa Inggris, listrik, air, bayar kreditan, hingga kirim ke orang tua.

No comments: